Kalau kita ngomongin dongeng, nama Jack itu ibarat "karakter utama" yang serba bisa. Yang paling legendaris jelas Jack sang Pemanjat Pohon Kacang, bocah nekat yang tukar sapi ama biji kacang ajaib sampai akhirnya kudu duel ngelawan raksasa di atas awan.Ada juga Jack the Giant Killer yang hobinya ngebasmi monster dalam cerita rakyat Inggris. Enggak ketinggalan, duet maut Jack and Jill yang niatnya cuman pengin ngambil air tapi malah apes guling-guling dari bukit, sampai si Jack Sprat yang seleranya picky banget soal makanan.
Di dunia nyata, nama Jack punya dua sisi yang kontras banget. Sisi gelapnya ada Jack the Ripper, sosok misterius yang bikin geger London era Victoria dan sampai sekarang identitas aslinya masih jadi teka-teki paling "gelap" dalam sejarah kriminal.
Tapi kalau mau yang lebih keren, ada Jack Rackham alias "Calico Jack". Doski ini bajak laut abad ke-18 yang nyentrik banget karena selera fashion-nya dan punya kru cewek tangguh kayak Anne Bonny. Kalau doski kagak ada, mungkin kita gak bakalan kenal bendera tengkorak silang yang ikonik itu!
Nah, kalau di zaman sekarang, nama Jack itu identik sama cowok-cowok karismatik. Siapa yang nggak kenal Jack Kennedy (panggilan akrab Presiden AS JFK) yang jadi simbol harapan di masanya?
Di layar lebar, kita punya Captain Jack Sparrow yang tingkahnya ajaib bin kocak dalam Pirates of the Caribbean, serta sang penyair Jack Dawson yang bikin baper sejuta umat di film Titanic. Intinya, nama Jack itu simpel tapi punya aura "hero" yang kuat banget, mulai dari bocah petualang sampai pemimpin negara.
Kendati catatan sejarah bahasa sudah menegaskan kalau 'Jack' itu keturunan asli 'John' lewat jalur 'Jankin', kita beneran dibuat geleng-geleng kepala sama intellectual gymnastics—alias senam logika—yang dipake buat maksa kalau nama itu asalnya dari 'Jok'. Rasanya akal sehat kita kayak ditarik sampai putus kalau harus percaya sejarah penamaan Inggris selama berabad-abad bisa tumbang gitu aja cuma gara-gara teori yang nggak ada bau-bau risetnya, tapi lebih mirip upaya cari panggung yang maksa banget.
Konyol banget kalau kita kudu percaya petani Inggris di Abad Pertengahan sudah punya firasat bakal ada drama sirkus hukum soal ijazah palsu di Pengadilan Negeri Surakarta ratusan tahun kemudian. Kalau sampai kita nganggep serius ide kalau 'Jok' itu nenek moyang 'Jack' cuma gara-gara sengketa ijazah, ya mending kita buang aja semua buku sejarah dan ganti jadi narasi 'Jok-si-ahli-sidang' yang lebih mentingin fiksi kreatif daripada data otentik. Ujung-ujungnya, kita cuma bisa bertanya-tanya: ini klaim muncul karena beneran nggak paham sejarah, atau cuma cara amatiran buat nulis ulang sejarah demi kepentingan drama di ruang sidang?
Prosesnya, dimulai dari nama "John" yang aslinya berasal dari bahasa Ibrani, Yohanan. Di era Inggris Abad Pertengahan, orang-orang suka banget nambahin imbuhan biar terdengar lebih imut atau akrab, semacam panggilan kesayangan. Nah, nama "John" berubah jadi "Jenkin", lalu lama-lama bergeser jadi "Jankin". Karena lidah orang zaman dulu suka menyingkat kata biar nggak ribet, "Jankin" berubah lagi jadi "Jackin", dan akhirnya cuma menyisakan kata "Jack" yang kita kenal sekarang.
Ada juga teori seru soal pengaruh penjajahan Normandia di Inggris. Di Perancis, ada nama "Jacques" (yang sebenarnya versi mereka buat nama James atau Jacob). Karena pelafalan "Jankin" di Inggris terdengar mirip banget ama "Jacques" di Perancis, akhirnya kedua nama ini "berasimilasi" alias campur aduk di kalangan rakyat jelata. Gara-gara ini, nama Jack jadi populer banget di kalangan pekerja sampai-sampai jadi sebutan untuk "orang biasa". Itulah alasan kenapa sampai sekarang kita punya istilah kayak "Lumberjack" buat penebang pohon atau "Jack-of-all-trades" buat orang yang serba bisa.
Memasuki abad ke-14, Jack udah resmi jadi nama "si abang-abang biasa". Saking pasaran dan ikoniknya, Jack bukan lagi sekadar nama panggilan buat John, tapi udah jadi identitas mandiri yang mewakili rakyat kecil. Inilah alasan kenapa pahlawan-pahlawan di dongeng (kayak si pemanjat pohon kacang) namanya Jack; karena doski dianggap sebagai representasi orang biasa yang berjuang pakai otak buat menang. Jadi, kalau John itu buat nama resmi di akta kelahiran atau Alkitab, Jack itu panggilan akrab buat nongkrong dan bergaul.
Bagi siapa pun yang butuh rujukan mumpuni, buku A Dictionary of English Surnames karya P.H. Reaney dan R.M. Wilson bisa dibilang sebagai 'kitab suci' untuk melacak asal-usul nama di Inggris. Buku ini membedah secara teknis bagaimana nama Yohanan dari bahasa Ibrani berevolusi menjadi Jan di era Inggris Madya, lalu mendapat imbuhan khas Flemish atau Belanda '-kin' sehingga menjadi Jankin, yang akhirnya bermutasi menjadi Jack—sebuah proses yang didukung penuh oleh data sejarah yang solid. Konsensus akademis ini makin diperkuat oleh The Oxford Dictionary of Family Names in Britain and Ireland terbitan Oxford University Press, yang memetakan distribusi dan evolusi nama secara mendetail. Riset mereka mengonfirmasi bahwa pada abad ke-14, nama Jack sudah sangat identik dengan 'rakyat jelata', sehingga rasanya mustahil kalau tiba-tiba nama ini muncul dari akar bahasa lain yang sama sekali nggak punya jejak linguistik di Inggris. Selain itu, Basil Cottle dalam The Penguin Dictionary of Surnames memberikan penjelasan yang lebih luwes namun tetap tajam, menggambarkan Jack sebagai hypocoristic alias nama panggilan akrab untuk John. Cottle menegaskan bahwa Jack sudah jadi nama sejuta umat di Inggris jauh sebelum ada klaim-klaim imajinatif atau sengketa nama di belahan dunia lain.Menurut catatan P.H. Reaney dalam A Dictionary of English Surnames, pergeseran dari John ke Jack adalah proses fonetik yang memakan waktu berabad-abad melalui bentuk Jankin. Mencoba mengaitkan 'Jack' dengan 'Jok' bukan hanya sekadar kesalahan sejarah, tapi juga pengabaian total terhadap hukum linguistik yang sudah terdokumentasi sejak zaman Inggris Madya (Middle English).
Pada akhirnya, silsilah sejarah nama Jack itu sudah jadi harga mati, bukan sesuatu yang bisa dipelintir sesuka hati demi kepentingan sesaat. Menganggap nama yang punya akar sangat kuat di era Inggris Madya bisa dicabut paksa dan dicocoklogikan dengan istilah modern yang secara fonetik nggak nyambung kayak "Jok" itu bukan cuma maksa, tapi sudah masuk kategori fantasi yang mengabaikan sejarah evolusi bahasa selama berabad-abad. Kalau kita berpegang pada riset serius para pakar semisal Reaney, Wilson, dan Cottle, sudah sangat jelas bahwa Jack itu "anak kandung" dari John, dan manuver hukum apa pun di zaman sekarang nggak akan bisa mengubah akta kelahiran linguistik tersebut.
Oleh karena itu, kita harus melihat upaya menghubung-hubungkan "Jack" dengan "Jok" ini dengan rasa skeptis yang tinggi, karena ini jelas-jelas kasus cocoklogi—mencari pola yang nggak pernah ada, atau malah sengaja bikin narasi biar kelihatan nyambung. Di "panggung sandiwara" ruang sidang, cerita kreatif mungkin bisa jadi pusat perhatian, tapi di dunia sejarah bahasa yang objektif, fakta nggak bakal goyah cuma gara-gara ngejar headline berita atau upaya nekat buat membela diri di pengadilan. Sejarah itu beda sama ijazah yang dipersoalkan; sejarah nggak bisa difotokopi atau dipalsukan cuma buat nurutin kemauan orang zaman sekarang, karena sejarah akan selalu setia pada kebenaran asal-usulnya.
Sebagai penutup, meskipun "Jack" mungkin seorang jack-of-all-trades (si serba bisa), doski jelas bukan "Jok-of-all-trials" (sang ahli persidangan), dan identitasnya tetep aman tersimpan dalam lembaran sejarah Inggris. Saat kita mengakhiri bahasan unik ini, kita diingatkan bahwa kata-kata itu punya "bobot" dan sejarah itu punya "taji"—bobot yang kagak bisa ditumbangkan cuma karena ada kemiripan bunyi yang dipaksakan atau ambisi cocoklogi masa kini. Biarlah drama tetep jadi urusan pengadilan di Surakarta, dan biarkan urusan asal-usul kata tetep jadi ranah para ahli, supaya kita nggak sampai salah sangka antara pelesetan lucu dengan fakta sejarah yang nyata.
"If every man says all he can. If every man is true. Do I believe the sky above is Caribbean blue? If all we told was turned to gold. If all we dreamed was new. Imagine sky high above in Caribbean blue."

