Sebuah Satire Tentang Antrean BBM, Pegawai Kelelahan, dan Kebesaran Hati yang Sedang Kehabisan Stok
Di sebuah pulau yang masyhur dengan senyumnya, tiba-tiba senyum itu harus mengantre bersama kendaraan yang mengular di depan SPBU. Pasokan BBM terganggu, antrean memanjang, dan pemerintah bergerak cepat. Solusinya terdengar gagah: depo dan SPBU beroperasi hingga 24 jam untuk mempercepat distribusi dan mengurai kemacetan antrean. [kilat.com], [beritasatu.com]
Maka dimulailah sebuah babak yang hampir menyerupai kisah kepahlawanan.
Truk tangki bergerak siang dan malam. Petugas SPBU berjaga tanpa mengenal lelah, atau setidaknya diharapkan demikian. Sebab dalam dunia kebijakan darurat, kelelahan sering dianggap sekadar gangguan administratif yang tak perlu terlalu dibicarakan. Yang penting roda tetap berputar.Namun, manusia ternyata punya kelemahan yang menjengkelkan. [beritasatu.com]Mereka bisa capek.Mereka bisa ngeluh.Mereka bahkan bisa berkata, "Saya bukan robot."Dan di sinilah drama mencapai klimaksnya.Ketika I Wayan Koster, sang gubernur, melakukan peninjauan lapangan, seorang pegawai SPBU perempuan menyampaikan keluhannya. Ia berbicara tentang kelelahan, tentang hak sebagai pekerja, tentang beratnya melayani antrean yang tak kunjung habis. Ia bahkan berharap belas kasihan, atau setidaknya pengakuan bahwa manusia memang memiliki batas tenaga. [kilat.com], [kilat.com], [video.tribunnews.com]Namun rupanya, pada hari itu semesta sedang menghendaki pelajaran lain.Alih-alih menerima wejangan penuh empati, sang pegawai memperoleh sesuatu yang lebih singkat, lebih padat, dan lebih viral:"Diam kamu!"Sebuah kalimat dua kata yang dari segi panjang kalah jauh dibanding pidato kenegaraan, tetapi dari segi daya ledak mengungguli banyak konferensi pers. [kilat.com], [kilat.com], [bali.idntimes.com]Konon para filsuf berabad-abad mencari formula komunikasi yang efektif.Mereka menulis buku tebal-tebal.Mereka mendirikan aliran pemikiran.Mereka berdebat tentang etika, retorika, dan kearifan.Padahal mungkin jawabannya hanya dua kata."Diam kamu."Begitulah menurut tafsir satire para netizen.Masalahnya, publik memiliki kebiasaan yang merepotkan para pejabat: mereka tak hanya mendengar apa yang diucapkan, tapi pulak memperhatikan siapa yang mengucapkannya kepada siapa.Tatkala seorang gubernur berbicara kepada pegawai lapangan yang sedang menangis karena lelah, masyarakat biasanya berharap mendengar kalimat semisal:"Saya mengerti keadaan Anda."Atau:"Terima kasih sudah bertahan."Atau paling tidak:"Mari kita cari jalan keluarnya."Yang terdengar justru sebaliknya. Maka media sosial pun bekerja lembur lebih keras daripada SPBU. [bali.idntimes.com], [kilat.com]Tak lama kemudian, muncul vonis rakyat digital."Arogan.""Tidak empatik.""Tidak respek."Dan sebagaimana lazimnya di pengadilan media sosial, palu diketuk bahkan sebelum notulen rapat selesai diketik. [kilat.com], [bali.idntimes.com]Tentu ada yang membela.Mungkin sang gubernur sedang berada dalam tekanan besar. Krisis BBM bukan perkara ringan. Antrean mengular. Distribusi harus dipulihkan. Publik menuntut solusi secepat mungkin. Siapa pun yang berada di posisi itu pasti menghadapi stres luar biasa. [beritasatu.com], [video.tribunnews.com]Tapi justru di sinilah ironi politik selalu menemukan panggung terbaiknya.Saat keadaan tenang, semua orang bisa tampak bijak.Saat keadaan nyaman, semua orang bisa terdengar santun.Yang ingin dilihat publik adalah apa yang keluar dari mulut seorang pemimpin ketika keadaan tidak nyaman.Karena krisis sering kali bukan memunculkan watak.Ia hanya menyalakan lampu yang membuat watak lebih mudah terlihat.Pada akhirnya, peristiwa ini mungkin akan berlalu. Antrean BBM akan terurai. Distribusi akan normal kembali. Kendaraan tidak perlu lagi bermalam di depan SPBU.Namun, rakyat memiliki ingatan yang unik.Mereka sering lupa angka.Mereka lupa statistik.Mereka bahkan lupa sebagian besar pidato resmi.Tetapi mereka jarang lupa sebuah kalimat pendek yang terasa menusuk rasa keadilan.Dan begitulah, di tengah krisis BBM yang rumit, yang paling diingat banyak orang justru bukan jumlah truk tangki, bukan skema distribusi, bukan jam operasional 24 jam. beritasatu.com]Melainkan dua kata yang berhasil mengalahkan seluruh penjelasan teknokratis:"Diam kamu!"Sebuah kalimat singkat yang mungkin dimaksudkan untuk menghentikan suara seorang pegawai, tetapi justru membuka percakapan panjang di seluruh negeri.



