Sebuah foto dapat bermakna banyak hal. Ia bisa menjadi kenang-kenangan, bukti, atau sekadar penutup noda di dinding yang catnya mengelupas. Akan tetapi, foto yang dipajang di lobi kantor, di ruang kelas, di ruang rapat, bahkan di dinding warung makan, bukanlah hiasan biasa. Ia adalah pernyataan. Ia adalah pengumuman diam-diam tentang siapa yang dipandang layak dihormati, dipercaya, dan diteladani, disampaikan tanpa pengeras suara, tetapi terdengar sampai ke pojok ruangan.Karena itu, orang lazimnya berharap sosok dalam foto tersebut memiliki sesuatu yang pantas dibanggakan. Prestasi, pengabdian, pengalaman, atau setidaknya riwayat hidup yang tak membuat mesin pencari internet tersedak metadata dan tidak membuat Artificial Intelligence mendadak berbicara seperti juru bicara yang sedang berusaha menjawab tanpa benar-benar menjawab. Harapannya sederhana saja, sesederhana berharap bahwa lukisan seorang pelaut di dinding memang pernah melihat laut, atau paling tidak, pernah naik perahu sewaan di danau wisata.Namun, kadang-kadang foto punya selera humor.Di antara deretan wajah yang gelarnya panjang seperti gerbong kereta api malam, lengkap dengan singkatan yang berbaris di depan dan di belakang nama, terdapat satu sosok yang riwayat pendidikannya lebih misterius daripada peta harta karun bajak laut. Bedanya, peta bajak laut setidaknya jujur soal satu hal: ia memang tidak pernah berniat menunjukkan jalan. Sementara itu, dokumen sosok kita ini dicari ke sana kemari, dari laci arsip hingga lorong-lorong dunia maya. Keterangannya berubah-ubah mengikuti arah angin, penjelasannya beranak-pinak seperti kelinci di musim semi, dan setiap klarifikasi justru melahirkan kebutuhan akan klarifikasi berikutnya, seakan-akan kebenaran adalah warisan keluarga besar yang tak kunjung selesai dibagi.Tapi, aneh bin ajaib, kursinya tetap kokoh.Di negeri alegori ini, kursi tampaknya tak disangga oleh empat kaki kayu jati, melainkan oleh kemampuan luar biasa untuk bertahan dari pertanyaan. Para ahli konstruksi mungkin akan geleng-geleng kepala, sebab tak satu pun teori kekuatan material yang menjelaskan bagaimana sebuah kursi bisa berdiri tegak di atas fondasi yang terus-menerus ditanyakan keberadaannya. Tapi barangkali, memang begitulah misteri bekerja: semakin sering digoyang, semakin erat ia dipeluk oleh penghuninya.Semakin banyak yang bertanya, semakin tebal kaca bingkainya. Semakin besar keraguan publik, semakin sering fotonya dicetak ulang, dengan resolusi lebih tinggi, ukuran lebih besar, dan bingkai yang lebih berkilau, seolah-olah wajah yang diragukan hanya perlu dibuat lebih tajam agar keraguan menjadi buram. Tukang cetak foto di pojok jalan pun mendadak sejahtera, dan ia diam-diam menjadi pihak yang paling berkepentingan agar pertanyaan itu tidak pernah selesai.Di balik semua itu, tampaknya bersemayam sebuah keyakinan yang indah dalam kenaifannya: bahwa jika sebuah gambar dipajang di cukup banyak tempat, maka kenyataan pada akhirnya akan menyerah kepada dekorasi. Dinding yang penuh foto akan dianggap penuh bukti. Ruangan yang wangi pernis akan dianggap bersih dari bau busuk. Begitulah logikanya, dan tak seorang pun dibolehkan mempertanyakan logika itu terlalu keras, karena suara keras bisa membuat bingkai bergetar.Akibatnya, foto itu perlahan berubah fungsi. Ia bukan lagi potret seorang pejabat. Ia menjadi monumen nasional bagi kemampuan manusia untuk mengabaikan gajah yang berdiri di tengah ruangan sambil memperdebatkan warna tirainya. Gajah itu besar, abu-abu, dan sesekali mengibaskan telinga sehingga debu beterbangan ke wajah para hadirin. Tetapi rapat tetap berjalan khidmat, sebab agenda hari itu adalah menentukan apakah tirai lebih cocok berwarna krem atau gading.Orang-orang yang menunjuk ke gajah dianggap mengganggu ketertiban. Mereka dicap tidak sopan, kurang kerjaan, bahkan dicurigai punya kepentingan terselubung, seolah-olah menyebut sesuatu yang berdiri jelas di tengah ruangan adalah tindakan subversif. Sedangkan mereka yang mengagumi tirai disebut bijaksana, dewasa, dan mampu melihat gambaran besar, meskipun gambaran besar yang dimaksud ternyata hanyalah kain yang sedang menutupi kaki gajah.Yang lebih lucu lagi, sebagian orang tidak lagi membela sosok dalam foto tersebut. Mereka hanya membela keberadaan fotonya. Barangkali mereka sendiri sudah lelah dengan urusan siapa orangnya, apa riwayatnya, dan di mana ijazahnya, lalu memilih berdiri di garis yang lebih aman: bahwa foto yang sudah terpasang tidak boleh diturunkan. Seolah-olah mengakui kekeliruan menggantung sebuah gambar lebih memalukan daripada menggantung gambar yang keliru. Paku sudah terlanjur menancap, kata mereka, dan menarik paku itu akan meninggalkan lubang di dinding. Tak seorang pun bertanya mengapa lubang di dinding dianggap lebih menakutkan daripada lubang di kepercayaan.Maka setiap pagi, para pegawai melewati foto itu dalam barisan yang tertib. Sebagian menatap hormat, lengkap dengan anggukan kecil yang sudah menjadi refleks, seperti membungkuk pada pintu yang rendah. Sebagian menatap kosong, memikirkan cicilan, macet, atau apakah kopi di pantry masih tersisa. Sebagian lagi menatap seraya menahan senyum, dan seringai itulah satu-satunya hal di gedung tersebut yang berhasil lolos dari pemeriksaan tanpa surat izin.Sebab mereka tahu satu rahasia sederhana: foto memang tak bisa berbicara. Tetapi diamnya kadang lebih berisik daripada pidato. Ia berbicara lewat tatapan yang tidak berkedip saat ditanya, lewat bingkai yang selalu mengilap padahal debu menumpuk di rak arsip, dan lewat kesunyian panjang yang menyelimuti satu pertanyaan yang sama, yang sudah terlalu tua untuk disebut baru dan terlalu penting untuk disebut selesai.Dan dalam beberapa kasus, bingkai yang paling mahal justru digunakan untuk memajang pertanyaan yang belum pernah berhasil dijawab. Kelak, ketika dinding itu dirobohkan dan para sejarawan menggali puing-puingnya, mereka mungkin akan menemukan sebuah bingkai berlapis emas yang masih utuh. Di dalamnya, setelah gambar memudar dimakan waktu, hanya tersisa satu hal yang tak pernah luntur: sebuah tanda tanya, yang ternyata lebih tahan lama daripada seluruh gelar di sekelilingnya.
Kiara, Oliva dan Negeri Sentosa
Kamis, 08 Oktober 2026
Alegori Sebuah Foto: Tentang Bingkai, Kursi, dan Gajah yang tak Pernah Diundang
Rabu, 07 Oktober 2026
Mengapa Mesin Kopi di Kantormu Lebih Mahal daripada Mobil Milikmu?
Di sebuah negeri yang sangat menghargai citra, semisal Indonesia, seseorang mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan yang terdengar sederhana: "Mengapa mesin kopi di kantormu lebih mahal daripada mobil milikmu?" Ruangan mendadak senyap. Bukan lantaran pertanyaan itu sulit dijawab, melainkan karena ia menyentuh sesuatu yang selama ini disepakati bersama agar tak dibahas, persis seperti aib keluarga yang disimpan rapi di laci paling bawah dan dikunci dengan gembok bersertifikat.Mesin kopi itu berdiri megah di sudut kantor. Tubuhnya mengilap, lampunya berkedip-kedip bagai altar modern, dan setiap pagi orang-orang berkumpul di sekelilingnya dengan khidmat, seolah kualitas minuman yang keluar dari sana dapat menentukan masa depan bangsa. Ada yang menunduk hormat sebelum menekan tombol. Ada yang berbisik, "Jangan sentuh yang itu, itu edisi terbatas." Sementara itu, mobil tua di parkiran hanya berfungsi sebagaimana mestinya: membawa orang dari satu tempat ke tempat lain, tanpa lampu berkedip, tanpa upacara, tanpa pernah meminta dipuji. Ironisnya, yang lebih dihormati malah mesin kopinya.Lama-kelamaan, negeri itu menjadi penuh dengan mesin kopi. Ada mesin kopi bernama gelar, yang dipasang di belakang nama dan dibawa ke mana-mana bagai perhiasan. Ada mesin kopi bernama sertifikat, yang dibingkai emas dan digantung setinggi mata supaya tak ada tamu yang luput membacanya. Ada mesin kopi bernama stempel, yang konon bisa mengubah selembar kertas biasa menjadi kebenaran hanya dengan sekali tekan. Ada pula mesin kopi bernama reputasi, yang paling mahal dan paling sering dipoles, padahal tak seorang pun ingat kapan terakhir kali ia benar-benar menyeduh sesuatu.Di antara semua mesin itu, ada satu yang paling istimewa: mesin kopi bernama Ijazah. Wujudnya selembar kertas tebal dengan tinta yang tampak meyakinkan, logo yang berkilau, dan tanda tangan yang meliuk anggun. Pemiliknya berdiri tegak di podium, menyebut dirinya lulusan dengan nada yang tak memberi ruang bagi keraguan. Namun, jika ada yang cukup lancang bertanya di kelas mana ia duduk, dosen mana yang pernah mengujinya, atau skripsi mana yang pernah ia pertahankan, jawabannya selalu berupa penjelasan panjang tentang kualitas kertas, ketebalan tinta, dan betapa mahalnya biaya pencetakannya. Bahkan, para ternak buzzer pun dikerahkan untuk membuat narasi agar lebih panjang, walau para buzzer itu ternyata berlogika otak dengkul.Sebagian dari mereka bahkan tak perlu repot memalsukan kertas. Cukup dengan keyakinan yang kekeuh, mereka mengaku telah tamat, padahal syarat kelulusan tak pernah dipenuhi: mata kuliah belum tuntas, sidang kelulusan belum dijalani, kewajiban belum ditunaikan. Mereka laksana orang yang mengumumkan diri telah sampai di tujuan, padahal mobilnya masih terparkir di halaman dengan ban kempis. Yang mengherankan, tepuk tangan tetap bergemuruh. Orang-orang terlanjur terpukau oleh kilau mesin, dan tak seorang pun mau repot memeriksa adakah air di dalamnya, adakah biji kopi, atau sekadar lampu yang pandai berkedip.Tiada yang benar-benar tahu bagaimana mesin-mesin itu dibuat. Tiada yang berani membuka tutupnya. Tiada yang hendak memeriksa kabel-kabel di dalamnya, sebab siapa tahu yang ditemukan bukan kabel, melainkan kardus yang dicat perak. Maka semua orang sepakat memuji kilau luarnya saja, sebab memuji jauh lebih murah daripada menelisik, dan jauh lebih aman daripada bertanya.Tatkala seseorang bertanya apakah mesin itu benar-benar bekerja sebagaimana mestinya, para penjaga gedung seketika menjelaskan spesifikasi cat pada permukaannya. Bilamana seseorang meminta melihat bagian dalamnya, mereka menunjukkan betapa mahal harga bingkainya. Dikala seseorang mempertanyakan asal-usulnya, mereka menjelaskan betapa banyak orang yang telah memotretnya, lengkap dengan jumlah pengikut dan tanda suka. Dalam hitungan hari, si penanya dicap tidak sopan, tidak nasionalis, dan tidak menghargai pencapaian orang lain. Seakan-akan popularitas dapat menggantikan keaslian. Seakan-akan harga dapat menggantikan pembuktian. Seakan-akan pajangan dapat menggantikan isi.Di negeri itu, kebenaran diperlakukan seperti mobil tua. Ia tak mengilap. Ia tak menarik perhatian. Ia tak dipajang di ruang utama, dan tak ada yang mau berfoto di sampingnya. Orang hanya mengingatnya bila mesin-mesin kopi mulai mogok dan semua pihak mendadak butuh tumpangan. Namun, sesungguhnya hanya mobil tua cq kebenaran itulah yang mampu membawa orang sampai ke tujuan.Sedangkan mesin kopi, betapapun mahalnya, tetaplah mesin kopi. Ia mungkin dapat menghasilkan aroma yang menyenangkan, membuat suasana yang nyaman, bahkan membuat orang merasa lebih percaya diri. Seorang pemilik ijazah entah dari mana pun bisa tampak sangat terpelajar di bawah lampu yang tepat. Tetapi ia takkan pernah membawa siapa pun ke mana-mana. Gelar yang tak pernah diperjuangkan takkan menolong disaat jembatan perlu dihitung, pasien perlu diobati, atau hukum perlu ditegakkan. Pada saat seperti itu, kertas berstempel hanya akan berfungsi sebagai kipas, itu pun kipas yang kurang efektif.Mungkin karena itulah pertanyaan "mengapa mesin kopi di kantormu lebih mahal daripada mobil milikmu?" terasa begitu mengganggu. Sebab pertanyaan itu sesungguhnya tak sedang membahas mesin kopi. Ia sedang bertanya mengapa kita sering menghabiskan begitu banyak tenaga untuk menjaga simbol, sementara kendaraan yang seharusnya membawa kita menuju kebenaran justru dibiarkan berkarat di halaman belakang. Ia bertanya mengapa kita rela membayar mahal agar tampak lulus, tapi enggan membayar harganya supaya benar-benar belajar.Dan seperti semua pertanyaan yang baik, ia tak menuntut jawaban segera. Ia hanya meminta kita melihat kembali apa yang selama ini kita anggap berharga. Jadi, besok pagi, ketika engkau berdiri khidmat di depan mesin kopi kebanggaan kantor, cobalah sekali saja membuka tutupnya. Jika yang engkau temukan hanyalah kardus bercat perak dan selembar kertas yang tak pernah lulus ujian, jangan kaget. Seduh saja kekecewaan itu, tambahkan sedikit gula, lalu berjalanlah ke parkiran. Mobil tua itu masih menunggu, dan ia tak pernah berpura-pura menjadi apa pun selain dirinya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)



