Jumat, 30 Oktober 2026

Ketika Papua Terbakar

Disclaimer
Tulisan ini terinspirasi oleh pemberitaan mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Papua pada akhir Oktober 2026. Berdasarkan laporan BNPB yang diberitakan media, pada 28 Oktober 2026 terpantau sekitar 2.393 hektare lahan terbakar di beberapa wilayah Papua dan 73 titik api, sementara pada 30 Oktober 2026 Papua Selatan menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla. Data luas area terbakar, jumlah hotspot, lokasi terdampak, serta perkembangan pemadaman dapat berubah sewaktu-waktu sesuai verifikasi dan pembaruan laporan resmi di lapangan. 

Papua terbakar!

Bukan kiasan. Bukan judul sinetron politik. Bukan pula metafora yang lahir dari kreativitas warganet yang terlalu lama menatap layar. Kali ini memang ada api. Titik-titik panas terpantau, asap membubung, petugas berjibaku, pesawat dikerahkan, operasi modifikasi cuaca dijalankan, dan di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau, perjuangan memadamkan api menjadi jauh lebih rumit daripada membuat pernyataan pers. 

Namun tenang. Republik ini punya kemampuan ruar biasa. Bila api muncul di hutan, kita mampu menghasilkan rapat lebih cepat daripada hujan.

Petugas pemadam melihat kobaran api. Satelit melihat hotspot. BNPB melihat data. Media melihat berita. Sementara sebagian netizen melihat kesempatan, yaitu kesempatan untuk menjadi pakar dadakan. Pagi menjadi ahli meteorologi, siang menjadi ahli kehutanan, malam menjadi ahli kebijakan publik, dan esok hari mungkin menjadi ahli tata surya. Semua bergantung pada topik yang sedang tren.

Lalu bermunculan berbagai pertanyaan: siapa yang salah, siapa yang lalai, dan siapa yang harus bertanggung jawab? Pertanyaan yang bagus. Sebab di negeri ini, terkadang mencari pelaku jauh lebih cepat daripada mencari solusi. Api belum tentu padam, tetapi kambing hitam biasanya sudah tersedia bahkan sebelum bara pertama mendingin.

Menurut laporan, sebagian titik kebakaran berada di wilayah yang sulit dijangkau. Ironisnya, lokasi yang sulit dijangkau petugas kerap jauh lebih mudah dijangkau opini. Orang yang tak pernah melihat lokasi kebakaran dapat menjelaskan semuanya. Orang yang tidak berada di lapangan dapat menyimpulkan semuanya. Dan orang yang baru membaca satu judul berita dapat menulis tiga belas paragraf kesimpulan. Sungguh efisien. Api membutuhkan bahan bakar, kesimpulan tidak. 

Kabut asap bahkan sempat mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah Papua. Ini membuatku berpikir: asap ternyata dapat membatasi jarak pandang pilot, tetapi tak pernah mampu membatasi jangkauan komentar. Bandara bisa mengalami penundaan. Penerbangan bisa dibatalkan. Namun kolom komentar tetap beroperasi dua puluh empat jam sehari tanpa jadwal perawatan. 

Kemudian datanglah ritual nasional yang paling bestari: keprihatinan.
"Kami prihatin."
"Kami sangat prihatin."
"Kami amat sangat prihatin."

Keprihatinan tampaknya merupakan sumber daya yang paling melimpah di republik ini. Ia tak pernah habis, tak pernah terdampak kemarau, dan tak pernah membutuhkan operasi modifikasi cuaca.

Padahal yang bekerja keras bukanlah keprihatinan. Yang bekerja keras adalah petugas di lapangan. Mereka yang berhadapan dengan panas, asap, medan sulit, dan risiko yang nyata. Mereka yang masuk ke wilayah yang bahkan kendaraan kesulitan menjangkaunya. Merekalah yang berhadapan langsung dengan api yang sesungguhnya. Sementara sebagian dari kita hanya berhadapan dengan baterai telepon yang tinggal lima persen. 

Humor gelapnya begini: api setidaknya jujur. Ia tak mengaku sebagai solusi. Ia tak berpura-pura menjadi penyelamat. Ia tak membuka konferensi pers. Ia tak membuat utas sepanjang dua puluh halaman. Ia hanya membakar, secara terang-terangan.

Sedangkan manusia kadang lebih rumit. Kita mampu membuat masalah terlihat seperti solusi, dan solusi terlihat seperti ancaman. Kita mampu mengubah diskusi menjadi pertunjukan, dan pertunjukan menjadi kebijakan.

Maka ketika mendengar kalimat"Papua terbakar", jangan hanya bertanya, "Siapa yang salah?" Cobalah bertanya juga, "Siapa yang bekerja memadamkan?", "Siapa yang terdampak?", dan yang paling penting, "Setelah semua perdebatan selesai, ikut padankah apinya?"

Karena satelit dapat menghitung titik api. BNPB dapat menghitung luas hektare yang terbakar. Namun hingga hari ini, belum ada teknologi yang mampu menghitung berapa banyak energi bangsa ini yang habis untuk berdebat dibanding menyelesaikan masalah.

Dan mungkin, itulah hotspot yang sebenarnya.

Catatan:
Tulisan ini tak dimaksudkan untuk meremehkan bencana maupun masyarakat yang terdampak. Untuk informasi terkini, pembaca tetap disarankan merujuk pada pembaruan resmi BNPB, BPBD, BMKG, dan instansi terkait, karena data karhutla, hotspot, luas area terdampak, serta operasi penanganan dapat berubah dari hari ke hari sesuai perkembangan situasi di lapangan.

Kamis, 29 Oktober 2026

Thank You - Thank You - Thank You

Surat Terbuka Balasan untuk Pak Patrick Liew

Kepada Yang Terhormat Bapak Patrick Liew, Pengusaha, Investor, dan Penulis Surat Terbuka Paling Optimis di Asia Tenggara,

Terima kasih.

Terima kasih yang tulus, bukan terima kasih sarkastik seperti milik Bapak. Terima kasih karena Bapak telah menunjukkan kepada kami bahwa sebuah pengurangan pasokan gas sebesar 31 MMSCFD dari total 409,5 MMSCFD—kira-kira 8 persen—dapat langsung diangkat menjadi tragedi geopolitik, pelajaran moral universal, dan ancaman terhadap peradaban bisnis Asia Tenggara.

Kami kagum. Tak semua orang mampu mengubah angka kecil menjadi pidato besar. Itu bakat. 
Tentang “terima kasih” Bapak

Bapak membuka surat dengan “terima kasih,” lalu menutupnya dengan “terima kasih,” dan di tengahnya menyisipkan cukup banyak “terima kasih” sehingga pembaca mulai curiga bahwa kata tersebut bukan ucapan, melainkan alat tempur.

Kami menghargai teknik sastra itu. Namun, bolehkan kami memakai gaya yang sama:

Terima kasih, Pak Patrick, karena telah mengingatkan kami bahwa sarkasme bisa ditulis panjang, tetapi fakta tetap pendek.

Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa pengurangan tersebut belum melampaui batas minimum kontrak, yang berada di kisaran 91–92 MMSCFD. Pengurangan yang dilakukan baru 31 MMSCFD. Artinya, sebelum dunia “waspada berbisnis dengan Indonesia,” mungkin dunia perlu lebih waspada membaca lampiran kontrak terlebih dahulu.

Tentang “contoh buruk kepemimpinan”

Bapak menyebut Presiden Prabowo telah memberi contoh tentang bagaimana sebuah pemerintahan seharusnya tidak dijalankan. Kami mengerti. Dari Singapura, segala hal mungkin terlihat lebih sederhana: ada gas, kirim gas; ada kontrak, baca kontrak; ada kritik, tulis surat terbuka.

Tetapi di Indonesia, pemerintah juga punya pekerjaan rumah yang sedikit berbeda: menjaga listrik dan industri di Batam, Bintan, serta Sumatera; memastikan rakyat tak kehabisan energi; dan mengelola fasilitas yang kadang perlu pemeliharaan—bukan karena ingin menyindir tetangga, tetapi karena pipa dan pabrik memang bukan benda ajaib yang tak pernah lelah.

Jadi, mungkin contoh kepemimpinan yang lebih tepat bukanlah “jangan pernah mengurangi ekspor,” melainkan: utamakan rakyat sendiri ketika pasokan terbatas, selama tetap menepati kontrak. 
Tentang “bunuh diri reputasi”

Bapak menyebut langkah Indonesia sebagai “bunuh diri reputasi.” Kami hampir terguncang. Hampir.

Namun, lalu kami melihat angka dari pihak Singapura sendiri: Energy Market Authority menyebut total pengurangan selama 18 hari setara 17 BBTUD, atau kurang dari 2 persen kebutuhan gas harian Singapura.

Jadi, kalau kurang dari 2 persen kebutuhan gas dapat menyebabkan “bunuh diri reputasi,” maka kami khawatir reputasi Singapura ternyata sangat rapuh. Atau, lebih sopannya: mungkin istilah “bunuh diri reputasi” perlu ditinjau ulang oleh tim konsultan komunikasi Bapak. 
Tentang bantuan Covid-19

Bapak mengingatkan bantuan Singapura kepada Indonesia saat pandemi. Kami menghargainya, sungguh. Bantuan medis, vaksin, dan koordinasi pada masa krisis adalah kenangan yang tidak boleh dilupakan.

Tetapi izinkan kami menjelaskan satu hal sederhana: bantuan kemanusiaan bukanlah kupon langganan gas.

Kalau setiap bantuan masa lalu harus dibayar dengan pasokan energi tanpa batas waktu, maka dunia akan menjadi tempat yang sangat melelahkan. Setiap negara akan menyimpan nota, mencatat utang budi, lalu menagihnya dalam bentuk kilowatt, metrik kubik, atau diskon di supermarket.

Persahabatan memang harus dijaga. Tetapi persahabatan yang sehat tak menuntut salah satu pihak untuk terus mengekspor gas meskipun rakyatnya sendiri membutuhkan listrik. 
Tentang “dunia akan waspada”

Bapak menulis bahwa kejadian ini mengajarkan dunia untuk lebih bijak dan waspada ketika berbisnis dengan Indonesia. Kami setuju. Dunia memang harus bijak dan waspada.

Waspada ketika membaca kontrak. Bijak ketika menghitung persentase. Dan sangat waspada ketika seseorang menyebut pengurangan 8 persen sebagai bencana nasional, padahal pihak Singapura sendiri mengaku dampaknya kurang dari 2 persen terhadap kebutuhan gas harian.

Kalau ini yang disebut “membangunkan dunia,” maka dunia ternyata tidurnya sangat nyenyak. 
Tentang “negara yang tak dapat diandalkan”

Bapak menyiratkan Indonesia sebagai mitra yang tak dapat diandalkan. Kami memahami kekhawatiran itu, tetapi kami juga ingin mengingatkan: negara yang dapat diandalkan bukan berarti negara yang harus mengirim gas sampai rumahnya sendiri gelap.

Indonesia tetap mengirim sebagian besar pasokan. Dari 409,5 MMSCFD, yang dikurangi 31 MMSCFD. Sisanya masih jauh di atas batas minimum kontrak.

Jadi, kalau boleh kami simpulkan dengan bahasa bisnis yang Bapak pahami: ini bukan default, bukan breach of contract, dan belum tentu reputational suicide. Ini lebih mirip penyesuaian pasokan dalam batas kontrak, disertai komunikasi yang mungkin memang perlu diperbaiki. 
Satu hal yang kami akui

Kami takkan membela segalanya secara membabi buta. Ada satu kritik Bapak yang layak dijawab dengan serius: komunikasi.

Jika mitra dagang merasa terkejut, maka pemerintah perlu lebih cepat menjelaskan: berapa lama penyesuaian berlangsung, apa alasan teknisnya, kapan pasokan pulih, dan bagaimana mekanisme kontraktualnya. Singapura sendiri menyebut adanya kemungkinan pencarian remedies kontraktual oleh importir gas.

Itu bukan tanda dunia harus takut pada Indonesia. Itu tanda bahwa hubungan dagang perlu dikelola dengan data, kontrak, dan komunikasi—bukan hanya dengan surat terbuka yang penuh “terima kasih.”

Jadi, Pak Patrick, sekali lagi: terima kasih.

Terima kasih karena telah mengingatkan kami bahwa kritik internasional kadang lebih cepat ditulis daripada angka kontraknya dibaca. Terima kasih karena telah menunjukkan bahwa satu persen kebutuhan gas dapat dikembangkan menjadi ribuan kata. Dan terima kasih karena telah memberi kami kesempatan menulis balasan yang lebih panjang dari yang seharusnya diperlukan.

Kami tetap menghormati Singapura sebagai tetangga, mitra, dan sahabat. Kami juga tetap berkomitmen pada kontrak, kerja sama, dan hubungan yang saling menguntungkan.

Namun, kami ingin menutup dengan satu pesan sederhana:

Gas boleh dikurangi sementara. Kontrak tetap dihormati. Tetapi kesimpulan yang terburu-buru? Itu yang sebaiknya tidak diekspor.

Terima kasih atas surat terbuka Bapak. Sebagai balasan yang setara—namun lebih lembut—berikut pantun-pantun kecil dari kami.

Pagi hari burung terbang ke awan,
Angin berhembus di tepi kali;
Terima kasih surat yang penuh kesan,
Walau angkanya belum tentu ali.

Gas mengalir dari Natuna jauh,
Melintasi laut menuju tetangga;
Sedikit dikurangi bukanlah salju,
Asalkan kontrak tetap terjaga.

Empat ratus sembilan kaki kubik,
Tiga puluh satu hanya dikurangi;
Jangan buru-buru menyalahkan publik,
Baca dulu batas yang disepakati.

Pipa berkarat perlu dirawat,
Pabrik pun kadang berhenti sejenak;
Bukan niat untuk membuat kecewa,
Domestik dahulu agar tak gelap.

Lampu menyala di rumah sendiri,
Industri berjalan dengan tenang;
Menjaga rakyat adalah martabat,
Sambil tetap menghormati perjanjian.

Bantuan Covid tak akan hilang,
Diingat dalam doa dan sejarah;
Namun bantuan bukan tali pengikat,
Untuk memaksa energi terus berkah.

Dua persen kebutuhan negeri,
Dikira badai yang mengguncang dunia;
Sarkasme memang indah didengar,
Tetapi angka lebih jujur bicara.

Surat terbuka indah bunyinya,
“Terima kasih” berulang-ulang;
Lebih elok sebelum menyalahkan,
Kontrak dibaca dari awal sampai akhirnya.

Tetangga baik tetap kami hormati,
Bisnis jalan dalam kerja sama;
Gas boleh disesuaikan sementara,
Asal tak rusak rasa dan nama.

Burung kembali ke sarangnya pula,
Matahari senja di ufuk barat;
Salam hangat dari Nusantara,
Semoga bijak menyikapi perbedaan dan fakta.

Hormat kami,
Warga Indonesia yang percaya bahwa membaca kontrak juga merupakan bagian dari diplomasi

Sumber angka dan klaim dalam surat ini merujuk pada keterangan pemerintah Indonesia serta pernyataan otoritas energi Singapura: total ekspor pipa 409,5 MMSCFD, pengurangan 31 MMSCFD atau sekitar 8 persen, batas minimum kontrak sekitar 91–92 MMSCFD, dan dampak bagi Singapura kurang dari 2 persen kebutuhan gas harian selama 18 hari.