Kamis, 12 Maret 2026

Sejarah dan Ketidakpercayaan

Mengapa banyak seniman dan filsuf Barat menolak atau membenci agama? Pertanyaan ini menyentuh arus bawah yang sangat kaya dalam sejarah intelektual dan budaya Barat—dan sebagian dunia lainnya. Banyak seniman dan filsuf berada di posisi yang berbeda-beda—sebagian semisal Nietzsche memang memusuhi agama secara aktif, sebagian lagi, sebagaimana Albert Camus, lebih kepada ketidakacuhan yang tragis, selebihnya seperti Tagore, justru membangun spiritualitas alternatif di luar institusi agama resmi.
Yang menyatukan mereka bukan kebencian terhadap kesakralannya, melainkan perlawanan terhadap agama bila digunakan sebagai instrumen kekuasaan, dogma, dan pembatas kemerdekaan manusia—sebuah kritik yang, ironisnya, juga ada dalam banyak tradisi mistisisme dalam agama-agama itu sendiri.  Mari kita telusuri akar-akarnya.

Ketika John Lennon menulis bait “and no religion too” dalam tembangnya “Imagine” (1971), ia tak sekadar mengungkapkan keeksentrikan. Ia memberikan bentuk melodik kepada sebuah arus pemikiran yang telah mengalir dalam tradisi intelektual Barat selama setidaknya tiga abad—arus yang diberi makan oleh akal budi, oleh amarah, oleh kepedihan, dan akhirnya oleh bukti sejarah yang tak tertanggungkan. Artikel ini menelusuri arus tersebut dari asal-usulnya pada masa Pencerahan, melalui malapetaka Holocaust, hingga ke generasi-generasi seniman, filsuf, dan manusia biasa yang hubungannya dengan agama telah diubah—kadang melampaui kemungkinan pemulihan—oleh apa yang telah diperlihatkan abad kedua puluh kepada mereka.
Sebuah ketepatan analitis perlu dikemukakan sejak awal. “Agama” dalam konteks ini, dan memang menurut sejarahnya demikian, sepenuhnya merujuk pada Kekristenan yang terorganisir dan institusional dalam bentuk-bentuk Baratnya—terutama Gereja Katolik Roma dan gereja-gereja Protestan arus utama. Ini bukan, sebagaimana akan kita lihat, karena tradisi keagamaan lain tak dapat dikritik, melainkan karena tradisi kritik sekuler yang dikaji di sini lahir di dalam peradaban Barat dan diarahkan, dengan keintiman seorang orang dalam, kepada iman yang telah membentuknya.

Pergumulan Panjang antara Kekristenan Barat dan Tradisi Intelektual
Dari Masa Pencerahan hingga Holocaust dan Sesudahnya

Bagian I: Pencerahan dan Serangan terhadap Otoritas Gerejawi

1.1 — Kelahiran Akal Budi Sekuler

Abad ketujuh belas dan kedelapan belas di Eropa menyaksikan sebuah transformasi dalam tatabahasa otoritas intelektual itu sendiri. Dimana Kitab Suci dan dekrit-dekrit Gereja dahulu berfungsi sebagai pengadilan terakhir dalam soal kebenaran, kini sebuah mahkamah baru didirikan menggantikannya: mahkamah akal budi. Ini bukanlah revolusi yang terjadi seketika, melainkan sebuah proses yang bertahap dan kerap berbahaya — sebuah proses dimana para filsuf, ilmuwan alam, dan kaum terpelajar mempertaruhkan pengucilan sosial, pemenjaraan, dan acapkali, lebih dari itu.

René Descartes, meski dirinya sendiri seorang Katolik, ikut meletakkan fondasi dengan menegaskan bahwa satu-satunya titik tolak pengetahuan yang dapat diandalkan adalah diri yang berpikir dan meragukan — bukan tradisi, bukan otoritas, bukan Kitab Suci. Baruch Spinoza, yang dikucilkan oleh komunitasnya sendiri dan dipandang dengan curiga oleh otoritas Kristen, membawa argumen itu lebih jauh: Tuhan dan Alam adalah satu dan sama, dan Alkitab adalah dokumen manusiawi yang memerlukan penafsiran seperti dokumen lainnya. Ini bukan sekadar posisi akademis. Ini adalah tindakan pemberontakan intelektual.

Para filsuf Prancis abad ke-18-lah yang membawa serangan itu paling lantang ke dalam kehidupan publik. Voltaire — François-Marie Arouet — mencurahkan sebagian besar energi satirisnya yang luar biasa kepada Gereja Katolik Roma, yang terkenal karena ia desak para korespondennya untuk “écrasez l’infâme”: hancurkan hal yang memalukan itu. Bagi Voltaire, Gereja bukanlah institusi yang membina keluhuran moral, melainkan institusi penggelapan yang terorganisasi, ditopang oleh ruang-ruang penyiksaan Inkuisisi dan kemalasan para klerus yang lebih tertarik pada kekayaan dan kekuasaan daripada pada kebenaran atau belas kasihan.

David Hume, yang menulis di Skotlandia, membawa skeptisisme yang lebih dingin dan lebih sistematis. Dialogues Concerning Natural Religion-nya (diterbitkan anumerta pada 1779) membongkar, dengan kesabaran seperti seorang ahli bedah, argumen-argumen tradisional bagi keberadaan Tuhan. Denis Diderot dan Jean le Rond d’Alembert, melalui Encyclopédie, berusaha menghimpun seluruh pengetahuan manusia berdasarkan prinsip-prinsip rasional, secara tersirat menjadikan wahyu tidak diperlukan lagi. Proyek Pencerahan, dalam bentuknya yang paling radikal, adalah menyelesaikan apa yang dipandangnya sebagai urusan yang belum tuntas dari Renaisans: membebaskan pikiran manusia dari perwalian Gereja.
 
1.2 — Rekam Jejak Gereja: Ilmu Pengetahuan, Kekuasaan, dan Kekerasan

Kritik Pencerahan bukan semata-mata bersifat filosofis. Ia juga bersifat historis, dan sejarah yang diulang-ulang oleh para filsuf itu sangatlah menghukum. Penghukuman terhadap Galileo Galilei oleh Inkuisisi pada tahun 1633 — karena mempertahankan bahwa Bumi bergerak mengelilingi Matahari — menjadi simbol paling menonjol dari konflik antara otoritas gerejawi dan penyelidikan empiris tentang alam. Bahwa Gereja akhirnya, meski sangat terlambat, mengakui kekeliruannya, tak banyak menghapus kenangan itu.

Inkuisisi sendiri, dalam berbagai manifestasi nasionalnya, meninggalkan bayangan yang panjang. Inkuisisi Spanyol, yang didirikan pada tahun 1478, menundukkan ribuan orang pada interogasi, penyiksaan, dan eksekusi atas nama kemurnian doktrin. Pengusiran orang-orang Yahudi dari Spanyol pada tahun 1492 — yang dilaksanakan berdasarkan dekret yang ditandatangani Raja Ferdinand dan Ratu Isabella serta diberkati Gereja — adalah salah satu pengungsian paksa terbesar dalam sejarah Eropa abad pertengahan. Pembakaran orang-orang yang dituduh bidah, penganiayaan terhadap umat Protestan dan Katolik secara bergantian tergantung siapa yang berkuasa, Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648) yang menghancurkan Eropa Tengah berdasarkan garis pengakuan iman — semua ini menumpuk menjadi sebuah dakwaan yang akan dikutip kaum sekuler selama generasi-generasi.

Yang menjadikan dakwaan itu sangat kuat adalah kualitasnya yang ironis. Kekristenan memproklamirkan diri sebagai agama kasih, pengampunan, dan persaudaraan. Rekam jejak institusionalnya menunjukkan sesuatu yang cukup berbeda. Bagi para filsuf, kesenjangan antara pernyataan dan praktik ini bukanlah kecelakaan atau korupsi dari cita-cita yang sebenarnya murni: ia adalah bukti bahwa otoritas Gereja bertumpu pada fondasi pemaksaan, bukan kebenaran.

Bagian II: Abad Kesembilan Belas — Dari Kritik ke Diagnosis

2.1 — Marx: Agama sebagai Candu Rakyat

Karl Marx mewarisi kritik Pencerahan dan meradikalisasinya. Bagi Marx, pertanyaannya bukan sekadar apakah agama itu benar (tidak benar), melainkan fungsi sosial apa yang diembannya. Jawabannya, yang dirumuskan paling berkesan dalam pengantar Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1844), adalah bahwa agama berfungsi sebagai “candu rakyat.” Ia adalah pereda nyeri bagi penderitaan sosial — kompensasi khayali bagi dunia di mana kaum banyak dieksploitasi oleh kaum sedikit. Dengan menawarkan kepada kaum buruh miskin penghiburan surga, agama menjadikan kondisi duniawi mereka lebih tertanggungkan dan, dengan demikian, lebih awet. Dalam analisis ini, agama bukan sekadar keliru, tetapi secara aktif bersekongkol dengan penindasan.

Ini adalah kritik yang melampaui kekhawatiran Pencerahan tentang kesalahan intelektual. Marx berargumen bahwa agama adalah fitur struktural dari masyarakat kelas, yang diproduksi oleh kesengsaraan dan berfungsi melanggengkannya. Solusinya bukan filsafat yang lebih baik melainkan revolusi sosial. Ketika kondisi-kondisi yang melahirkan agama dihapuskan, agama itu sendiri akan layu dan mati. Marx tidak banyak tertarik pada polemik anti-klerus demi polemik itu sendiri — yang penting adalah transformasi kondisi material kehidupan manusia.

Kritik Marxis terbukti sangat berpengaruh, tidak hanya dalam politik revolusioner tetapi juga dalam kehidupan budaya dan intelektual abad kedua puluh. Gaungnya dapat didengar dalam skeptisisme para seniman yang memandang agama terorganisir sebagai instrumen kelas penguasa, sebuah sarana untuk menjaga kaum miskin tetap jinak dan kaum berkuasa tetap tidak tertantang.
 
2.2 — Nietzsche: Kematian Tuhan dan Moralitas Budak

Friedrich Nietzsche mendekati pertanyaan ini dari arah yang sama sekali berbeda. Di mana Marx terutama tertarik pada fungsi sosial agama, Nietzsche peduli dengan konsekuensi psikologis dan kulturalnya. Pernyataannya dalam The Gay Science (1882) dan karya-karya selanjutnya bahwa “Tuhan sudah mati” bukanlah proklamasi ateis yang penuh kemenangan, melainkan diagnosis sebuah krisis budaya. Peradaban Eropa telah ditopang selama berabad-abad oleh kerangka moral Kristen. Kini kerangka itu runtuh — bukan karena serangan dari luar melainkan karena kontradiksi internal, dan karena kejujuran intelektual yang justru Kekristenan itu sendiri kembangkan telah berbalik melawan fondasi-fondasi Kekristenan itu sendiri.

Kritik Nietzsche terhadap Kekristenan sekaligus lebih radikal dan lebih personal dibandingkan kritik Marx. Dalam The Genealogy of Morality (1887) dan The Antichrist (1895), ia berargumen bahwa etika Kristen merepresentasikan apa yang disebutnya “moralitas budak” — sebuah sistem nilai yang lahir dari ressentiment, dari balas dendam yang tak berdaya dari kaum lemah terhadap kaum kuat. Kebajikan-kebajikan Kristen — kerendahan hati, kelemahlembutan, belas kasihan, penyangkalan diri — bukanlah, dalam analisisnya, kebajikan sejati sama sekali, melainkan iri hati yang tersublimasi dari mereka yang terlalu lemah untuk menegaskan diri mereka sendiri. Dengan mengajarkan orang untuk mengagungkan penderitaan dan ketundukan, Kekristenan telah menghasilkan sebuah peradaban yang dicirikan oleh apa yang dipandang Nietzsche sebagai nihilisme yang menolak kehidupan.

Nietzsche tidak menawarkan solusi politik Marx. Responsnya terhadap kematian Tuhan adalah visi tentang “Übermensch” — individu yang menciptakan nilai-nilainya sendiri tanpa sanction ilahi — dan sebuah “revaluasi semua nilai” secara menyeluruh. Pengaruh visi ini terhadap seniman, penulis, dan kaum intelektual abad kedua puluh sangatlah besar, meski kerap disalahpahami. Tradisi eksistensialis — dari Sartre dan Camus hingga budaya bohemianisme pasca-perang yang lebih luas — menimba sangat dalam dari desakan Nietzsche bahwa di dunia tanpa Tuhan, individu harus menanggung tanggung jawab penuh atas makna keberadaannya sendiri.
 
2.3 — Freud: Agama sebagai Ilusi dan Neurosis

Sigmund Freud menambahkan dimensi ketiga pada kritik abad kesembilan belas terhadap agama. Dalam The Future of an Illusion (1927) dan Civilisation and Its Discontents (1930), ia berargumen bahwa agama adalah produk dari alam bawah sadar — khususnya, sebuah neurosis kolektif yang berakar pada ketidakberdayaan masa kanak-kanak dan kontigensi kehidupan dewasa yang menakutkan. Kepercayaan pada Tuhan yang baik hati adalah, dalam istilah Freudian, proyeksi figur ayah yang diidealkan ke atas kosmos: pemenuhan hasrat kanak-kanak yang suatu saat harus ditinggalkan oleh orang dewasa yang beradab.

Analisis Freud khas reduktif — ia memiliki kepandaian untuk menjelaskan yang transenden — namun terbukti sangat berpengaruh di kalangan budaya awal abad kedua puluh, terutama di antara para seniman dan penulis yang sudah condong ke skeptisisme. Jika agama adalah sebuah neurosis, maka tugas kaum intelektual sekuler bersifat terapeutik: membantu umat manusia bertumbuh keluar dari ketergantungannya pada fiksi-fiksi yang menghibur dan menghadapi realitas dengan keberanian orang dewasa.

Bagian III: Holocaust — Luka yang Tak Kunjung Sembuh

3.1 — Akar Teologis Antisemitisme Eropa

Untuk memahami hubungan antara Holocaust dan krisis iman agama yang kemudian terjadi di Barat, seseorang harus memulai dengan sebuah kebenaran sejarah yang tidak nyaman: antisemitisme yang dieksploitasi dan diradikalisasi oleh rezim Nazi memiliki akar yang dalam dalam teologi Kristen. Selama hampir dua milenium, Gereja mengajarkan bahwa bangsa Yahudi menanggung tanggung jawab kolektif atas penyaliban Yesus Kristus. Tuduhan deisida — pembunuhan Tuhan — ini digunakan untuk membenarkan diskriminasi, pengucilan, pemaksaan konversi, dan episode-episode kekerasan massal berkala terhadap komunitas-komunitas Yahudi di seluruh Eropa.

Arsitektur teologis anti-Yudaisme Kristen sangat rumit. Orang-orang Yahudi digambarkan sebagai anak-anak iblis, sebagai agen Setan, sebagai bangsa yang dikutuk Tuhan karena penolakan mereka terhadap Mesias. Gambaran-gambaran ini meresapi ikonografi abad pertengahan, khotbah, lakon misteri, dan budaya populer. Mereka membentuk struktur hukum yang mengurung orang Yahudi di ghetto-ghetto, melarang mereka memiliki tanah, dan menutup pintu bagi mereka dari sebagian besar profesi. Mereka mendasari pembantaian komunitas-komunitas Yahudi di Rhine pada tahun 1096 oleh para tentara Salib, pengusiran orang Yahudi dari Inggris pada tahun 1290, dari Prancis pada tahun 1306, dari Spanyol pada tahun 1492, dan dari puluhan wilayah lain sepanjang periode abad pertengahan.

Martin Luther, pendiri Protestanisme, adalah seorang antisemit yang ganas. Traktatnya tahun 1543, On the Jews and Their Lies, menyerukan pembakaran sinagoge dan sekolah Yahudi, perampasan properti Yahudi, dan kerja paksa bagi orang-orang Yahudi. Para propagandis Nazi kemudian akan mengutip Luther dengan penuh persetujuan. Poinnya bukan bahwa teologi Kristen abad pertengahan menyebabkan Holocaust — hubungannya jauh lebih kompleks dan diperdebatkan dari itu — tetapi bahwa berabad-abad kebencian anti-Yahudi yang disponsori Gereja telah menyiapkan tanah budaya di mana ideologi rasial Nazi dapat berakar dan tumbuh subur.
 
3.2 — Holocaust: Enam Juta Jiwa, dan Keheningan Tuhan

Antara tahun 1941 dan 1945, rezim Nazi beserta para kolaboratornya membunuh kira-kira enam juta orang Yahudi — dua pertiga dari seluruh populasi Yahudi di Eropa. Mereka ditembak dalam eksekusi massal oleh unit-unit pembunuh bergerak (Einsatzgruppen) di hutan-hutan dan jurang-jurang Eropa Timur; mereka digas di kamp-kamp pemusnahan di Auschwitz-Birkenau, Treblinka, Sobiór, Bełżec, Chełmno, dan Majdanek; mereka dikelaparan, dipaksa bekerja hingga mati, dijadikan subyek eksperimen medis yang mengerikan, dan secara sistematis didehumanisasi sebelum dibunuh.

Ini bukan malapetaka alam. Ini adalah perbuatan manusia, dilaksanakan dengan efisiensi industrial di jantung Eropa Kristen, di sebuah negara yang telah melahirkan Kant, Hegel, Beethoven, dan Schiller — sebuah negara yang penduduknya sangat besar adalah penganut Kristen. Para pelakunya bukan orang-orang kafir dari padang stepa, melainkan orang Jerman: terpelajar, secara budaya terpoles, dibentuk oleh berabad-abad peradaban Kristen. Banyak di antara mereka adalah umat Kristen yang dibaptis. Sebagian mengikuti sakramen secara teratur. Sejumlah perwira SS menerima sakramen.

Bagi mereka yang selamat — dan bagi mereka yang datang kemudian dan mencoba memahami apa yang telah terjadi — pertanyaan-pertanyaan teologis itu tidak terelakkan. Di mana Tuhan ketika itu semua terjadi? Bagaimana Tuhan yang Mahakuasa, Mahatahu, dan Mahabaik bisa membiarkan ini? Tradisi Yahudi memiliki nama untuk masalah ini: teodisi — upaya membenarkan cara-cara Tuhan kepada manusia dalam menghadapi kejahatan yang radikal. Holocaust tidak hanya menantang teodisi; bagi banyak orang, ia tampak menjadikan upaya itu sendiri sebagai sesuatu yang obscen.

Elie Wiesel, yang selamat dari Auschwitz dan Buchenwald dan kemudian menjadi mungkin saksi sastra terpenting bagi Holocaust, menggambarkan dalam memoarnya Night (1958) sebuah adegan yang memiliki kekuatan simbolis yang menghancurkan. Tiga tahanan — salah satunya seorang anak laki-laki — digantung di hadapan para tahanan kamp yang dikumpulkan. Ketika anak itu, terlalu ringan untuk mati dengan cepat, tergantung tercekik di tali, seorang lelaki di belakang Wiesel bertanya, “Di mana Tuhan? Di mana Dia?” Dan Wiesel mendengar sebuah suara dalam dirinya menjawab: “Inilah Dia — Dia tergantung di sini di tiang gantungan ini.” Ini bukan ateisme, melainkan sesuatu yang lebih berat — sebuah iman yang telah bertahan dengan melewati kobaran api dan muncul di sisi lain, hampir tidak dapat dikenali.
 
3.3 — Sikap Gereja Selama Holocaust

Kredibilitas moral gereja-gereja institusional selama Holocaust adalah persoalan rekam jejak sejarah yang hampir tak memberi ruang bagi interpretasi yang nyaman. Paus Pius XII, yang memimpin Gereja Katolik Roma dari tahun 1939 hingga 1958, telah menjadi subyek kontroversi sejarah yang berkelanjutan. Bukti-bukti menunjukkan bahwa ia memiliki pengetahuan terperinci tentang pemusnahan orang Yahudi Eropa dan memilih, karena alasan-alasan yang terus diperdebatkan para sejarawan, untuk tak mengeluarkan kecaman publik yang eksplisit. Para pembelanya berargumen bahwa upaya-upaya diplomatik yang bersifat pribadi telah menyelamatkan jiwa; para pengkritiknya berpendapat bahwa penghukuman kepausan yang langsung dan tidak ambigu — secara moral berwibawa dengan cara yang tidak dapat ditandingi oleh pernyataan mana pun — mungkin telah membuat banyak umat Katolik berpikir dua kali sebelum berpartisipasi dalam kekejaman, dan mungkin telah menyelamatkan jiwa-jiwa yang hilang dalam keheningan.

Di tingkat lokal, rekam jejaknya beragam. Ada imam, pendeta, dan umat Kristen biasa yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi keluarga dan individu Yahudi — para Orang Benar di Antara Bangsa-Bangsa yang diakui oleh Yad Vashem mencakup ribuan orang Kristen. Namun ada pula klerus yang memberkati prajurit Nazi, yang berkhotbah dengan sikap tidak peduli atau lebih buruk dari mimbar mereka, dan yang berpartisipasi dalam pengkhianatan terhadap tetangga Yahudi mereka. Gereja-gereja Protestan Jerman, dengan pengecualian yang terhormat — terutama Gereja Pengakuan dan tokoh-tokoh seperti Dietrich Bonhoeffer — sebagian besar mengakomodasi diri mereka terhadap rezim Nazi.

Kegagalan institusional itu bukan sekadar bersifat moral, tetapi juga teologis. Kekristenan telah memproklamirkan, selama dua ribu tahun, bahwa ia adalah penjaga martabat manusia yang universal dan suara nurani ilahi dalam sejarah. Ketika kejahatan terbesar dalam sejarah yang tercatat sedang dilakukan di tengah-tengahnya, suara itu, dalam kondisi terbaik, dibungkam. Kesenjangan antara pemahaman diri Kekristenan dan perilaku aktualnya di hadapan kejahatan adalah, bagi banyak pengamat, terlalu besar untuk dijembatani.
 
3.4 — Teologi Pasca-Perang: Mencoba yang Mustahil

Komunitas teologis tidak buta terhadap besarnya apa yang telah terjadi. Dalam dekade-dekade setelah perang, pemikir Yahudi dan Kristen sama-sama berjuang untuk merespons. Pemikir Yahudi seperti Emil Fackenheim berargumen bahwa setelah Auschwitz, orang Yahudi berada di bawah kewajiban moral untuk bertahan hidup dan menolak memberi Hitler kemenangan anumerta, termasuk kemenangan atas ditinggalkannya iman mereka. Yang lain, seperti Richard Rubenstein, menyimpulkan bahwa Tuhan sejarah yang tradisional — Tuhan yang bertindak dalam waktu, yang membalas yang benar dan menghukum yang jahat — tout court tidak sesuai dengan realitas kamp-kamp kematian itu. Dalam After Auschwitz (1966), Rubenstein berargumen bahwa Holocaust telah menjadikan teisme klasik tidak dapat dipertahankan dan bahwa identitas Yahudi harus direkonstruksi di atas fondasi yang berbeda.

Para teolog Kristen, dari pihak mereka, dipaksa untuk menghadapi komplisitas tradisi mereka sendiri dalam kondisi-kondisi yang membuat Holocaust mungkin terjadi. Konsili Vatikan Kedua (1962–1965) menghasilkan deklarasi Nostra Aetate, yang secara resmi mencabut tuduhan kesalahan kolektif Yahudi atas penyaliban — sebuah posisi teologis yang selama sembilan belas abad telah menopang kebencian anti-Yahudi. Ini adalah sebuah tindakan koreksi diri yang signifikan, meski sangat terlambat. Ini tidak dapat membatalkan berabad-abad yang telah berlalu; ini tidak dapat menghidupkan kembali mereka yang telah mati.

Bagian IV: Warisan Artistik dan Budaya

4.1 — Eksistensialisme dan Generasi Pasca-Perang

Respons filosofis terhadap malapetaka-malapetaka abad kedua puluh — Perang Dunia Pertama, kebangkitan totalitarianisme, Holocaust, bom atom — adalah eksistensialisme. Jean-Paul Sartre dan Albert Camus, menulis dalam bayang-bayang pendudukan Jerman atas Prancis dan pengungkapan tentang kamp-kamp kematian, mengartikulasikan sebuah visi tentang kondisi manusia di mana tidak ada Tuhan, tidak ada makna inheren dalam alam semesta, dan tidak ada jaminan bahwa sejarah bergerak ke arah mana pun selain yang dipaksakan oleh manusia, melalui pilihan-pilihan mereka, ke atasnya.

Bagi Sartre, eksistensi mendahului esensi: manusia tidak diciptakan untuk tujuan apa pun, tidak dicap dengan citra ilahi, dan karenanya secara menakutkan bebas. Bagi Camus, masalah sentral filsafat adalah yang absurd — benturan antara kerinduan manusia akan makna dan ketidakacuhan total alam semesta terhadap kerinduan itu. Camus bukan seorang ateis militan; ia adalah sesuatu yang lebih melankolis — seorang lelaki yang tidak dapat percaya pada Tuhan namun merasakan ketidakhadiran itu sebagai luka. Esainya The Myth of Sisyphus (1942) mengusulkan bahwa satu-satunya respons yang jujur terhadap yang absurd adalah memberontak melawannya — untuk berkeras hidup sepenuh-penuhnya di hadapan ketiadaan makna.

Sensibilitas eksistensialis ini meresapi budaya tahun 1950-an dan 1960-an — dalam sastra, dalam sinema, dalam dunia rock and roll yang sedang bangkit. Generasi Beat di Amerika — Kerouac, Ginsberg, Burroughs — menyerapnya dan mengubahnya menjadi idiom pemberontakan Amerika yang khas terhadap konformitas, konsumerisme, dan kekosongan spiritual dari kemakmuran pasca-perang. Kontrakultur tahun 1960-an, di mana John Lennon dan Beatles adalah tokoh-tokoh sentral, adalah ekspresi populer dari arus intelektual yang lebih dalam ini.
 
4.2 — John Lennon dan “Imagine”: Sebuah Sintesis Budaya

John Lennon lahir di Liverpool pada tahun 1940, setahun setelah pecahnya Perang Dunia Kedua, dan tumbuh di sebuah Inggris yang dilukai oleh pengeboman, ransum, dan akibat psikis yang panjang dari sebuah konflik yang telah mengguncang setiap kepastian. Ia dewasa pada tahun 1950-an di sebuah negara yang secara bersamaan membangun kembali dirinya dan kehilangan imperiumnya — sebuah negara yang kepercayaannya pada institusi-institusinya, termasuk gereja-gerejanya, telah diam-diam tergerus oleh apa yang telah diungkap perang tentang batas-batas peradaban.

The Beatles, ketika naik ke panggung ketenaran global di awal tahun 1960-an, bukanlah band yang secara eksplisit politis atau filosofis — namun mereka sangat peka terhadap atmosfer budaya. Pernyataan Lennon yang amat dikenal pada tahun 1966, dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Maureen Cleave, bahwa Beatles “lebih ternama daripada Yesus,” menyebabkan kegemparan internasional — terutama di Amerika Selatan, dimana piringan hitam dibakar secara publik dan stasiun-stasiun radio melarang musik mereka. Namun pernyataan itu, tanpa bingkai provokatifnya, adalah sebuah pengamatan tentang merosotnya otoritas agama institusional dalam kehidupan Barat modern, terutama di kalangan kaum muda.

Pada saat Lennon merekam “Imagine” pada tahun 1971, ia telah melewati ketertarikan kontrakultur terhadap spiritualitas Timur (belajarnya dengan Maharishi Mahesh Yogi di India pada tahun 1968), radikalisme politik akhir tahun 1960-an, dan pembubaran The Beatles. Lagu itu adalah, sebagaimana diakuinya sendiri, pada dasarnya versi Manifesto Komunis yang dilapisi gula — sebuah visi utopis tentang dunia tanpa tiga sumber utama perpecahan manusia sebagaimana dipahaminya: bangsa-bangsa, hak milik pribadi, dan agama.

Bait “and no religion too” sering disalahbaca sebagai ateisme sederhana. Ia lebih tepat dipahami sebagai anti-institusionalisme. Lennon bukan seorang ateis yang konsisten; di bawah pengaruh Yoko Ono, ia tetap tertarik pada bentuk-bentuk spiritualitas Timur yang menolak definisi doktrinal. Yang ia lawan adalah agama terorganisir sebagai mesin perpecahan — untuk memilah-milah umat manusia ke dalam identitas-identitas pengakuan yang bersaing, yang siap berperang dan mati demi versi mereka masing-masing tentang yang sakral. Dalam hal ini, ia adalah pewaris sebuah tradisi yang mengalir dari Voltaire melalui Marx, melalui para eksistensialis, melalui pelajaran-pelajaran traumatis Holocaust.
 
4.3 — Tradisi Artistik yang Lebih Luas

Lennon, tentu saja, hanyalah seorang figur dalam sebuah tradisi artistik yang sangat luas tentang skeptisisme keagamaan dan anti-klerikalisme. Dalam sastra, silsilahnya mengalir melalui Shelley — yang dikeluarkan dari Oxford karena menulis pamflet tentang keniscayaan ateisme — melalui Thomas Hardy, yang novel-novelnya dijenuhi oleh rasa ketidakacuhan kosmis, melalui D.H. Lawrence, yang berusaha menggantikan Tuhan Kristen dengan energi-energi vital alam dan seksualitas, melalui James Joyce, yang A Portrait of the Artist as a Young Man adalah sebuah pergumulan berkelanjutan dengan kerusakan psikologis yang ditimbulkan oleh pendidikan Katolik.

Di Prancis, tradisi anti-klerikalisme terjalin ke dalam kain budaya politik republik itu sendiri. Pemisahan Gereja dan Negara di Prancis (laïcité), yang diformalkan dalam undang-undang tahun 1905, bukan sekadar pengaturan politik tetapi ekspresi dari sebuah keyakinan budaya yang mendalam bahwa agama institusional tidak sesuai dengan kebebasan manusia dan tata pemerintahan yang rasional. Tradisi ini melahirkan penulis-penulis seperti Anatole France, yang fiksi-fiksi ironisnya mengempiskan pretensi keagamaan dengan kecerdasan yang tak henti-hentinya, dan kemudian Albert Camus, yang novel-novelnya mengeksplorasi kondisi manusia tanpa menggunakan penghiburan ilahi.

Dalam musik, tradisi menantang otoritas agama membentang dari tradisi-tradisi folk lagu protes melalui blues (dengan akarnya dalam pengalaman Amerika Hitam tentang penderitaan yang terlalu mentah untuk dapat dimuat dalam kesalehan Kekristenan resmi) hingga revolusi rock and roll tahun 1950-an dan para penggantinya. Pertunjukan rock and roll itu sendiri adalah, bagi banyak umat Kristen konservatif, sebuah tindakan pelanggaran keagamaan — sebuah serangan badaniah, seksual, dan Dionysian terhadap pengekangan Apollonian yang lama dituntut Protestanisme dari para penganutnya.

Bagian V: Warisan dan Percakapan yang Terus Berlanjut

5.1 — Ateisme Baru dan Ketidakpuasannya

Tradisi yang dikaji dalam artikel ini menemukan ekspresi baru yang sangat lantang di awal abad kedua puluh satu, dalam gerakan yang kemudian dikenal sebagai Ateisme Baru. Richard Dawkins, Christopher Hitchens, Sam Harris, dan Daniel Dennett — yang disebut keempat penunggang kuda — membawa kritik sekuler terhadap agama kepada khalayak massa melalui serangkaian buku laris yang memadukan argumentasi ilmiah dengan semangat polemik yang mengingatkan pada para filsuf Pencerahan.

God Is Not Great: How Religion Poisons Everything (2007) karya Hitchens adalah yang paling berpikiran historis di antara karya-karya ini, menggali rentang penuh kekejaman agama dari Perang Salib hingga kekerasan agama modern di Timur Tengah untuk berargumen bahwa iman, sebagai such, bukanlah fenomena yang jinak atau netral melainkan penyebab aktif penderitaan manusia. The God Delusion (2006) karya Dawkins mendekati pertanyaan itu dari biologi evolusi, berargumen bahwa kepercayaan pada Tuhan adalah sebuah ilusi yang dapat dijelaskan melalui mekanisme seleksi alam, dan bahwa sudah waktunya dunia bertumbuh keluar darinya.

Karya-karya ini memancing respons keras dari para pemikir keagamaan, filsuf agama, dan bahkan dari kaum intelektual sekuler yang menemukan Ateisme Baru secara filosofis kasar dan secara budaya tidak peka terhadap nuansa. Pengkritik seperti Terry Eagleton berargumen bahwa Dawkins dan Hitchens pada dasarnya salah memahami apa agama itu dan apa yang dilakukannya — bahwa mereka menyerang karikatur dari kepercayaan alih-alih bentuk-bentuknya yang paling canggih. Perdebatan itu terus berlanjut, dan menunjukkan tidak ada tanda-tanda untuk mencapai resolusi.
 
5.2 — Pertanyaan tentang yang Lain dari Non-Barat

Sepanjang artikel ini, fokus telah tetap kuat pada konteks Barat, terutama Kristen. Ini dibenarkan secara historis — tradisi kritik sekuler yang dikaji di sini adalah tradisi Barat yang diarahkan pada agama Barat. Namun penting, sebagai penutup, untuk mencatat keterbatasan perspektif ini.

Asumsi, yang umum di antara kaum sekuler Barat tertentu, bahwa kritik terhadap Kekristenan institusional dapat diperluas tanpa modifikasi ke semua tradisi keagamaan, adalah sesuatu yang secara intelektual malas dan secara budaya imperialis. Tradisi-tradisi keagamaan lain memiliki gerakan-gerakan kritis dan reformis internal mereka sendiri, pergumulan mereka sendiri dengan hubungan antara otoritas spiritual dan kekuasaan politik, teodisi mereka sendiri. Tradisi Islam dalam mengkritik ulama yang korup, reformisme Hindu dari Rammohan Roy dan Swami Vivekananda, gerakan-gerakan Buddhis untuk keterlibatan sosial yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh seperti Thich Nhat Hanh — semuanya merepresentasikan percakapan-percakapan internal yang canggih yang tak terpetakan dengan rapi ke dalam narasi Barat tentang agama versus akal budi.

Lebih lanjut, idealisasi romantis terhadap spiritualitas Timur oleh kaum intelektual dan seniman Barat — dari ketertarikan Schopenhauer pada Upanishad hingga kunjungan Lennon ke India — adalah bentuk Orientalisme itu sendiri: sebuah proyeksi ke atas Lain yang eksotis tentang kualitas-kualitas yang tidak dapat ditemukan tradisi Barat di rumah. Agama-agama Timur, dilihat dari jarak yang cukup jauh, tampak menawarkan kebijaksanaan tanpa institusi, spiritualitas tanpa dogma, transendensi tanpa rasa bersalah. Penampakan-penampakan ini, tak perlu dikatakan, sebagian besar adalah ilusi.
 
5.3 — Di Mana Kita Berdiri

Abad kedua puluh satu belum menyelesaikan ketegangan-ketegangan yang dipetakan dalam artikel ini. Masyarakat-masyarakat Barat telah, dalam berbagai derajat, menjadi lebih sekuler — kehadiran di gereja telah menurun secara drastis di seluruh Eropa Utara dan Barat, dan proporsi orang yang mengidentifikasikan diri sebagai tidak berafiliasi secara agama telah tumbuh secara substansial di Inggris, Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Namun, kepercayaan keagamaan tak menghilang. Ia telah terdiversifikasi, terfragmentasi, dan di banyak bagian dunia — terutama di Belahan Selatan Global — tumbuh dengan kuat.

Tradisi intelektual skeptisisme dan anti-klerikalisme belum menang; ia telah, lebih tepatnya, berkontribusi pada sebuah lanskap budaya tentang pluralitas dan ketidakpastian di mana tidak ada satu pun kisah tentang yang sakral — atau tentang ketidakhadirannya — yang mendapat persetujuan universal. Pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan oleh Voltaire, oleh Marx, oleh Nietzsche, oleh Freud, oleh Holocaust, oleh Lennon, dan oleh semua yang lain yang dikaji dalam artikel ini tetap terbuka. Pertanyaan-pertanyaan itu, mungkin, secara konstitutif terbuka: pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kondisi manusia, yang jawabannya tidak jelas apakah mungkin ada atau, barangkali, diinginkan.

Yang jelas adalah bahwa tradisi skeptis yang dikaji di sini tidak lahir dari kecerobohan atau mode sesaat. Ia lahir dari sebuah perjumpaan yang tulus dan kerap menyiksa dengan kesenjangan antara apa yang diproklamirkan agama dan apa yang dilakukannya — antara Tuhan kasih yang dikhotbahkan dari mimbar dan para inquisitor, ghetto-ghetto, keheningan di atas Auschwitz, perang-perang yang dilancarkan atas nama-Nya. Memperlakukan tradisi itu dengan serius bukanlah berarti harus menyetujuinya secara keseluruhan; tetapi adalah memahami bahwa pertanyaan yang diajukannya adalah salah satu pertanyaan paling serius yang dapat diajukan oleh manusia.

Daftar Pustaka Pilihan

Karya-karya berikut telah memberi informasi pada argumen-argumen dan klaim-klaim historis dalam artikel ini. Pembaca yang ingin mendalami tema-tema ini lebih lanjut diarahkan kepada teks-teks berikut ini sebagai titik tolak utama.

Tentang Pencerahan dan Asal-Usul Pemikiran Sekuler
Gay, Peter. The Enlightenment: An Interpretation. 2 jilid. New York: Alfred A. Knopf, 1966–1969.

Hume, David. Dialogues Concerning Natural Religion. London: 1779 (anumerta). [Ed. modern: Oxford: Oxford University Press, 1993.]

Israel, Jonathan. Radical Enlightenment: Philosophy and the Making of Modernity, 1650–1750. Oxford: Oxford University Press, 2001.

Voltaire. Philosophical Dictionary. Geneva: 1764. [Ed. modern: London: Penguin Books, 1972.]
Tentang Marx, Nietzsche, dan Freud
Freud, Sigmund. The Future of an Illusion. Leipzig: Internationaler Psychoanalytischer Verlag, 1927. [Ed. modern: New York: W.W. Norton, 1989.]

Marx, Karl. A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right: Introduction. Deutsch-Französische Jahrbücher, 1844.

Nietzsche, Friedrich. On the Genealogy of Morality. Leipzig: C.G. Naumann, 1887. [Ed. modern: Cambridge: Cambridge University Press, 1994.]

Nietzsche, Friedrich. The Antichrist. Leipzig: C.G. Naumann, 1895. [Ed. modern: Cambridge: Cambridge University Press, 2005.]
Tentang Antisemitisme Kristen dan Sejarahnya
Carroll, James. Constantine’s Sword: The Church and the Jews — A History. Boston: Houghton Mifflin, 2001.

Flannery, Edward H. The Anguish of the Jews: Twenty-Three Centuries of Antisemitism. New York: Macmillan, 1965. [Ed. rev.: New York: Paulist Press, 1985.]

Ruether, Rosemary Radford. Faith and Fratricide: The Theological Roots of Anti-Semitism. New York: Seabury Press, 1974.
Tentang Holocaust dan Akibat Teologisnya
Fackenheim, Emil L. God’s Presence in History: Jewish Affirmations and Philosophical Reflections. New York: New York University Press, 1970.

Hilberg, Raul. The Destruction of the European Jews. 3 jilid. Chicago: Quadrangle Books, 1961. [Ed. rev.: New Haven: Yale University Press, 1985.]

Phayer, Michael. The Catholic Church and the Holocaust, 1930–1965. Bloomington: Indiana University Press, 2000.

Rubenstein, Richard L. After Auschwitz: Radical Theology and Contemporary Judaism. Indianapolis: Bobbs-Merrill, 1966.

Wiesel, Elie. Night. Paris: Les Éditions de Minuit, 1958. [Ed. Bahasa Inggris: New York: Hill and Wang, 1960.]
Tentang Eksistensialisme dan Pemikiran Pasca-Perang
Camus, Albert. The Myth of Sisyphus. Paris: Gallimard, 1942. [Ed. Bahasa Inggris: London: Hamish Hamilton, 1955.]

Camus, Albert. The Rebel. Paris: Gallimard, 1951. [Ed. Bahasa Inggris: London: Hamish Hamilton, 1953.]

Sartre, Jean-Paul. Existentialism Is a Humanism. Paris: Nagel, 1946. [Ed. Bahasa Inggris: New Haven: Yale University Press, 2007.]
Tentang Agama, Sekularisme, dan Seni
Armstrong, Karen. A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam. New York: Alfred A. Knopf, 1993.

Dawkins, Richard. The God Delusion. London: Bantam Press, 2006.

Eagleton, Terry. Reason, Faith, and Revolution: Reflections on the God Debate. New Haven: Yale University Press, 2009.

Hitchens, Christopher. God Is Not Great: How Religion Poisons Everything. New York: Twelve Books, 2007.

Taylor, Charles. A Secular Age. Cambridge, MA: Harvard University Press, 2007.
Tentang John Lennon dan Konteks Budaya
Coleman, Ray. Lennon. New York: McGraw-Hill, 1984.

Norman, Philip. John Lennon: The Life. London: HarperCollins, 2008.

Turner, Steve. The Gospel According to the Beatles. Louisville: Westminster John Knox Press, 2006.

Mawar Padang Pasir: Saat Ada yang Tumbang, dan Lainnya, Semoga Tetap Kukuh

Pada tahun 1950-an, Clifford Odets adalah salah seorang dramawan paling dihormati di Amerika Serikat. Pada dekade sebelumnya, naskah-naskahnya—Waiting for Lefty (1935) dan Awake and Sing! (1935)—menjadi suara paling lantang bagi kaum buruh dan kaum tertindas di panggung Broadway. Ia pejuang sejati, seorang seniman yang percaya bahwa teater itu, senjata melawan ketidakadilan.

Kemudian datanglah Hollywood, dengan kontrak-kontrak yang menggiurkan dan gaji yang tak pernah terbayangkan oleh seorang anak imigran Yahudi dari Philadelphia seperti dirinya.

Odets berangkat ke Hollywood. Ia menulis skenario-skenario yang tak ia percayai. Ia hidup dalam kemewahan yang dulu ia kutuk dalam naskah-naskahnya sendiri. Dan ketika Komite Aktivitas Anti-Amerika (House Un-American Activities Committee, HUAC) memanggilnya pada tahun 1952—menuduhnya sebagai komunis karena karya-karya mudanya yang berapi-api—Odets melakukan sesuatu yang tak pernah dimaafkan oleh banyak sahabatnya: ia menyebut nama-nama rekan-rekannya sebagai anggota Partai Komunis, demi melindungi kariernya di Hollywood.

Ia selamat dari HUAC. Kariernya berlanjut. Namun, ada sesuatu di dalam dirinya yang telah mati.

Teman lamanya, sutradara Elia Kazan—yang juga bersaksi dan juga menyebut nama-nama orang lain—mengenang Odets di kemudian hari dengan kata-kata yang membagongkan dalam kejernihannya:

"Cliff tak pernah pulih. Ia tahu persis apa yang telah ia lakukan, dan ia tak pernah bisa memaafkan dirinya sendiri."

Odets menghabiskan sisa hidupnya dalam keadaan, yang oleh para sahabatnya digambarkan sebagai penyesalan yang tak berujung. Ia terus menulis, namun tiada yang menyamai api dari karya-karya mudanya. Ia meninggal pada tahun 1963, dalam usia lima puluh tujuh tahun, di tengah-tengah mengerjakan sebuah naskah otobiografis yang, menurut beberapa orang, adalah upayanya memohon maaf kepada dirinya sendiri—sebuah naskah yang tak pernah ia selesaikan.

Yang membuat kisah Odets begitu filosofis mengena bukan semata-mata pengkhianatannya, melainkan kenyataan bahwa ia tahu. Ia tak membodohi dirinya sendiri. Ia memilih iming-iming finansial dan keamanan karier dengan mata terbuka penuh—dan justru karena itulah, dalam terma Sartre, ia tak pernah dapat melepaskan diri dari kebebasannya sendiri, dari tanggungjawab atas pilihan yang telah ia buat. Ia tumbang bukan karena ditumbangkan, bukan karena malheur dalam pengertian Weil—melainkan karena ia memilih untuk tumbang, dan harus hidup bersama ingatan itu setiap hari hingga akhir hayatnya. 
YANG TUMBANG DALAM PERJUANGAN
Apa yang Terjadi pada Mereka yang Roboh di Tengah Perjuangan
Perjuangan itu sendiri menuju puncak sudah cukup untuk memenuhi hati seorang manusia.
— Albert Camus, The Myth of Sisyphus (1942)
Ketika Seseorang Tersungkur di Tengah Jalan

Cobalah ingat kembali perjuangan apa pun yang pernah kita saksikan atau ikuti — entah itu perjuangan melawan ketidakadilan, pertarungan melawan penyakit, atau kampanye panjang demi sesuatu yang kita yakini. Sekarang ingatlah orang-orang yang turut serta dalam perjuangan itu, namun tak sampai di ujung perjalanan. Sebagian dihentikan oleh kekuatan dari luar: dikurung, dibungkam, diusir. Sebagian lagi ambruk dari dalam, digerus perlahan-lahan hingga tak mampu melangkah lebih jauh.

Apa yang kita pikirkan tentang orang-orang itu? Gagalkah mereka? Apakah kejatuhan mereka berarti perjuangan itu sia-sia? Esai ini berpendapat bahwa jawabannya adalah tidak — dan bahwa, justru, orang-orang yang tumbang di tengah perjuangan kerap mengungkapkan lebih banyak tentang hakikat sejati perjuangan itu ketimbang mereka yang selamat sampai akhir.

Untuk menelusuri ini, kita akan melihat gagasan-gagasan dari beberapa pemikir besar dunia — namun kita akan mendekatinya melalui kisah nyata dan perumpamaan sehari-hari, karena gagasan terbaik tak terkurung di balik dinding gedung perguruan tinggi. Gagasan itu milik semua orang.

I. Tumbang Bukan Berarti Kalah
Lelaki yang Mendorong Batu

Ada sebuah mitos Yunani kuno tentang seorang lelaki bernama Sisyphus. Sebagai hukuman dari para dewa, ia dikutuk menggelindingkan batu besar ke atas bukit yang curam — dan setiap kali hampir sampai di puncak, batu itu menggelinding kembali ke bawah. Ia harus memulai dari awal lagi. Selamanya.

Kebanyakan orang langsung berpikir: betapa mengerikannya hukuman itu. Namun, seorang filsuf Prancis bernama Albert Camus berpendapat lain. Ia bertanya: bagaimana jika Sisyphus sebenarnya bahagia? Bukan bahagia karena berhasil — ia tak pernah berhasil — melainkan bahagia karena tindakan mendorong itu sendiri, tindakan menolak untuk menyerah, yang memberikan hidupnya terpenuhi dan bermakna.
Perjuangan itu sendiri menuju puncak sudah cukup untuk memenuhi hati seorang manusia.
— Albert Camus, The Myth of Sisyphus (1942)
Pikirkan ini dalam kehidupan nyata. Bayangkan seorang perawat yang menghabiskan tiga puluh tahun berjuang untuk kondisi kerja yang lebih baik di rumah sakit yang kekurangan staf, lalu pensiun tanpa pernah melihat perubahan yang ia harapkan. Sia-siakah perjuangannya? Hampir semua orang akan bilang tidak. Perjuangan itu sendiri — penolakan harian untuk menerima bahwa keadaan tak bisa lebih baik — bernilai tersendiri, terlepas dari hasilnya.

Inilah hal pertama yang perlu dipahami: mereka yang tumbang di tengah perjuangan bukan orang-orang yang gagal hanya karena tak sampai di garis akhir. Perlombaan itu sendirilah intinya.

II. Dua Jenis Kejatuhan yang Sangat Berbeda
Dijatuhkan dari Luar, atau Runtuh dari Dalam

Tak semua kejatuhan itu sama. Ada perbedaan penting antara mereka yang dijatuhkan oleh sesuatu di luar diri mereka, dan mereka yang runtuh dari dalam.

Mereka yang dijatuhkan dari luar biasanya paling mudah dipahami dan, pada akhirnya, paling mudah dihormati. Giordano Bruno, seorang pemikir Italia di abad keenam belas, dibakar hidup-hidup karena mengajarkan bahwa Bumi mengelilingi Matahari. Dalam satu generasi, ia terbukti benar. Orang-orang yang menghancurkannya tak mampu menghancurkan kebenaran yang ia bawa. Pola ini berulang sepanjang sejarah: mereka yang berkuasa dan menyerang seseorang untuk membungkamnya justru kerap membuat orang itu semakin kuat dalam jangka panjang.

Jenis kedua dari kejatuhan — dari dalam — lebih sulit dibicarakan. Hal yang terjadi ketika seseorang yang berjuang demi sesuatu yang ia yakini mulai retak di bawah tekanan. Ini bukan kelemahan dalam arti yang sederhana. Ini apa yang terjadi ketika seorang manusia telah memikul terlalu banyak, terlalu lama, tanpa dukungan yang memadai.

Filsuf Friedrich Nietzsche menghabiskan hidupnya menulis tentang pentingnya melampaui batas diri sendiri. Namun, pada tahun 1889, di usia empat puluh empat tahun, ia mengalami kerusakan mental total yang darinya ia tak pernah pulih. 
Manusia harus dilampaui. Yang agung dalam diri manusia itu, bahwa ia adalah jembatan dan bukan tujuan.
— Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra (1883)
Ada sesuatu yang jujur secara menyakitkan dalam kisah ini. Orang yang mengajarkan dunia tentang kekuatan batin justru dihancurkan oleh intensitas kehidupan batinnya sendiri. Ini tak membuat gagasan-gagasannya salah. Ini membuatnya manusiawi — dan mengingatkan kita bahwa bahkan pejuang yang paling gigih pun, memiliki titik patah.

III. Ketika Terlalu Peduli Menjadi Harganya
Perempuan yang Menolak Makan Lebih dari Jatahnya

Pada masa Perang Dunia Kedua, seorang filsuf dan aktivis Prancis bernama Simone Weil hidup dalam pengasingan di Inggris. Ia menderita sakit parah akibat tuberkulosis. Dokter menyuruhnya makan lebih banyak agar bisa bertahan hidup. Ia menolak.

Alasannya sederhana sekaligus mengoyak hati: rakyat Prancis yang berada di bawah pendudukan Jerman bertahan hidup dengan ransum yang sangat minim. Weil memutuskan bahwa ia tak mau makan lebih dari yang mereka diperbolehkan. Ia takkan memberikan tubuhnya nilai yang lebih tinggi dari tubuh mereka. Ia meninggal pada Agustus 1943, di usia tiga puluh empat tahun.

Weil menulis tentang penderitaan ekstrem — jenis rasa sakit yang tak hanya menyakiti tubuh tetapi meleburkan rasa jati diri seseorang. Ia percaya bahwa orang-orang yang menanggung penderitaan semacam ini tak perlu dikasihani. Mereka justru, menurutnya, lebih dekat kepada kebenaran tentang apa artinya menjadi manusia.
Kesengsaraan membuat Tuhan tampak absen untuk sementara waktu, lebih absen dari orang mati, lebih absen dari cahaya dalam kegelapan total sebuah sel.
— Simone Weil, Waiting for God (1951)
Kisah Weil tidak mudah dicerna. Namun ia memaksa kita bertanya: apa makna saat benar-benar berdiri dalam solidaritas dengan orang lain? Dan harga seperti apa yang sesungguhnya kita rela bayar untuk hal-hal yang kita katakan kita percayai?

IV. Apa yang Kita Utangkan kepada Yang Tumbang
Wajah yang Terus Menatapmu

Ada sesuatu yang hampir semua dari kita pernah rasakan: wajah seseorang yang telah hilang dari kita—seorang teman, seorang rekan, seseorang yang berjuang bersama kita—tak begitu saja lenyap dari benak kita ketika mereka pergi. Ia tinggal. Ia menatap kita. Ia menanyakan sesuatu kepada kita.

Filsuf Emmanuel Levinas membangun banyak pemikirannya di atas pengalaman ini. Ia berargumen bahwa ketika kita benar-benar menatap orang lain — bukan sebagai fungsi atau peran, melainkan sebagai wajah manusia yang nyata — kita merasakan, mau atau tidak mau, bahwa kita bertanggung jawab atas orang itu.
Wajah membuka wacana yang paling awal, yang kata pertamanya adalah kewajiban.
— Emmanuel Levinas, Totality and Infinity (1969)
Disaat orang-orang yang berjuang bersama kita tumbang, wajah mereka tak berhenti menyapa kita. Kenangan adalah cara orang yang telah pergi untuk terus berbicara kepada yang masih hidup. Dan apa yang mereka katakan, jika kita cukup jujur untuk mendengarnya, kira-kira seperti ini: 'Aku pernah ada di sini. Aku memberikan apa yang aku punya. Jangan sia-siakan.'

Ini bukan sekadar seruan untuk menang atas nama mereka. Cara pandang itu berisiko mengubah kenangan orang-orang nyata menjadi alat bagi tujuan kita sendiri. Yang sesungguhnya dituntut dari kita lebih berat: bahwa kita mengingat mereka sebagaimana adanya — rumit, berharga mahal, tak tergantikan.

V. Sejarah Tak Selalu Memberi Hadiah kepada Para Pahlawannya
Dramawan yang Menyebut Nama-Nama

Seperti yang telah disebutkan pada anekdot di awal, pada tahun 1950-an, Clifford Odets adalah salah satu dramawan paling dikagumi di Amerika. Naskah-naskahnya telah memberikan suara yang kuat bagi rakyat pekerja dan kaum miskin. Ia percaya bahwa seni harus berpihak pada keadilan.

Kemudian Hollywood datang, dengan kontrak besar dan gaji menggiurkan. Odets mengambil uang itu. Ia mulai menulis film-film yang tidak ia percayai. Dan ketika komite pemerintah menuntutnya mengidentifikasi rekan-rekan sebagai anggota Partai Komunis pada tahun 1952, Odets menyebut nama-nama mereka — demi melindungi kariernya.

Ia selamat. Kariernya berlanjut. Namun, sesuatu dalam dirinya tak selamat. Teman-temannya menggambarkan seseorang yang tak pernah pulih dari apa yang telah ia lakukan — yang tahu persis apa yang telah ia pertukarkan, dan tak dapat memaafkan dirinya sendiri. Ia meninggal tahun 1963, di tengah penulisan naskah otobiografis yang diyakini banyak orang sebagai upayanya berdamai dengan dirinya sendiri. Ia tidak pernah menyelesaikannya.

Odets tumbang bukan karena ditumbangkan, bukan karena hancur oleh komitmennya. Ia tumbang karena memilih — karena tarikan uang dan keamanan terasa lebih kuat dari tarikan prinsip-prinsipnya. Dan kekejaman dalam kisahnya adalah bahwa ia tahu. Ia menghabiskan sisa hidupnya tanpa mampu melepaskan diri dari ingatan itu.

VI. Apa yang Sesungguhnya Disampaikan oleh Yang Tumbang:
Empat Hal yang Layak Dipahami

Ada empat hal yang disampaikan oleh mereka yang tumbang di tengah perjuangan — jika kita bersedia mendengarkan.

Pertama: perjuangan itu nyata. Sebuah pertempuran dimana tiada yang pernah terluka, tak ada yang pernah patah, tidak ada yang pernah membayar harga, sejatinya bukanlah pertempuran sama sekali. Itulah pertunjukan. Fakta bahwa orang-orang tumbang merupakan bukti paling jelas bahwa yang diperjuangkan benar-benar berarti.

Kedua: manusia memiliki batas. Kita hidup dalam budaya yang merayakan mereka yang mampu terus melangkah menembus segala rintangan. Namun, menembus rintangan tak selalu mungkin dilakukan. Mereka yang tumbang bukan orang-orang yang gagal secara moral — merekalah pengingat bahwa kita semua, pada akhirnya, rentan.

Ketiga: kita berhutang kepada yang tumbang lebih dari sekadar rasa terima kasih. Kita berhutang kenangan yang jujur — untuk tidak mengubah kisah-kisah mereka menjadi pelajaran yang terlalu sederhana atau simbol yang terlalu mudah. Seseorang yang telah memberikan segalanya berhak dikenang sebagai manusia seutuhnya.

Keempat: makna sebuah perjuangan tak dapat diukur hanya dari hasilnya. Filsuf Alasdair MacIntyre berargumen bahwa untuk memahami apakah sebuah kehidupan telah dijalani dengan baik, kamu harus memahami kisah yang menjadi bagiannya.
Seorang manusia hanya dapat menjawab pertanyaan 'Apa yang harus aku lakukan?' jika ia dapat menjawab pertanyaan sebelumnya: 'Bagian dari kisah apakah aku ini?'
— Alasdair MacIntyre, After Virtue (1981)
Bagi mereka yang tumbang dalam perjuangan, kisah yang relevan bukanlah apakah pihak mereka menang. Melainkan setiakah mereka pada apa yang mereka yakini. Diukur dengan standar itu, tumbang bukan sebuah akhir. Ia adalah sebuah bab — terkadang bab yang paling kuat — dalam sebuah kehidupan yang sungguh-sungguh bermakna.

Sebuah Gambaran Terakhir: Mawar Padang Pasir
Keindahan yang Tumbuh di Tempat yang Tak Seharusnya

Tembang Desert Rose karya Sting berbicara tentang kerinduan terhadap sesuatu yang indah namun ada tepat di luar jangkauan — mawar yang mekar di padang pasir, hidup dalam mimpi, lenyap ketika pagi tiba. Mereka yang tumbang dalam perjuangan diibaratkan mawar tersebut. Mereka tumbuh di lahan yang sangat keras. Mereka mekar sebentar dan pergi sebelum musim panen tiba. Namun mereka meninggalkan sesuatu yang tak dapat dihapus: bukti bahwa keberanian dan komitmen dapat berakar bahkan di tempat yang tampaknya paling menentang mereka.

Tembang itu dibawakan dalam dua bahasa — Inggris dan Arab — dua bahana yang saling melingkupi tanpa satu pun menenggelamkan yang lain. Inilah kondisi dari setiap perjuangan sejati: selalu ada dua suara. Suara mereka yang masih berdiri, dan suara mereka yang telah tumbang. Keduanya perlu didengar. Membungkam salah satunya berarti mendengar sesuatu yang kurang dari kebenaran.

Sang pemimpi dalam lagu tersebut, tahu bahwa mawar itu mungkin hanya ada dalam mimpi — namun ia tetap merindukannya. Inilah, pada akhirnya, apa artinya terus berjuang meski telah menyaksikan orang lain tumbang: bukan karena kemenangan sudah pasti, melainkan karena kerinduan itu sendiri — akan keadilan, akan kebenaran, akan dunia yang lebih baik — adalah hal paling manusiawi yang ada. Mereka yang tumbang membawa kerinduan itu. Kini ia milik kita.
Penutup
Martabat yang Tak Usai

Setiap perjuangan meninggalkan orang-orang di belakang. Ia bukan kecelakaan. Ia harga yang harus dibayar oleh sebuah perjuangan.

Mereka yang dijatuhkan oleh kekuatan yang mereka lawan, tak dikalahkan oleh kekalahan mereka. Kejatuhan mereka adalah kesaksian tentang betapa nyatanya pertempuran itu, dan betapa besarnya ancaman yang mereka hadirkan bagi mereka yang menentangnya.

Mereka yang tergerus dari dalam — yang patah di bawah beban yang mereka pikul — tidaklah lemah. Merekalah manusia. Mereka melangkah sejauh yang bisa dilakukan oleh seorang manusia. Itu bukan bararti tidak ada maknanya. Itu, dalam banyak hal, adalah segalanya.

Dan mereka yang tumbang karena memilih jalan yang lebih mudah menanggung beban yang berbeda — pengingat bahwa pertempuran yang paling berat terkadang bukan melawan musuh di luar, melainkan melawan suara di dalam yang berkata bahwa harganya terlalu tinggi.

Dalam setiap kasus, yang dituntut dari kita adalah ini: jangan palingkan pandangan dari mereka yang tumbang. Ingatlah mereka sebagaimana adanya — rumit, berharga mahal, tak tergantikan. Dan pikullah apa yang mereka pikul, sebaik yang kita mampu, selama kita masih sanggup.

Karena berjuang berarti menerima kemungkinan tumbang. Dan menghormati yang tumbang adalah membuktikan bahwa perjuangan itu memang berharga.

Teruntuk Mereka yang Masih Berdiri Kokoh

Ketika jalan terasa panjang dan malam kian kelam, Dan janji-janji yang terucap mulai terasa buram, Ketika yang berjalan bersamamu satu per satu tumbang, Dan engkau memikul nama-nama mereka di bawah langit yang garang —

Janganlah engkau kira sepi itu kekalahan, Janganlah engkau tafsirkan lelah itu bagai pertanda ditaklukkan; Ada api yang memerlukan waktu lama untuk menyala penuh, ada perjuangan yang maknanya baru tampak setelah tubuh luruh.

Mawar yang mekar di tengah padang pasir yang gersang tak tumbuh di sana karena lahan yang ramah dan lapang — ia menerobos batu, kekeringan, dan kegelapan yang pekat, sebuah percik kecil yang keras kepala, yang tak mau terbekat.

Engkaulah mawar itu. Dikaulah api yang tak padam. Tak setiap pejuang sampai di puncak sebelum senja tenggelam. Namun, setiap langkah yang ditapak dengan teguh dan lurus menjadi batu pijakan bagi mereka yang datang setelah kita tulus.

Yang tumbang tak tumbang dengan sia-sia — Akar mereka menghunjam dalam di bawah tanah yang biasa, Dan apa yang mereka tanam, kini engkaulah yang merawat, apa yang mereka mulai, tak harus dikau akhiri dengan cepat —

Cukup pikul ia, cukup jaga keyakinan yang mereka genggam di malam yang nestapa, dan ketahuilah bahwa mereka yang datang kemudian akan menemukan jejakmu, dan dari situlah menemukan jalan.

Maka tetaplah kokoh. Bukan karena ujung sudah dekat, bukan karena langit telah memilih untuk terang dan merekah, tetapi karena berdiri itu sendiri adalah nyanyian — bukti bahwa apa yang engkau perjuangkan bukan sekadar angan-angan.

Daftar Rujukan

Gagasan-gagasan dalam esai ini dikutip dari karya-karya berikut.
Camus, Albert. The Myth of Sisyphus. Diterjemahkan oleh Justin O'Brien. London: Hamish Hamilton, 1955.

Hegel, Georg Wilhelm Friedrich. Lectures on the Philosophy of History. Diterjemahkan oleh J. Sibree. New York: Colonial Press, 1900.

Hegel, Georg Wilhelm Friedrich. The Phenomenology of Spirit. Diterjemahkan oleh A.V. Miller. Oxford: Oxford University Press, 1977.

Levinas, Emmanuel. Totality and Infinity: An Essay on Exteriority. Diterjemahkan oleh Alphonso Lingis. Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969.

MacIntyre, Alasdair. After Virtue: A Study in Moral Theory. London: Duckworth, 1981.

Nietzsche, Friedrich. Thus Spoke Zarathustra. Diterjemahkan oleh R.J. Hollingdale. London: Penguin Books, 1969.

Okri, Ben. Birds of Heaven. London: Phoenix House, 1996.

Sartre, Jean-Paul. Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology. Diterjemahkan oleh Hazel E. Barnes. New York: Philosophical Library, 1956.

Weil, Simone. Waiting for God. Diterjemahkan oleh Emma Craufurd. New York: G.P. Putnam's Sons, 1951.

Weil, Simone. The Need for Roots. Diterjemahkan oleh Arthur Wills. London: Routledge, 1952.