Hari milad bukan sekadar penanda bertambahnya usia. Ia adalah ruang hening di tengah kesibukan, tempat seseorang menoleh ke belakang untuk menghitung perjalanan yang telah ditempuh, sekaligus menatap ke depan dengan kearifan yang kian matang. Bagi orang biasa, momen ini lazimnya dirayakan bersama keluarga dan sahabat. Bagi seorang pemimpin bangsa, hari milad bermakna lebih luas, sebab usia yang bertambah itu ikut membawa serta harapan jutaan orang yang menitipkan masa depannya. Pada hari yang berbahagia ini, perkenankan kami menyampaikan ucapan selamat dan doa terbaik kepada Presiden Republik Indonesia ke-8, Bapak Prabowo Subianto, yang genap berusia 75 tahun pada 17 Oktober ini.Perjalanan hidup seorang pemimpin tak pernah mudah. Ia dipenuhi tantangan, ujian, pengorbanan, dan tanggung jawab besar yang menuntut keberanian serta keteguhan hati. Tiada kursi kepemimpinan yang empuk sepenuhnya; di baliknya selalu ada malam-malam panjang untuk menimbang keputusan, ada kritik yang harus didengar dengan lapang dada, dan ada keputusan sulit yang harus diambil ketika tak semua pihak dapat dipuaskan. Dalam setiap fase kehidupan bangsa, selalu hadir sosok yang dipercaya untuk memikul amanah rakyat dan mengarahkan langkah negara menuju masa depan yang lebih baik. Kepercayaan itu adalah kehormatan, tetapi sekaligus beban yang tidak ringan.Sebagai Presiden Republik Indonesia, seorang Prabowo Subianto mengemban tugas yang mulia sekaligus berat. Memimpin bangsa sebesar Indonesia, dengan ribuan pulau, ratusan suku, beragam bahasa, dan keyakinan yang berbeda-beda, berarti merawat persatuan dalam keberagaman, memperjuangkan kesejahteraan rakyat, menjaga kedaulatan negara, dan memastikan bahwa hasil pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, dari kota-kota besar hingga desa-desa di perbatasan. Tugas semacam ini tak dapat diselesaikan oleh satu orang. Ia menuntut kerja sama antara pemimpin, aparatur negara, dunia usaha, kaum cendekia, dan seluruh anak bangsa. Karena itu, dukungan yang tulus dari masyarakat bukanlah pelengkap, melainkan bagian dari tenaga yang menggerakkan perjalanan bangsa.Pada hari milad ini, kami mendoakan agar Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, kekuatan, kearifan, dan perlindungan kepada Bapak Presiden dalam menjalankan amanah kenegaraan. Semoga fisik yang sehat dan hati yang tenteram menyertai setiap langkah, sehingga beban tugas yang besar dapat dipikul dengan jernih. Semoga setiap langkah pengabdian senantiasa berada dalam bimbingan-Nya, dan setiap keputusan yang diambil membawa manfaat bagi rakyat, bangsa, dan negara. Kami juga berdoa agar di tengah padatnya agenda dan derasnya tuntutan, Bapak Presiden selalu dikelilingi oleh orang-orang yang jujur menyampaikan kebenaran, bukan sekadar mereka yang pandai menyenangkan hati.Harapan masyarakat Indonesia sesungguhnya sederhana, namun sangat mulia: kehidupan yang lebih sejahtera, pendidikan yang lebih berkualitas, kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda, serta hadirnya keadilan dan kemakmuran yang dapat dinikmati secara merata. Seorang petani berharap hasil panennya dihargai dengan layak. Seorang guru di daerah terpencil berharap jerih payahnya mendapat perhatian. Seorang pemuda berharap ada pekerjaan yang membuatnya bisa membangun masa depan di tanah airnya sendiri. Harapan-harapan itu membutuhkan kerja keras, kesungguhan, dan kepemimpinan yang mampu menyatukan energi seluruh anak bangsa. Dan harapan itu pula yang menjadi alasan mengapa doa dan dukungan patut dipanjatkan bagi mereka yang diberi tanggung jawab untuk mewujudkannya.Di tengah dinamika demokrasi yang penuh perbedaan pandangan, semoga semangat persatuan tetap menjadi fondasi utama kehidupan bernegara. Perbedaan pendapat bukanlah ancaman bagi bangsa yang dewasa; ia justru tanda bahwa ruang bagi suara rakyat masih terbuka. Sebab Indonesia tidak dibangun oleh kesamaan semata, melainkan oleh kesediaan untuk bergandengan tangan dalam keberagaman. Kepemimpinan yang besar bukan hanya tentang kemampuan memimpin, tetapi juga tentang kemampuan merangkul: merangkul yang sependapat maupun yang berbeda, yang mendukung maupun yang mengkritik, demi tujuan yang lebih besar daripada kepentingan golongan mana pun. Dukungan kepada pemimpin pun menjadi paling bermakna ketika disertai kepedulian, yaitu keberanian untuk mengingatkan dengan santun dan kesediaan untuk ikut bekerja.Hari Milad juga menjadi pengingat bahwa jabatan adalah amanah, sedangkan pengabdian adalah warisan. Jabatan datang dan pergi menurut waktu dan konstitusi, tetapi jejak pengabdian akan tinggal lebih lama dalam ingatan bangsa. Sejarah pada akhirnya akan menilai bukan hanya apa yang diucapkan, tetapi juga apa yang dikerjakan untuk kepentingan rakyat dan bangsa. Oleh karena itu, doa terbaik bagi seorang pemimpin adalah agar beliau senantiasa diberi kelapangan hati untuk mendengar suara rakyat, keberanian untuk menegakkan kebenaran, serta ketulusan untuk mengabdikan diri bagi negeri. Tiga hal ini, yakni empati yang mau melihat dan mendengar, keberanian yang tidak gentar, dan ketulusan yang tak mengharap pamrih, adalah bekal yang akan menjaga arah sebuah kepemimpinan, apa pun badai yang datang.Kepada Bapak Presiden, kami ingin menyampaikan pesan penyemangat. Teruslah melangkah dengan keyakinan, sebab bangsa ini membutuhkan pemimpin yang tak mudah goyah oleh tekanan dan tak lelah mencari jalan terbaik bagi rakyatnya. Ketika beban terasa berat, ingatlah bahwa ada jutaan doa yang mengiringi dari pelosok negeri, dari masjid dan mushala, gereja dan pura, vihara dan klenteng, dari rumah-rumah sederhana yang berharap hari esok lebih baik. Tatkala kritik datang, semoga ia dipandang sebagai cermin yang membantu meluruskan langkah. Dan saat keberhasilan diraih, semoga ia dibagi bersama seluruh rakyat yang telah ikut memikulnya.Selamat Milad, Presidenku. Semoga usia yang bertambah menjadi sumber kearifan yang semakin dalam, pengalaman yang sesungguhnya semakin matang, dan semangat yang semakin kuat untuk memimpin Indonesia menuju masa depan yang lebih maju, berdaulat, adil, dan makmur. Teruslah menjadi pribadi yang teguh dalam pengabdian, kuat dalam menghadapi tantangan, dan bijak dalam memimpin bangsa. Semoga setiap ikhtiar yang dilakukan demi Indonesia tercinta menjadi amal shalih yang membawa manfaat bagi generasi hari ini maupun generasi mendatang.Usia adalah anugerah yang menghitung perjalanan hidup, tetapi pengabdian adalah jejak yang akan dikenang sejarah. Angka akan terus bertambah dari tahun ke tahun, namun kebaikan yang ditanam untuk rakyat akan terus tumbuh melampaui usia siapa pun yang menanamnya. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi kehidupan, kesehatan, dan kepemimpinan Bapak untuk Indonesia yang lebih kuat, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat. Amin yaa Rabbal Alamiin.
Kiara, Oliva dan Negeri Sentosa
Sabtu, 17 Oktober 2026
Mengabdi untuk Negeri, Menjaga Harapan Bangsa
Jumat, 16 Oktober 2026
Menepuk Air di Dulang: Sebuah Negeri yang Gemar Saling Mengingatkan
Polemik seputar Pasal 18 ayat (3) PKPU Nomor 19 Tahun 2023 belakangan tak lagi sekadar urusan dokumen dan prosedur. Ia telah menjelma menjadi pertukaran sindiran antara dua nama yang sama-sama pernah duduk di kursi tinggi: Hasyim Asy'ari, mantan Ketua KPU, dan Ahmad Doli Kurnia Tandjung, mantan Ketua Komisi II DPR.Sebagaimana diberitakan, Hasyim membantah tudingan adanya "pasal selundupan". Ia menegaskan bahwa pembahasan dan persetujuan atas pasal yang dipersoalkan berlangsung dalam forum resmi yang dihadiri oleh berbagai pihak. Dari situlah meluncur sebuah kalimat yang segera menjadi sorotan:“Lupa boleh, munafik jangan.”Kalimat itu bahkan dibingkai dengan alegori Malaikat Munkar dan Nakir, yang kelak bertanya tentang siapa yang hadir, siapa yang tahu, dan siapa yang setuju atas pembahasan draf PKPU tersebut. Doli tak tinggal diam. Ia membalas bahwa kalimat itu justru lebih pantas dialamatkan kepada Hasyim sendiri, seraya menyinggung rekam jejaknya selama memimpin KPU, mempertanyakan posisinya sebagai komisaris BUMN, dan tetap bertahan pada pandangannya bahwa ada pasal yang tak ditemukan dalam dokumen yang diterima DPR kala itu.Bagi pengamat politik, ini mungkin sekadar adu argumen yang lazim di musim gaduh. Namun bagi penulis satire, ia membangkitkan ingatan pada sebuah peribahasa lama:Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.Tulisan ini tentu tak hendak menjadi hakim. Siapa yang benar perihal pasal itu adalah urusan dokumen, saksi, dan forum yang berwenang. Yang hendak dibicarakan di sini hanyalah sebuah negeri dongeng, kebetulan bernama Negeri Dulang, yang penduduknya mungkin mirip dengan kita semua.Konon, di sebuah negeri yang sangat menghormati arsip, hiduplah dua kelompok manusia.Kelompok pertama gemar membawa map. Map mereka tebal, berpita, dan selalu dibawa dengan dagu sedikit terangkat, seakan isinya adalah kitab suci. Kelompok kedua gemar membawa cermin. Cermin mereka bening, berbingkai emas, dan selalu diarahkan ke wajah orang lain, seakan wajah sendiri sudah lama dinyatakan bebas dari pemeriksaan.Setiap kali sengketa pecah, kelompok pembawa map akan berseru:“Lihatlah dokumen ini!”Dan kelompok pembawa cermin akan menyahut:“Lihatlah dirimu sendiri!”Maka terjadilah pemandangan yang menakjubkan. Yang satu sibuk membuka lembaran kertas. Yang lain sibuk membuka lembaran masa lalu. Daftar hadir diperiksa, notulen dibolak-balik, paraf diteliti dengan kaca pembesar, dan di sela-sela itu, riwayat hidup ikut ditarik keluar dari laci seperti kucing yang dipaksa tampil di panggung. Tak ada yang mau kalah. Tak ada yang mau lupa. Dan yang paling menarik, keduanya sama-sama mengaku sedang mengingatkan.Di Negeri Dulang, mengingatkan adalah olahraga nasional. Hanya saja, aturannya agak ganjil: orang boleh mengingatkan siapa saja, asalkan bukan dirinya sendiri. Bahkan pertanyaan-pertanyaan yang konon baru diajukan di alam kubur sudah dicicil sejak di ruang rapat. Siapa yang hadir? Siapa yang tahu? Siapa yang setuju? Para malaikat, kata orang, tak perlu lagi bekerja keras. Cukup menunggu para manusia melakukan gladi resik.Lama-kelamaan, rakyat yang menyaksikan menjadi bingung. Awalnya mereka diajak memeriksa sebuah pasal. Kemudian mereka diajak memeriksa sebuah tanda tangan. Lalu mereka diajak memeriksa sebuah riwayat hidup. Tak lama berselang, mereka diajak memeriksa sebuah jabatan. Rakyat yang datang untuk menonton pemeriksaan satu pasal pulang dengan membawa catatan tentang segala hal kecuali pasal itu.Perdebatan itu tumbuh seperti pohon beringin. Akar persoalan berada jauh di bawah tanah, tetapi ranting-rantingnya menjulur ke mana-mana, menaungi siapa saja yang ingin berteduh sambil melempar batu ke arah yang berlawanan.Di tengah keramaian itu, arsip duduk diam.Ia tak berkampanye. Ia tak berdebat. Ia tak membela siapa pun. Ia tak punya juru bicara, tak punya akun media sosial, dan tak pernah meminta hak jawab. Ia hanya menunggu.Sebab arsip memahami sesuatu yang tak kunjung dipahami manusia. Bahwa manusia sering berubah. Kepentingan berubah. Posisi berubah. Musuh berubah. Kawan berubah. Pendapat berubah, tergantung pada kursi sebelah mana ia duduk ketika ditanya. Tetapi tinta yang sudah mengering biasanya tidak ikut berubah.Ada pula cermin yang duduk bersebelahan dengan arsip. Keduanya sebenarnya mirip. Sama-sama tidak banyak bicara. Sama-sama sulit diajak berkompromi. Sama-sama tak bisa disogok dengan basa-basi. Perbedaannya hanya satu. Arsip menunjukkan apa yang pernah dilakukan. Sedangkan cermin menunjukkan siapa yang melakukannya.Karena itu, orang sering lebih takut kepada cermin daripada arsip. Kertas bisa disimpan di lemari, dikatakan hilang, atau dibilang belum ditemukan. Wajah sendiri sulit dititipkan ke mana-mana.Suatu hari, seorang bijak di negeri itu berkata:“Aneh sekali. Ketika seseorang membuka arsip orang lain, ia lupa bahwa orang lain juga memiliki arsip tentang dirinya.”Seorang yang lain menjawab:“Dan ketika seseorang mengangkat cermin kepada lawannya, ia lupa bahwa sisi belakang cermin masih menghadap kepadanya.”Mereka pun tertawa. Bukan karena lucu. Melainkan karena benar. Tawa itu pendek saja, sebab keduanya sadar bahwa di sudut ruangan, ada yang sedang mencatat.Begitulah kehidupan di Negeri Dulang. Di sana, semua orang gemar menepuk air. Mereka menepuknya dengan tuduhan. Mereka menepuknya dengan dokumen. Mereka menepuknya dengan rekam jejak. Mereka menepuknya dengan sindiran yang dibungkus alegori, supaya terdengar lebih saleh daripada sekadar sindiran.Dan setiap kali telapak tangan menghantam permukaan air, percikannya melompat ke mana-mana. Sebagian mengenai lawan. Sebagian mengenai penonton, yang pulang dengan baju basah tanpa tahu salah apa. Namun anehnya, sebagian lagi selalu kembali ke wajah orang yang menepuknya.Karena air mempunyai sifat yang tidak dapat dikalahkan oleh retorika: ia memantulkan. Ia tidak membaca pidato, tidak peduli siapa yang pernah jadi ketua apa, dan tidak bisa diajak berunding soal siapa yang boleh terkena cipratan. Dalam pantulannya, kadang-kadang manusia menemukan sesuatu yang tak pernah ia temukan di ruang sidang maupun di lembar notulen: lawan yang paling sulit dibantah.Dirinya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)



