Di sebuah negeri yang aneh, hiduplah sekelompok pelaut yang baru saja memenangkan perlombaan menemukan pulau. Sudah berbulan-bulan mereka mengarungi lautan kata-kata, membentangkan peta tebal berisi tuduhan, dan mengayuh perahu dalil melawan arus kecurigaan. Para pelaut itu sebenarnya bukan golongan yang tahu betul ke arah mana kapal harus dikemudikan. Tetapi mereka punya satu keahlian yang jarang dimiliki pelaut mana pun: kemampuan bersorak sebelum pengumuman selesai dibacakan.Maka ketika para juri naik ke panggung dan mengumumkan, "Keberatan kalian ditolak. Kalian tetap memenangkan perlombaan," dermaga pun pecah. Mereka melonjak kegirangan, menabuh genderang, mengibarkan panji-panji, dan sebagian bahkan tersungkur dalam sujud syukur, dahi menempel di papan dermaga yang masih berbau garam dan belum kering dari air pasang. Ada yang menangis, ada yang berpelukan, ada pula yang buru-buru memotret dirinya sedang bersujud agar kelak bisa dipajang sebagai bukti bahwa kemenangan itu pernah benar-benar terjadi.Namun, ada satu kalimat lain yang ikut dibacakan para juri, kalimat yang diselipkan di bagian paling belakang, seperti uang kembalian yang tak sempat dihitung pembelinya: "Meski demikian, pulau yang kalian klaim sebagai tujuan pelayaran itu tetap tidak ditemukan."Anehnya, para pelaut tak terlalu memedulikannya. Kalimat itu mereka perlakukan seperti pengumuman keberangkatan kereta di stasiun yang ramai: terdengar jelas, tetapi tidak dianggap berurusan dengan siapa pun. Telinga mereka memang terlatih secara selektif. Kata "menang" ditangkap dari jarak sepuluh mil, sedangkan kata "tidak ditemukan" dibiarkan tenggelam bersama jangkar. Mereka pulang membawa piala sambil terus berteriak, "Kami menang! Kami menang!" Teriakan itu diulang begitu sering dan begitu keras, seolah-olah pengulangan adalah cara paling murah untuk mengubah pantai kosong menjadi pulau.Di tepi pantai, seorang lelaki tua yang kebetulan sedang memperbaiki jalanya memperhatikan arak-arakan itu dengan kening berkerut. Ia lalu bertanya dengan nada yang sopan, sesopan orang yang sudah terlalu sering melihat hal seperti ini, "Bukankah tujuan perlombaan itu membuktikan adanya pulau?"Para pelaut menjawab, "Benar.""Dan pulau itu tidak ditemukan?""Benar.""Lalu mengapa kalian merayakan?"Mereka menatap lelaki itu dengan heran, seperti menatap orang yang bertanya mengapa air laut asin padahal hari ini cuaca cerah. Lalu salah satu dari mereka, dengan wajah paling bersungguh-sungguh yang pernah dimiliki manusia, menjawab, "Karena kami menang."Lelaki tua itu mengangguk pelan. Ia tak membantah, sebab ia tahu ada jenis percakapan yang kalau dilanjutkan hanya akan membuat penanya merasa dirinya keliru. Ia kembali merajut jalannya, sambil merenung bahwa barangkali inilah satu-satunya negeri di dunia di mana orang memenangkan pertanyaan, tetapi kehilangan jawabannya. Mereka memperoleh putusan, tetapi gagal memperoleh pembuktian. Mereka memenangkan pertandingan, namun bola tetap tidak masuk ke gawang, dan yang lebih lucu, wasit sudah meniup peluit panjang sambil menunjuk gawang yang kosong itu dengan jelas.Dan barangkali, itulah sebabnya sujud syukur mereka tampak begitu filosofis. Itu bukan syukur karena kebenaran telah terbukti. Melainkan syukur karena kekalahan berhasil didandani sedemikian rupa hingga tampak seperti kemenangan, lengkap dengan bedak, minyak wangi, dan tepuk tangan berirama. Para penata rias kekalahan di negeri itu memang sangat piawai. Mereka tahu bahwa kekalahan yang diberi pita emas akan lebih mudah dijual daripada kekalahan yang diakui dengan jujur, apalagi jika pembelinya sudah telanjur berutang kesetiaan.Seperti seorang pedagang yang bersorak karena lolos audit, meskipun gudangnya tetap kosong. Ia mengangkat surat keterangan tinggi-tinggi di depan pembeli, sementara tikus-tikus di gudang belakang pun sudah mulai pindah karena tak ada lagi yang bisa dimakan. Atau seperti seseorang yang memenangkan perkara tentang keberadaan seekor gajah, sementara kandang yang katanya dihuni gajah itu tetap tak berisi apa-apa. Hakim sudah mengetuk palu, para pendukung sudah mengelu-elukan, tukang kebun sudah diminta merangkai bunga untuk pesta. Tetapi gajahnya tidak pernah datang, dan jerami di kandang itu tetap utuh, tak tersentuh belalai mana pun.Ia menang di meja sidang. Namun kalah di kandang.Dan di antara tepuk tangan para pendukung, ketika genderang masih ditabuh dan piala masih diarak berkeliling kampung, terdengar bisikan satire yang paling pelan sekaligus paling tajam, entah dari lelaki tua di tepi pantai atau dari angin laut yang sudah terlalu lama menyaksikan negeri itu:"Kadang-kadang, manusia tak membutuhkan kemenangan. Mereka hanya membutuhkan sesuatu yang bisa disebut kemenangan."
Kiara, Oliva dan Negeri Sentosa
Jumat, 09 Oktober 2026
Menang Tapi Kalah, lalu Sujud Syukur
Kamis, 08 Oktober 2026
Alegori Sebuah Foto: Tentang Bingkai, Kursi, dan Gajah yang tak Pernah Diundang
Sebuah foto dapat bermakna banyak hal. Ia bisa menjadi kenang-kenangan, bukti, atau sekadar penutup noda di dinding yang catnya mengelupas. Akan tetapi, foto yang dipajang di lobi kantor, di ruang kelas, di ruang rapat, bahkan di dinding warung makan, bukanlah hiasan biasa. Ia adalah pernyataan. Ia adalah pengumuman diam-diam tentang siapa yang dipandang layak dihormati, dipercaya, dan diteladani, disampaikan tanpa pengeras suara, tetapi terdengar sampai ke pojok ruangan.Karena itu, orang lazimnya berharap sosok dalam foto tersebut memiliki sesuatu yang pantas dibanggakan. Prestasi, pengabdian, pengalaman, atau setidaknya riwayat hidup yang tak membuat mesin pencari internet tersedak metadata dan tidak membuat Artificial Intelligence mendadak berbicara seperti juru bicara yang sedang berusaha menjawab tanpa benar-benar menjawab. Harapannya sederhana saja, sesederhana berharap bahwa lukisan seorang pelaut di dinding memang pernah melihat laut, atau paling tidak, pernah naik perahu sewaan di danau wisata.Namun, kadang-kadang foto punya selera humor.Di antara deretan wajah yang gelarnya panjang seperti gerbong kereta api malam, lengkap dengan singkatan yang berbaris di depan dan di belakang nama, terdapat satu sosok yang riwayat pendidikannya lebih misterius daripada peta harta karun bajak laut. Bedanya, peta bajak laut setidaknya jujur soal satu hal: ia memang tidak pernah berniat menunjukkan jalan. Sementara itu, dokumen sosok kita ini dicari ke sana kemari, dari laci arsip hingga lorong-lorong dunia maya. Keterangannya berubah-ubah mengikuti arah angin, penjelasannya beranak-pinak seperti kelinci di musim semi, dan setiap klarifikasi justru melahirkan kebutuhan akan klarifikasi berikutnya, seakan-akan kebenaran adalah warisan keluarga besar yang tak kunjung selesai dibagi.Tapi, aneh bin ajaib, kursinya tetap kokoh.Di negeri alegori ini, kursi tampaknya tak disangga oleh empat kaki kayu jati, melainkan oleh kemampuan luar biasa untuk bertahan dari pertanyaan. Para ahli konstruksi mungkin akan geleng-geleng kepala, sebab tak satu pun teori kekuatan material yang menjelaskan bagaimana sebuah kursi bisa berdiri tegak di atas fondasi yang terus-menerus ditanyakan keberadaannya. Tapi barangkali, memang begitulah misteri bekerja: semakin sering digoyang, semakin erat ia dipeluk oleh penghuninya.Semakin banyak yang bertanya, semakin tebal kaca bingkainya. Semakin besar keraguan publik, semakin sering fotonya dicetak ulang, dengan resolusi lebih tinggi, ukuran lebih besar, dan bingkai yang lebih berkilau, seolah-olah wajah yang diragukan hanya perlu dibuat lebih tajam agar keraguan menjadi buram. Tukang cetak foto di pojok jalan pun mendadak sejahtera, dan ia diam-diam menjadi pihak yang paling berkepentingan agar pertanyaan itu tidak pernah selesai.Di balik semua itu, tampaknya bersemayam sebuah keyakinan yang indah dalam kenaifannya: bahwa jika sebuah gambar dipajang di cukup banyak tempat, maka kenyataan pada akhirnya akan menyerah kepada dekorasi. Dinding yang penuh foto akan dianggap penuh bukti. Ruangan yang wangi pernis akan dianggap bersih dari bau busuk. Begitulah logikanya, dan tak seorang pun dibolehkan mempertanyakan logika itu terlalu keras, karena suara keras bisa membuat bingkai bergetar.Akibatnya, foto itu perlahan berubah fungsi. Ia bukan lagi potret seorang pejabat. Ia menjadi monumen nasional bagi kemampuan manusia untuk mengabaikan gajah yang berdiri di tengah ruangan sambil memperdebatkan warna tirainya. Gajah itu besar, abu-abu, dan sesekali mengibaskan telinga sehingga debu beterbangan ke wajah para hadirin. Tetapi rapat tetap berjalan khidmat, sebab agenda hari itu adalah menentukan apakah tirai lebih cocok berwarna krem atau gading.Orang-orang yang menunjuk ke gajah dianggap mengganggu ketertiban. Mereka dicap tidak sopan, kurang kerjaan, bahkan dicurigai punya kepentingan terselubung, seolah-olah menyebut sesuatu yang berdiri jelas di tengah ruangan adalah tindakan subversif. Sedangkan mereka yang mengagumi tirai disebut bijaksana, dewasa, dan mampu melihat gambaran besar, meskipun gambaran besar yang dimaksud ternyata hanyalah kain yang sedang menutupi kaki gajah.Yang lebih lucu lagi, sebagian orang tidak lagi membela sosok dalam foto tersebut. Mereka hanya membela keberadaan fotonya. Barangkali mereka sendiri sudah lelah dengan urusan siapa orangnya, apa riwayatnya, dan di mana ijazahnya, lalu memilih berdiri di garis yang lebih aman: bahwa foto yang sudah terpasang tidak boleh diturunkan. Seolah-olah mengakui kekeliruan menggantung sebuah gambar lebih memalukan daripada menggantung gambar yang keliru. Paku sudah terlanjur menancap, kata mereka, dan menarik paku itu akan meninggalkan lubang di dinding. Tak seorang pun bertanya mengapa lubang di dinding dianggap lebih menakutkan daripada lubang di kepercayaan.Maka setiap pagi, para pegawai melewati foto itu dalam barisan yang tertib. Sebagian menatap hormat, lengkap dengan anggukan kecil yang sudah menjadi refleks, seperti membungkuk pada pintu yang rendah. Sebagian menatap kosong, memikirkan cicilan, macet, atau apakah kopi di pantry masih tersisa. Sebagian lagi menatap seraya menahan senyum, dan seringai itulah satu-satunya hal di gedung tersebut yang berhasil lolos dari pemeriksaan tanpa surat izin.Sebab mereka tahu satu rahasia sederhana: foto memang tak bisa berbicara. Tetapi diamnya kadang lebih berisik daripada pidato. Ia berbicara lewat tatapan yang tidak berkedip saat ditanya, lewat bingkai yang selalu mengilap padahal debu menumpuk di rak arsip, dan lewat kesunyian panjang yang menyelimuti satu pertanyaan yang sama, yang sudah terlalu tua untuk disebut baru dan terlalu penting untuk disebut selesai.Dan dalam beberapa kasus, bingkai yang paling mahal justru digunakan untuk memajang pertanyaan yang belum pernah berhasil dijawab. Kelak, ketika dinding itu dirobohkan dan para sejarawan menggali puing-puingnya, mereka mungkin akan menemukan sebuah bingkai berlapis emas yang masih utuh. Di dalamnya, setelah gambar memudar dimakan waktu, hanya tersisa satu hal yang tak pernah luntur: sebuah tanda tanya, yang ternyata lebih tahan lama daripada seluruh gelar di sekelilingnya.
Langganan:
Postingan (Atom)



