Selasa, 27 Oktober 2026

Menjahit Kembali Janji 1928

Sebuah Renungan dalam Rangka Hari Sumpah Pemuda

Setiap tanggal 28 Oktober, kita diajak menoleh ke sebuah ruangan sederhana di Batavia pada tahun 1928. Di sana, sekelompok anak muda dari berbagai perkumpulan kedaerahan duduk berdampingan, membicarakan sesuatu yang pada zamannya terdengar hampir mustahil: sebuah bangsa yang satu. Mereka datang dengan nama organisasi yang berbeda-beda, membawa logat, adat, dan kepentingan masing-masing, namun pulang dengan satu ikrar yang kelak menjadi fondasi republik. Hari Sumpah Pemuda sejatinya bukan sekadar penanda kalender, melainkan undangan untuk bercermin, apakah janji yang diucapkan hampir seabad lalu itu masih hidup dalam diri kita hari ini.

Yang sering luput kita sadari, para pemuda itu tidak sedang berada dalam situasi yang nyaman. Pengawasan pemerintah kolonial ketat, ruang berkumpul terbatas, dan perbedaan di antara mereka sendiri tidaklah kecil. Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, dan perkumpulan lainnya sama-sama memiliki kebanggaan daerah yang kuat. Mudah sekali bagi mereka untuk berhenti pada pembelaan atas kelompok masing-masing. Namun yang terjadi justru sebaliknya: mereka memilih menyisihkan sebagian ego demi sesuatu yang lebih besar dari diri mereka. Persatuan lahir bukan karena semua orang menjadi sama, melainkan karena orang-orang yang berbeda bersedia saling mendekat.

Renungan pertama yang patut kita bawa pulang dari peristiwa itu adalah bahwa persatuan merupakan hasil keputusan, bukan hadiah dari keadaan. Kita kerap membayangkan keindonesiaan sebagai sesuatu yang sudah selesai, warisan yang tinggal dinikmati. Padahal para pemuda 1928 memperlihatkan bahwa kebersamaan harus terus diupayakan, dirawat, dan dipilih ulang. Hari ini, ketika perbedaan pandangan mudah sekali membelah kita di ruang digital, godaan untuk menutup diri di dalam kelompok yang sepemikiran terasa semakin kuat. Gelembung percakapan yang hanya mempertemukan kita dengan orang yang sama membuat jarak terhadap sesama anak bangsa kian lebar. Di titik inilah semangat Sumpah Pemuda menemukan relevansinya yang paling nyata, yaitu keberanian untuk tetap duduk satu meja dengan mereka yang tak sepaham.

Bahasa pun menyimpan pelajaran tersendiri. Pada Kongres Pemuda itu, bahasa Indonesia, yang berakar dari bahasa Melayu, ditegaskan sebagai bahasa persatuan. Keputusan ini patut dikagumi karena tak ada bahasa daerah besar yang dijadikan pemenang. Dengan memilih bahasa yang tak dimiliki secara eksklusif oleh satu suku dominan, para pemuda menciptakan ruang yang bisa dihuni semua orang secara setara. Bahasa Indonesia kemudian menjadi jembatan yang memungkinkan seorang anak dari ujung barat dan seorang anak dari ujung timur kepulauan ini saling memahami. Kita yang hari ini menggunakannya setiap hari sering lupa bahwa kemudahan itu adalah buah dari kesepakatan yang tak ringan. Merawat bahasa Indonesia berarti menggunakannya dengan baik dan penuh hormat, tanpa merendahkan bahasa-bahasa daerah yang justru menjadi kekayaan kita, dan tanpa merasa minder terhadap bahasa sendiri.

Renungan berikutnya menyangkut makna kepemudaan itu sendiri. Banyak peserta Kongres Pemuda berusia dua puluhan, usia ketika seseorang biasanya masih sibuk menata masa depan pribadinya. Meski begitu, mereka memilih memikirkan masa depan bersama. Mereka tak menunggu menjadi pejabat, tak menanti jabatan, dan tidak mensyaratkan keadaan yang ideal. Mereka bergerak dengan apa yang ada: kemauan belajar, kemampuan berorganisasi, dan keyakinan bahwa gagasan yang benar akan menemukan jalannya. Pelajaran ini penting bagi generasi sekarang, yang tumbuh dengan akses informasi dan teknologi yang tak terbayangkan oleh para pendahulunya. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita punya alat, melainkan untuk apa alat itu kita gunakan. Gawai di tangan bisa menjadi ruang belajar dan berkarya, tetapi juga bisa menjadi pelarian yang menyita waktu dan perhatian kita dari persoalan di sekitar.

Perlu diakui pula bahwa tantangan pemuda masa kini berbeda dari tantangan di masa kolonial. Musuh yang kita hadapi tak lagi berwujud penjajah asing, tetapi berupa hal-hal yang lebih halus dan sering kali bersembunyi di dalam diri sendiri: sikap apatis, kebiasaan menyebar kabar yang belum diperiksa kebenarannya, mudahnya terprovokasi oleh sentimen yang memecah belah, serta kecenderungan mengejar pengakuan instan tanpa proses yang matang. Ada pula ketimpangan kesempatan yang membuat tak semua anak muda memulai dari garis yang sama, dan persoalan lingkungan yang akan diwariskan kepada mereka. Mengisi kemerdekaan jauh lebih menuntut ketekunan dibandingkan merebutnya dalam semangat yang menyala, sebab perjuangannya tak lagi disertai tepuk tangan dan sorotan, melainkan berlangsung dalam kerja sunyi sehari-hari.

Karena itu, mengamalkan Sumpah Pemuda tak harus menunggu panggung besar. Ia dapat diwujudkan dalam hal-hal yang tampak kecil: seorang mahasiswa yang mau berteman dengan orang dari latar belakang yang sangat berbeda, seorang pekerja muda yang jujur ketika kejujuran terasa merugikan, seorang warganet yang menahan diri sebelum membagikan sesuatu yang belum jelas sumbernya, atau seorang anak muda desa yang belajar dengan sungguh-sungguh lalu kembali menghidupkan kampung halamannya. Tindakan-tindakan semacam ini mungkin takkan tercatat dalam buku sejarah, tetapi dari kumpulan kebaikan yang sederhana itulah kebangsaan menjadi nyata. Bangsa tidak berdiri hanya oleh pidato yang megah, melainkan oleh kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan jutaan orang secara konsisten.

Ada satu hal lagi yang layak direnungkan, yakni kerendahan hati terhadap sejarah. Kita tak mewarisi Indonesia dalam keadaan jadi. Ada banyak orang yang namanya tidak kita kenal, yang waktu, tenaga, bahkan keselamatannya dipertaruhkan agar kita bisa hidup di negara yang merdeka dan berdaulat. Mengingat mereka bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab. Orang yang menyadari bahwa dirinya menerima begitu banyak dari generasi sebelumnya akan lebih mudah merasa berutang untuk memberi kepada generasi sesudahnya. Dalam rasa berutang yang sehat itulah semangat gotong royong menemukan tempatnya.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda adalah sebuah janji, dan janji hanya bermakna jika ditepati. Tiga butir ikrar tentang satu tumpah darah, satu bangsa, dan satu bahasa tak berhenti sebagai kalimat yang dihafalkan dalam upacara, tetapi menuntut perwujudan dalam sikap: mencintai tanah air dengan merawatnya, menghargai sesama anak bangsa tanpa memandang asal-usulnya, dan menjunjung bahasa persatuan dengan sepenuh hati. Barangkali pertanyaan paling jujur yang dapat kita ajukan kepada diri sendiri di hari ini adalah apa yang sudah kita lakukan, sekecil apa pun, untuk membuat janji itu tetap hidup.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. Semoga setiap dari kita, yang muda maupun yang pernah muda, kembali menjahit janji 1928 itu dengan benang baru: kejujuran, kepedulian, dan keberanian untuk bekerja bersama demi Indonesia yang lebih adil dan bermartabat.

Senin, 26 Oktober 2026

Mahkota yang Dingin, Nyala yang Menghangatkan

Tentang Cinta, Kekuasaan, dan Kebutuhan Manusia agar Diakui

Ada ungkapan lama yang terdengar sederhana tetapi menyimpan kedalaman: cinta tak membutuhkan mahkota. Kalimat ini mudah diterima sebagai kata-kata indah, namun justru di balik keindahannya tersimpan pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur. Jika cinta tak memerlukan mahkota, lalu siapa, atau apa, yang sebenarnya memerlukannya? Guna menjawabnya, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang sesungguhnya dilakukan sebuah mahkota, dan mengapa manusia sejak dahulu begitu terpikat padanya.

Mahkota pada dasarnya adalah tanda. Ia tak menambah kecerdasan, tidak menumbuhkan kearifan, dan tak pula membuat pemakainya lebih layak dibandingkan orang lain. Fungsinya hanyalah memberi isyarat kepada siapa pun yang memandang bahwa di hadapan mereka berdiri seseorang yang harus diakui, dihormati, dan dipatuhi. Karena itulah mahkota lahir dari dunia yang bertumpu pada pengakuan, tatanan bertingkat, dan keabsahan. Seorang raja memerlukannya bukan untuk dicintai, melainkan agar kekuasaannya terlihat dan tak diragukan. Dalam hal ini, mahkota bekerja laksana bahasa: ia berbicara kepada orang banyak tentang siapa yang berada di atas dan siapa yang berada di bawah.

Dari sana kita dapat melihat bahwa kebutuhan akan mahkota tak semata dimiliki oleh para raja dan ratu. Ambisi pun memerlukannya, sebab ambisi hidup dari kemenangan yang bisa disaksikan. Pencapaian yang tak terlihat terasa hampa bagi orang yang ambisius, seolah belum pernah terjadi. Kesombongan juga membutuhkannya, karena ia tak tahan berada dalam bayang-bayang; ia baru merasa ada bila ada mata yang memandang dan mulut yang memuji. Kekuasaan memerlukannya pula, sebab tanpa lambang dan upacara ia merasa rapuh, dan simbol-simbol itulah yang menutupi kerapuhan tersebut. Dan ego, yang paling lembut dan paling dekat dengan kita semua, memerlukan mahkota lantaran ia takut menjadi biasa-biasa saja. Betapa sering kita tidak sedang mengejar sesuatu yang berharga, melainkan sekadar menghindari perasaan menjadi tak berarti.

Menariknya, seluruh kebutuhan itu berakar pada rasa kurang. Orang yang yakin akan nilai dirinya tak perlu mengumumkannya. Sebaliknya, makin lantang seseorang menuntut pengakuan, makin besar kemungkinan ada kecemasan yang ia sembunyikan di baliknya. Mahkota, dalam artian ini, bukan bukti kekuatan melainkan penopang bagi sesuatu yang takut roboh. Ia dikenakan karena ada keraguan yang perlu ditutupi, dan semakin berat serta berkilau mahkota itu, semakin besar pula keraguan yang mungkin tersimpan di bawahnya.

Cinta berdiri di sisi yang sama sekali berbeda. Cinta tak mencari takhta, sebab kebenarannya tak terletak pada pertunjukan, melainkan pada kehadiran. Orang yang mencintai tak perlu dilihat sedang mencintai agar cintanya nyata. Ia hadir saat seseorang sakit di tengah malam, mendengarkan tanpa tergesa menyela, tinggal bila keadaan tak menyenangkan, dan memberi tanpa menghitung. Semua itu tak menghasilkan tepuk tangan, dan memang tidak dimaksudkan untuk itu. Cinta bisa dikatakan telanjang dan tanpa hiasan, tetapi justru karena tiada yang dipoles, tiada pula yang dapat dirusak oleh runtuhnya sebuah citra. Mahkota diperuntukkan bagi takhta, sedangkan cinta diperuntukkan bagi qalbu.

Gagasan ini dapat dibayangkan lebih hidup lewat sebuah kisah perumpamaan. Alkisah, di sebuah kerajaan dengan aula-aula marmer, hiduplah seorang raja yang mengenakan mahkota bertatahkan permata. Di bawah sinar matahari, mahkota itu berkilauan hingga membuat rakyat terpesona. Namun, saat malam tiba dan para pengawal telah pergi, mahkota itu menjadi dingin dan bobotnya menekan dahi sang raja bagaikan besi. Kemegahan yang membuat orang lain kagum ternyata tak memberinya ketenangan. Ia memiliki segala sesuatu yang dapat dilihat, tapi tak punya sesuatu yang dapat dirasakan.

Di luar tembok istana tinggal seorang perempuan yang tak mengenakan mahkota apa pun. Yang ia bawa hanyalah nyala kecil di dalam dadanya. Kehangatannya menerangi wajah orang-orang di sekitarnya, kendati tak seorang pun membungkuk bila namanya disebut. Ia tak punya gelar, tak memiliki pengikut yang mengelu-elukan, dan tak memerlukan keduanya. Orang datang kepadanya bukan karena diwajibkan, melainkan karena di dekatnya mereka merasa dipulihkan.

Sang raja yang gelisah di tengah kemewahannya akhirnya mencari perempuan itu. Ia berkata bahwa dirinya memiliki mahkota tetapi tak merasakan kedamaian, sementara perempuan itu tak memiliki mahkota, namun bersinar lebih terang daripada emas. Ia meminta penjelasan. Perempuan itu menjawab dengan tenang bahwa mahkota diperuntukkan bagi takhta, bagi mereka yang harus membuktikan bahwa dirinya berkuasa, sedangkan cinta memerintah tanpa maklumat. Mahkota mengikat sang raja pada kekuasaan, sementara nyalanya mengikat dirinya pada kehidupan.

Jawaban itu menohok bukan karena rumit, melainkan karena jujur. Sang raja menyadari bahwa selama ini ia terikat pada sesuatu yang harus terus dipertahankan, dijaga, dan ditampilkan. Maka ia meletakkan mahkotanya di atas meja dan duduk di samping perempuan itu. Tiada upacara, tanpa  pengumuman. Dalam keheningan itulah ia paham bahwa mahkota mungkin dapat menuntut kepatuhan, tetapi hanya cinta yang mampu menggerakkan hati.

Perumpamaan ini mengajarkan sesuatu yang berlaku jauh melampaui urusan istana. Kita semua, dalam kadar yang berbeda, mengenakan mahkota kita sendiri. Ada yang berbentuk jabatan, ada yang berupa gelar, jumlah pengikut, reputasi, atau sekadar kebiasaan untuk selalu tampil benar di hadapan orang lain. Mahkota-mahkota itu tidak selalu buruk, dan sebagian memang diperlukan untuk menata kehidupan bersama. Persoalannya muncul ketika kita mulai mengira bahwa mahkota itulah diri kita, atau ketika kita membawanya masuk ke ruang-ruang yang seharusnya hanya diisi oleh kehangatan: ke dalam rumah, persahabatan, dan hubungan dengan orang yang kita sayangi. Seorang suami yang bersikap seperti penguasa di rumahnya, seorang orang tua yang menuntut ketaatan alih-alih menumbuhkan kepercayaan, atau seorang sahabat yang selalu ingin tampak lebih unggul, semuanya sedang membawa mahkota ke tempat yang tidak membutuhkannya.

Kuncinya terletak pada kesediaan untuk meletakkannya. Meletakkan mahkota bukan berarti melepaskan tanggung jawab atau merendahkan diri secara berlebihan, melainkan berani tampil sebagai manusia yang apa adanya. Di situlah hubungan yang sungguh-sungguh dimulai, sebab orang lain tak lagi berhadapan dengan peran, melainkan dengan pribadi. Kita mungkin kehilangan sebagian pujian, tapi kita beroleh sesuatu yang tak dapat dibeli dengan permata: kedekatan yang tulus.

Akhirnya, perbedaan antara mahkota dan nyala dapat dirumuskan dengan sederhana. Mahkota menekan ke bawah, sementara nyala mengangkat ke atas. Mahkota memberi beban kepada pemakainya dan menjaga jarak dari orang lain, sedangkan nyala memberi terang kepada pemiliknya dan mendekatkan siapa saja yang berada di sekitarnya. Maka pertanyaan yang pantas kita tanyakan pada diri sendiri bukanlah seberapa tinggi mahkota yang kita kenakan, melainkan seberapa hangat nyala yang kita bawa. Sebab pada akhirnya, saat malam tiba dan semua sorak telah reda, yang menemani kita bukanlah kilau permata, melainkan ada atau tidaknya seseorang yang duduk di samping kita.