Kamis, 22 Oktober 2026

Kopi dan Korupsi: Ketika Warung Hanya Menghitung Amplop di Bawah Meja

Catatan Warung Kopi tentang Definisi yang Menyusut Laksana Baju yang Dicuci Air Panas

Pagi itu kopiku datang bersama kabar yang aneh. Di sudut warung langgananku, seorang bapak pensiunan, yang matanya selalu lebih awas daripada kasir mana pun, membaca koran sambil mengernyit. Katanya, sedang ada gagasan agar korupsi didefinisikan ulang. Tak lagi sebagai segala hal yang membuat kas negara bocor, tapi terutama sebagai perbuatan menerima suap saja. Rujukannya adalah sebuah konvensi internasional yang telah kita ratifikasi, dan alasannya terdengar santun: para pengelola lembaga investasi dan badan usaha negara jangan sampai takut mengambil keputusan bisnis yang memang mengandung risiko. Kopi kusesap. Rasanya tak berubah, tapi entah mengapa aku merasa dapur negeri ini baru saja diganti kuncinya.

Untuk memahami gagasan itu, mari kita pinjam warung kopi ini. Bayangkan pemilik warung mempekerjakan seorang kasir dan seorang pembelanja bahan baku. Selama ini aturannya sederhana: jika kas warung berkurang lantaran kasir menyalahgunakan jabatannya, ia seharusnya bertanggung jawab, entah ia menerima amplop dari pemasok atau tidak. Kini usul baru berbunyi lain. Kasir baru dianggap bersalah jika ada bukti ia menerima amplop. Jika kas menyusut karena ia membeli seribu karung biji kopi dari kenalannya dengan harga tidak masuk akal, itu disebut risiko bisnis. Bila pemilik warung bertanya mengapa kas habis, jawabannya akan terdengar tenang dan sangat profesional: “maaf Pak, itu risiko usaha!”.

Ada kebijakan yang patut diakui dari kekhawatiran di balik usulan tersebut. Memang tidak adil jika pembelanja yang jujur dipenjara hanya karena kopi yang dibelinya ternyata tidak laku. Takut salah langkah bisa membuat seluruh dapur membeku, tiada yang berani menyeduh sesuatu yang baru. Namun obat yang tepat bagi pembelanja yang takut keliru adalah pagar yang lebih jelas, bukan membuka seluruh pagar. Pagar itu bisa berupa pedoman keputusan bisnis yang tertulis, rapat yang tercatat, dan pemeriksaan yang wajar, sehingga yang jujur terlindungi dan yang culas tetap terjerat. Menghapus pagar demi melindungi pembelanja yang jujur sama saja membiarkan semua orang masuk, termasuk yang tak pernah berniat menyeduh apa pun.

Sebab di sinilah letak masalahnya. Korupsi, dalam pengertian yang kita kenal selama ini, memang tak semata berbentuk amplop di bawah meja. Di dalam buku hukum kita, ia juga mencakup penyalahgunaan wewenang, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, hingga gratifikasi tertentu. Konvensi internasional yang dijadikan rujukan pun, menurut sebagian ahli, tak sesempit judul yang dibawakan. Ia bicara juga tentang penyalahgunaan jabatan, perdagangan pengaruh, penggelapan, dan pencucian uang. Sebagian pakar memang berpendapat sebaliknya, bahwa unsur kerugian negara tak lazim dipakai di banyak negara lain, dan kita patut mendengar mereka. Tapi membaca konvensi setebal itu, lalu hanya mengingat satu kata di sampulnya, yaitu suap, sama saja seperti membeli buku resep lengkap lalu semata menggunakan halaman untuk air putih.

Maka definisi yang menyempit itu mirip baju yang dicuci dengan air panas. Para maling tak menjadi lebih sedikit, hanya bajunya yang menyusut sehingga sebagian tubuhnya tak lagi tertutup. Perilaku yang selama ini dipandang korup, semisal keputusan janggal yang sarat konflik kepentingan namun tanpa bukti amplop, bisa saja menjadi sulit dijangkau hukum. Dan ironisnya, orang yang paling mudah berlindung di balik frasa risiko bisnis justru bukan pembelanja yang jujur. Ia adalah mereka yang paling pandai membuat kerugian terlihat laksama takdir pasar. Di warung kopi mana pun, kata "pardon” itu risiko usaha adalah kalimat favorit orang yang kasnya hilang tanpa kuitansi.

Diriku juga terheran pada jadwalnya. Konon pemerintah dan DPR berencana mengesahkan aturan perampasan aset tindak pidana pada akhir tahun ini, agar hasil kejahatan bisa dirampas dan dikembalikan kepada negara. Rencana yang mulia. Tetapi ada pertanyaan kecil dari meja pojok: bagaimana kita merampas aset dari perbuatan yang definisinya baru saja dipersempit sehingga tidak lagi dianggap korupsi? Pintu gudang disiapkan sebesar-besarnya untuk mengambil kembali barang curian, sementara pagar halaman diperkecil sehingga banyak yang tak lagi terhitung sebagai pencuri. Dua kebijakan itu semestinya berjalan beriringan, tidak saling meniadakan.

Karenanya, jika warung ini sungguh ingin berani sekaligus aman, ada jalan tengah yang tak perlu mengubah makna kata. Perjelas batas antara keputusan bisnis yang wajar dan penyalahgunaan wewenang. Tegaskan perlindungan bagi pengambil keputusan yang beritikad baik dan transparan. Perkuat cara menghitung kerugian agar tidak tampak sembarangan, termasuk menjawab soal siapa yang berwenang menghitung. Dengan begitu, yang jujur tidak takut menyeduh, dan yang culas tidak punya tempat bersembunyi. Satire yang paling pahit sekalipun, pada akhirnya, hanya ingin mengatakan satu hal: jangan perbaiki kebocoran dengan mencabut ember dari bawah talang.

Aku menghabiskan kopiku pelan-pelan. Rasanya masih seperti kopi, tidak lebih pahit dan tak lebih manis. Tapi aku tahu bahwa kopi yang paling mudah diminum adalah kopi yang takarannya jelas, bijinya jelas, kasirnya jelas, dan catatan kasnya terbuka bagi siapa saja yang bertanya. Dan jika satu warung berniat mengubah makna kata bocor, barangkali, yang paling perlu diperiksa bukan lagi kamus, melainkan siapa saja yang kelak akan paling diuntungkan oleh definisi yang baru.

Rabu, 21 Oktober 2026

Mengapa Kopiku Jadi Dingin?

Catatan Warung Kopi tentang Dugaan Tangan dari Seberang dan Kasta yang Mendadak Hendak Diturunkan

Pagi itu warung kopi langgananku bergemuruh. Bukan oleh pertandingan bola, melainkan oleh kabar dari seberang lautan: Morgan Stanley Capital International, penyedia indeks yang menjadi rujukan para investor dunia, sedang menimbang menurunkan kasta pasar saham kita, dari kelas emerging market menjadi standalone market. Indeks harga saham gabungan merosot tajam, dan kopi yang kuseduh pagi itu terasa lebih dingin dan lebih getir dari biasanya. Lalu, seperti biasa, kabar buruk mendapat teman bernama tafsir. Kali ini tafsirnya datang dari seorang mantan menteri perdagangan, lewat video di media sosial pada Senin, 19 Oktober 2026: ia menduga ada tangan-tangan dari negeri tetangga di balik semua ini.

Aku sudah lama mengajari diriku untuk curiga pada kebetulan yang terlalu rapi. Maka mari kita simak dugaan itu dengan kepala dingin, sedingin kopi di depanku. Pertama, soal kastanya. Menurut sang mantan menteri, kasta standalone market lazimnya dipakai untuk negeri-negeri yang memasang pembatasan arus modal, sedangkan warung kita tak pernah mengunci pintu bagi uang yang mau keluar maupun masuk. Mengancam menurunkan kasta warung yang pintunya terbuka lebar dengan alasan bahwa pintunya terkunci, begitu kira-kira logikanya, terdengar seperti menuduh seseorang kurang tidur, padahal ia baru saja membuka mata. Kalau ukurannya tak sesuai, wajar jika orang bertanya siapa yang membuat penggarisnya.

Kedua, soal waktunya. Kabarnya dana-dana asing sudah banyak meninggalkan warung kita lebih dulu, sehingga mereka yang menunggu di luar belum sempat memborong dagangan dengan harga miring. Di saat yang sama, hubungan dua tetangga sedang diselimuti asap, secara harfiah. Negeri di seberang itu rajin sekali mengirim surat peringatan soal asap kebakaran hutan, dengan nada seorang kakak kelas yang sedang membagikan pelajaran moral. Sang mantan menteri menyindir bahwa di saat mereka sibuk menggurui soal asap, permainan mereka ternyata tak berhenti di situ. Diriku hanya bisa membayangkan betapa rapinya sebuah negeri yang begitu peduli pada kualitas udara tetangganya, sampai-sampai kualitas harga saham tetangganya pun ikut dipedulikan.

Ketiga, soal siapa yang diuntungkan, pertanyaan paling tua dalam dunia penyelidikan. Jika kasta warung kita diturunkan, harga dagangan jatuh, dan panik merebak, siapa yang paling siap berdiri di antrean paling depan dengan dompet tebal? Tentu bukan tukang ojek yang tabungannya baru cukup untuk membeli kopi sachetan. Sang mantan menteri menyebut dua institusi investasi raksasa milik negeri itu sebagai pihak yang punya pengaruh besar di MSCI. Pengaruh bukan dosa, tetapi pengaruh yang besar bertemu kepentingan yang besar adalah resep klasik bagi sebuah kecurigaan. Dan rekam jejak, seperti ampas kopi, tidak pernah benar-benar hilang. Satu dari institusi itu pernah dinyatakan melanggar aturan persaingan usaha oleh KPPU dalam perkara kepemilikan di Indosat dan Telkomsel, putusan yang mereka tolak dan lawan dengan keras. Kita tentu tidak boleh menghakimi hari ini dengan perkara kemarin, tetapi kita juga tidak wajib lupa bahwa warung kita pernah merasakan pengaruh itu dari dekat.

Keempat, soal pesan moralnya. Sang mantan menteri menutup videonya dengan seruan agar kita tak mau diadu-adu dan tak mau dibuat minder oleh negeri tetangga. Diriku setuju sepenuh gelas. Ada sesuatu yang sangat khas dari tetangga yang rapi: ia memberi nasihat kepada kita tentang asap, tentang tata kelola, tentang kualitas pasar, tentang segala hal, namun jarang sekali menjelaskan ke mana larinya uang-uang besar yang mampir sebentar di rekening-rekening seberang sana. Tetangga yang paling lancar memberi nasihat kerap kali bukan yang paling bersih tangannya, melainkan yang paling lama berdiri di depan pintu dapur orang lain.

Tentu saja ini baru dugaan. Sampai pemberitaan terakhir yang kubaca, sang mantan menteri belum menampilkan bukti, pihak yang disebut belum menanggapi, dan pengumuman resmi MSCI tak menyebut nama siapa pun sebagai penekan. Tetapi justru karena itulah dugaan ini perlu diuji, bukan dikubur. Jika benar ada tekanan, biarlah terbuka dan dituntaskan di meja yang terang. Jika tidak benar, biarlah itu juga terbukti dengan data, bukan dengan senyum dan kalimat bahwa kita sebaiknya bekerja saja. Warung yang sehat tidak takut pada pertanyaan, dan bangsa yang berharga diri tak boleh malu bertanya mengapa nasibnya selalu diputuskan di ruang-ruang yang tak pernah mengundangnya.

Dan sementara pertanyaan itu menunggu jawaban, dapur kita sendiri pun layak dibereskan. Delapan puluh potong gorengan yang kepemilikannya terlalu terkonsentrasi hendak dikeluarkan dari timbangan oleh pemilik warung, dan itu langkah yang baik. Dengan begitu, jika suatu hari ada penilai dari mana pun yang datang membawa termometernya, kita bisa menyodorkan dapur yang terang sambil berkata dengan dagu terangkat: silakan periksa, kami tak punya apa-apa untuk disembunyikan. Itulah cara terbaik mematahkan sebuah skenario, jika memang ada skenarionya.

Sore harinya, pulang dengan gelas kosong dan kepalaku penuh. Bapak di pojokan masih bercerita tentang tangan-tangan dari seberang, pemilik warung masih menghitung ulang gorengannya, dan di luar hujan turun tanpa peduli siapa yang benar. Daku tak tahu percis siapa yang berdiri di balik pintu itu. Yang kutahu, kopi kita takkan terasa manis selama pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan oleh kegetiran ini dijawab dengan kata "sudahlah". Dan bila suatu hari terbukti ada yang sengaja mendinginkan kopi kita demi membeli ampasnya dengan harga murah, semoga kita ingat satu hal: mereka yang paling sibuk mengurusi asap orang lain, biasanya sedang punya sesuatu yang ingin disembunyikan di balik kabut.