Pada tanggal 28 Mei 2026, di Istana Élysée, Paris, Presiden Prabowo Subianto secara resmi menyatakan bahwa Bahasa Prancis harus diajarkan di semua tingkatan sekolah di Indonesia. Dalam pertemuanya dengan Presiden Emmanuel Macron, beliau menegaskan, “Sekarang, saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar Bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan.” Pernyataan ini menandai langkah diplomatik dan pendidikan yang signifikan, berbeda dengan pernyataan sebelumnya tentang Bahasa Portugis yang disampaikan pada 23 Oktober 2025 di Jakarta saat menjamu Presiden Brasil Lula da Silva, yang hingga kini masih sebatas wacana tanpa tindak lanjut konkret.Di era globalisasi yang terus bergerak dinamis, kemampuan berbahasa asing bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan sebuah keniscayaan strategis. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, menghadapi tantangan sekaligus peluang yang luar biasa dalam menavigasi percaturan global. Salah satu diskursus yang kian relevan adalah wacana mengenai pengajaran bahasa Prancis secara sistematis di sekolah-sekolah Indonesia, mulai dari jenjang menengah hingga perguruan tinggi.Bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan yang lahir dari semangat Sumpah Pemuda 1928, merupakan pilar utama identitas nasional. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan simbol kedaulatan, kebinekaan, dan kohesi sosial bangsa. Oleh karena itu, setiap wacana pengenalan bahasa asing hendaknya diletakkan dalam bingkai yang tegas: bahasa asing adalah tambahan strategis, bukan pengganti atau pesaing bagi bahasa Indonesia.KEUNTUNGAN STRATEGIS PEMBELAJARAN BAHASA PRANCISDI SEKOLAH INDONESIA TANPA MEMINGGIRKAN BAHASA INDONESIAI. TUJUANEsai ini bertujuan untuk menganalisis keuntungan multidimensi yang dapat diraih oleh pelajar dan masyarakat Indonesia apabila bahasa Prancis diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah. Analisis dilakukan melalui lima perspektif utama—ideologis, politis, ekonomi, sosial, dan budaya—serta dilengkapi dengan perbandingan komparatif bahasa Prancis terhadap bahasa asing lainnya yang populer di dunia.II. PERSPEKTIF IDEOLOGISA. Bahasa Indonesia sebagai Simbol PersatuanSecara ideologis, bahasa Indonesia berada pada kedudukan yang tak tertandingi sebagai perekat bangsa. Dalam negara yang memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, bahasa Indonesia berfungsi sebagai jembatan komunikasi antaretnis, antardaerah, dan antargenerasi. Ideologi Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika menjadikan bahasa Indonesia sebagai instrumen pemersatu yang sakral. Oleh karena itu, kebijakan pengajaran bahasa asing apa pun seyogyanya dirancang sedemikian rupa sehingga tidak menggeser, apalagi melemahkan, kedudukan bahasa Indonesia.B. Bahasa Prancis sebagai Tambahan StrategisDalam kerangka ideologis yang sehat, bahasa Prancis dapat diposisikan sebagai aset tambahan yang memperkaya, bukan sebagai ancaman. Penguasaan bahasa Prancis memperluas cakrawala intelektual pelajar Indonesia dengan memberi akses langsung kepada warisan pemikiran pencerahan Eropa, filosofi eksistensialisme, dan tradisi ilmiah yang kaya. Bahasa Prancis juga merupakan bahasa kaum terpelajar global yang telah melahirkan pemikir-pemikir besar seperti Descartes, Voltaire, Rousseau, Sartre, dan Camus—tokoh-tokoh yang pemikirannya turut membentuk peradaban modern.C. Ideologi Kebangsaan: Nasionalisme dan Keterbukaan GlobalIdeologi kebangsaan Indonesia tidak harus bersifat tertutup atau defensif. Nasionalisme yang matang justru ditandai oleh kemampuan untuk terbuka terhadap dunia tanpa kehilangan jati diri. Model ini dapat kita sebut sebagai "nasionalisme terbuka"—sebuah paradigma di mana penguatan identitas domestik berjalan beriringan dengan keterlibatan aktif dalam komunitas global. Dalam konteks ini, pembelajaran bahasa Prancis adalah cerminan dari nasionalisme yang percaya diri: bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu berdialog dengan dunia dalam berbagai bahasa.III. PERSPEKTIF POLITISA. Diplomasi Indonesia–PrancisDari sudut pandang politis, hubungan bilateral Indonesia–Prancis terus menguat dalam beberapa dekade terakhir. Prancis adalah mitra strategis Indonesia dalam berbagai bidang, termasuk pertahanan, teknologi dirgantara, energi nuklir sipil, dan infrastruktur. Kesepakatan pembelian pesawat tempur Rafale senilai miliaran euro mencerminkan kedalaman kemitraan strategis kedua negara. Dalam konteks ini, ketersediaan sumber daya manusia Indonesia yang fasih berbahasa Prancis menjadi kebutuhan diplomatik yang nyata dan mendesak.B. Peran Bahasa Prancis di Organisasi InternasionalBahasa Prancis adalah salah satu dari enam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan bahasa kerja resmi di berbagai lembaga multilateral bergengsi seperti Komite Olimpiade Internasional (IOC), NATO, Uni Eropa, Mahkamah Internasional, UNESCO, dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Diplomat Indonesia yang menguasai bahasa Prancis memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan dalam negosiasi internasional, akses ke dokumen diplomatik, dan membangun jaringan profesional lintas negara yang lebih luas.C. Bahasa Indonesia dalam Kebijakan NasionalSecara politis, penting untuk ditegaskan bahwa kebijakan pengajaran bahasa Prancis harus diletakkan dalam posisi komplementer terhadap bahasa Indonesia. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara telah mengamanatkan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan dalam semua urusan resmi kenegaraan, pendidikan formal, dan dokumen publik. Dengan demikian, bahasa Prancis hanya berperan sebagai kompetensi tambahan yang memperluas kapasitas diplomatik bangsa, bukan sebagai ancaman terhadap supremasi bahasa Indonesia dalam tata kelola negara.IV. PERSPEKTIF EKONOMIA. Peluang Investasi, Perdagangan, dan TeknologiSecara ekonomi, penguasaan bahasa Prancis membuka pintu ke salah satu ekonomi terbesar dunia. Prancis adalah kekuatan ekonomi terbesar ketujuh di dunia berdasarkan PDB nominal dan merupakan rumah bagi perusahaan-perusahaan multinasional terkemuka seperti Total Energies, Airbus, L'Oréal, LVMH, Michelin, Schneider Electric, dan Renault. Selain itu, frankofonisme—komunitas negara-negara berbahasa Prancis—meliputi 29 negara di seluruh dunia, termasuk kawasan Afrika yang sedang tumbuh pesat secara ekonomi. Bagi Indonesia yang tengah memperluas pasar ekspor dan menarik investasi asing, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Prancis adalah aset ekonomi yang tidak ternilai.B. Akses Beasiswa dan Pendidikan Tinggi di PrancisPrancis secara konsisten menempati posisi sebagai salah satu destinasi studi internasional paling diminati di dunia, dengan biaya pendidikan yang relatif terjangkau dibandingkan Amerika Serikat atau Inggris karena sebagian besar disubsidi oleh pemerintah Prancis. Program beasiswa seperti Campus France dan berbagai program Erasmus+ membuka peluang luar biasa bagi pelajar Indonesia. Dengan menguasai bahasa Prancis, pelajar Indonesia dapat mengakses universitas-universitas bergengsi seperti Sorbonne, École Polytechnique, HEC Paris, dan Sciences Po—institusi yang melahirkan pemimpin-pemimpin dunia.C. Daya Saing Tenaga Kerja IndonesiaDi pasar tenaga kerja global yang semakin kompetitif, penguasaan bahasa Prancis secara signifikan meningkatkan nilai jual profesional Indonesia. Perusahaan multinasional Prancis yang beroperasi di Indonesia, industri pariwisata yang melayani wisatawan frankofon, serta lembaga-lembaga internasional yang berbasis di kawasan Afrika berbahasa Prancis semuanya membutuhkan tenaga kerja yang kompeten secara linguistik. Kemampuan berbahasa Prancis juga sering kali dikombinasikan dengan keahlian teknis untuk menciptakan profil profesional yang sangat langka dan bernilai tinggi.V. PERSPEKTIF SOSIALA. Mobilitas Sosial melalui Bahasa AsingDari perspektif sosial, penguasaan bahasa asing telah terbukti secara empiris sebagai salah satu faktor penting dalam mobilitas sosial. Individu yang menguasai lebih dari satu bahasa asing umumnya memiliki akses yang lebih luas terhadap peluang pendidikan, pekerjaan, dan jaringan sosial. Dalam masyarakat Indonesia yang masih terus berjuang dengan kesenjangan sosial-ekonomi, kemampuan berbahasa Prancis dapat menjadi equalizer—instrumen demokratisasi peluang yang memungkinkan individu dari berbagai latar belakang untuk meraih kemajuan.B. Jaringan Global FrankofonKomunitas frankofon global terdiri dari lebih dari 321 juta penutur di seluruh dunia, tersebar di lima benua. Bergabung dengan komunitas ini memberikan akses kepada jaringan sosial, profesional, dan intelektual yang sangat luas. Forum-forum frankofon internasional, festival film, kongres ilmiah, dan platform media berbahasa Prancis menciptakan ruang pertukaran ide yang kaya. Pelajar Indonesia yang fasih berbahasa Prancis dapat berpartisipasi aktif dalam ekosistem global ini, memperluas perspektif, dan membawa wawasan baru kembali ke Indonesia.C. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Komunikasi UtamaPenting untuk digarisbawahi bahwa penguasaan bahasa Prancis tidak akan, dan tidak seharusnya, menggeser bahasa Indonesia sebagai media komunikasi utama dalam kehidupan sosial sehari-hari masyarakat Indonesia. Bahasa Indonesia akan terus berfungsi sebagai bahasa rumah, bahasa komunitas, dan bahasa demokrasi. Bahasa Prancis hanyalah salah satu lapisan dari kompetensi linguistik yang dimiliki oleh warga Indonesia yang terdidik—sebuah keterampilan yang diaktifkan dalam konteks tertentu tanpa menggantikan kesetiaan fundamental kepada bahasa ibu nasional.VI. PERSPEKTIF BUDAYAA. Wawasan Seni, Sastra, dan Falsafah DuniaSecara budaya, bahasa Prancis adalah jendela menuju salah satu tradisi intelektual dan artistik terkaya dalam sejarah manusia. Sastra Prancis telah menghasilkan pemenang Nobel terbanyak dari satu negara tunggal, dengan nama-nama seperti Albert Camus, Jean-Paul Sartre, Samuel Beckett (penulis berbahasa Prancis), dan Annie Ernaux. Dalam seni rupa, gerakan Impresionisme yang lahir di Prancis telah mengubah cara manusia memandang dunia. Dalam musik, Prancis telah melahirkan tradisi lagu chanson yang khas dan berpengaruh. Mengakses kekayaan budaya ini dalam bahasa aslinya memberikan kedalaman apresiasi yang tidak dapat diperoleh melalui terjemahan semata.B. Apresiasi Lintas BudayaPembelajaran bahasa Prancis tidak hanya membuka akses ke budaya Prancis semata, tetapi ke seluruh spektrum budaya frankofon yang beragam—dari kebudayaan Maghreb di Afrika Utara, hingga budaya Afrika Sub-Sahara yang dinamis, dari tradisi Québec yang unik di Amerika Utara, hingga kebudayaan kepulauan Pasifik yang eksotis. Keberagaman ini mendorong berkembangnya sikap empati, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan—nilai-nilai yang sangat selaras dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar kehidupan berbangsa Indonesia.C. Sinergi Budaya Lokal dan GlobalDalam paradigma glokalisasi—perpaduan antara globalisasi dan lokalisasi—kemampuan berbahasa Prancis dapat menjadi wahana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke panggung dunia. Seniman, penulis, dan budayawan Indonesia yang menguasai bahasa Prancis dapat secara langsung mempromosikan batik, gamelan, wayang, kuliner Nusantara, dan kekayaan budaya lokal lainnya kepada komunitas frankofon global. Ini bukan subordinasi budaya, melainkan dialog budaya yang setara dan bermanfaat bagi kedua pihak.Untuk mengukur keunggulan relatif bahasa Prancis, diperlukan analisis komparatif yang jujur terhadap bahasa-bahasa asing lain yang berelevansi potensial bagi Indonesia:A. Bahasa Prancis
- Bahasa resmi di 29 negara di lima benua, digunakan oleh lebih dari 321 juta penutur.
- Bahasa kerja resmi di PBB, WTO, NATO, IOC, Mahkamah Internasional, dan Uni Eropa.
- Kekuatan budaya, diplomatik, dan akademik yang tak tertandingi secara global.
- Akses ke ekosistem beasiswa, riset, dan pendidikan tinggi berkualitas dengan biaya relatif terjangkau.
B. Bahasa BelandaBahasa Belanda memiliki relevansi historis bagi Indonesia mengingat lebih dari tiga abad penjajahan kolonial. Namun, cakupan globalnya sangat terbatas—hanya digunakan di Belanda, Belgia (bersama bahasa Prancis dan Jerman), dan beberapa wilayah Karibia kecil. Relevansinya dalam diplomasi multilateral, bisnis global, dan budaya dunia jauh lebih kecil dibandingkan bahasa Prancis. Selain itu, ada dimensi psikologis yang perlu dipertimbangkan: mengharuskan pelajar Indonesia mempelajari bahasa penjajah dapat menimbulkan resistensi identitas yang kontraproduktif.C. Bahasa MandarinBahasa Mandarin adalah bahasa dengan jumlah penutur asli terbanyak di dunia dan sangat penting dalam konteks hubungan ekonomi Indonesia–China yang terus menguat. Namun, sistem penulisan karakter Tionghoa (hanzi) yang sangat kompleks menjadikan proses pembelajaran jauh lebih panjang dan intensif—membutuhkan waktu dua hingga tiga kali lebih lama dibandingkan bahasa Eropa untuk mencapai tingkat kecakapan yang setara. Di sisi lain, Mandarin memiliki peran yang sangat terbatas dalam forum diplomatik multilateral dan lembaga-lembaga internasional di luar kawasan Asia-Pasifik.D. Bahasa RusiaBahasa Rusia memiliki relevansi dalam bidang energi, teknologi antariksa, dan kajian militer. Sebagai bahasa resmi PBB, ia juga memiliki bobot diplomatis. Namun, cakupan globalnya terbatas terutama pada kawasan Eurasia dan bekas negara-negara Soviet. Situasi geopolitik terkini yang menempatkan Rusia dalam posisi terisolasi di banyak forum internasional semakin membatasi utilitas praktis bahasa Rusia di luar konteks spesifik. Dibandingkan bahasa Prancis, bahasa Rusia menawarkan jaringan kultural dan diplomatik yang jauh lebih sempit bagi generasi muda Indonesia.E. Bahasa SpanyolBahasa Spanyol adalah bahasa yang populer dan relatif mudah dipelajari, terutama bagi penutur bahasa-bahasa Roman. Dengan lebih dari 580 juta penutur di seluruh dunia, terutama di Amerika Latin, bahasa Spanyol memiliki potensi pasar yang besar. Namun, secara strategis, hubungan bilateral Indonesia dengan negara-negara berbahasa Spanyol masih relatif terbatas dibandingkan dengan Prancis. Peran bahasa Spanyol dalam organisasi multilateral yang paling relevan bagi Indonesia juga lebih kecil. Meski demikian, bahasa Spanyol tetap merupakan pilihan menarik sebagai bahasa ketiga atau keempat yang dapat dipelajari setelah bahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis.F. Bahasa ArabBahasa Arab memiliki makna yang sangat mendalam bagi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Relevansinya bersifat multidimensi: keagamaan (sebagai bahasa Al-Qur'an dan literatur Islam klasik), ekonomi (perdagangan dengan negara-negara Timur Tengah), dan demografis (tenaga kerja migran di kawasan Teluk). Namun, dalam konteks diplomasi multilateral, teknologi, dan akses pendidikan tinggi internasional, peran bahasa Arab masih lebih terbatas dibandingkan bahasa Prancis. Bahasa Arab juga memiliki sistem tulisan yang berbeda dari alfabet Latin, yang menambah tantangan pembelajaran.G. Analisis Komparatif: Mengapa Bahasa Prancis UnggulBerdasarkan analisis komparatif di atas, bahasa Prancis tampil sebagai pilihan yang paling unggul secara strategis karena ia menawarkan keseimbangan optimal antara empat dimensi: (1) bobot diplomatik global yang diakui dalam lembaga-lembaga multilateral terpenting; (2) daya ungkit ekonomi melalui akses ke pasar frankofon dan perusahaan-perusahaan multinasional Prancis; (3) kedalaman warisan budaya dan intelektual yang kaya; serta (4) aksesibilitas pembelajaran yang relatif baik karena menggunakan alfabet Latin dan memiliki banyak kosakata serapan ke dalam bahasa Indonesia melalui bahasa Belanda dan Inggris. Tiada bahasa lain yang secara bersamaan memenuhi keempat kriteria ini dengan tingkat keunggulan yang sebanding.Bahasa Prancis telah diadopsi sebagai bahasa resmi atau bahasa kedua di berbagai negara di Eropa, Afrika, Amerika, dan Oseania. Di Eropa, bahasa ini merupakan bahasa utama di Prancis dan Monako, serta berbagi status resmi di Belgia, Swiss, dan Luksemburg. Di Afrika, bahasa Prancis berfungsi sebagai bahasa administrasi dan pendidikan di banyak negara seperti Senegal, Côte d’Ivoire, Mali, Niger, Burkina Faso, Kamerun, Republik Demokratik Kongo, dan Gabon, di mana bahasa ini menjadi lingua franca di tengah keragaman bahasa lokal. Di Amerika, bahasa Prancis berstatus resmi di Kanada, khususnya di Quebec dan New Brunswick, serta digunakan di Haiti bersama bahasa Kreol Haiti. Di Oseania, Vanuatu mengakui bahasa Prancis sebagai salah satu dari tiga bahasa resminya, sementara beberapa wilayah Pasifik yang berada di bawah administrasi Prancis juga menggunakan bahasa ini secara luas. Meski negara seperti Vietnam tidak lagi memberikan status resmi, bahasa Prancis tetap dihormati sebagai bahasa kedua dalam pendidikan dan diplomasi. Secara keseluruhan, bahasa Prancis dituturkan oleh sekitar tiga ratus juta orang di seluruh dunia, mayoritas sebagai bahasa kedua, dan terus dihargai sebagai medium komunikasi internasional, budaya, dan diplomasi.Bahasa Prancis memiliki posisi unik di antara bahasa-bahasa besar dunia, dan perbandingan dengan bahasa lain memperlihatkan keunggulan serta keterbatasannya. Bahasa Inggris jelas mendominasi sebagai lingua franca global, terutama dalam bisnis, sains, dan teknologi, tetapi bahasa Prancis tetap mempertahankan status diplomatik yang kuat, digunakan secara resmi di PBB, Uni Eropa, NATO, dan UNESCO. Bahasa Mandarin unggul dalam jumlah penutur dan relevansi ekonomi karena kebangkitan China, namun kesulitan belajar dan keterbatasan penggunaannya di luar Asia membuatnya kurang universal dibanding Prancis. Bahasa Spanyol memiliki jangkauan luas di Amerika Latin dan Spanyol, serta relatif mudah dipelajari bagi penutur bahasa Indonesia, tetapi pengaruhnya dalam diplomasi global tidak sekuat Prancis. Bahasa Arab penting dalam konteks agama dan tenaga kerja migran, namun lebih terbatas secara regional. Sementara itu, Bahasa Rusia relevan di bidang energi dan militer, tetapi citra politiknya menjadikan penggunaannya kurang luas.
Dengan demikian, bahasa Prancis menempati posisi yang seimbang: tidak sebesar Inggris dalam globalisasi, tak sebanyak Mandarin dalam jumlah penutur, dan tidak sepopuler Spanyol di Amerika Latin, tetapi ia memiliki kekuatan diplomasi, budaya, dan pendidikan internasional yang menjadikannya bahasa strategis bagi Indonesia.
VIII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASIBerdasarkan analisis komprehensif dari perspektif ideologis, politis, ekonomi, sosial, dan budaya, serta perbandingan komparatif dengan bahasa-bahasa asing lainnya, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Prancis di sekolah-sekolah Indonesia membawa keuntungan strategis yang nyata dan multidimensi. Bahasa Prancis bukan sekadar bahasa komunikasi, melainkan sebuah kunci pembuka akses ke jaringan diplomatik global, ekosistem pendidikan berkelas dunia, kekayaan intelektual dan artistik yang tak ternilai, serta peluang ekonomi yang luas.Namun, keuntungan-keuntungan ini hanya dapat diraih secara optimal dalam bingkai yang tepat: bahasa Indonesia harus tetap menjadi inti dari identitas nasional, bahasa utama dalam pendidikan formal, dan fondasi kokoh dari seluruh kebijakan kebahasaan nasional. Bahasa Prancis hadir sebagai tambahan yang memperkaya, bukan sebagai ancaman yang menggantikan.Oleh karena itu, esai ini merekomendasikan agar pemerintah Indonesia merumuskan kebijakan bilingual yang seimbang dan terencana dengan baik, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
- Memperkuat pengajaran bahasa Indonesia sebagai fondasi yang tak tergoyahkan di semua jenjang pendidikan, termasuk melalui revitalisasi sastra Indonesia dan apresiasi kekayaan bahasa daerah.
- Mengintegrasikan bahasa Prancis sebagai mata pelajaran pilihan atau program peminatan di tingkat SMA dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), terutama di jurusan-jurusan yang berkaitan dengan hubungan internasional, pariwisata, dan bisnis global.
- Membangun kemitraan strategis dengan lembaga-lembaga seperti Institut Français d'Indonésie (IFI) dan Agence universitaire de la Francophonie (AUF) untuk mendukung pelatihan guru, pengembangan kurikulum, dan program pertukaran pelajar.
- Menjamin bahwa kebijakan bahasa Prancis tidak menggeser alokasi sumber daya dan perhatian yang seharusnya diberikan kepada penguatan bahasa Indonesia dan pemeliharaan bahasa-bahasa daerah yang merupakan kekayaan budaya tak ternilai bangsa Indonesia.
Pada akhirnya, visi yang hendak dicapai adalah melahirkan generasi Indonesia yang berdiri tegak dengan akar identitas nasional yang kuat, sementara pada saat yang sama mampu menjangkau dan berkontribusi kepada dunia dengan penuh percaya diri—termasuk melalui penguasaan bahasa Prancis sebagai salah satu wahana keterlibatan globalnya. Ini bukan pilihan antara nasionalisme dan kosmopolitanisme; ini adalah sintesis keduanya dalam sosok warga negara Indonesia yang utuh, cerdas, dan berdaya.Sebagai penutup esai ini, tembang “Love Story” karya Indila menjadi simbol harmoni antara bahasa, budaya, dan emosi manusia yang melintasi batas negara. Melalui melodi dan liriknya yang lembut, tembang ini mengingatkan kita bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan perasaan dan pemahaman antarbangsa—sebagaimana hubungan yang kini terjalin antara Indonesia dan Prancis.
REFERENSIFishman, J. A. (1972). The Sociology of Language. Newbury House Publishers.Graddol, D. (2006). English Next. British Council.Institut Français d'Indonésie. (2023). Rapport Annuel 2023. IFI Jakarta.Organisation Internationale de la Francophonie. (2022). La Langue Française dans le Monde. OIF.Perserikatan Bangsa-Bangsa. (2023). Official Languages of the United Nations. UN Publications.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Weber, G. (1997). The World's 10 Most Influential Languages. Language Today, 2, 12–18.Weinreich, U. (1953). Languages in Contact: Findings and Problems. Linguistic Circle of New York.Zein, S. (2020). Language Policy in Superdiverse Indonesia. Routledge.



