Minggu, 22 Maret 2026

Opera Kodok (1)

Sebelum Tirai Opera Kodok Dibuka

Ada tradisi yang aneh namun konsisten di panggung kehidupan publik Indonesia, yaitu tradisi transparansi yang tak disengaja. Bukan transparansi yang lahir dari itikad baik, melainkan transparansi jenis lain—yang muncul ketika istri seorang tahanan, datang menjenguk suaminya di hari Lebaran, tanpa sengaja membocorkan kepada wartawan bahwa sang tetangga sel, yang kasusnya tak kalah besar, ternyata sudah tidak lagi menghuni sel mana pun.

Tokoh yang dimaksud ialah Yaqut Cholil Qoumas, mantan Menteri Agama Republik Indonesia, seorang yang, dalam penampilan publiknya selama ini memancarkan aura kealiman yang tak bisa dikatakan kecil. Ia telah dipindahkan dari ketidaknyamanan rutan KPK menuju kenyamanan rumahnya sendiri. Tanpa pengumuman. Tanpa siaran pers. Tanpa transparansi—yang sungguh mengherankan, sebab transparansi itu tertulis tegas dalam undang-undang pendirian KPK sebagai asas utama, layaknya kejujuran yang diukir di atas pintu masuk lembaga-lembaga yang telah diam-diam meninggalkannya.

Bahwa pengalihan penahanan semacam ini belum pernah terjadi sepanjang sejarah berdirinya KPK diperlakukan oleh Komisi tersebut sebagai hal yang biasa-biasa saja—sebuah kebaruan administratif kecil, lagaknya seseorang yang mencoba resep kue baru. Bahwa tersangka yang bersangkutan kebetulan adalah adik kandung Ketua Umum organisasi Islam terbesar di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia—itu, tentu saja, semata-mata kebetulan. Lembaga-lembaga Republik tak membungkuk pada tekanan kekeluargaan. Mereka mengatakannya sendiri, berkali-kali, dengan penuh keyakinan—yang tentu saja selalu melegakan.

Publik, pada gilirannya, tak sepenuhnya terkesan. Di TikTok—forum filosofi politik kontemporer Indonesia yang paling sahih—sembilan puluh dua persen komentar menuntut hukuman berat. Delapan persen sisanya mungkin masih berkerabat dengan seseorang. Para mantan penyidik KPK berbicara tentang "intervensi sistemik." Para aktivis menyebut proses ini sebagai sandiwara. Mereka, tanpa menyadarinya, lebih dekat pada kebenaran daripada yang mereka sangka—sebab apa yang mereka saksikan bukanlah sekadar anomali hukum, melainkan babak pembuka dari sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih kaya kandungan budayanya: Opera Kodok—dimana tokoh yang merasa penting berkoar sekeras-kerasnya, sementara perlahan, dengan nyaman, ia kembali tenggelam ke dalam lumpur tempat ia berasal.

Ke tradisi inilah—sejarahnya, simbolismenya, dan relevansinya yang tak lekang oleh waktu—kini kita berpaling. 
Katak, Kodok, dan Takhta
Dari Wayang Sampai Meme: Kisah Panjang Amfibi dan Kekuasaan di Asia

Sebelum kita ngomongin katak dan kodok sebagai simbol kekuasaan, ada satu hal penting yang perlu diluruskan dulu: keduanya itu beda, dan bedanya bukan cuma soal biologi—tapi juga soal politik.

Dalam bahasa Inggris, frog itu katak: kulitnya halus, badannya ramping, hidupnya di air, lompatannya jauh. Sedangkan toad itu kodok: kulitnya kasar berbenjol-benjol kayak jalanan rusak, badannya gendut, dan lebih suka jalan kaki di tanah kering daripada nyemplung ke kolam. Singkatnya: katak itu atletis dan fotogenik, kodok ... enggak.

Nah, dalam bahasa Indonesia, perbedaan ini ternyata lebih dalam lagi. Katak itu kata yang formal dan serius—cocok buat buku pelajaran dan laporan ilmiah. Tapi kodok? Kodok itu kata yang sarat satire. Coba bayangin: kalau ada yang marah-marah ke dirimu, mereka nggak bakal bilang "Dasar katak!" Yang terucap mestilah "Dasar kodok!" Karena kodok itu secara naluriah terasa lucu sekaligus merendahkan—perpaduan sempurna untuk mengolok-olok orang yang sok penting.
"Katak duduk di dalam sumur dan menyangka langit selebar mulut sumur. Kodok duduk di atas takhta dan mengira kerajaannya, seluas perutnya." 
— Peribahasa rakyat Asia Tenggara
Perbedaannya kecil tapi berisi inilah yang jadi kunci seluruh esai ini. Karena ternyata, ribuan tahun sejarah politik Asia, dapat dibaca lewat dua kata sederhana: katak dan kodok.
 
Katak adalah Bintang Langit—Literally

Zaman dulu di Tiongkok, katak bukan makhluk sembarangan. Bulan—yang waktu itu dianggep sebagai pengatur alam semesta—dipercaya menyimpan seekor kodok berkaki tiga di dalamnya: namanya Chan Chu (蟾蜍). Kodok kosmik ini, konon, menelan bulan sewaktu gerhana terjadi. Kedengarannya aneh? Mungkin. Tapi buat orang-orang yang hidupnya bergantung pada musim panen dan siklus bulan, ini serius banget.

Di Asia yang dikuasai musim hujan, katak punya kekuatan tersembunyi: begitu mereka mulai ribut berkoar, artinya hujan mau turun. Dan hujan artinya padi tumbuh. Padi tumbuh, artinya rakyat kenyang. Rakyat kenyang artinya raja aman. Jadi penguasa yang bisa "deket" dengan simbol katak secara tak langsung sedang bilang: "Gue punya koneksi langsung sama alam." Itu levelnya beda—bukan sekadar klaim politikal biasa, tapi klaim kosmis.

Bejana perunggu Dinasti Han menampilkan katak berdampingan dengan naga sebagai penjaga sumber air. Di Vietnam tengah, kerajaan Cham mengukir motif katak di candi-candi mereka. Intinya: katak di sini adalah simbol legitimasi. Siapa saja yang punya kaitan dengan katak, punya mandat dari langit. Keren, 'kan?
 
Tapi, Ada Juga Kodok, yang Sok Jadi Raja

Oke, cerita bagusnya sudah. Sekarang masuk ke bagian yang lebih seru: kodok sebagai bahan ledekan politik kelas tinggi.

Di balik kemegahan keraton, di sudut-sudut warung, dan dalam bisikan sang dalang, ada tradisi lain yang hidup subur: tradisi mengolok-olok penguasa lewat sosok kodok. Karakternya jelas: gendut, sombong, koar-koar soal kehebatan diri, padahal cuma berjongkok di lumpur. Ini bukan cuma kebetulan—ini blueprint pemimpin buruk yang berlaku lintas zaman dan lintas budaya.

Dalam fabel Aesop yang masuk ke Asia Tenggara lewat jalur Persia dan India, ada cerita kodok yang pengen jadi sebesar sapi. Ia menggelembungkan dirinya... menggelembung terus... sampai meledos. Orang Jawa yang nonton wayang paham banget maksudnya: ini soal wahyu—mandat ilahi yang harus sesuai dengan kapasitas orangnya. Kalau kapasitasnya kodok tapi gayanya naga, ya tinggal tunggu waktu meleduk aja.

Nah, dari sinilah lahir yang namanya Opera Kodok. Bayangkan ini seperti stand-up comedy versi abad ke-17: rombongan seniman keliling yang pentas di pasar desa atau di depan keraton, memainkan sosok raja-kodok yang konyol dan serakah. Semua orang tahu siapa yang dimaksud. Tapi karena yang dikritik itu "cuma" kodok rekaan, sang penguasa susah marah secara resmi. Ini namanya kritik berkedok fiksi—dan sudah ada jauh sebelum era Twitter.
"Dalam Opera Kodok, penonton tertawa. Di istana, sang menteri gemetar. Sang dalang tahu bahwa tawa dan gemetar itu adalah hal yang sama." 
— Dikaitkan dengan penulis kronik Keraton Mataram, sekitar abad ke-17
Katak dalam Sumur: Ketika Penguasa Nggak Mau Update

Pernah dengar istilah "katak dalam tempurung"? Nah, versi aslinya dari Tiongkok dan lebih dalam lagi: jing di zhi wa (井底之蛙)—katak di dasar sumur. Ceritanya begini: seekor katak tinggal di dalam sumur yang dalam. Ia melihat langit setiap hari, tapi yang terlihat cuma lingkaran kecil di atas sana. Ia pun yakin: itulah langit. Itulah seluruh dunia. Ia tak salah niat—ia hanya tak pernah keluar dari sumurnya.

Yang menarik, katak dalam sumur ini bukan kodok. Tragedinya bukan karena jahat atau serakah, tapi karena terbatas dan tak mau tahu. Dan justru itulah yang membuatnya lebih berbahaya secara politik. Seorang pemimpin yang korup masih bisa diajak deal. Tapi pemimpin yang genuinely tak paham keadaan dunia—yang hidup dalam gelembung informasinya sendiri—itulah yang bisa menghancurkan negara tanpa sadar.

Contoh nyatanya banyak. Para reformis Tiongkok di akhir Dinasti Qing pakai metafora ini untuk menjelaskan kenapa Keraton Manchu gagal total menghadapi gempuran industri Barat: bukan karena mereka bodoh, tapi lantaran mereka sudah terlalu lama di dalam sumur peradaban mereka sendiri dan menyangka tembok sumur itulah, batas dunia. Perencana militer Jepang di Perang Dunia II? Sama. Jenius di bidangnya, tapi terperangkap dalam asumsi-asumsi yang tak pernah mereka pertanyakan. Joseon Korea pada 1890-an yang meremehkan modernisasi Jepang? Juga sama. Sumur yang berbeda, tragedi yang serupa.
Moral of the story: pemimpin yang nggak mau keluar dari zona nyaman informasinya adalah katak dalam sumur yang berbahaya—bukan karena niat jahat, tapi karena tidak sadar betapa sempitnya langit yang ia lihat.
 
Opera Kodok: Seni Mengkritik Tanpa Ditangkap

Oke, sekarang kita masuk ke bagian paling menarik: bagaimana orang-orang zaman dulu mengkritik penguasa tanpa nyawa melayang?

Di era dimana ngomong "Raja salah" bisa berujung pada pancung, para seniman Asia mengembangkan seni tersendiri: kritik terselubung. Di Opera Beijing, warna wajah aktor sudah cukup memberitahu penonton siapa yang jahat dan siapa yang baik tanpa satu kata pun diucapkan. Tapi sosok kodok punya keunggulan ekstra: ia tak cuma jahat, tapi absurd. Dan absurditas itu senjata yang lebih tajam dari tuduhan kejahatan sekalipun. Kenapa? Karena penjahat bisa dipenjarakan, tapi lelucon tak bisa ditangkap.

Di dunia wayang kulit Jawa, strategi ini dijalankan lewat para punakawan: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Merekalah pelawak resmi yang boleh ngomong apa saja karena penampilan fisik mereka yang "tak layak" secara estetis—gempal, mata melotot, hidung besar—menempatkan mereka di luar hierarki keseriusan. Khususnya Bagong: dengan mata melotot dan badan gendutnya, ia kodok yang berjalan tegak. Dan justru Bagong lah yang paling sering menusuk kesombongan para ksatria bangsawan dengan komentar-komentar yang, kalau diucapkan orang biasa, bisa berakhir dengan eksekusi.

Intinya: di seluruh Asia, ada kesepakatan tak tertulis bahwa tubuh yang lucu dan makhluk yang menggelikan punya hak istimewa dalam berbicara "blokosuto". Katak yang licin melambangkan pemimpin yang sah. Kodok yang berbenjol melambangkan penguasa yang sudah busuk dari dalam. Dan semua orang yang nonton tahu persis siapa yang dimaksud—tanpa perlu ada yang namanya menyebut nama.
 
Kodok Perang: Ketika Nafsu Ekspansi Tak Kenal Batas

Kalau katak dalam sumur adalah soal pemimpin yang buta karena tak mau tahu, maka kodok yang menggelembung adalah soal pemimpin yang buta karena terlalu bernafsu. Dan keduanya bisa memulai perang.

Contoh paling dramatis: Dinasti Konbaung dari Burma di abad ke-18. Mereka menyerbu Siam berkali-kali hingga akhirnya menghancurkan total Kerajaan Ayutthaya pada 1767—sebuah luka yang sampai sekarang masih terasa dalam memori kolektif Thailand. Sejarawan Keraton Thai waktu itu, menggambarkan Burma dengan metafora kodok menggelembung: makhluk yang terus mengembangkan diri tanpa sadar bahwa ada batas dimana beratnya sendiri akan menghancurkannya. Raja Alaungpaya memang jenius militer—tiada yang menyangkalnya. Tapi catatan sejarahnya berbunyi: ambisi tanpa kearifan, kekuatan tanpa keseimbangan. Klasik kodok.

Di era modern, kodok militer ini sudah berevolusi. Ia tak lagi hanya ada di panggung wayang atau kronik keraton—ia sekarang hidup di karikatur editorial, meme politik, dan thread Twitter yang viral. Gambar kodok gendut berbenjol mengenakan seragam militer dengan medali palsu berjejer? Itu bukan cuma humor internet. Ia kelanjutan dari tradisi satire politik ribuan tahun yang sama, cuma medianya berganti dari panggung bambu ke layar smartphone.
"Katak memerintah dalam diam dan pengabdian. Kodok memerintah dalam kebisingan dan nafsu. Keduanya dibutuhkan oleh ekosistem. Hanya satu yang dibutuhkan negara." 
— Aforisme politik Indonesia kontemporer
Penutup: Dua Kata, Satu Kebenaran Politik

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari semua ini? Ternyata, dua kata sederhana dalam bahasa Indonesia—katak dan kodok—menyimpan sistem penilaian politik dan sudah dipakai selama ribuan tahun.

Simbol-simbol kekuasaan yang "keren" seperti naga, phoenix, atau gunung suci bisa memberitahu kita seperti apa pemimpin yang ideal. Tapi hanya katak dan kodok yang bisa memberitahu kita dengan jujur seperti apa pemimpin yang nyata—terutama yang gagal. Katak adalah standar: halus, lincah, tahu tempatnya, tak berpura-pura jadi sesuatu yang bukan dirinya. Kodok adalah cermin: benjol, koar-koar, menggelembung, dan akhirnya hancur oleh beratnya sendiri.

Opera Kodok bukan sekadar menghibur—ia menakar. Setiap kali dalang memainkan sosok kodok di atas takhta, penonton tak hanya tertawa. Mereka sedang melakukan sesuatu yang lebih serius: menghitung seberapa jauh penguasa mereka sudah bergeser dari katak menjadi kodok. Dan ketika tawa penonton semakin keras, itu artinya jaraknya semakin jauh.

Dalam sejarah panjang Asia, pedang memang bisa menjatuhkan tiran. Tapi acapkali, yang lebih efektif adalah tawa—gelak yang muncul ketika penonton sebuah Opera Kodok menyadari, dalam diam, bahwa makhluk yang sedang mereka tonton itu, bukan karakter fiksi sama sekali.

Dan hari ini, di era meme dan media sosial, Opera Kodok masih terus mentas. Panggungnya cuma pindah ke timeline kita masing-masing.


[Bagian 2]

Perang: Para Penyintas, Ingatan, dan Tanggungjawab Moral (19)

Perang, di balik kebrutalannya, ternyata menyimpan inspirasi yang tak terduga—dan Perang Dunia Kedua, yang membunuh puluhan juta orang dan memindahkan ratusan juta lainnya, barangkali yang paling paradoksal dari semuanya. Bahwa konflik paling merusak dalam sejarah umat manusia juga melahirkan mekarnya bakat sastra yang luar biasa tetap menjadi salah satu ironi sejarah yang paling tak nyaman; dan bahwa Hitler—yang sama sekali tak berniat melahirkan penulis-penulis besar—berhasil melakukannya dengan begitu gamblang, tetap menjadi, agaknya, butir paling tak disambut dalam seluruh warisannya.

Ada buku-buku yang judulnya saja sudah cukup membuat pembaca terperanjat, mengernyitkan kening, atau dengan seketika meletakkannya kembali ke rak toko buku. Hitler Saved My Life adalah salah satunya. Tapi kalau dikau sedikit saja memberanikan diri membuka halaman pertamanya, dirimu bakal menemukan sesuatu yang sama sekali tak engkau duga: sebuah memoir yang jenaka, emosional, filosofis, dan pada akhirnya—amat menyentuh.

Buku ini ditulis oleh Jim Riswold (1957–2024), seorang legenda dunia periklanan Amerika. Ia otak di balik iklan-iklan Nike yang ikonik pada era 1990-an—termasuk kampanye Michael Jordan, Bugs Bunny, dan Charles Barkley. Akan tetapi, dikala leukemia dan kanker prostat menyerangnya sekaligus, Riswold meninggalkan kursi direktur kreatifnya dan melakukan sesuatu yang tak terduga: ia menjadi seniman. Bukan sembarang seniman—ia menjadi pembuat foto-foto satire yang menampilkan miniatur-miniatur Hitler, Mussolini, Stalin, Mao, dan Kim Jong-Il dalam posisi-posisi yang menggelikan dan merendahkan.

Ketika Hitler Menyelamatkan Nyawa Seseorang
Seni, Satire, dan Filosofis dalam Buku Memoir Jim Riswold yang Provokatif

Mainan Hitler dan Logika Satire

Pertanyaan pertama yang wajar muncul adalah: mengapa Hitler? Mengapa bukan sekadar melukis pemandangan atau membuat patung abstrak yang menenangkan jiwa?

Riswold sendiri memberikan jawaban yang paling jelas dalam esainya. Ia menjelaskan bahwa mainan, menurut definisinya, membuat subjeknya tampak kecil, kekanak-kanakan, dan tak berharga—kebalikan mutlak dari mitos keagungan yang selama ini menyelimuti para diktator itu.
"Alih-alih memberikan uraian besar yang memitoskan diktator, mainan, menurut definisinya, membuat subjeknya tampak kecil, kekanak-kanakan, dan bikin gerah." — Jim Riswold, Esquire, 2005
Logika inilah satire yang berakar panjang dalam sejarah seni dan politik. Sejak zaman pamflet-pamflet revolusi Prancis yang menggambarkan raja dalam pose memalukan, hingga Charlie Chaplin yang mengolok-olok Hitler dalam The Great Dictator (1940), tradisi mempergunakan tawa sebagai senjata melawan tirani bukanlah hal baru. Yang membuat Riswold istimewa adalah konteks pribadinya: ia melakukan ini bukan sebagai aktivis politik, melainkan sebagai seorang lelaki yang sedang berjibaku dengan kematian.

Dalam foto-fotonya, Hitler digambarkan sedang bermain teko minum, Mussolini mengendarai sepeda roda tiga, Stalin berendam di bak mandi. Efeknya bukan sekadar lucu—ada sesuatu yang secara psikologis melepaskan diri. Dengan memperlakukan figur-figur yang pernah menginspirasi ketakutan kolosal itu sebagai benda mainan yang bisa diatur-atur sesuka hati, Riswold melakukan apa yang tidak bisa dilakukan kemoterapi: ia mengambil kembali rasa kuasanya atas sesuatu yang tidak dapat ia kendalikan.

Kanker sebagai Musuh yang Setara

Buku ini tak cuma mengolok-olok para diktator. Sasaran satire Riswold yang sama kerasnya adalah kanker itu sendiri—dan, yang lebih mengejutkan, industri menyedihkan yang sering melingkupi penyakit tersebut.

Ada semacam konvensi tak tertulis dalam narasi tentang kanker: penderita harus tampil gagah, tegar, penuh harapan, bersyukur atas setiap hari yang tersisa, dan jika mungkin, menemukan makna spiritual dalam penderitaannya. Riswold menolak semua itu dengan cara yang nyeleneh. Ia memilih untuk marah, mengumpat, bercanda kotor, dan mengolok-olok prosedur medis menakutkan, yang harus ia jalani—mulai dari biopsi dengan jarum besar, suntikan interferon yang menyiksa, hingga radiasi yang membuat tubuhnya terasa seperti roti yang dipanggang dari dalam.

New York Journal of Books menyebutnya sebagai kisah kanker versi Blazing Saddles—merujuk pada film komedi koboi karya Mel Brooks yang terkenal dengan humornya, yang sengaja menerobos batas-batas kesopanan.

Tapi di balik semua kekasaran itu ada kejujuran yang menyentuh. Riswold tak berpura-pura bahwa sakit itu mudah. Ia justru menunjukkan, dengan cara yang mungkin hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar pernah duduk di ruang tunggu kemoterapi, bahwa tertawa—bahkan tertawa pada hal-hal yang paling tak pantas ditertawakan—adalah salah satu bentuk ketahanan jiwa yang paling sesuai dengan realita.

Dimensi Filosofis: Absurditas, Kebebasan, dan Makna

Ada lapisan filosofis yang menarik dalam buku ini, meskipun Riswold tak pernah mengklaim dirinya sebagai filsuf. Pendidikannya di Universitas Washington mencakup tiga gelar sarjana sekaligus—komunikasi, filosofi, dan sejarah—dan itu terasa dalam cara ia menyusun argumennya, meski dengan bahasa yang jauh lebih tak sopan daripada yang lazim ditemukan di jurnal akademis.

Pertama, ada dimensi eksistensialis. Ketika dihadapkan pada kemungkinan kematian, Riswold tak mencari kepastian metafisik. Ia tak bercerita tentang keajaiban spiritual atau pencerahan mendadak di meja operasi. Alih-alih, ia memilih mencipta—membuat sesuatu yang bermakna baginya, sekalipun sesuatu itu adalah foto Hitler yang sedang memainkan teko minum. Ada gema dari gagasan Jean-Paul Sartre bahwa kebebasan manusia justru paling nyata ketika berhadapan dengan ketiadaan: kita bebas karena kita akan mati, dan kebebasan itu menuntut kita, memilih bagaimana kita akan mengisi waktu yang tersisa.

Kedua, ada dimensi tentang kekonyolan sebagai katarsis. Filsuf Henri Bergson dalam esainya Le Rire (Tawa, 1900) berargumen bahwa humor muncul ketika sesuatu yang kaku tiba-tiba berperilaku seperti mesin — seperti ketika orang berwibawa terpeleset kulit pisang. Riswold membalik mekanisme ini: ia mengambil figur-figur yang telah dimetamorfosiskan menjadi simbol-simbol kengerian yang kaku dan beku dalam ingatan kolektif, lalu memaksa mereka bergerak seperti mainan yang konyol. Hasilnya adalah tawa yang tidak hanya menghibur, tetapi juga secara psikologis membebaskan.

Ketiga, ada sesuatu yang mirip dengan terapi melalui "healing theriugh making ( proses penyembuhan emosional atau psikologis yang terjadi melalui aktivitas kreatif—semisal membuat karya seni, menulis, memotret, atau merakit objek. Ini bukan sekadar pelarian, melainkan cara aktif untuk mengolah luka dan menemukan makna). Viktor Frankl, psikiater Austria yang selamat dari Auschwitz, menulis dalam Man's Search for Meaning bahwa manusia dapat bertahan dari penderitaan paling berat sekalipun selama ia menemukan makna di dalamnya. Riswold tak mengutip Frankl, dan mungkin ia tak perlu melakukannya. Tapi apa yang ia lakukan—mengubah rasa sakit menjadi seni, meskipun seni yang menggelikan—merupakan demonstrasi praktis dari gagasan bahwa kreativitas bisa menjadi semacam jangkar jiwa di tengah kekacauan.

Warisan Satire: Dari Chaplin hingga Riswold

Untuk memahami mengapa buku dan karya seni Riswold bukan sekadar provokasi murahan, ada baiknya menempatkannya dalam tradisi satire yang lebih panjang.

Charlie Chaplin dalam The Great Dictator (1940) memperolok Hitler pada saat Hitler masih berkuasa dan perang belum jelas siapa yang bakal menang. Keberanian itu, dalam konteksnya, bukan sekadar humor—melainkan pernyataan moral bahwa sang diktator tak pantas ditakuti sebagaimana ia menuntut ditakuti. Mel Brooks, sutradara dan komedian Yahudi-Amerika, membuat The Producers (1967) yang menampilkan musikal Broadway bertema Nazi yang absurd. Ketika dikritik karena dianggap tak menghormati tragedi Holocaust, Brooks berargumen bahwa menertawakan Hitler adalah cara untuk merendahkannya, guna mencabut aura keagungan palsu yang selama ini ia rawat.

Riswold ada dalam silsilah yang sama, dengan satu perbedaan penting: motivasinya bukan politik semata, melainkan personal dan medis. Hitler, baginya, adalah alat—bukan tujuan. Alat untuk tetap waras, tetap kreatif, dan tetap hadir secara emosional dalam hidupnya sendiri ketika tubuhnya sedang digempur dari segala penjuru.

Karya-karya fotonya telah dipamerkan di sejumlah museum, sebuah pengakuan bahwa dunia seni memandangnya lebih dari sekadar guyonan pahit. Ada komentar tentang kekuasaan, tentang ingatan kolektif, tentang apa yang terjadi ketika kita menolak membiarkan simbol-simbol kejahatan tetap menyimpan daya mengintimidasinya.

Bukan Tentang Hitler. Tentang Kita.

Pada akhirnya, tajuk buku ini merupakan jebakan yang brilian. Hitler Saved My Life—kedengarannya semacam provokasi yang dirancang untuk menarik perhatian di toko buku, dan memang begitu fungsinya. Tapi inti buku ini tiada hubungannya dengan Hitler.

Buku ini tentang seorang lelaki yang menyayangi anak-anaknya begitu dalam sehingga ia rela melakukan apa saja—termasuk hal-hal yang paling tak masuk akal dan tidak elegan—agar tetap hidup demi mereka. Tentang bagaimana kreativitas bisa menjadi tali penyelamat ketika seluruh tali penyelamat lainnya sudah habis. Tentang bagaimana tawa, bahkan gelak yang serasa tak pantas, dapat menjadi aksi yang paling manusiawi di antara apa yang ada.

Ada momen-momen dalam buku ini yang tanpa peringatan mendadak berubah dari sarkasme keras kepala menjadi kerentanan yang tulus—ketika Riswold menulis tentang anak-anaknya, tentang rasa takutnya, tentang hal-hal kecil yang ingin ia saksikan tetapi tak pernah yakin akankah ia berkesempatan menyaksikannya. Dan justru karena buku ini tak pernah meminta kita bersimpati, manakala simpati itu datang dengan sendirinya, rasanya jauh lebih kuat.

Catatan Penutup

Jim Riswold meninggal dunia pada 9 Agustus 2024, dalam usia 66 tahun, bukan karena leukemia atau kanker prostat yang pernah ia perangi, melainkan karena penyakit paru interstisial—komplikasi lain dari perjalanan panjangnya bersama penyakit. Ia meninggalkan karya seni, iklan-iklan yang telah memasuki ingatan kolektif jutaan orang, dan sebuah buku yang membuktikan bahwa ada cara untuk menghadapi kematian yang tak menyertakan keanggunan atau ketenangan—melainkan hiruk-pikuk yang apa adanya, gelak-tawa, dan sebuah kamera yang mengarah pada miniatur Hitler.

Buku ini mungkin bukan untuk semua orang. Tapi bagi mereka yang bersedia membiarkan dirinya tak nyaman selama beberapa ratus halaman, ada hadiah di ujungnya: sebuah pemahaman baru tentang apa makna menanggung beban derita—bukan dengan anggun, tapi dengan cara kita masing-masing, apa adanya.
Jim Riswold, Hitler Saved My Life. Regan Arts, 2017. 206 halaman.
Tersedia dalam versi cetak dan e-book (Kindle/epub).