Senin, 12 Oktober 2026

Lupa Boleh, Munafik Jangan: Tentang Alam Metafisik

Konon, alam semesta ini memiliki dua jenis ruang sidang. Yang pertama adalah ruang sidang dunia, tempat manusia datang dengan jas terbaiknya, map tebal di tangan, argumentasi sepanjang rel kereta, dan ingatan yang dapat berputar mengikuti arah angin. Di sana, fakta masih dapat diperdebatkan. Dokumen masih dapat ditafsirkan. Kalimat masih dapat diputar sampai pembuatnya sendiri bingung pernah mengucapkannya. Dan kesalahan masih dapat diberi nama lain yang lebih sopan: kekeliruan komunikasi, dinamika di lapangan, atau, bagi yang sedang bernasib baik, kebijakan yang belum dipahami masyarakat.

Yang kedua adalah ruang sidang yang lebih hening. Tiada kamera. Tiada mikrofon. Tiada konferensi pers, tiada juru bicara, tiada tim hukum yang duduk berjajar di belakang dengan wajah serius. Tiada pula moderator yang mengetuk meja sambil berkata, “Waktu habis.” Tiada tombol “tanpa komentar” dan tiada lorong untuk mencegat wartawan sambil berjalan cepat. Yang ada hanyalah pertanyaan. Dan jawaban.

Di dunia ini, manusia sering bertengkar dengan sesamanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dan pertengkaran itu hampir selalu dibuka dengan rangkaian kalimat yang sudah sangat kita hafal, saking seringnya dipakai:

“Aku ga ingat.”

“Aku ga tahu.”

“Aku ga hadir.”

“Aku ga pernah membahas itu.”

“Aku ga pernah menyetujuinya.”

Kalimat-kalimat itu bertebaran laksana daun kering di musim gugur politik, menumpuk di halaman kantor, disapu petugas kebersihan, lalu berguguran lagi keesokan harinya. Anehnya, semakin penting sebuah peristiwa, semakin banyak orang yang mendadak kehilangan ingatan tentangnya. Seolah-olah ingatan manusia dilengkapi sensor otomatis: makin besar taruhannya, makin cepat ia padam.

Perhatikan betapa selektifnya penyakit lupa ini. Tak ada yang lupa saat menerima jabatan. Tak ada yang lupa saat menerima tepuk tangan. Tak ada yang lupa saat foto bersama dipasang di media, lengkap dengan senyum yang diatur dari sudut terbaik. Tak ada yang lupa nama ruang rapat tempat ia dilantik, warna dasi yang ia kenakan, atau siapa saja yang menyalaminya paling lama. Namun, tatkala tagihan sejarah datang, ingatan acapkali mengambil cuti panjang tanpa meninggalkan surat pemberitahuan. Barangkali itulah satu-satunya jenis amnesia yang tak pernah menyerang saat panen, dan selalu menyerang saat penagihan.

Barangkali karena manusia terlalu terbiasa hidup di antara sesama manusia. Kita terbiasa menghadapi hakim yang bisa diyakinkan. Wartawan yang bisa dihindari. Lawan yang bisa dibantah. Pendukung yang bisa dibakar semangatnya. Publik yang bisa dibelah pendapatnya, lalu dibelah lagi hingga tinggal serpihan yang sibuk saling menyalahkan. Dengan bekal sebanyak itu, siapa pun merasa cukup aman. Namun, ada satu lawan yang tak pernah berhasil dikalahkan siapa pun, sekuat apa pun tim yang dibawanya: jejak.

Jejak memiliki sifat yang sangat tidak demokratis. Ia tak peduli pada jabatan. Ia tak peduli partai. Ia tak peduli pada pangkat, gelar, atau seberapa panjang deretan singkatan di belakang nama. Ia tak peduli siapa yang sedang berkuasa, dan lebih tidak peduli lagi siapa yang sedang populer. Tanda tangan tetaplah tanda tangan. Dokumen tetaplah dokumen. Arsip tetaplah arsip. Dan rekam jejak memiliki kebiasaan buruk yang sangat menyebalkan, terutama bagi mereka yang berharap padanya: ia menolak ikut lupa. Ia tidak bisa dilobi, tidak bisa diajak makan siang, dan tidak pernah terbujuk oleh kalimat “mari kita lihat ke depan saja.”

Karena itulah yang bisa dibayangkan suatu hari nanti ada sebuah percakapan yang sangat sederhana. Tidak panjang. Tidak rumit. Tidak memerlukan ahli hukum tata negara. Tak memerlukan pakar komunikasi politik, apalagi konsultan yang dibayar mahal untuk merumuskan frasa “saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab.” Tak memerlukan lembaga survei untuk memastikan jawaban mana yang paling disukai publik. Hanya tiga pertanyaan:

“Hadirkah engkau?”

“Tahukah engkau?”

“Setujukah engkau?”

Tiga pertanyaan sederhana. Begitu sederhana hingga sulit menyembunyikan diri di balik pidato. Begitu sederhana hingga rumitnya politik mendadak kehilangan manfaat, dan segala jurus yang selama ini terasa sakti, dari jawaban berputar sampai istilah asing yang sengaja dipanjang-panjangkan, berubah menjadi hiasan yang tidak laku. Di ruang itu tidak ada gunanya menjawab “menurut hemat kami, perlu dilihat dulu konteksnya.” Konteksnya sudah ada. Konteksnya adalah apa yang sebenarnya terjadi.

Mungkin di situlah letak kejeniusan pertanyaan metafisik. Ia tidak bertanya, “Siapa yang menang?” Ia tidak bertanya, “Siapa yang paling kuat?” Ia tidak bertanya, “Siapa yang paling viral?” Ia tidak peduli jumlah pengikut, tidak peduli peringkat elektabilitas, tidak peduli siapa yang tagarnya sempat bertahan tiga hari di puncak daftar. Ia hanya bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi?” Dan celakanya, pertanyaan seperti itu sering kali sudah mengetahui jawabannya sebelum diajukan. Ia bertanya bukan karena tidak tahu, melainkan untuk melihat apakah yang ditanya mau jujur.

Di dunia, seseorang bisa berdebat dengan wartawan. Seseorang bisa berdebat dengan hakim. Seseorang bisa berdebat dengan akademisi, bahkan dengan seluruh panel diskusi sekaligus. Seseorang bahkan bisa berdebat dengan dokumen, lalu menang, setidaknya di mata pendukungnya. Tetapi sangat sulit berdebat dengan hati nurani. Sebab hati nurani menyimpan arsip yang tidak pernah dicetak. Ia tidak tersimpan di server. Ia tidak tersimpan di lemari besi. Ia tidak tersimpan di awan digital yang bisa dibersihkan dengan sekali klik oleh staf yang mendadak rajin. Ia tersimpan di tempat yang selalu ikut ke mana pun seseorang pergi, termasuk ke ruang rapat, ke mimbar, dan ke bawah selimut pada pukul tiga dini hari.

Maka kita mulai memahami mengapa ada ungkapan yang begitu ringkas namun begitu galak: “Lupa boleh, munafik jangan.” Sebab lupa adalah cacat memori, penyakit yang bisa menimpa siapa saja, dari tukang parkir sampai pejabat tinggi. Sedangkan munafik adalah konflik antara apa yang diketahui dan apa yang diakui. Lupa adalah kelemahan manusia. Munafik adalah keputusan. Lupa membuat seseorang kehilangan jalan. Munafik membuat seseorang berpura-pura tidak pernah melewati jalan itu, padahal sepatunya masih berlumpur dan sopir mobil dinasnya masih ingat belokannya.

Dan sesungguhnya dunia pun cukup pemaaf terhadap yang pertama. Orang yang berkata, “Maaf, saya benar-benar lupa,” dengan wajah yang sungguh-sungguh lupa, biasanya masih diberi segelas teh dan sebuah kesempatan. Yang tidak tahan diberi ampun adalah lupa yang datang tepat waktu, yang selalu muncul sebelum pertanyaan terakhir, dan yang anehnya hanya menyerang bagian-bagian yang merugikan. Lupa semacam itu bukan penyakit. Itu strategi.

Dan pada akhirnya, mungkin semua polemik politik akan berakhir dengan cara yang sama. Berita akan tenggelam, ditimpa berita yang lebih baru dan lebih gaduh. Tagar akan hilang, menyisakan beberapa akun yang masih setia mengulang-ulangnya sendirian. Perdebatan akan usang, dan para pakar yang kemarin begitu yakin akan pindah ke topik berikutnya dengan keyakinan yang sama besarnya. Pendukung dan penentang akan mencari isu baru, sebab kemarahan, seperti makanan, tidak bisa disimpan terlalu lama. Namun, arsip akan tetap diam di raknya. Menunggu. Sabar. Tidak marah. Tidak berteriak. Tidak berkampanye. Tidak membeli iklan, tidak menyewa pendengung, tidak menggelar klarifikasi. Hanya menunggu seseorang datang dan berkata, pelan, tanpa teks, tanpa juru bicara:

“Ya, itu memang tanda tangan saya.”

Karena sejarah, pada hakikatnya, bukanlah kumpulan peristiwa. Peristiwa sudah lewat dan tidak bisa dipanggil kembali. Sejarah adalah kumpulan pengakuan, yaitu apa yang pada akhirnya berani diakui orang tentang peristiwa-peristiwa itu, entah di hadapan sesamanya, entah di hadapan dirinya sendiri di ruang yang tidak ada kameranya. Dan itulah sebabnya, di antara sekian banyak pertanyaan yang mungkin diajukan kepada manusia, ada satu yang paling sulit dijawab dengan senyum. Bukan soal kebijakan. Bukan soal angka. Bahkan bukan soal siapa yang salah.

Pertanyaan yang paling menakutkan bukanlah:

“Apa yang engkau lakukan?”

Melainkan:

“Mengapa engkau pura-pura tidak melakukannya?”

Minggu, 11 Oktober 2026

Lupa Boleh, Munafik Jangan : Tentang Arsip dan Amnesia

Di negeri yang subur akan rapat, notulen, tanda tangan, stempel, dan dokumentasi, selalu ada satu spesies langka yang berhasil bertahan hidup melawan segala hukum arsip: manusia yang mendadak lupa. Habitat aslinya adalah ruang rapat berpendingin udara, lengkap dengan kopi, kue basah, dan kertas bermeterai. Mereka hadir dalam rapat. Mereka mendengar pembahasan dengan saksama. Mereka menganggukkan kepala pada detik yang tepat, dan pada saat yang genting, kadang bahkan ikut menandatangani kesimpulan dengan goresan yang mantap. Tak seorang pun curiga. Spesies ini tampak sehat, ingatannya tajam, sorot matanya meyakinkan, sampai suatu hari angin berubah arah.

Dahulu manusia menciptakan arsip untuk membantu ingatan. Kertas dijilid, berkas dilipat, map disusun berurutan, semata agar generasi berikutnya tak perlu menebak apa yang sebenarnya terjadi. Kini arsip diciptakan untuk membantah lupa. Di zaman digital, manusia masih bisa lupa, tetapi dokumen tidak. Arsip tidak. Tangkapan layar tidak. Dan yang paling berbahaya, tanda tangan tak pernah mengalami amnesia. Ia tidak menua, tidak sungkan, tidak punya pertimbangan karier, dan tidak pula bisa diajak berunding di warung kopi.

Foto adalah saksi yang tak bisa disuap. Dokumen adalah saksi yang tak bisa diintimidasi. Arsip adalah saksi yang tak bisa diajak lupa. Tiga saksi ini bekerja tanpa gaji, tanpa tunjangan, dan tanpa takut dimutasi. Maka tak mengherankan jika musuh terbesar sebagian orang bukanlah lawan politik, melainkan lemari arsip yang berdiri diam di pojok ruangan, menatap dengan sabar, menunggu giliran dibuka.

Namun, bertahun-tahun kemudian, ketika angin politik berubah arah, ingatan mereka mengalami fenomena alam yang unik. Semua yang dahulu jelas perlahan berubah menjadi kabut. Yang tadinya terang menjadi samar. Yang tadinya dibahas menjadi "seingat saya tidak dibahas". Yang tadinya disetujui menjadi "saya tidak tahu dari mana asalnya". Yang tadinya ditandatangani, entah bagaimana, menjadi "mungkin itu hanya paraf biasa". Kabut ini anehnya hanya turun di sekitar kursi tertentu, dan hanya pada musim tertentu, persis ketika kursi itu mulai terasa panas.

Barangkali para ahli kedokteran perlu meneliti penyakit ini lebih serius. Sebab gejalanya tidak pernah menyerang rakyat biasa. Aneh sekali. Tidak pernah terdengar tukang bakso lupa bahwa ia menjual bakso. Tidak pernah terdengar sopir lupa bahwa ia mengemudikan mobil. Tidak pernah terdengar kasir lupa bahwa ia menerima pembayaran, apalagi tukang parkir lupa bahwa ia baru saja meminta dua ribu rupiah. Orang-orang ini hidup dalam dunia yang kejam bagi para pelupa: sekali salah hitung, pelanggan menagih saat itu juga. Mungkin itulah sebabnya ingatan mereka terlatih begitu baik. Tetapi dalam politik, seseorang bisa lupa terhadap sesuatu yang jejaknya masih tersimpan dalam dokumen, rekaman, berita, bahkan tanda tangannya sendiri, dan ia tetap bisa tidur nyenyak dengan perut kenyang dan dasi yang rapi.

Lebih menarik lagi, lupa di dunia politik bukanlah penyakit tetap. Ia penyakit musiman. Ia datang sesuai kebutuhan. Saat sebuah keputusan menguntungkan, ingatan bekerja sempurna: tanggal, jam, nama ruangan, bahkan menu makan siangnya terekam dengan teliti, lengkap dengan klaim bahwa gagasan itu berasal dari dirinya. Saat keputusan itu menjadi beban, ingatan mendadak pensiun dini, tanpa upacara, tanpa pesangon, dan tanpa sempat meninggalkan pesan. Karena itu, masalah sesungguhnya bukanlah lupa.

Manusia memang makhluk yang pelupa. Ada dua macam lupa. Yang pertama membuat orang tersesat mencari kunci rumah. Yang kedua membuat orang tersesat mencari tanda tangannya sendiri. Kita lupa menaruh kunci. Kita lupa ulang tahun teman. Kita lupa membeli garam saat ke pasar, lalu pulang dengan semua belanjaan kecuali yang paling penting. Itu wajar. Itu manusiawi. Tak seorang pun menggelar konferensi pers untuk menjelaskan garam yang tertinggal.

Tetapi ada perbedaan besar antara lupa karena keterbatasan manusia dan lupa karena kebutuhan situasi. Yang satu lahir dari kelemahan ingatan. Yang lain lahir dari kelincahan kepentingan. Yang satu membuat pelakunya malu lalu minta maaf. Yang lain membuat pelakunya tenang lalu minta waktu. Maka satire ini menjadi menarik, sebab kalimat yang menjadi judulnya sejatinya bukan berbicara tentang memori. Ia berbicara tentang integritas. Tentang keberanian mengakui bahwa kita pernah berada di suatu ruangan, pernah mendengar suatu pembahasan, pernah menjadi bagian dari suatu keputusan, walaupun hari ini keputusan itu tidak lagi nyaman untuk diingat.

Di zaman ketika setiap orang berlomba membangun citra, mungkin kejujuran telah menjadi barang mewah, dijual terbatas, dan tidak semua orang sanggup membelinya. Lebih mudah mengubah cerita daripada mengakui keterlibatan. Lebih murah mempersoalkan masa lalu daripada bertanggung jawab terhadapnya. Dan lebih aman berkata, "Saya tidak ingat," daripada berkata, "Ya, saya ikut menyetujuinya." Kalimat pertama hanya butuh tiga kata dan sedikit akting. Kalimat kedua butuh seluruh nyali yang tersimpan sejak pelantikan.

Padahal sejarah mempunyai kebiasaan buruk: ia gemar menyimpan arsip. Dan arsip mempunyai kebiasaan yang lebih buruk lagi: ia tidak bisa ikut lupa. Ia tidak peduli siapa yang sedang berkuasa, tidak membaca arah angin, dan tidak pernah diundang ke acara pembentukan citra. Ia hanya diam di dalam map, di dalam folder, di dalam awan penyimpanan, menunggu seseorang membuka halaman yang tepat. Dan ketika halaman itu terbuka, tak ada kabut yang cukup tebal untuk menutupinya.

Pada akhirnya, barangkali persoalannya sederhana. Negara tidak kekurangan orang pintar. Negara tidak kekurangan pakar hukum. Negara tidak kekurangan politisi, apalagi yang pandai berpidato tentang kejujuran. Yang sering langka justru orang yang ketika berhadapan dengan dokumen lama masih berani berkata:

"Ya, itu memang tanda tangan saya." Sebab lupa masih bisa dimaafkan, tetapi menyangkal tanda tangan sendiri di hadapan arsip yang tak pernah lupa bukan lagi amnesia. Itu pengakuan, hanya saja diucapkan dalam bahasa yang terbalik. Dan tinta, tidak seperti ingatan, tak pernah punya kepentingan.