Tiga puluh tahun sebelum Peristiwa Mei 1998 di Indonesia, di Prancis, hujan dan air mata menjadi metafora yang hidup dalam gerakan sosial mahasiswa. Tembang Rain and Tears dari Aphrodite’s Child, meski apolitis, ditafsirkan sebagai simbol penderitaan kolektif. Hujan di Paris 1968 bukan sekadar fenomena alam; ia hadir bersama gas air mata yang digunakan aparat untuk membubarkan demonstran. Air mata manusia bercampur dengan air mata kimia, membentuk lanskap emosional yang penuh luka.
Sejarah memang kerap berulang, walau tak pernah persis sama. Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa masyarakat manusia sering kembali pada pola yang serupa: gejolak, harapan, dan tragedi. Mei 1968 di Prancis dan Mei 1998 di Indonesia adalah contoh yang mencolok—keduanya memperlihatkan bagaimana rakyat, khususnya mahasiswa dan pekerja, bangkit melawan sistem yang dianggap tidak adil. Di Paris, “hujan dan air mata” lebih bersifat simbolis—gas air mata, luka, dan jejak emosional dari benturan dengan aparat. Di Jakarta, ia menjadi kenyataan yang tragis—ribuan nyawa melayang, keluarga hancur, dan trauma yang masih bergema hingga kini.
Pengulangan itu tampak dalam siklus: idealisme muda berhadapan dengan kekuasaan yang mengakar, penderitaan kolektif menjadi pemicu perubahan, dan paradoks abadi bahawa kemajuan sering menuntut pengorbanan. Namun setiap peristiwa membawa teksturnya sendiri—warisan Prancis lebih bersifat budaya dan intelektual, sementara Indonesia melahirkan reformasi politik. Keduanya menegaskan bahawa hujan dan air mata bukan sekadar metafora, melainkan realitas yang berulang dalam perjuangan manusia demi martabat dan kebebasan.
Di Jakarta 1998, hujan juga turun di tengah kerusuhan. Namun, air mata di sana bukan semata oleh gas air mata, melainkan oleh kehilangan nyawa, hancurnya harapan, dan runtuhnya kepercayaan pada rezim yang telah berkuasa puluhan tahun. Hujan dan air mata, dalam dua konteks berbeda, menjadi bahasa universal penderitaan. Paris 1968 berbicara tentang kebebasan intelektual, Jakarta 1998 tentang kebebasan politik dan ekonomi.Hujan di Prancis membawa aroma revolusi budaya: mahasiswa menuntut perubahan sistem pendidikan, buruh menuntut hak kerja, seniman menuntut kebebasan berekspresi. Air mata mereka adalah air mata idealisme. Sementara itu, hujan di Jakarta 1998 membawa aroma asap ban terbakar, gedung-gedung dijarah, dan ketakutan massal. Air mata rakyat adalah air mata penderitaan ekonomi dan trauma sosial.Kesamaan keduanya adalah hujan yang menyamarkan air mata. Di Paris, hujan musim semi menutupi tangisan mahasiswa. Di Jakarta, hujan tropis menutupi tangisan ibu-ibu yang kehilangan anak. Perbedaan keduanya adalah konteks: di Prancis, air mata lahir dari benturan ideologi; di Indonesia, air mata lahir dari benturan krisis ekonomi dan otoritarianisme.Hujan dan air mata mengajarkan bahwa penderitaan kolektif selalu mencari simbol. Lagu di Prancis menjadi simbol, sementara di Indonesia simbol itu adalah jeritan rakyat di jalanan. Dalam filosofi eksistensial, hujan dan air mata adalah tanda keterbatasan manusia. Kita tidak bisa mengendalikan langit, kita tidak bisa menahan air mata. Keduanya adalah pengingat bahwa manusia rapuh.Mei 1968 menunjukkan bahwa air mata bisa menjadi energi perubahan. Demonstrasi mahasiswa memicu reformasi sosial, meski tidak langsung mengganti rezim. Mei 1998 menunjukkan bahwa air mata bisa menjadi energi revolusi. Tangisan rakyat memaksa penguasa turun, membuka jalan bagi demokrasi baru. Hujan di Prancis menjadi latar romantis bagi revolusi budaya. Hujan di Jakarta menjadi latar tragis bagi revolusi politik.Air mata mahasiswa Prancis adalah air mata harapan. Air mata rakyat Indonesia adalah air mata kehilangan. Namun keduanya sama-sama membuktikan: air mata tidak pernah sia-sia. Ia adalah benih perubahan. Hujan dan air mata juga mengingatkan bahwa penderitaan kolektif selalu bersifat ambivalen. Ia bisa melahirkan solidaritas, tapi juga bisa melahirkan trauma.Di Prancis, solidaritas antara mahasiswa dan buruh menciptakan kekuatan besar. Di Indonesia, solidaritas antara mahasiswa dan rakyat menciptakan momentum reformasi. Tetapi trauma tetap ada. Di Prancis, banyak yang merasa revolusi gagal. Di Indonesia, banyak yang merasa reformasi belum menuntaskan luka. Hujan dan air mata adalah simbol siklus sejarah. Mereka datang, mereka pergi, tetapi jejaknya tetap ada.Tembang Rain and Tears menjadi pengingat bahwa kesedihan adalah bagian dari hidup. Peristiwa Mei 1998 menjadi pengingat bahwa kesedihan bisa mengubah sejarah. Hujan di Prancis adalah hujan yang menyuburkan ide-ide baru. Hujan di Indonesia adalah hujan yang menyuburkan demokrasi baru. Air mata di Prancis adalah air mata generasi muda yang menolak status quo. Air mata di Indonesia adalah air mata rakyat yang menolak penindasan.Keduanya menunjukkan bahwa hujan dan air mata adalah bahasa universal perlawanan. Filosofisnya, hujan adalah eksternalitas, air mata adalah internalitas. Keduanya bertemu dalam ruang publik ketika penderitaan menjadi kolektif. Mei 1968 dan Mei 1998 adalah dua cermin sejarah: satu di Barat, satu di Timur. Keduanya menunjukkan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa hujan dan air mata.Hujan dan air mata adalah tanda bahwa sejarah selalu basah oleh penderitaan. Tetapi dari basah itu lahir kehidupan baru. Di Prancis, lahir kebebasan budaya. Di Indonesia, lahir kebebasan politik. Hujan dan air mata adalah paradoks: mereka menyakitkan, tetapi juga menyuburkan. Dalam konteks Prancis, hujan dan air mata melahirkan seni baru, musik baru, filosofi baru. Dalam konteks Indonesia, hujan dan air mata melahirkan sistem politik baru, kebebasan pers, dan ruang demokrasi.Hujan dan air mata adalah bahasa yang tidak pernah usang. Setiap generasi akan mengalaminya, dalam bentuk berbeda. Mei 1968 dan Mei 1998 adalah bukti bahwa sejarah selalu berulang dalam simbol yang sama. Hujan dan air mata adalah simbol penderitaan sekaligus harapan. Mereka mengingatkan bahwa manusia tidak bisa menghindari kesedihan. Tetapi manusia bisa mengubah kesedihan menjadi energi.Di Prancis, energi itu adalah revolusi budaya. Di Indonesia, energi itu adalah revolusi politik. Hujan dan air mata adalah tanda bahwa perubahan selalu lahir dari penderitaan. Tidak ada revolusi tanpa air mata. Tidak ada reformasi tanpa hujan penderitaan. Hujan dan air mata adalah bahasa yang melampaui kata-kata. Mereka adalah musik alam dan musik jiwa.Tembang Rain and Tears adalah musik jiwa generasi 1968. Jeritan rakyat Indonesia adalah musik jiwa generasi 1998. Keduanya sama-sama melodi kesedihan. Tetapi melodi itu melahirkan harmoni baru. Hujan dan air mata adalah harmoni antara penderitaan dan harapan. Mereka mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang matahari. Ada saat di mana kita harus menerima hujan. Ada saat di mana kita harus menerima air mata.Tetapi dari hujan lahir pelangi. Dari air mata lahir kebijaksanaan. Mei 1968 dan Mei 1998 adalah pelangi setelah hujan, kebijaksanaan setelah air mata. Keduanya menunjukkan bahwa sejarah adalah siklus penderitaan dan harapan. Hujan dan air mata adalah simbol siklus itu. Mereka adalah pengingat bahwa manusia selalu belajar dari kesedihan. Dan pada akhirnya, hujan dan air mata bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan baru—baik di Prancis 1968 maupun di Indonesia 1998.Rain and Tears menjadi benang simbolik yang menghubungkan dua peristiwa besar dengan konteks berbeda: Mei 1968 di Prancis dan Mei 1998 di Indonesia. Keduanya ditandai oleh jalanan yang basah oleh hujan dan mata yang basah oleh air mata, namun warisan sejarahnya berbeda—Prancis melahirkan revolusi budaya dan intelektual, sementara Indonesia melahirkan reformasi politik yang penuh trauma.
Memang menarik sekali bila kita menyimak lirik Rain and Tears dalam konteks sejarah. Secara literal, lagu ini ditulis sebagai tembang cinta melankolis tentang kesedihan, kepura‑puraan, dan kerentanan hati. Namun, ketika ia dirilis pada tahun 1968, tepat di tengah gelombang demonstrasi mahasiswa di Prancis, banyak orang menafsirkannya sebagai cerminan suasana jalanan: hujan musim semi bercampur dengan gas air mata, tangisan bercampur dengan tuntutan kebebasan. Baris seperti “Rain and tears are the same” dan “But in the sun you’ve got to play the game” bisa dibaca bukan hanya tentang cinta, tetapi tentang tekanan sosial: di depan publik, para demonstran harus “bermain peran” sebagai yang kuat dan berani, meski hati mereka penuh ketakutan. Begitu pula, kalimat “You can pretend it’s nothing but the rain” terasa relevan dengan cara orang menyembunyikan penderitaan di balik simbol hujan. Kendati secara tekstual lagu ini bukan lagu politik, penerimaan publik menjadikannya semacam soundtrack emosional bagi gerakan Mei 1968. Hujan dan air mata dalam lirik itu seolah menyatu dengan hujan dan air mata nyata di jalanan Paris. Inilah yang membuatnya terasa lebih menggambarkan para demonstran ketimbang sekadar kisah cinta pribadi.
Hujan dan air mata dalam kedua peristiwa ini menegaskan kerentanan manusia sekaligus kekuatan kolektif. Di Prancis, keduanya menyuburkan tanah intelektual, melahirkan filosofi baru tentang kekuasaan dan kebebasan. Di Indonesia, keduanya menyirami benih demokrasi, meski hasil panennya bercampur antara harapan dan kekecewaan.Keduanya mengingatkan bahawa hujan dan air mata bukan sekadar tanda kesedihan, melainkan katalis perubahan. Mereka menutupi luka, tetapi juga membuka jalan bagi keberanian. Sejarah menunjukkan paradoks: penderitaan bisa melukai, tetapi juga bisa memperbarui.Prancis, Mei 1968: Hujan, Air Mata, dan Revolusi Budaya
Gerakan ini bermula dari protes mahasiswa di Nanterre dan Sorbonne terhadap sistem pendidikan yang kaku, lalu berkembang menjadi pemogokan nasional yang melibatkan lebih dari 10 juta buruh. Hujan musim semi Paris bercampur dengan gas air mata, menciptakan lanskap “rain and tears” yang nyata.
Dampaknya, pemerintahan Charles de Gaulle terguncang meski tak tumbang. Namun, warisan Mei 1968 justru lebih kuat di ranah budaya dan intelektual. Dari sini lahir generasi pemikir seperti Michel Foucault, Pierre Bourdieu, Jacques Derrida, Gilles Deleuze, dan Jean Baudrillard, yang gagasannya mengubah arah filosofi, sosiologi, dan teori budaya. Slogan-slogan semisal “Sous les pavés, la plage!” (“Di bawah batu paving, ada pantai!”) dan “Il est interdit d’interdire!” (“Dilarang melarang!”) menjadi ikon semangat kebebasan.
Indonesia, Mei 1998: Hujan, Air Mata, dan Reformasi Politik
Di Indonesia, pemicu utamanya adalah krisis ekonomi Asia 1997–1998 yang menghancurkan stabilitas sosial. Mahasiswa dan rakyat turun ke jalan menuntut diakhirinya kekuasaan Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun.
Jakarta kala itu diguyur hujan tropis, di tengah kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan. Air mata rakyat bukan hanya karena gas air mata, tetapi juga karena kehilangan nyawa, trauma etnis, dan penderitaan ekonomi. Berbeda dengan Prancis, protes di Indonesia menghasilkan perubahan politik langsung: Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, menandai lahirnya era Reformasi.
Warisan Reformasi adalah pemilu bebas, kebebasan pers, dan ruang sipil yang lebih luas. Namun, demokrasi yang lahir masih bersifat prosedural. Oligarki bermunculan, korupsi tetap bertahan, dan etika demokrasi belum sepenuhnya mengakar.Korban JiwaDalam Mei 1968 di Prancis, korban jiwa relatif sedikit, sementara Mei 1998 di Indonesia menelan ribuan korban dengan luka sosial yang jauh lebih dalam. Perbedaan skala penderitaan ini memperlihatkan bagaimana simbol “hujan dan air mata” sungguh menjadi kenyataan tragis di Jakarta.Korban Mei 1968 di PrancisGelombang demonstrasi mahasiswa dan buruh yang melibatkan jutaan orang memang mengguncang pemerintahan Charles de Gaulle, akan tetapi tak berujung pada pertumpahan darah besar. Bentrokan dengan polisi menghasilkan ratusan luka‑luka dan beberapa kasus kematian, namun jumlah korban jiwa tercatat relatif kecil dibandingkan skala aksi. Yang lebih menonjol adalah trauma sosial dan politik: rasa takut, represi aparat, serta pengalaman generasi muda menghadapi kekerasan negara. Mei 1968 dikenang bukan karena banyaknya korban tewas, melainkan karena dampak budaya dan intelektual yang lahir dari penderitaan kolektif.Korban Mei 1998 di IndonesiaSebaliknya, Reformasi 1998 di Indonesia meninggalkan luka yang jauh lebih dalam. Menurut laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), kerusuhan Mei 1998 di Jakarta saja merenggut 1.190 nyawa. Dari jumlah itu, 27 orang tewas akibat peluru aparat, termasuk empat mahasiswa Trisakti yang gugur pada 12 Mei 1998: Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Sisanya meninggal karena terbakar dalam peristiwa penjarahan dan pembakaran massal. Selain korban tewas, tercatat 91 orang luka‑luka serta ratusan perempuan, terutama dari komunitas Tionghoa, mengalami kekerasan seksual.Kerusuhan juga meluas ke berbagai kota lain seperti Solo, Lampung, Palembang, Surabaya, dan Medan. Skala penderitaan ini menunjukkan bahwa air mata rakyat Indonesia bukan sekadar simbol, melainkan kenyataan pahit yang menandai runtuhnya Orde Baru.RefleksiPerbandingan korban dalam dua peristiwa ini memperlihatkan kontras yang tajam. Prancis 1968 lebih banyak meninggalkan luka psikologis dan benturan ideologis, sementara Indonesia 1998 meninggalkan luka fisik, trauma etnis, dan kehilangan nyawa dalam jumlah besar. “Rain and Tears” dalam konteks Prancis adalah metafora, sedangkan di Indonesia, ia menjadi realitas tragis.



