Rabu, 18 Februari 2026

Memasuki Ramadan 1447 H

Ramadan sebenarnya tak datang pada malam terlihatnya hilal. Saat tiba, ia sesungguhnya sudah mendekat secara diam-diam selama berminggu-minggu—bahkan berbulan-bulan—melalui kegelisahan dalam nurani. Ada perasaan khas yang mendatangi seorang mukmin menjelang Ramadan: bukan kegembiraan, bukan pula ketakutan, melainkan pengenalan. Pengenalan bahwa waktu bukan sekadar berlalu; ia telah digunakan, dan mungkin disia-siakan.

Sepanjang tahun kita hidup ke luar—bekerja, berbicara, bereaksi, mengonsumsi—namun jarang berhenti cukup lama untuk menilai arah hati. Ramadan datang tepat ketika kita mulai merasakan rutinitas menjadi lebih berat daripada niat. Tubuh terus bergerak, tetapi jiwa sebenarnya menunggu.

Karena itu, banyak orang tiba-tiba kembali mengingat doa-doa lama ketika Ramadan mendekat. Munajat yang terlupa kembali ke lisan, taubat yang tertunda kembali ke pikiran, dan percakapan dengan Sang Rabb yang lama ditunda perlahan meminta dilanjutkan. Bulan itu belum masuk kalender, tetapi sudah masuk kesadaran.

Ada juga rasa tak nyaman yang lembut dalam penantian ini. Kita mulai bertanya, sungguhkah Ramadan sebelumnya mengubah sesuatu. Masih adakah kesabaran setelah lapar berakhir? Bertahankah pengendalian diri usai malam-malam ibadah berlalu? Datangnya Ramadan baru membawa satu pertanyaan diam: kita berubah, ataukah, hanya sibuk?

Karenanya, hari-hari sebelum Ramadan bukan sekadar persiapan; melainkan diagnosis. Seorang mukmin bukan hanya menyiapkan jadwal tilawah, tapi memeriksa keadaan keikhlasan. Ramadan tak datang untuk menambah aktivitas dalam hidup, melainkan meluruskan hidup itu sendiri. Ia menginterupsi sebelum mengajari.

Dalam pengertian ini, Ramadan bukan seperti tamu yang kita sambut, melainkan cermin yang berhadapan dengan kita. Dan mungkin kegelisahan sebelum kedatangannya bukan kecemasan terhadap ibadah, melainkan kejujuran terhadap diri sendiri. Bulan ini penuh rahmat—tetapi kejernihan yang dibawanya bisa terasa menggugah.

Banyak orang memahami puasa sebagai disiplin tubuh, padahal bahasa Al-Qur’an mengisyaratkan sesuatu yang lebih dalam—disiplin cara merasakan. Lapar bukan tujuan puasa, melainkan alatnya. Perut ditahan agar diri terlihat, sebab manusia jarang bertemu kondisi batinnya disaat terus merasa cukup.

Saat keinginan selalu terpenuhi, diri tersembunyi di balik kenyamanan. Namun ketika ritme konsumsi diputus, kebenaran muncul: mudah tersinggung dalam ucapan, nada yang keras, pikiran yang gelisah. Oleh sebab itu, Puasa menyingkap, bukan menekan. Ia tak membuat kelemahan; ia memperlihatkannya.

Maka dari itu, puasa pertama sebenarnya bukan dari makanan, melainkan dari reaksi. Seseorang bisa sehari tidak makan, namun tak pernah berpuasa dari marah, sombong, atau debat sia-sia. Tubuh menahan diri karena perintah, tetapi ego menahan diri karena kesadaran. Ramadan melatih kesadaran sebelum perilaku.

Di sinilah lisan menjadi pusat ujian. Kata-kata bergerak lebih cepat dari lapar, dan luka lebih jauh dari selera. Perut yang tertahan tanpa suara yang tertahan tak menyentuh batin. Maka puasa bukan sekadar menahan kekosongan, tetapi memilih kelembutan.

Hari demi hari, perubahan perlahan mulai terjadi. Seseorang tak lagi berbuka hanya karena matahari tenggelam, tetapi karena izin kembali datang. Makan kembali bermakna; berbicara kembali berbobot. Hal-hal biasa yang sempat dihentikan kembali dalam keadaan lebih bersih.

Jika puasa berhasil, seorang mukmin memahami bahwa pengendalian diri tak pernah dimaksudkan hanya untuk Ramadan. Bulan ini tak menciptakan kebajikan; ia menunjukkan bahwa kebajikan selalu mungkin. Lapar menjadi guru yang mengungkap betapa tak perlunya berlebihan selama ini.

Kerugian terbesar di bulan Ramadan bukanlah lapar, bukan lelah, bukan berkurangnya tidur. Kerugian terbesar adalah melewati bulan ini tanpa perubahan. Sebab sangat mungkin seseorang sibuk beribadah namun jauh dari maknanya. Aktivitas bertambah, tetapi kesadaran tetap di tempat.

Ramadan mudah memenuhi jadwal. Ada tilawah yang ditargetkan, majelis yang dihadiri, sedekah yang dibagikan, malam yang diisi. Namun hati bisa diam-diam berada di luar semuanya, melakukan ibadah tanpa memasuki ibadah. Tubuh berdiri dalam shalat, tetapi diri berdiri di tempat lain.

Di setiap zaman ada godaan—mengukur iman dengan jumlah, bukan dengan perubahan. Angka menenangkan karena terlihat: halaman selesai, rakaat terpenuhi, hari terlewati. Tetapi keadaan batin yang dicari Ramadan—sabar, rahmat, rendah hati—tak mudah dihitung.

Kehidupan modern menambah lapisan risiko ini. Bulan yang seharusnya menyembunyikan keikhlasan bisa berubah menjadi panggung untuk menampilkannya. Amal yang dulu tak terlihat mulai mencari saksi. Perbuatannya tetap, tetapi arahnya bergeser: dari dipersembahkan kepada Sang Ilahi menjadi diperlihatkan kepada manusia.

Seseorang bisa menjaga puasanya dari makanan namun membiarkannya terbuka bagi kesia-siaan. Dan kesia-siaan menghabiskan lebih cepat daripada lapar. Yang dikosongkan perut berjam-jam, bisa dipenuhi ego dalam sekejap.

Tragedinya bukan karena ibadah dilakukan tak sempurna—ketidaksempurnaan milik setiap manusia—melainkan karena bulan berlalu tanpa mengenali diri. Ramadan bukan lomba ketahanan; ia perjumpaan dengan kebenaran. Menyelesaikannya tanpa berubah adalah perjalanan tanpa tiba.

Persiapan Ramadan sering dibayangkan sebagai pengaturan—menyusun jadwal, merencanakan khatam, menentukan target sedekah. Padahal persiapan paling awal dimulai di tempat yang tak tersentuh jadwal: rekonsiliasi. Sebelum menambah ibadah, seseorang perlu mengurangi beban yang dibawa ke dalamnya.

Taubat dalam makna ini bukan pernyataan dramatis, melainkan pembersihan yang tenang. Seorang mukmin mengakui percakapan dengan Sang Khaliq yang tertunda, lalu melanjutkannya tanpa seremoni. Kita tak menunggu menjadi baik untuk kembali; kembali itulah awal kebaikan.

Demikian pula memaafkan menjadi bentuk kesiapan. Dendam memenuhi ruang yang seharusnya ditempati ingatan kepada Allah. Hati yang penuh keluhan lama sulit memuat keikhlasan baru. Melepaskan orang lain bukan hanya kebaikan bagi mereka, tetapi rahmat bagi diri sendiri.

Persiapan lain adalah mengurangi kebisingan hidup secara sengaja. Ramadan tak mengubah dunia di sekitar kita; ia mengubah seberapa banyak dunia kita izinkan masuk ke dalam diri. Dengan melonggarkan perdebatan, hiburan berlebih, dan perbandingan tanpa henti, perhatian kembali tersedia. Ibadah jarang masuk ke hidup yang sudah penuh.

Terakhir, pilih bukan banyak ambisi melainkan satu niat yang jujur. Satu perubahan yang bertahan lebih lama daripada banyak semangat singkat. Tujuan persiapan bukan melakukan lebih banyak, tetapi menerima lebih dalam. Ramadan bermanfaat bagi hati yang memberi ruang baginya.

Maka hari-hari sebelum bulan ini bukan sekadar menunggu, melainkan meluruskan arah. Kalender akan berganti bagaimanapun juga; pertanyaannya apakah arah batin ikut berganti. Hati yang siap mengenali Ramadan bukan hanya sebagai tanggal, tetapi sebagai pembukaan.

Setiap Ramadan hadir secara kolektif, tetapi dijalani secara pribadi. Shalat berjamaah, buka bersama, penantian Idul Fitri—semuanya tampak di luar. Namun percakapan paling menentukan justru terjadi di ruang batin yang tak terdengar siapa pun. Karena itu diperlukan janji pribadi.

Janji ini bukan sumpah sempurna yang dramatis. Ia adalah kesepakatan diam antara diri dan nurani. Pertanyaannya bukan, “Berapa banyak yang akan kucapai?” melainkan, “Apa yang akhirnya harus kuhadapi?” Tujuannya bukan tampilan spiritual, melainkan kejujuran spiritual.

Bagi sebagian orang, janji itu mungkin berupa menjaga lisan dengan lebih sungguh-sungguh. Bagi yang lain, mungkin memperbaiki hubungan yang lama diabaikan, atau menetapkan satu sedekah konsisten yang terus berjalan setelah Ramadan. Kekuatan janji tak terletak pada besarnya, tetapi pada ketulusannya.

Godaan membandingkan ibadah dengan orang lain selalu ada. Namun perbandingan diam-diam menggeser ibadah dari penghambaan menjadi perlombaan. Maka janji itu juga mencakup penolakan untuk mengukur diri dengan ritme orang lain. Setiap jiwa memiliki luka dan jalannya sendiri.

Kedalaman hendaknya didahulukan daripada jumlah. Satu halaman yang dibaca dengan renungan bisa lebih berat daripada banyak halaman yang dibaca tergesa. Doa singkat yang hadir sepenuh hati bisa lebih bermakna daripada doa panjang yang terpecah perhatian. Ramadan tidak menghargai kecepatan; ia menumbuhkan kesadaran.

Di atas semua itu, janji harus melampaui hari ketiga puluh. Jika suatu kebiasaan tidak bertahan setelah Idul Fitri, mungkin ia hanya semangat sesaat, bukan perubahan. Tanda Ramadan yang berhasil adalah keberlanjutan—sabar yang menetap, pengendalian diri yang bertahan, dan ingatan kepada Allah yang tiada henti saat perayaan usai.

Barangkali keberhasilan Ramadan tidak diukur dari seberapa kuat kita menjalaninya, melainkan seberapa lembut ia tetap hidup di dalam diri setelahnya. Bulan itu berlalu sebagaimana bulan lain berlalu, tetapi meninggalkan jejak yang tidak ditinggalkan waktu biasa. Jika tak ada yang tersisa setelah perayaan usai, mungkin kita hanya menemani hari-harinya tanpa menemani maknanya.

Ramadan tak datang untuk menghias rutinitas, tetapi untuk menginterupsinya. Ia menghentikan kebiasaan cukup lama hingga kita sadar banyak di antaranya sebenarnya tak perlu. Kita belajar, sebentar saja, bahwa kita bisa makan lebih sedikit, bicara lebih sedikit, bereaksi lebih sedikit — namun merasakan lebih banyak. Pengurangan berlebih berubah menjadi penemuan kecukupan.

Ada rahmat dalam sementara-nya bulan ini. Karena ia berakhir, kita diajarkan bahwa perubahan tak seharusnya bergantung pada musim. Perginya Ramadan bukan hilangnya petunjuk, tetapi ujian apakah petunjuk telah masuk ke dalam diri. Kalender kembali ke hari biasa; mukmin diminta tak kembali biasa.

Maka perpisahan dengan Ramadan seharusnya bukan rasa lega, melainkan rasa tanggungjawab. Kita tak sekadar melepas tamu, tetapi membawa amanah. Apa yang dilakukan selama tiga puluh hari menjadi bukti apa yang mungkin sepanjang tahun.

Pada akhirnya Ramadan bukan hanya masa yang kita masuki; ia kebenaran yang kita temui. Dan pertanyaan yang ditinggalkannya sederhana namun berat: akankah kita menunggu setahun lagi untuk kembali kepada diri sendiri, atau mulai sejak dini hari?

[English]