Kerajaan Esok Hari
Di Kerajaan Esok Hari, para penguasa membangun kerajaan mereka di atas Janji — bukan bata, bukan batu, melainkan kata‑kata berkilau yang semakin terang, semakin hampa isinya.
Rakyat diberitahu: “Tembok ini akan melindungimu, menara ini akan mengangkatmu, jembatan ini akan membawamu ke masa depan.” Namun ketika disentuh, tembok itu larut menjadi kabut, menara itu melentur bgai alang‑alang, dan jembatan itu semata kembali ke alun‑alun lama yang sama.
Setiap tahun, para penguasa menggelar “Festival Masa Depan.” Mereka mengarak mesin kertas yang berderak tanpa roda gigi, peta yang menunjuk ke negeri yang tak pernah ada, dan jam yang berjanji waktu akan segera berjalan mundur untuk memperbaiki semua kesalahan. Kerumunan bertepuk tangan, sebab tepuk tangan lebih murah daripada keraguan.
Sementara itu, Kebenaran hidup dalam pengasingan di tepi kerajaan, bergumam: “Masa depan yang dibangun di atas dusta hanyalah masa lalu yang menyamar.” Namun tak seorang pun mendengar — lebih mudah bersorak untuk parade daripada mengakui jalan itu melingkar.
Dan demikianlah Kerajaan Esok Hari terus berbaris maju tanpa henti, tak pernah tiba di mana pun, namun selalu mengumumkan bahwa mereka telah sampai.
“Engkau terus berdiri di samping dusta dan menyebutnya masa depan.” Kalimat ini lebih dari sekadar ratapan puitis; ia adalah dakwaan tajam tentang betapa seringnya penipuan didandani sebagai kemajuan. Dalam politik, bisnis, bahkan kehidupan pribadi, kebohongan diarak sebagai visi tentang hari esok, sementara kebenaran diam-diam diasingkan dari ruangan.
Pengamatan ini sudah lama ada. Hannah Arendt (1968) mencatat bahwa kebenaran dan politik sejak dulu tidak akur, dan bahwa berbohong lama dianggap sebagai alat yang sah dalam dunia politik. George Orwell (1946) melangkah lebih jauh: menurutnya bahasa politik dirancang agar dusta terdengar jujur dan agar angin kosong tampak kokoh. Yang berubah bukanlah kebiasaannya, melainkan skala dan kemasannya. Harry Frankfurt (2005) membuat pembedaan yang berguna: pembohong setidaknya mengakui kebenaran untuk kemudian menyangkalnya, sedangkan pengumbar bullshit (omong kosong), begitu istilahnya yang blak-blakan, sama sekali tidak peduli pada kebenaran. Masa depan yang dijanjikan oleh orang yang tidak peduli apakah janjinya benar hanyalah masa depan di atas nama.
Sissela Bok (1978) menambahkan bahwa kerusakan akibat tipu daya jarang terbatas pada korban langsungnya. Setiap kebohongan menguras cadangan kepercayaan bersama, padahal setiap janji tentang masa depan pada akhirnya bergantung pada cadangan itu.
Bacaan lanjutan: Arendt, Between Past and Future (esai “Truth and Politics”); Orwell, “Politics and the English Language”; Frankfurt, On Bullshit; Bok, Lying: Moral Choice in Public and Private Life.
Paralel Sejarah
Sejarah penuh dengan masa depan yang dijanjikan tetapi tak pernah tiba. Propaganda utopia abad kedua puluh, skema ekonomi yang dibangun di atas pasir, dan proyek nasional raksasa yang rontok oleh korupsi, semuanya menunjukkan rapuhnya masa depan yang disusun di atas tipu daya. Peristiwa-peristiwa ini mengingatkan kita bahwa janji palsu mungkin berkilau sesaat, tetapi takkan bertahan.
Lihatlah proyek-proyek utopia abad lalu. Anne Applebaum (2003) menunjukkan bagaimana sistem kamp Soviet dibungkus dengan bahasa pendidikan ulang dan pembangunan sosialis, sementara Frank Dikötter (2010) mendokumentasikan bagaimana pada masa Lompatan Jauh ke Depan di China, para pejabat berlomba melaporkan hasil panen yang kian besar demi menyenangkan atasan. Angka-angka yang digelembungkan itu dijadikan dasar untuk menaikkan pengadaan biji-bijian oleh negara, dan pedesaan pun kelaparan. Dusta itu bukan catatan kaki kebijakan; ia adalah mesin bencananya. James C. Scott (1998) menjelaskan mengapa bencana semacam ini terus berulang: rencana-rencana besar dipaksakan dari atas oleh penguasa yang cuma melihat apa yang ditunjukkan peta-peta yang telah disederhanakan, dan membungkam pengetahuan lokal yang mungkin membantah mereka.
Timur Kuran (1995) menyediakan mekanisme psikologisnya. Ia menyebutnya “pemalsuan preferensi” (preference falsification): orang menyatakan di depan umum apa yang secara pribadi mereka ragukan. Rezim yang ditegakkan di atas sandiwara semacam itu tampak perkasa hingga saat runtuhnya, karena tidak seorang pun mengatakan kebenaran kepadanya, dan para penguasa sendiri sering berhenti mengatakannya kepada diri mereka sendiri.
Catatan ekonominya tak lebih ramah. Charles Mackay (1841) mengisahkan demam tulip, Gelembung Laut Selatan (South Sea Bubble), dan skema Mississippi milik John Law. Kisahnya tentang demam tulip kemudian dipersoalkan oleh sejarawan seperti Anne Goldgar (2007), tetapi pola besar yang ia gambarkan tetap berlaku. Charles Kindleberger (1978) menunjukkan bahwa demam keuangan mengikuti naskah yang dapat dikenali, ketika euforia dan penyangkalan mendahului kehancuran, dan Carmen Reinhart serta Kenneth Rogoff (2009) menelusuri keyakinan yang sama sepanjang delapan abad kebodohan finansial: bahwa “kali ini berbeda”. Ternyata tidak pernah berbeda.
Terakhir, Daron Acemoglu dan James Robinson (2012) berpendapat bahwa bangsa-bangsa gagal bukan karena nasib buruk atau letak geografis, melainkan karena para elite membangun lembaga ekstraktif yang mengalirkan kekayaan ke atas sambil mengumandangkan pembaruan nasional. Proyek besar yang dijalankan lewat lembaga semacam itu menjadi monumen bagi kepentingan para pembangunnya, bukan bagi kepentingan publik.
Bacaan lanjutan: Applebaum, Gulag: A History of the Soviet Camps; Dikötter, Mao’s Great Famine; Scott, Seeing Like a State; Kuran, Private Truths, Public Lies; Kindleberger, Manias, Panics and Crashes; Reinhart dan Rogoff, This Time Is Different; Acemoglu dan Robinson, Why Nations Fail.
Gema di Masa Kini
Hari ini pola yang sama terus berlanjut. Para politikus berbicara tentang pembaruan sambil mendaur ulang ilusi lama. Korporasi memasarkan “inovasi” yang tidak lebih dari ganti kemasan. Bahkan dalam hubungan pribadi, orang berpegang pada kebohongan yang menenangkan dan menganggapnya sebagai harapan. Frasa itu menangkap penyakit zaman ini: betapa mudahnya ilusi dikira takdir.
Dalam politik, Peter Pomerantsev (2019) berpendapat bahwa disinformasi modern sering kali tidak bertujuan meyakinkan khalayak akan satu kebohongan tertentu, melainkan menguras tenaga mereka, sehingga tidak ada yang tampak dapat diketahui dan segalanya tampak bisa ditawar. Timothy Snyder (2017; 2018) memperingatkan bahwa publik yang tidak lagi percaya pada fakta tidak dapat menuntut pertanggungjawaban siapa pun, dan Michiko Kakutani (2018) menelusuri terkikisnya kebenaran secara lebih luas di bidang politik, budaya, dan teknologi.
Dalam dunia bisnis, Naomi Klein (2000) mengamati bagaimana merek mulai menjual gagasan tentang sebuah gaya hidup, bukan produk, sehingga cerita menjadi lebih penting daripada barang yang dijual. Evgeny Morozov (2013) mengkritik “solusionisme”: kebiasaan menyajikan setiap persoalan sosial sebagai gangguan teknis yang tinggal menunggu aplikasi, dan setiap aplikasi sebagai langkah menuju dunia yang lebih baik. Dalam retorika semacam itu, inovasi menjadi takdir yang harus diterima, bukan klaim yang harus diuji.
Dalam kehidupan pribadi, Lauren Berlant (2011) menggambarkan “optimisme yang kejam” (cruel optimism): keterikatan pada fantasi tentang kehidupan yang baik yang justru menghalangi kesejahteraan yang dijanjikannya. Daniel Goleman (1985) menelaah “dusta vital” yang diceritakan individu dan kelompok untuk menghindarkan diri dari rasa tidak nyaman, dan Dan Ariely (2012) menunjukkan bahwa kebanyakan orang hanya berbuat curang sedikit, justru agar mereka tetap dapat menganggap diri jujur. Kebohongan yang menghibur dalam kehidupan pribadi bekerja persis seperti kebohongan besar di ruang publik: ia melindungi cerita yang ingin kita percayai dengan mengorbankan hidup yang sebenarnya kita jalani.
Bacaan lanjutan: Pomerantsev, This Is Not Propaganda; Snyder, On Tyranny dan The Road to Unfreedom; Kakutani, The Death of Truth; Klein, No Logo; Morozov, To Save Everything, Click Here; Berlant, Cruel Optimism; Goleman, Vital Lies, Simple Truths; Ariely, The (Honest) Truth About Dishonesty.
Refleksi Filosofis
Kebenaran adalah benih: ia tumbuh lambat, sering kali menyakitkan, tetapi bertahan. Dusta adalah perancah: ia menjulang cepat dan megah, tetapi runtuh begitu diberi beban. Menyebut penipuan sebagai “masa depan” berarti mengira perancah sebagai fondasi. Masyarakat takkan benar-benar maju jika kemajuannya bertumpu pada kepalsuan; ia hanya berputar kembali ke kegagalan yang sama.
Bernard Williams (2002) berpendapat bahwa keutamaan kejujuran, yang ia namai Ketepatan (Accuracy) dan Ketulusan (Sincerity), bukanlah pelengkap kehidupan beradab yang bisa dipilih atau ditinggalkan, melainkan syarat kerja sama itu sendiri. Tanpa keduanya, kita tak dapat mengandalkan apa yang dikatakan orang lain dan tak dapat membangun lembaga yang bertahan melampaui satu generasi. Karl Popper (1945) memberi argumen ini dalam bentuk politiknya: masyarakat terbuka bertahan karena membolehkan kritik, dan kritik adalah cara kesalahan dikoreksi, sedangkan sistem tertutup mengebalkan klaim-klaimnya dari sanggahan sehingga pasti membuat kesalahannya menumpuk. Jared Diamond (2005) sampai pada kesimpulan serupa secara empiris, dengan menunjukkan bagaimana kegagalan mengantisipasi, menyadari, dan menangani masalah turut meruntuhkan berbagai masyarakat.
Plato memberi pelajaran dari kedua sisi. Dalam Republic ia mengajukan “dusta mulia” (noble lie), mitos pendirian yang diceritakan kepada warga demi kebaikan negara-kota, dan dalam karya yang sama ia menyodorkan alegori gua, tempat para tawanan mengira bayang-bayang di dinding sebagai kenyataan (Plato, 1993). Ironinya sulit diabaikan: buku yang sama yang menimbang manfaat sebuah fiksi juga menyajikan gambaran paling abadi tentang ongkosnya. Jean Baudrillard (1994) dan Guy Debord (1994) membawa gua itu ke zaman media, menggambarkan masyarakat tempat citra tentang kenyataan lambat laun menggeser kenyataan itu sendiri.
Bacaan lanjutan: Williams, Truth and Truthfulness; Popper, The Open Society and Its Enemies; Diamond, Collapse; Plato, Republic (Buku III dan VII); Baudrillard, Simulacra and Simulation; Debord, The Society of the Spectacle.
Alegori Satiris
Bayangkan Kerajaan Hari Esok, tempat para penguasa membangun tembok janji, menara retorika, dan jembatan ilusi. Setiap tahun mereka meresmikan keajaiban baru: mesin tanpa roda gigi, peta menuju negeri yang tidak pernah ada, jam yang berjanji memutar waktu ke belakang. Rakyat bertepuk tangan, sebab tepuk tangan lebih murah daripada keraguan.
Pada setiap perayaan, Menteri Kemajuan menggunting pita di jembatan yang berhenti di tengah sungai, dan khalayak mengagumi pemandangan dari ujungnya. Mereka yang menunjukkan bahwa jembatan itu tak sampai ke seberang diberi ucapan terima kasih atas sumbangan pikirannya, lalu diyakinkan bahwa soal seberang adalah urusan anggaran tahun depan. Sementara itu, Kebenaran hidup dalam pengasingan, berbisik: “Masa depan yang dibangun di atas dusta hanyalah masa lalu yang menyamar.”
Kerajaan Hari Esok memiliki leluhur yang terhormat. Jonathan Swift (1726) mengirim Gulliver ke Laputa, yang Akademi Perancangnya (Academy of Projectors) mengejar rencana-rencana yang luar biasa mustahil. Dalam dongeng Hans Christian Andersen (1837), para punggawa memuji pakaian kaisar yang tidak ada karena meragukannya berarti mengaku diri tidak layak. Animal Farm karya Orwell (1945) memperlihatkan perintah-perintah revolusi yang diam-diam dicat ulang sesuai kehendak penguasa; Candide karya Voltaire (1759) menertawakan optimisme yang selamat dari setiap bencana; dan Utopia karya Thomas More (1516) membawa dalam namanya pengakuan bahwa tempat itu “tidak ada di mana pun” (no place). Satire bertahan karena tawa sering kali menjadi satu-satunya alat yang mampu menyelinap melewati pertahanan kebohongan yang nyaman.
Bacaan lanjutan: Swift, Gulliver’s Travels (Bagian III); Andersen, “The Emperor’s New Clothes”; Orwell, Animal Farm; Voltaire, Candide; More, Utopia.
Penutup
Frasa ini adalah peringatan sekaligus cermin. Ia mengingatkan bahwa masa depan yang dibangun di atas tipu daya sama sekali bukan masa depan, melainkan masa lalu yang didaur ulang dan dipakaikan kostum baru. Berdiri di samping dusta dan menyebutnya takdir berarti berjalan berputar-putar, mengira gerak sebagai kemajuan.Alternatifnya tidak harus heroik. Václav Havel (1985) menyebutnya “hidup dalam kebenaran” (living within the truth): penolakan yang keras kepala dan bersahaja untuk ikut serta dalam ritual berpura-pura. Ia memandangnya sebagai tindakan politik justru karena sistem dusta bergantung pada keikutsertaan semua orang, dan melemah ketika satu per satu orang diam-diam menarik diri. Snyder (2017) mengajukan seruan serupa dengan cara yang lebih praktis, yaitu mendesak pembaca membela gagasan tentang fakta itu sendiri.Tantangannya, dengan demikian, adalah mengenali ilusi, menolak godaannya, dan berkeras bahwa kebenaran adalah satu-satunya tanah tempat masa depan yang sejati dapat tumbuh.Bacaan lanjutan: Havel, “The Power of the Powerless”; Snyder, On Tyranny; Arendt, Between Past and Future.
Bacaan lanjutan: Havel, “The Power of the Powerless”; Snyder, On Tyranny; Arendt, Between Past and Future.
Daftar Pustaka
Acemoglu, D. and Robinson, J.A. (2012) Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity and Poverty. London: Profile Books.
Andersen, H.C. (1837) ‘The Emperor’s New Clothes’, in Fairy Tales Told for Children. Copenhagen: C.A. Reitzel.
Applebaum, A. (2003) Gulag: A History of the Soviet Camps. London: Allen Lane.
Arendt, H. (1968) Between Past and Future: Eight Exercises in Political Thought. Enlarged edn. New York: Viking Press. [Memuat “Truth and Politics”.]
Ariely, D. (2012) The (Honest) Truth About Dishonesty: How We Lie to Everyone – Especially Ourselves. New York: HarperCollins.
Baudrillard, J. (1994) Simulacra and Simulation. Trans. S.F. Glaser. Ann Arbor: University of Michigan Press.
Berlant, L. (2011) Cruel Optimism. Durham, NC: Duke University Press.
Bok, S. (1978) Lying: Moral Choice in Public and Private Life. New York: Pantheon Books.
Debord, G. (1994) The Society of the Spectacle. Trans. D. Nicholson-Smith. New York: Zone Books.
Diamond, J. (2005) Collapse: How Societies Choose to Fail or Survive. London: Allen Lane.
Dikötter, F. (2010) Mao’s Great Famine: The History of China’s Most Devastating Catastrophe, 1958–1962. London: Bloomsbury.
Frankfurt, H.G. (2005) On Bullshit. Princeton, NJ: Princeton University Press.
Goldgar, A. (2007) Tulipmania: Money, Honor, and Knowledge in the Dutch Golden Age. Chicago: University of Chicago Press.
Goleman, D. (1985) Vital Lies, Simple Truths: The Psychology of Self-Deception. New York: Simon & Schuster.
Havel, V. (1985) ‘The Power of the Powerless’, in Keane, J. (ed.) The Power of the Powerless: Citizens against the State in Central-Eastern Europe. London: Hutchinson. [Esai ditulis pada 1978.]
Kakutani, M. (2018) The Death of Truth. New York: Tim Duggan Books.
Kindleberger, C.P. (1978) Manias, Panics and Crashes: A History of Financial Crises. New York: Basic Books.
Klein, N. (2000) No Logo. London: Flamingo. [Terbit pertama 1999.]
Kuran, T. (1995) Private Truths, Public Lies: The Social Consequences of Preference Falsification. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Mackay, C. (1841) Memoirs of Extraordinary Popular Delusions. London: Richard Bentley. [Kemudian berganti judul menjadi Extraordinary Popular Delusions and the Madness of Crowds.]
More, T. (1516) Utopia. [Tersedia dalam banyak edisi modern.]
Morozov, E. (2013) To Save Everything, Click Here: Technology, Solutionism and the Urge to Fix Problems that Don’t Exist. London: Allen Lane.
Orwell, G. (1945) Animal Farm. London: Secker & Warburg.
Orwell, G. (1946) ‘Politics and the English Language’, Horizon, April.
Plato (1993) Republic. Trans. R. Waterfield. Oxford: Oxford University Press.
Pomerantsev, P. (2019) This Is Not Propaganda: Adventures in the War Against Reality. London: Faber & Faber.
Popper, K.R. (1945) The Open Society and Its Enemies. London: Routledge.
Reinhart, C.M. and Rogoff, K.S. (2009) This Time Is Different: Eight Centuries of Financial Folly. Princeton, NJ: Princeton University Press.
Scott, J.C. (1998) Seeing Like a State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed. New Haven, CT: Yale University Press.
Snyder, T. (2017) On Tyranny: Twenty Lessons from the Twentieth Century. London: Bodley Head.
Snyder, T. (2018) The Road to Unfreedom: Russia, Europe, America. London: Bodley Head.
Swift, J. (1726) Gulliver’s Travels. London: Benjamin Motte.
Voltaire (1759) Candide, ou l’Optimisme.
Williams, B. (2002) Truth and Truthfulness: An Essay in Genealogy. Princeton, NJ: Princeton University Press.

