Kamis, 10 September 2026

Mengapa Cerita Membutuhkan Fauna

Bukalah di hampir segala jenis cerita — dongeng pengantar tidur, perumpamaan, novel, atau film — dan cepat atau lambat, seekor marga satwa akan melintas di dalamnya. Seekor serigala mengendap di tepi hutan. Seekor paus menelan seorang manusia bulat-bulat. Seekor laba-laba merajut kata di atas pintu lumbung. Kehadiran hewan-hewan ini jarang sekadar hiasan. Mereka datang membawa muatan makna, perasaan, dan ingatan yang diwariskan turun-temurun oleh para pencerita sejak dahulu kala. Di berbagai kebudayaan, fauna berperan sebagai cermin, penunjuk jalan, sekaligus perumpamaan bagi pengalaman manusia. Bahkan bisa dikatakan, sebuah cerita tanpa fauna di dalamnya jarang mencapai kepenuhannya sebagai cerita.
 
Apa yang Dibawa Fauna ke Dalam Cerita

• Lambang yang sudah jadi
Keberanian mengenakan surai singa; kelicikan mengenakan seringai rubah; perdamaian hinggap di sayap merpati. Dengan memakai seekor marga satwa, seorang penulis dapat menyelundupkan satu gagasan besar ke dalam satu citra sederhana — dipahami sekilas pandang, lintas budaya, tanpa perlu berlembar-lembar penjelasan.

• Pelajaran yang disampaikan dari samping
Aesop sudah memahami trik ini sejak lama: bungkus kelemahan manusia dengan bulu atau sisik, maka pesan moralnya akan sampai tanpa perlu berkhotbah. Kura-kura mengalahkan kelinci bukan karena ada yang berkata bahwa kesabaran akan menang, melainkan karena cerita itu sekadar memperlihatkannya terjadi — dan pelajaran yang diperlihatkan selalu lebih mendalam daripada yang diucapkan.

• Tali penghubung ke alam
Setiap satwa yang muncul di halaman cerita menyeret serta seluruh alam di belakangnya — kelahiran, rasa lapar, migrasi, kematian. Drama manusia, sekecil apa pun, diam-diam ditempatkan berdampingan dengan siklus yang jauh lebih tua daripada kita semua.

• Perasaan yang datang cepat
Seekor burung yang terluka atau anjing yang setia menyentuh hati lebih cepat daripada gagasan abstrak mana pun. Barangkali karena para fauna tak meminta imbalan apa-apa, kesetiaan dan penderitaan mereka terasa polos, tanpa kepura-puraan — sehingga kita ikut merasakannya hampir sebelum sempat memutuskan untuk merasa.

• Sahabat dalam perjalanan batin
Tradisi sufistik dan mitos lainnya kerap mengutus seekor marga satwa sebagai penunjuk jalan atau pembawa pesan. Karya Farid ud-Din Attar dari abad kedua belas, Musyawarah Burung (Conference of the Birds), adalah contoh paling jelas: tiga puluh burung berangkat bersama mencari Simorgh yang legendaris, dan perjalanan mereka menjadi peta bagi pencarian jiwa manusia akan kebenaran. 
 
Merenung Lebih Dalam

Pada akhirnya, fauna hadir dalam cerita-cerita kita karena kita tak bisa menahan diri memproyeksikan diri sendiri ke dalam diri mereka. Amati seekor gagak menghindari perangkap, seekor kucing menimbang-nimbang ruangan, atau seekor paus bergerak tenang di lautan lepas, dan sesuatu dari watak kita sendiri bakal sejenak tersingkap. Fauna cukup dekat dengan kita untuk dikenali, namun cukup asing untuk memperlihatkan hal-hal yang tak pernah bisa kita lihat semata dengan menatap diri sendiri.

Cabutlah satwa dari cerita-cerita kita, dan yang tersisa terasa aneh, seolah kehabisan udara — terkurung oleh niat dan pembenaran diri manusia semata, tanpa arah lain untuk menoleh. Kembalikanlah mereka, maka cerita pun meluas: ia mengambil irama hutan, keheningan gurun, tarikan pasang laut. Bagaimanapun, seekor marga satwa tak bisa dibujuk dengan kata-kata sebagaimana seorang lawan manusia bisa; ia sekadar ada, menurut hukumnya sendiri — dan kehadirannya yang lugu dan tak terbantahkan itu mendorong tokoh cerita, juga pembaca, berhadapan dengan naluri, kefanaan, dan batas dari apa yang mereka kira mereka pahami.

Kebiasaan yang Lebih Tua daripada Tulisan

Semua ini bukanlah kebiasaan modern, apalagi milik Barat semata. Di antara seni bercerita tertua yang kita miliki — lukisan dinding di gua Lascaux dan Chauvet, berusia puluhan ribu tahun — yang mendominasi justru hewan, bukan manusia: bison, kuda, aurochs, terekam sedang bergerak di atas batu. Jauh sebelum bahasa mengendap menjadi sesuatu yang kita kenali sebagai cerita, manusia sudah bertutur lewat tubuh makhluk-makhluk lain.

Setiap tradisi sastra memiliki bestiarinya sendiri. India mewariskan Panchatantra dan kisah-kisah Jataka, tempat para satwa melatih siasat pemerintahan, kelicikan, dan pengorbanan diri. Di dunia Melayu dan Nusantara, ada Kancil, yang selalu berhasil meloloskan diri dari bahaya dengan akal, bukan kekuatan, mengalahkan para marga satwa yang jauh lebih besar darinya — sekerabat dengan Br'er Rabbit di Amerika Selatan atau Anansi si laba-laba di Afrika Barat dan Karibia. Zodiak Tionghoa mengubah dua belas hewan menjadi cetakan watak dan nasib. Dalam mitologi Nordik, Odin menyimpan dua ekor gagak di bahunya, Huginn dan Muninn — Pikiran dan Ingatan — pengingat bahwa kebijaksanaan pun barangkali bersayap.

Kebiasaan ini pun tak kunjung surut dalam sastra modern. George Orwell melepaskan pemberontakan di sebuah peternakan dalam Animal Farm, membedah rezim totaliter dengan ketajaman yang mungkin tak tercapai oleh sekumpulan tokoh manusia semata — babi yang berlagak diktator terasa sekaligus konyol dan tepat sasaran. Richard Adams mengirim sekawanan kelinci mengarungi pengasingan dan kepulangan dalam Watership Down. Yann Martel, dalam Life of Pi, membuat pembaca bertanya-tanya hingga halaman terakhir apakah harimau yang menumpang sekoci itu makhluk sungguhan, proyeksi batin, atau keduanya sekaligus — dan sengaja membiarkan pertanyaan itu terbuka. 
Mengapa Kebiasaan Ini Bertahan

Ada pula sisi kognitif dari semua ini. Para peneliti yang mempelajari cara anak-anak menyerap cerita mendapati bahwa anak-anak lebih mudah akrab dengan tokoh hewan — sebagian karena satwa tak membawa beban sosial yang langsung melekat pada tokoh manusia sejak kalimat pertama: kelas sosial, gender, kebangsaan. Seekor rubah dalam cerita tetaplah sekadar rubah; pembaca dari latar belakang mana pun bisa masuk ke dalam dirinya tanpa perlu lebih dulu menebak siapa yang sebenarnya ia wakili. Jauh dari kelemahan, kekosongan makna itu justru anugerah: ia membuat cerita bisa menjangkau khalayak seluas mungkin, sembari tetap menyampaikan sesuatu yang sangat spesifik tentang keberanian, ketamakan, kesetiaan, atau rasa takut.

Ada lagi alasan yang lebih anteng, lebih dekat dengan zaman kita sekarang. Di tengah kecemasan akan perubahan iklim dan kepunahan spesies, cerita yang dihuni satwa berbuat lebih dari sekadar menghibur — ia menjaga tetap hidupnya ikatan imajinatif dengan dunia bukan manusia, ikatan yang justru mudah luntur oleh kehidupan modern yang serba industrial. Memperlakukan seekor hewan dengan sungguh-sungguh di atas halaman — sebagai makhluk dengan logikanya sendiri dan kehidupan batinnya sendiri, bukan sekadar alat peraga bagi perasaan manusia — adalah tindakan kecil untuk tetap memberi perhatian, di tengah kebudayaan yang semakin lupa bahwa makhluk lain pun ada.
 
Cerita, Perasaan, dan Alasan untuk Melindungi

Kedekatan antara pembaca dan fauna ini bukan sekadar soal selera atau teknik bercerita; ia berdampak nyata pada bagaimana satwa sungguh-sungguh diperlakukan. Cerita tidak hanya meminjam bulu dan kulit untuk membungkus persoalan manusia — berkali-kali, cerita juga mengubah cara seluruh masyarakat memandang kekejaman, kesejahteraan, dan apa yang sepatutnya menjadi hak makhluk lain.

Black Beauty (1877) karya Anna Sewell, yang dituturkan sepenuhnya melalui suara seekor kuda, secara luas dianggap telah mengubah sikap masyarakat era Victoria terhadap satwa pekerja. Pembaca yang mungkin tak pernah mempersoalkan tali kekang atau cambuk, lewat siasat penceritaan Sewell, tiba-tiba merasakan sendiri gigitan besi kekang dan sabetan cambuk itu. Novel ini kini dipandang sebagai salah satu karya tulis paling awal dan paling efektif tentang kesejahteraan hewan, dan turut mendorong lahirnya undang-undang anti-kekejaman pertama di Inggris. Charlotte's Web karya E. B. White menempuh jalan yang lebih lembut namun menuju tujuan serupa, mengajak pembaca cilik untuk melihat seekor babi yang akan disembelih sebagai sahabat yang layak diselamatkan — menanam benih welas asih jauh sebelum mereka mampu memberi nama pada gagasan hak-hak satwa.

Pada dasarnya, inilah cara kerja empati naratif. Para psikolog yang mempelajari “transportasi naratif” — sensasi terhanyut sepenuhnya ke dalam sebuah cerita — mendapati bahwa pembaca yang larut dalam sudut pandang seorang tokoh sering membawa serta sebagian rasa empati itu kembali ke dunia nyata setelah buku ditutup. Ketika tokoh yang bernama dan berdenyut jantung itu kebetulan seekor kuda, babi, laba-laba, atau paus, empati yang terbawa itu tidak lantas berhenti sopan-sopan di batas spesies. Pembaca yang menangis karena penderitaan Black Beauty, atau karena kematian Charlotte, telah berlatih, dalam skala kecil, tindakan peduli terhadap makhluk yang tak mampu membela dirinya dengan kata-kata yang mudah didengar manusia.

Penceritaan masa kini meneruskan upaya ini di tengah tekanan yang baru. Tulisan alam dan film dokumenter satwa liar — dari memoar konservasi Gerald Durrell hingga film-film alam masa kini — sengaja bersandar pada narasi, memberi nama, watak, dan alur kisah kepada satwa tertentu, karena khalayak jauh lebih tergerak melindungi sesuatu yang telah mereka cintai sebagai tokoh, ketimbang sekadar mencatatnya sebagai angka statistik. Kampanye menentang perburuan liar, penggundulan hutan, dan peternakan industri kian sering meminjam alat yang sama: seekor gajah bernama, seekor ayam bernama, mewakili satu spesies utuh — sebab hal yang umum dan abstrak jarang menggerakkan orang untuk bertindak, sementara satu makhluk dengan kisahnya sendiri hampir selalu berhasil.

Dilihat dari sudut ini, perlindungan hewan bukanlah persoalan terpisah dari pertanyaan mengapa cerita membutuhkan fauna — ia justru salah satu bukti terkuat bagi argumen itu sendiri. Jika fiksi mampu membuat kita berduka atas kematian seekor kuda atau laba-laba, itu sudah menunjukkan bahwa para satwa bukan sekadar lambang yang dipinjam untuk kepentingan makna manusia; mereka adalah makhluk yang nasibnya bisa sungguh-sungguh berarti bagi kita, demi diri mereka sendiri. Daya imajinasi yang sama, yang memungkinkan seorang pencerita meminjam kelicikan serigala atau kedamaian merpati, adalah daya imajinasi yang sama pula yang, ketika diarahkan keluar, memungkinkan seorang pembaca mengenali penderitaan pada makhluk yang jauh berbeda dari dirinya — dan, setelah mengenalinya, merasakan dorongan untuk mencegahnya.
 
Penutup

Dari dinding gua zaman Paleolitikum hingga fabel Aesop, dari burung-burung mistik Attar hingga babi-babi pemberontak Orwell, fauna tak pernah menjadi sekadar pelengkap dalam kisah manusia — mereka adalah salah satu mesin penggeraknya yang paling tua dan paling andal. Mereka memadatkan makna ke dalam satu citra yang langsung terbaca, mengajarkan tanpa berkhotbah, dan membuka pintu menuju dunia alami yang sebenarnya terlalu sering ingin kita tutup. Barangkali jawaban paling jujur atas pertanyaan mengapa cerita membutuhkan fauna adalah ini: para satwa memungkinkan kita menuturkan kebenaran tentang diri kita dengan berpura-pura, untuk sesaat, sedang menatap makhluk lain — dan, dalam cerita-cerita terbaik, kita pun akhirnya menatap makhluk lain itu dengan sedikit lebih penuh kasih daripada sebelumnya.