Mengapa Kebiasaan Ini Bertahan
Ada pula sisi kognitif dari semua ini. Para peneliti yang mempelajari cara anak-anak menyerap cerita mendapati bahwa anak-anak lebih mudah akrab dengan tokoh hewan — sebagian karena satwa tak membawa beban sosial yang langsung melekat pada tokoh manusia sejak kalimat pertama: kelas sosial, gender, kebangsaan. Seekor rubah dalam cerita tetaplah sekadar rubah; pembaca dari latar belakang mana pun bisa masuk ke dalam dirinya tanpa perlu lebih dulu menebak siapa yang sebenarnya ia wakili. Jauh dari kelemahan, kekosongan makna itu justru anugerah: ia membuat cerita bisa menjangkau khalayak seluas mungkin, sembari tetap menyampaikan sesuatu yang sangat spesifik tentang keberanian, ketamakan, kesetiaan, atau rasa takut.
Ada lagi alasan yang lebih anteng, lebih dekat dengan zaman kita sekarang. Di tengah kecemasan akan perubahan iklim dan kepunahan spesies, cerita yang dihuni satwa berbuat lebih dari sekadar menghibur — ia menjaga tetap hidupnya ikatan imajinatif dengan dunia bukan manusia, ikatan yang justru mudah luntur oleh kehidupan modern yang serba industrial. Memperlakukan seekor hewan dengan sungguh-sungguh di atas halaman — sebagai makhluk dengan logikanya sendiri dan kehidupan batinnya sendiri, bukan sekadar alat peraga bagi perasaan manusia — adalah tindakan kecil untuk tetap memberi perhatian, di tengah kebudayaan yang semakin lupa bahwa makhluk lain pun ada.
Cerita, Perasaan, dan Alasan untuk Melindungi
Kedekatan antara pembaca dan fauna ini bukan sekadar soal selera atau teknik bercerita; ia berdampak nyata pada bagaimana satwa sungguh-sungguh diperlakukan. Cerita tidak hanya meminjam bulu dan kulit untuk membungkus persoalan manusia — berkali-kali, cerita juga mengubah cara seluruh masyarakat memandang kekejaman, kesejahteraan, dan apa yang sepatutnya menjadi hak makhluk lain.
Black Beauty (1877) karya Anna Sewell, yang dituturkan sepenuhnya melalui suara seekor kuda, secara luas dianggap telah mengubah sikap masyarakat era Victoria terhadap satwa pekerja. Pembaca yang mungkin tak pernah mempersoalkan tali kekang atau cambuk, lewat siasat penceritaan Sewell, tiba-tiba merasakan sendiri gigitan besi kekang dan sabetan cambuk itu. Novel ini kini dipandang sebagai salah satu karya tulis paling awal dan paling efektif tentang kesejahteraan hewan, dan turut mendorong lahirnya undang-undang anti-kekejaman pertama di Inggris. Charlotte's Web karya E. B. White menempuh jalan yang lebih lembut namun menuju tujuan serupa, mengajak pembaca cilik untuk melihat seekor babi yang akan disembelih sebagai sahabat yang layak diselamatkan — menanam benih welas asih jauh sebelum mereka mampu memberi nama pada gagasan hak-hak satwa.
Pada dasarnya, inilah cara kerja empati naratif. Para psikolog yang mempelajari “transportasi naratif” — sensasi terhanyut sepenuhnya ke dalam sebuah cerita — mendapati bahwa pembaca yang larut dalam sudut pandang seorang tokoh sering membawa serta sebagian rasa empati itu kembali ke dunia nyata setelah buku ditutup. Ketika tokoh yang bernama dan berdenyut jantung itu kebetulan seekor kuda, babi, laba-laba, atau paus, empati yang terbawa itu tidak lantas berhenti sopan-sopan di batas spesies. Pembaca yang menangis karena penderitaan Black Beauty, atau karena kematian Charlotte, telah berlatih, dalam skala kecil, tindakan peduli terhadap makhluk yang tak mampu membela dirinya dengan kata-kata yang mudah didengar manusia.
Penceritaan masa kini meneruskan upaya ini di tengah tekanan yang baru. Tulisan alam dan film dokumenter satwa liar — dari memoar konservasi Gerald Durrell hingga film-film alam masa kini — sengaja bersandar pada narasi, memberi nama, watak, dan alur kisah kepada satwa tertentu, karena khalayak jauh lebih tergerak melindungi sesuatu yang telah mereka cintai sebagai tokoh, ketimbang sekadar mencatatnya sebagai angka statistik. Kampanye menentang perburuan liar, penggundulan hutan, dan peternakan industri kian sering meminjam alat yang sama: seekor gajah bernama, seekor ayam bernama, mewakili satu spesies utuh — sebab hal yang umum dan abstrak jarang menggerakkan orang untuk bertindak, sementara satu makhluk dengan kisahnya sendiri hampir selalu berhasil.
Dilihat dari sudut ini, perlindungan hewan bukanlah persoalan terpisah dari pertanyaan mengapa cerita membutuhkan fauna — ia justru salah satu bukti terkuat bagi argumen itu sendiri. Jika fiksi mampu membuat kita berduka atas kematian seekor kuda atau laba-laba, itu sudah menunjukkan bahwa para satwa bukan sekadar lambang yang dipinjam untuk kepentingan makna manusia; mereka adalah makhluk yang nasibnya bisa sungguh-sungguh berarti bagi kita, demi diri mereka sendiri. Daya imajinasi yang sama, yang memungkinkan seorang pencerita meminjam kelicikan serigala atau kedamaian merpati, adalah daya imajinasi yang sama pula yang, ketika diarahkan keluar, memungkinkan seorang pembaca mengenali penderitaan pada makhluk yang jauh berbeda dari dirinya — dan, setelah mengenalinya, merasakan dorongan untuk mencegahnya.
Penutup
Dari dinding gua zaman Paleolitikum hingga fabel Aesop, dari burung-burung mistik Attar hingga babi-babi pemberontak Orwell, fauna tak pernah menjadi sekadar pelengkap dalam kisah manusia — mereka adalah salah satu mesin penggeraknya yang paling tua dan paling andal. Mereka memadatkan makna ke dalam satu citra yang langsung terbaca, mengajarkan tanpa berkhotbah, dan membuka pintu menuju dunia alami yang sebenarnya terlalu sering ingin kita tutup. Barangkali jawaban paling jujur atas pertanyaan mengapa cerita membutuhkan fauna adalah ini: para satwa memungkinkan kita menuturkan kebenaran tentang diri kita dengan berpura-pura, untuk sesaat, sedang menatap makhluk lain — dan, dalam cerita-cerita terbaik, kita pun akhirnya menatap makhluk lain itu dengan sedikit lebih penuh kasih daripada sebelumnya.