Jumat, 03 Agustus 2018

Rumah Itu (2)

"Orang pertama yang berlari di antara al-Safa dan al-Marwah, menurut Ibnu Abbas, adalah ibu Nabi Ismail, alaihissalam. Dan wanita Arab pertama yang membuat ikat pinggang dan mengikat gaunnya adalah ibu Ismail. Ia menghindari Sarah, ia mengikat gaunnya agar menghapus jejak kakinya agar tak ketahuan oleh Sarah. Nabi Ibrahim, alaihissalam, membawa dirinya dan Nabi Ismail, menuju pegunungan Faran, yaitu negeri Mekkah bersama mereka, lalu Nabi Ibrahim meninggalkan mereka di sana, yang kemudian pulang kembali ke Syria. Kelak, Nabi Ibrahim kembali lagi untuk membangun kembali Rumah Allah itu yang dikenal sebagai Baitul 'Atiq atau Ka'bah.
Menurut Mujahid dan ulama lainnya, ketika Allah menunjukkan kepada Nabi Ibraham lokasi letak Ka'bah, dan memberitahukan kepadanya bagaimana membangun rumah suci tersebut, ia berangkat untuk melaksanakan pekerjaan itu dan malaikat Jibril, alaihissalam, menyertainya. Disebutkan bahwa setiap kali Nabi Ibrahim melewati sebuah kota, ia akan bertanya, "Kota inikah yang dimakusdkan oleh perintah Allah, wahai Jibril?" Dan malaikat Jibril berkata, "Lewatkan saja." Akhirnya mereka tiba di Mekkah, yang pada waktu itu tak lain hanya ada pohon akasia, pohon mimosa, dan pohon duri, dan ada kaum yang disebutl orang Amalek di luar Mekkah dan sekitarnya. Ka'bah saat itu hanyalah sebuah bukit tanah liat merah. Nabi Ibrahim berkata kepada kepada malaikat Jibril, "Disinikah aku diperintahkan meninggalkan mereka?" Malaikat Jibril berkata, "Ya." Kemudian, Nabi Ibrahim mengarahkan Hajar dan Ismail menuju al-Hijr, dan menempatkan mereka di sana.

Hajar membawa tempat air kulit yang sudah usang berisi air, namun perlahan habis dan ia merasakan dahaga. Kemudian air susunya berhenti dan Nabi Ismail pun kehausan. Maka, ia mencari bukit yang landai di daerah itu, al-Safa, dan memanjatnya. Kemudian ia melihat-lihat sekeliling, berharap mendengar suara atau melihat seseorang yang bersikap ramah terhadapnya. Namun ia tak mendengar apapun, karenanya ia turun dari bukit itu. Ketika sampai di lembah, ia berlari meski ia tak menghendakinya, ini terkadang terjadi pada orang yang kelelahan. Kemudian, ia mencari-cari bukit landai lainnya dan memanjat al-Marwah untuk melihat-lihat lagi. Lalu ia mendengar suara samar. Karena tak yakin bahwa ia benar-benar mendengarnya, ia berkata "Husy!" pada dirinya sendiri, sampai ia yakin. Lalu ia berkata, "Engkau telah membuatku mendengar suara-Mu, beri aku air, karena aku hampir mati dan begitu juga yang bersamaku."
Kemudian, ia melihat malaikat di tempat air Zam-zam, menggali tanah dengan tumitnya (atau sayapnya) sampai air mengalir dari tempat itu. Menurut Mujahid, malaikat Jibril melepaskan Zamzam dengan tumitnya untuk Ismail. Hajar bergegas mengisi tempat airnya. Rasulullah (ﷺ) bersabda, "Semoga Allah memberkahi ibu Ismail! Jika ia tak segera membendungnya, air Zamzam itu akan terus menjadi mata air yang mengalir dengan deras." Malaikat Jibril berkata kepadanya, "Janganlah takut bila penduduk kota ini akan kehausan, karena mata air ini disediakan untuk minuman bagi para tamu Allah. Ayah anak ini akan datang, dan mereka akan membangun sebuah Rumah di tempat ini."

Sekelompok orang dari suku Jurhum sedang dalam perjalanan ke Syria. Melihat burung-burung di atas bukit, mereka saling bertanya, "Burung seperti itu hanya mengelilingi air, tahukah kalian ada air di lembah ini?" Tak satu pun dari mereka yang mengetahuinya. Kemudian mereka naik ke tempat yang tinggi dan melihat Hajar. Lalu mereka mendekati Hajar dan berkata, "Jika engkau mau, kami akan tinggal bersamamu dan menemanimu, sementara mata air itu tetap milikmu." Ia menjawab, "Ya." Maka, merekapun tinggal bersamanya hingga Ismail tumbuh dewasa. Ketika Hajar wafat, Ismail menikah dengan seorang wanita suku Jurhum.
Sementara itu, Nabi Ibrahim meminta izin Sarah untuk pergi mengunjungi Hajar, dan Sarah mengizinkan, dengan syarat bahwa ia tak menetap di sana. Hajar telah wafat saat Nabi Ibrahim datang ke rumah Nabi Ismail. Ia berkata kepada istri Nabi Ismail, "Di mana majikanmu?" Ia berkata, "Ia tak di sini. Ia pergi berburu." Nabi Ismail sering meninggalkan tempat suci itu untuk pergi berburu. Nabi Ibrahim berkata, "Adakah kemurahan-hatimu? Punyakah engkau makanan atau minuman?" Ia berkata, "Aku tak punya apa-apa, dan tak ada yang bersamaku." Nabi Ibrahim berkata, "Saat suamimu datang, ucapkan salam kepadanya dan sampaikan padanya bahwa ia harus mengganti ambang pintu rumahnya." Lalu Nabi Ibrahim pergi. Dan saat Nabi Ismail kembali, ia mencium aroma ayahnya. Maka ia berkata kepada istrinya, "Adakah tamu yang datang?" Isterinya berkata, "Seorang tua seperti Fulan bin Fulan datang kepadaku" -ia meremehkan Nabi Ibrahim. Nabi Ismail berkata, "Apa yang ia katakan padamu?" Isterinya berkata, "Ia mengatakan kepadaku, 'Ucapkan salam kepada suamimu dan sampaikan padanya bahwa ia harus mengganti ambang pintunya.' '
Maka Nabi Islmail pun menceraikan isterinya itu, dan menikah lagi dengan wanita Jurhum lain.

Nabi Ibrahim tinggal di Syria selama kehendak Allah dan kemudian meminta izin Sarah pergi ke Mekah lagi untuk mengunjungi Nabi Ismail. Sekali lagi, Sarah mengizinkan dengan syarat ia tak menetap disana. Nabi Ibrahim datang ke rumah Nabi Ismail dan berkata kepada istrinya, "Di mana majikanmu?" Ia menjawab, "Ia pergi berburu, tapi ia akan segera kembali, Insya Allah, tunggulah, dan semoga Allah merahmatimu!" ​Nabi Ibrahim bertanya, "Adakah kemurahan-hatimu?" Ia berkata, "Ya." Nabi Ibrahim berkata, "Punyakah engkau roti atau gandum atau jelai atau kurma?" Ia segera membawa susu dan daging, dan Nabi Ibrahim berdoa untuk berkah bagi mereka berdua. Andai ia membawa roti atau gandum atau kurma atau jelai, Mekkah telah banyak dipenuhi dengan barang-barang dari tempat manapun di bumi Allah. Ia berkata, "Tinggallah agar aku dapat membersihkan kapalamu." Namun Nabi Ibrahim tak mau tinggal, maka ia membawakan tempat berdiri dan meletakkannya di sisi kanan Nabi Ibrahim. Lalu, Nabi Ibrahim meletakkan kakinya di atasnya, dan jejak kakinya tampak jelas di atasnya. Lalu ia membasuh sisi kanan kepala Nabi Ibrahim, kemudian membalikkan posisi di sebelah kirinya dan membasuh sisi kirinya. Nabi Ibrahim berkata, "Saat suamimu datang, ucapkanlah salam dan sampaikan kepadanya, 'Ambang pintumu telah terpasang sesuai tempatnya.'"
Ketika Nabi Ismail datang, ia mencium aroma ayahnya, maka ia berkata kepada istrinya, "Adakah yang datang ?" Ia menjawab, "Ya, seorang tua, paling tampan dan paling harum di dunia ini. Ia berkata begini-begitu kepadaku dan aku menjawab begini-begitu, dan aku membasuh kepalanya, dan inilah tempat kakinya di tempat berdiri ini." Nabi Ismail berkata, "Apa yang ia katakan padamu?" Ia menjawab, "Ia berkata kepadaku, 'Saat suamimu datang, ucapkanlah salam dan sampaikan kepadanya, 'Ambang pintumu telah terpasang sesuai tempatnya.'" Nabi Ismail berkata, "Itulah ayahku Ibrahim."

Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim, 'Bangunkan Aku Rumah di atas bumi!' Nabi Ibrahim merasa risau, maka Allah mengirimkan Sakinah. Sakinah itu berwujud angin kencang dengan dua kepala, dan satu kepala mengikuti yang lain sampai mereka tiba di Mekkah dan melingkar di lokasi Rumah yang akan dibangun, seperti gulungan ular. Nabi Ibrahim diperintahkan untuk membangun tempat dimana Sakinah itu berhenti. Nabi Ibrahim datang dan menemukan Nabi  Ismail sedang memperbaiki anak panahnya di belakang Zamzam dan berkata kepadanya, "Wahai Ismail, Rabbmu telah memerintahkanku untuk membangun Rumah untuk-Nya." Ismail berkata, "Kalau begitu, taatilah Rabb ayah dan lakukan apa yang Dia perintahkan agar ayah lakukan." Kemudian Nabi Ibrahim berkata, "Dia telah memerintahkan agar engkau membantu ayah" Nabi Ismail menjawab, "Jika demikian, aku akan melakukannya ayah." Mereka memulai bekerja bersama, Nabi Ibrahim mengerjakan pembangunan, sementara Nabi Ismail membawakan batu. Ketika bangunan itu sudah tinggi dan Nabi Ibrahim yang tua terlalu lemah untuk mengangkat batu-batu setinggi itu, Nabi Ismail mengambil batu yang menjadi tempat berdiri Nabi Ibrahim tadi. Ia mulai menyerahkannya, sambil keduanya mengucapkan, seperti yang Allah firmankan dalam Surah Al-Baqarah [2]: 127, "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
Ketika Nabi Ibrahim hampir selesai, sebuah batu di penjuru Rumah itu, ia berkata kepada Nabi Ismail, "Wahai anakku, temukanlah sebuah batu yang bisa kutempatkan di sini sebagai tanda." Nabi ismail membawa sebuah batu, namun ia tak menyukainya dan berkata, "Carilah yang lain." Nabi Ismail pergi mencari, namun ketika ia kembali, sebuah batu penjuru telah dibawa dan Nabi Ibrahim meletakkannya di tempatnya. Ia bertanya, "Wahai ayah, siapa yang membawakan batu ini?" Nabi Ibrahim menjawab, "Seseorang yang tak mempercayakanku kepadamu, wahai anakku!"

Ketika Nabi Ibrahim selesai membangun Rumah sebagaimana yang diperintahkan Allah, Dia, Subhanahu wa Ta'ala, memerintahkan agar Nabi Ibrahim menyerukan Ibadah Haji di antara umat manusia, Allah berfirman dalam Surat Al-Haj [22]: 27, "Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh." Nabi Ibrahim kemudian berkata, "Wahai Tuhan, adakah suaraku akan sampai?" (maksudnya, siapa yang akan mendengarkanku?). Allah berfirman, "Serukanlah, sampai-tidaknya tanggung jawab-Ku." Nabi Ibrahim pun berseru, "Wahai manusia! Berziarahlah ke Rumah Allah yang di sediakan untukmu." Dan segala sesuatu antara langit dan bumi mendengarnya. Dan suaranya mencapai bahkan yang belum lahir di pinggul lelaki dan rahim wanita. Semua yang beriman di antara generasi masa lalu, yang mengetahui ilmu dari Allah, bahwa mereka akan melaksanakan ibadah Haji, antara saat itu dan hari kiamat, menjawab panggilan Nabi Ibrahim.
Nabi Ibrahim menghadap ke Selatan dan menyeru manusia kepada Allah dan untuk berziarah ke Rumah-Nya. Dan seruannya dijawab dengan "Aku disini, Wahai Tuhanku, aku disini dihadapan-Mu." Kemudian ia menghadap ke Timur dan menyeru manusia kepada Allah dan untuk berziarah ke Rumah-Nya. Dan seruannya dijawab dengan "Aku disini, Wahai Tuhanku, aku disini dihadapan-Mu." Kemudian ke Barat dan menyeru manusia kepada Allah dan untuk berziarah ke Rumah-Nya. Dan seruannya dijawab dengan "Aku disini, Wahai Tuhanku, aku disini dihadapan-Mu." Kemudian ke Utaradan menyeru manusia kepada Allah dan untuk berziarah ke Rumah-Nya. Dan seruannya dijawab dengan "Aku disini, Wahai Tuhanku, aku disini dihadapan-Mu."

Kemudian Nabi Ibrahim membawa Nabi Ismail pergi bersamanya pada hari Tarwiyah, dan tinggal di Mina bersamanya dan bersama ummat Islam yang bersamanya, dan ia shalat bersama mereka, shalat siang, sore, saat matahari terbenam, dan malam hari. Kemudian ia bermalam bersama mereka sampai mereka bangun, dan ia shalat subuh bersama mereka. Keesokan harinya ia pergi bersama mereka ke 'Arafah, dan ia berbicara kepada mereka di sana sampai matahari hampir terbenam. Kemudian ia menggabungkan dua shalat, siang dan sore, lalu ia keluar dan berdiri bersama mereka di semak-semak yang merupakan tempat berdiri 'Arafah, tempat pemimpin shalat berdiri mengajarinya dan menunjukkan kepadanya. Saat matahari terbenam, ia bergerak bersama pemimpin shalat dan orang-orang yang bersamanya sampai mereka tiba di al-Muzdalifah. Di sana ia menggabungkan dua shalat, shalat matahari terbenam dan shalat malam. Kemudian mereka bermalam sampai saat fajar menyingsing, ia shalat sholat subuh bersama. Kemudian ia berdiri bersama mereka di Quzah dari al-Muzdalifah. Inilah tempat berdiri dimana pemimpin shalat berdiri. Ketika siang tiba, ia memperlihatkan dan menjelaskan kepada mereka apa yang harus dilakukan, termasuk melempar batu. Ia menunjukkan tempat qurban di Mina, lalu melakukan qurban dan mencukur rambut kepala. Dari Mina ia pergi menunjukkan kepada mereka bagaimana melakukan thawaf di sekitar Ka'bah. Kemudian ia membawa mereka kembali ke Mina untuk menunjukkan kepada mereka bagaimana cara melempar batu-batu itu, sampai ia menyetujuinya dan menyerukannya kepada umat manusia.

Malaikat Jibril-lah yang menunjukkan tatacara ibadah Haji kepada Nabi Ibrahim ia melaksakannya. Malaikat Jibril datang kepada Nabi Ibrahim pada hari Tarwiyah dan pergi bersamanya ke Mina, shalat bersamanya siang, sore, matahari terbenam, dan malam, serta sholat subuh di Mina. Kemudian pada pagi hari ia membawa Nabi Ibrahim ke Arafah dan berdiri bersama di semak-semak tempat orang singgah, danshalat siang dan sore bersama-sama. Ia berdiri bersama Abraham sampai shalat matahari terbenam, lalu bergegas membawanya ke kerumunan orang dan shalatbersamanya dengan shalat matahari terbenam dan sore bersamaan. Kemudian mereka singgah dan bersama-sama shalat sholat subuh dengan sangat cepat, dan kemudian dengan sangat pelan. Setelah itu, ia membawa Nabi Ibrahim ke Mina, melemparkan batu, berqurban, mencukur rambut kepala, dan akhirnya bergegas ke Ka'bah."

Sang hujjaj mempersingkat kisahnya dengan berkata, "Kemudian Allah memerintahkan Nabi kita tercinta (ﷺ) agar mengikuti Millah Nabi Ibrahim, sebagai orang yang tulus-ikhlas. Ia bukan penyembah berhala."
"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!”"- [QS.2:125]
(Bagian 1)
Referensi :
- Ibn Kathir, Stories of The Prophet, Darussalam
- The History of at-Tabari, Volume II, Prophet and Patriarch, translated by William M. Brinner, State University of New York Press.

Rabu, 01 Agustus 2018

Rumah Itu (1)

Murai berkata, "Terima kasih Almond. Untuk sementara, biarlah Almond beristirahat dulu. Dan saudara-saudariku, adakah diantara kalian yang ingin berbagi?" Para unggas diam. Lalu Murai berkata kepada Angsa, "Wahai Angsa, adakah kisah darimu?" Angsa berkata, "Aku ingin melanjutkan kisah sang musafir muda." Murai berkata, "Silahkan saudariku!" Angsa melanjutkan kisahnya, "Sang hujjaj berkata kepada sang musafir muda, "Wahai anak muda, Rasulullah (ﷺ) bersabda, 'Tiada ruang di langit ketujuh seluas telapak kaki, atau tangan bahkan sendi jari, melainkan disana ada malaikat yang bersujud atau ruku'." Jadi, tak ada tempat di tujuh langit yang tak ditempati oleh para malaikat yang mengerjakan segala jenis ibadah. Ada dari mereka yang terus berdiri, yang lainnya terus ruku', dan yang lainnya terus bersujud. Yang lainnya terlibat dalam bentuk ibadah lain, dan hanya Allah Yang lebih mengetahui seperti apa mereka. Mereka terus sibuk dalam pemujaan, pemuliaan dan mengingat Allah; perbuatan yang telah diperintahkan Allah untuk mereka lakukan, dan tempat mereka di sisi Rabb mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala, dalam Surah As-Saffat [37]: 164-166, para malaikat berkata, "Dan tidak satu pun di antara kami (malaikat) melainkan masing-masing mempunyai kedudukan tertentu, dan sesungguhnya kami selalu teratur dalam barisan (dalam melaksanakan perintah Allah). Dan sungguh, kami benar-benar terus bertasbih (kepada Allah)."
Menurut Ibnu Katsir, ketika Ibnu Al-Kawwa bertanya kepada 'Ali bin Abi Thalib tentang Baitul Ma'mur, ia berkata:" Itu sebuah masjid di langit ketujuh, yang dikenal sebagai Ad-Durah. Berjajar dengan Ka'bah dari atas. Kesuciannya di langit bagai kesucian Ka'bah di Bumi. Setiap hari, tujuh puluh ribu malaikat shalat didalamnya dan mereka tak pernah kembali ke sana."
Yang lain mengatakan bahwa di setiap langit ada Baitullah yang penuh dengan malaikat, yang datang ke sana untuk beribadah. Mereka mengunjunginya secara bergiliran, sama seperti orang-orang di Bumi mengunjungi Ka'bah untuk melakukan ibadah Haji setiap tahun dan untuk melakukan 'Umrah setiap saat, dan melakukan tawaf dan shalat. Nama Baitullah yang ada di langit adalah Baitul 'Izzah dan nama malaikat yang memimpin malaikat di dalamnya adalah Isma'il. Ada tujuh puluh ribu malaikat yang masuk Baitul Ma'mur setiap hari dan mereka tidak kembali lagi - mereka takkan pernah kembali ke sana sampai akhir zaman - yang berasal dari penghuni surga ketujuh saja. Inilah sebabnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Muddatsir [74]: 31, "Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Rabbmu kecuali Dia sendiri."

Rasulullah (ﷺ) pernah berkata kepada para Sahabat, radhiyallahu 'anhum, "Mengapa kalian tak membentuk barisan seperti malaikat di hadapan Rabb mereka?" Para Sahabat berkata,"Wahai Rasulullah, bagaimana para malaikat membentuk saf di hadapan Rabb mereka?" Beliau (ﷺ) bersabda," Mereka membuat saf pertama penuh dahulu dan tetap berdekatan dalam saf itu."
Beliau (ﷺ) bersabda, "Kita lebih diberkahi dibanding umat manusia lainnya dalam tiga hal: bumi dijadikan masjid (yaitu tempat untuk sholat) bagi kita, dan debu-debunya telah dijadikan sarana bersuci bagi kita, serta saf kita (dalam shalat) telah dibuat seperti para malaikat."

Sang hujjaj diam sejenak, lalu melanjutkan, "Allah Yang Maha Kuasa memberi Nabi Adam, alaihissalam, kekuatan untuk mengetahui kodrat segala sesuatu dan meringkasnya dengan nama, itu seekor burung, yang itu adalah bintang, ini adalah pohon, dan lain-lain. Allah menanamkan didalam diri Nabi Adam keinginan tak terpuaskan dan kesukaan terhadap ilmu, serta keinginan menurunkan ilmu kepada anak-anaknya. Inilah alasan ia diciptakan dan rahasia pemujaannya. Setelah Nabi Adam mengetahui segala hal, beserta sifat dan penggunaannya, Nabi Adam belajar pelajaran lain. Nabi Adam menyadari bahwa Iblis adalah simbol kejahatan di alam semesta dan bahwa malaikat adalah simbol kebaikan, namun ia belum tahu apa-apa tentang dirinya sendiri. Kemudian Allah membuatnya merasakan identitas dirinya dan alasan ia diciptakan, serta rahasia pemujaannya.Allah ingin para malaikat mengetahui bahwa Dia mengetahui keheranan mereka saat Dia mengatakan kepada mereka tentang penciptaan Nabi Adam, dan bahwa Dia juga mengetahui kebingungan mereka yang tak diwahyukan kepada mereka, dan juga apa yang telah Iblis sembunyikan karena ketidaktaatan dan ketidakjujurannya. Malaikat menyadari bahwa Nabi Adam adalah makhluk yang mengetahui apa yang tak mereka ketahui, dan bahwa kemampuan belajarnya adalah kualitasnya yang paling mulia. Ilmunya termasuk ilmu tentang Sang Pencipta yang kita sebut iman atau Islam, serta ilmu yang ia butuhkan untuk mendiami dan menguasai bumi. Segala jenis ilmu duniawi termasuk dalam hal ini. Namun, bagaimanapun juga, Nabi Adam itu manusia dan manusia cenderung lupa. Hatinya berubah dan keinginannya akan melemah. Iblis memunculkan rasa iri di dalam dirinya dan mengambil keuntungan dari sisi kemanusiaan Nabi Adam untuk memanfaatkannya."

Sang musafir muda bertanya, "Mungkinkah jika dikatakan bahwa Nabi Adam dan umat manusia lainnya ditakdirkan berbuat dosa dan diusir dari surga serta diutus ke bumi?" Sang hujjaj berkata, "Sebenarnya, fiksi ini sama naifnya dengan kehendak bebas Nabi Adam sepenuhnya, dan ia menanggung akibat dari perbuatannya. Ia tak taat dengan memakan pohon terlarang, maka Allah menampiknya dari surga. Ketidaktaatannya tak membantah kebebasannya. Sebaliknya, inilah konsekuensinya. Kebenaran dari masalah ini adalah, bahwa Allah mengetahui apa yang akan terjadi, karena Dia selalu mengetahui hasil dari kejadian sebelum kejadian tersebut terjadi. Namun Allah tak memaksakan sesuatu hal yang akan terjadi, Dia memberikan kehendak bebas kepada mahluk-Nya yang manusiawi. Atas hal itu, Dia mendasarkan hikmah tertinggi-Nya dalam mempopulasikan bumi, membangun para wakil, dan seterusnya. Nabi Adam telah belajar dari pelajarannya dengan baik. Ia, alaihissalam, tahu sekarang dengan cara yang praktis bahwa Iblis adalah musuhnya, penyebab kehilangan rahmat tinggal di surga, dan penyebab kesusahannya. Nabi Adam juga memahami bahwa Allah menghukum ketidaktaatan, dan bahwa jalan menuju Firdaus harus melalui penyerahan diri kepada kehendak Allah. Dan ia belajar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memohon ampunan. Allah menerima taubat Nabi Adam dan memaafkannya. Dia kemudian mengirimnya ke bumi sebagai utusan pertamanya. Nabi Adam tahu ia harus mengucapkan selamat tinggal pada ketenteraman dan meninggalkan surga. Di bumi ia harus menghadapi konflik dan perjuangan. Tak lama setelah yang satu berakhir, yang lain akan dimulai. Ia juga harus bekerja keras untuk mempertahankan dirinya sendiri. Ia harus melindungi dirinya dengan pakaian dan senjata, dan melindungi istri dan anak-anaknya dari binatang buas. Yang terpenting, ia harus berjuang melawan kejahatan. Setan, penyebab pengusirannya dari surga, terus memperdayainya dan anak-anaknya dalam usaha agar mereka dilemparkan ke dalam api neraka abadi. Pertempuran antara yang baik dan yang batil terus berlanjut, namun mereka yang mengikuti tuntunan Allah, takkan takut apa-apa, sementara orang-orang yang tak menaati Allah dan mengikuti Iblis akan terkutuk bersamanya.

Nabi Adam menangis tersedu karena dosanya dan menyesalinya. Ia memohon kepada Allah agar menerima tobatnya dan mengampuni dosanya. Dalam doanya kepada Allah, menurut Ibnu Abbas, radhiyallahu 'anu, Nabi Adam berkata, "Wahai Rabbku, tidakkah Engkau menciptakanku dengan tanganmu sendiri?" Allah berfirman, "Ya." Nabi Adam berkata, "Wahai Rabbku, bukankah Engkau yang meniupkan roh-Mu ke dalam diriku?" Allah berfirman, "Ya." Nabi Adam berkata, "Wahai Rabbku, bukankah Engkau menjadikanku tinggal di Firdaus-Mu?" Allah berfirman, "Ya." Adam berkata, "Wahai Rabbku, bukankah rahmat-Mu mendahului murka-Mu?" Allah berfirman, "Ya." Nabi Adam berkata, "Tidakkah Engkau pertimbangkan bahwa, jika aku bertobat dan bertambah baik, Engkau membolehkanku kembali ke surga?" Allah berfirman, "Ya." Inilah arti firman Allah dalam Surah Al-Baqarah [2]: 37, "Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang." 

Dalam Tafsir Ibnu Jarir at-Tabari, menurut Al-Suddi, Allah mengeluarkan Nabi Adam dari surga, bukan mencampakkannya dari surga. Kemudian Dia, Subhanahu wa Ta'ala, mengusap sisi kanan punggung Nabi Adam dan entah bagaimana muncul dari dalamnya keturunan bagai bentuk semut kecil, putih bagai mutiara. Dia berkata kepada mereka, "Masuklah ke surga dengan rahmat-Ku!" Lalu Dia mengusap sisi kiri punggung Nabi Adam dan keluar benda berbentuk semut hitam kecil. Dia berkata kepada mereka, "Masuklah Jahannam! Aku tak peduli." Ini berarti dimana Allah berfirman tentang sahabat di sisi kanan dan sahabat-sahabat di sisi kiri. Kemudian Dia mengambil perjanjian mereka dan berkata, "Bukankah aku Rabbmu?" Mereka berkata, "Ya." Dan Allah memberi Nabi Adam kelompok yang rela dan kelompok yang tak rela berlaku alim.

Ketika Nabi Adam, alaihissalam, diturunkan ke bumi dan melihat betapa luasnya bumi itu, namun tak melihat siapapun kecuali dirinya sendiri, ia berkata, "Wahai Rabbku, tak adakah sesuatu di bumi milik-Mu selain aku kecuali yang akan tinggal di sana dan memuliakan dan mensucikan Engkau?" Allah berfirman, "Aku akan memerintahkan anak-anakmu memuja dan memuliakan-Ku. Aku akan memerintahkan dibangun rumah-rumah untuk menyebut-Ku di atasnya, rumah-rumah dimana ciptaan-Ku akan memuja dan menyebut nama-Ku. Aku akan menunjuk salah satu dari rumah-rumha itu, yang dipilih karena rahmat-Ku dan membedakannya dari yang lain dengan nama-Ku, seta menyebutnya Rumah-Ku. Aku akan menjadikannya tempat yang menyerukan kebesaran-Ku, dan atasnya telah Aku letakkan kemuliaan-Ku. Selain itu, Aku akan membuat Rumah itu menjadi tempat perlindungan yang aman yang kesuciannya akan mencakup sekelilingnya, di bawahnya, dan di atasnya. Barang siapa yang mensucikannya dengan kesucian-Ku, mewajibkan-Ku merahmatinya. Barangsiapa yang menakut-nakuti penghuninya, telah melepaskan perlindungan-Ku dan melanggar kesucian-Ku. Aku akan menjadikannya Rumah pertama yang didirikan sebagai berkah bagi umat manusia di lembah Mekah. Mereka akan datang ke sana dalam keadaan kusut-masai dan tertutup debu di atassegala jenis tunggangan dari setiap ngarai yang dalam, menyerukan, "Kujawab panggilan-Mu (labbayka)!" Menumpahkan banyak air mata dan meneriakkan Allahu Akbar! Merekalah yang niatnya hanya pergi ke sana dan tak ada tempat lain selain datang kepadaKu sebagai pengunjung-Ku dan menjadi tamu-Ku. Sepantasnyalah orang yang terhormat harus menunjukkan kemurahan hati kepada orang-orang yang datang kepadanya dan menjadi tamunya, dan memenuhi kebutuhan semua orang. Engkau akan tinggal di sana, Adam, selama hidupmu. Kemudian bangsa-bangsa, keturunan-keturunan, nabi-nabi dari anak-anakmu akan tinggal di sana, ummat demi ummat, generasi demi generasi. "

Maka, Allah memerintahkan Nabi Adam, alaihissalam, pergi ke Baitullah yang diturunkan ke bumi untuknya, dan untuk mengitarinya, sama seperti yang ia lihat malaikat-malaikat mengelilingi Arsy Allah. Rumah Suci itu terbuat dari batu rubi atau mutiara. Dikatakan oleh al-Masan bin Yahya bahwa Baiutllah itu saat diturunkan berupa sebuah permata (rubi) atau mutiara. Akhirnya, ketika Allah menenggelamkan kaum Nabi Nuh, alaihissalam, Dia mengangkatnya, tapi pondasinya tetap ada. Allah menetapkannya sebagai tempat kediaman bagi Nabi Ibrahim, alaihissalam, yang membangunnya kembali dalam bentuknya yang terakhir.

Ketika Allah mengeluarkan Nabi Adam dari surga, menurut Ata' ibnu Rabah, saat Allah melihat ketelanjangan Nabi Adam dan Hawa, Dia memerintahkan Nabi Adam menyembelih seekor domba dari delapan pasangan ternak kecil yang telah Dia turunkan dari surga. Nabi Adam mengambil domba jantan dan menyembelihnya. Lalu ia mengambil wolnya, dan Hawa memintalnya. Ia dan Hawa menenunnya. Nabi Adam membuat mantel untuk dirinya, dan sebuah penutup dan kerudung untuk Hawa. Mereka mengenakan pakaian itu. Kemudian Allah berfirman kepada Nabi Adam, "Aku memiliki sebuah wilayah suci di sekitar Arsy-Ku. Pergilah dan bangunlah rumah-suci untuk-Ku di sana! Kemudian berkumpullah di sekelilingnya, seperti yang telah engkau lihat malaikat-malaikat-Ku mengitari Arsy-Ku. Di sana, Aku akan menjawabmu dan semua anak-anakmu yang taat kepada-Ku. " Nabi Adam berkata, "Tuhanku! Bagaimana aku melaksanakannya? Aku tak punya kekuatan melakukannya dan tak tahu caranya."
Allah memilih seorang malaikat membantunya, dan ia pergi bersamanya menuju Mekah. Kapan pun Adam melewati padang rumput atau tempat yang ia sukai, ia akan berkata kepada malaikat itu, "Mari kita berhenti di sini!" Dan malaikat itu akan berkata kepadanya, "Silahkan!" Hal ini berlanjut sampai mereka tiba di Mekkah. Di setiap tempat dimana ia berhenti, menjadi lahan subur. Dan di setiap tempat yang terlewatkan olehnya, menjadi padang pasir yang senyap.

Nabi Adam membangun Baitullah itu dengan bahan-bahan dari lima gunung: Gunung Sinai, Bukit Zaitun, Gunung Libanon, dan al-Judi, dan ia membangun fondasinya dengan bahan-bahan dari Gunung Hira' dekat Mekah. Ketika pembangunanya telah selesai, malaikat mengajaknya ke `Arafah. Ia menunjukkan kepadanya semua ritual yang berhubungan dengan ibadah Haji yang dilaksanakan saat ini.
Menurut Ata' bin Rabah, Allah menurunkan sebuah yaqut ("ruby") surga dilokasi Baitullah itu berada sekarang ini. Nabi Adam terus mengitarinya, sampai Allah menurunkan Air bah. Yaqut itu terangkat, sampai Tuhan mengutus al-Khalil, Nabi Ibrahim, alaihissalam, untuk membangun kembali Rumah tersebut dalam bentuknya yang belakangan."

Masa berlalu. Generasi demi generasi berganti. Suatu hari, Nabi Ibrahim terbangun dan meminta istrinya, Hajar, untuk membawa anaknya, bersiap-siap melakukan perjalanan yang panjang. Beberapa hari kemudian, Nabi Ibraham memulai perjalanan bersama Hajar dan putra mereka Ismail. Anak itu masih menyusui dan belum disapih. Nabi Ibrahim berjalan melalui tanah garapan, padang pasir, dan gunung, hingga ia sampai di padang gurun Jazirah Arab, dan akhirnya mencapai lembah yang gersang, tak ada pepohonan, tak ada makanan, tak ada air. Tak ada tanda-tanda kehidupan di lembah itu. Setelah Nabi Ibrahim membantu istri dan anaknya menurunkan bekal, ia meninggalkan mereka dengan sedikit makanan dan air yang hampir tak cukup untuk 2 hari. Ia berbalik dan berjalan pergi. Isterinya bergegas mengejarnya dan bertanya, "Kemana engkau pergi Ibrahim, meninggalkan kami di lembah tandus ini?"

Nabi Ibrahim tak menjawab, ia terus berjalan. Isterinya mengulangi apa yang telah ia ucapkan, namun Nabi Ibrahim tetap diam. Akhirnya, isterinya mengerti bahwa ia bertindak bukan berdasarkan kehendaknya sendiri. Ia menyadari bahwa Allah telah memerintahkan suaminya untuk melakukan ini. Hajar bertanya kepadanya, "Adakah Allah memerintahkanmu untuk melakukannya?" Ia menjawab, "Ya." Kemudian istrinya yang tabah itu berkata, "Kami takkan tersesat, karena Allah, Yang telah memerintahkanmu, bersama kami." Nabi Ibrahim memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, seperti dalam Surah Ibrahim [14]: 37-38, "Wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, wahai Rabb (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit."
(Bagian 2)