Jumat, 18 September 2026

Kemewahan Sejati: Waktu, Kesehatan, Ketenangan Pikiran, dan Hikmah Wahyu

Ada sebuah gagasan yang tenang namun terus bergema dalam tulisan gaya hidup dan kesejahteraan kontemporer, yang sering dikaitkan dengan kreator konten Jade Bonacolta: bahwa kemewahan sejati sama sekali tak berkaitan dengan penumpukan harta benda. Sebaliknya, kemewahan itu terletak pada enam anugerah sederhana yang sering terabaikan — waktu, kesehatan, pikiran yang tenang, pagi yang tak tergesa-gesa, kebebasan bepergian, dan rumah yang dipenuhi cinta. Gagasan ini bergema jauh melampaui aforisme media sosial. Jika dicermati, ia mengulang kembali prinsip-prinsip yang telah tertanam dalam kitab suci Islam dan ajaran kenabian selama empat belas abad. Artikel ini mengupas masing-masing dari enam "kemewahan" tersebut dan menelusuri akarnya dalam Al-Qur'an dan Hadis.
 
1. Waktu: Aset yang Paling Sering Kita Sia-siakan

Cara pandang Bonacolta terhadap waktu sebagai "ruang untuk menikmati perjalanan hidup" dan bukan sekadar "jam yang berdetik" mencerminkan salah satu surah Al-Qur'an yang paling singkat namun penuh makna.

"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (Surah Al-'Asr, 103:1–3)

Kesingkatan surah ini justru mengandung pelajaran tersendiri: Allah bersumpah atas waktu sebagai perkara yang tak memerlukan penjelasan panjang, karena nilainya sudah jelas dengan sendirinya, namun selalu disia-siakan manusia. Rasulullah ﷺ menegaskan hal ini dalam sebuah hadis masyhur yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari:

"Ada dua nikmat yang banyak dilalaikan manusia: kesehatan dan waktu luang." (Sahih al-Bukhari)

2. Kesehatan: Fondasi yang Sering Terlupakan

Pengamatan Bonacolta bahwa kesehatan adalah "kemewahan yang baru kita sadari setelah hilang" hampir merupakan parafrase dari hadis yang dikutip di atas. Al-Qur'an pun menempatkan kesehatan jasmani sebagai sesuatu yang sepenuhnya bergantung pada kehendak Allah, bukan hak yang melekat pada manusia:

"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku." (Surah Asy-Syu'ara, 26:80)

Ayat ini, yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim, menempatkan kesehatan bukan sebagai milik, melainkan sebagai pinjaman — sesuatu yang dianugerahkan, dan karenanya perlu dijaga dan disyukuri, bukan dianggap sebagai hal yang sudah semestinya.

3. Pikiran Tenang: Kebebasan dari Kekhawatiran Berlebihan

Gagasan bahwa ketenangan pikiran "bukan berarti tiadanya masalah, melainkan kemampuan berdamai dengan diri sendiri" memiliki paralel langsung dalam Al-Qur'an:

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (Surah Ar-Ra'd, 13:28)

Nasihat singkat Rasulullah ﷺ — "Jangan marah" (la taghdab), yang diulang tiga kali kepada seseorang yang meminta satu wasiat saja (Sahih al-Bukhari) — menangkap prinsip yang sama dengan yang digambarkan Bonacolta: pengendalian emosi, bukan keadaan luar, adalah penentu sesungguhnya dari ketenangan batin.

4. Pagi yang Lambat: Permulaan yang Diberkahi

Al-Qur'an membuka salah satu surahnya dengan sumpah atas waktu fajar:

"Demi waktu fajar." (Surah Al-Fajr, 89:1)

Dan Rasulullah ﷺ diriwayatkan pernah berdoa:

"Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya." (Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi — derajat hadis ini sebaiknya diverifikasi kembali sebelum dikutip)

Penekanan teologis terhadap waktu pagi sebagai momen yang sarat muatan spiritual ini memberi dimensi ibadah pada "pagi yang tak tergesa-gesa" versi Bonacolta: secangkir kopi yang dinikmati perlahan, cahaya yang lembut, doa yang dilirihkan — semuanya bukan sekadar kenikmatan, melainkan kelanjutan dari pola kenabian dalam memulai hari dengan penuh kesadaran, bukan dengan tergesa-gesa.

5. Kemampuan Bepergian: Memperluas Diri dengan Memperluas Dunia

Kaitan yang dibuat Bonacolta antara perjalanan dan "perluasan cara pandang" mendapati perintah langsung dalam Al-Qur'an:

"Katakanlah, 'Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan.'" (Surah Al-'Ankabut, 29:20)

Perjalanan dalam Al-Qur'an tak pernah semata-mata bersifat rekreatif; ia dibingkai sebagai latihan epistemik dan spiritual — sebuah cara membaca dunia sebagai teks yang berdampingan dengan wahyu. Doa perjalanan yang diajarkan Rasulullah ﷺ menempatkan perjalanan dalam bingkai kerendahan hati dan ketergantungan kepada Allah, bukan sebagai petualangan yang berdiri sendiri:

"Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan yang menjaga keluarga yang ditinggalkan." (Sahih Muslim)

6. Rumah Penuh Cinta: Surga Kecil di Dunia

"Kemewahan" terakhir dan barangkali yang paling menyentuh secara emosional — rumah yang penuh cinta — dibahas secara langsung dalam salah satu ayat Al-Qur'an yang paling sering dikutip tentang pernikahan dan keluarga:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang." (Surah Ar-Rum, 30:21)

Tiga unsur yang disebutkan di sini — sakinah (ketenteraman), mawaddah (kasih), dan rahmah (sayang) — hampir sepenuhnya sesuai dengan gambaran Bonacolta tentang rumah sebagai ruang rasa aman, kehangatan, dan kepemilikan. Rasulullah ﷺ memperluas hal ini pada suasana spiritual rumah itu sendiri:

"Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan; sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surat al-Baqarah." (Sahih Muslim)

Penutup: Memaknai Ulang Kemewahan

Apa yang muncul ketika keenam gagasan ini disandingkan dengan wahyu bukanlah sekadar kebetulan, melainkan sebuah pertemuan yang mencolok. Wacana minimalisme dan kesejahteraan kontemporer — yang salah satu bentuk populernya adalah renungan Jade Bonacolta — sesungguhnya, disadari atau tidak, telah menemukan kembali sebuah sistem nilai yang sudah lama diuraikan oleh Al-Qur'an dan Hadis: bahwa kekayaan sejati adalah waktu yang tak tergesa-gesa, tubuh yang sehat, hati yang tenteram, pagi yang diberkahi, cara pandang yang luas, dan rumah tangga yang penuh cinta. Tak satu pun dari hal-hal ini dapat dibeli begitu saja; semuanya dapat diraih melalui rasa syukur, zikir, dan cara hidup yang penuh kesadaran.