Selasa, 09 Oktober 2018

Full Employment (1)

"Hanya ada sebuah kursi yang tersisa di meja sudut." Angsa melanjutkan kisahnya. "Sang musafir muda merasa ragu, karena di meja itu, ada tiga pengunjung, namun tampaknya pengunjung lain enggan duduk bersama mereka. Ketika sang musafir muda bersiap beranjak pergi, salah seorang dari ketiga pengunjung itu, yang mamakai peci ungu, mengangkat tangannya, memberi isyarat agar duduk di kursi yang kosong itu.
"Terima kasih!" berkata sang musafir muda seraya duduk. "Sama-sama, anak muda!" sambut lelaki itu, lalu ia berkata, "Sepertinya engkau bukan dari kota ini?" Sang musafir muda berkata, "Ya, aku berasal dari Negeri para pelayar. Aku datang ke kota ini untuk menuntut ilmu." Lelaki itu bertanya, "Muslimkah engkau?" Sang musafir muda berkata, "Ya, aku seorang Muslim!" Lelaki itu berkata, "Bagus! Ketahuilah anak muda, Islam sangat menekankan pada penyebaran ilmu dan berbagi dengan orang lain. Secara historis, umat Islam telah berfungsi sebagai sarana untuk menyebarkan ilmu kepada umat manusia, dari berbagai bangsa dan penjuru." Lelaki itu diam, tampaknya ia paham bahwa sang musafir muda merasa segan terhadap mereka, lalu ia berkata, "O ya, perkenalkan, aku seorang sejarawan, dua orang yang menemani kita ini, kawan-kawanku. Yang berpeci abu-abu ini, seorang politikus, dan yang mengenakan peci coklat ini, seorang ekonom." Kedua lelaki yang diperkenalkan itu, tersenyum dan menyapa, "Senang bertemu denganmu, anak muda!" Sang musafir muda tersenyum, dan berkata, "Bolehkah aku bertanya?" Sang sejarawan berkata, "Tentu!" Sang musafir muda berkata, "Yang manakah lebih penting atas satu dengan yang lain, politik, ekonomi atau sejarah?" Ketiga lelaki itu tertawa. "Tentu, politik lebih penting!" kata sang politisi. Sang ekonom berkata, "Tidak, ekonomi lebih penting." Sang sejarawan menyela, "Tidak, tidak, tanpa sejarah, takkan ada politik dan ekonomi." Ketiga lelaki itupun tertawa lagi. Sang musafir muda berkata, "Bagiku, ketiga pelajaran ini penting. Bolehkah aku tahu pendapat masing-masing ditinjau dari perspektif Islam?"

Ketiga lelaki itu saling memandang, lalu sang ekonom berkata, "Wahai anak muda, Allah Azza wa Jalla telah menciptakan alam semesta ini untuk kepentingan umat manusia. Allah telah menjadikan sumber daya di bumi ini tersedia bagi manusia, yang bertanggung-jawab untuk memanfaatkan, membentuk, dan mengubahnya sesuai dengan kebutuhannya. Allah telah memberi manusia alat yang diperlukan untuk menumbuhkan kemampuannya, agar memahami dirinya dan alam sekitar, dan agar mengembangkan sarana untuk menyehatkan dirinya dan memenuhi kebutuhannya. Namun, manusia hendaknya memperhatikan batas-batas tertentu dalam melaksanakan kebebasannya itu. Dalam batas-batas dimana segala perbuatannya hanyalah untuk menyembah Allah, tak ada yang boleh tercemar atau tersekulerkan. Keyakinan ini membekali manusia dengan antusiasme agar terus melanjutkan usahanya untuk menemukan, memahami,menjalani dan menikmati dunia ini tanpa merasa bersalah, asalkan ia berusaha menggapai ridha Allah dan hidup dalam batas yang ditentukan oleh-Nya.
Islam menuntut manusia agar menjaga keseimbangan antara kesukaan dan berpantang terhadap hal-hal yang bersifat materi. Anjuran dalam mengendalikan perolehan sumber daya material ini, berlaku bagi seluruh umat manusia. Syaratnya, bahwa manusia hendaknya tak menyebabkan sumber daya bumi yang tak terbarukan, terkuras habis-habisan. Setiap generasi seyogyanya mempertimbangkan generasi mendatang dalam penggunaan sumber daya. Di tingkat global, segala bangsa hendaknya menahan diri dalam penggunaan sumber daya alam.

Islam memperlakukan semua manusia sebagai anak-anak Nabi Adam, alaihissalam. Sebagai manusia, mereka semua sama. Perlakuan ini memvisualisasikan peluang yang sama bagi semua orang. Juga, prinsip ini menentang terciptanya monopoli. Islam membebaskan manusia dari cengkeraman manusia lain. Prinsip ini memberi bayangan dalam masyarakat bahwa semua orang dapat mandiri. Pada skala global, diharapkan agar semua bangsa di dunia ini, menjalani kehidupan yang terhormat. Jadi, keadaan saat ini, dimana negara-negara miskin, berhutang kepada negara-negara kaya, tak sesuai dengan pandangan Islam terhadap dunia. Dengan cara yang sama, menurut pandangan Islam, keadilan harus diberikan kepada semua orang dan semua bangsa. Islam menentang berbagai bentuk eksploitasi. Islam mendorong ekonomi pasar bebas, namun dengan campur-tangan pemerintah pada tingkatan tertentu, yang mencegah pembentukan konsentrasi kekuatan ekonomi.
Sebagai khalifah Allah, manusia bertanggung jawab kepada-Nya, atas segala tindakannya kelak di Akhirat. Dengan demikian, Islam mengatur sistem pertanggungjawaban yang kuat di semua lini. Ini juga berlaku di tingkat internasional. Situasi saat ini, dimana negara-negara kuat dan perusahaan global tertentu tak bertanggung jawab kepada siapapun di dunia ini, tak selaras dengan pandangan Dunia Islam. Islam melihat sebuah dunia dimana setiap orang yang memiliki otoritas, bertanggung jawab atas tindakannya. Ini bertujuan agar pembentukan tatanan ekonomi, dimana seluruh negara di dunia, berkumpul menyusun pengaturan global, memantau dan meneliti perilaku yang tak bertanggung jawab oleh negara manapun. Sumber daya bumi harus dijaga terhadap limbah, penipisan ozon yang sembrono, dan kehancuran, hanya untuk laba ekonomi yang sempit.

Sang ekonom diam sejenak, kemudian berkata, "Wahai anak muda, jika kita membahas tentang Ekonomi Islami, dalam hal ini, aku akan membicarakannya dari sisi perekonomian secara keseluruhan, atau dalam ilmu ekonomi disebut ekonomi makro, dan ada asumsi-asumsi dasarnya. Pertama, tentang sifat manusia. Analisis ekonomi konvensional mengasumsikan bahwa manusia pada dasarnya egois, bahwa perhatian utama mereka adalah mendapatkan kepuasan maksimal atau utilitas. Dan bahwa, dengan demikian mereka memaksimalkan utilitas masyarakat secara keseluruhan. Akibatnya, di bawah kapitalisme, perilaku ego individu dan bangsa tak hanya dirasionalisasi, namun juga dianjurkan. Pada tingkat individu, ego dan individualistis, sikap yang menunjukkan sedikitnya kepedulian terhadap perbaikan orang lain, diterima sebagai sesuatu yang masuk akal. Pada pelataran nasional, hal ini dianggap sah, baik bagi individu dan negara untuk mengadopsi kebijakan yang melayani kepentingan ego. Asumsi ini telah banyak dikritik dalam kaitannya dengan pengamatan sehari-hari dan temuan ilmu sosial lainnya, seperti psikologi, sosiologi, dan antropologi.
Islam, bagaimanapun juga, mengakui sifat ganda manusia. Manusia itu egois dan juga altruistik. Namun, ini bukan berarti mendorong keegoisan manusia. Sebaliknya, Islam berusaha mengendalikan keegoisan manusia. Islam menyalurkan ego manusia itu untuk kebaikan bersama dan mencegah manusia menyakiti manusia lain. Islam memberi energi motif altruistik dan menumbuhkan rasa agar saling membantu. Akibatnya, tatanan ekonomi Islam memvisualisasikan sektor ketiga, selain sektor swasta dan publik, yang dikenal sebagai sektor kerja-sukarela. Islam mengakui bahwa setiap individu, selain melayani kepentingan egonya, seyogyanya memainkan peran positif dalam mempromosikan kebaikan bersama dengan membantu manusia lain. Dengan demikian, akan menyebar bahwa setiap orang dapat dan harus memberikan kontribusi bagi terciptanya masyarakat yang lebih baik.

Yang kedua, tentang materialisme. Tatanan ekonomi kapitalis menempatkan nilai yang sangat tinggi pada pencapaian materi. Bahkan, kemajuan dan harta-kekayaan dianggap sepadan. Pendekatan kapitalis terhadap kehidupan telah mengakibatkan meluasnya sumber daya alam tak terbarukan, penggundulan hutan di wilayah yang luas, pencemaran lingkungan, dan ketidakseimbangan ekologis.
Islam memperlakukan harta-kekayaan sebagai hiasan kehidupan. Namun Islam memperlakukannya sebagai hal sekunder bagi perkembangan moral dan spiritual kepribadian manusia. Islam mendorong usaha dan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan materi seseorang, namun juga memerintahkan bahwa fokus perjuangan manusia di bumi ini adalah untuk menaati Allah, dan untuk menggapai ridha-Nya. Perubahan dalam fokus perjuangan manusia ini, memperkenalkan pendekatan yang seimbang terhadap pembangunan ekonomi. Pendekatan Islam memvisualisasikan pengendalian dalam upaya manusia untuk meningkatkan konsumsi materi. Islam melengkapi prestasi material dengan pertumbuhan kepribadian moral dan spiritual sebagai tujuan yang diinginkan.

Yang ketiga, tentang kepemilikan. Kapitalisme memvisualisasikan hak mutlak bagi kepemilikan pribadi sejauh tak diperoleh dengan melanggar hak orang lain. Akibatnya, orang bebas menggunakan sumber daya mereka, sesuka mereka. Misalnya, jika mereka memilih, mereka dapat menghancurkan dan menghamburkan sebagian dari sumber daya mereka. Mereka bebas mengkonsumsi, menyimpan, berinvestasi (atau meminjamkan bunga) apapun yang mereka miliki. Mereka punya kebebasan tanpa batas dalam aktivitas atau profesi apapun. Mereka boleh menginvestasikan uang mereka dalam perdagangan atau pekerjaan apapun, bahkan jika itu secara sosial berbahaya atau merusak.
Islam mengakui hak kepemilikan mutlak itu, hanyalah milik Allah. Manusia telah diberi hak untuk mengambil manfaat dari sumber daya bumi. Manusia diperbolehkan mencari penghidupannya dengan cara yang halal. Ia tak sepenuhnya bebas untuk mengkonsumsi, menyimpan atau menginvestasikan penghasilannya dengan cara apapun yang ia suka. Ada batas-batas moral yang pasti pada haknya untuk mendapatkan, mengkonsumsi, menyimpan, dan berinvestasi. Dalam kerangka umum ini, Islam menerima hak seseorang untuk menjual, mewariskan, dan meninggalkan ahli warisnya hak-milik yang ia punyai. Dengan demikian, konsep Islam tentang hak-milik membatasi kebebasan manusia terhadap penggunaan sumber daya bumi. Konsep ini menuntut semua orang bertanggung-jawab kepada Allah sehingga menggunakan sumber dayanya secara tepat-guna.

Keempat, tentang universalisme. Ilmu ekonomi kapitalis belum mampu keluar dari kerangka umum yang dikandung oleh para pendirinya pada abad ke-18. Saat "The Wealth of Nations" ditulis oleh Adam Smith (meninggal 1776), sebagian besar negara kaya masa kini mengejar tujuan kolonial mereka. Ide-ide Adam Smith merasionalisasikan gagasan negara-bangsa. The Wealth of Nations memberikan dasar filosofis pendekatan sempit bagi isu-isu ekonomi global. Alih-alih menganggap dunia sebagai tempat bagi semua manusia, ia merasionalisasikan konsep kebijakan nasional dalam likuifaksi orang lain di dunia ini. Ia memperkenalkan pendekatan sovinistis terhadap masalah ekonomi, memberi negara-negara industri maju hak yang tak terkendali untuk mengejar kebijakan apapun yang sesuai bagi mereka. Pendekatan yang sama masih berlanjut. Masing-masing negara mengambil keputusan ekonomi demi kepentingan egonya. Ini tak menyangkal fakta bahwa mereka mempelajari situasi di sekitar mereka. Namun, mereka terus mengadopsi kebijakan yang sesuai dengan tujuan ego mereka, mengabaikan dampak kebijakan tersebut terhadap negara lain. Dalam proses ini, umat manusia di seluruh dunia menderita.

Islam memandang bahwa dunia ini diciptakan Allah untuk kepentingan umat manusia. Oleh karenanya, ada kebutuhan besar bagi seluruh manusia di dunia agar saling menasehati dan saling bekerja sama seraya mengejar kebijakan ekonomi yang mungkin dapat merugikan orang lain. Meskipun lip service dibayar untuk kebutuhan kerjasama internasional yang lebih besar, dalam prakteknya, manusia belum melakukan kemajuan yang signifikan ke arah itu. Telah tiba saatnya bagi manusia  agar mengatasi ide ekonomi konvensional dan membangun ekonomi global atas dasar kesempatan yang sama dan kerja sama timbal-balik."

Sang ekonom lalu melanjutkan, "Wahai anak muda, dari asumsi dasar ini kemudian akan muncul pertanyaan tentang organisasi ekonomi, peran uang, perilaku konsumen, masalah kemiskinan, dan manajemen fiskal." Sang musafir muda bertanya, "Bagaimana tentang organisasi ekonomi menurut pandangan Islam."

[Bagian 2]

Jumat, 05 Oktober 2018

Saat Kincir Angin Disangka Monster (2)

Sentadu berkata, "Bukanlah Islam yang memperkenalkan poligami. Secara historis, poligami telah dikenal sejak zaman kuno - sebuah fenomena seusia umat manusia. Poligami telah menjadi praktik yang biasa sejak zaman Paranoiac, Ramses II - Raja Firaun yang paling terkenal (memerintah 1292-1225 SM) - punya delapan istri, serta sejumlah selir dan budak perempuan yang memberinya lebih dari seratus lima puluh putra dan putri. Dinding bait suci, dengan nama-nama istri, selir dan anak-anak tertulis di atasnya, berdiri dengan jelas sebagai saksi praktik ini. Ratu Cantik Neferteri adalah istri Ramses II yang paling dikenal, diikuti oleh Ratu Asiya Nefer, yang dikenal sebagai Isis Nefer, yang melahirkan putranya, Raja Merenbetah. Merenbetah naik takhta setelah kematian ayah dan kakak laki-lakinya.
Poligami, juga lazim pada zaman nabi Ibrahim, alaihissalam, dibanding zaman Firaun kuno. Hajar, istri kedua Nabi Ibrahim, melahirkan Ismail, alaihissalam, yang akan diqurbankan, dan yang merupakan nenek moyang semua orang Arab. Istri pertamanya, Sarah, memberi Nabi Ibrahim, Ishaq, alaihissalaam.
Nabi Yakub, alaihissalam, memperistri dua saudara perempuan, yang merupakan dua orang puteri pamannya, Laban. Selain kedua isterinya itu, yang bernama Liya dan Rahil, Nabi Yakub punya dua budak perempuan, yang dimilikinya dan keintiman bersama mereka tetap sah karena praktik ini telah lama dikenal saat budak perempuan dimiliki oleh majikannya. Keempat wanita yang dipersunting Nabi Yakub - dua istri dan dua budak wanita - memberinya sebelas putra. Istrinya Rahil, memberinya putra, Nabi Yusuf, alaihissalam, dan kemudian memberinya Bunyamin. Rahil adalah wanita yang paling dicintai Nabi Yakub, yang diperisterinya dengan sah.

Poligami sering terjadi di antara orang Slavik, yang sekarang menjadi orang Rusia, Serbia, Ceko, dan Slovakia, tersebar di seluruh Lithuania, Estonia, Makedonia, Rumania, dan Bulgaria. Jerman dan Saxon juga banyak mempraktikkan poligami. Jerman dan Saxon adalah dua ras besar yang dimiliki oleh hampir semua penduduk Jerman, Austria, Swiss, Belgia, Belanda, Denmark, Swedia, Norwegia, dan Inggris. Orang-orang pagan di Afrika, India, Cina, Jepang, serta wilayah Asia Tenggara lainnya, mempraktekkan poligami.
Dr. Muhammad Fuad Al-Hashemi, yang dirinya masuk Islam dari agama Kristen, menegaskan "Gereja telah mengakui poligami hingga abad ke-17". Tak satu pun dari keempat Perjanjian Baru diketahui secara eksplisit melarang poligami. Kebetulan beberapa orang Eropa, yang didikte oleh tradisi pagan non-poligami, melarang praktik membiayai lebih dari satu istri. Hanya beberapa orang yang diketahui telah melarang poligami, karena sebagian besar orang Eropa mempraktikkannya dalam skala besar. Ketika minoritas anti-poligami ini memeluk agama Kristen, mereka mengikutkan larangan poligami tradisional terhadap pemeluk Kristen lainnya. Seiring berlalunya waktu, agama Kristen, secara keliru, diyakini menghalangi poligami. Padahal pandangan ini hanyalah tradisi lama yang diapit oleh sebagian orang terhadap yang lain sepanjang zaman.
Para penentang poligami diundang untuk mengambil tantangan - jika mereka bisa - dan menghasilkan teks agama apapun dari salah satu empat Perjanjian Baru, yang melarang poligami. Adapun Perjanjian Lama, atau dikenal sebagai Torah, malah melibatkan teks-teks eksplisit bahwa poligami adalah praktik yang diterima dalam kredo Nabi Ibrahim, Ishak, Yakub, Dawud, Sulaiman serta nabi-nabi lain yang diutus ke Bani Israil.

Bahkan secara sosial, sosiolog dan sejarawan, termasuk Westermark, Hubihos, Hiller dan Genburg, mencatat bahwa poligami hanya diketahui secara luas oleh orang-orang yang telah mencapai peradaban maju. Setelah menetap di lembah-lembah sungai serta daerah hujan, dan beralih ke budidaya dan penggembalaan yang terorganisir, daripada berburu, mengumpulkan buah hutan dan pertanian primitif, orang-orang itu mengadopsi poligami sebagai sistem sosial yang diterima secara luas. Pada fase yang lebih primitif itu, kesatuan keluarga dan monogami, dianggap sebagai nilai-nilai sosial yang lazim.
Para sejarawan dan sosiolog yang dikutip di atas, melangkah lebih jauh dengan mengumumkan bahwa dunia yang lebih beradab, cenderung menjadi pewaris poligami berskala lebih luas. Penjelasan yang diberikan oleh para ilmuwan itu - yang semuanya non-Muslim - bersaksi tentang keabsahan poligami, dan dengan kuat membantah argumen para penentang poligami yang menyesatkan, yang menyatakan bahwa hal itu telah lama usang.

Karena itu, poligami telah menjadi praktik yang umum diterima bahkan sebelum Nabi Muhammad (ﷺ) diutus sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia. Namun, poligami sama sekali tak dibatasi, karena jumlah istri atau selir tak terbatas. Seorang poligami tak dituntut memperlakukan istri-istrinya secara adil, dan ia juga tak harus memperlakukan mereka dengan adil, tak seperti yang kemudian diatur dalam Islam.
Jadi, jika Islam, dengan keagungan, belas-kasih dan keadilannya, telah memerintahkan bahwa istri diperlakukan setara, membatasi jumlah istri pada satu waktu maksimum empat wanita dan melarang poligami itu jika pihak suami tak dapat berlaku adil - mengapa ada yang keluar dan menentang praktik ini dengan jahil dan dengan begitu bebal? Masuk akalkah bahwa saat Langit menurunkan rahmat atas kita, kita melemparkannya kembali kepada Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang?

Pernikahan telah diperintahkan Allah sebagai cara yang benar dan sah untuk menghasilkan anak-anak dan mengisi bumi ini. Keluargalah unit dasar dari negara atau masyarakat. Allah telah menjadikan kerinduan akan pasangan dan keturunan sebagai naluriah bagi umat manusia dan hewan. Kehidupan di bumi berlanjut melalui keturunan dan keturunan adalah produk dari perkawinan. Namun demikian, perkawinan dalam Islam tak dapat dilihat hanya sebagai cara untuk menyatukan tubuh laki-laki dengan tubuh perempuan dan menghasilkan keturunan, pernikahan juga tak dilembagakan hanya untuk tujuan memuaskan hasrat alamiah atau memuaskan syahwat. Tujuannya jauh lebih bermakna daripada realitas fisik yang nyata.
Setiap individu yang sadar, merasakan kekurangan atau kehilangan dalam dirinya, yang membutuhkan penyelesaian, kelemahan yang membutuhkan penguatan atau kesepian yang hanya bisa dihilangkan oleh seseorang yang benar-benar berkomitmen padanya. Istirahat yang tenang atau emosional yang dirasakan seseorang sebagai akibat dari pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ini, dapat disebut ketenteraman. Jadi pernikahan dalam Islam lebih dari sekadar cara untuk mendapatkan kepuasan seks yang legal; inilah lembaga yang sangat penting, yang melindungi hak-hak lelaki, perempuan, dan anak-anak sambil memenuhi kebutuhan fisik, emosional dan intelektual anggota keluarga. Rasulullah (ﷺ) menggambarkan pentingnya pernikahan dengan bersabda, "Ketika seorang hamba Allah menikah, ia telah menyelesaikan setengah dari kewajiban agamanya dan ia hendaknya takut kepada Allah untuk menyelesaikan sebagian lagi."

Tak ada keraguan lagi, pernikahan yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip cinta, kehormatan, rasa hormat, dan saling peduli, jauh lebih unggul daripada hubungan sementara dengan berbagai pasangan. Pernikahan seperti ini, menstabilkan masyarakat dengan melindungi unit utamanya, keluarga. Apa yang akhirnya akan terjadi pada masyarakat yang melalaikan hubungan yang sah dan membiarkan syahwat yang menguasai. Bagaimana dengan para wanita dan anak-anak yang dibiarkan dalam keadaan tak terhormat dan tanpa dukungan? Masyarakat seperti itu, akan lebih rendah daripada hewan yang, setidaknya diatur oleh naluri, yang menyebabkan mereka melindungi dan memenuhi kebutuhan anak-anak mereka. Karenanya, Islam memberikan tekanan besar pada institusi pernikahan yang disediakan Ilahi untuk melindungi masyarakat. Bahkan, Rasulullah (ﷺ) menyebut orang-orang yang menentang pernikahan sebagai sesat, dan bersabda, “Pernikahan adalah bagian dari Sunnahku. Siapapun yang tak suka dengan Sunnahku, bukanlah termasuk umatku.” Karena seks pra-nikah dilarang dalam Islam, pernikahan melindungi individu terhadap amoralitas dengan menyediakan saluran bagi dorongan alami, serta memberikan keamanan fisik dan emosional bagi kedua pasangan.
Seperti halnya setiap anggota masyarakat berhak atas hak-hak tertentu dan selanjutnya bertanggung jawab memenuhi kewajiban-kewajiban tertentu dalam masyarakat, anggota keluarga berhak atas hak-hak tertentu dan berkewajiban untuk memenuhi kewajiban-kewajiban tertentu dalam struktur keluarga. Rasulullah (ﷺ) menguraikan hierarki umum tanggung jawab dalam masyarakat dalam pernyataan berikut yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, radhiyallahu 'anhu. Rasulullah (ﷺ) bersabda, “Sesungguhnya, kalian masing-masing adalah gembala dan kalian masing-masing bertanggung jawab atas kawanannya. Seorang pemimpin adalah seorang gembala atas masyarakatnya dan ia akan ditanya tentang rakyatnya (bagaimana ia mengurus urusan mereka). Seorang lelaki adalah seorang gembala atas anggota keluarganya dan akan ditanya tentangnya. Seorang wanita adalah penjaga atas rumah tangganya dan akan ditanyai tentang bagaimana ia mengelola rumah tangga dan membesarkan anak-anaknya. Seorang budak adalah penjaga atas harta milik tuannya dan akan ditanyai tentang hal itu (sebagaimana ia menjaga kepercayaannya). Sesungguhnya, kalian masing-masing adalah gembala dan setiap orang akan ditanyai sehubungan dengan kawanannya.”
Dengan demikian, perkawinan dapat dianggap sebagai kemitraan dimana para pihak utama telah diberi peran yang berbeda, tetapi saling melengkapi, yang terdiri dari hak dan tanggung jawab yang sesuai. Agar kehidupan keluarga mengalir lancar, setiap pasangan hendaknya memenuhi bagiannya dalam kemitraan itu. Tiada yang memiliki hak untuk menuntut jika tanggungjawab mereka tak terpenuhi.

Dalam Al-Quran, Surah An-Nisa [4]: 34, Allah telah mewahyukan pedoman umum tentang peran masing-masing pasangan,
"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)."
Kita melihat bahwa kaum lelaki bertanggung jawab atas perlindungan dan dukungan terhadap kaum perempuan, karena Allah telah memberi mereka kemampuan fisik dan mental yang diperlukan untuk memenuhi peran mereka sebagai pelindung dan pemelihara kaum perempuan, yang pada gilirannya memberi hak kepada mereka untuk ditaati dan kekayaan serta kehormatan mereka terlindungi. Kaum perempuan, di sisi lain, bertanggung jawab untuk menjaga kekayaan suami mereka, melindungi kehormatannya dan patuh kepada suami mereka, yang pada gilirannya memberi hak pada mereka untuk dipertahankan.

Allah telah memerintahkan umat Islam agar tak melanggar hukum apa yang telah Dia halalkan. Dengan demikian, tak pantas bahwa mereka yang memilih untuk mengikuti Sunnah Nabi akan dilaknat karena menggunakan pilihan yang diberikan kepada mereka oleh Allah. Poligami bukanlah hubungan yang dekaden atau tak senonoh, melainkan merupakan bagian yang sah dari sistem perkawinan Islam. Dalam Surah An-Nisa [4]: 3, Allah berfirman,
"...maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zhalim."
Perhatikan bahwa kaum lelaki, pertama-tama, diperintahkan menikahi dua, tiga, atau empat wanita, kemudian ia dianjurkan menikahi hanya satu, jika ia tak bisa berlaku adil dengan lebih dari satu. Ini bukan berarti bahwa Islam mendorong seluruh laum lelaki menikahi minimal dua wanita, melainkan pilihan seperti ini, diperbolehkan bagi mereka yang sanggup memenuhi persyaratannya. Ayat ini juga menetapkan batas atas empat. Dengan demikian, seorang lelaki hendaknya mampu dan mau membagi waktu dan kekayaannya dengan cara yang adil sebelum ia diperbolehkan punya lebih dari satu istri. Sebaliknya, jika ia tak mampu memberi makan, pakaian dan rumah semua istrinya dengan adil, maka, menurut perintah Al-Quran ini, ia tak boleh menikahi lebih dari satu.
Namun demikian, banyak umat Islam saat ini memandang subjek poligami dalam ketidaksukaan dan bersikeras mempertimbangkan pernikahan jamak yang merendahkan wanita. Ini terutama karena peran pria dan wanita dalam masyarakat Barat, setidaknya, telah sangat terdistorsi. Kaum perempuan secara terbuka bersaing dengan kaum lelaki dalam hal pekerjaan yang sama; antara lain pemenuhan biaya hidup; selain itu, gaya pakaian wanita termasuk jas dan dasi; gaya pakaian pria mulai mengenakan gelang, kalung, anting, dan rambut panjang, dan kedua jenis kelamin memakai pakaian yang dapat dipertukarkan dengan merk “uni-sex”. Kaum perempuan telah kehilangan posisi alami perlindungannya dalam masyarakat Barat, dan karenanya, wajib memperjuangkan kesetaraan dengan kaum pria. Dalam keadaan seperti ini, tak mengejutkan, menemukan kaum wanita Barat dan rekan-rekan mereka di Timur, dengan keras menentang poligami. Sangat sedikit perempuan dalam masyarakat Barat yang menganggap kepatuhan pada kaum lelaki sebagai kebutuhan bagi kehidupan pernikahan yang lancar. Bahkan, kepatuhan pada suami, tak dianggap sebagai karakteristik positif yang layak untuk dikembangkan pada seorang wanita. Bahkan lebih sedikit wanita modern yang mau mengakui bahwa ada perbedaan antara pria dan wanita; bahwa Allah memberi kelonggaran bagi peran kaum lelaki sebagai pemimpin, penyedia dan pelindung. Perempuan Barat menyangkal hal-hal ini, terlepas dari kenyataan bahwa perbedaan yang sama dikomunikasikan dengan cara berbahaya di masyarakat Barat itu sendiri.
Namun, Islam mengajarkan kita bahwa Allah menciptakan ciptaan itu, berpasangan, pria dan wanita, dan ditugaskan sesuai peran mereka. Islam telah mendefinisikan peran kaum lelaki sebagai penyedia dan pelindung; sedangkan, perempuan telah diberikan peran yang mendukung dan tergantung, yang secara alami melibatkan sejumlah ketundukan dan kepatuhan pada kaum lelaki. Pandangan Islam terhadap peran kaum lelaki dan perempuan dengan demikian sangat berbeda dengan pandangan masyarakat Barat abad kedua puluh. Posisi perempuan di Barat saat ini mungkin tampak progresif dari sudut pandang hak suara, hak milik, dan peluang pendidikan, tetapi dari sudut pandang keluarga, posisi mereka telah merosot secara mengkhawatirkan. Pengusiran wanita dari peran alami mereka dalam keluarga adalah bagian dari gejala budaya yang menurun. Fakta bahwa budaya dan masyarakat Barat sedang sekarat. Banyaknya kelahiran di luar nikah telah meningkat dengan cepat di Barat selama beberapa tahun terakhir dan kehamilan remaja telah menjadi norma. Kisah tentang bertukar istri, pelecehan anak dan berbagai penyakit seksual seperti herpes dan A.I.D.S. terkait dengan pergaulan bebas seksual, hendaknya membuat orang waras mempertanyakan adat istiadat seksual masyarakat Barat dan masalah monogami yang dipaksakan.

Kaum lelaki dicipta berkecenderungan poligami karena kebutuhan dalam masyarakat manusia. Biasanya ada surplus kaum perempuan di sebagian besar masyarakat manusia. Surplus ini akibat dari banyaknya kaum lelaki yang mati dalam peperangan, kejahatan, dan kaum perempuan hidup lebih lama dari kaum lelaki. Meningkatnya homoseksualitas semakin memperkeruh masalah. Jika sistem tak memenuhi kebutuhan surplus kaum perempuan, akan menghasilkan kerusakan dalam masyarakat. Sebagai contoh, Jerman setelah Perang Dunia II, ketika usulan untuk melegalkan poligami ditolak oleh Gereja. Menghasilkan legalisasi prostitusi. Pelacur Jerman dianggap sebagai pekerja seperti profesi lainnya. Mereka menerima tunjangan kesehatan dan membayar pajak seperti warga negara lainnya. Lebih jauh lagi, tingkat perkawinan telah terus menurun karena setiap generasi yang berhasil menemukan institusi pernikahan semakin tak relevan.
Poligami mencegah penyebaran penyakit seperti Herpes dan AIDS. Penyakit kelamin semacam itu menyebar di masyarakat bebas dimana berlimpahnya hubungan di luar nikah. Poligami melindungi kepentingan perempuan dan anak-anak dalam masyarakat. Kaum lelaki, dalam masyarakat Barat membuat hukum. Mereka lebih suka menjaga poligami ilegal karena membebaskan mereka dari tanggungjawab. Poligami yang disahkan akan mengharuskan mereka membelanjakan setiap istri dan keturunan mereka. Monogami memungkinkan mereka menikmati urusan di luar nikah tanpa konsekuensi ekonomi.
Pertanyaan yang tersisa adalah, “Jika Allah baik dan berharap yang baik bagi makhluk-Nya, mengapa Dia membuat sesuatu peraturan yang akan berbahaya bagi kebanyakan wanita?” Hukum Ilahi memandang masyarakat sebagai keseluruhan, yang berupaya memaksimalkan manfaat. Jika suatu hukum tertentu menguntungkan mayoritas masyarakat dan menyebabkan kerugian emosional bagi minoritas, kesejahteraan umum masyarakat lebih diutamakan.

Jadi, dari semua ini, kita dapat menegaskan bahwa Islam tak memperkenalkan poligami. Poligami tanpa batas dipraktikkan di sebagian besar masyarakat manusia di seluruh dunia di setiap zaman. Islam mengatur poligami dengan membatasi jumlah istri dan menetapkan tanggung jawab dalam praktiknya. Monogami negeri Barat diwarisi dari Yunani dan Romawi, dimana laki-laki dibatasi oleh hukum memiliki satu istri, namun bebas untuk memiliki banyak wanita simpanan di antara populasi budak mayoritas seperti yang mereka inginkan. Di negeri Barat saat ini, sebagian besar kaum lelaki yang telah menikah, memiliki hubungan di luar nikah dengan wanita simpanan, pacar dan pelacur. Karenanya, gugatan negeri Barat atas monogami, sebenarnya semu. Monogami tak masuk akal. Jika seorang lelaki ingin memiliki istri kedua yang diurusnya dan anak-anak yang membawa namanya dan ia mencukupi untuknya, ia dianggap sebagai kriminal, bigamist, yang dapat dihukum bertahun-tahun di penjara. Namun, jika ia memiliki banyak wanita simpanan dan anak-anak tidak sah, hubungannya dianggap sah.

Sentadu kemudian berkata, "Wahai saudara-saudariku, jika kita membaca Al-Qur'an dan Sunnah, sumber-sumber Syariah, kita akan menemukan bahwa Syariah mempromosikan seperangkat nilai melalui ajaran, peraturan, hukum, dan pedomannya. Para 'Ulama menemukan hikmah dan kebijaksanaan di balik apa yang diajarkannya, dan ada serangkaian tujuan utama yang ingin dicapai.
Melihat hukum Ilahi ini, orang akan menyadari bahwa tujuan pertama yang ingin dicapai adalah, mengembangkan dan memelihara manusia yang shalih agar menjadi sumber kebaikan bagi dirinya sendiri dan untuk masyarakat, serta untuk mengurangi dan menghilangkan segala hal buruk yang mungkin terjadi darinya yang dapat membahayakan dirinya sendiri atau masyarakat. Ini terjadi melalui ritual dan sistem moral yang bertujuan terutama untuk mengembangkan manusia yang shalih.
Manusia ini mengenal Sang Pencipta, takut akan Dia, taat kepada-Nya, dan taat pada perintah-Nya. Manusia ini bermanfaat bagi orang lain, seperti keluarga dan masyarakat mereka. Manusia inilah manifestasi dari rahmat Islam kepada umat manusia.

Kedua, Syariah datang untuk menegakkan keadilan diantara manusia, di antara komunitas orang-orang mukmin, dan dengan kelompok lain, serta di dalam masyarakat seutuhnya. Keadilan dalam Islam adalah tujuan mulia dan komprehensif. Islam mempromosikan keadilan dalam pengadilan, keadilan dalam berurusan satu sama lain, keadilan sesama anggota keluarga, dan keadilan dengan diri sendiri. Syariah berlaku sama pada setiap orang, tak ada yang memiliki kelebihan di atas yang lain karena ras, kekayaan, atau keluarga. Syariah bahkan mewajibkan umat Islam agar bersikap adil dengan musuh-musuh mereka selama perang. Syariah menegakkan keadilan antara kaum lelaki dan perempuan dan menjadikan kaum perempuan sebagai mitra kaum lelaki dalam hal hak dan tanggungjawab.
Ketiga, Syariah tak pernah menyatakan apapun kecuali untuk mencapai manfaat nyata atau kemaslahatan.

Para 'Ulama mengamati bahwa seluruh ajaran Syariah bertujuan untuk melestarikan dan melindungi lima manfaat utama, yaitu, perlindungan agama, perlindungan kehidupan, perlindungan kecerdasan, perlindungan keturunan, dan perlindungan harta-benda atau kekayaan. Kelima manfaat ini, sangat penting bagi kehormatan kehidupan manusia. Prioritas utama yang akan dilestarikan dan dilindungi oleh Syariah, adalah agama. Agama membedakan manusia dengan ciptaan Allah yang lain. Inilah bagian dari kehormatan yang diberikan Allah kepada manusia. Karena itu, harus dilindungi. Pertama-tama, Syariah melindungi agama dengan menetapkan aturan bahwa tiada paksaan dalam agama. Syariah tak membolehkan orang memaksakan keyakinan mereka atau memaksa mereka memeluk agama lain, bahkan jika agama lain itu adalah Islam. Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa tindakan ini, yang dikenal sebagai fitnah, lebih buruk dan lebih parah daripada pembunuhan. Pandangan umum pada ritual Islam mengungkapkan bahwa tujuan utama di belakangnya adalah untuk memperkuat iman seseorang dan hubungan antar sesama manusia, serta dengan Pencipta mereka. Syariah, misalnya, membolehkan peperangan, yang dikenal sebagai Jihad, untuk melawan berbagai jenis kezhaliman, terutama pelanggaran terhadap agama orang lain.

Kebutuhan selanjutnya, adalah perlindungan kehidupan. Menyelamatkan nyawa seseorang, seolah-olah menyelamatkan nyawa seluruh umat manusia. Hendaknya dibangun keyakinan bahwa hidup itu suci, karena ia adalah karunia yang diberikan Allah kepada manusia. Salah satu keajaiban alam semesta ini adalah penciptaan manusia. Syariah membuat kehidupan setiap manusia sangat berharga dan Allah dalam Al-Qur'an mewahyukan bahwa membunuh satu orang sama dengan membunuh seluruh umat manusia dan menyelamatkan hidup satu orang seolah-olah nyawa seluruh umat manusia diselamatkan. Syariah melarang pembunuhan dan menyediakan hukuman paling berat dalam kehidupan ini dan di akhirat. Juga dilarang melukai orang lain, baik secara fisik atau bahkan secara simbolis. Inilah yang memungkinkan dan mendorong seseorang agar hidup terhormat, memberi mereka hak untuk bergerak, berpikir, dan berbicara secara bebas dan bertanggung jawab.

Kecerdasan atau intelek juga merupakan karunia. Inilah yang membedakan manusia dari hewan. Memelihara kecerdasan dari penyakit apapun, adalah tujuan Syari'at Islam. Syariah memastikan bahwa intelek adalah sumber manfaat bagi masyarakat. Ini mempromosikan pendidikan untuk semua dan menjadikannya hak bagi semua orang. Syariah juga menyatakan bahwa jika intelek rusak, akan berbahaya bagi individu dan masyarakat, dan Syariah berjuang keras melawan kerusakan tersebut. Salah satu alasan utama di balik pelarangan meminum minuman keras adalah minuman keras punya pengaruh kuat dalam merusak kecerdasan.

Untuk mempertahankan hidup dan meneruskan obor ke generasi yang akan datang, Syariah bertujuan untuk melindungi keturunan. Setiap anak memiliki hak untuk tumbuh di antara keluarga. Keluarga ini wajib merawat anak-anak dan membesarkan mereka. Pernikahan sangat berharga dalam Islam dan memiliki andil besar dalam ajaran dan aturan Syariah Islam. Hubungan seksual selain dalam pernikahan, tak diperbolehkan dan pernikahan sesama jenis dilarang keras.
Perkawinan dilindungi oleh hukum dari penyalahgunaan salah satu pasangan, atau penyalahgunaan orang di luar keluarga. Menuduh seseorang, terutama wanita, melakukan hubungan seksual yang melanggar hukum, pantas mendapat hukuman berat karena menyebarkan desas-desus semacam itu menghancurkan pernikahan dan tak terhormat. Pria dan wanita dalam masyarakat diwajibkan melindungi kesucian mereka, menurunkan pandangan mereka, dan saling berhubungan secara profesional dan persaudaraan. Semua ajaran ini untuk memastikan bahwa keluarga sehat telah didirikan dan anak-anak tumbuh dalam keluarga yang sehat.
Perceraian, meskipun diperbolehkan, tak dianjurkan dengan menuntut pasangan untuk menahan kesabaran. Perceraian adalah upaya terakhir untuk memperbaiki keluarga yang tak berhasil. Menyelesaikan konflik pernikahan seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur'an, adalah contoh lain tentang bagaimana Syariah memberikan perhatian ekstra kepada keluarga.
Seorang anak yatim sangat berharga, dan merawat seorang anak yatim memiliki paahala tak kurang dari menemani Rasulullah (ﷺ) di Surga. Seseorang tak boleh menganggap anak-anaknya sebagai beban, dan tak boleh membunuh mereka karena takut akan kemiskinan atau aib, seperti yang biasa terjadi didalam masyarakat.
Para Ibu diberi perawatan khusus terutama ketika mereka hamil atau menyusui karena merekalah yang mengasuh generasi berikutnya. Ajaran Syariah, ketika diikuti, menjamin pengasuhan yang benar bagi generasi baru dan perlindungan nyata bagi keturunan.

Dan akhirnya, orang berhak untuk memiliki dan melindungi harta-benda mereka. Syariah bertujuan untuk melindungi kekayaan dan harta-benda manusia. Pencurian sangat dilarang dan mendapat hukuman. Syariah juga mengatur transaksi ekonomi antar manusia, dan menyatakan dengan jelas bahwa ia harus dibangun di atas kebebasan dan kemauan penuh. Syariah juga mendorong kita agar meningkatkan kekayaan kita dan memastikan kekayaan itu tak sampai ke tangan mereka yang menyia-nyiakannya. Orang miskin memiliki hak dalam setiap harta orang kaya melalui sedekah. Riba dilarang karena merupakan penyebab pemborosan harta dan menaruhnya di atas tangan segelintir orang-orang kaya.
Dan demikianlah saudara-saudariku, Syari'ah Islam datang untuk membawa manfaat bagi semua, bukan sebagai monster, melainkan sebagai berkah. Wallahu a'lam."

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar. Tetapi menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidil-haram, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Mereka takkan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup. Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu ia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” - [QS.2:217]
[Bagian 1]
Rujukan :
- Dr. Salih al-Fawzan, A Summary of Islamic Jurisprudence, Volume II, Al-Maiman.
- Dr. Abu Ameenah Bilal Philips and Dr. Jamila Jones, Polygamy in Islam, IIPH
- Hamdy Shafiq, Polygamy: Wives Rather Than Girlfriends, eemanlibrary.com
- Dr. Abu Ameenah Bilal Philips, Contemporary Issues, IOU
- Miguel de Cervantes, Don Quixote, Translated by John Ormsby, The Pennsylvania State University