Selasa, 06 Agustus 2019

Kemunafikan (4)

Murai melanjutkan, "Allah Subhanahu wa Ta'ala telah bersumpah dalam Kitab-Nya atas diri-Nya; keagungan yang akan disadari oleh mereka yang dirahmati dengan wawasan spiritual, mereka yang qalbunya takut akan Dia dengan cara mengagungkan dan meninggikan-Nya. Allah Ta'ala berfirman, memperingatkan para wali-Nya dan memperingatkan kita tentang keadaan orang-orang munafik ini,
فَلَا وَ رَبِّکَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ حَتّٰی یُحَکِّمُوۡکَ فِیۡمَا شَجَرَ بَیۡنَہُمۡ ثُمَّ لَا یَجِدُوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ حَرَجًا مِّمَّا قَضَیۡتَ وَ یُسَلِّمُوۡا تَسۡلِیۡمً
"Maka demi Rabb-mu, mereka tak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (wahai Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." ― (QS. 4:65)
Engkau akan melihat salah seorang dari mereka bersumpah sebelum memulai kata-katanya, tanpa ada yang keberatan dengan apa yang ia ucapkan, karena ia tahu, bahwa hati orang beriman tak ridha atas apa yang ia ucapkan. Allah berfirman,
یَحۡلِفُوۡنَ بِاللّٰہِ لَکُمۡ لِیُرۡضُوۡکُمۡ ۚ وَ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗۤ اَحَقُّ اَنۡ یُّرۡضُوۡہُ اِنۡ کَانُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ
"Mereka bersumpah kepadamu dengan (nama) Allah untuk menyenangkan kamu, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih pantas mereka mencari keridhaan-Nya jika mereka orang mukmin." ― (QS. 9:62)
اَلَمۡ یَعۡلَمُوۡۤا اَنَّہٗ مَنۡ یُّحَادِدِ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ فَاَنَّ لَہٗ نَارَ جَہَنَّمَ خَالِدًا فِیۡہَا ؕ ذٰلِکَ الۡخِزۡیُ الۡعَظِیۡمُ
"Tidakkah mereka (orang munafik) mengetahui bahwa barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahanamlah baginya, ia kekal di dalamnya. Itulah kehinaan yang besar." ― (QS. 9:63)
Karenanya, ia menggunakan sumpah sebagai cara untuk mengamankan dirinya dari segala kecurigaan yang mungkin menghalangi jalannya. Dengan cara yang sama, orang lain dijadikan ragu-ragu dan dibohongi, bersumpah untuk memperdaya pendengar agar mengira bahwa mereka berkata  yang sebenarnya,
اِتَّخَذُوۡۤا اَیۡمَانَہُمۡ جُنَّۃً فَصَدُّوۡا عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہُمۡ سَآءَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ
"Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan." ― (QS. 63:2)
Binasalah mereka! Mereka memulai perjalanan melintasi gurun yang luas dengan karavan iman, lalu melihat betapa panjangnya perjalanan dan jauhnya tujuan, merekapun berbalik dan pulang. Mereka mengira, mereka telah menemukan kehidupan yang baik dan mereka tidur dengan nyaman di tempat tidur mereka, tetapi tidak dalam kehidupan mereka yang sesungguhnya, dan tidak juga dalam tidur itu mereka temukan manfaat nyata. Tak lama hingga seorang penyeru berteriak, dan mereka semua akan tergesa-gesa keluar, meninggalkan hidup mereka, lapar, tak merasakan kenyang ... bagaimana keadaan mereka pada saat Pertemuan di Mahsyar? Mereka tahu, mereka akan di tolak, mereka melihat kebenaran kemudian mereka menjadi buta akan hal itu,
ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ اٰمَنُوۡا ثُمَّ کَفَرُوۡا فَطُبِعَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ فَہُمۡ لَا یَفۡقَہُوۡنَ
"Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir, maka qalbu mereka dikunci, sehingga mereka tak dapat mengerti." ― (QS. 63:3)
Mereka terbaik dalam hal penampilan fisik, bahasanya sangat mempesona, pilihan kata-katanya terbaik, namun hatinya paling keji. Mereka ibarat cabang pohon yang disanggah balok kayu namun tak berbuah. Mereka telah terpisahkan dari sumber pertumbuhan dan dengan demikian bersandar pada dinding agar mereka tetap tegak sehingga orang lain tak melangkahi mereka.
وَ اِذَا رَاَیۡتَہُمۡ تُعۡجِبُکَ اَجۡسَامُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡا تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِہِمۡ ؕ کَاَنَّہُمۡ خُشُبٌ مُّسَنَّدَۃٌ ؕ یَحۡسَبُوۡنَ کُلَّ صَیۡحَۃٍ عَلَیۡہِمۡ ؕ ہُمُ الۡعَدُوُّ فَاحۡذَرۡہُمۡ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ
"Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur-katanya. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?" ― (QS. 63:4)
Mereka menunda shalat hingga batas akhirnya: Subuh saat matahari mulai terbit dan 'Ashar saat matahari mulai terbenam dimana pada saat itu mereka terlihat dengan cepat mematuk-matuk tanah laksana burung gagak. Ini karena shalat mereka, hanya lahiriah saja, tetapi bukan dari qalbu. Allah berfirman,
وَ اِذَا نَادَیۡتُمۡ اِلَی الصَّلٰوۃِ اتَّخَذُوۡہَا ہُزُوًا وَّ لَعِبًا ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَوۡمٌ لَّا یَعۡقِلُوۡنَ
"Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (melaksanakan) shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itulah karena mereka orang-orang yang tak mengerti." ― (QS. 5:58)
Selama mengerjakan shalat, mereka melihat ke kiri dan ke kanan, seperti halnya rubah yang ingin memastikan bahwa ia tak sedang diburu dan dikejar. Mereka tak turut dalam shalat berjamaah, melainkan mengerjakan shalat di rumah atau toko mereka.

Saat mereka berdebat, mereka berperilaku tak sopan, saat mereka diberi amanah, mereka mengkhianatinya, saat mereka berbicara, mereka berbohong, dan saat mereka berjanji, mereka melanggarnya. Inilah cara mereka berurusan dengan para ciptaan dan Sang Pencipta. Bacalah gambaran tentang mereka di awal Surah al-Muthaffifin dan di akhir Surah ath-Thariq karena tiada yang bisa menjelaskan lebih baik kepadamu sifat-sifat seseorang daripada Dia Yang mengenalnya dengan sangat baik,

یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ جَاہِدِ الۡکُفَّارَ وَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ اغۡلُظۡ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ مَاۡوٰىہُمۡجَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ
"Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." ― (QS. 66:9)
Mereka mungkin mengira mereka banyak, namun pada kenyataannya, mereka sedikit. Mereka mungkin mengira, mereka kuat, namun pada kenyataannya, mereka lemah dan hina. Mereka bodoh, mengira diri mereka tegap dan perkasa. Mereka disesatkan tentang Allah karena mereka tak mengetahui keagungan-Nya,
وَ یَحۡلِفُوۡنَ بِاللّٰہِ اِنَّہُمۡ لَمِنۡکُمۡ ؕ وَ مَا ہُمۡ مِّنۡکُمۡ وَ لٰکِنَّہُمۡ قَوۡمٌ یَّفۡرَقُوۡنَ
"Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; namun mereka bukanlah dari golonganmu, tetapi mereka orang-orang yang sangat takut (kepadamu)." ― (QS. 9:56)
لَوۡ یَجِدُوۡنَ مَلۡجَاً اَوۡ مَغٰرٰتٍ اَوۡ مُدَّخَلًا لَّوَلَّوۡا اِلَیۡہِ وَ ہُمۡ یَجۡمَحُوۡنَ
"Sekiranya mereka memperoleh tempat perlindungan, gua-gua atau lubang-lubang (dalam tanah), niscaya mereka pergi (lari) ke sana dengan secepat-cepatnya." ― (QS. 9:57)
Ketika para Ahlus-Sunnah berada dalam masa-masa yang lapang, tertolong dan beroleh kemenangan, mereka merasa susah dan tertekan; dan ketika para Ahlus-Sunnah berada dalam masa-masa sempit dan menjalani cobaan dari Allah agar dosa-dosa mereka dapat ditebus, mereka bersuka-cita dan bersuka-ria. Inilah warisan mereka dan sama sekali tak dapat dibandingkan mereka yang mewarisi dari Rasulullah (ﷺ) dengan mereka yang mewarisi dari orang-orang munafik,
اِنۡ تُصِبۡکَ حَسَنَۃٌ تَسُؤۡہُمۡ ۚ وَ اِنۡ تُصِبۡکَ مُصِیۡبَۃٌ یَّقُوۡلُوۡا قَدۡ اَخَذۡنَاۤ اَمۡرَنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ یَتَوَلَّوۡا وَّ ہُمۡ فَرِحُوۡنَ
"Jika engkau (wahai Muhammad) mendapat kebaikan, mereka tak senang; tetapi jika engkau ditimpa bencana, mereka berkata, “Sungguh, sejak semula kami telah berhati-hati (tak pergi berperang),” dan mereka berpaling dengan (perasaan) gembira." ― (QS. 9:50)
قُلۡ لَّنۡ یُّصِیۡبَنَاۤ اِلَّا مَا کَتَبَ اللّٰہُ لَنَا ۚ ہُوَ مَوۡلٰىنَا ۚ وَ عَلَی اللّٰہِ فَلۡیَتَوَکَّلِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ
"Katakanlah (wahai Muhammad), “Tiakan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.”" ― (QS. 9:51)
اِنۡ تَمۡسَسۡکُمۡ حَسَنَۃٌ تَسُؤۡہُمۡ ۫ وَ اِنۡ تُصِبۡکُمۡ سَیِّئَۃٌ یَّفۡرَحُوۡا بِہَا ؕ وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ تَتَّقُوۡا لَا یَضُرُّکُمۡ کَیۡدُہُمۡ شَیۡـًٔا ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ
"Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka takkan menyusahkanmu sedikitpun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan." ― (QS. 3:120)
Allah tak menyukai mereka menaati-Nya karena kekotoran qalbu mereka dan niat yang tak suci; karena itu, Dia menahan mereka dan menghalangi mereka menaati-Nya. Dia tak menyukai mereka berdekat-dekatan dengan-Nya dan berada sekitar-Nya karena mereka mencintai musuh-musuh-Nya; karenanya, Dia menjauhi dan mencampakkan mereka. Mereka berpaling dari wahyu-Nya sehingga Dia berpaling juga dari mereka dan menetapkan kesengsaraan bagi mereka. Dia menghakimi mereka dengan keadilan seadil-adilnya dan mereka tak punya harapan keberhasilan kecuali mereka menunjukkan penyesalan,
وَ لَوۡ اَرَادُوا الۡخُرُوۡجَ لَاَعَدُّوۡا لَہٗ عُدَّۃً وَّ لٰکِنۡ کَرِہَ اللّٰہُ انۡۢبِعَاثَہُمۡ فَثَبَّطَہُمۡ وَ قِیۡلَ اقۡعُدُوۡا مَعَ الۡقٰعِدِیۡنَ
"Dan jika mereka mau berangkat, niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), 'Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.'” ― (QS. 9:46)
Kemudian Allah menyebutkan hikmah di balik tindakan-Nya yang telah disebutkan sebelumnya, Dialah Yang Maha Bijaksana,
لَوۡ خَرَجُوۡا فِیۡکُمۡ مَّا زَادُوۡکُمۡ اِلَّا خَبَالًا وَّ لَا۠اَوۡضَعُوۡا خِلٰلَکُمۡ یَبۡغُوۡنَکُمُ الۡفِتۡنَۃَ ۚ وَ فِیۡکُمۡ سَمّٰعُوۡنَ لَہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ بِالظّٰلِمِیۡنَ
"Jika (mereka berangkat bersamamu), niscaya mereka takkan menambah (kekuatan)mu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju ke depan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (di barisanmu); sedang di antara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah mengetahui orang-orang yang zhalim." ― (QS. 9:47)
Allah menyebutkan salah-satu contoh tentang bagaimana ada orang yang mendengarkan orang-orang munafik,
فَمَا لَکُمۡ فِی الۡمُنٰفِقِیۡنَ فِئَتَیۡنِ وَ اللّٰہُ اَرۡکَسَہُمۡ بِمَا کَسَبُوۡا ؕ اَتُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ تَہۡدُوۡا مَنۡ اَضَلَّ اللّٰہُ ؕ وَ مَنۡ یُّضۡلِلِ اللّٰہُ فَلَنۡ تَجِدَ لَہٗ سَبِیۡلً
"Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah mengembalikan mereka (kepada kekafiran), disebabkan usaha mereka sendiri? Bermaksudkah kamu memberi petunjuk kepada orang yang telah dibiarkan sesat oleh Allah? Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, kamu takkan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya." ― (QS. 4:88)
Ayat-ayat Ilahi sangat membebani mereka, sehingga mereka merasa muak, dan karena tak dapat membawanya, mereka meninggalkannya. Mereka tak dapat memelihara dengan baik Sunnah sehingga mereka mengabaikannya. Mereka merasa bahwa Kitabullah dan Sunnah bertentangan dengan hasrat mereka, sehingga mereka membuat sendiri aturan-hukum dan prinsip-prinsip, yang dengannya, mereka dapat menolak atau melemahkannya. Allah telah mengungkap rahasia mereka dan mengemukakan perumpamaan untuk mereka. Ketahuilah bahwa setiap generasi yang menggantikan mereka, seperti mereka dan karenanya Dia memberi gambaran tentang mereka kepada para wali-Nya agar dapat menyadarinya. Dia berfirman,
ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ کَرِہُوۡا مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ فَاَحۡبَطَ اَعۡمَالَہُمۡ
"Yang demikian itu karena mereka membenci apa (Al-Qur'an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka." ― (QS. 47:9)
Ini berlaku bagi semua orang yang merasa bahwa teks wahyu Ilahi itu memberatkan, dan melihatnya berada diantara diri mereka dan bid'ah serta keinginannya; tampak baginya bahwa ia telah menemukan struktur solid yang tak dapat dipatahkan, maka ia menukarnya dengan retorika bathil, menukar realitas dengan ilusi. Hal ini akan mengarah pada kerusakan lahir dan bathin,
ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡا لِلَّذِیۡنَ کَرِہُوۡا مَا نَزَّلَ اللّٰہُ سَنُطِیۡعُکُمۡ فِیۡ بَعۡضِ الۡاَمۡرِ ۚۖ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ اِسۡرَارَہُمۡ
"Yang demikian itu, karena sesungguhnya mereka telah mengatakan kepada orang-orang (Yahudi) yang tak senang kepada apa yang diturunkan Allah, 'Kami akan mematuhimu dalam beberapa urusan,' tetapi Allah mengetahui rahasia mereka." ― (QS. 47:26)
فَکَیۡفَ اِذَا تَوَفَّتۡہُمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَضۡرِبُوۡنَ وُجُوۡہَہُمۡ وَ اَدۡبَارَہُمۡ
"Maka bagaimana (nasib mereka) apa-bila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka, memukul wajah dan punggung mereka?" ― (QS. 47:27)
ذٰلِکَ بِاَنَّہُمُ اتَّبَعُوۡا مَاۤ اَسۡخَطَ اللّٰہَ وَ کَرِہُوۡا رِضۡوَانَہٗ فَاَحۡبَطَ اَعۡمَالَہُمۡ
"Yang demikian itu, karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus segala amal mereka." ― (QS. 47:28)
Mereka mengira bahwa jika mereka menyembunyikan kekufuran mereka dan menunjukkan iman mereka, mereka akan memperoleh keuntungan besar, tetapi bagaimana bisa demikian ketika Yang Mahatahu telah mengungkap rahasia mereka?
اَمۡ حَسِبَ الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ اَنۡ لَّنۡ یُّخۡرِجَ اللّٰہُ اَضۡغَانَہُمۡ
"Atau mengirakah orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit bahwa Allah takkan menampakkan kedengkian mereka?" ― (QS. 47:29)
وَ لَوۡ نَشَآءُ لَاَرَیۡنٰکَہُمۡ فَلَعَرَفۡتَہُمۡ بِسِیۡمٰہُمۡ ؕ وَ لَتَعۡرِفَنَّہُمۡ فِیۡ لَحۡنِ الۡقَوۡلِ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ اَعۡمَالَکُمۡ
"Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu (Muhammad) sehingga engkau benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan engkau benar-benar akan mengenal mereka dari nada bicaranya, dan Allah mengetahui segala amal perbuatan kamu." ― (QS. 47:30)
Bagaimana jadinya mereka ketika mereka dikumpulkan di Hari at-Talaq, dan Allah, Yang Maha Perkasa dan Mahabesar, memanifestasikan diri-Nya dan mengungkap keagungan-Nya? Hari ketika mereka diperintahkan bersujud, namun tak melakukannya,
خَاشِعَۃً اَبۡصَارُہُمۡ تَرۡہَقُہُمۡ ذِلَّۃٌ ؕ وَ قَدۡ کَانُوۡا یُدۡعَوۡنَ اِلَی السُّجُوۡدِ وَ ہُمۡ سٰلِمُوۡنَ
"Pandangan mereka tertunduk ke bawah, diliputi kehinaan. Dan sungguh, dahulu (di dunia) mereka telah diseru untuk bersujud pada waktu mereka sehat (tetapi mereka tak melakukan)." ― (QS. 68:43)
Bagaimana jadinya ketika mereka berkumpul bersama untuk melintasi Jembatan yang melintas di atas Jahannam? Sebuah jembatan yang lebih halus dari bilah rambut dan lebih tajam dari pada ujung pedang, mudah lepas, tertanam dalam kegelapan dan tiada yang bisa melintasinya kecuali yang dipandu oleh cahaya yang menunjukkan pada mereka dimana harus meletakkan kaki. Cahaya akan dibagikan di antara manusia, intensitas cahaya yang dimiliki masing-masing orang mengatur kecepatan dimana ia akan melintasi jembatan itu. Mereka diberi cahaya dangkal yang dengannya mereka menemani umat Islam, sama seperti mereka biasa menemani umat Islam dalam kehidupan ini: shalat secara lahiriah, berzakat-harta, berhaji, dan berpuasa. Ketika mereka mencapai tengah jembatan, cahaya mereka dihembuskan oleh angin kemunafikan yang deras dan mereka berhenti dengan sangat kebingungan, tak tahu bagaimana melanjutkan. Sebuah dinding yang berpintu ditempatkan di antara mereka dan orang-orang beriman, sisi orang-orang beriman, berisi rahmat, sedangkan sisi dimana mereka menemukan diri mereka, berisi adzab. Mereka berseru kepada orang-orang beriman, yang di kejauhan berkilau laksana bintang, sehingga dapat menyeberangi jembatan itu dengan aman.
یَوۡمَ یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتُ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا انۡظُرُوۡنَا نَقۡتَبِسۡ مِنۡ نُّوۡرِکُمۡ ۚ قِیۡلَ ارۡجِعُوۡا وَرَآءَکُمۡ فَالۡتَمِسُوۡا نُوۡرًا ؕ فَضُرِبَ بَیۡنَہُمۡ بِسُوۡرٍ لَّہٗ بَابٌ ؕ بَاطِنُہٗ فِیۡہِ الرَّحۡمَۃُ وَ ظَاہِرُہٗ مِنۡ قِبَلِہِ الۡعَذَابُ
"Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami! Kami ingin mengambil cahayamu.” (Kepada mereka) dikatakan, ”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu di antara mereka dipasang dinding (pemisah) yang berpintu. Di sebelah dalam ada rahmat dan di luarnya hanya ada adzab." ― (QS. 57:13)
Mereka harus kembali ke tempat dimana cahaya pertama kali dibagikan. Takkan ada yang berhenti membantu mereka dalam situasi seperti ini! Takkan ada yang membantu orang lain di jalan itu, dan seorang teman dekat takkan menoleh membantu temannya. Mereka akan mengingatkan orang-orang beriman bahwa mereka menemaninya dalam kehidupan ini, sama seperti seorang musafir mengingatkan penduduk suatu kota bahwa ia menemaninya dalam perjalanan,
یُنَادُوۡنَہُمۡ اَلَمۡ نَکُنۡ مَّعَکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنَّکُمۡ فَتَنۡتُمۡ اَنۡفُسَکُمۡ وَ تَرَبَّصۡتُمۡ وَ ارۡتَبۡتُمۡ وَ غَرَّتۡکُمُ الۡاَمَانِیُّ حَتّٰی جَآءَ اَمۡرُ اللّٰہِ وَ غَرَّکُمۡ بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ
"Orang-orang munafik memanggil orang-orang mukmin, 'Bukankah kami dahulu bersama kamu?' Mereka menjawab, 'Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri, dan hanya menunggu, meragukan (janji Allah) dan ditipu oleh angan-angan kosong sampai datang ketetapan Allah; dan penipu (setan) datang memperdaya kamu tentang Allah.'" ― (QS. 57:14)
فَالۡیَوۡمَ لَا یُؤۡخَذُ مِنۡکُمۡ فِدۡیَۃٌ وَّ لَا مِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ مَاۡوٰىکُمُ النَّارُ ؕ ہِیَ مَوۡلٰىکُمۡ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ
"Maka pada hari ini takkan diterima tebusan darimu maupun dari orang-orang kafir. Tempat kamu di neraka. Itulah tempat berlindungmu, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." ― (QS. 57:15)
Orang-orang munafik berkata, "Kami berpuasa bersamamu, shalat bersamamu, tilawah Alquran bersamamu, dan berhaji bersamamu; mengapa kami dipisahkan darimu!" Mereka akan menjawab, "Tubuhmu ada bersama kami, namun qalbumu bersama setiap penyimpangan dan kezhaliman."

Gambaran tentang orang-orang ini sangat banyak. Dapat dikatakan bahwa hampir seluruh Al-Qur'an, berisi tentang mereka, karena sangat banyaknya mereka di muka dan di dalam perut bumi ini, yaitu kuburan mereka. Tiada satupun tempat di bumi kecuali mereka dapat ditemukan di dalamnya. Hudzaifah pernah mendengar seseorang berkata, "Ya Allah, hancurkanlah orang-orang munafik!" Ia berkata, "Wahai anak saudaraku, jika Dia menghancurkan orang-orang munafik, engkau akan menemukan dirimu berjalan menyusuri jalan sendirian, karena hampir tiada orang yang akan tetap hidup!"

Wallahi, qalbu para Salaf, hidup dalam ketakutan akan kemunafikan karena mereka tahu wujud besar dan kecilnya, mereka tahu secara umum dan detailnya, dan mereka sedikit memikirkan diri mereka sendiri sampai-sampai mereka takut menjadi salah seorang munafik. 'Umar bin al-Khattab berkata kepada Hudzaifah,' Aku bertanya kepadamu, demi Allah, apakah Rasulullah (ﷺ) menganggapku sebagai salah satu dari mereka?' Ia menjawab, 'Tidak, dan aku takkan menjawab pertanyaan ini untuk yang lain setelahmu.' Ibnu Abi Mulaikah berkata, 'Aku bertemu tiga puluh Sahabat Nabi (ﷺ), dan menyadari bahwa mereka semua takut akan kemunafikan bagi dirinya sendiri, dan tak seorang pun dari mereka mengatakan bahwa imannya seperti iman Jibril dan Mikail, ' (HR al-Bukhari).
Ia juga meriwayatkan bahwa al-Hasan al-Basri berkata, "Tak ada yang merasa aman dari kemunafikan kecuali orang munafik, dan tak ada yang takut padanya kecuali orang beriman." Ketika ditanya apa maksudnya, ia menjawab, 'Bahwa tubuh terlihat patuh tetapi hati tidak.' Salah seorang Sahabat berdoa seperti ini, "Ya Allah, aku berlindung denganmu dari sikap patuh yang munafik." Ketika ditanya apa maksudnya, ia jawab, "Secara lahiriah terlihat patuh tetapi qalbu tidak."
Wallahi, qalbu para Salaf dipenuhi dengan keyakinan dan kepastian, namun ketakutan mereka akan kemunafikan, sungguh luar biasa. Ada banyak orang yang bahkan tak dapat dibandingkan dengan iman para Salaf, namun orang-orang itu menyatakan bahwa iman mereka sama seperti iman Jibril dan Mikail!

Tetumbuhan kemunafikan tumbuh dari dua batang: dusta dan pamer. Ia tumbuh dari dua sumber: lemahnya wawasan spiritual dan lemahnya ketetapan hati. Ketika keempat faktor ini ada, tanaman kemunafikan tumbuh subur dan kuat. Namun, ia tumbuh di tepian ngarai yang mudah runtuh, yang dibawahnya ada aliran sungai, maka ketika mereka melihat banjir kenyataan pada Hari ketika semua rahasia diungkapkan, dan kuburan dikosongkan, dan isi hati tersingkap, orang yang modalnya kemunafikan akan menemukan bahwa semua yang ia dapatkan hanyalah fatamorgana,

وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَعۡمَالُہُمۡ کَسَرَابٍۭ بِقِیۡعَۃٍ یَّحۡسَبُہُ الظَّمۡاٰنُ مَآءً ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءَہٗ لَمۡ یَجِدۡہُ شَیۡئًا وَّ وَجَدَ اللّٰہَ عِنۡدَہٗ فَوَفّٰىہُ حِسَابَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ
"Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila (air) itu didatangi tiada apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya." ― (QS. 24:39)
Hati mereka lalai dalam mengerjakan kebaikan, tetapi tubuh mereka secara lahiriah melakukannya, dan perbuatan buruk sering mereka lakukan. Ketika mereka mendengar kebenaran, hati mereka sangat sulit menerimanya, tetapi ketika mereka menyaksikan kebathilan dan mendengar pandangan yang keliru, hati mereka secara terbuka menerimanya dan mereka mau mendengarkan.

Wallahi, inilah tanda kemunafikan, maka berwaspadalah terhadapnya! Waspadalah terhadapnya sebelum penghakiman menimpamu: ketika mereka diamanahkan sesuatu, mereka hancurkan kepercayaannya, ketika mereka berjanji, mereka mendustakannya, ketika mereka berbicara, mereka zhalim, ketika mereka diseru agar taat, mereka goyah, ketika mereka diajak pada apa yang telah Allah wahyukan dan kepada Utusan-Nya, mereka berpaling (ﷺ), tetapi ketika ada sesuatu yang sesuai dengan hasrat dan syahwat mereka, mereka bergegas ke sana. Biarkan saja mereka pada kesengsaraan yang telah mereka pilih sendiri, jangan bergantung pada akad mereka dan jangan percaya pada janji-janji mereka, karena mereka pembohong,

وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ عٰہَدَ اللّٰہَ لَئِنۡ اٰتٰىنَا مِنۡ فَضۡلِہٖ لَنَصَّدَّقَنَّ وَ لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِیۡنَ
"Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang shalih.'" ― (QS. 9:75)
فَلَمَّاۤ اٰتٰہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ بَخِلُوۡا بِہٖ وَ تَوَلَّوۡا وَّ ہُمۡ مُّعۡرِضُوۡنَ
"Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling, dan selalu menentang (kebenaran)." ― (QS. 9:76)
فَاَعۡقَبَہُمۡ نِفَاقًا فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ یَلۡقَوۡنَہٗ بِمَاۤ اَخۡلَفُوا اللّٰہَ مَا وَعَدُوۡہُ وَ بِمَا کَانُوۡا یَکۡذِبُوۡنَ
"Maka Allah menanamkan kemunafikan dalam hati mereka sampai pada waktu mereka menemui-Nya, karena mereka telah mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta." ― (QS. 9:77)
Semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan pada Baginda Nabi (ﷺ), Keluarga beliau dan para Sahabat. Wallahu a'lam."
[Bagian 5]

Jumat, 02 Agustus 2019

Kemunafikan (3)

Para unggas berkumpul kembali dalam lingkaran ilmu. Murai berkata, "Segala puji hanyalah milik Allah. Kami memohon pertolongan-Nya, dan mohon ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk Allah, maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang dibiarkan sesat oleh Allah, maka tiada siapapun yang dapat memberinya petunjuk.
Wahai saudara-saudariku, kita telah melihat bagaimana Ibnu Ubayy mempertontonkan di atas panggung, berjabatan-tangan seraya saling melekatkan pipi dengan Bani Qainuqa dan Bani Nadir. Sekarang, tentu saja, kita takkan mau melakukannya, karena kita tahu bahwa Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang kafir (orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman." - (QS.5:57)
Allah juga berfirman,
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوۡۤا اٰبَآءَکُمۡ وَ اِخۡوَانَکُمۡ اَوۡلِیَآءَ اِنِ اسۡتَحَبُّوا الۡکُفۡرَ عَلَی الۡاِیۡمَانِ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pelindung, jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka pelindung, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." - (QS.9:23)
Sebelum Bunglon melanjutkan, aku ingin menyampaikan kepada kalian bahwa didalam Al Qur'an, Allah telah mewahyukan akal-bulus orang-orang munafik, Dia, Subhanahu wa Ta'ala, telah mewahyukan keyakinan, kualitas mereka, dan menjelaskan tujuan mereka, sehingga orang-orang beriman sadar. Di awal Surah Al-Baqarah, Allah membagi umat manusia menjadi tiga kelompok, yakni orang beriman; orang kafir; dan orang munafik. Allah menyebutkan empat ayat tentang orang-orang beriman, dua ayat tentang orang-orang kafir, dan tiga belas ayat tentang orang-orang munafik, karena banyaknya kerusakan besar dan kesengsaraan yang mereka bawa terhadap Islam dan kaum Muslimin. Kerugian yang mereka timbulkan terhadap Islam, sangat parah, karena mereka mengaku sebagai Muslim, mereka menyatakan akan membantu dan menolong Islam, namun dalam kenyataannya, merekalah musuh-musuh Islam yang berusaha menghancurkannya dari dalam, secara diam-diam menyebarkan kerusakan dan kejahilan mereka sedemikian rupa sehingga orang yang tak waspada, mengira bahwa apa yang mereka kerjakan itu, adalah ilmu dan perbuatan yang benar.
Demi Allah! Betapa banyak benteng Islam yang telah mereka runtuhkan; betapa banyak benteng yang telah mereka ganti; betapa banyak rambu Islam yang telah mereka cabut; betapa banyak bendera yang telah dikibarkan, mereka turunkan; dan betapa banyak benih keraguan yang mereka taburkan untuk mencabut Dien Allah!

Wahai saudara-saudariku, Islam dan Muslim selalu menghadapi cobaan dan kesengsaraan dari orang-orang munafik, gelombang demi gelombang keraguan telah mereka lakukan, mengira bahwa tindakan mereka itu, benar. Allah berfirman,
اَلَاۤ اِنَّہُمۡ ہُمُ الۡمُفۡسِدُوۡنَ وَ لٰکِنۡ لَّا یَشۡعُرُوۡنَ
"Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, namun mereka tak menyadari." - (QS.2:12)
As-Sa'di berkata, 'Allah-lah yang menjalankan tugas membantu Dien-Nya, menyempurnakan kebenaran yang Dia wahyukan kepada Utusan-Nya (ﷺ), dan memanifestasikan cahayanya ke seluruh penjuru bumi, meskipun orang-orang kafir membencinya. Meskipun mereka berusaha sekuat tenaga memadamkan cahaya-Nya, kekalahan dan kegagalan adalah takdir mereka. Mereka bagaikan orang yang meniupkan udara dengan mulutnya ke arah matahari dengan harapan bahwa ia dapat memadamkan apinya: ia takkan pernah bisa melakukannya, melainkan ia hanya merusak intelektualitasnya sendiri dengan kekurangan dan kecurangan. ' Allah berfirman,
یُرِیۡدُوۡنَ لِیُطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ اللّٰہُ مُتِمُّ نُوۡرِہٖ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ
"Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya." - (QS.61:8)
Karakteristik iman tak ditemukan dalam qalbu mereka dan karenanya, mereka tak mengenalnya; mereka lupa akan pilar-pilarnya, dan karenanya tak memeliharanya; dipadamkanlah cahaya bintang-bintang cemerlang dalam qalbu mereka dan mereka tak berusaha menyalakannya kembali, dan kegelapan pikiran dan keyakinan mereka telah memudarkan matahari iman sehingga mereka tak lagi melihatnya. Mereka tak menerima petunjuk Allah, yang dengannya Dia mengutus para utusan-Nya, mereka tak mementingkan itu, dan mereka tak melihat ada yang salah dalam meninggalkannya karena pendapat dan kepercayaan mereka sendiri. Mereka telah memelintir naskah-naskah wahyu Ilahi tentang status mereka yang sebenarnya, mereka telah memisahkannya dari kepentingan dan kepastiannya, dan mereka telah merendamnya dalam ketidakjelasan penafsiran yang keliru. Dalih demi dalih mereka luncurkan terhadap naskah-naskah ini, dan seolah-olah mereka menghadapinya dan itu sama seperti seorang tuan-rumah yang menghindari tamu yang buruk, dan bila menerimanya tanpa keramahtamahan dan ketulusan, memaksa dirinya menjadi tuan rumah bagi mereka, namun tetap menjaga jarak. Mereka berkata terhadap naskah-naskah ini, "Engkau takkan bisa melewati kami,' dan jika mereka tak menemukan pilihan selain menerimanya, mereka melakukannya dengan mengemukakan berbagai tipu-daya dan meramu berbagai prinsip. Ketika naskah-naskah ini menemukan jalan melewati pintu mereka, mereka berkata, "Apa yang harus kita lakukan dengan makna harafiahnya, tak memberi kita kepastian apapun! 'dan masyarakat umum di antara mereka berkata, 'Cukup bagi kita, apa yang kita dengar dari orang-orang yang modern, karena mereka lebih berilmu daripada para Salaf, dan lebih kukuh dan lebih mendapat petunjuk dalam hal bukti dan alasan!' Dalam pandangan mereka, jalan Salaf adalah jalan kesederhanaan dan keselamatan qalbu karena mereka tak menyibukkan diri dalam meneliti dan menguraikan prinsip-prinsip retorika; sebaliknya, mereka hanya mengabdikan diri untuk melakukan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan. Oleh karena itu, mereka menganggap bahwa cara orang-orang yang sekaranglah yang lebih mengakar dalam hal ilmu dan lebih bijaksana, sedangkan jalan Salaf lebih cenderung dalam keterbelakangan walau lebih aman. Allah berfirman,
اُنۡظُرۡ کَیۡفَ یَفۡتَرُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ الۡکَذِبَ ؕ وَ کَفٰی بِہٖۤ اِثۡمًا مُّبِیۡنًا
"Perhatikanlah, betapa mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah! Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka)." - (QS.4:50)
Mereka memperlakukan Kitab Suci dan Sunnah bagaikan Khalifah diperlakukan pada masa-masa ini: ketika namanya ditulis di atas koin dan namanya disebut berulang-ulang dalam khutbah Jumat, ia tak memiliki wewenang nyata dan orang lainlah yang memerintah, keputusannya tak didengar atau tak dipatuhi. Mereka mengenakan jubah orang-orang beriman, yang menutupi qalbu mereka tentang kesesatan, penipuan dan kekufuran. Lidah mereka, lidah orang Muslim, namun qalbu mereka, qalbu orang-orang yang memerangi umat Islam. Allah berfirman,
وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَ بِالۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ مَا ہُمۡ بِمُؤۡمِنِیۡنَ ۘ
"Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman." - (QS.2:8)
Ayat ini kemudian menggambarkan sifat pertama orang-orang munafik, dusta. Mereka berkata dengan lidah mereka apa yang tak ada dalam qalbu mereka. Kualitas ini sangat mengakar dalam diri mereka sehingga bahkan ketika mereka mengucapkan kata-kata yang benar, Allah masih menyebut mereka pembohong karena apa yang mereka ucapkan tak sesuai dengan apa yang mereka yakini.

Modal mereka adalah tipu-daya dan akal-bulus, barang dagangan mereka adalah kebohongan dan pengkhianatan, dan kecerdasan mereka hanya digunakan untuk dunia ini: orang-orang yang beriman dan yang tak beriman hidup berdampingan dengan mereka dan mereka aman di antara keduanya. Allah berfirman,
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
"Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari." - (QS.2:9)
Ayat ini menggambarkan sifat kedua orang-orang munafik: ketidaktahuan mereka tentang Allah karena mereka berusaha menipu Dia Yang tak bisa dibohongi, Dia Yang tahu apa yang mereka tampakkan dan apa yang mereka sembunyikan! Ayat ini juga menunjukkan sifat menipu mereka, sifat ketiga mereka, serta mereka mengejek Dien Allah dan memandangmya rendah. As-Sa'di berkata, "Penipuan menunjukkan orang atau sesuatu yang terperdaya, dan menyembunyikan realita untuk mencapai tujuan seseorang. Orang-orang munafik berusaha mengakali Allah dan orang-orang beriman dengan cara ini, namun tipu daya mereka, kembali kepada diri mereka sendiri. Inilah sesuatu yang luar biasa, karena biasanya, penipu akan berhasil dan melihat hasil dari tujuannya, atau paling tidak, aman. Orang-orang munafik ini melakukan apa yang mereka ingin lakukan, dan merencanakan rencana mereka, namun semua yang berhasil mereka lakukan hanyalah mengunci kehancuran mereka sendiri.”

Penyakit syubhat dan syahwat telah membakar-hangus qalbu mereka dan menghancurkannya, dan tujuan jahat telah merasuki daya-bathin dan niat mereka, serta merusak mereka. Begitu parahnya kerusakan mereka, sehingga mereka terhempas dalam kebinasaan, dan para tabib agama tak dapat menyembuhkan mereka,
فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ ۙ فَزَادَہُمُ اللّٰہُ مَرَضًا ۚ وَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌۢ ۬ۙ بِمَا کَانُوۡا یَکۡذِبُوۡنَ
"Dalam qalbu mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat adzab yang pedih, karena mereka berdusta." - (QS.2:10)
Ayat ini menggambarkan sifat keempat mereka: mereka dilanda penyakit syubhat dan syahwat. As-Sa'di berkata, “Penyakit di sini adalah penyakit syubhat dan syahwat. Qalbu ditutupi oleh dua penyakit yang mengeluarkannya dari keadaan normal dan seimbang, dirasuki penyakit syubhat (pemikiran dan pemahaman yang menyimpang serta keragu-raguan) dan penyakit syahwat (keinginan yang terlarang). Keyakinan, kemunafikan, keraguan, dan bid'ah, semuanya muncul dari penyakit syubhat. Perbuatan cabul, suka akan perbuatan buruk dan dosa, semuanya timbul dari penyakit syahwat. Ayat ini juga menunjukkan bahwa sebagai akibat dari dosa-dosa seseorang, Allah menadzabnya dengan menimpakan dengan lebih banyak dosa.
Siapapun yang menjadi mangsa cakar syubhat mereka, imannya akan hancur berkeping-keping; siapapun yang membiarkan qalbunya terbuka oleh fitnah keji mereka, akan menemukan dirinya dalam tungku pembakaran; dan siapapun yang mendengarkan tipu-daya mereka, akan menemukannya berada di antara dirinya dan keyakinan yang kukuh. Sesungguhnya, kerusakan yang mereka sebabkan di bumi, sangat besar, tetapi kebanyakan orang tak menyadari,
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ لَا تُفۡسِدُوۡا فِی الۡاَرۡضِ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُوۡنَ
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah berbuat kerusakan di bumi!' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.'" - (QS.2:11)
اَلَاۤ اِنَّہُمۡ ہُمُ الۡمُفۡسِدُوۡنَ وَ لٰکِنۡ لَّا یَشۡعُرُوۡنَ
"Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tak menyadari." - (QS.2:12)
Ayat ini menggambarkan sifat kelima mereka, menyebarkan kerusakan ke seluruh negeri, akibat langsung dari rusaknya qalbu mereka. As-Sa'di berkata, "Ketika orang-orang munafik ini dicegah menyebarkan kerusakan di bumi, yang ditunjukkan dengan menggalakkan kekufuran dan dosa, mengungkapkan rencana dan rahasia umat Islam kepada musuh-musuhnya, dan berteman dengan orang-orang kafir, mereka berkata, 'Kami hanya melakukan perbaikan.' Mereka menggabungkan penyebaran kerusakan di bumi dengan alasan bahwa mereka hanya memperbaikinya, seraya mengubah kenyataan dan meyakinkan kebohongan mereka sebagai kebenaran. Kejahatan orang-orang ini lebih besar daripada kejahatan orang yang baru saja berbuat dosa, yang percaya bahwa perbuatannya itu memang berdosa, karena ada lebih banyak harapan bahwa orang tersebut akan sadar dan bertaubat. Sekarang, sebagaimana mereka berkata ‘Kami hanya melakukan perbaikan,' menjadi batasan amal-shalih mereka, karenanya mereka menganggap amal-shalih orang-orang beriman itu, tidaklah benar atau keliru; maka Allah membantah mereka dengan berfirman, ‘Tidak! Kalianlah yang merusak karena tak ada kerusakan yang lebih besar daripada pengingkaran terhadap ayat-ayat dan tanda-tanda Allah, menghalagi orang-orang dari Jalan-Nya, berusaha menipu Allah dan wali-Nya, serta berteman dengan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya (ﷺ).'

Ketika salah seorang dari mereka mengikuti Kitabullah dan Sunnah, ia melakukannya hanya untuk dilihat saja, ia bagai keledai yang membawa buku: ia tak paham apa yang dibawanya. Wahyu di mata mereka, hanyalah barang dagangan yang tak menguntungkan dan karenanya, tak berharga. Orang-orang yang benar-benar mengikuti wahyu itu, orang bodoh di mata mereka,
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ اٰمِنُوۡا کَمَاۤ اٰمَنَ النَّاسُ قَالُوۡۤا اَنُؤۡمِنُ کَمَاۤ اٰمَنَ السُّفَہَآءُ ؕ اَلَاۤ اِنَّہُمۡ ہُمُ السُّفَہَآءُ وَ لٰکِنۡ لَّا یَعۡلَمُوۡنَ
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman!' Mereka menjawab, 'Akankah kami beriman seperti orang-orang yang kurang-akal itu beriman?' Ingat, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tak tahu.'" ― (QS. 2:13)
Ayat ini menggambarkan sifat keenam mereka: meremehkan agama dan yang mengikutinya, serta kebodohan mereka. As-Sa'di berkata, "Allah menyampaikan kepada kita bahwa merekalah orang-orang bodoh sejati, karena kebodohan didefinisikan sebagai seseorang yang tak mengetahui apa yang baik untuk dirinya sendiri dan mengejar apa yang akan membahayakan dirinya. Sifat-sifat ini berlaku bagi mereka. Kecerdasan dan wawasan hanyalah jalan agar seseorang mengetahui apa yang baik baginya dan menggapainya, dan mencegah apa yang akan membahayakan dirinya. Kualitas-kualitas ini berlaku bagi para Sahabat dan orang-orang beriman. Pertimbangan ini berlaku hanya jika sesuai dengan kenyataan dan bukan hanya pada ucapan dan omong-kosong belaka.”

Setiap orang dari mereka, punya dua wajah: wajah yang dengannya ia bertemu dengan Muslim dan wajah yang dengannya ia bertemu dengan rekan-rekannya yang sesat. Masing-masing dari mereka memiliki dua lidah: lidah kepalsuan yang dengannya ia bertemu dengan orang-orang Muslim dan lidah yang sebenarnya, yang mengekspresikan keyakinan mereka yang sebenarnya,
وَ اِذَا لَقُوا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا قَالُوۡۤا اٰمَنَّا ۚۖ وَ اِذَا خَلَوۡا اِلٰی شَیٰطِیۡنِہِمۡ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا مَعَکُمۡ ۙ اِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَہۡزِءُوۡنَ
"Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, 'Kami telah beriman.' Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.'" ― (QS. 2:14)
Inilah contoh kebohongan keji mereka, mengatakan dengan lidah mereka apa yang tak ada di qalbu mereka, untuk memperoleh keuntungan duniawi. Allah berfirman,
یَّسۡتَخۡفُوۡنَ مِنَ النَّاسِ وَ لَا یَسۡتَخۡفُوۡنَ مِنَ اللّٰہِ وَ ہُوَ مَعَہُمۡ اِذۡ یُبَیِّتُوۡنَ مَا لَا یَرۡضٰی مِنَ الۡقَوۡلِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطًا
"Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tak diridhai-Nya. Dan Allah Maha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan." ― (QS. 4:108)
Mereka telah ingkar dari Kitabullah dan Sunnah, mengolok-olok orang-orang yang mengikutinya dan memandangnya rendah. Mereka menolak tunduk pada wahyu Ilahi, puas dengan ilmu-pengetahuan yang mereka miliki: pengetahuan apa? Peningkatan yang hanya menyebabkan lebih banyak kejahatan dan kesombongan! Engkau akan selalu melihat mereka mengejek orang yang mengikuti wahyu yang jelas, tetapi
اَللّٰہُ یَسۡتَہۡزِئُ بِہِمۡ وَ یَمُدُّہُمۡ فِیۡ طُغۡیَانِہِمۡ یَعۡمَہُوۡنَ
"Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." ― (QS. 2:15)
Mereka berdagang di lautan kegelapan yang melintasi kapal-kapal keraguan. Ketidakpastian dan kecurigaan mengganggu mereka, saat mereka berlayar melalui gelombang ilusi. Angin kencang mengacaukan kapal mereka dan membawa mereka pada kehancuran,
اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اشۡتَرَوُا الضَّلٰلَۃَ بِالۡہُدٰی ۪ فَمَا رَبِحَتۡ تِّجَارَتُہُمۡ وَ مَا کَانُوۡا مُہۡتَدِیۡنَ
"Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tak beruntung dan mereka tak mendapat petunjuk." ― (QS. 2:16)
Mereka menginginkan kesesatan itu ibarat pembeli yang sangat menginginkan komoditas tertentu, sehingga ia akan memberikan sesuatu yang berharga sebagai pembayaran. Inilah perumpamaan yang sangat baik: kesesatan, kejahatan terburuk, telah dibandingkan dengan komoditas; dan petunjuk, hal terbaik, telah dibandingkan dengan harga yang diminta. Jadi mereka membayar harganya dan mendapatkan apa yang mereka inginkan, kesesatan... betapa buruknya perdagangan dan penawaran yang memalukan itu! Jika seseorang memberi dinar untuk mendapatkan kembali dirham, ia merasa bahwa ia telah rugi, jadi bagaimana dengan orang yang memberikan berlian dan memperoleh dirham ?! Dan bagaimana dengan orang yang memilih kesengsaraan dan penderitaan di tempat yang tenteram dan bahagia?! 'Allah Ta'ala memberikan perumpamaan perdagangan seperti itu dengan berfirman,
اِذۡ یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ غَرَّہٰۤؤُ لَآءِ دِیۡنُہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ
"(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, 'Mereka itu (orang mukmin) ditipu agamanya.' (Allah berfirman), 'Barangsiapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.'" ― (QS. 8:49)
Api iman mengelilingi mereka dan dalam cahaya itu, mereka memahami petunjuk dan kesesatan, kemudian api itu padam dan dibiarkan menjadi debu panas yang memerah. Dengan api itu, mereka diadzab dan dalam kegelapan itu, mereka berjalan membabi buta,
مَثَلُہُمۡ کَمَثَلِ الَّذِی اسۡتَوۡقَدَ نَارًا ۚ فَلَمَّاۤ اَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَہٗ ذَہَبَ اللّٰہُ بِنُوۡرِہِمۡ وَ تَرَکَہُمۡ فِیۡ ظُلُمٰتٍ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ
"Perumpamaan mereka laksana orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tak dapat melihat." ― (QS. 2:17)
Pendengaran qalbu mereka dibebani oleh beban yang berat dan karenanya, mereka tak dapat mendengar seruan iman; mata pandangan spiritual mereka ditutupi dengan selubung yang membutakan sedemikian rupa sehingga mereka tak dapat melihat realitas Al-Qur'an; dan lidah mereka membisu terhadap kebenaran sedemikian rupa sehingga mereka tak dapat mengatakannya,
صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ
"Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tak dapat kembali." ― (QS. 2:18)
Hujan wahyu, yang berisi kehidupan bagi qalbu dan jiwa mereka, mengalir turun ke atas mereka, tetapi yang dapat mereka dengar darinya, hanyalah gemuruh, yang menghantamkan ancaman, janji-janji, dan kewajiban. Mereka menyumbat telinga mereka dengan jari-jari dan mengangkat kain mereka ke atas, berusaha melarikan diri dan dengan putus asa mencari jejak kaki mereka untuk mundur. Namun mereka diseru di depan umum, dan rahasia mereka terlihat jelas bagi semua yang dapat melihat, dan dua perumpamaan dikemukakan untuk mereka, masing-masing perumpamaan mengungkap salah satu dari dua pihak di antara mereka: mereka yang berdebat dan mereka yang taklid buta.
اَوۡ کَصَیِّبٍ مِّنَ السَّمَآءِ فِیۡہِ ظُلُمٰتٌ وَّ رَعۡدٌ وَّ بَرۡقٌ ۚ یَجۡعَلُوۡنَ اَصَابِعَہُمۡ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الۡمَوۡتِ ؕ وَ اللّٰہُ مُحِیۡطٌۢ بِالۡکٰفِرِیۡنَ
"Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir." ― (QS. 2:19)
Sisi spiritual mereka sangat lemah untuk menanggung apa yang terkandung oleh hujan itu: halilintar hujjah yang bersinar dan kecerahan maknanya. Telinga mereka tak dapat menerima serangan gemuruh janji, perintah, dan larangan; karena itu, mereka terhenti dalam kebingungan, kemampuan mendengar mereka, tak memberi manfaat, dan penglihatan mereka, tak dapat menuntun mereka,
یَکَادُ الۡبَرۡقُ یَخۡطَفُ اَبۡصَارَہُمۡ ؕ کُلَّمَاۤ اَضَآءَ لَہُمۡ مَّشَوۡا فِیۡہِ ٭ۙ وَ اِذَاۤ اَظۡلَمَ عَلَیۡہِمۡ قَامُوۡا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ لَذَہَبَ بِسَمۡعِہِمۡ وَ اَبۡصَارِہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ
"Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." ― (QS. 2:20)
Mereka memiliki tanda-tanda khas yang dengannya mereka dapat dikenali, dijelaskan dalam Kitabullah dan Sunnah, dan jelas bagi semua yang diperkaya dengan iman agar dapat melihatnya. Merekalah manusia yang, demi Allah, diberikan kesombongan, dan inilah maqam terburuk yang dapat dijangkau manusia. Merekalah orang-orang yang cenderung malas dan lemah dalam memenuhi perintah Yang Maha Penyayang, dan karenanya, mereka merasa keikhlasan itu sebagai beban,
اِنَّ الۡمُنٰفِقِیۡنَ یُخٰدِعُوۡنَ اللّٰہَ وَ ہُوَ خَادِعُہُمۡ ۚ وَ اِذَا قَامُوۡۤا اِلَی الصَّلٰوۃِ قَامُوۡا کُسَالٰی ۙ یُرَآءُوۡنَ النَّاسَ وَ لَا یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ اِلَّا قَلِیۡلً
"Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah Yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri akan shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya' (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tak mengingat Allah kecuali sedikit sekali." ― (QS. 4:142)
Mereka bagai seekor domba yang tersesat dan menemukan dirinya di antara dua kawanan, ia pergi ke kawanan yang satu dan kemudian pindah ke yang lain, dan tak tinggal bersama mereka. Mereka berdiri di antara dua kelompok orang, seraya mencari yang lebih kuat dan berkedudukan-tinggi,
مُّذَبۡذَبِیۡنَ بَیۡنَ ذٰلِکَ ٭ۖ لَاۤ اِلٰی ہٰۤؤُلَآءِ وَ لَاۤ اِلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ مَنۡ یُّضۡلِلِ اللّٰہُ فَلَنۡ تَجِدَ لَہٗ سَبِیۡلً
"Mereka dalam keadaan ragu antara yang demikian (iman atau kafir), tak termasuk kepada golongan ini (orang beriman) dan tak (pula) kepada golongan itu (orang kafir). Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka kamu takkan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya." ― (QS. 4:143)
Mereka berwaspada mengintip apa yang terjadi pada Ahlus-Sunnah; jika kemenangan datang dengan cara mereka, mereka berkata, "Bukankah kami bersamamu?" mengikat persaudaraan denganmu, dan mereka membawa kedekatan garis keturunan mereka sebagai buktinya. Allah berfirman,
بَشِّرِ الۡمُنٰفِقِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ عَذَابًا اَلِیۡمَۨا
"Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih." ― (QS. 4:138)
الَّذِیۡنَ یَتَّخِذُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ؕ اَیَبۡتَغُوۡنَ عِنۡدَہُمُ الۡعِزَّۃَ فَاِنَّ الۡعِزَّۃَ لِلّٰہِ جَمِیۡعًا
"(yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Mencari kekuatankah mereka di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah." ― (QS. 4:139)
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu) [wali, pelindung atau pemimpin]; mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia [wali, pelindung atau pemimpin], maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." ― (QS. 5:51)
فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی مَاۤ اَسَرُّوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ
"Maka kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau suatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka." ― (QS. 5:52)
Siapapun yang ingin mengenal mereka, persilahkan ia mengambil gambaran tentang mereka dari Rabb semesta alam, dan setelah itu, ia takkan lagi memerlukan bukti,
الَّذِیۡنَ یَتَرَبَّصُوۡنَ بِکُمۡ ۚ فَاِنۡ کَانَ لَکُمۡ فَتۡحٌ مِّنَ اللّٰہِ قَالُوۡۤا اَلَمۡ نَکُنۡ مَّعَکُمۡ ۫ۖ وَ اِنۡ کَانَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ نَصِیۡبٌ ۙ قَالُوۡۤا اَلَمۡ نَسۡتَحۡوِذۡ عَلَیۡکُمۡ وَ نَمۡنَعۡکُمۡ مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ؕ فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَکُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ وَ لَنۡ یَّجۡعَلَ اللّٰہُ لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ سَبِیۡلً
"(yaitu) orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu. Apabila kamu mendapat kemenangan dari Allah mereka berkata, “Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu?” Dan jika orang kafir mendapat bagian, mereka berkata, “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu pada hari Kiamat. Allah takkan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman." ― (QS. 4:141)
Orang yang mendengarkan mereka, akan terkejut dengan kelancaran dan kelembutan ucapan mereka, ia akan membawa-bawa Allah dalam kesaksian atas apa yang ada di dalam hatinya, yang sebenarnya dusta dan tipu daya, Ia akan menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam qalbunya, dusta dan tipu-daya,
وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ یُّعۡجِبُکَ قَوۡلُہٗ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ یُشۡہِدُ اللّٰہَ عَلٰی مَا فِیۡ قَلۡبِہٖ ۙ وَ ہُوَ اَلَدُّ الۡخِصَامِ
"Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan ia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal ialah penentang yang paling keras." ― (QS. 2:204)
Apa yang mereka perintahkan kepada para pengikut mereka mencakup pengrusakan dan menyebarkan kerusakan di suatu negeri. Apa yang mereka larang bagi para pengikutnya untuk menghasilkan apa yang lebih baik bagi mereka di kehidupan ini dibanding di akhirat. Engkau akan melihat salah seorang dari mereka berada di antara orang-orang beriman berdoa dan mengingat Allah, namun,
وَ اِذَا تَوَلّٰی سَعٰی فِی الۡاَرۡضِ لِیُفۡسِدَ فِیۡہَا وَ یُہۡلِکَ الۡحَرۡثَ وَ النَّسۡلَ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یُحِبُّ الۡفَسَادَ
"Dan apabila ia berpaling (darimu), ia berusaha berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tak menyukai kerusakan." ― (QS. 2:205)
Mereka semua serupa, memerintahkan kejahatan setelah melakukannya dan melarang yang baik setelah meninggalkannya. Mereka kikir dalam membelanjakan hartanya di jalan Allah, dengan cara yang Dia perintahkan dibelanjakan. Berapa kali Allah mengingatkan mereka tentang nikmat yang telah Dia berikan kepada mereka, namun mereka berpaling dan meninggalkan-Nya! Dengarlah, wahai orang-orang beriman, apa yang Dia firmankan tentang mereka,
اَلۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتُ بَعۡضُہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡضٍ ۘ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمُنۡکَرِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَقۡبِضُوۡنَ اَیۡدِیَہُمۡ ؕ نَسُوا اللّٰہَ فَنَسِیَہُمۡ ؕ اِنَّ الۡمُنٰفِقِیۡنَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ
"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik." ― (QS. 9:67)
Jika engkau mengajak mereka untuk menghakimi sesuatu dengan menggunakan wahyu Ilahi yang jelas, engkau akan melihat mereka berpaling dalam keengganan. Jika engkau dapat melihat realitas mereka, engkau akan melihat jurang pemisah yang lebar antara mereka dan kebenaran, dan engkau akan melihat betapa kukuhnya mereka berpaling dari wahyu Ilahi.
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ تَعَالَوۡا اِلٰی مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ وَ اِلَی الرَّسُوۡلِ رَاَیۡتَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ یَصُدُّوۡنَ عَنۡکَ صُدُوۡدًا
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” (niscaya) engkau (Muhammad) melihat orang munafik menghalangi dengan keras darimu." ― (QS. 4:61)
Bagaimana mereka bisa berhasil dan diberi petunjuk setelah intelek dan agama mereka tertular, sehingga sungguh tak mungkin bahwa mereka akan diselamatkan dari lumpur dosa dan kesesatan. Mereka telah membeli kekufuran dengan mengorbankan iman, dan perdagangan apakah yang ada, yang sebesar ini?! Mereka telah menukar anggur pilihan yang masih tersegel dengan api yang menyala-nyala,
فَکَیۡفَ اِذَاۤ اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌۢ بِمَا قَدَّمَتۡ اَیۡدِیۡہِمۡ ثُمَّ جَآءُوۡکَ یَحۡلِفُوۡنَ ٭ۖ بِاللّٰہِ اِنۡ اَرَدۡنَاۤ اِلَّاۤ اِحۡسَانًا وَّ تَوۡفِیۡقًا
"Maka bagaimana halnya apabila (kelak) musibah menimpa mereka (orang munafik) disebabkan perbuatan tangannya sendiri, kemudian mereka datang kepadamu (Muhammad) sambil bersumpah, 'Demi Allah, kami sekali-kali tak menghendaki selain kebaikan dan kedamaian.'" ― (QS. 4:62)
Buruknya subhat dan kecurigaan melekat erat di qalbu mereka, dan mereka tak dapat menemukan cara penyucian darinya,
اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ یَعۡلَمُ اللّٰہُ مَا فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ ٭ فَاَعۡرِضۡ عَنۡہُمۡ وَ عِظۡہُمۡ وَ قُلۡ لَّہُمۡ فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ قَوۡلًۢا بَلِیۡغًا
"Mereka itulah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya." ― (QS. 4:63)
Binasalah mereka! Seberapa jauhkah mereka dari realitas iman dan seberapa kelirukah pernyataan mereka agar dapat menyadarinya! Mereka, jika dibanding dengan para pengikut Rasulullah (ﷺ), adalah sesuatu yang sama sekali berbeda."
[Bagian 4]