Selasa, 03 Oktober 2023

Cerita sang Skuter Vespa

“Dua bankir komersial sedang makan siang. Yang satu seorang veteran industri keuangan selama dua puluh tahun, yang lain seorang pemula, yang baru saja lulus dari sekolah bisnis. Yang lebih muda sedang meminta pitawat dari sang veteran.
'Pak Senior, apa yang biasanya terjadi jika seseorang yang punya banyak uang, tapi gak punya pengalaman, bermitra dengan orang yang gak punya uang, namun banyak pengalaman?'
'Entah usahanya bakalan gagal total,' saran sang senior, 'ato kalo enggak ... partner yang berpengalaman, akan mendapatkan semua uangnya,'' berkata sang Vespa saat berjumpa dengan Wulandari di malam itu.

"Dan mengapa Vespa?" Wulandari mengawali dengan bertanya. Lalu ia berkata, "Ya... Estetika. Engkau semua tahu bahwa Vespa dikembangkan dari Skuter. Ada lima aturan emas yang membedakan skuter dari kendaraan roda dua lainnya: motor kecil yang ditempatkan di dekat atau di samping roda belakang, sasis tertutup, bodi untuk melindungi pengemudi dari cipratan, dua roda berdiameter kecil, dan terakhir, roda otomatis. paket transmisi kopling yang dipatenkan oleh Salsbury. Siluet unik kendaraan juga dapat ditambahkan ke daftar ini. Skuter dipromosikan sebagai alternatif pengganti mobil dan sepeda: di satu sisi, skuter lebih lincah, mudah bermanuver, dan lebih murah, dan di sisi lain, skuter lebih nyaman, aman, dan terjangkau secara universal. Hanya satu unsur lagi yang hilang agar benar-benar mempersiapkan lahan, yang pada akhirnya akan menghasilkan Vespa: Estetika. Mari kita simak apa yang akan sang Vespa sampaikan pada kita!"

Sang Vespa berkata, 'Pada akhir Maret 2017, Presiden Donald Trump mengumumkan niatnya mengenakan pajak Vespa di Amerika Serikat. Tujuan sebenarnya dari tindakan ini bukanlah melindungi pasar domestik, melainkan untuk memberikan peringatan terhadap kebijakan perdagangan Uni Eropa. Jika kita mempertimbangkan aspek ekonomi dari perkembangan ini, serta implikasi budayanya, pendirian Trump dapat ditafsirkan sebagai indikator yang menunjukkan peran simbol-simbol tertentu dalam kehidupan sosial. Di satu sisi, hal ini menunjukkan bahwa Vespa masih punya gengsi dan pengakuan internasional. Di sisi lain, meski baru belakangan 'serangga roda dua' menjadi salah satu duta 'buatan Italia' yang paling efektif di seluruh dunia—dengan kata lain, produk yang diidentifikasi secara internasional dengan Italia—langkah yang paling efektif di dunia ini. Politisi berpengaruh mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih: sebuah ikon yang mewakili Eropa secara keseluruhan.
Lalu kenapa aku menyebut Vespa sebagai serangga? Vespa dapat bermanuver dengan mudah dan tanpa perlu banyak usaha. Vespa tampil bersih dan memberikan perlindungan kepada pengemudi dari benturan dan kotoran berkat cakupan penuh pada bagian-bagian mesin dan pelindung depan. Bodyshellnya bisa dibilang sebagai kutukan, jika dikaitkan dengan desain sepeda motor pada masanya, namun tak masalah bagi skuter, yang sudah melepaskan diri dari kediktatoran sepeda motor yang lebih agresif dan bersemangat. Vespa berprofil aerodinamis dan ramping, terutama di bagian belakang, sebab pinggulnya yang berbentuk tawon, memberi nama pada skuter ini: sesungguhnya, Vespa itu terjemahan bahasa Italia yang berarti 'Tawon'.

Sejarah Vespa tak lepas dari implikasi sosial, politik dan budaya, dari fakta ekonomi semisal inovasi teknologi di bidang sepeda motor. Peristiwa-peristiwa sosial selalu merupakan kombinasi elemen-elemen ekonomi, politik dan budaya, yang semata tampak berbeda lantaran cara kita memandangnya—perspektif kita—secara artifisial membedakan dan memisahkannya.
Società Rinaldo Piaggio didirikan pada tahun 1884 di Sestri Ponente (Genoa/Liguria) oleh Enrico Piaggio dan putranya yang berusia 19 tahun, Rinaldo, mengerjakan kayu bagi kapal. Hanya dalam waktu tiga tahun (1887), Rinaldo memutuskan berpisah dengan ayahnya demi mendirikan perusahaan Piaggio & Co. Empat mitra bergabung dengannya dalam perusahaan ini: Giuseppe Piaggio (saudara lelaki Enrico dan pemilik kapal), Pietro Costa, Giacomo Pastorino dan Nicolò Odero. Pada akhir abad itu, Rinaldo telah membeli seluruh saham perusahaan. Di masa itu, merupakan periode yang menjanjikan. Italia telah memasuki siklus pertumbuhan positif yang, didorong oleh bantuan bank-bank campuran, menjadikan negara ini lebih sejalan dengan perekonomian paling maju.
Dengan pecahnya Perang Dunia Pertama (PDI), keluarga Piaggio mulai bermobilisasi untuk berperang. Kelompok yang bermarkas di Liguria ini, mendapat manfaat dari permintaan negara akan senjata dan barang yang dibutuhkan guna kampanye militer, sebuah permintaan yang mengubah wajah industri, khususnya meningkatkan ukuran, omset dan perkembangan teknologi di sektor penerbangan.
Pada akhir perang, laporan keuangan perusahaan tentu saja positif, sama halnya dengan semua sektor yang terlibat dalam mobilisasi industri: rata-rata, pendapatan yang dilaporkan meningkat dua kali lipat. Di sektor otomotif, pendapatannya bahkan meningkat empat kali lipat. Piaggio berangkat dari pembuatan kapal dan melanjutkan ke bidang aeronautika, melewati jalur kereta api.
Dari perang Ethiopia hingga jatuhnya Mussolini, perusahaan Piaggio mengalami periode pertumbuhan kuantitatif yang sangat positif. Fasisme memberi Rinaldo tingkat favoritisme yang sama seperti yang diterapkan pada perusahaan lain, seperti pabrik baja Terni, yang memproduksi produk yang penting tidak hanya untuk keamanan militer negara, melainkan pula untuk rencana pengembangan industri apa pun yang mungkin hendak dilakukan. Namun demikian, ikatan Piaggio dengan Fasisme sangat mempengaruhi kehidupan perusahaan, berkontribusi terhadap nasib baik dan mengarahkan strategi dan strukturnya.

Perang Dunia II sangat kejam di wilayah Tuscan dan tiada rasa-sakit yang terluput. Konversi industri yang dilakukan perusahaan Piaggio dimulai pada tahun 1944. Sumber daya apa yang mendorong pemulihan perusahaan dan bagaimana sumber daya tersebut mengarah pada penemuan Vespa? Sekutu mulai mengebom kota Pisa, Livorno dan Pontedera pada musim panas tahun 1943, namun dampak terburuk belum terjadi. Tahun 1944 merupakan tahun kehancuran, kematian dan bencana yang juga menimpa penduduk sipil, terjebak antara serangan udara Anglo-Amerika dan mundurnya Nazi yang dengan sengaja mendeklarasikan 'perang terhadap warga sipil', hingga dan termasuk pembantaian terencana. Tak terkecuali wilayah Valdera, dan memang bom sekutu menghancurkan Pontedera pada bulan Januari. Daerah yang terkena dampak pertama adalah bandara pada tanggal 6 Januari, dan kemudian pabrik Piaggio diserang pada tanggal 18 dan mengalami kerusakan parah. Pada awal Januari 1943, tanda-tanda awal rencana pemindahan pabrik Pontedera ke tempat lain mulai terlihat. Pada awal Januari 1943, tanda-tanda awal rencana pemindahan pabrik Pontedera ke tempat lain mulai terlihat. Langkah-langkah diambil pada musim semi tahun 1943 untuk mulai mendistribusikan fasilitas ke berbagai daerah di provinsi Pisa. Menjelang tahun baru, Piaggio mulai membangun kembali fasilitasnya, merakit kembali bagian-bagian pabrik dan memastikan berbagai peralatan dapat beroperasi kembali, bahkan ketika konflik terus berkecamuk di wilayah Utara.
Dengan terjadinya pemberontakan partisan pada bulan April 1945 dan berakhirnya Perang Dunia II, semua aktivitas produksi perang terhenti, dan pada awal bulan Mei, pabrik-pabrik di Piedmont sudah mulai memproduksi skuter—prototipe MP5 pada awalnya dan kemudian peningkatannya, MP6.

Kala pensil Corradino D'Ascanio pertama kali membuat garis-garis sketsa Vespa yang anggun dan memikat pada tahun 1945, sejarah skuter telah dimulai. Sketsa yang menentukan itu, yang ditakdirkan mengubah dunia transportasi roda dua dan merepresentasikan ide 'skuter' dalam imajinasi kolektif, merupakan puncak dari sebuah evolusi yang berlangsung setidaknya tiga dekade. Penelusuran terhadap berbagai model dan gaya serta teknik yang telah dicoba dan diuji oleh para pendahulu Vespa, memberikan gambaran pasar skuter internasional dimana perusahaan Piaggio akan menonjol. Latar belakang ini, menambah kedalaman sejarah nasib perusahaan yang berbasis di Pontedera ini.
Skuter tersebut, berbeda dari sepeda motor dalam berbagai hal. Secara umum, rodanya lebih kecil; bingkai bertahap yang kurang lebih ramping; posisi berkendara yang lebih nyaman, yang memungkinkan pengemudi mengistirahatkan kakimya di floorboard ketimbang harus mengangkangi kendaraan; dan kepraktisan. Karenanya, sebagai kendaraan bermotor, tak diperlukan ciri fisik atau keterampilan teknis khusus mengemudikannya.

Kebiasaan penggunaan kata 'skuter' untuk menandakan kendaraan yang berlari atau 'scoots' mungkin akan semakin meluas setelah kemunculan Autoped pada tahun 1915. Dilengkapi dengan roda yang sangat kecil, rangka terbuka berbentuk platform, dan mesin di atas roda depan, kendaraan ini sangat mengingatkan pada 'kick scooter', dan ternyata posisi pengemudi berdiri memperkuat kesan ini. Autoped diproduksi di New York dan diedarkan di AS hingga tahun 1921. Berkat perjanjian lisensi, ia juga tiba di Inggris, dijual oleh UK Imperial Motor Industries, dan di Jerman di bawah Krupp.
Klub Skuter pertama didirikan di Paris pada tahun 1920 di puncak gelombang antusiasme skuter. Arti penting Klub ini, tak boleh diremehkan, lantaran merupakan cikal bakal klub Vespa yang lebih ternama. Kegiatan organisasi ini, terutama terdiri dari mengadakan perlombaan teratur dan cepat di jalan-jalan kota atau jalan-jalan bagi para anggotanya. Fase skuter paling awal ini, yang didominasi oleh pionir kendaraan roda dua, diakhiri dengan kemunculan Unibus di Inggris pada tahun 1920.
Unibus mewakili sebuah titik balik, sebab Unibus telah menampilkan sejumlah solusi gaya dan teknik avant-garde yang ditakdirkan mendominasi pada periode berikutnya, termasuk beberapa elemen dari Vespa itu sendiri: bodinya terbuat dari lembaran aluminium yang dipres; mesin satu silinder dua langkah dimasukkan ke dalam kompartemen khusus dan, pada salah satu model, bahkan dipasang di samping roda belakang seperti pada Vespa; rodanya lebih kecil; dilengkapi dengan suspensi; dan seluruh garpu hingga setang dilindungi oleh pelindung aerodinamis.

Gelombang kedua skuter tumbuh dari konteks Amerika yang spesifik setelah runtuhnya Wall Street. Transportasi bermotor telah ada setidaknya selama 15 tahun, namun dalam konteks ini, transportasi bermotor harus disesuaikan guna merespons krisis keuangan. Pabrikan yang merilis skuter generasi kedua, muncul dikala itu dan berhasil melepaskannya dari citra sebelumnya sebagai mainan kaya raya; memang di AS, sekitar 20 tahun sebelum Eropa, skuter mampu menjadikan dirinya sebagai kendaraan yang murah dan sangat berguna. Antara tahun 1938 dan 1946, setidaknya 20 merek muncul.
E. Foster Salsbury mendapatkan ide untuk memproduksi skuter ceria untuk pasar massal dan, bersama dengan penemu Austin Elmore, memperkenalkan Salsbury Motor Glide pertama di Boat and Air Show 1935 di Los Angeles. Hanya dua tahun kemudian, model yang lebih canggih diperkenalkan dan dijuluki DeLuxe High Speed Motor Glide. Berikutnya, Aero, yang nama dan logonya—sepasang sayap besar bergaya yang disatukan—memberikan kunci mendasar untuk memahami sejarah skuter, yaitu hubungannya yang berkelanjutan dengan aeronautika.
Kendaraan baru ini menawarkan peningkatan performa dan lebih andal tanpa kehilangan kegesitan aslinya. Ciri-ciri ini terus ditekankan dalam periklanan Amerika melalui pengenalan serangkaian pesan komunikasi standar. Diantaranya feminisasi kendaraan roda dua tersebut. Iklan pertama, yang diterbitkan di majalah tahun 1936, memperlihatkan seorang wanita muda cantik dengan celana pendek dan tank top, melambai dari atas Motor Glide-nya.
Pada periode yang sama, Norman Siegal—yang dijuluki raja skuter oleh majalah Time—menemukan Moto-Scoot. Terinspirasi oleh Salsbury, Siegal merevolusi posisi lampu depan, memasukkannya ke tengah stang. Solusi ini diadopsi oleh banyak skuter masa depan, termasuk Vespa pasca tahun 1955.

Pada tahun 1930-an, industri sepeda motor Italia dibatasi baik oleh faktor ekonomi, seperti sempitnya pasar domestik, maupun faktor politik, seperti kebijakan autarki rezim tersebut. Desakan rezim fasis agar hanya menggunakan bahan-bahan buatan Italia dan menghalangi impor bahan-bahan asing bermakna bahwa produsen sepeda motor terisolasi dan, demi melindungi keuntungan mereka, tiada persaingan yang sehat dengan perkembangan yang lebih menantang di luar negeri.
Sebelum Perang Dunia II, industri Italia didominasi oleh pentaarki: Guzzi, Gilera, Sertum, Benelli dan Bianchi. Secara umum, penekanannya pada kualitas ketimbang kuantitas, dan pabrikan ini, memproduksi sepeda motor mahal, mewah, atau sport yang dilengkapi dengan teknologi canggih. Lantaran tak mesti bersaing dengan model dan harga asing, pabrikan Italia terus mengabaikan dorongan terhadap kendaraan yang dirancang bagi masyarakat yang lebih luas, namun tetap berhasil memperoleh keuntungan besar tanpa menambah jumlah sepeda motor di jalan.

Perusahaan pertama yang memahami kemungkinan industri sepeda motor ringan adalah Fiat. Perusahaan ini, tentu saja, menyadari tren pasar Amerika, karena sering mengirim para eksekutifnya ke Amerika untuk perjalanan bisnis dan pelatihan. Pada tahun 1938, Fiat membuat contoh pertama skuter Italia, yang sangat mirip dengan Cushman, namun tak pernah dipasarkan.
Sebelum menghadirkan Vespa, Enrico Piaggio sempat mencoba memproduksi skuter Amerika di bawah lisensi. Wajar bagi Piaggio menjajaki pasar internasional, dan kemungkinan besar perusahaan tersebut sedang mempertimbangkan berbagai proyek dan tetap membuka semua pilihannya, mulai dari produksi berlisensi hingga produksi berdasarkan paten asli. Pada akhirnya, kehadiran insinyur penerbangan Corradino D’Ascanio memainkan peran penting dalam membawa perusahaan pada opsi terakhir.
Skuter Piaggio pertama menampilkan beberapa fitur utama. Nama umumnya di luar tembok pabrik adalah Paperino, terjemahan bahasa Italia dari Donald Duck. Tentu saja, ini bukanlah pilihan sembarangan. Mengingat keduanya punya nama karakter Disney, asosiasi otomatis dengan Fiat Topolino (dinamai menurut Mickey Mouse) terjadi secara otomatis. Nama tersebut merangkum sebuah proyek kewirausahaan: sama seperti tujuan Topolino, menjadikan negara ini sebagai roda empat, maka Paperino juga berusaha melakukan hal yang sama pada roda dua.
D’Ascanio merancang desain baru yang memadukan kriteria penerbangan, otomotif, dan sepeda motor untuk menghasilkan prototipe MP6 baru, dan menyelesaikannya pada akhir tahun: MP6 baru ini kemudian berganti nama menjadi Vespa. Vespa tentunya sangat mudah digunakan: seseorang dapat naik mengenadarainya dan turun darinya semudah sepeda dan punya 'a step-through frame'. Karenanya menjamin kenyamanan maksimal dengan menempatkan pengemudi duduk saat berkendara tanpa harus mengangkangi sasis seperti pada sepeda motor klasik. Selain itu, kaum wanita merasa lebih aman sebab memiliki platform mengistirahatkan kaki. Pilihan yang sama telah diberikan oleh para pemimpin skuter sebelumnya, termasuk Unibus, Salsbury, Cushman, Moto-Scoot, Crocker dan model Fiat yang misterius. Fakta bahwa kendaraan ini sesuai bagi pengendara yang mengenakan rok, baik wanita maupun pendeta, telah menjadi klise yang terkonsolidasi dalam iklan Amerika dan Eropa.

Piaggio telah mengembangkan aktivitas internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya melalui investasi langsung di luar negeri. Setelah memperoleh manfaat dari hibridisasi dan adaptasi selektif atas pengetahuan dan teknologi dari negara-negara lain di dunia Barat, Vespa, yang berfungsi sebagai semacam prisma kreatif, membiaskan pengalaman Pontedera ke dunia luar, bertindak sebagai agen globalisasi. Dilihat melalui kacamata Vespa, globalisasi tampak lebih rizomatis dari yang kita bayangkan. Skuter Italia mengambil teknik, temuan, dan pengetahuan tersebut dan mengirimkannya terbang ke berbagai arah; pada gilirannya, bentuk-bentuk pengetahuan ini menghasilkan contoh-contoh baru hibridisasi dan adaptasi selektif di tempat-tempat dimana pemegang lisensi muncul. Hal ini terjadi baik di negara-negara yang menjadi tuan rumah puncak kapitalisme maju, seperti Inggris, maupun di negara-negara seperti India yang berfokus pada emansipasi diri dari kolonialisme Barat secara ekonomi dan sosial, setelah memperoleh kemerdekaan politik. Di India, misalnya, Bajaj terus memproduksi skuter setelah lisensinya habis. Pendekatan kewirausahaan, budaya kerja, kebiasaan, dan keyakinan yang berbeda bertemu—dan terkadang berbenturan—di ruang ini. Meskipun pertemuan ini tak mengubah kesalahpahaman dan titik-titik pertikaian menjadi perdamaian, hal ini membantu membawa sebagian wilayah Timur ke Barat dan sebagian wilayah Barat ke Timur," pungkas sang Vespa.

"Dan akhirnya, sebagai penutup," kata Wulandari, "ada hal yang menarik tentang Vespa di negeri Khatulistiwa. Sepertinya, sudah menjadi kebiasaan, dimanapun engkau memarkirkan skuter Vespamu, takkan ada yang mau mengambilnya. Demikian pula, setiap kali mengendarai Vespamu, apapun keadaannya, tak seorang Polisi pun yang bakal mau menilangmu. Oleh karenanya, akan terasa aneh bila ada seorang Polisi, yang ngotot mau menilang sepasang skuter Vespa. Wallahu a'lam."

Dari jauh, sang Fajar kelihatan mendekat, dan Wulandari pun berangkat seraya berdendang,

Ku bukan superstar, kaya dan terkenal
Ku bukan saudagar, yang punya banyak kapal
Ku bukan bangsawan, ku bukan priayi
Ku hanyalah orang yang ingin dicintai *)
Kutipan & Rujukan:
- Andrea Rapini, The History of Vespa: An Italian Miracle, 2019, Routledge
*) "Bukan Superstar" karya Gumilar Nurochman

Minggu, 01 Oktober 2023

Kebijakan para "Stupid Pricks" (5)

Peace lily melanjutkan, '"Dalam sebuah sel penjara, dua orang narapidana sedang ngobrol. Yang senior—yang lebih duluan masuk penjara—berpetuah kepada yang yunior—yang baru saja masuk penjara, 'Petuah pertama gua,' kata sang senior, 'cuma ada dua aturan di penjara ini, cuy. Dengerin baik-baik! Satu: Loe kagak boleh nulis di dinding. Dua : Loe mesti taatin semua aturan di sini.'
'Dan petuah gua yang kedua, 'Loe gak bisa ngejadiin manusia seperti seekor domba yang berdiri di atas kaki belakangnya. Taapiii ... dengan membuat sekawanan domba dalam posisi seperti itu, loe bisa ngumpulin banyak orang.'"

Kemudian Peace Lily meneruskan, 'Investor kita bertanya kepada Pak Menteri, 'Negara ... sampaikan padaku Pak Menteri, mengapa ada Negara?'
'Pada awalnya, secara historis, ada koloni, ketika koloni-koloni ini memutuskan bersatu, maka muncullah negara,' jawab pak menteri. 'Dalam beberapa tahun terakhir, makin banyak tulisan yang mencuat tentang teori dan struktur negara. Namun, pandangan-pandangan tersebut, sangat beragam dan saling bertentangan mengenai ciri-ciri utama peran dan fungsi negara. Memang sih, gak ada definisi yang disepakati secara universal mengenai makna konsep tersebut.
Menurut James McAuley, salah satu ciri yang telah disepakati ialah, pentingnya negara, yang pada abad kesembilan belas, telah menjadi aktor politik utama di sebagian besar negara maju. Puncaknya di Inggris, negara berjanji bakalan langsung turun tangan merawat dan memberikan dukungan bagi warganya, sejak lahir hingga masuk ke liang lahat. Namun, selama 30 tahun terakhir, ideologi, sifat dan bentuk intervensi negara, telah berubah secara dramatis.

Pengembangan-pengembangan sentral telah menunjukkan adanya ‘penggerogotan’ kekuasaan negara, yang merupakan serangkaian upaya menuju peran negara yang lebih bersifat mengatur dan mengurangi cawe-cawe. Hal ini terjadi oleh latarbelakang meningkatnya privatisasi dan liberalisasi pasar.
Kita dapat memahami negara melalui dua cara utama. Pertama, sebagai aparatur pemerintahan dalam suatu wilayah geografis tertentu; dan kedua, sebagai sistem sosial yang tunduk pada seperangkat aturan atau dominasi tertentu. Kendati Hall dan Ilkenberry menegaskan bahwa terdapat banyak perbedaan pendapat, mereka berpendapat bahwa definisi majemuk negara, mencakup tiga ciri utama. Seperangkat institusi yang dikelola oleh personel negara, di pusat wilayah yang dibatasi secara geografis, dimana negara mempunyai penguasaan atas pembuatan aturan.
Walau terdapat kesulitan dalam mencapai kesepakatan mengenai definisi negara, ada satu hal yang jelas, bahwa negara, berpengaruh langsung terhadap seluruh kehidupan kita. Yang terpenting, melalui lembaga-lembaga utamanya, kita sebagai individu acapkali merasakan bahwa kita mengalami negara modern dengan cara yang sangat berbeda dengan lembaga-lembaga lain dalam masyarakat kita. Berlainan dengan konsep negara yang samar-samar dan terkadang gak jelas, keluarga, misalnya, seringkali dipandang sebagai bagian yang lebih langsung kita alami. Kita merasa, kita mengetahuinya secara langsung. Kita semua bisa memberikan definisi yang ‘masuk akal’ tentang apa itu keluarga, atau setidaknya, apa yang seharusnya. Sebagian besar merasa bahwa mereka berada dalam posisi mengomentari hubungan dalam keluarga, serta fungsi dan peran yang hendaknya dijalankan. Hal ini tak berlaku bagi negara. Kerapkali, negara dicelik sebagai hal yang amat abstrak, atau pada tingkat yang masuk akal, sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, yang mulai memaksakan kehendaknya dari atas, melalui birokrasi yang terpisah dan tak dapat diakses.

Namun, negara belum tentu mengambil peran intervensionis secara terang-terangan guna menegakkan kehendaknya. Sebaliknya, negara memainkan peran penting dalam menentukan perilaku apa yang dapat diterima, dan yang terpenting, apa yang tak dapat diterima secara sosial. Akan tetapi, sebagian besar negara masih ‘tak menyukai’ bentuk-bentuk kehidupan alternatif lain. Negara terkadang juga dapat secara langsung menggunakan kekuatan hukum guna menyokong pandangannya. Secara lebih luas, sistem jaminan sosial, sistem perpajakan, tunjangan finansial, dan lembaga intervensi sosial, masih disusun berdasarkan pandangan yang dominan. Negara juga berupaya mengidentifikasi secara ideologis apa yang bersifat politis dan apa yang tak bersifat politis. Hal ini setidaknya dapat dilakukan dengan menetapkan apa yang dianggap sah dan apa yang tidak sah, apa yang legal dan apa yang ilegal, siapa saja yang ‘pantas’ dan ‘tak pantas’. Yang paling esensial, ia terjadi dengan menentukan apa yang dianggap sebagai ranah publik dan ranah privat.

Negara merupakan objek sosial yang bersifat immaterial dan nonfisik, negara dapat eksis tanpa adanya masyarakat, lantaran negara hanyalah sebuah konstruksi belaka. Akan tetapi, ada juga masyarakat yang negaranya tak terlalu maju. Bahkan ada beberapa masyarakat yang mungkin masuk akal disebut sebagai masyarakat ‘stateless’. Suku Nuer di Sudan Selatan dan suku Jale di dataran tinggi New Guinea, merupakan dua contoh masyarakat semacam itu. Hal ini sering kali didasarkan pada perekonomian pemburu-pengumpul dan tak memerlukan koordinasi sejumlah besar orang, atau mengendalikan penggunaan sumber daya yang tersimpan, dalam suatu wilayah tertentu. Oleh karenanya, mereka cenderung tak bergantung pada organisasi pusat atau mempunyai organisasi negara yang dapat dikenali. Demikian pula, masyarakat agraris berskala kecil, meski sering beroperasi di lokasi geografis yang tetap, jarang mempunyai batas-batas atau organisasi politik yang jelas.
Namun, itu bukan berarti bahwa masyarakat seperti itu, tak mempunyai mekanisme regulasi politik. Sesungguhnya jauh dari itu. Jika kita mempertimbangkan struktur sosial lain dalam masyarakat non-industri, misalnya, kita dapat menemukan kelompok yang lebih besar, yang seringkali berbahasa dan berbudaya yang sama, dan biasanya, beroleh makanan dari cocok-tanam dan ternak hewan. Masyarakat seperti ini, terorganisir secara politik dalam beragam cara. Struktur keluarga dan kekerabatan, adat dan tradisi, atau otoritas pemimpin agama, boleh jadi berperan penting dalam pengaturan perselisihan dan struktur politik. Dewan desa atau kelompok tetua, seringkali mengambil keputusan mengenai masalah-masalah publik, dan mungkin pula, memantau hubungan kekerabatan dan keturunan.
Di tempat lain, kesultanan melibatkan pemeringkatan masyarakat dan otoritas terpusat. Kepala suku adalah pewaris jabatan, dan menjalankan serangkaian peran administratif: seperti penyalur sumber daya, penentu sistem hukum, dan bahkan mungkin pejabat keagamaan. Kita juga dapat menemukan contoh-contoh masyarakat non-industrialisasi yang konsep negaranya agak lebih maju. Dalam hal ini, masyarakat diakui sebagai warga negara dari unit politik yang ditentukan secara teritorial, dan status yang diperoleh berdasarkan garis keturunan menjadi kurang bermakna. Organisasi negara, sebagaimana adanya, mengelilingi wewenang kendali pusat, koordinasi dan penataan berbagai kelompok sosial, misalnya budak, birokrat, pendeta, dan politisi.

Negara itu sendiri, tentu saja, mengalami perubahan bentuk seiring berjalannya waktu. Di Eropa, embrio nation-state muncul sekitar abad ke-15, dan mencapai bentuk utuhnya pada abad ke-19. Nation-state yang terbentuk sejak saat itu, sebagian besar terdiri dari ‘banyak orang’ atau ‘rakyat’, yang menyatakan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri, dan berada dalam wilayah ‘kedaulatan’. Lebih lanjut, mereka mengklaim hak untuk mempertahankan batas-batas geografis tertentu dari penyerang, baik yang nyata maupun yang dibayangkan, terlepas dari siapa yang sebenarnya memerintah wilayah tersebut. Selain itu, dalam nation-state modern, pemerintah dipandang punya wewenang atas suatu wilayah dan merupakan kekuasaan tertinggi di dalamnya. Nation-state modern menandai penggantian penguasa absolut dengan seperangkat aturan yang dikelola oleh birokrasi yang diorganisir oleh negara. Di sinilah negara dipandang memperoleh legitimasi.
Negara relatif baru dalam istilah umat manusia, dan terlebih lagi nation-state. Bentuk aslinya terutama merupakan kekaisaran kuno, Asyur, Mesir, Minoa, Mycenean, Makedonia, yang merupakan contoh nyata, atau city-state seperti yang ditunjukkan oleh rezim di Babilonia, Athena, Sparta, dan Roma.
Perkembangan negara bertepatan dengan perkembangan fenomena sosial krusial lainnya. Hal ini termasuk bahasa tertulis, pertumbuhan manajemen terpusat atas surplus produksi ekonomi, dalam bentuk perpajakan dan penggunaan kekuatan negara yang ‘sah’ dan terorganisir untuk melindungi diri dari ancaman internal dan musuh eksternal. Yang juga penting dalam perkembangan negara-negara tersebut adalah bahwa mereka memiliki sistem kepercayaan atau ideologi yang terpusat, biasanya dalam bentuk agama negara. Para pemimpin mereka diberi status seperti dewa, atau kekuatan para dewa sebagai agen mereka. Seringkali, pengelola negara paling awal merupakan pendeta di negara yang berdasarkan teodisi.

Dalam setiap masyarakat, individu mengenal sistem politik dengan cara yang kerap menyusun reaksi mereka terhadap peristiwa politik dan persepsi mereka tentang politik. Dalam hal ini, masyarakat, pada tingkat tertentu, diharuskan ‘mempelajari’ apa itu isu politik dan politik. Kebanyakan orang menjalani hidup mereka dengan berpegang pada ideologi politik mereka sendiri, nilai-nilai, pemahaman dan keyakinan mereka sendiri. Hal ini, tentu saja, biasanya tak konsisten dari waktu ke waktu, terdiri dari campuran kepentingan pribadi, 'kebenaran' yang terbukti dengan sendirinya, ideologi yang tak konsisten atau semata dipahami sebagian, titik referensi yang dipersonalisasi, pengalaman sejarah hidup dan interaksi dengan individu lain, organisasi dan kelompok, yang bermotivasi 'politik'.

Salah satu titik awal yang penting adalah pertimbangan tentang bagaimana individu dalam suatu masyarakat mempelajari apa yang bersifat politis dan apa yang tidak. Demikian pula, masyarakat juga harus memahami apa yang relevan dan tak relevan secara politik pada saat tertentu.
Dalam masyarakat kita, kekuasaan ada dalam berbagai bentuk dan tingkatan. Karenanya, Anthony Giddens berpendapat bahwa kekuasaan, dapat dilihat sebagai kapasitas transformasi pada seluruh manusia. Hal ini memungkinkan orang turut campur tangan dalam berbagai peristiwa di seluruh dunia, guna mengubahnya. Namun, dalam upaya mengembangkan konsep sosiologis tentang kekuasaan, kita juga hendaknya menyadari bahwa tindakan agen manusia terwujud dalam gambaran hubungan sosial yang sangat berbeda. Hal ini mengarahkan kita secara langsung mempertimbangkan pentingnya konsep kekuasaan.
Michael Mann berpendapat bahwa kekuasaan muncul terus-menerus dalam masyarakat manusia. Lebih lanjut ia mengidentifikasi empat sumber kekuasaan organisasi sebagai berikut: Kekuatan Ideologis, yang muncul dari kenyataan bahwa manusia berupaya beroperasi berdasarkan makna, norma, dan ritual. Ideologilah yang memenuhi kebutuhan ini. Dengan demikian, kekuatan ideologis bisa bersifat ‘transenden’, berdiri terpisah dari masyarakat dengan cara yang sakral, seperti agama, atau ‘imanen’, disebarkan ke seluruh masyarakat melalui kohesi kelompok dan rasa keanggotaan bersama;
Kekuatan Ekonomi, yang berasal dari produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi. Hal ini paling baik diungkapkan melalui struktur kelas;
Kekuatan Militer dari persaingan demi kelangsungan hidup fisik. Hal ini menghasilkan kontrol langsung dalam pusat yang terkonsentrasi dan efek pemaksaan tak langsung terhadap wilayah sekitarnya;
Kekuatan Politik, yang berasal dari penguasaan suatu wilayah fisik dan penduduknya melalui peraturan yang dikelola secara terpusat, terkonsentrasi didalam sebuah negara.

Jadi, dapat dikatakan secara argumentatif bahwa seluruh negara modern merupakan nation-states, dengan aparatus politik yang berbeda, memegang yurisdiksi tertinggi atas wilayah teritorial yang dibatasi, didukung oleh klaim monopoli kekuasaan yang bersifat memaksa, dan menikmati tingkat loyalitas minimum dari warga negaranya.
Karakteristik yang lebih menentukan dari sebuah nation-state ialah bahwa sebagian besar dari mereka yang hidup dalam batas-batasnya dan terstruktur oleh sistem politiknya, merupakan warga negara dari negara itu, dengan hak dan kewajiban yang secara langsung berkaitan dengan negara tersebut. Nation-state modern sering disamakan dengan konsep ‘nasionalisme’ yang lebih luas. Namun keduanya, sesungguhnya sama sekali tak sama.
Jelasnya, masyarakat tak semata mengakui negara, mereka ‘meyakini’ pula negara dan memandangnya punya peran yang ‘sah’ dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan dari mereka, menerima haknya, walau terkadang dengan enggan, mengatur dan mengendalikan kehidupan mereka sehari-hari. Mayoritas menghormati setidaknya beberapa lembaganya: Pemerintah; Parlemen; Pengadilan; Polisi; serta Tentara. Sebagian besar sadar bahwa mereka tak lagi hidup di bawah kekuasaan penguasa yang amat berkuasa, namun mereka menetap dalam sebuah nation-state, yang hukum, ketertiban, dan politiknya, telah menjadi upaya yang sangat terspesialisasi. Politisi, contohnya, secara berkala menawarkan diri guna mendapatkan dukungan rakyat atas hak mengendalikan kebijakan publik serta strategi dan sumber daya negara. Polisi dan Tentara diberi wewenang oleh negara untuk menggunakan kekuatan guna menjaga ketertiban internal dan melindungi batas-batas negara dari ancaman eksternal."

"Boleh jadi," Peace lily hendak mengakhiri perbincangan, 'obrolan investor kita dan pak menteri, masih panjang, baik secara terang-terangan maupun diam-diam. Tapi, mari kita cukupkan ceritanya dan perkenankan aku menyampaikan apa kata Robert Nozick, bahwa, tanpa negara, kita bakal menyaksikan para mafia laksana geng yang berusaha memeras uang 'perlindungan' dari semua orang. Pada akhirnya, satu geng akan menjadi geng yang dominan dan menekan semua geng yang bersaing. Keadaan ini bakal memunculkan monopoli atas penggunaan kekerasan, demi memaksa ketaatan. Gak bahaya ta? Wallahu a'lam.'"

Sang fajar telah tiba, ia membawa tiga bingkai lukisan, yang pertama, lukisan seekor kuda putih dengan segala bebannya; kedua, sepeda balap klasik dengan segala aturannya yang kaku; dan terakhir, sketsa lukisan yang unik, sebuah skuter Vespa dengan senyum dan kejenakaannya. Waktunya berangkat, Peace lily dan Wulandari saling dadah, keduanya pun mengalunkan tembangnya Enya,

One by one, my leaves fall
[Satu per satu, daun-daunku berguguran]
One by one, my tales are told
[Satu per satu, dongengan-dongenganku tersampaikan]
My oh my! She was aiming too high ****)
[Ya ampyun! Bidikannya ketinggian]
Kutipan & Rujukan:
- Shankar IAS Academy, Environment, 2018, Shankar IAS Academy Book Publications.
- Richard P.F. Holt, Steven Pressman, and Clive L. Spash (Ed.), Post Keynesian and Ecological Economics: Confronting Environmental Issues, 2009, Edward Elgar Publishing Limited
- Ian L. Pepper, Charles P. Gerba, Mark L. Brusseau (Ed.), Environmental Pollution Science, 2006, Elsevier 
- Daniel J. Phaneuf & Till Requate, A Course in Environmental Economics: Theory, Policy and Practice, 2016, Cambridge University Press.
- S.A. Smith, The Oxford Handbook of the History of Communism, 2014, Oxford University Press
- Robert Service, Comrades! A History of World Communism, 2007, Harvard University Press
- David Levinson (Ed.), Encyclopedia of Homelessness Vol. 1 & 2, 2004, Sage Publications
- Katherine Brickel, Melissa Fernández Arrigoitia and Alexander Vasudevan (Ed.), Geographies of Forced Eviction: Dispossession, Violence, Resistance, 2017, Palgrave
- Megan Ravenhill, The Culture of Homelessness, 2008, Ashgate
- James W. McAuley, An Introduction to Politics, State and Society, 2003, Sage Publications
- Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia, 2013, Basic Books
*) "Lestari Alamku" karya Gombloh
**) "Willy" karya Iwan Fals
***) "Spectre" karya Jesper Borgen, Anders Froen, Tommy Laverdi, Gunnar Greve, Alan Olav Walker, Lars Kristian Rosness & Marcus Arnbekk
****) "One By One" karya Roma Ryan, Eithne Ni Bhraonain & Nicky Ryan

[Sesi 4]
[Sesi 1]