Sabtu, 24 Februari 2024

Cerita Daun Mapel: Election Fraud (5)

"Saatnya makan malam selama penerbangan dengan sebuah maskapai kecil.
'Makan malamnya bapak?' kata sang pramugari kepada seorang bapack-bapack.
'Pilihannya apa yah jeng?' tanya sang lelaki.
'Ya atau enggak bapak,' jawab si jeng."

"Mereka yang berada di lingkungan terdekat kita, di tempat kerja, dalam kehidupan dan keadaan sosial, berpengaruh besar terhadap pemikiran dan perilaku kita. Karenanya, kita seyogyanya sangat berhati-hati saat memutuskan siapa yang akan dan tak akan kita perkenankan masuk ke dalam lingkaran kawan karib kita," ucap Mapel sambil mengamati lambang rantai emas di perisai sang Garuda.
“Ada satu hal yang umum bagi setiap individu, jalinan-hubungan, satuan-kerja, keluarga, organisasi, bangsa, perekonomian, dan peradaban di seluruh dunia—sesuatu yang, jika disingkirkan, bakal mengambyarkan pemerintahan yang amat berkuasa, bisnis yang sangat sukses, dan perusahaan yang betul-betul berjaya, persahabatan yang bestie banget, karakter yang terkuat, cinta yang terdalam. Sebaliknya jika dikembangkan dan diberdayakan, ia berpotensi membangun kesuksesan dan kemakmuran tiada tara, di setiap dimensi kehidupan. Namun, ia kemungkinan kurang dipahami, sangat diabaikan, dan sungguh diremehkan di zaman kita. Yang satu itu, menurut Stephen M.R. Covey, ialah 'trust' atau kepercayaan.

Kepercayaan itu, harapan yang muncul dalam komunitas akan perilaku yang harmonis, jujur, dan kooperatif, berdasarkan norma-norma yang dimiliki bersama, di pihak anggota komunitas lainnya. Norma-norma tersebut dapat berupa pertanyaan-pertanyaan 'value' yang mendalam seperti hakikat Tuhan atau keadilan, namun norma-norma tersebut, mencakup pula norma-norma sekuler semisal standar profesional dan kaidah perilaku, kata Francis Fukuyama. Maknanya, kita mempercayai seorang dokter takkan melukai kita dengan sengaja karena kita berharap ia hidup berdasarkan sumpah Hipokrates dan standar profesi medis. Kepercayaan tak terletak pada sirkuit terpadu atau kabel serat optik. Meski melibatkan pertukaran informasi, kepercayaan tak bisa direduksi menjadi informasi.
Social capital atau modal sosial merupakan kemampuan yang muncul dari tingginya kepercayaan pada suatu masyarakat atau bagian tertentu dari masyarakat. Hal ini dapat diwujudkan dalam kelompok sosial terkecil dan paling mendasar, keluarga, serta kelompok terbesar, bangsa, dan semua kelompok lain di antaranya. Modal sosial berbeda dari bentuk modal manusia lainnya karena modal ini, biasanya dibangun dan disalurkan melalui mekanisme budaya seperti agama, tradisi, atau kebiasaan sejarah. Orang-orang yang saling tak percaya, imbuh Fukuyama, pada akhirnya hanya akan bekerjasama di bawah sistem aturan dan regulasi formal, yang harus dinegosiasikan, disetujui, diadili, dan ditegakkan, terkadang dengan cara yang bersifat memaksa. Perlengkapan legal ini, yang berfungsi sebagai pengganti kepercayaan, menimbulkan apa yang oleh para ekonom sebut sebagai 'transaction costs' [biaya-biaya transaksi]. Dengan kata lain, ketidakpercayaan yang meluas dalam suatu masyarakat, membebankan semacam pajak pada seluruh bentuk aktivitas perekonomian, pajak yang tak perlu dibayar oleh masyarakat dengan kepercayaan tinggi.

Menurut Covey, kepercayaan mendasari dan mempengaruhi kualitas setiap hubungan, setiap komunikasi, setiap proyek kerja, setiap usaha bisnis, setiap upaya yang kita lakukan. Ia mengubah kualitas setiap momen saat ini dan mengubah lintasan serta hasil setiap momen masa depan dalam hidup kita—baik secara pribadi maupun profesional.
Bertentangan dengan apa yang diyakini kebanyakan orang, kepercayaan bukanlah kualitas lampas dan khayali yang engkau miliki atau tidak; sebaliknya, kepercayaan merupakan aset pragmatis, nyata, dan dapat ditindaklanjuti, yang dapat engkau bangun—jauh lebih cepat dari yang mungkin engkau bayangkan.
Meskipun skandal perusahaan, ancaman teroris, politik jabatan, dan rusaknya hubungan telah memunculkan rendahnya kepercayaan di hampir segala aspek, bahwa kemampuan membangun, menumbuhkan, memperluas, dan memulihkan kepercayaan, tak hanya penting bagi well-being pribadi dan interpersonal kita; ia adalah kompetensi kepemimpinan utama dalam perekonomian global yang baru.

So what is trust? Sederhananya, kepercayaan bermakna keyakinan diri. Lawan dari kepercayaan—ketidakpercayaan—adalah kecurigaan. Dikau mengenalinya saat dirimu merasakannya. Saat engkau mempercayai orang lain, dirimu berkeyakinan pada mereka—pada integritas dan kemampuan mereka. Manakala engkau tak mempercayai orang lain, dirimu curiga terhadap mereka—terhadap integritas, agenda, kemampuan, atau rekam jejak mereka. Simpel kaan.
​Perbedaan antara hubungan dengan tingkat kepercayaan tinggi dan rendah, amatlah gamblang! Ambil contoh, komunikasi. Pada jalinan dengan kepercayaan tinggi, dirimu dapat keseleo lidah, tapi orang lain akan tetap memahami maksudmu. Pada hubungan dengan tingkat kepercayaan yang rendah, kendati engkau mungkin ngomong dengan sangat terukur, bahkan cermat, namun mereka masih saja, gagal paham padamu.
Kebanyakan kita, cenderung memikirkan kepercayaan dalam kaitannya dengan karakter—menjadi orang yang baik atau tulus atau beretika atau berintegritas. Dan karakter sangatlah mendasar dan penting. Namun anggapan bahwa kepercayaan semata didasarkan pada karakter, hanyalah sebuah mitos. Kepercayaan itu, fungsi dari dua hal: karakter dan kompetensi. Karakter mencakup integritasmu, motifmu, niatmu terhadap orang lain. Kompetensi mencakup kemampuanmu, keterampilanmu, hasilmu, rekam jejakmu. Keduanya penting.
Dengan meningkatnya fokus pada etika dalam masyarakat kita, sisi karakter dari kepercayaan dengan cepat menjadi harga tiket masuk dalam perekonomian global yang baru. Namun, sisi kepercayaan yang membedakan dan sering diabaikan, yakni kompetensi, sama pentingnya. Dirimu mungkin menganggap seseorang itu tulus, bahkan jujur, namun dikau takkan mempercayai orang tersebut sepenuhnya, jika ia tak sukses. Dan yang terjadi, justru sebaliknya. Boleh jadi, seseorang punya keterampilan dan bakat hebat, serta rekam jejak yang baik, namun jika ia tak jujur, dirimu takkan mempercayainya.

Walau mungkin lebih wajar bagi kita, memikirkan kepercayaan dalam kaitannya dengan karakter, sama pentingnya bagi kita belajar berpikir dalam kaitannya dengan kompetensi. Coba pikirkan—masyarakat mempercayai orang yang membuat sesuatu terjadi. Mereka memberikan kurikulum baru kepada instrukturnya yang paling kompeten. Mereka memberikan proyek atau prospek penjualan yang menjanjikan kepada mereka yang telah berhasil melakukannya di masa lalu. Mengenali peran kompetensi, membantu kita mengidentifikasi dan menjelaskan masalah kepercayaan mendasar, yang tak dapat kita tangani. Dari sudut pandang pemimpin lini, dimensi kompetensi menyempurnakan dan membantu memberikan kepercayaan pada sisi yang lebih tegas dan pragmatis.
Berikut cara lain melihatnya: Meningkatnya kepedulian terhadap etika berdampak baik bagi masyarakat kita. Etika (yang merupakan bagian dari karakter) adalah dasar dari kepercayaan, namun, itu saja tak cukup. Dirimu tak bisa punya kepercayaan, tanpa etika, namun dikau dapat beretika tanpa kepercayaan. Kepercayaan, yang mencakup etika, merupakan gagasan yang lebih besar. Sekali lagi, karakter dan kompetensi sama-sama diperlukan. Karakter itu, sesuatu yang konstan; ia penting bagi kepercayaan dalam keadaan apa pun. Kompetensi bersifat situasional; ia tergantung pada apa yang dibutuhkan oleh keadaan.
Setelah engkau menyadari bahwa karakter dan kompetensi sangat penting bagi kepercayaan, dirimu dapat melihat bagaimana kombinasi kedua dimensi ini, tercermin dalam pendekatan pemimpin dan pengamat yang efektif di mana pun. Orang mungkin menggunakan kata-kata yang berbeda untuk mengungkapkan gagasannya, namun jika engkau mengikis kata-kata tersebut hingga sampai ke intisarinya, yang muncul adalah keseimbangan antara karakter dan kompetensi. Kepercayaan merupakan karakter dan kompetensi yang setara. Keduanya mutlak diperlukan. Dari ruang keluarga hingga ruang rapat, engkau dapat melihat kegagalan kepemimpinan apa pun, dan kegagalan tersebut selalu salah satunya dari karakter atau kompetensi.

Bagi seseorang, lebih baik menjadi orang baik daripada menjadi orang jahat—lebih baik menjadi orang yang amanah daripada tidak, kata Linda K. Stroh. Ada sisi terbalik dari rumus persamaan orang baik-orang jahat. Jika jalinan-hubungan tak memenuhi standar amanah, kita dapat menderita dampak negatif dari bekerja, menetap bersama-sama, atau berbagi waktu dengan orang yang tak dapat kita percayai.
Dalam istilah ekonomi, kerugian akibat ketidakpercayaan—yaitu waktu, uang, energi mental, serta kesehatan fisik dan emosional yang terbuang sia-sia—sangat besar. Alih-alih menikmati hidup, kita fokus melindungi diri dari pengaruh negatif—orang jahat—yang mungkin ngibul atau berbuat curang demi mendapatkan sesuatu yang sebenarnya milik kita: sumber daya, uang, waktu, persahabatan, atau, yang teramat penting, ketenangan pikiran.
Kepercayaan itu laksana air, udara, dan listrik, sesuatu yang kita remehkan; jika kita kehilangannya—bagaikan kehilangan listrik atau air—kita menyadari betapa pentingnya ia bagi kehidupan kita. Kita boleh hidup tanpanya, tapi terasa kurang menyenangkan. Segala sesuatu yang harus kita lakukan, jadi lebih lama, dan kita harus belajar bagaimana hidup dan/atau bekerja, mulai dari awal lagi. Kepercayaan merupakan fondasi dari segala hubungan antarmanusia yang berhasil. Disaat kepercayaan ada, hubungan profesional dan pribadi berkembang. Tatkala kepercayaan tercederai, jalinan-hubungan akan terputus.
Kepercayaan itu, kerelaan menjadi rentan—bersedia mengambil risiko agar seseorang tak merugikan kita, Stroh menambahkan. Disaat kita menaruh kepercayaan pada orang lain, kita membiarkan diri kita menjadi rentan, lantaran kita berekspektasi positif terhadap perilaku orang lain.
Tak semata ada harapan bahwa orang-orang yang kita percayai takkan menyakiti kita, bahkan dikala kita tak hadir memantau perilaku mereka, namun kita juga berasumsi bahwa mereka akan membantu kita, walaupun manakala kita tak hadir mengingatkan mereka. Harapannya ialah, pihak yang dipercaya akan berupaya melindungi—dan bahkan memajukan—kepentingan kita, atau, paling tidak, tak beraktivitas yang akan merugikan kita dengan cara apa pun. Kita cenderung berpikir bahwa orang kepercayaan kita akan benar-benar memajukan tujuan kita, kendati kita tak berada di hadapan mereka. Mereka akan menyebut kita secara positif kepada orang lain, merekomendasikan kita pekerjaan, atau memberitahukan kira, dimana membeli sepasang sepatu.

Kepercayaan lebih dari sekedar naluri, kata Stroh. Memahami konsep amanah, mungkin tampak jelas dan sederhana—tetapi sebenarnya tidak! Kepercayaan itu rumit. Banyak orang mengklaim bahwa mereka punya naluri yang kuat tentang siapa yang dapat dan tak dapat mereka percayai, hampir merupakan keyakinan bahwa mereka dapat merasakan siapa yang dapat diberi mandat dan siapa yang tidak. Apa yang disebut sebagian orang sebagai naluri, sebenarnya merupakan produk pengalaman hidup yang dipadukan dengan observasi reflektif—dengan kata lain, pembelajaran berdasarkan pengalaman. Naluri [atau insting, menurut KBBI. Terdapat perbedaan antara naluri dan firasat; naluri adalah dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir; pembawaan alami yang tak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu. Firasat merupakan keadaan yang dirasakan (diketahui) akan terjadi sesudah melihat gelagat; kecakapan mengetahui (memprediksi) sesuatu dengan melihat keadaan (muka dan sebagainya). Dalam perspektif Islam, firasat atau firasah diasah dan dipertajam dengan memperluas wawasan berbasiskan ilmu, terutama dalam nilai-nilai ilmu agama kemudian ditambah dengan nilai-nilai ilmu lainnya. Tanpa ilmu, manusia mengandalkan naluri atau insting atau intuisi belaka] pada manusia, tak seperti naluri pada spesies lain, sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal—pendidikan kita, lingkaran dalam teman, keluarga, tetangga, lingkungan sekitar, dan segala sesuatu yang menyentuh kehidupan kita—yang dianggap bersih.
Naluri atau intuisi [daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari] dapat dengan mudah menjadi dasar stereotip. Contohnya, beberapa orang mungkin punya intuisi (yang kemudian berkembang menjadi stereotip) bahwa kaum perempuan tak memiliki stamina fisik dan disiplin mental yang diperlukan memimpin negara. Orang lain mungkin keliru mempercayai bahwa kebanyakan orang dapat dipercaya dalam pekerjaan dan kehidupan. Dalam bentuknya yang paling murni, naluri itu bermanfaat. Namun, naluri kita bisa menjadi cacat seiring berjalannya waktu, sebagaimana tercermin dari banyaknya orang yang terluka, terkejut, terperangah, atau kecewa, manakala mereka dikhianati oleh seseorang yang mereka percayai. Insting saja, amat jarang dapat memprediksi sifat amanah.

Kepercayaan diakui secara luas sebagai hal yang penting, menurut Cam Caldwell, dalam hubungan kerjasama dan merupakan variabel kunci dalam pencapaian organisasi. Kepercayaan mengintegrasikan keyakinan, sikap, serta niat individu, dan pada akhirnya terwujud sebagai perilaku. Kepercayaan pada akhirnya, merupakan penyerahan kendali pribadi kepada orang lain dengan harapan bahwa pihak lain akan menghormati kewajiban yang dianggap terutang.
Pemimpin beroleh kepercayaan dari orang-orang yang mereka layani dengan dianggap amanah, dan tingkat kepercayaan tersebut membangun respons subjektif, yang mencerminkan komitmen atau kepatuhan individu yang melihatnya. Kepercayaan, sebagaimana keyakinan beragama, memerlukan kemauan bertindak, yang pada akhirnya harus dilaksanakan agar efektif secara optimal dalam kehidupan pribadi, jalinan-hubungan, dan organisasi. Bukan rahasia lagi bahwa para pemimpin dan organisasi telah berjuang sepanjang waktu agar memperoleh kepercayaan dari orang lain–baik 'orang lain' tersebut pelanggan, kolega, atau karyawan. Memimpin itu sulit. Ia membutuhkan keseimbangan dan kemampuan memahami apa yang perlu dilakukan dan cara terefektif mempertahankan hubungan kolaboratif guna membangun komitmen dan kepercayaan satuan-kerja. Kegagalan kepemimpinan adalah hal biasa. Pemimpin yang sukses dan efektif amat dihargai.
Disaat para pengikut mempercayai seorang pemimpin, hubungan mereka tak semata mencerminkan perbedaan dalam pola pikir mental dan perasaan emosional para pengikut, melainkan pula dalam perilaku pengikut. Para pemimpin yang bijak, menyadari pentingnya membangun budaya organisasi dengan kepercayaan tinggi guna melahirkan respons-respons ini. Bukti empiris secara konsisten menegaskan bahwa organisasi dengan kepercayaan tinggi, lebih menguntungkan, lebih efektif dalam menjalin hubungan dengan pihak lain, dan lebih inovatif.
Kepercayaan sangatlah penting dalam hubungan pemimpin-pengikut, memahami sifat amanah, atau penting pula, apa yang diperlukan agar seorang pemimpin dianggap 'layak' diberi mandat. Pemimpin yang berkemampuan menerima mandat, membedakan dirinya dari calon pemimpin yang berjuang mendapatkan rasa hormat dan komitmen, yang diperlukan agar berhasil dalam dunia yang sulit saat ini.

Sifat amanah mencerminkan persepsi subyektif orang yang mempercayai perilaku, reputasi, dan/atau komitmen pemimpin dalam beberapa cara yang sangat spesifik. Kepercayaan pada tingkat individu dan organisasi terdiri dari lima faktor.
Kemampuan atau Kompetensi–Pemimpin yang amanah menunjukkan pemahaman mendalam tentang kebutuhan pelanggan mereka, sifat industri mereka, konteks perekonomian, dan sistem yang diperlukan untuk memproduksi dan mengirimkan produk dan layanan di pasar. Standar keunggulan ini memerlukan pemahaman tentang 'pengetahuan mendalam' yang jarang dimiliki orang lain.
Integritas atau Karakter–Ketika pemimpin menepati komitmennya, mengatakan kebenaran dan menghormati hubungan, mereka mendapatkan rasa hormat dari orang lain. Integritas dan karakter merupakan atribut pribadi yang sangat diinginkan seorang pemimpin.
Kedermawanan atau Kepedulian–Komitmen pemimpin terhadap kesejahteraan, pertumbuhan, dan keutuhan orang lain, ditunjukkan dengan memperlakukan orang lain dengan baik, santun, dan hormat. Pemimpin menghasilkan kepercayaan dengan menilai orang lain sebagai tujuan penting, bukan sebagai alat untuk mencapai agenda kepemimpinan. Kebajikan, perilaku, mencerminkan niat baik.
Eksekusi atau Kapasitas–Pemimpin menunjukkan kapasitas mengintegrasikan upaya organisasi agar membuahkan hasil. Eksekusi mengharuskan para pemimpin mencapai hasil dan perolehan yang diinginkan, dengan memahami bagaimana menerapkan rencana ke dalam tindakan. Meskipun kemampuan mengembangkan rencana aksi atau strategi yang jelas, penting bagi keberhasilan, namun pelaksanaan rencana yang efektif jauh lebih penting.
Keberimbangan atau Sempena Hati–Pemimpin yang memperlakukan orang lain dengan adil mengakui kewajiban moral mereka agar membuat pilihan yang melindungi hak-hak orang lain, memperlakukannya secara setara, dan mengakui kebutuhan masing-masing. Saat para pemimpin menjelaskan dalil keputusan yang mereka buat, mereka mengomunikasikan tanggungjawabnya atas dampak tindakannya. Sempena hati merupakan perasaan moral dalam diri seseorang, yang membimbing seseorang agar berperilaku bajik dan memperlakukan orang lain dengan wajar.

Para pemimpin melemahkan kepercayaan pengikutnya tatkala mereka dipandang bertindak dengan cara yang tak memiliki unsur-unsur yang amanah. Dengan demikian, kepercayaan akan hilang ketika pemimpin tak menunjukkan kompetensi pribadi, mencederai komitmen atau kewajiban, memperlakukan orang lain sebagai objek dan bukan individu, berkinerja buruk dalam memastikan bahwa organisasi mencapai tujuannya, atau melanggar standar perilaku etis yang diharapkan.

Mengenai implikasi Trust atau Kepercayaan terhadap Demokrasi dan Pemerintah, kita bincangkan dalam sesi selanjutnya yaq, bi 'idznillah."
Kutipan & Rujukan:
- Francis Fukuyama, Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity, 1995, Free Press
- Stephen M.R. Covey & Rebecca R. Merril, The Speed of Trust: The One Thing That Changes Everything, 2006, Free Press
- Linda K. Stroh, Trust rules: How to Tell the Good Guys from the Bad Guys in Work and Life, 2007, Praeger
- Cam Caldwell, Leadership, Ethics, and Trust, 2018, Cambridge Scholars Publishing

Jumat, 23 Februari 2024

Cerita Daun Mapel: Election Fraud (4)

"Di hari anniversary perkawinan mereka yang ke-18, sepasang suami-istri merayakannya di sebuah restoran mewah.
Suami : 'Ma, kalau Papa marah sama Mama, kenapa sih Mama gak pernah ngelawan. Bagaimana cara Mama ngendaliin emosi?'
Istri: 'Mama bersihkan kamar-mandi.'
Suami: 'Ada manfaatnya?'
Istri: 'Iya, Mama ngebersihinnya pakai sikat-gigi Papa.'

“Setelah mencoblos di bilik suara, dan seusai memantau hasilnya di TPS, kita kemudian menyaksikan 'Quick Count' di Media. Jikalau daku bertanya 'Mengapa ada Quick Count?', dikau pastilah tahu jawabannya," berkata Mapel sembari memperhatikan area kecil dengan dinding di tiga sisinya.
"Kehendak rakyat sebuah negara—yang diwujudkan melalui pemilu yang jujur dan berkala—merupakan dasar kewenangan pemerintahan demokratis mana pun. Menurut Melissa Estok [dkk], hal ini diakui dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan setiap instrumen hak asasi manusia internasional utama yang menangani hak-hak sipil dan politik, sehingga membangun kewajiban perjanjian dan komitmen internasional terhadap prinsip ini. Prinsip ini diabadikan pula dalam konstitusi modern di seluruh dunia. Namun, realisasi dari ajaran demokrasi ini, acapkali sulit dipahami.
Banyak negara menyelenggarakan pemilu yang demokratis. Namun, mereka yang mengendalikan lembaga-lembaga dan sumber daya negara atau sarana suap dan intimidasi yang terorganisir, terlalu sering berupaya memanipulasi proses pemilu dengan tak memberikan hak kepada lawan untuk mencalonkan diri; menghalangi mereka mengorganisir diri berkampanye demi perolehan suara; membatasi akses terhadap media komunikasi massa; menghalangi para pemilih memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan agar membuat pilihan politik yang bebas; mengintimidasi para pemilih agar tak leluasa menentukan pilihan politiknya; dan memanipulasi batas-batas (daerah pemilihan) guna menguntungkan satu partai atau kandidat di daerah pemilihan agar menolak persamaan hak pilih. Ketika taktik ini nampak tak cukup untuk menjamin kemenangan, pelaku kecurangan seperti ini, sering berupaya memanipulasi proses hari pencoblosan dengan cara: memblokir akses ke TPS; menolak hak pemilih yang memenuhi syarat memberikan suara; mengatur pemungutan suara ilegal yang menguntungkan mereka; mengisi kotak suara; memanipulasi penghitungan suara; mencurangi tabulasi suara; mengumumkan hasil yang curang; dan menghalangi upaya hukum yang layak. Kekerasan dan pembalasan politik terkadang juga terjadi setelah pemilu. Perkembangan seperti ini, mengingkari mandat demokrasi pemerintah dan memicu ketidakstabilan politik.

Tak setiap pemilu memerlukan quick count, tulis Estok, setidaknya, tidak dalam bentuk yang terkomprehensif. Selain itu, quick count hanya berbicara tentang proses pada hari pencoblosan dan tak menjelaskan apa pun tentang apakah perkembangan sebelum pemilu atau pasca pemilu mendukung atau meniadakan sifat demokratis pemilu.
Kebanyakan penghitungan cepat tak melibatkan pengumpulan informasi dari setiap TPS; sebaliknya, data dikumpulkan dari sampel statistik acak di TPS. Hal ini memungkinkan kelompok pemantau agar dengan cepat mengumpulkan dan melaporkan data yang dapat diandalkan dan akurat dengan margin error yang sangat kecil.
Catatan penting yang perlu diwaspadai hendaknya ditekankan. Jika proses tersebut dimanipulasi sebelum tabulasi suara, verifikasi keakuratan penghitungan suara, akan melegitimasi kecurangan yang mendasarinya. Misalnya, penimbunan kotak suara secara besar-besaran pada pemilihan presiden di Nigeria tahun 1999, atau kemungkinan adanya kesalahan penyajian suara ketika para pejabat memanggil dan mencatatnya pada pemilihan presiden Belarus tahun 2001, takkan tercermin dalam tabulasi hasil yang dicatat dari TPS. Karenanya, quick count hendaknya mengkaji pula aspek kualitatif dalam proses pemungutan dan penghitungan suara.
Selain itu, mengingat sifat perhitungan cepat yang sangat ketat dan besarnya risiko yang dihadapi, maka yang terbaik ialah tak melakukan quick count kecuali organisasi tersebut yakin dan sangat percaya bahwa mereka dapat melaksanakannya dengan berjaya. Di banyak negara, telah diputuskan dengan bijaksana agar tak melakukan quick count oleh dalil-dalil ini, dan dalam beberapa kasus, organisasi pemantau pemilu telah memutuskan menjelang akhir periode pra-pemilu agar tak berupaya membuat proyeksi numerik, kendati mereka berharap melakukan quick count dengan lengkap. Quick count bersifat netral secara politik—tapi pihak yang melakukan penghitungan cepat, hendaklah mempertimbangkan dengan cermat, lingkungan politik. Konteks politik lokal memfasilitasi atau menghambat persiapan hitung cepat dan pertimbangan politik seyogyanya ikut berperan, sehingga ketidakberpihakan dan keakuratan hitung cepat, tak perlu dipertanyakan lagi.

Sebuah Quick Count (Hitung Cepat), menurut Estok, adalah proses pengumpulan informasi yang dikumpulkan oleh ratusan, atau ribuan relawan. Segala informasi atau data, berasal dari pengamatan langsung terhadap proses pemilu. Para pemantau mengawasi otoritas pemilu saat mereka mengatur proses pemungutan suara dan menghitung surat suara. Mereka mencatat informasi, termasuk penghitungan suara sebenarnya, pada formulir standar dan mengkomunikasikan temuan mereka ke pusat pengumpulan suara.
Quick count tak sama dengan riset opini politik atau exit poll. Penghitungan cepat tak bergantung pada pertanyaan kepada pemilih, atau siapa pun, bagaimana mereka dapat memilih atau mengharuskan pemilih mengungkapkan cara mereka memilih. Tak ada pendapat yang diungkapkan dan tak ada yang diminta dari siapa pun.
Kebanyakan quick count mempunyai dua komponen: pemeriksaan independen terhadap total suara resmi; dan analisis sistematis terhadap aspek kualitatif proses pemilu. Penghitungan cepat digunakan memantau perolehan suara sebagai penerapan aritmatika yang cukup mudah.

Sejarah hitung cepat dapat ditelusuri kembali ke penyelenggara NAMFREL, yang dikenal luas sebagai pionir hitung cepat di negara-negara demokrasi baru. Bertahun-tahun sejak pengalaman pertama mereka, penghitungan cepat telah berkembang, telah diuji secara menyeluruh dan kini menjadi praktik terbaik bagi masyarakat sipil guna mengawasi proses pemungutan dan tabulasi suara.
Pada pemilu Filipina tahun 1986, hasil yang dilaporkan oleh Presiden Filipina Ferdinand Marcos pada tahun 1984, dipandang dengan rasa tak percaya yang besar. Ketika Marcos menyerukan pemilihan Presiden serentak pada tahun 1986, National Citizens Movement for Free Elections (NAMFREL) memprakarsai 'Operation Quick Count' sebagai upaya komprehensif agar mencerminkan penghitungan resmi di seluruh 90.000 TPS. Tak seperti kebanyakan penghitungan cepat berikutnya, yang mengumpulkan informasi dari sampel statistik acak di TPS, NAMFREL melakukan tugas luar biasa dalam mengumpulkan data di sebagian besar TPS. Organisasi ini, berperan penting dalam membantu mengungkap kecurangan penghitungan suara besar-besaran yang dilakukan oleh pendukung Marcos.

Penghitungan cepat yang berhasil dimulai dengan pemahaman yang jelas dan pernyataan mengenai tujuan proyek. Dalil paling mendasar dilakukannya quick count ialah mencegah terjadinya kecurangan. Penghitungan cepat yang dipublikasikan secara luas dan dilaksanakan oleh organisasi atau partai politik yang kredibel, dapat menghalangi atau menggagalkan penghitungan suara yang curang.
Agar memenuhi fungsi pencegahan tersebut, quick count hendaknya dipublikasikan dengan baik dan dilakukan secara transparan. Proyek ini seyogyanya digalakkan guna meningkatkan kesadaran bahwa pelanggaran pemilu bakal terdeteksi. Metodologi proyek hendaknya dipahami dan diyakini. Rencana harus dipublikasikan dan terbuka guna pengawasan dan perdebatan, dan materi tertulis seperti manual dan formulir pelatihan pengamat harus didistribusikan. Sebagai contoh: Chile, 1988. Dalam jajak pendapat yang menentukan apakah akan melanjutkan kepresidenan Jenderal Pinochet,Committee for Free Elections (CEL) menggunakan penghitungan cepat berbasis statistik untuk memperkirakan hasil dari 22.000 TPS di Chile. Berdasarkan sampel 10 persen tempat pemungutan suara, CEL secara akurat memperkirakan kemenangan pasukan anti-Pinochet. Penghitungan cepat menghasilkan pernyataan dari salah satu anggota junta yang berkuasa, yang mengakui kekalahan. Para ahli berspekulasi bahwa kemungkinan besar rezim Pinochet akan memanipulasi penghitungan suara dengan menyatakan kemenangan jika tak ada verifikasi independen terhadap penghitungan tersebut.
Apabila penghitungan cepat tak mampu mencegah terjadinya kecurangan, maka data yang diperoleh minimal dapat mendeteksi adanya kecurangan dalam penghitungan suara. Seringkali, kecurangan terungkap ketika hasil proses tabulasi resmi berbeda dengan hasil penghitungan cepat atau perkiraan statistik. Contoh, di Panama, 1989, ketika Presiden Panama Manuel Noriega menyadari bahwa wakilnya dalam pemilihan presiden kalah dalam perolehan suara, pemerintah menunda tabulasi hasil di tingkat regional dan berusaha mengumumkan hasil yang curang. Sebuah organisasi Gereja Katolik, Archdiocese Commission for the Coordination of Laity (pendahulu Commission for Justice and Peace), menggunakan penghitungan cepat (didukung dengan penghitungan komprehensif yang dilakukan oleh oposisi politik) untuk memperkirakan hasil pemungutan surat suara telah dihitung dengan benar dan lengkap. Hasil independen ini, menunjukkan bahwa calon Noriega justru kalah dalam pemilu, yang merupakan faktor utama melemahnya rezim Noriega.

Di negara demokrasi transisi, penghitungan suara resmi seringkali memerlukan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, guna diumumkan kepada publik. Keterlambatan waktu yang lama antara selesainya pemungutan suara dan pengumuman hasil resmi, dapat menimbulkan ketidakpastian iklim politik atau kekosongan politik yang mengancam stabilitas. Penghitungan cepat yang akurat dan kredibel dapat memperkirakan hasil pemilu secara tepat waktu, membantu mengurangi ketegangan pasca pemilu, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap hasil pemilu. Contoh: Indonesia, 1999. Dalam pemilu pertama yang benar-benar bebas dalam sejarah Indonesia, penghitungan cepat yang dilakukan Forum Rektor Indonesia terbukti krusial. Geografi fisik Indonesia yang buruk dan terbatasnya infrastruktur pedesaan mengakibatkan hampir runtuhnya mekanisme penghitungan suara pemerintah. Satu-satunya hasil pemilu yang kredibel yang tersedia selama beberapa minggu adalah hasil penghitungan cepat Forum Rektor.

Sebagian besar tantangan terhadap proses pemilu didasarkan pada anekdot. Misalnya, sebuah partai mungkin menuduh bahwa pendukungnya terhalang memberikan suara; dalam kasus lain suatu partai dapat menghadirkan saksi yang menyatakan bahwa mereka dibayar untuk memilih calon tertentu. Tanpa dokumentasi dan analisis dampak permasalahan seperti ini, sangat sulit untuk mendapatkan perbaikan.
Penghitungan cepat dirancang untuk mengumpulkan informasi yang sistematis dan dapat diandalkan mengenai aspek kualitatif dari proses tersebut. Partai politik oposisi dan pemantau independen seharusnya dapat mengandalkan metode statistik yang digunakan oleh penghitungan cepat untuk memberikan bukti yang dapat dipercaya dan valid mengenai proses pemungutan suara dan penghitungan suara.

Penyelenggara quick count mengerahkan ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu warga. Seringkali mereka adalah individu-individu yang tak tertarik berpartisipasi dalam politik partisan namun tetap ingin secara aktif mendukung pengembangan sistem politik demokratis. Mereka berperan sebagai pelatih hitung cepat, pengamat, pengolah data, dan peran pendukung lainnya. Mereka menjadi sangat berpengalaman dalam proses pemilu di negara tersebut dan seringkali tetap turut dalam proyek serupa setelah pemilu.

Quick count dapat menjadi landasan bagi kelompok-kelompok sponsor untuk melakukan kegiatan pembangunan demokrasi di luar pemilu. Keberhasilan penghitungan cepat menjadi preseden bagi warga negara yang mempengaruhi proses politik. Organisasi masyarakat sipil muncul dari pengalaman penghitungan cepat yang bereputasi jujur dan efektif, dan masyarakat menginginkan dan mengharapkan mereka agar melanjutkan pekerjaan serupa. Organisasi-organisasi ini, diperlengkapi untuk melakukan hal tersebut karena pengorganisasian penghitungan cepat membangun keterampilan yang dapat digunakan dalam berbagai macam kegiatan. Faktanya, banyak organisasi yang proyek pertamanya penghitungan cepat, kemudian mengambil program mendorong akuntabilitas dan transparansi dalam pemerintahan, untuk mendidik masyarakat tentang prinsip-prinsip latarbelakang dan mekanisme demokrasi, dan mendukung reformasi demokrasi atau reformasi kebijakan tertentu.

Walau penghitungan cepat mungkin merupakan taktik yang penting, metodologi ini bukanlah pengganti pemantauan pemilu yang lebih komprehensif. Penghitungan cepat merupakan salah satu dari banyak alat yang tersedia bagi pemantau pemilu. Berdasarkan definisinya, penghitungan cepat berfokus pada tugas memverifikasi bahwa surat suara yang masuk ke kotak suara telah dihitung secara akurat pada tahap pertama dan bahwa suara tersebut tetap menjadi bagian dari penghitungan akhir pemilu. Jika surat suara dimasukkan ke dalam kotak suara secara tidak sah, penghitungan cepat akan menghitungnya dengan pasti sebagai suara yang sah (kecuali jika terdeteksi ada pengisian kotak suara.) Jika suara pemilih telah terbeli, penghitungan cepat akan menghitungnya sama seperti penghitungan suara lainnya. Jika para pemilih diintimidasi agar tak hadir di tempat pemungutan suara atau mendukung suatu partai atau kandidat, penghitungan cepat takkan melaporkan masalah tersebut. Lantaran itulah, penghitungan cepat tak dapat menggantikan aspek lain yang lebih kualitatif dalam pemantauan pemilu.

Penghitungan cepat dapat memproyeksikan atau memverifikasi hasil resmi, mendeteksi dan melaporkan ketidakberesan, atau mengungkap kecurangan. Pada sebagian besar kasus, penghitungan cepat membangun kepercayaan terhadap kinerja petugas pemilu dan legitimasi proses pemilu.
Meskipun hampir setiap negara di dunia menyelenggarakan pemilu multipartai, pemilu ini acapkali sangat tidak adil. Bagi pemerintah, pelanggaran pemilu merupakan praktik yang menggiurkan namun juga berisiko, sebab sangat jelas merupakan pelanggaran terhadap standar internasional bagi pemilu yang bebas dan adil.
Masyarakat demokratis yang efektif, bergantung pada kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahnya. Pembayaran pajak, penerimaan keputusan legislatif dan yudisial, kepatuhan terhadap program pelayanan sosial, dan dukungan terhadap tujuan militer hanyalah beberapa contoh perlunya kerjasama publik dalam memenuhi tuntutan negara. Pada saat yang sama, pemilih mengharapkan pejabatnya berperilaku etis dan bertanggungjawab.

Rezim kita demokratis, namun kita tak diperintah secara demokratis. Paradoks yang tampak ini, menurut Pierre Rosanvallon, akar dari kekecewaan dan kecemasan yang dirasakan secara luas saat ini. Rezim kita bersifat demokratis dalam makna bahwa kekuasaan berasal dari kotak suara pada akhir kompetisi terbuka, dan bahwa kita hidup dalam negara yang sah, yang mengakui dan melindungi kebebasan individu. Memang benar, demokrasi belum sepenuhnya tercapai. Masyarakat seringkali merasa ditinggalkan oleh wakil-wakil mereka yang terpilih; setelah kampanye berakhir, mereka menyadari bahwa mereka sudah tak lagi lebih berdaulat dibanding sebelumnya. Namun kenyataan ini, tak boleh dibiarkan menutupi fenomena umum lainnya: pemerintahan yang buruk. Walau hal ini masih kurang dipahami, tiada yang meragukan kekuatannya dalam mengikis fondasi masyarakat kita.
Kehidupan politik diatur di sekitar lembaga-lembaga yang, secara bersama-sama, menentukan suatu jenis rezim. Namun hal ini juga terikat dengan tindakan pemerintah, yaitu dengan pengelolaan urusan negara sehari-hari, kewenangan memutuskan dan memerintah. Di sinilah kekuasaan—yang dalam istilah konstitusional berarti kekuasaan eksekutif—dilaksanakan. Politik mempengaruhi masyarakat secara langsung, setiap hari dalam kehidupan mereka. Demikian pula, pusat gravitasi politik dalam masyarakat demokratis telah mengalami pergeseran: sampai saat ini, pusat gravitasi tersebut terletak pada hubungan antara perwakilan dan mereka yang diwakili; sekarang yang penting adalah hubungan antara yang mengatur dan mereka yang mengatur. Namun, pergeseran ini tak berarti perpisahan total dengan masa lalu. Persoalan keterwakilan terus mendapat tempat penting dalam diskusi publik; memang, kita selalu diberitahu bahwa ada 'krisis keterwakilan' saat ini. Kegagalan utama demokrasi dalam benak banyak orang adalah suara mereka tak didengar. Mereka melihat para pemimpinnya mengambil keputusan tanpa konsultasi, tak bertanggungjawab atas tindakan mereka, berbohong tanpa mendapat hukuman, hidup berbual—singkatnya, pemerintahan yang terisolasi dari dunia, sebuah sistem yang cara kerjanya tak jelas.
Politik tak pernah dipikirkan seperti ini. Demokrasi secara tradisional dipahami sebagai semacam rezim, jarang sekali dipahami sebagai cara pemerintahan yang spesifik. Fakta bahwa, secara historis, kata 'rezim' dan 'pemerintah' digunakan kurang lebih secara sinonim adalah buktinya. Kepercayaan dan pemerintah, sepertinya bertolakbelakang.

Di episode berikutnya, kita akan lanjut membahas tentang 'Kepercayaan', bi 'idznillah."

Dan sebelum masuk ke dalam fragmen selanjutnya, Mapel pun berdendang,

Is there anybody out there?
[Adakah orang di sana?]
Is there anybody left who cares?
[Masih adakah yang peduli?]
All I wanna do is dance
[Yang ingin kulakukan hanyalah berdansa]
Here in Wonderland *)
[Di sini, di Negeri Ajaib]
​Kutipan & Rujukan:
- Melissa Estok, Neil Nevitte & Glenn Cowan, The Quick Count and Election Observation: An NDI Handbook for Civic Organizations and Political Parties, 2002, National Democratic Institute for International Affair
- Pierre Rosanvallon, Good Government: Democracy Beyond Elections, Translated by Malcolm DeBevoise, 2018, Harvard University Press
*) "Wonderland" karya Roxanne Emery, Sean Mcdonagh, Daniel Oestergaard & Dom Liu