Selasa, 05 Maret 2024

Cerita Kembang Senduro: Ketika Rakyat Angkat Bicara (4)

"Sepasang arkeolog sedang memikirkan tulisan di kaki peti mumi. Bunyinya cuma gini: 4135 SM.
'Kira-kira, maksudnya apa ya?' tanya arkeolog pertama.
'Hmm. Bisa jadi, itu nomer SIM orang yang nabrak doi,' tanggap yang satunya."

"Konon, Prabu Baka punya seorang putri nan ayu, perawan ramping Rara Jonggrang. Saking eloknya sang rara, banyak prabu muda yang meleleh, atau paling enggak, jadi bolot, namun semuanya ditolak," berkata Senduro mengamati arca bersosok wanita langsing, penakluk Mahishasura, Durga Mahisashuramardini. Konon, wajah Durga bercirikan Siwa. Pintalan rambutnya dari kelamnya Yama. Delapan lengannya berhiaskan kankana dari jagad raya Wisnu. Dadanya yang membusung bergenre Candra. Lambung dan pinggulnya yang berkacidama, berkonturkan Surya. Lentik jemarinya terkonfigurasi dari Wasu. Giginya tertata oleh Usha. Sedangkan hembusan Bayu, menumbuhkan telinga berkundalanya. Arca Mahisashuramardini dapat dikau temukan di ruang sel utara Candi Siwa, candi utama Prambanan.

"Sementara itu, Prabu Damar Maya, raja kerajaan Pengging, hendak merebut kerajaan Baka dan menjadikannya koloni. Mengexercise politik dinasti, ia mengutus putranya, Bandung Bondowoso, menyerang dan membunuh Prabu Baka.
Sang pangeran terpikat oleh kecantikan Rara Jonggrang. Ia melamar sang putri dan akhirnya sang roro bersedia dipersunting dengan dua syarat, pertama, Bandung Bondowoso harus membangun sumur Jalatunda. Kedua, ia kudu mendirikan seribu candi dalam semalam.
Dengan 'politik tong daging-babi', Bandung Bondowoso berhasil membangun Jalatunda. Dan, dengan bantuan 'Sirekap', Bandung Bondowoso telah berjaya mendirikan 999 candi—namun sejarah menemukan bahwa cuma ada 249 candi, memang sih, masih bersisa satu guna menggenapkan.
Menurut Patih Gudapala, pembangunan Jalatunda dan candi menyalahi aturan: terstruktur, sistematis dan masif, namun hal ini disangkal oleh para pencari Komisi.
Rara Jonggrang masih nimbang-nimbang ngajuin 'hak angket', tapi mikir-mikir pulak soal penyakit yang namanya sindroma 'masuk-angin'. Di luar istana, rakyat kerajaan Baka, menggelar aksi protes 'tolak pembangunan curang 1000 candi'. Mereka mendukung hak angket yang sedang ditakar oleh Rara Jonggrang; dan tentu, aksi tandingan menghadang, pola yang sama setiap kali ada gerakan protes.
Adakah 'alternate ending' legenda Rara Jonggrang yang biasanya mudah ditebak, gitu-lagi-gitu-lagi? Boring tauk! Kita tunggu tanggal mainnya.

Ada banyak sisi dalam setiap cerita. Dengan kata lain, biasanya ada lebih dari satu kebenaran yang bisa diambil dari serangkaian fakta. Ada beragam cara yang benar-benar–bahkan mungkin bersejajaran–menggambarkan seseorang, peristiwa, benda, atau kebijakan.
Konsep kebenaran dalam filsafat berawal dari Plato, yang memperingatkan–melalui Socrates–tentang bahaya klaim boong atas pengetahuan. Ketidaktahuan, menurut Socrates, dapat diperbaiki; jika ada yang bodoh, bisa diajari. Ancaman yang lebih besar datang dari mereka yang pongah lantaran mengira bahwa mereka telah mengetahui kebenaran, sebab dengan begitu, mereka mungkin akan amat bernafsu, bertindak berdasarkan kebohongan. Pada titik ini, penting memberikan setidaknya definisi minimal tentang kebenaran. Boleh jadi, yang paling kondang pernyataan Aristoteles, yang mengatakan, 'mengutarakan apa yang bukan, atau itulah adanya apa yang bukan, adalah salah, sedangkan mengutarakan yang itu memang itu, dan dari apa yang bukan memang bukan, adalah benar.'
Jika seseorang bersikukuh bahwa kebenaran tak penting, atau kebenaran itu tidak ada, tak banyak yang bisa kita katakan padanya. Tapi seperti itukah sebenarnya fenomena post-truth? Post-truth merupakan suatu bentuk supremasi ideologis, dimana para praktisinya berusaha memaksa seseorang percaya pada sesuatu, baik ada bukti kuat maupun tidak.

Maukah kita hidup di dunia dimana kebijakan dibuat berdasarkan apa yang kita rasakan dan bukan seberapa baik kebijakan tersebut akan berjalan dalam kenyataannya? Manusia mungkin terprogram mempercayai takhayul dan ketakutan, namun itu bukan berarti bahwa kita tak dapat melatih diri kita sendiri menerima standar bukti yang lebih baik. Mungkin ada pertanyaan teoritis yang sah mengenai kemampuan kita mengetahui kebenaran obyektif, tapi itu tak berarti bahwa para epistemolog dan ahli teori kritis gak ke dokter disaat mereka sakit. Pemerintah juga tak boleh membangun lebih banyak penjara lantaran mereka 'merasa' bahwa kejahatan sedang meningkat.
Jadi apa yang harus dilakukan? Langkah pertama dalam melawan post-truth adalah memahami asal usulnya, kata McIntyre. Bagi beberapa komentator, gagasan kebenaran-baru mungkin tampak muncul begitu saja pada tahun 2016, namun kenyataannya tak demikian. Kata 'post-truth' mungkin semakin meningkat akhir-akhir ini—sebagai akibat dari Brexit dan pemilihan presiden AS—tetapi fenomena itu sendiri berakar yang dalam sejak ribuan tahun yang lalu, yaitu evolusi irasionalitas kognitif yang dimiliki oleh kaum liberal dan kaum konservatif. Ia berakar pula pada perdebatan akademis mengenai ketidakmungkinan kebenaran objektif yang digunakan menyerang otoritas sains. Dan semua ini diperburuk oleh perubahan terkini dalam lanskap media. Dalam ledakan penolakan sains terhadap topik-topik seperti perubahan iklim, vaksin, dan evolusi dalam dua dekade terakhir, kita melihat lahirnya taktik-taktik yang kini digunakan bagi post-truth.
Post-truth membayang-bayangi apa yang terjadi pada sains selama beberapa dekade terakhir. Dulunya dihormati karena kewibawaan metodenya, hasil-hasil ilmiah kini dipertanyakan secara terbuka oleh banyak orang yang bukan ahlinya, yang kebetulan tak sependapat dengannya. Penolakan sains dapat dimulai dari agenda ekonomi atau ideologi. Umumnya, dimulai oleh mereka yang merasa dirugikan, dan kemudian dilanjutkan oleh mereka yang terjebak dalam kampanye misinformasi. Kaitan antara kepentingan ekonomi dan politik post-truth, dengan mempertimbangkan bagaimana lobi (dan kebohongan) yang didanai perusahaan mengenai berbagai topik, telah mempengaruhi posisi politik mengenai perubahan iklim, senjata, imigrasi, layanan kesehatan, utang negara, reformasi pemilih, aborsi, dan pernikahan sesama jenis.
Taktik yang kita lihat diterapkan di dunia kebenaran-baru, saat ini dipelajari dalam kampanye-kampanye para penyangkal kebenaran sebelumnya, yang ingin melawan konsensus ilmiah, lalu menang. Dan jika seseorang dapat menyangkal fakta mengenai perubahan iklim, mengapa tak menyangkal fakta mengenai tingkat pembunuhan? Jika hubungan antara tembakau dan kanker dapat dikaburkan oleh informasi yang keliru dan keraguan selama puluhan tahun, mengapa tak berharap bahwa hal yang sama juga berlaku bagi isu-isu lain yang ingin dipolitisasi? Inilah strategi yang sama dengan akar yang sama; kini ia semata punya target yang lebih besar, yaitu realitas itu sendiri.

Konsep sentral psikologi manusia ialah kita berusaha menghindari ketidaknyamanan psikis. Berpikir buruk tentang diri sendiri bukanlah hal yang menyenangkan. Beberapa psikolog menyebutnya sebagai 'ego defense', namun terlepas dari apakah kita membingkainya dalam paradigma ini atau tidak, konsepnya sudah jelas. Rasanya lebih baik bagi kita berpikir bahwa kitalah orang-orang yang cerdas, berpengetahuan luas, dan cakap ketimbang tidak. Hanya ego terkuat yang bisa bertahan lama di bawah serangan self-criticism: 'Betapa bodohnya diriku! Jawabannya selalu ada di depanku, tapi diriku gak pernah merhatiin. Diriku memang idiot.' Maka, ketegangan seringkali diselesaikan dengan mengubah salah satu keyakinan seseorang.
Disposisi atau kecenderungan kognitif yang sistematis dalam pemikiran dan penalaran manusia seringkali tak sesuai dengan prinsip logika, penalaran probabilitas, dan kemasuk-akalan disebut Bias kognitif, dan ia merupakan bagian dari warisan kemanusiaan kita. Kecenderungan intuitif dan bawah sadar ini menjadi dasar penilaian manusia, pengambilan keputusan, dan perilaku yang dihasilkannya. Mengalah pada bias kognitif, terasa seperti berpikir. Namun terutama ketika kita terlibat secara emosional dalam suatu subjek, semua bukti eksperimental menunjukkan bahwa kemampuan kita agar bernalar dengan baik, mungkin akan terpengaruh. Bias kognitif yang melekat pada diri kita, menjadikan kita terbuka untuk dimanipulasi dan dieksploitasi oleh pihak-pihak yang hendak menjejalkan agendanya, terutama jika mereka dapat mendiskreditkan semua sumber informasi lainnya.

Jika kita menengok ke belakang sepanjang sejarah, kita menyadari bahwa orang kaya dan berkuasa selalu berkepentingan (dan biasanya sarana) untuk membuat 'rakyat kecil' berpikir apa yang mereka inginkan. Sungguh ironis bahwa Internet, yang memungkinkan akses langsung terhadap informasi yang dapat diandalkan oleh siapa saja yang mau mencarinya, bagi sebagian orang hanya menjadi 'echo chamber'.
Kita semua rentan terhadap bias kognitif yang dapat mengarah pada post-truth. Kita tak boleh berasumsi bahwa post-truth hanya muncul dari orang lain, atau bahwa akibat dari post-truth adalah masalah orang lain. Di era kebenaran-baru, kita harus menantang setiap upaya mengaburkan masalah faktual dan menantang kebohongan sebelum dibiarkan berkembang biak.
Seseorang hendaklah selalu melawan kebohongan. Kita tak boleh berasumsi bahwa klaim apa pun 'amat dahsyat bisa dipercaya'. Kebohongan disampaikan karena orang yang menceritakannya mengira ada kemungkinan seseorang akan mempercayainya. Kita mungkin berharap bahwa pendengar cukup berakal-sehat agar tak mempercayainya, namun di zaman manipulasi partisan dan fragmentasi sumber informasi kita, yang memanfaatkan alasan motivasi kita, kita tak lagi berhak atas asumsi tersebut. Maksud menantang kebohongan bukanlah untuk meyakinkan si pembohong, yang mungkin sudah terlalu jauh mencapai tujuan kelamnya agar dapat diperbaiki. Namun karena setiap kebohongan mempunyai audiens, mungkin masih ada waktu untuk berbuat baik bagi orang lain.
Keputusan kitalah bagaimana kita akan bereaksi terhadap dunia dimana seseorang berusaha menghalangi pandangan kita. Truth still matters, as it always has. Apakah pada waktunya kita tersadar, itu terserah kita.

Jika kita berhasrat mengetahui kebenaran, dapat diasumsikan bahwa yang paling kita perlukan adalah metode penelitian atau seperangkat aturan guna menetapkan fakta. Sejarah gagasan tak kekurangan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur seperti itu, baik penalaran deduktif Descartes, metode ilmiah Bacon, studi kitab suci maupun pencapaian wawasan melalui disiplin meditasi dan konsentrasi. Sejarah kita menunjukkan bahwa yang lebih penting dari semua ini adalah suatu sikap (attitude). Menetapkan kebenaran memerlukan ‘kebajikan epistemik’ seperti kesantunan, skeptisisme, keterbukaan terhadap perspektif lain, semangat keingintahuan kolektif, kesiapan menghadapi kekuasaan, keinginan membangun kebenaran yang lebih baik, kemauan mengarahkan moral kita dipandu oleh fakta.
Kebenaran ada bila kita bersedia mencarinya walau ia tak jelas atau sederhana. Kita cenderung menganggap kebenaran seperti kerikil berkilau: keras, tak dapat diubah, ditetapkan dengan jelas, terkumpul dalam pikiran seolah-olah itulah sejenis taman batu. Kebenaran sebenarnya lebih seperti sebuah taman nyata, sebuah sistem organik dan holistik dimana segala sesuatunya berhubungan dengan segala sesuatu yang lain. Meskipun beberapa fitur bersifat permanen, fitur lainnya tumbuh, berubah, atau mati. Dan seperti sebuah taman, kebenaran perlu dirawat, jika tidak, kebenaran akan ditumbuhi mitos, distorsi, kesalahpahaman dan kebohongan.

Ada sepuluh tipe kebenaran menurut Julian Baggini. Kebenaran Abadi: proposisi umum dan tertentu, yang bergantung pada kesesuaian atau ketidaksesuaian yang terjadi dalam ide-ide abstrak. Kebenaran otoritatif: otoritas biasanya bertumpu pada suatu klaim keahlian, klaim sebagai semacam keahlian spiritual, yang diwujudkan dalam mukjizat dan kewaskitaannya. Kebenaran esoteris: pengetahuan yang berada di luar dan tak bergantung pada pengalaman seseorang serta dapat diapresiasi atau dipahami sepenuhnya oleh siapa pun (berkaitan dengan akal sehat), berbeda dengan pengetahuan esoteris (dipahami atau diapresiasi oleh sedikit orang). Namun terkadang, tujuannya tak lebih dari kepentingan pribadi. Kebenaran beralasan: kebenaran berdasarkan logika dan deduksi. Kebenaran empiris: kesesuaian yang tepat seperti yang dipelajari melalui observasi atau eksperimen antara penilaian atau proposisi dan hal-hal yang ada secara eksternal dalam status dan hubungan aktualnya. Kebenaran kreatif: dikau dapat membuat sesuatu menjadi kenyataan hanya dengan mengatakan bahwa hal tersebut bagi banyak orang dianggap sebagai omong kosong yang dibawa oleh dunia post-truth. Kreativitas membutuhkan imajinasi tetapi untuk menciptakan kebenaran baru, imajinasi saja tidak cukup. Menjadi ‘kreatif dengan kebenaran’ tak lebih dari sebuah eufemisme karena tak mengatakan kebenaran sama sekali. Namun karena kebenaran memang bisa diciptakan–terkadang hanya dengan mengatakan hal yang benar pada waktu yang tepat–tidak selalu mudah membedakan siapa yang membangun kebenaran dan siapa yang secara kreatif menyembunyikan atau menodainya. Memang benar, terkadang ada area abu-abu di antara keduanya, yang dieksploitasi oleh para penyembunyi. Kebenaran relatif: bersyarat, subjektif, bervariasi dan kontradiktif, sehingga mampu berubah seiring berjalannya waktu. Kebenaran yang kuat: terhubung dalam hubungan sirkular dengan sistem kekuasaan yang menghasilkan dan mempertahankannya, serta dengan dampak kekuasaan yang dihasilkan dan diperluas. Kebenaran tak lebih dari sekedar penggunaan kekuasaan. Kebenaran moral: ketika pernyataan moral secara akurat sesuai dengan kenyataan. Kebenaran holistik: ketika dirimu dapat berbicara secara konsisten tentang kebenaran suatu model (yaitu, ketika engkau berada dalam sistem formal yang lebih kuat), kebenaran tersebut tak hanya bergantung pada substrukturnya, namun pada keseluruhan struktur tempatmu berada.

Pembelaan kebenaran seringkali berbentuk pertarungan untuk mempertahankan kebenaran tertentu yang memecah belah kita. Ia terkadang diperlukan, namun seperti yang disiratkan oleh metafora militer, ia justru memicu antagonisme. Upaya pemersatu yang lebih besar adalah mempertahankan nilai-nilai bersama yang kita tempatkan pada kebenaran, kebajikan-kebajikan yang menuntun kita menuju kebenaran, dan prinsip-prinsip yang membantu kita mengidentifikasinya. Mereka yang mendukung hal ini, sedang membuka pintu, sebab pada akhirnya kita semua menyadari bahwa kebenaran bukanlah abstraksi filosofis. Melainkan, ia penting dalam cara kita menjalani dan memahami diri kita sendiri, dunia, dan orang lain, hari demi hari. Dan pada puncaknya, semuanya berpulang kembali pada 'Values.'

Pada sesi berikutnya, kita akan teruskan topik ini dan topik lainnya. Bi 'idznillah."
Seperti biasa, sebelum bergeser ke episode selanjutnya, Senduro bersenandung,

In my mind, in my head,
[Dalam benakku, dalam kepalaku,]
this is where we all came from
[dari sinilah kita semua berasal]
The dreams we had, the love we shared,
[Impian yang kita miliki, cinta yang kita bagi,]
this is what we're waiting for *)
[inilah yang kita nantikan]
Kutipan & Rujukan:
- Julian Baggini, A Short History of Truth, 2017, Quercus
- Hector Macdonald, Truth: How the Many Sides to Every Story Shape Our Reality, 2018, Hachette
- Matthew d’Ancona, Post-Truth: The New War on Truth and How to Fight Back, 2017, Penguin
- James Ball, Post-Truth: How Bullshit Conquered the World, 2017, Biteback Publishing
*) "In My Mind" written by Georgina Kingsley, Ivan Gough, Robert Conley, Aden Forte & Joshua Soon

Senin, 04 Maret 2024

Cerita Kembang Senduro: Ketika Rakyat Angkat Bicara (3)

"Seorang cewek sedang ngobrol bareng bestienya:
Cewek: Gua denger, loe mutusin tunangan loe ya. Ada ape sih?
Bestie: Oooh, perasaan gua ma doi doang yang berubah.
Cewek: Trus cincinnya, loe balikin?
Bestie: Oooh, enggak doong. Perasaan gua ma cincinnya, tetep gak berubah."

“Secara umum, opini publik merujuk pada, kata Oskamp dan Schultz, pendapat dan sikap bersama dari sekelompok besar orang (publik) dengan karakteristik bersama tertentu,” lanjut Senduro dengan menelusuri Prambanan, UNESCO World Heritage Site, situs candi Hindu terluas di Indonesia dan terluas kedua di Asia Tenggara setelah Angkor Wat. Bangunan pertama selesai dibangun pada pertengahan abad ke-9 dan kemungkinan besar dimulai oleh Rakai Pikatan dan diresmikan oleh penerusnya Raja Lokapala atau Rakai Kayuwangi. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa candi tersebut, boleh jadi dimaksudkan menandingi candi Budha Borobudur.

“Values (nilai-nilai) dan attitudes (sikap) memegang peranan penting dalam pengembangan opini publik. Sebuah value merupakan tujuan hidup atau kondisi masyarakat yang diinginkan seseorang. Values biasanya merupakan konsep abstrak yang luas, semisal kebebasan, keadilan, keindahan, kebahagiaan, atau saling melayani, meski terkadang lebih konkrit, seperti uang atau harta benda. Values lebih merupakan tujuan, bukan sarana—tujuan yang ingin dicapai seseorang, bukan metode yang mereka gunakan untuk mencapainya.
Karena values merupakan tujuan atau standar hidup seseorang, maka jelaslah bahwa individu akan bersikap positif yang kuat terhadap nilai-nilai yang dianutnya. Dengan demikian, nilai-nilai dapat dipandang sebagai objek-objek sikap yang sangat istimewa—nilai-nilai ini melibatkan sikap-sikap yang amat disukai, yang diarahkan pada konsep-konsep abstrak, yang berkaitan dengan tujuan-tujuan utama seseorangbagi dirinya sendiri atau untuk dunia. Selain itu, nilai-nilai sangat penting dan sentral dalam keseluruhan sistem sikap dan keyakinan seseorang—yaitu, nilai-nilai tersebut resisten terhadap perubahan, dan mempengaruhi banyak keyakinan dan sikap lainnya. Misalnya, jika dirimu lebih mengutamakan nilai-nilai kebajikan, ia akan berpengaruh pada pandanganmu tentang banyak konsep dan isu agama, serta sikapmu terhadap pemimpin nasional, teman, aktivitas, dan sebagainya. Di sisi lain, jika patriotisme merupakan nilai utamamu, dirimu menyukai aktivitas dan kepemimpinan yang berbeda: engkau mengibarkan bendera, berparade, dan bersorak menyanjung pidato patriotik.
Nilai-nilai dianggap sebagai aspek dasar sistem keyakinan individu dan penting dalam budaya kelompok sosial tertentu dan di negara tertentu. Orang mempunyai nilai-nilai yang ingin mereka tekankan dalam kehidupan mereka sendiri (berpusat pada diri sendiri) tetapi juga nilai-nilai yang ingin mereka tekankan dalam lingkungan sosial mereka (berpusat pada masyarakat). Diferensiasi ini dapat diperluas ke berbagai domain dimana kita dapat berbicara tentang nilai-nilai keluarga, nilai-nilai pekerjaan, nilai-nilai birokrasi, nilai-nilai politik, dan lain-lain. Nilai-nilai mungkin terfokus pada intra-pribadi atau antar-pribadi. Beberapa nilai mungkin berhubungan dengan kehidupan individu, sementara nilai lainnya berhubungan dengan masyarakat atau bahkan bidang politik. Nilai-nilai terakhir ini kemudian dapat dianggap sebagai nilai-nilai politik. Nilai-nilai Politik Baru dapat dikonseptualisasikan dalam tiga dimensi yang berbeda: Konflik nilai antara nilai-nilai lingkungan hidup versus nilai-nilai pertumbuhan ekonomi berakar kuat dalam pikiran masyarakat, dan di banyak negara Eropa Barat, konflik mengenai nilai-nilai lingkungan tampaknya merupakan ekspresi paling nyata dari konflik 'Politik Baru'.

Lalu, bagaimana dengan attitude atau sikap? Awalnya, terma 'sikap' mengacu pada posisi atau postur tubuh seseorang, dan terkadang masih digunakan dengan cara ini—misalnya, 'Doi duduk bersandar dengan sikap sedih.' Namun dalam ilmu sosial, terminologi ini bermakna 'postur pikiran', bukan tubuh. Ciri utama dari sebagian besar definisi sikap adalah gagasan kesiapan untuk menanggapi. Artinya, suatu sikap bukanlah perilaku, bukan sesuatu yang dilakukan seseorang; melainkan merupakan persiapan berperilaku, suatu kecenderungan merespons objek sikap dengan cara tertentu. Terma objek sikap digunakan mencakup benda, orang, tempat, gagasan, tindakan, atau situasi, baik tunggal maupun jamak. Contohnya, benda dapat berupa sekelompok orang (misalnya remaja), suatu benda mati (misalnya taman kota), suatu tindakan (misalnya makan bakso), suatu konsep abstrak (misalnya hak-hak sipil), atau suatu gagasan yang menghubungkan beberapa konsep (misalnya hak para remaja makan bakso di taman kota).
Sebuah sikap merupakan satu-kesatuan, namun mempunyai tiga aspek atau komponen: afektif, behavioral atau perilaku, dan kognitif. Komponen afektif (emosional) mengacu pada perasaan dan emosi yang dimiliki seseorang terhadap objek. Misalnya, 'Naik sepeda motor itu menyenangkan.'
Komponen perilaku, terdiri dari kecenderungan tindakan seseorang terhadap objek. Misalnya, 'Gua naik motor setiap ada kesempatan.'
Komponen kognitif, terdiri dari gagasan dan keyakinan yang dimiliki seseorang mengenai objek sikap. Misalnya, 'Naik motor lebih hemat bensin daripada mobil.'
Kebiasaan dapat dengan mudah dibedakan dari sikap. Kebiasaan merupakan pola perilaku yang sering diulang, sedangkan sikap bukanlah perilaku itu sendiri, kendati sikap dapat ditunjukkan dalam respons perilaku. Kebiasaan biasanya cukup otomatis dan terstandar dalam cara pelaksanaannya, namun memerlukan kehadiran objek stimulus yang sesuai agar dapat terjadi (misalnya, mengatakan 'pak' kepada atasan). Sebaliknya, sikap dapat diekspresikan dalam berbagai cara, dan bahkan tanpa adanya objek stimulus. Seperti kebanyakan sikap, kebiasaan dipelajari melalui pengalaman; namun, tidak seperti sikap, kebiasaan seringkali bersifat non-evaluatif.

Opini atau pendapat merupakan suatu konsep yang penting dan berkaitan erat dengan konsep sikap. Terkadang kedua istilah ini digunakan secara sinonim, akan tetapi, lebih sering terjadi pembedaan antara sikap dan opini. Opini bersejajar dengan beliefs (keyakinan)—seringkali merupakan evaluative beliefs (keyakinan evaluatif)—yakni keyakinan yang menyatakan sebuah pertimbangan nilai terhadap suatu objek. Beliefs atau keyakinan merupakan pernyataan yang menunjukkan kemungkinan subjektif seseorang bahwa suatu benda berciri tertentu.

Bayangkan dikau bertemu seseorang untuk pertama kalinya. Saat dirimu pertama kali melihatnya, engkau akan mengenalinya sebagai seorang manusia dan seorang wanita, dan dikau memperhatikan fakta-fakta tertentu tentang dirinya—mungkin tinggi badannya, bentuk tubuhnya, dan warna rambutnya, atau jenis pakaian yang dikenakannya. Dikau juga dapat menyimpulkan fakta lain tentangnya—memperkirakan usia dan aktivitasnya berdasarkan perilakunya, atau menebak di mana ia tumbuh besar berdasarkan aksennya. Selain itu, engkau mungkin akan membuat penilaian lain yang lebih subyektif tentang dirinya—kepribadiannya, minatnya, daya tariknya, kecerdasannya, keramahannya, dan sebagainya. Beberapa penilaianmu mungkin dipengaruhi oleh stereotip yang engkau miliki tentang berbagai kategori orang—tentang orang Selatan, orang yang kelebihan berat badan, tipe atletik, atau sosialita. Meskipun engkau baru saja bertemu dengannya, dirimu sudah punya ekspektasi dan opini tentang dirinya.
Seluruh jenis persepsi dan penilaian ini, masuk ke dalam ranah social cognition (kognisi atau pemahaman sosial). Kognisi sosial mengacu pada proses berpikir kita tentang orang lain, diri kita sendiri, dan keadaan sosial—yaitu, bagaimana kita memahami dan mengenali stimulus sosial. Kognisi sosial mencakup cara orang mengumpulkan informasi sosial, mengaturnya, dan menafsirkannya. Ia erat kaitannya dengan topik sikap, sebab persepsi sosial, keyakinan, dan atribusi merupakan komponen kognitif yang menjadi dasar sikap.
Persepsi terhadap manusia berbeda dengan persepsi terhadap objek. Kita memandang manusia (dan terkadang hewan, tetapi bukan benda mati) sebagai agen penyebab. Mereka melakukan hal-hal tertentu, dan mereka punya berbagai niat dan sifat pribadi, sedangkan objek tak dipandang memiliki khasiat, niat, atau sifat sebab-akibat yang intrinsik.

Masyarakat menggunakan jalan pintas yang nyaman dalam pemikiran dan pengambilan keputusannya, salah satu jalan pintas yang paling umum adalah penggunaan stereotip. Istilah stereotip telah digunakan secara luas, hanya sebagai gambaran mental atau seperangkat keyakinan umum, yang dianut seseorang tentang sebagian besar anggota kelompok sosial tertentu. Masyarakat seringkali mengembangkan stereotip tentang kelompoknya sendiri dan juga tentang kelompok luar yang bukan miliknya. Stereotip berkembang dan bertahan karena berguna. Prinsip-prinsip tersebut mereduksi kompleksitas dunia di sekitar kita menjadi beberapa garis panduan sederhana, yang dapat kita gunakan dalam pemikiran dan pengambilan keputusan kita sehari-hari. Jika kita 'mengetahui' bahwa 'semua politisi jahat', kita bisa mengabaikan skandal pemerintah tanpa harus berpikir keras tentang apa yang harus dilakukan untuk mencegah atau mengendalikannya. Demikian pula, jika kita yakin bahwa 'perempuan itu tak rasional', kita takkan mempekerjakannya menjadi pengacara kita. Sayangnya, semakin sederhana dan nyaman suatu stereotip, semakin besar kemungkinan stereotip tersebut tak akurat, paling tidak, sebagian.
Seperti keyakinan dan sikap lainnya, stereotip yang dimiliki seseorang acapkali bukan merupakan hasil pengalaman pribadi dengan kelompok yang bersangkutan. Ia juga mungkin sebagian besar atau seluruhnya berasal dari satu atau lebih hal berikut ini: Pengajaran secara eksplisit, terutama ketika anak-anak masih kecil, mereka kerapkali diberikan informasi stereotip yang eksplisit oleh orangtuanya ketika diajari tentang kehidupan ('kucing itu baik,' ' politisi sialan,' 'komite kotor,' 'polisi jujur,' atau 'kebrutalan polisi'). Nantinya, teman sebaya dan guru juga bisa menularkan stereotip secara langsung.
Pembelajaran insidentil, khususnya dari media massa. Biasanya merupakan proses pembelajaran asosiatif, dimana anggota suatu kelompok sosial berulangkali dipasangkan dengan karakteristik pribadi tertentu. Misalnya, dari waktu ke waktu, gambar-gambar di film-film lama menampilkan orang kulit hitam sebagai orang yang malas atau bodoh, atau orang Arab atau Muslim adalah para teroris.

Seberapa banyak yang dirimu ketahui tentang Urusan Publik? Sebagai orang terdidik, belajar itu bagian dari hidupmu. Dirimu terbiasa menerima informasi setiap hari, membahasnya, dan (kita berharap) menggunakannya dalam aktivitas rutinmu. Sebagian besar temanmu, barangkali, merupakan pula individu terpelajar yang tertarik dengan isu terkini. Ada beberapa fakta yang diketahui hampir semua orang. Salah satu jenis informasi yang banyak dimiliki adalah pemaparan terhadap istilah-istilah dan isu-isu, berbeda dengan pengetahuan tentang isu-isu tersebut. 'Ya, gua tahu, pernah denger sih,' dan bukannya memberikan informasi yang benar mengenai topiknya. Akibatnya, persentase orang yang hanya 'mengetahui' topik, biasanya jauh lebih tinggi dibandingkan pertanyaan yang memerlukan informasi yang benar jawabannya. Daripada sekadar memaparkan istilah-istilah atau isu-isu, salah satu kategori informasi yang banyak diketahui adalah nama-nama pemimpin nasional tingkat paling atas.
Karena sikap merupakan suatu kecenderungan untuk memberikan tanggapan positif atau negatif terhadap suatu objek tertentu (orang, ide, dll.), engkau tak dapat bersikap sampai dirimu punya perasaan terhadap objeknya, dan perasaan biasanya didasarkan pada setidaknya beberapa informasi yang terpisah-pisah. Oleh karenanya, suatu sikap dapat terbentuk jika pengalaman awalmu dengan suatu objek memunculkan perasaan menyenangkan atau tak menyenangkan terhadap objek tersebut. Namun, seringkali pengalaman dan informasi awal mengenai suatu objek, tak disertai dengan perasaan evaluatif, dan jika demikian, belum ada sikap terhadap objek tersebut.

Ada situasi dimana orang lebih cenderung menerima argumen berdasarkan emosi dan keyakinannya, dibanding berdasarkan fakta, dan keadaan ini dikenal sebagai Post-Truth. Wikipedia menerjemahkannya sebagai Pascakebenaran, namun daku lebih suka meminjam ungkapan Dahlan Iskan, mantan CEO Jawa Pos Group, yang menyebutnya sebagai satire 'Kebenaran Baru'.
Fenomena 'post-truth', kata Lee C. McIntyre, menjadi perhatian publik pada bulan November 2016, ketika Oxford Dictionaries menobatkannya sebagai kata terbaik tahun 2016. Setelah melihat lonjakan penggunaan sebesar 2.000 persen selama tahun 2015, pilihannya tampak jelas. Di antara pesaing lain yang masuk dalam daftar tersebut adalah 'alt-right' dan 'Brexiteer', yang menyoroti konteks politik pemilihan tahun tersebut. Sebagai ungkapan umum, 'post-truth' sepertinya menangkap perkembangan zaman. Mengingat pengaburan fakta, pengabaian standar pembuktian dalam penalaran, dan kebohongan yang terjadi pada pemungutan suara Brexit tahun 2016 dan pemilihan presiden AS, banyak orang merasa terkejut.
Usai pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016, Trump mengklaim bahwa ia sebenarnya telah memenangkan suara populer (yang diraih Hillary Clinton dengan hampir 3 juta suara), jika dikurangi jutaan orang yang telah memilih secara ilegal. Dan ia menggandakan klaimnya bahwa—meskipun ada konsensus dari tujuh belas badan intelijen Amerika—Rusia tak meretas pemilu Amerika. Salah seorang kepercayaannnya, nampak menerima kekacauan ini dengan berargumen bahwa 'sayangnya, gak ada lagi fakta seperti itu.'
Setelah dilantik sebagai presiden pada tanggal 20 Januari 2017, Trump melontarkan serangkaian kebohongan baru: bahwa ia meraih kemenangan elektoral terbesar sejak Reagan (padahal kagak); bahwa kerumunan orang pada pelantikannya, yang terbesar dalam sejarah AS (bukti foto menyangkalnya, dan catatan Metro di Washington, DC menunjukkan jumlah penumpang kereta bawah tanah pada hari itu); bahwa pidatonya di CIA mendapat tepuk tangan meriah (ia tak pernah meminta para pejabat duduk). Pada awal bulan Februari, Trump mengklaim bahwa tingkat pembunuhan di AS berada pada titik tertinggi dalam empat puluh tujuh tahun (padahal sebenarnya Uniform Crime Report dari FBI menunjukkan angka tersebut berada pada titik terendah dalam sejarah). Hal terakhir ini, sepertinya amat membagongkan sebab mengambil contoh kebohongan yang pernah disampaikan Trump pada konvensi Partai Republik, saat ia sedang mencari cara mendorong gagasan bahwa kejahatan sedang meningkat.

Kita amat mungkin membayangkan bursa yang tak kalah menakutkannya di ruang bawah tanah Kementerian Cinta di lembaran-lembaran novel dystopian karya George Orwell, 1984. Memang, sekarang orang khawatir bahwa kita sedang dalam perjalanan mewujudkan visi kelam itu, dimana kebenaran adalah korban pertama dalam pembentukan negara otoriter.
Oxford Dictionaries mendefinisikan 'post-truth' sebagai 'yang berkaitan dengan atau menunjukkan keadaan dimana fakta obyektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan daya tarik emosi dan keyakinan pribadi.' Dalam hal ini, mereka menggarisbawahi bahwa awalan 'post' dimaksudkan agar menunjukkan bukan gagasan bahwa kita adalah 'past' truth dalam makna temporal (seperti dalam 'post war') namun dalam arti bahwa kebenaran telah hilang cahayanya—tak relevan lagi. Ia menjadi perdebatan bagi banyak filsuf, namun perlu dicatat bahwa ia lebih dari sekadar perselisihan akademis. Pada tahun 2005, Stephen Colbert memunculkan istilah 'truthiness' (didefinisikan sebagai teryakinkan oleh apakah sesuatu terasa benar, meskipun hal tersebut belum tentu didukung oleh fakta) sebagai respons terhadap sikap berlebihan George W. Bush yang mengandalkan 'nyalinya' pada keputusan besar—seperti pencalonan Harriet Miers pada Mahkamah Agung AS atau perang di Irak tanpa bukti yang memadai mengenai senjata pemusnah massal. Ketika terma ini terbentuk, 'truthiness' dipandang sebagai lelucon kakap, namun orang-orang tak tertawa lagi.

Dengan kampanye Brexit yang sebagian besar fact-free [tanpa mengindahkan kebenaran] di Inggris—dimana ratusan bus mengiklankan statistik palsu bahwa Inggris mengirimkan 350 juta euro per minggu ke UE—dan meningkatnya penggunaan kampanye disinformasi oleh politisi terhadap rakyat mereka sendiri di Hongaria, Rusia, dan Turki, banyak yang melihat post-truth sebagai bagian dari tren internasional yang berkembang dimana ada orang merasa berani berupaya membengkokkan fakta agar sesuai dengan pendapat mereka, dan bukan sebaliknya. Ini bukan berarti bahwa kampanye mengungkapkan fakta itu, tak penting, melainkan sebuah keyakinan bahwa fakta selalu dapat ternaungi, terpilih, dan tersajikan dalam konteks politik yang mendukung sebuah penafsiran kebenaran dibandingkan penafsiran lainnya. Mungkin inilah yang dimaksud oleh chief surrogate-nya Trump, Kellyanne Conway, dikala ia menyatakan bahwa sekretaris pers Sean Spicer bermaksud menyajikan 'fakta alternatif' mengenai jumlah hadirin pada saat pelantikan, ketika Trump tampak gregetan dengan foto resmi US Park Service, yang menunjukkan ribuan kursi kosong.
Jadi, semata tentang kebohongankah post-truth itu? Sekadar pemlintiran politikkah ia? Gak gitu-gitu amat sih, kata McIntyre. Seperti yang dipaparkan dalam perdebatan saat ini, kata 'post-truth' bersifat normatif. Ia merupakan ekspresi keprihatinan mereka yang peduli terhadap konsep kebenaran dan merasa bahwa konsep tersebut sedang diterjang. Namun bagaimana dengan mereka yang merasa bahwa mereka hanya mencoba menuturkan 'the other side of the story' mengenai topik kontroversial? Adakah benar-benar dalil guna mengajukan fakta alternatif? Gagasan tentang sebuah kebenaran objektif, tak pernah lepas dari kontroversi.
Kita terusin lagi topik 'post-truth' ini pada sesi selanjutnya. Bi 'idznillah."

Senduro pun bersenandung,

I wish I could escape
[Ku berharap ku dapat lepas]
I don't wanna fake it
[Ku tak ingin memalsukannya]
Wish I could erase it
[Ku berharap kudapat menghapusnya]
Make your heart believe
[Jadikan hatimu percaya]
But I'm a bad liar *)
[Tapi aku pendusta cendala]
Kutipan & Rujukan:
- Stuart Oskamp & P. Wesley Schultz, Attitudes & Opinions, 2005, Lawrence Erlbaum Associates, Inc.
- Justin Fisher, Edward Fieldhouse, Mark N. Franklin, Rachel Gibson, Marta Cantijoch & Christopher Wlezien (Eds.), The Routledge Handbook of Elections, Voting Behavior and Public Opinion, 2018, Routledge
- Lee C. McIntyre, Post-Truth, 2018, Massachusetts Institute of Technology
*) "Bad Liar" karya Aja Volkman, Benjamin Arthur McKee, Daniel Coulter Reynolds, Daniel James Platzman, Daniel Wayne Sermon & Jorgen Michael Odegard