Jumat, 07 September 2018

Siapakah Kawan Sejatiku?

Lalu, burung kenari bersenandung,

Wahai nanda yang terlena,
dunia ini penuh angkara
namun engkau telah membina
swargaloka milikmu
itulah mengapa aku membalutmu,
nanda yang terlena

Jika semua manusia
di penjuru dunia
punya benak sepertimu
kita takkan bergaduh
dan tak ada saling beradu
Akan ada ketenteraman abadi
diatas bumi *)

Pipit berkata pada Elang, "Tunggu saudaraku, aku ingin menanyakan sesuatu padamu!" Elang berkata, "Apa itu?" Pipit berkata, "Siapakah yang layak menjadi kawan kami? Berilah kami nasehat!" Elang berkata, "Islam membawa pesan kesejahteraan. Ada kewajiban dan tugas wajib di antara kerabat, tetangga, mitra kerja; dan teman-teman dalam Islam, dan ini semua hak asasi manusia yang telah dijelaskan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah (ﷺ). Selain itu, para pendahulu kita yang shalih atau para Salaf, memberikan banyak teladan yang baik, tak hanya bagi masyarakat Muslim, tetapi juga bagi orang-orang beragama lain. Islam adalah agama kejernihan, persaudaraan, kebaikan dan kasih sayang, sebagaimana terbukti dalam banyak ayat-ayat didalam Kitabullah dan banyak hadits dalam Sunnah Rasulullah (ﷺ) yang mengatur akhlaq mulia yang dibawa Islam.
Imam Malik, rahimahullah, berkata, "Manusia itu ada banyak ragamnya, ibarat burung, merpati berkumpul dengan merpati, burung elang dengan kumpulan elang, bebek dengan bebek dan burung kecil dengan burung kecil lainnya. Demikian pula, setiap manusia bergaul dengan ragamnya sendiri." Imam Asy-Syafi'i, rahimahullah, berkata kepada Yunus bin Abdul-A'la, "Wahai Abu Musa, ketahuilah bahwa menyenangkan semua orang, adalah tujuan yang tak mungkin dicapai, dan bahwa tak ada cara yang benar-benar aman darinya. Oleh karena itu, lihatlah dimana manfaat keshalihanmu berada, dan patuhilah, dan tinggalkanlah orang-orang itu dan segala yang mereka turutkan sesuka hati."

Wahai saudara-saudariku, ketahuilah bahwa tak semua orang layak dijadikan kawan. Abu Hurairah, radhiyallahu 'anhu, meriwayatkan bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda, "Manusia itu, agama dari sahabatnya, maka putuskanlah diantara kalian, siapa yang patut menjadi teman." Ada tanda-tanda, kualitas dan indikasi yang membantu seseorang membedakan dan memilih siapa yang seyogyanya menjadi kawan, dan bergaul sesuai dengan apa yang diinginkan seseorang dari perkawanan atau persahabatan.
Ada keuntungan spritual dan material yang dicari dalam persahabatan atau apapun perkawanan itu. Keuntungan materi, diantaranya menghasilkan uang, ketenaran atau cukup persahabatan dan pertemanan saja. Keuntungan spiritual, diantaranya termasuk belajar ilmu agama dan meniru perbuatan dan ucapan yang benar, sehingga seseorang dapat dibantu mengusir segala jenis ketidaksucian, yang mungkin menyerang qalbu dan menghalangi ibadah. Oleh karena itu, wahai saudara-saudariku, pilihlah teman atau kawan yang bijaksana, yang santun dan shalih, yang bukan pendosa atau yang sangat mencintai dunia ini.

Kawan kita itu ibarat cermin, ia memantulkan citra diri kita dan mengungkap realita sejati dan essensi diri kita. Itulah mengapa bahwa sangatlah penting dari masing-masing kita memberi perhatian khusus untuk memilih siapa saja yang akan dipilih sebagai teman. Diriwayatkan dari Abu Musa, radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah (ﷺ) membuat perumpamaan yang luar biasa tentang kawan yang baik dan buruk, beliau bersabda, “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang buruk perangainya, ibarat berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi takkan merugikanmu; engkau bisa membeli minyak wangi darinya atau minimal engkau mencium aroma wanginya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mencium aromanya yang tak sedap.”
Al-Ma'mun pernah berkata, "Ada tiga jenis sahabat: orang yang sama pentingnya dengan makanan dan tak dapat dilakukan tanpanya. Jenis kedua ibarat obat, digunakan pada waktu tertentu, namun tidak di waktu yang lain. Yang ketiga, ibarat penyakit, selalu tak diperlukan. Namun, seseorang kemungkinan besar dicoba dengan tipe yang terakhir ini, meskipun tak ada kenyamanan atau kesenangan dalam berteman dengan mereka."

Dikatakan bahwa manusia itu ibarat pohon dan tanaman: ada yang punya keteduhan namun tak berbuah, dan inilah perumpamaan jenis yang dipergunakan dalam kehidupan ini, namum tak bermanfaat di akhirat, hanya sebuah naungan yang segera lenyap dan menghilang. Ada pohon dan tanaman yang menghasilkan buah, tetapi tak memberikan keteduhan, dan inilah perumpamaan jenis yang berguna untuk akhirat, namun tak bermanfaat dalam kehidupan ini. Ada pohon dan tanaman yang memberikan naungan dan berbuah (dan inilah tipe terbaik), dan ada yang tak punya manfaat sama sekali.
Inilah penyebab mengapa penting bahwa seseorang memilih teman-temannya dengan hati-hati, dalam hal ini, ada standar penyaringan yang ketat. Seseorang harus memastikan bahwa teman-temannya ada di antara mereka yang saling menasehati dalam kebenaran, dan saling mengajak dalam kesabaran, yang membantu teman-teman mereka untuk menaati Allah dan menuju ke jalan-Nya yang lurus. Atau, apakah teman-teman seseorang itu, dari tipe yang mengajak ke arah kesesatan, kegagalan dan kerugian?

Ada dua tujuan berkumpul dengan teman dan sahabat, pertama, menghabiskan waktu dan mencari kawan bicara, dan tipe seperti ini membawa kerugian melebihi manfaatnya. Setidaknya, yang bisa dikatakan tentang bergaul dengan tipe ini adalah, bahwa mereka menyibukkan qalbu dan membuang waktu yang berharga. Kedua, bergaul dengan mereka yang saling membantu dalam kehsalihan, kebenaran dan kesabaran. Sesungguhnya, tipe inilah sebuah anugerah, sesuatu yang berharga, yang membawa manfaat luar biasa. Namun, ada tiga jenis kemunduran yang akan mungkin mengurangi manfaat yang diperoleh dari bergaul dengan tipe ini: saling menarik untuk mengucapkan dan melakukan hal-hal yang tak pantas, terlalu banyak bauran dan ucapan yang berlebihan, dan hubungan ini menjadi kebiasaan yang secara bertahap membawa kenyamanan, namun tak dimulai dari manfaat spiritual. Sesungguhnyanya, pertemanan itu membantu, baik itu batin yang memerintahkan kejahatan, atau qalbu dan sukma yang merasa puas dengan Iman, dan manfaat atau buah yang dihasilkan dari hubungan tipe ini, terikat pada tipenya. Adapun sukma yang baik, menerima dorongan dari para malaikat, sementara sukma-sukma yang jahat, tertarik oleh setan. Allah, dengan hikmah abadi-Nya, telah menjadikan kebaikan itu, untuk kebaikan, dan sebaliknya.
Sahabat yang tulus dan shalih, saling membantu untuk kehidupan ini dan akhirat kelak, karena persahabatan mereka suci, dan persaudaraan mereka, sejati, dan dengan demikian, pantas bahwa hubungan mereka berlanjut hingga tahap akhir kehidupan.

Aspek lain dari punya teman yang shalih, adalah bahwa mereka tetap berdedikasi mengenang teman-teman mereka yang telah tiada, bersedekah atas nama mereka dan memohon kepada Allah agar memberkahi mereka dengan rahmat, cinta, dan ampunan-Nya. Lebih jauh lagi, perumpamaan seorang teman kepada temannya adalah, ibarat dua tangan, mereka saling membasuh. Teman-teman bekerjasama dalam saling membimbing dan mengarahkan menuju kebaikan, berbagi walau dalam baik maupun dalam keadaan sulit, dan saling membantu dalam keshalihan melewati perjalanan dari kehidupan dunia ke akhirat. Namun, jika seseorang tak dapat menemukan teman yang shalih dan seorang saudara karena Allah, maka kesendirian, membaca Al-Qur'an dan membaca buku-buku yang bermanfaat lebih baik baginya daripada berteman dengan yang jahat dan berperangai buruk.
Ketika seseorang hidup di masa-masa sulit dan menderita kesukaran, kawan shalihnya yang setia akan membedakan dirinya dari orang lain dengan menawarkan nasihat yang tulus dan perasaan tenteram kepada teman yang menderita, dengan demikian, mengurangi pengaruh dari kesulitan yang dideritanya dan beban yang dibawanya. Namun, ketika dalam keadaan yang lapang dan hidup ini tersenyum kepada seseorang, ia akan menemukan banyak teman dan sahabat.
Selalu berprasangka baik tentang apa yang dilakukan temanmu, kecuali engkau mendengar sesuatu yang pasti tentang perilakunya yang akan memaksamu berpisah dengannya. Waspadalah terhadap musuhmu dan berhati-hatilah dengan teman-temanmu, kecuali yang setia dan jujur di antara mereka dan tentu saja, hanya mereka yang takut kepada Allah, yang setia dan jujur kepada teman-teman mereka. Jangan berteman dengan orang jahat, karena engkau mungkin belajar dari kefasikan mereka, dan jangan pernah membeberkan aibmu kepada orang-orang semacam ini.
Ada hak dan kewajiban dengan adanya pertemanan. Sebagai contoh, Sa'id bin Al-'Aas berkata, "Temanku punya tiga hak atasku: jika ia mendekat, aku menyambut kedekatannya, jika ia berbicara, aku mendengarkan, dan jika ia ingin duduk, aku memberi tempat untuknya." Allah menyebutkan hak dan tanggung jawab ini ketika Dia menggambarkan perilaku dan tingkah laku orang-orang beriman terhadap satu sama lain, yakni "Saling menyayangi."

Bergaul dengan orang yang shalih, membantumu saat engkau membutuhkan dan mengingatkanmu ketika engkau berbuat salah. Mereka membantumu dalam keshalihan dan ketaqwaan serta menganjurkan kesabaran kepadamu. Karena itu, bertemanlah dengan orang-orang shalih dan bertetanggalah dengan orang-orang yang shalih. Sebagai perbandingan, jenis pertemanan lain, orang jahat dan pendosa, menawarkan ini: mengumpan untuk berbuat dosa, mendorong untuk mengabaikan tindakan kepatuhan dan mengarahkan untuk melakukan apa yang dilarang. Mengetahui jenis ini, tak membantu seseorang dalam kehidupan ini dan hanya menyebabkan kesengsaraan dan kesedihan di akhirat. Allah telah menggambarkan para sahabat dari tipe ini sebagai musuh satu sama lain pada Hari Kebangkitan, sehingga segeralah mengakhiri hubungan dan persahabatan ini.
Bergaul dengan orang bodoh, akan membawa berbagai jenis kesulitan dan kesukaran. Mereka membangunkanmu dalam kelelahan; mereka melaknatmu jika engkau menghindarinya. Jika mereka memberimu sesuatu, mereka akan selalu mengungkitnya; jika mereka membuatmu percaya diri, mereka menduga engkau akan membuka aib mereka; jika engkau mengatakan rahasia kepada salah satu dari mereka, ia membeberkannya; jika mereka berada di atasmu secara sosial, mereka meremehkanmu; tetapi jika mereka berada di bawahmu secara sosial, mereka mencemarkan nama baikmu.

Para Salaf punya standar yang tinggi tentang memilih siapa yang harus dijadikan teman, meninggalkan kita warisan yang bermanfaat, yang memberi kita skala prioritas untuk memilih mereka yang pantas menerima persahabatan dan pertemanan kita.
Oleh karena itu, agama adalah skala yang benar yang dapat dan hendaknya engkau pertimbangkan dari segala hal, manusia dan ucapannya. Jika tidak, seseorang akan berakhir dengan pilihan yang gagal dan buruk. Ini bukan berarti bahwa engkau akan dapat menemukan teman-teman dan sahabat yang bebas dari kesalahan atau kita harus menghindar dari teman-teman jika ada kesalahan yang terjadi pada mereka."

Lalu, Elang berkata, "Wahai saudara-saudariku, orang mukmin itu, cermin bagi saudaranya, sebuah hadits hasan yang direkam oleh Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dari Abu Hurairah, radiyallahu 'anhu, yang mengatakan bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda, "Orang mukmin itu, cermin bagi saudaranya, dan orang beriman itu, saudara orang mukmin lainnya. Ia melindunginya dari kerugian dan membelanya." Jadi, gambaram bahwa dirinya sebagai 'cermin' sangat tepat dan mendalam, yang menunjukkan puncak persaudaraan dan solidaritas. Maka, saudaramu, wahai hamba Allah, adalah citra dari dirimu sendiri. Jika ia berperilaku buruk, seolah-olah engkaulah orang yang telah berperilaku buruk, dan jika ia membuat kesalahan, seolah-olah engkaulah yang telah melakukan kesalahan. Ia adalah cermin bagimu dan kemudian citramu sendiri! Jadi janganlah memperlakukannya kecuali dengan kenyaman dan kelemah-lembutan.
Jika engkau mencari persahabatan sejati, temui teman-temanmu, dan musuh-musuhmu dengan wajah berseri, jangan merasa rendah-hati atau takut kepada mereka. Sebaliknya, hormati mereka selayaknya tanpa keengganan atau berlebih-lebihan, dan bersikaplah rendah-hati tanpa harus direndahkan. Ambillah jalan yang wajar, cara terbaik untuk menyalakan segala urusanmu dengan mereka, karena berlebih-lebihan selalu dikecam dan ditolak. Jangan terus-menerus melihat ke belakang atau melihat-lihat ke arah sekitar ketika engkau berjalan atau berbicara dengan teman-temanmu, atau berdiri dekat dengan sekelompok orang yang duduk. Sebaliknya, engkau hendaknya duduk bersama mereka atau melanjutkan perjalananmu setelah mengucapkan salam Islami, "As-Salaamu Alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh."

Saat engkau duduk, waspadalah dan jangan menyilangkan jarimu, memainkan jenggot atau cincinmu, membersihkan gigi dengan jari-jarimu, meludah, memukul lalat, atau menguap di depan orang atau saat shalat. Luangkan waktumu duduk bersama mereka dengan tenang dan ucapanmu kepada mereka tertata. Dengarkan kata-kata yang baik tanpa berlebihan merasa takjub pada mereka, dan jangan meminta mereka yang mengucapkan kata-kata ini untuk mengulanginya. Jika ada perselisihan antara engkau dan beberapa temanmu, berbasa-basilah yang baik, jangan bertindak terburu-buru dan hanya berbicara ketika engkau tak marah.
Bila engkau menghadiri majelis, sapa mereka dengan 'Salam', dan jangan memotong shaf serta duduklah di tempat dimana engkau menemukan ruang. Dengan cara ini, engkau akan lebih dekat dengan kerendahan-hati dan kesantunan, dan orang-orang akan ingin berteman denganmu karena sikapmu yang baik.
Jangan bergaul dengan orang-orang yang suka berolok-olok, namun jika terpaksa, jangan memanjakan diri dalam ucapan mereka, memfitnah, kata-kata yang buruk, atau bergaul dengan mereka secara berlebihan. Jangan bercanda dengan orang yang merasa diri lebih baik, atau dengan yang suka berolok-olok, karena jika engkau melakukannya, orang yang merasa diri lebih baik, akan menghinamu, sementara orang yang suka berolok-olok akan meremehkanmu. Sesungguhnya, bercanda mengurangi karunia seseorang dan dibenci oleh orang yang shalih. Juga, candaan yang berlebihan akan mematikan qalbu, menjauhkan diri dari Allah, mengarahkan kepada kelalaian dan aib, menjadikan hati dan pikiran kosong, dan membuka kekurangan dan aib seseorang.
Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita di antara orang-orang yang saling mencintai karena Allah, dan semoga kelak, Dia mengumpulkan kita dan orangtua, anak-anak, istri atau suami, dan kerabat kita, di Surga Firdaus. Amin.
Wallahu a'lam."
"Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah)." - [QS.5:55]
Referensi :
- Abdul Malik Al-Qasim, The Road to Good Friendship, Darussalam.
*) Terinspirasi dari "Sleeping Child" dibawakan oleh Michael Learns to Rock.

Selasa, 04 September 2018

Wahai Kawula-Muda!

Sang Elang kemudian tampil ke depan, dan berkata, "Sesungguhnya, segala puji hanya untuk Allah. Kita memuliakan-Nya, berlindung pada-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita, dan kejahatan yang kita lakukan. Sesiapa yang Allah beri petunjuk, tiada yang dapat menyesatkannya, dan sesiapa yang Allah sesatkan, tiada yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tiada yang patut disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad (ﷺ) adalah hamba dan utusan-Nya.
Wahai saudara-saudariku, dengarkanlah kisah ini, Abdurrahman bin 'Auf meriwayatkan, 'Aku berdiri di barisan pada hari Badar. Lalu, seorang bocah mendekatiku - ia berada di usia puber, atau mungkin baru saja melewati usia puber - dan berkata, "Wahai paman! Dimana Abu Jahal?" Maka, aku berkata kepadanya, "Apa yang engkau inginkan padanya?" Ia bingung, bocah ini bertanya tentang Abu Jahal, seorang kesatria, komandan kaum Jahiliyah. Bocah itu menjawab, "Kudengar, ia menghina Rasulullah (ﷺ). Demi Allah, jika aku melihatnya, bayanganku takkan meninggalkannya hingga aku membunuhnya, atau ia membunuhku.'
Kemudian, seorang bocah lain mendekatiku, yang sebaya dengan bocah sebelumnya. Ia berkata kepadaku, 'Wahai paman! Dimana Abu Jahal? "Aku bertanya padanya, 'Apa yang engkau inginkan darinya?' Ia menjawab, "Kami dengar, ia menghina Rasulullah (ﷺ). Demi Allah, jika aku melihatnya, bayanganku takkan meninggalkannya sampai aku membunuhnya, atau ia membunuhku.
Setelah beberapa saat, aku melihat Abu Jahal dari kejauhan. Aku berkata, 'Inilah lelaki yang engkau cari,' dan aku berharap, aku bisa berada di antara tulang rusuk pemuda ini, dan qalbuku, bisa seperti qalbu pemuda ini, bersemangat dan energik, serta menanti kematian. Lalu, mereka berlari menyongsongnya.

Tak lama kemudian, mereka kembali, berkata, 'Wahai Rasulullah! Kami membunuhnya! "Rasulullah (ﷺ) bertanya, "Siapa di antara kalian yang membunuhnya?" Mu'adz bin 'Amr bin al-Jamu' berkata, 'Aku melakukannya,' dan Mu'adz bin 'Afra berkata,' Aku melakukannya. ' Beliau (ﷺ) kemudian bertanya kepada mereka, 'Sudahkah kalian membersihkan pedang kalian?' Mereka berkata, "Belum." Beliau (ﷺ) berkata, 'Tunjukkan padaku.' Lalu, beliau (ﷺ) menemukan darah di kedua pedang itu, dan berkata kepada mereka, "Kalian berdua telah membunuhnya.'
Mu'adz bin 'Amr bin al-Jamu' al-Ansyari al-Khazraji as-Salami meriwayatkan, "Aku menjadikan Abu Jahal sasaranku pada hari Badar. Jadi, ketika ia akhirnya tampak dalam penglihatanku, aku mengejar dan memukulnya, menebas bagian tengah pahanya. Tiba-tiba, putranya, Ikrimah, mengiris pundakku dengan pedangnya, lenganku tergantung di tubuhku dengan selapis kulit. Hal ini membuatku terhalang bertarung selama sisa hari itu, karena aku harus menyeret lenganku! Akhirnya, ketika tak tahan lagi, kuletakkan kakiku di atas lenganku dan menyentakkan tubuhku hingga lenganku lepas. ' Mu'adz bin 'Amr bin al-Jamu', radhiyallahu 'anhu, menyaksikan Baiat Aqabah, serta Perang Badar. Ia wafat semasa pemerintahan Amirul Mukminin, 'Utsman bin Affan, radhiyallahu' anhu.

'Abdullah bin Mas'ud, radhiyallahu 'anhu, kemudian mencari-cari diantara jenazah, menemukan Abu Jahal dalam nafas-nafas terakhirnya, lalu duduk di dadanya. Abu Jahal membuka matanya, melihat Ibnu Mas'ud di atas dadanya, dan berkata, dengan cara yang merendahkan, 'Bukankah kamu salah seorang gembala kami di Mekkah? ' Ibnu Mas'ud berkata, 'Benar, wahai musuh Allah.' Abu Jahal kemudian berkata, 'Kamu telah menempatkan dirimu dalam posisi yang sulit, kamu hanya gembala unta. Kamu duduk di atas dadaku! Tak ada yang pernah duduk seperti itu, tanpa rasa hormat.' Ibnu Mas'ud kemudian berkata, 'Milik siapakah hari ini? Siapakah yang menjadi pemenang? Allah dan Rasul-Nya (ﷺ).' Abu Jahal berkata, 'Sampaikan kepada Muhammad, aku akan tetap menjadi musuhnya sampai nafas terakhirku.'
Ketika Abdullah bin Mas'ud berada di Mekkah, Abu Jahal memukulnya, melukai telinganya. Maka, ketika Ibnu Mas'ud duduk di dada Abu Jahal, ia memenggal kepalanya. Ia kemudian menusuk lubang di telinga Abu Jahl, memasukkan tali melalui lubang telinga itu, dan menyeret kepala Abu Jahal dengan tali itu. Tampaknya kepala Abu Jahal cukup besar, dan Ibnu Mas'ud, seorang yang rapuh dan lemah. Hingga, ketika Rasulullah (ﷺ) melihat kepala Abu Jahal yang terputus, beliau tersungkur dalam sujud, bersyukur kepada Allah, dan berkata, "Demi Dia Yang tiada yang patut disembah, ada Fir'aun bagi setiap ummat, dan inilah Fir'aun umat ini.' Rasulullah (ﷺ) melihat tali yang diikat melalui lubang telinga Abu Jahal, beliau teringat ketika Abu Jahal melukai telinga Ibnu Mas'ud di Mekah, dan kemudian beliau berkata kepada Ibnu Mas'ud, 'Telinga untuk telinga, dan bonus kepalanya.'
Inilah Abu Jahal, yang keberadaannya dihilangkan oleh dua bocah lelaki di awal kehidupan mereka. Mereka berusia sekitar tujuh belas tahun, yang akan menempatkan mereka di madrasah tertinggi! Masing-masing menghadapi dan membunuh ksatria elit Quraisy, Abu Jahal, mempersembahkan kepada Rasulullah (ﷺ) kabar gembira, karena akhirnya menaklukkannya. Dan jika engkau melihat pada pertempuran Badar, Khandaq, Mu'tah, dll., tiadalah engkau 'kan temukan, melainkan para kawula-muda.

Karena itu, wahai kawula-muda, dengarkanlah! Setiap negara akan sejahtera dengan bantuan warga negaranya, dan Dien ini takkan mendapatkan kekuatan melainkan oleh para pengikutnya. Ketika pengikut Islam akan berdiri di sisinya, Allah akan menolong mereka, tanpa pedulikan seberapa banyak musuh yang dihadapi. Jika Dien ini tak dapat kuat melainkan oleh pengikut-pengikutnya, maka penting bagi kita, para pengikut Islam dan para pembawa benderanya, bahwa kita hendaknya memperkuat diri kita terlebih dahulu, sehingga kita layak mendapat petunjuk dan tuntunan. Sangat penting bahwa kita belajar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah (ﷺ) yang akan memperlengkapi kita untuk bicara, bertindak, memandu dan berdakwah. Inilah yang akan memungkinkan kita, memberi senjata tuntunan Islam kepada para pencari kebenaran, dan juga menggunakannya untuk melawan para pencari kebohongan.
Maka perlu bagi kita, menerapkan apa yang telah kita pelajari dari Al-Qur'an dan Sunnah, atas dasar iman, keyakinan dan ketulusan. Karakteristik kita tak boleh hanya berupa ucapan, karena jika ucapan tak didukung oleh tindakan, pengaruhnya takkan melebihi pembicaranya, dan ucapannya hanya akan nenjadi pilihan yang terbalik.

Islam memberikan rancang kehidupan yang sempurna, yang mengatasi masalah manusia di setiap tahap kehidupan. Tak terkecuali dilema yang dihadapi oleh kawula muda masa-kini. Kekhawatiran dan kesalahpahaman menyelinap ke dalam pikirannya, membuatnya merasa bingung dan tertekan, dan dapat menyebabkan mereka berpaling ke arah yang salah; ini dapat menyebabkan mereka tersesat. Allah Sang Pencipta, bagaimanapun; telah memberikan tuntunan lengkap kemanusiaan yang, jika dipahami dan diikuti, menawarkan petunjuk, walau benak dan qalbu itu sangat bermasalah. Kawula-muda yang mengikuti tuntunan Allah, akan menjadi sumber kehormatan, inspirasi, dan kekuatan untuk komunitas muslim global. Mereka memberikan harapan bagi masa depan dan penyembuhan penyakit yang mewabah di dunia. Pahala yang diberikan bukan hanya dunia ini, tetapi di kehidupan kekal yang akan datang.
Kawula muda adalah semangat suatu bangsa, sumber daya masa depan, dan harapan untuk hari esok. Merekalah urat-saraf kehidupan dan darah yang mengalir didalam urat-nadi masyarakat. Masyarakat takkan maju kecuali dengan upaya mereka."

Merpati bertanya, "Wahai saudaraku, siapa sajakah kawula-muda itu?" Elang berkata, "Banyak yang menganggap bahwa kawula-muda adalah segmen masyarakat yang berusia diantara 18 dan 40 tahun. Tapi faktanya, setiap individu dapat memainkan peran dalam masyarakat, baik itu anak-anak, orang dewasa, muda maupun tua adalah anggota kawula-muda. Oleh karena itu, partisipasi mereka tak terbatas pada usia tertentu atau jangka waktu tertentu. Seorang manusia tetap muda selama ia mampu membhaktikan-diri untuk masyarakatnya, negaranya, dan bangsanya. Jadi, ia tetap muda selama ia mempersembahkan semacam keahlian dan ilmu-pengetahuannya, baik itu pekerja, petani, karyawan, maupun majikan. "
Merpati bertanya, "Apa tugas kawula-muda?" Elang berkata, "Tugas berat diletakkan di atas pundak kawula-muda untuk membhaktikan-diri pada negara dan masyarakat. Mereka hendaknya memenuhi tugas besar ini tanpa rasa-malas atau ketertinggalan. Kawula-muda takkan memenuhi kewajiban ini sepenuhnya kecuali mereka meyakininya, menyadarinya, dan diarahkan kepadanya dengan keyakinan dan kepuasan, tak boleh ada paksaan atau kekerasan.
Jika ia didorong oleh keyakinannya yang kuat, keyakinan yang terjaga, rasa kebangsaan dan kerakyatannya, maka ia akan bekerja siang dan malam. Ia akan berusaha dalam setiap lapisan masyarakat, berbhakti kepada bangsa dan negaranya. Kawula-muda akan selalu berusaha bekerja dengan tekun dalam tujuan memajukan bangsanya dan naik menuju ke tangga peradaban.
Seorang manusia tak hanya melakukan tugasnya ketika ia terpikat atau merasa takut. Namun ia dapat melakukannya dengan cara yang terbaik saat ia memiliki iman yang tak diragukan. Dengan demikian, kita bisa yakin bahwa buah tugasnya akan dituai. Kawula-muda dalam setiap lapisan masyarakat adalah benih kemajuan, perkembangan, dan prestise. Mereka juga pangkal jatuhnya masyarakat ke dalam jurang. Sebab mereka membentuk kelompok kerja esensial dari setiap lingkup intelektual, sosial, politik, atau moral."

Merpati bertanya, "Apa hak-hak kawula-muda?" Elang berkata, "Karena peran pentingnya, kawula-muda berperan dalam mengangkat martabat bangsa, kita mungkin bertanya-tanya apa yang ditawarkan kepada setiap segmen masyarakat? Apa yang hendaknya mereka berikan agar menjamin produktivitas dan tekad mereka agar terus berlanjut, dalam melakukan tugas sepenuhnya tanpa penyimpangan ?
Karena mereka diminta memenuhi tugas mereka, sebagai imbalannya mereka punya hak-hak. Mereka hendaknya tak disalahkan jika meminta hak tersebut. Kawula-muda yang telah dewasa, ibarat bunga yang penuh kehidupan, ambisi, dan kehendak yang tak diam atau bersantai. Ia selalu membutuhkan perawatan, serta pelayanan atas kebutuhan dan masalah pribadinya. Ia membutuhkan seseorang untuk memegang tangannya dan menawarkan kepadanya, apa yang dibutuhkan dalam kehidupan ini agar ia dapat memimpin masyarakat dan negaranya, mencapai kemajuan dan tujuan yang diinginkan. Hak-hak ini bervariasi dengan waktu dan lingkungan, dan hendaknya ditangani secara hati-hati dan dibimbing untuk memenuhi kebutuhan waktu.

Jika kita mengamati para kawula-muda dengan teliti, akan mungkin bagi kita menyimpulkan bahwa kawula-muda umumnya terdiri dari tiga tipe. Tipe pertama adalah Kawula-muda yang telah terbimbing dengan benar. Merekalah kawula-muda yang sangat percaya pada semua implikasi dari Syahadatain. Mereka benar-benar percaya pada Dien mereka. Iman adalah kekasih baginya, serta bahagia dan puas dengan Iman mereka. Mereka menganggap memperoleh Iman sebagai keuntungan, dan kehilangan Iman sebagai kerugian besar. Mereka menyembah Allah dengan tulus. Mereka hanya menyembah Allah Yang tiada sekutu. Mereka mengikuti Rasulullah (ﷺ) secara praktis dalam ucapan dan tindakannya, karena mereka yakin bahwa ia adalah Utusan Allah dan pemimpin para Nabi.
Mereka menegakkan shalat dengan sempurna, sesuai kemampuan mereka, karena mereka percaya akan manfaat dan pahala agama, duniawi dan sosial yang ditemukan dalam shalat, dan konsekuensi buruk dari mengabaikan shalat, baik bagi individu maupun bangsa. Mereka yang menunaikan Zakat secara penuh, kepada mereka yang layak mendapatkannya, karena mereka percaya bahwa Zakat memenuhi kebutuhan Islam dan itulah salah satu dari lima Rukun Islam. Mereka berpuasa selama bulan Ramadan. Mereka menahan diri dari hasrat dan keinginan, baik itu di musim panas atau musim dingin, karena mereka percaya bahwa perbuatan itu untuk ridha Allah. Dengan demikian, mereka lebih mementingkan pada apa yang diridhai Allah melebihi dari yang mereka inginkan.
Mereka melaksanakan kewajiban berhaji ke Baitullah karena mereka mencintai Allah. Jadi, mereka mencintai rumah Allah dan mereka suka pergi ke tempat yang penuh dengan berkah dan ampunan, serta berkolaborasi dengan saudara-saudara Muslimnya, yang datang ke tempat-tempat ini.
Mereka beriman kepada Allah, Pencipta langit dan bumi dan Yang menciptakan mereka, karena mereka melihat diantara tanda-tanda Allah yang tak diragukan lagi walau sekejap saja menjadi bukti keberadaan Allah. Mereka melihat keunikan alam semesta yang luas ini, dalam bentuk dan sistem alam semesta, yang dengan jelas menunjukkan keberadaan penciptanya dan kekuatan total serta hikmahnya yang lengkap, karena tak mungkin alam semesta ini terjadi dengan sendirinya, juga tak mungkin terjadi secara kebetulan. Alasannya, bahwa alam semesta tak ada sebelum ia terwujud, dan ketiadaan, takkan dapat menjadikan sesuatu menjadi ada.
Alam semesta ini tak mungkin muncul secara kebetulan, karena ia memiliki sistem yang tersusun dengan unik, yang tak menyimpang dari mekanisme yang telah ditentukan untuknya. Fakta bahwa alam semesta ini memiliki sistem yang unik dan tertata dengan baik, mencegah keberadaannya secara kebetulan. Apa yang ada secara kebetulan juga akan memiliki sistem yang kebetulan, yang cenderung berubah atau terganggu dalam waktu singkat.

Mereka beriman pada malaikat-mailakat Allah karena Allah telah mewahyukan informasi mengenai para malaikat dalam Kitab-Nya, Al-Qur'an, dan Rasul-Nya (ﷺ) telah memberikan informasinya di dalam Sunnah. Al-Quran dan Sunnah menjelaskan kualitas mereka, ibadah mereka dan tindakan mereka yang dengan tetap patuh demi kebaikan ciptaan. Ini jelas menunjukkan keberadaan para malaikat.
Mereka beriman kepada para nabi dan Rasul Allah, yang Allah utus kepada ciptaannya untuk menyeru mereka ke arah yang baik, dan mengajak mereka dengan baik serta mencegah mereka dari kejahatan, sehingga manusia tak punya bukti melawan Allah setelah diutusnya para nabi. Rasul pertama adalah Nabi Nuh, alaihissalam, dan Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad (ﷺ).
Mereka beriman pada Hari Akhir dimana manusia akan dibangkitkan setelah mati, sehingga mereka dapat menyeimbangkan segala perbuatan mereka. Barangsiapa yang berbuat kebaikan seberat atom, akan menuainya, dan barangsiapa yang melakukan kejahatan seberat atom, akan menuainya pula. Inilah konsekuensi dari dunia ini, jika tidak, apa manfaat dari kehidupan dan apa hikmah dari hidup ini jika tak ada kesempatan bagi makhluk ciptaan, dimana pelaku kebaikan akan dibalas atas kebaikannya, dan pelaku kejahatan, dihukum bagi kejahatannya?

Mereka beriman pada al-Qadr, yang baik maupun yang buruk. Dengan demikian, mereka percaya bahwa segala sesuatu itu, atas seizin Allah dan telah Dia tetapkan terlebih dahulu. Ini terlepas dari keyakinan pada sebab-akibat, serta baik dan buruk itu hanyalah sarana.
Mereka mematuhi nasihat Allah, utusan-Nya, kitab-Nya, para pemimpin Muslim dan masyarakat umum. Mereka berinteraksi dengan sesama Muslim dengan keterusterangan dan keterbukaan - cara mereka melaksanakan kewajiban atas mereka. Mereka tak menyesatkan, menipu atau menyembunyikan apapun.
Mereka mengajak kembali kepada Allah dengan wawasan yang mendalam, sesuai dengan cara yang telah ditetapkan Allah dalam Kitab-Nya. Mereka mengajak pada kebaikan dan melarang kejahatan, karena mereka percaya bahwa inilah keberhasilan bangsa. Mereka berbicara kebenaran dan menerima kebenaran, karena kebenaran mengarah pada petunjuk kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke surga. Seseorang akan terus jujur dan mengejar kebenaran sampai Allah mencatatnya sebagai orang yang jujur.

Tipe kawula-muda seperti inilah kebanggaan suatu bangsa dan simbol kemakmuran dan Dien-nya. Inilah kaum-muda yang akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Merekalah kawula-muda yang kita harapkan, yang Allah, dengan rahmat-Nya, akan pergunakan untuk memperbaiki kerusakan di antara umat Islam, dan menerangi jalan spiritual para pencari kebenaran.

Tipe kedua kawula-muda adalah orang yang rusak keyakinannya, tak bertanggung jawab dalam perilakunya, dirinya disesatkan, diliputi oleh kejahatan; ia tak menerima kebenaran dari siapapun, juga tak menahan diri dari kepalsuan, serta lebih memenitngkan diri sendiri. Ia seorang kawula-muda yang keras kepala. Ia tak mau tunduk pada kebenaran. juga tak mau mmeperbaiki kekeliruannya. Ia tak peduli tentang pengabaiannya atas hak-hak manusia atau hak-hak Allah. Ia, kawula-muda yang bingung kehilangan ketidakberpihakan dalam pemikiran dan perilakunya. Demikian juga, ia tak memiliki keseimbangan dalam segala urusannya.
Ia, orang yang sombong dengan pandangannya sendiri, seolah-olah kebenaran mengalir dari lidahnya. Ia, menurut pendapatnya, bebas dari celaaan, sementara yang lain adalah sumber kesalahan dan ketergelinciran selama mereka bertentangan dengan pilihannya.
Ia telah berpaling dari jalan lurus dalam Dien-nya, dan norma perilaku yang diterima. Kejahatan tingkah-lakunya telah dibuat menarik baginya. Karena itu, ia menganggap dirinya orang yang berbudi. Dengan demikian, ia pecundang terbesar dalam hal perbuatannya. Inilah orang-orang yang usahanya sia-sia dalam kehidupan ini, sementara mereka menganggap bahwa mereka berbuat baik.
Ia pertanda buruk bagi dirinya sendiri dan malapetaka bagi masyarakatnya, orang yang mendorong bangsanya menuju tahapan terendah. Ia penghalang antara bangsanya dan kehormatan, serta kemurahan-hati, pengaruh yang mematikan, sulit diobati - kecuali jika Allah menghendaki. Allah berkuasa atas segalanya.

Tipe ketiga kawula-muda adalah yang bingung dan ragu. Ia mengakui kebenaran dan puas dengannya. Ia hidup dalam lingkungan yang terkungkung, namun pintu-pintu kejahatan, terbuka baginya dari segala arah. Keadaan ini telah menciptakan keraguan dalam imannya, penyimpangan dalam perilakunya, kelemahan dalam tindakannya, terampas dari praktik-praktik biasa dan masuknya berbagai kepalsuan yang beragam. Dengan demikian, ia berada dalam pemikiran yang kekal dan pencarian batin tak habis-hhabisnya. Menentang arus masuk ataukah gerakan kepalsuan, inilah ketidakpastian yang dihadapinya. Ia tak tahu, apakah kebenaran itu terletak pada ideologi yang berlaku atau dari jalan pendahulunya yang shalih dan lingkungannya yang terkungkung. Dengan demikian. ia ragu-ragu - terkadang ia cenderung ke satu sisi, dan terkadang ke sisi yang lain, sesuai dengan kekuatan masuknya pikiran-pikiran ini.
Kawula-muda semacam ini pasif dalam hidupnya. Ia membutuhkan kekuatan yang menarik-hatinya, yang akan membimbingnya menuju benteng kebenaran dan jalan kebaikan.

Tipe kawula-muda seperti ini, banyak ditemukan. Mereka mendapatkan sedikit sekali pendidikan Islami, namun memperoleh pengetahuan yang jauh lebih sekuler, yang bertentangan dengan dasar-dasar Dien Islam, baik dalam kenyataan atau dalam anggapan mereka. Dengan demikian, mereka tak berdaya di antara dua budaya. Bagi mereka, masih memungkinkan bebas dari ketidakberdayaan ini dengan membangun diri dalam pendidikan Islam dan memperoleh pendidikan ini dari sumber aslinya - Al-Quran dan Sunnah Rasulullah (ﷺ), di tangan Ulama yang berbhakti - dan ini takkan sulit bagi mereka.

Para kawula-muda punya masalah yang mereka hadapi, antara lain, pertama, kemalasan, penyakit yang membunuh proses berpikir, pikiran dan kekuatan tubuh, karena tubuh selalu membutuhkan gerak dan karya.
Kedua, keterasingan dan sikap acuh tak acuh diantara pemuda dan anggota keluarga yang lanjut usia atau diantara sesama kawula-muda. Kita melihat ada orangtua yang menyaksikan penyimpangan kawula-muda mereka namun ragu-ragu, bingung, tak berdaya memperkuat mereka dan membutuhkan orang lain untuk memperbaiki mereka. Akibatnya, timbul kebencian dari para kawula-muda ini, kerenggangan dan sikap tak peduli terhadap kondisi mereka, tak peduli itu keadaan yang baik atau buruk.
Ketiga, bekerjasama dengan orang-orang yang menyimpang dan bobrok, serta berteman dengan mereka. Hal ini, banyak pengaruhnya terhadap proses berfikir, pemikiran dan cara-cara yang akan ditempuh kawula-muda itu.
Keempat, membaca buku-buku dan majalah-majalah terbitan, yang merusak, yang menciptakan keraguan dalam Dien seseorang dan dalam imannya. Keadaan ini menarik seseorang menuju rusaknya karakter dan manjadikannya kufur dan mungkar.
Kelima, ada kesan dari kawula-muda bahwa Islam membatasi kebebasan dan pengekangan kekuatan. Dengan demikian, mereka berpaling dari Islam karena menganggapnya sebagai kemunduran dan penghalang antara mereka dan kemajuan. Obat untuk masalah ini adalah bahwa tabir realitas Islam diangkat dari para pemuda yang tak mengetahui realitasnya, karena kesalahan kaumnya, ilmu yang tak memadai atau keduanya. Islam tak membatasi kebebasan, namun mengendalikannya, dan sebagai saluran yang benar, sedemikian rupa sehingga kebebasan seseorang tak berbenturan dengan kebebasan orang lain."

Elang terdiam sebentar, lalu berkata, "Wahai kawula-muda, aku tak ingin banyak bicara, aku hanya ingin menyampaikan padamu bahwa engkau sekarang berada di puncak kehidupanmu, dan bahwa engkau hendaknya kembali ke Islam dengan ilmu, tindakan, dan dakwah! Sangat mudah bagimu untuk belajar, untuk bertindak, dan untuk mengajar. Jika engkau tak melakukan ini dalam masa sekarang, engkau telah membiarkan sebuah kesempatan terlewat begitu saja, engkau takkan pernah muncul lagi. Bukankah waktu berharga itu, tak dapat diganti? Engkau mungkin tak pernah lagi mengalami periode dimana engkau memiliki jumlah waktu luang ini, jadi, manfaatkanlah! Waspadalah terhadap angan-angan yang tiada putus-putusnya dan mengikuti hasratmu! Angan-angan yang tiada henti akan membuang-buang waktumu, dan jika mengikuti hasratmu akan merusak qalbumu. Wallahu a'lam."
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." - [QS.4:1]
Referensi :
- Syaikh Muhammad Salih al-'Uthaymeen,Youth's Problem, IIPH
- Abdullah Azzam, A Message to Every Youth, At-Tibyaan