Rabu, 07 Oktober 2026

Mengapa Mesin Kopi di Kantormu Lebih Mahal daripada Mobil Milikmu?

Di sebuah negeri yang sangat menghargai citra, semisal Indonesia, seseorang mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan yang terdengar sederhana: "Mengapa mesin kopi di kantormu lebih mahal daripada mobil milikmu?" Ruangan mendadak senyap. Bukan lantaran pertanyaan itu sulit dijawab, melainkan karena ia menyentuh sesuatu yang selama ini disepakati bersama agar tak dibahas, persis seperti aib keluarga yang disimpan rapi di laci paling bawah dan dikunci dengan gembok bersertifikat.

Mesin kopi itu berdiri megah di sudut kantor. Tubuhnya mengilap, lampunya berkedip-kedip bagai altar modern, dan setiap pagi orang-orang berkumpul di sekelilingnya dengan khidmat, seolah kualitas minuman yang keluar dari sana dapat menentukan masa depan bangsa. Ada yang menunduk hormat sebelum menekan tombol. Ada yang berbisik, "Jangan sentuh yang itu, itu edisi terbatas." Sementara itu, mobil tua di parkiran hanya berfungsi sebagaimana mestinya: membawa orang dari satu tempat ke tempat lain, tanpa lampu berkedip, tanpa upacara, tanpa pernah meminta dipuji. Ironisnya, yang lebih dihormati malah mesin kopinya.

Lama-kelamaan, negeri itu menjadi penuh dengan mesin kopi. Ada mesin kopi bernama gelar, yang dipasang di belakang nama dan dibawa ke mana-mana bagai perhiasan. Ada mesin kopi bernama sertifikat, yang dibingkai emas dan digantung setinggi mata supaya tak ada tamu yang luput membacanya. Ada mesin kopi bernama stempel, yang konon bisa mengubah selembar kertas biasa menjadi kebenaran hanya dengan sekali tekan. Ada pula mesin kopi bernama reputasi, yang paling mahal dan paling sering dipoles, padahal tak seorang pun ingat kapan terakhir kali ia benar-benar menyeduh sesuatu.

Di antara semua mesin itu, ada satu yang paling istimewa: mesin kopi bernama Ijazah. Wujudnya selembar kertas tebal dengan tinta yang tampak meyakinkan, logo yang berkilau, dan tanda tangan yang meliuk anggun. Pemiliknya berdiri tegak di podium, menyebut dirinya lulusan dengan nada yang tak memberi ruang bagi keraguan. Namun, jika ada yang cukup lancang bertanya di kelas mana ia duduk, dosen mana yang pernah mengujinya, atau skripsi mana yang pernah ia pertahankan, jawabannya selalu berupa penjelasan panjang tentang kualitas kertas, ketebalan tinta, dan betapa mahalnya biaya pencetakannya. Bahkan, para ternak buzzer pun dikerahkan untuk membuat narasi agar lebih panjang, walau para buzzer itu ternyata berlogika otak dengkul.

Sebagian dari mereka bahkan tak perlu repot memalsukan kertas. Cukup dengan keyakinan yang kekeuh, mereka mengaku telah tamat, padahal syarat kelulusan tak pernah dipenuhi: mata kuliah belum tuntas, sidang kelulusan belum dijalani, kewajiban belum ditunaikan. Mereka laksana orang yang mengumumkan diri telah sampai di tujuan, padahal mobilnya masih terparkir di halaman dengan ban kempis. Yang mengherankan, tepuk tangan tetap bergemuruh. Orang-orang terlanjur terpukau oleh kilau mesin, dan tak seorang pun mau repot memeriksa adakah air di dalamnya, adakah biji kopi, atau sekadar lampu yang pandai berkedip.

Tiada yang benar-benar tahu bagaimana mesin-mesin itu dibuat. Tiada yang berani membuka tutupnya. Tiada yang hendak memeriksa kabel-kabel di dalamnya, sebab siapa tahu yang ditemukan bukan kabel, melainkan kardus yang dicat perak. Maka semua orang sepakat memuji kilau luarnya saja, sebab memuji jauh lebih murah daripada menelisik, dan jauh lebih aman daripada bertanya.

Tatkala seseorang bertanya apakah mesin itu benar-benar bekerja sebagaimana mestinya, para penjaga gedung seketika menjelaskan spesifikasi cat pada permukaannya. Bilamana seseorang meminta melihat bagian dalamnya, mereka menunjukkan betapa mahal harga bingkainya. Dikala seseorang mempertanyakan asal-usulnya, mereka menjelaskan betapa banyak orang yang telah memotretnya, lengkap dengan jumlah pengikut dan tanda suka. Dalam hitungan hari, si penanya dicap tidak sopan, tidak nasionalis, dan tidak menghargai pencapaian orang lain. Seakan-akan popularitas dapat menggantikan keaslian. Seakan-akan harga dapat menggantikan pembuktian. Seakan-akan pajangan dapat menggantikan isi.

Di negeri itu, kebenaran diperlakukan seperti mobil tua. Ia tak mengilap. Ia tak menarik perhatian. Ia tak dipajang di ruang utama, dan tak ada yang mau berfoto di sampingnya. Orang hanya mengingatnya bila mesin-mesin kopi mulai mogok dan semua pihak mendadak butuh tumpangan. Namun, sesungguhnya hanya mobil tua cq kebenaran itulah yang mampu membawa orang sampai ke tujuan.

Sedangkan mesin kopi, betapapun mahalnya, tetaplah mesin kopi. Ia mungkin dapat menghasilkan aroma yang menyenangkan, membuat suasana yang nyaman, bahkan membuat orang merasa lebih percaya diri. Seorang pemilik ijazah entah dari mana pun bisa tampak sangat terpelajar di bawah lampu yang tepat. Tetapi ia takkan pernah membawa siapa pun ke mana-mana. Gelar yang tak pernah diperjuangkan takkan menolong disaat jembatan perlu dihitung, pasien perlu diobati, atau hukum perlu ditegakkan. Pada saat seperti itu, kertas berstempel hanya akan berfungsi sebagai kipas, itu pun kipas yang kurang efektif.

Mungkin karena itulah pertanyaan "mengapa mesin kopi di kantormu lebih mahal daripada mobil milikmu?" terasa begitu mengganggu. Sebab pertanyaan itu sesungguhnya tak sedang membahas mesin kopi. Ia sedang bertanya mengapa kita sering menghabiskan begitu banyak tenaga untuk menjaga simbol, sementara kendaraan yang seharusnya membawa kita menuju kebenaran justru dibiarkan berkarat di halaman belakang. Ia bertanya mengapa kita rela membayar mahal agar tampak lulus, tapi enggan membayar harganya supaya benar-benar belajar.

Dan seperti semua pertanyaan yang baik, ia tak menuntut jawaban segera. Ia hanya meminta kita melihat kembali apa yang selama ini kita anggap berharga. Jadi, besok pagi, ketika engkau berdiri khidmat di depan mesin kopi kebanggaan kantor, cobalah sekali saja membuka tutupnya. Jika yang engkau temukan hanyalah kardus bercat perak dan selembar kertas yang tak pernah lulus ujian, jangan kaget. Seduh saja kekecewaan itu, tambahkan sedikit gula, lalu berjalanlah ke parkiran. Mobil tua itu masih menunggu, dan ia tak pernah berpura-pura menjadi apa pun selain dirinya sendiri.