Rabu, 08 April 2026

Hikmah Ikan dan Buaya

Di sebuah kantor kecil di Minahasa, Sulawesi Utara, seorang polisi, Aipda Vicky Aristo Katiandagho, duduk menatap tumpukan berkas bertuliskan “Kasus Korupsi–Rahasia”—kasus dugaan korupsi proyek pengadaan tas ramah lingkungan di Minahasa. Cukup memakan waktu ia menelusuri aliran uang, mengikuti jejak yang mengarah ke tangan-tangan berkuasa. Suatu pagi, datanglah surat mutasi. Ia dipindah ke pos terpencil di Polres Kepulauan Talaud. Waktunya terlalu tepat untuk disebut kebetulan.
Malam itu, Vicky merekam sebuah video pendek. Suaranya bergetar, bukan lantaran takut, tapi karena keyakinan. “Bila seekor ikan keluar dari air buat ngomongin buaya sedang sakau,” katanya, “percaya aja!” Keesokan harinya, ia menyerahkan surat pengunduran diri.
Kisahnya menyebar laksana riak air ke seluruh negeri. Ada yang menyebutnya nekat, ada yang menyebutnya berani. Namun, mereka yang memahami peribahasa itu tahu: ketika kebenaran terancam tenggelam, dibutuhkan keberanian untuk melompat keluar dari air dan bersuara. (Kisah ini dirangkai dalam bentuk metafora.)

"Jika seekor ikan keluar dari air untuk memberitahu bahwa buaya sedang sakit, percayailah!." Petitih ini, yang tampak sederhana dalam citranya, sesungguhnya sarat dengan resonansi simbolis dan filosofis. Ia bukan sekadar ungkapan yang menarik, melainkan sebuah ajakan agar memandang dunia dengan lebih tajam—baik dalam ranah kehidupan sosial dan politik, maupun dalam domain pengalaman pribadi. Mengurai maknanya secara penuh adalah sebuah perjumpaan dengan kebenaran-kebenaran abadi tentang kekuasaan, keberanian, pengetahuan, dan kondisi-kondisi yang membuat kearifan dapat dijangkau oleh mereka yang bersedia mendengarkan.

Pepatah ini, amat kuat penelusurannya pada masyarakat Yoruba di Afrika Barat, khususnya Nigeria, dalam bentuk kata-kata: "Jikalau ikan keluar dari air untuk mengatakan bahwa buaya sedang sakit, tak seorang pun boleh meragukannya." Ungkapan ini tak dibuat oleh satu pengarang pun, melainkan milik tradisi komunal yang hidup. Dalam tradisi lisan Afrika, peribahasa dianggap sebagai milik bersama dan diwariskan dari generasi ke generasi—ia merupakan perpustakaan lisan dari doktrin, kebajikan, dan prinsip sosial, yang dibawa oleh para griot, tetua, dan pendongeng di sekitar api unggun, di pasar, dan dalam upacara-upacara. 

Pemahaman Yoruba atas peribahasa ini cukup spesifik: seseorang hendaklah mempercayai mereka yang langsung mengalaminya, kendati kebenarannya tampak sulit dipercaya, dan mempertanyakan mereka yang tak langsung mengalaminya, karena itu mungkin cuna gosip. Ikan, yang hidup di dalam air bersama buaya setiap harinya, adalah satu-satunya makhluk yang kesaksiannya tak bisa diragukan.

Salah satu transmisi anekdotal paling ciamik dari kearifan ini datang dari diaspora Afrika. Dalam sebuah studi akademis tentang peribahasa Yoruba dan kepemimpinan di Karibia, sebuah fabel yang berasal dari tradisi Yoruba dibagikan oleh seorang imam tinggi Yoruba Kuba berusia 78 tahun, Baba Ogunda Ariku, yang tinggal di Havana—membuktikan bagaimana tradisi lisan ini selamat melewati Lintasan Tengah dan berakar di Kuba, di mana praktik spiritual dan budaya Yoruba dipertahankan selama berabad-abad perbudakan. Kesaksian ini tentang ketahanan kebijaksanaan: pesan sang ikan, dalam satu pengertian, telah menyeberangi samudra.
 
Peribahasa ini hadir dalam beberapa varian regional di seluruh benua. BBC Africa pernah membagikan versi Ghana: "Jika seekor katak keluar dari air dan memberitahumu bahwa buaya telah mati, jangan meragukannya"—yang dikirimkan dari Ghana maupun Amerika Serikat, menunjukkan jangkauan lintas-bangsa peribahasa ini di diaspora Afrika. Penggantian ikan dengan katak, dan sakit dengan kematian, mempertajam pesan lebih jauh lagi: makhluk yang lebih kecil dan lebih rentan selalu menjadi saksi yang paling dapat diandalkan.
 
Sebuah narasi terkait muncul dalam cerita rakyat Afrika Selatan. Dalam sebuah dongeng tradisional Afrika Selatan, ikan berperan sebagai utusan yang dikirim oleh buaya—mandor yang diakui seluruh makhluk air—merundingkan perjanjian dengan Singa di tengah kemarau panjang. Ikan-ikan itu terpaksa menyeberangi lahan kering, sangat menderita di bawah terik matahari, untuk menyampaikan pesan mereka. Sang pendongeng mencatat dengan tepat: "Seekor ikan di darat kadang-kadang adalah makhluk yang sangat tak berdaya, sebagaimana kalian semua tahu." Detailnya penuh makna: kerentanan ikan itulah yang memberi bobot moral pada misinya. Ia tak menyeberangi tepi sungai untuk hal-hal yang remeh-temeh.
 
Di dunia kontemporer, peribahasa ini diterapkan dengan sangat tepat pada sosok whistleblower. Salah satu komentar modern yang banyak beredar menyatakannya secara langsung: "Ikan adalah sang whistleblower"—seseorang yang berbicara dengan pengorbanan diri yang besar, dengan kredibilitas yang lahir justru dari risiko yang ia tanggung untuk menyampaikan peringatan. Ungkapan ini menyelaraskan peribahasa kuno dengan kasus-kasus modern seperti orang dalam pemerintahan yang membongkar kesalahan institusional—mereka yang diberhentikan, dihukum, atau dipinggirkan karena menyuarakan kebenaran yang tak nyaman, namun kesaksian mereka, seiring waktu, terbukti benar.

Layak untuk dicatat tentang sebuah paralel ternama dari retorika politik Barat. Winston Churchill menggunakan buaya sebagai metafora politik dalam kritiknya terhadap kebijakan damai semu (appeasement): "Seorang appeaser adalah orang yang memberi makan buaya, dengan harapan buaya itu akan memakannya paling terakhir." [Istitilah politik penenangan, appeasement politics sering digunakan untuk menggambarkan tokoh atau negara yang menerapkan kebijakan appeasement (penenangan), yaitu strategi memberi konsesi kepada pihak agresif demi menghindari konflik—seringkali dengan mengorbankan prinsip atau kepentingan jangka panjang. Kata appeaser dalam bahasa Inggris sering berkonotasi negatif lantaran menyiratkan: menghindari konflik dengan cara yang dianggap lemah atau tidak prinsipil; mengorbankan nilai penting hanya demi kedamaian sementara.] Citra ini melakukan apa yang selalu dituju oleh retorika masa perangnya—memadatkan geopolitik ke dalam sebuah tableau moral di mana keragu-raguan menjadi keterlibatan. Meski buaya Churchill berasal dari tradisi yang sangat berbeda, konvergensinya sungguh mencolok: dalam peribahasa Yoruba maupun aforisme Churchillian, buaya melambangkan kekuasaan berbahaya yang hakikatnya tak boleh diingkari—dan keberanian dalam menamai kebenaran itu adalah kebajikan politik tertinggi.

Dimensi Sosial-Politik: Kekuasaan, Kerentanan, dan Suara yang Terpinggirkan

Dalam ekonomi simbolis, ikan dalam peribahasa ini melambangkan rakyat kecil—suara-suara yang paling sering diabaikan, dibungkam, atau diremehkan oleh struktur otoritas. Namun, justru suara-suara inilah yang paling dekat dengan realitas keseharian, menjadi saksi atas kondisi-kondisi yang sering luput dari perhatian mereka yang berada di posisi lebih tinggi. Ketika ikan memecah permukaan air, ia melakukan sesuatu yang luar biasa: ia meninggalkan elemennya sendiri demi menyampaikan pesan yang penting. Tindakan itu sendiri—mendesak, tak lazim, penuh risiko—memberi sinyal bahwa informasi yang dibawanya bukanlah hal yang sepele. Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed (1970), berargumen bahwa kaum tertindas, bukan penindas, yang bervisi paling jernih tentang disfungsi sistemik, sebab merekalah yang paling langsung dan seketika merasakan dampaknya.¹ Ikan, dalam ungkapan ini, adalah pembawa pengetahuan yang persis seperti itu.

Buaya, sebaliknya, melambangkan kekuasaan—tangguh, kasip, dan tampak tak tergoyahkan. Ungkapan ini menegaskan bahwa sang buaya sedang sakit. Detail ini bersignifikansi filosofis yang penting, sebab ia meruntuhkan asumsi umum bahwa kekuasaan bersifat mandiri dan kebal dari kerusakan. Michel Foucault, dalam Discipline and Punish (1975), menunjukkan bahwa walau bentuk kekuasaan yang paling menyeluruh sekalipun pada dasarnya rapuh, bergantung pada sistem pengawasan dan penegakan yang rumit untuk mempertahankan penampakan kekuatannya.² Buaya yang jatuh sakit, dalam terang ini, adalah struktur kekuasaan yang kontradiksi internalnya telah mulai memanifestasikan diri—sebuah sistem yang di balik fasad kekuatannya menyimpan kerentanan yang semakin dalam.

Imperatif peribahasa mempercayai ikan membawa implikasi mendalam bagi kehidupan politik. Ia menyarankan bahwa kearifan, dalam ranah sosial-politik, tak terletak pada konsultasi dengan narasi-narasi resmi atau pada nasihat mereka yang berada di lingkar kekuasaan, melainkan pada kepekaan terhadap kesaksian kaum yang terpinggirkan. Mengabaikan ikan berarti menutup mata terhadap tanda-tanda awal runtuhnya sistem; mendengarkannya berarti membuka jalan menuju keadilan dan transformasi sosial. Dalam pengertian ini, peribahasa ini bergema dengan tradisi panjang pemikiran yang menempatkan kebenaran bukan di pusat, melainkan di pinggiran—bukan dalam pernyataan-pernyataan mereka yang berkuasa, melainkan dalam pengalaman-pengalaman mereka yang telah dipinggirkan oleh kekuasaan.

Dimensi Personal: Keberanian, Intuisi, dan Kerapuhan Kepastian

Pada tataran pengalaman pribadi, peribahasa ini berbicara tentang tema keberanian dan intuisi dengan cara yang sangat langsung. Ikan yang meninggalkan air adalah tindakan yang menentang logika pertahanan diri: air adalah elemen ikan, habitatnya, medium kelangsungan hidupnya. Meninggalkannya, meski sejenak, adalah menghadapi risiko kematian. Gambaran ini memetakan momen-momen dalam kehidupan manusia ketika seseorang harus melangkah melampaui batas-batas kenyamanan, konvensi, atau keamanan demi menyampaikan sebuah kebenaran yang mendesak. Hannah Arendt, dalam The Human Condition (1958), berargumen bahwa kesediaan untuk bertindak di ruang publik—untuk mengekspos diri kepada pandangan orang lain dan menanggung risiko berbicara—adalah fondasi kebebasan politik dan keberadaan diri yang autentik.³ Kemunculan ikan dari air, dalam istilah Arendtian, adalah sebuah momen tindakan politik yang sejati: langka, berbiaya tinggi, dan bermakna secara tak tereduksi.

Peribahasa ini juga mengundang perenungan tentang apa maknanya dikala mereka yang biasanya diam, mendadak bersuara, atau ketika tanda-tanda yang selama ini absen, mulai bermunculan. Penyimpangan dari yang biasa semacam itu membawa bobot yang tak dimiliki oleh kejadian-kejadian rutin. Semua itu menuntut kualitas perhatian yang berbeda—yang bersedia melayani kemungkinan-kemungkinan yang tak menyenangkan, merevisi asumsi-asumsi yang telah mapan, mengakui bahwa struktur-struktur yang selama ini dianggap pasti mungkin lebih tidak aman dari yang tampak. Albert Camus, dalam The Myth of Sisyphus (1942), mengajukan bahwa bentuk kebijaksanaan pribadi tertinggi terletak pada menghadapi absurditas eksistensi tanpa berkedip—dalam menolak penghiburan kepastian palsu dan merangkul, sebagai gantinya, kondisi keterbukaan yang terus-menerus.⁴ Pesan ikan tentang buaya yang gering adalah, dalam pengertian ini, sebuah pesan yang absurd: ia mengontradiksikan tatanan persepsi yang berlaku dan meminta kita untuk mempercayai apa yang kebiasaan pikiran kita akan menolak.

Buaya, dalam register personal, menjadi metafora bagi hal-hal dalam kehidupan kita sendiri, yang secara keliru kita anggap tak tergoyahkan: hubungan yang tampak tak terpecahkan, karier yang seolah tak tergoyahkan, keyakinan tentang diri kita dan dunia yang tak pernah kita pertanyakan. Pepatah ini mengajarkan bahwa kekuatan tak pernah mutlak, bahwa setiap kepastian yang tampak menyimpan benih kehancurannya sendiri, dan bahwa kesediaan untuk mempersepsi hal ini—betapapun menggelisahkan—adalah permulaan dari kearifan yang sejati. Mempercayai ikan adalah, pada tataran personal, mengembangkan kerendahan hati intelektual dan emosional yang membuat seseorang tetap responsif terhadap yang tak terduga.

Peribahasa sebagai Kritik dan Panduan: Menuju Kearifan yang Terintegrasi

Yang membuat petitih ikan-buaya ini amat kaya adalah bahwa ia beroperasi secara bersamaan sebagai kritik sosial dan nasihat pribadi. Dalam kapasitas pertama, ia menantang setiap penerimaan kekuasaan yang terlena, mengingatkan mereka yang memiliki atau menyaksikan kekuasaan bahwa ketakterlukaan itu ilusi dan bahwa suara-suara yang terkecil kemungkinannya untuk dikonsultasikan, kerapkali yang paling jujur. Dalam kapasitas kedua, ia menantang individu agar mengembangkan kemampuan perseptual dan moral yang diperlukan untuk menerima kabar yang tak menyenangkan—menolak godaan menepis yang tak lazim, yang marjinal, atau yang kontra-intuitif, dan sebagai gantinya mengembangkan jenis perhatian yang tulus dan ikhlas, yang dituntut oleh kearifan.

Ada pula dimensi resiprokal dalam logika peribahasa yang layak mendapat penekanan. Ikan mengambil risiko untuk menyampaikan pesannya. Tindakan pengambilan risiko itu sendiri adalah sebuah bentuk kesaksian: ia mengubah pesan menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar informasi, memberinya bobot moral dari sebuah pengorbanan. Menerima kesaksian semacam itu dengan skeptisisme atau ketidakpedulian bukan hanya kegagalan epistemis, tetapi juga etis—sebuah penolakan untuk menghormati keberanian yang dituntut oleh komunikasi tersebut. Penegasan Freire bahwa pendidikan yang sejati memerlukan hubungan dialogis antara guru dan murid, di mana pengalaman murid dianggap serius sebagai sumber pengetahuan, menemukan gaung yang mencolok dalam dimensi peribahasa ini.¹

Demikian pula, analisis Foucault tentang cara-cara kekuasaan memproduksi dan menekan pengetahuan menerangi politik implisit peribahasa ini.² Pesan ikan adalah, dalam satu pengertian, sebuah pengetahuan yang oleh kekuasaan buaya lebih disukai untuk tetap tenggelam. Bahwa ia muncul ke permukaan sama sekali adalah sebuah tindakan perlawanan kecil—sebuah gangguan sesaat terhadap narasi dominan. Mempercayainya adalah menyelaraskan diri, betapapun singkat, dengan klaim kebenaran di hadapan klaim kekuasaan.

Analisis Arendt tentang kerapuhan kehidupan publik—ketergantungannya pada kesediaan individu untuk bertindak dan berbicara bahkan ketika hasilnya tidak pasti—memberi peribahasa ini dimensi urgensi tambahan.³ Dunia di mana kesaksian ikan tidak diindahkan adalah dunia di mana kehidupan publik telah menyempit, di mana ruang bersama untuk penyampaian kebenaran telah dipersempit oleh ketidakpedulian atau ketakutan. Sebaliknya, dunia di mana kesaksian semacam itu diterima dan ditindaklanjuti adalah dunia di mana kondisi-kondisi bagi komunitas politik yang sejati, betapapun rapuhnya, masih terpelihara.

Akhirnya, etika eksistensial kejernihan dan keberanian Camus menyarankan bahwa peribahasa ini bukan sekadar preskripsi bagi perilaku sosial atau politik, melainkan potret kehidupan yang jujur secara filosofis.⁴ Hidup dengan cara yang dianjurkan peribahasa ini adalah menerima bahwa kepastian tidak pernah final, bahwa yang tak terduga selalu mungkin, dan bahwa kapasitas untuk terkejut—dan merespons kejutan dengan keterbukaan alih-alih penolakan—adalah salah satu kemampuan manusiawi yang paling penting. Ia adalah, dalam istilah Camus, hidup tanpa ilusi, yang bukan sebuah nasihat putus asa, melainkan secara paradoks merupakan kondisi harapan yang sejati.

Kesimpulan

Pepatah tentang ikan dan buaya bergema melampaui abad dan budaya karena ia mengungkapkan sekelompok kebenaran abadi. Ia mengingatkan kita bahwa kekuasaan pada dasarnya rapuh; bahwa pesan-pesan terpenting sering datang dari sumber yang paling tidak terduga; bahwa keberanian dan kebijaksanaan tidak terpisahkan; dan bahwa pemahaman yang sejati memerlukan kesediaan untuk terganggu. Di ranah publik, ia mengajak kita pada kerendahan hati di hadapan otoritas, pada kewaspadaan terhadap suara-suara yang telah dipinggirkan, dan pada keterbukaan terhadap tanda-tanda halus yang terus-menerus ditawarkan oleh kehidupan. Di ranah pribadi, ia mengingatkan kita bahwa hal-hal yang kita anggap pasti mungkin lebih rapuh dari yang tampak, dan bahwa kebijaksanaan terletak pada kesiapan untuk mendengar dan mempercayai apa yang mungkin lebih kita sukai untuk diabaikan. Pada akhirnya, ikan yang keluar dari air untuk bercerita tentang penyakit buaya bukan sekadar pembawa informasi: ia adalah lambang keberanian yang dituntut oleh kebenaran, dan dari kesediaan mendengarkan yang didesak oleh kearifan
Rujukan
  1. Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. 1970. New York: Continuum Publishing. Menekankan suara kaum tertindas sebagai sumber utama kebenaran sosial dan pengetahuan transformatif.
  2. Foucault, Michel. Discipline and Punish: The Birth of the Prison. 1975. Paris: Gallimard. Menunjukkan bahwa kekuasaan, betapapun dominan dalam penampilannya, secara struktural rapuh dan bergantung pada mekanisme pengawasan untuk melanggengkan dirinya.
  3. Arendt, Hannah. The Human Condition. 1958. Chicago: University of Chicago Press. Berargumen bahwa kesediaan individu untuk bertindak dan berbicara di ruang publik merupakan fondasi esensial kebebasan politik.
  4. Camus, Albert. The Myth of Sisyphus. 1942. Paris: Gallimard. Mengajukan bahwa konfrontasi berani dengan absurditas kehidupan, tanpa berlindung pada kepastian palsu, adalah isyarat penentu dari kearifan diri.