Di teater luas jagat maya, Petruk tampil bukan lagi sebagai punakawan desa, melainkan sebagai influencer modern. Tubuhnya dihiasi tanda centang biru yang dianggap sebagai lambang otoritas. Ia mengaku memiliki sebuah “naskah primbon pusaka digital” —relik yang konon membuktikan kedudukannya selama satu dekade—namun aneh bin ajaib, ia tak pernah memperlihatkannya kepada khalayak.Alih‑alih membuka naskah itu, Petruk justru memanggil Betoro Kolo, entitas gaib ciptaan algoritma, yang menyerbu platform dengan semangat tak kenal lelah. Betoro Kolo, tanpa wajah dan tanpa henti, berbaris rapi, masing‑masing menggenggam perangkat bercahaya, dengan misi jelas: menenggelamkan pertanyaan dalam riuh.“Siapa pun yang meragukan naskah Petruk adalah pembohong dan penyesat!” teriak mereka, gema suaranya memenuhi kolom komentar dan linimasa. Kerumunan digital pun terpecah: ada yang menertawakan, ada yang kebingungan, dan semakin banyak yang curiga.Petruk, sang pemain panggung, memaksakan senyum miring, yakin bahwa asap dan tontonan lebih meyakinkan daripada bukti sederhana. Betoro Kolo menari di panggung TikTok, mengatur koreografi, membuat meme, dan meluncurkan tagar #NaskahPusakaAsli dengan semangat membara.Namun, ironi berkuasa: semakin keras tagar itu bergema, semakin lantang pula pertanyaan yang muncul — “Primbonnya mannaa?”Dalang tak terlihat pun menghela napas, sebab lakon telah bergeser: ini bukan lagi tentang kebenaran, melainkan tentang siapa yang paling keras berteriak di panggung bayangan.Betoro Kolo, yang memang pinter-pinter bodoh, meluncurkan kampanye mereka dengan rentetan tagar, masing‑masing lebih megah dibanding yang sebelumnya, seolah pengulangan saja bisa menghadirkan kebenaran. Petruk, terpesona oleh tontonan itu, me‑retweet hiruk‑pikuk mereka, mengira bahwa keramaian adalah validasi, dan validasi adalah bukti. Tagar‑tagar tumbuh seperti gulma di kebun yang tak terurus: #NaskahPusakaAsli, #PercayaPetruk, #BuktiMelebihiBukti. Netizen, tak kalah usil, membalas dengan tagar tandingan, memparodikan parodi: #ManaNaskahnya, #PetrukPapersPlease, #KarnavalBetoroKolo. Medan tempur digital berubah menjadi benturan slogan, masing‑masing pihak yakin bahwa topik trending adalah ukuran realitas.Petruk tersenyum lebar. Hidung panjangnya bergetar bangga, seolah volume tagar saja sudah cukup sebagai bukti. Namun, ironi menggigit: semakin keras Betoro Kolo berteriak, semakin terasa ketiadaan naskah itu di benak khalayak.Sang Dalang, tak terlihat namun letih, mengamati bahwa lakon ini telah menjadi kontes kebisingan, gamelan tagar yang bertubrukan dalam irama sumbang. Kebenaran, yang dulu hanya soal memperlihatkan naskah, kini terkubur di bawah lapisan hiruk‑pikuk digital.Maka Perang Tagar pun terus berkecamuk, sebuah panggung di mana slogan menyamar sebagai substansi, dan keheningan ditenggelamkan oleh raungan korus tak berujung dari Betoro Kolo.Betoro Kolo, gelisah dalam kampanye mereka, menyerbu TikTok dan Instagram, mengatur tarian yang mengumandangkan naskah Petruk tanpa pernah menampakkannya. Gerakan mereka, absurd namun memikat mereka yang kehilangan kewarasannya, menyebar bak api yang menjilat hutan, setiap langkah menjadi deklarasi bahwa keramaian adalah bukti.Petruk, selalu bersemangat, merepost tingkah mereka, mengira bahwa viralitas adalah pembenaran, dan pembenaran adalah kebenaran. Para pengkritik, tajam lidah dan kreatif, membalas dengan meme mereka sendiri, memparodikan pengelakan Petruk dengan humor yang menggigit.Medan tempur berubah menjadi karnaval ironi, di mana satire dan tontonan bertubrukan dalam lingkaran tak berujung dari pertunjukan digital. Betoro Kolo membanjiri linimasa dengan GIF dan stiker, masing‑masing membawa slogan kesetiaan, masing‑masing lebih keras daripada sebelumnya.Para netizen, lelah namun terhibur, meremix meme itu, menjadikan senyum miring Petruk sebagai simbol pengelakan. Naskah, yang tetap tak terlihat, menjadi bahan lelucon utama: relik hantu yang terus disebut, tak pernah ditunjukkan.Sang Dalang, mengamati dari balik bayangan, mencatat bahwa lakon ini telah berubah menjadi perang meme, kontes kecerdikan dan absurditas. Maka Medan Meme pun berkecamuk, sebuah panggung di mana tawa dan kecurigaan berjalin, dan kebenaran terkubur di bawah lapisan parodi.Petruk, selalu sadar akan penampilan, merawat senyum miringnya seolah itu sebuah merek, topeng kepercayaan diri yang dikenakan untuk menutupi keraguannya. Ia bersikeras bahwa keyakinan lebih kuat daripada bukti, bahwa kepercayaan pada sosoknya lebih penting daripada ketiadaan naskah. Betoro Kolo segera memanfaatkan senyum itu, mengubahnya menjadi stiker, GIF, dan foto profil, sebuah lambang digital kesetiaan. Senyum itu menyebar di berbagai platform, direplikasi tanpa henti, hingga menjadi simbol bukan keceriaan melainkan pengelakan.Netizen yang jeli mulai bertanya mengapa senyum harus menggantikan substansi, mengapa tawa ditawarkan sebagai ganti bukti. Petruk, tak gentar, memperbesar senyumnya, yakin bahwa pengulangan akan membungkam keraguan, bahwa tontonan akan mencukupi. Betoro Kolo, patuh seperti biasa, membanjiri linimasa dengan senyum Petruk, masing‑masing lebih keras, lebih terang, lebih mendesak daripada sebelumnya. Namun ironi semakin dalam: semakin sering senyum itu ditampilkan, semakin jelas kehampaannya, sebuah topeng yang meregang menutupi ketiadaan.Sang Dalang, letih namun terhibur, mencatat bahwa lakon ini telah menjadi teater senyum, dimana kepercayaan diri dipalsukan dan kebenaran ditunda. Maka senyum sang influencer pun berkuasa, sebuah lambang miring persuasi, menutupi kekosongan dimana naskah seharusnya berada.Betoro Kolo, semakin berani usai mengira menang di medan meme, berevolusi menjadi pasukan bot, berlipat ganda dengan presisi mekanis di setiap platform. Suara mereka, yang dulu mirip manusia, kini berubah menjadi gema otomatis, diprogram untuk mengulang slogan tanpa henti dan tanpa pikir.Petruk, gembira dengan skala yang luar biasa, membanggakan pengikut setianya, mengira angka buatan sebagai bentuk kesetiaan sejati. Linimasa membengkak dengan pesan identik, masing‑masing salinan dari yang sebelumnya, sebuah korus algoritma yang menenggelamkan suara berbeda. Netizen, tajam dan skeptis, mulai menyadari ritme yang ganjil, irama hampa dari kesetiaan buatan. Namun, Petruk tetap berpegang pada ilusi, yakin bahwa kuantitas saja bisa membungkam ketiadaan naskah yang terus menghantui.Betoro Kolo berbaris seperti prajurit digital, formasi mereka sempurna, tujuan mereka tunggal: menenggelamkan pertanyaan dengan pengulangan. Sang Dalang, mengamati dari balik bayangan, berkomentar bahwa lakon ini telah menjadi mesin, sebuah teater di mana hantu kode menyamar sebagai keyakinan.Kebenaran, yang dulu hanya berupa relik sederhana untuk ditunjukkan, kini berkelip seperti sinyal samar yang hilang di tengah statis otomatisasi. Maka Tentara Algoritmik pun berkuasa, sebuah legiun bot gaib, setia bukan pada kebenaran, melainkan pada kebisingan, korus tak berujung mereka menutupi kekosongan di inti klaim Petruk.Di tengah hiruk‑pikuk bot dan tagar, suara‑suara independen mulai bangkit, menenun perumpamaan tentang naskah yang hilang dengan kecerdikan dan keberanian. Suara‑suara ini, tak sejalan dengan korus Petruk, menyusun kisah yang menyingkap absurditas kebisingan tanpa substansi. Mereka berbicara tentang bayangan dimana bukti seharusnya berdiri, tentang relik yang disebut namun tak pernah ditunjukkan, tentang keyakinan yang dituntut tanpa dasar.Betoro Kolo, selalu waspada, menyerbu mereka, melabeli para penentang sebagai pengkhianat, musuh jagat digital. Petruk, semakin berani oleh agresi mereka, mengangguk puas, mengira bahwa penindasan adalah kekuatan. Namun, satire semakin tajam: semakin banyak suara dibungkam, semakin tumbuh kecurigaan, semakin nyata ketiadaan naskah itu.Netizen, penasaran sekaligus terhibur, mulai menyebarkan narasi tandingan, meremiksnya menjadi meme dan cerita yang meluas melampaui jangkauan Petruk. Betoro Kolo menggandakan serangan mereka, tetapi amarah itu justru memperkuat suara yang ingin mereka hapus.Sang Dalang, mengamati dengan mata letih, mencatat bahwa lakon telah bergeser lagi: perbedaan pendapat dibingkai sebagai ketidaksetiaan, kesetiaan dituntut dengan mengorbankan kebenaran. Maka Narasi Tandingan pun tumbuh subur, sebuah korus ironi dan perlawanan, mengejek pengelakan Petruk dan menyingkap teater kosong dari pembelaan Betoro Kolo.Di tengah hiruk‑pikuk bot dan tagar, suara‑suara independen mulai bangkit, menenun perumpamaan tentang naskah yang hilang dengan kecerdikan dan keberanian. Suara‑suara ini, tak sejalan dengan korus Petruk, menyusun kisah yang menyingkap absurditas kebisingan tanpa substansi. Mereka berbicara tentang bayangan di mana bukti seharusnya berdiri, tentang relik yang disebut namun tak pernah ditunjukkan, tentang keyakinan yang dituntut tanpa dasar.Betoro Kolo, selalu waspada, menyerbu mereka, melabeli para penentang sebagai pengkhianat, musuh jagat digital. Petruk, semakin berani oleh agresi mereka, mengangguk puas, mengira bahwa penindasan adalah kekuatan.Namun satire semakin tajam: semakin banyak suara dibungkam, semakin tumbuh kecurigaan, semakin nyata ketiadaan naskah itu. Netizen, penasaran sekaligus terhibur, mulai menyebarkan narasi tandingan, meremiksnya menjadi meme dan cerita yang meluas melampaui jangkauan Petruk. Betoro Kolo menggandakan serangan mereka, tetapi amarah itu justru memperkuat suara yang ingin mereka hapus.Sang Dalang, mengamati dengan mata letih, mencatat bahwa lakon telah bergeser lagi: perbedaan pendapat dibingkai sebagai ketidaksetiaan, kesetiaan dituntut dengan mengorbankan kebenaran. Maka Narasi Tandingan pun tumbuh subur, sebuah korus ironi dan perlawanan, mengejek pengelakan Petruk dan menyingkap teater kosong dari pembelaan Betoro Kolo.Media sosial, yang dahulu menjadi forum dialog, berubah menjadi karnaval, ritmenya bergema seperti gamelan yang dipukul dalam ketidakselarasan kacau. Betoro Kolo mengatur tontonan itu, melepaskan kembang api berupa tagar, meme, dan tarian viral yang memukau namun tak pernah memberi pencerahan. Petruk, di tengah panggung, berputar di antara hiruk‑pikuk, berpura‑pura menguasai kekacauan, senyum miringnya semakin melebar. Linimasa meledak dengan konfeti digital, slogan berjatuhan seperti kertas warna‑warni, masing‑masing menyerukan kesetiaan tanpa substansi.Netizen, setengah terhibur dan setengah lelah, menyaksikan karnaval itu berlangsung, tak pasti apakah harus tertawa atau meratap. Naskah, yang disebut dalam setiap seruan, tetap tak terlihat, sebuah relik bayangan yang tersembunyi di balik tirai tontonan. Betoro Kolo, para pemain yang tak kenal lelah, mengatur rutinitas yang semakin deras, kebisingan mereka membengkak hingga keheningan terasa mustahil.Petruk bersuka cita dalam ilusi, mengira bahwa terang benderang karnaval adalah bukti, bahwa hiruk‑pikuk adalah keyakinan. Sang Dalang, letih namun sinis, mencatat bahwa lakon ini telah menjadi festival kebisingan, sebuah teater di mana kebenaran ditenggelamkan oleh pertunjukan tanpa henti. Maka Festival Kebisingan pun berkuasa, gemerlap sekaligus hampa, sebuah pesta pengalih perhatian yang menutupi kekosongan di inti klaim Petruk.Karnaval kebisingan yang tak berujung mulai melelahkan penonton, kilauannya memudar menjadi monoton, riuhnya berubah menjadi letih. Netizen, yang dahulu terhibur, kini menggulir linimasa melewati proklamasi Petruk dengan mata lelah, tawa mereka tumpul oleh pengulangan. Sebagian meninggalkan teater digital sama sekali, mencari sudut sepi di mana dialog masih bernapas.Yang lain tetap tinggal, bukan karena keyakinan, melainkan karena kebiasaan, menyaksikan tontonan bagaikan orang menonton sinetron yang sudah lama kehilangan pesonanya.Petruk, tak menyadari minat yang meredup, terus bersikeras bahwa naskah itu ada, menawarkan slogan sebagai pengganti substansi. Betoro Kolo, tak kenal lelah, memperkuat kata‑katanya, korus mereka semakin keras, semakin terang, semakin putus asa. Namun, semakin keras mereka berteriak, semakin hampa terdengar seruan itu, bergema melawan kesabaran kerumunan yang menipis. Netizen mulai memparodikan keletihan mereka, membuat meme wajah menguap dan slogan kosong, mengolok kesia‑siaan kebisingan tanpa akhir.Sang Dalang, menghela napas, mencatat bahwa lakon ini telah menjadi teater keletihan, di mana tontonan melahirkan sinisme alih‑alih keyakinan. Maka keletihan kerumunan pun bersemayam, sebuah pemberontakan diam terhadap hiruk‑pikuk Petruk, pengingat bahwa bahkan kebisingan pun tak bisa menopang perhatian selamanya.Di bawah gemuruh tagar dan silau meme, arus yang lebih tenang mulai bergerak, sebuah gumaman yang menjalar di antara kerumunan digital. Netizen, letih oleh tontonan, mulai berbisik pertanyaan: “Naskah prombon itu kemannaa?” “Kok gak pernah ditunjukin?”Bisikan‑bisikan ini, lemut namun tegas, lolos dari kebisingan, menetap di benak mereka yang dulu bersorak. Betoro Kolo, panik, berusaha menenggelamkan gumaman itu dengan slogan yang lebih keras, tetapi riuh mereka justru menajamkan kontras. Petruk, merasakan kegelisahan, memaksa senyum miringnya semakin lebar, bersikeras bahwa keraguan adalah pengkhianatan, bahwa diam adalah kesetiaan.Tapi, bisikan itu tumbuh, menyebar laksana asap di teater, tak berwujud namun mustahil dikendalikan. Netizen mulai berbagi tangkapan layar, utas, dan perumpamaan, masing‑masing menjadi pengingat akan ketiadaan naskah. Korus keraguan, meski lebih lembut daripada riuh karnaval, terbukti lebih bertahan lama, lebih mengusik.Sang Dalang, mengamati dengan senyum mengetahui, mencatat bahwa lakon telah bergeser lagi: kebisingan tak bisa membungkam keraguan, sebab keraguan tumbuh di sela‑sela. Maka bisikan keraguan pun bersemayam, sebuah pemberontakan sunyi terhadap tontonan Petruk, pengingat bahwa kebenaran tak bisa dipanggil hanya dengan kebisingan.Karnaval pertunjukan Petruk, yang dahulu memukau, mulai goyah, ritmenya tersandung bagai gamelan yang ditabuh tak selaras. Netizen, letih oleh slogan tanpa henti, berpaling, perhatian mereka beralih ke tontonan segar di luar jangkauan Petruk. Betoro Kolo, putus asa, melepaskan kampanye yang lebih keras, tetapi riuh mereka bergema hampa di teater yang kian menipis. Petruk, berpegang pada senyum miringnya, bersikeras bahwa naskah itu ada, meski kata‑katanya kini terdengar rapuh, aus oleh pengulangan.Linimasa, yang dulu menyala penuh warna, memudar menjadi monoton, konfeti slogan larut ke dalam keheningan. Netizen memparodikan keruntuhan itu, membuat meme panggung kosong dan relik yang lenyap, mengejek kesia‑siaan desakan Petruk. Primbon, disebut asli namun tak terlihat, menjadi simbol dari ketiadaan itu sendiri, sebuah kekosongan di pusat tontonan. Betoro Kolo, kelelahan, goyah dalam korus mereka, suara mereka menipis, kesetiaan mereka mulai retak.Sang Dalang, dengan senyum letih, mencatat bahwa lakon telah mencapai titik balik: tontonan tak bisa bertahan tanpa substansi. Maka runtuhnya tontonan pun berlangsung, sebuah teater yang runtuh oleh kebisingannya sendiri, menyisakan hanya keheningan di tempat bukti seharusnya berada.Teater, yang dulu menyala dengan tontonan, kini berdiri dalam keheningan gelisah, penontonnya resah, ilusi‑ilusi mulai terkoyak. Netizen, letih oleh slogan dan senyum, menuntut substansi, pertanyaan mereka semakin tajam, kesabaran mereka habis.Petruk, terpojok, kembali bersikeras tentang keberadaan naskah Primbonnya. Senyum miringnya bergetar di bawah beban ekspektasi. Betoro Kolo berkumpul dalam keputusasaan, melepaskan korus kesetiaan terakhir mereka, tetapi suara itu terdengar hampa, gema rapuh dari semangat yang lalu. Linimasa, yang telah dilucuti warnanya, menyingkap kehampaan di intinya: sebuah relik yang disebut namun tak pernah ditunjukkan, janji yang terus ditunda. Netizen, semakin berani, menyusun perumpamaan tentang pengkhianatan, meme tentang bukti yang lenyap, kisah tentang keyakinan yang disia‑siakan.Petruk, gemetar di balik topeng, berpegang pada tontonan, tetapi teater menuntut kebenaran, bukan kebisingan. Betoro Kolo goyah, kesetiaan mereka retak, korus mereka larut ke dalam keheningan.Sang Dalang, dengan kejernihan yang khidmat, menyatakan bahwa lakon telah mencapai perhitungannya: tontonan tanpa substansi runtuh oleh beratnya sendiri. Maka perhitungan pun tiba, sebuah momen kebenaran yang terlalu lama ditunda, menyingkap kekosongan di inti klaim Petruk.Ketika tontonan runtuh dan perhitungan mereda, hanya keheningan yang tersisa, keheningan yang lebih berat daripada semua slogan yang pernah dilontarkan. Petruk, yang dulu bersinar dengan senyum miringnya, kini berdiri sendirian di panggung kosong, naskah tetap tak terlihat, janji tak terpenuhi. Betoro Kolo, suara mereka habis, larut menjadi bayangan kode, relik dari sebuah teater yang keliru mengira kebisingan sebagai kebenaran.Netizen, lebih bijak setelah kekacauan, membawa pelajaran bahwa tontonan tanpa substansi hanyalah nyala api yang hampa.Sang Dalang, menutup tirai, berbisik bahwa setiap lakon haruslah berakhir, dan bahwa kebenaran, meski tertunda, selalu bertahan lebih lama daripada kebisingan.
"If every man says all he can. If every man is true. Do I believe the sky above is Caribbean blue? If all we told was turned to gold. If all we dreamed was new. Imagine sky high above in Caribbean blue."

