Senin, 06 April 2026

Perang: Para Penyintas, Ingatan, dan Tanggungjawab Moral (30)

Dalam teater hubungan internasional, sangat sedikit tokoh yang mampu mengganggu naskah mapan secara provokatif seperti Donald Trump. Doktrin "America First" miliknya, yang sering dianggap sebagai perpaduan paradoks antara isolasionisme dan unilateralisme agresif, telah memaksa dunia mengevaluasi kembali niat-niat sang hegemon Amerika. Kendati genderang konflik acapkali ditabuh dengan irama "stabilitas" dan "demokrasi", dentum dasar di baliknya kerap menyiratkan sebuah koreografi kekuasaan yang lebih pragmatis, atau bahkan mungkin lebih sinis.

Teka-teki utama dari era ini terletak pada katalisator sejati di balik eskalasi dan sikap militer yang disaksikan selama masa jabatannya. Seseorang hendaknya mempertimbangkan apakah konfrontasi ini didorong oleh keinginan neo-merkantilisme untuk mengamankan cadangan minyak asing, yang dengan demikian melanjutkan tradisi panjang penggunaan energi sebagai tuas pengaruh geopolitik yang tangguh. Sebagai alternatif, apakah tindakan-tindakan ini dimaksudkan untuk berfungsi sebagai stimulus agresif bagi ekonomi Amerika, yang berupaya menjamin kemakmuran domestik melalui kebijakan agresi eksternal yang berisiko tinggi?

Lebih jauh lagi, terdapat kemungkinan kuat bahwa konflik semacam itu hanyalah bagian dari ambisi yang lebih luas: proyeksi dominasi tanpa henti yang dirancang untuk menegaskan kembali Amerika Serikat sebagai kekuatan super dunia yang tak tertandingi. Namun, seperti halnya semua manuver geopolitik yang kompleks, narasi di permukaan jarang menceritakan keseluruhan cerita. Mungkinkah ada motif lain yang lebih tersembunyi—terkubur di bawah lapisan retorika populis dan strategi—yang memberikan penjelasan definitif bagi konfrontasi global ini?

Sebagian pengamat mencatat bahwa intervensi militer atau kebijakan konfrontatif di bawah Trump sering dibingkai dengan beberapa cara. Ada yang berpendapat bahwa hal itu terkait dengan upaya mengamankan sumber daya energi, khususnya minyak, mengingat peran lama energi dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ada pula yang menilai bahwa langkah-langkah tersebut terutama ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika, dengan memastikan kondisi perdagangan yang menguntungkan dan melindungi industri strategis. Perspektif lain melihatnya sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memproyeksikan kekuatan Amerika di panggung global, memperkuat dominasi dalam urusan internasional.

Singkatnya, tafsirnya beragam: ada yang melihat minyak sebagai pendorong, ada yang melihat proteksionisme ekonomi, dan ada pula yang melihat ambisi untuk pengaruh global. Yang menyatukan pandangan-pandangan ini adalah pengakuan bahwa energi, ekonomi, dan ambisi geopolitik saling terkait erat, dan tiada satu pun penjelasan tunggal yang sepenuhnya menangkap kompleksitas aksi Amerika Serikat itu.

Namun, spekulasi mengenai motif konvensional seperti minyak dan kekuatan militer di era Trump tersebut mungkin hanyalah babak penutup dari sebuah buku lama tentang kekuasaan. Saat ini, paradigma dunia telah bergeser secara radikal, di mana kekuatan tidak lagi hanya diukur dari jumlah hulu ledak atau luasnya ladang minyak yang dikuasai. Kita kini berada di ambang era baru yang mendefinisikan ulang kedaulatan, yang memaksa kita untuk mengajukan pertanyaan yang jauh lebih krusial bagi masa depan peradaban.

Di tengah lanskap global yang semakin kompleks dan terdigitalisasi ini, siapakah sebenarnya yang memegang kunci untuk menguasai dunia? Apakah hierarki global masih akan ditentukan oleh para penguasa minyak yang mengontrol energi fisik, ataukah kendali tersebut telah berpindah tangan kepada para raksasa ekonomi yang mengatur arus kapital dunia? Atau, mungkinkah takhta kekuasaan masa depan akan diduduki oleh para penguasa AI yang mengendalikan kecerdasan buatan dan algoritma, atau justru mereka yang amat lihai dalam menguasai narasi serta membentuk persepsi publik di ruang digital?

Di zaman kita sekarang, gagasan tentang siapa yang bener-bener bisa “menguasai dunia” gak lagi sekadar soal mahkota atau pasukan, melainkan tentang kekuatan yang membentuk kehidupan sehari-hari. Kecerdasan buatan, misalnya, punya kapasitas untuk meresap ke hampir semua ranah—perdagangan, pertahanan, budaya, bahkan pemerintahan—namun kekuatannya tetap terikat pada regulasi, etika, dan kepercayaan publik. Para raksasa ekonomi masih memegang pengaruh besar, mampu menggoyang kebijakan negara dan menentukan ritme perdagangan global, meski dominasi mereka sering rapuh ketika krisis melanda. Minyak, yang dulu menjadi tuas utama geopolitik, kini ditantang oleh urgensi krisis iklim dan kebangkitan energi terbarukan, meski kendali atas sumber energi tetap memberi daya tawar yang kuat.

Lalu ada narasi. Di era media sosial dan komunikasi seketika, mereka yang mampu merangkai serta menyebarkan cerita yang meyakinkan dapat menguasai hati dan pikiran. Narasi melegitimasi kekuasaan, menggerakkan massa, dan meruntuhkan rezim. Ia tak berwujud, tetapi meresap, sanggup mengubah realitas itu sendiri.

Jika disarikan, kecerdasan buatan menyediakan infrastruktur dan kemampuan, sementara narasi memberi legitimasi dan arah. Ekonomi dan energi tetap vital, tetapi tanpa cerita yang meyakinkan atau dukungan teknologi, cengkeraman mereka melemah. Sesungguhnya, pertarungan bukanlah antar kekuatan ini secara terpisah, melainkan bagaimana mereka saling bertaut: algoritma yang memperkuat narasi, ekonomi yang bergantung pada sistem teknologi, dan energi yang menggerakkan keduanya.

Jadi, pertanyaannya bukan lagi “siapa yang berkuasa”, melainkan “kombinasi kekuatan mana yang akan menentukan masa depan.” Lebih menggelisahkan hidup di bawah presisi dingin algoritma, atau di bawah bujukan emosional narasi yang mampu membengkokkan persepsi?

Dunia yang dikendalikan narasi memang menakutkan karena ia bisa menyusup ke kesadaran kolektif tanpa disadari, tetapi algoritma dingin membawa ketakutan yang berbeda: ia bekerja dengan logika yang tak transparan, seringkali tak bisa ditebak bahkan oleh penciptanya sendiri.

Algoritma modern—khususnya yang berbasis pembelajaran mesin—tak lagi sekadar mengikuti aturan eksplisit yang ditulis manusia. Ia belajar dari data, membentuk pola, dan menghasilkan keputusan yang kadang tak dapat dijelaskan secara sederhana. Inilah yang disebut sebagai black box problem: kita melihat hasilnya, tetapi jalur pemikiran di dalamnya tetap gelap. Manusia boleh jadi bisa menebak arah umum, tetapi detail keputusan algoritma kerap melampaui kemampuan prediksi kita.

Ketakutan terbesar bukan hanya pada “ketidakmampuan menebak”, melainkan pada ketergantungan kita terhadap algoritma. Semakin banyak aspek hidup—ekonomi, keamanan, kesehatan, bahkan hubungan sosial—yang digerakkan oleh sistem otomatis, semakin besar risiko kita menyerahkan kendali pada sesuatu yang tak sepenuhnya kita pahami.

Dengan kata lain, narasi bisa menipu hati, algoritma bisa menyingkirkan akal. Narasi memanipulasi emosi, algoritma memanipulasi struktur realitas. Dan ketika keduanya berpadu—algoritma yang memperkuat narasi—itulah titik dimana dunia bisa benar-benar bergerak ke arah yang tak terduga.

Lantas, pertanyaannya bukan lagi "siapa yang berkuasa," melainkan "kombinasi kekuatan mana yang akan menentukan masa depan." Apakah engikau akan merasa lebih gelisah hidup di bawah ketelitian dingin algoritma, atau di bawah pengaruh emosional narasi yang membengkokkan persepsi itu sendiri?

Narasi, betapapun manipulatifnya, tetap meninggalkan jejak asal-usul. Ia masih dapat ditantang, dibantah, dan dibongkar dengan narasi lain. Algoritma, sebaliknya, jauh lebih sulit ditangkap. Ia bekerja di balik permukaan, tersembunyi dalam lapisan kode dan data, menghasilkan keluaran yang sering tampak netral atau seolah-olah tak terelakkan. Namun, logika yang menggerakkannya jarang sekali transparan, dan bahkan para penciptanya pun kerap kesulitan menjelaskan keputusan yang muncul ketika sistem mulai belajar dan berkembang.

Inilah yang membuat kekuasaan algoritmik begitu meresahkan. Tak seperti narasi yang dapat diperdebatkan di ruang publik, algoritma dapat diam-diam membentuk realitas tanpa menunjukkan tangan yang menggerakkannya. Ia menentukan informasi apa yang engkau lihat, peluang apa yang ditawarkan, bahkan bagaimana institusi memperlakukanmu—semuanya sambil diselimuti aura objektivitas. Bahayanya terletak pada kenyataan bahwa kita tak mudah menggugat sesuatu yang tidak terlihat atau tak dipahami.

Dengan demikian, ketakutan terhadap algoritma bukan hanya soal ketidakmampuan menebak, melainkan soal ketidaknampakan. Ia bukan sekadar memanipulasi emosi; ia menyusun ulang syarat-syarat dimana emosi, pilihan, dan narasi itu sendiri muncul. Dan ketika sistem semacam itu diberi kepercayaan untuk mengambil keputusan yang memengaruhi jutaan orang, pertanyaan tentang siapa yang benar-benar memegang kekuasaan menjadi jauh lebih sulit dijawab.

Bisakah manusia sungguh dapat mengendalikan algoritma? Memang rumit. Secara prinsip, algoritma adalah ciptaan manusia, dirancang, ditulis, dan dijalankan oleh kita. Namun, begitu dilepaskan ke dunia, terutama yang berbasis machine learning, algoritma mulai berkembang dengan cara yang melampaui pemahaman langsung kita. Ia menyerap data dalam jumlah besar, menemukan pola yang tak terlihat oleh manusia, dan menghasilkan keluaran yang kadang mengejutkan bahkan bagi para penciptanya. Ini bukan berarti algoritma sepenuhnya di luar kendali, melainkan bahwa sifat kendali itu bergeser: bukan lagi soal perintah langsung, melainkan soal tatakelola, pengawasan, dan penetapan batas etis.

Manusia masih dapat mengatur kondisi dimana algoritma beroperasi, membatasi ruang lingkupnya, dan menuntut transparansi. Kita bisa menegakkan akuntabilitas, meminta agar pihak yang menggunakan sistem tersebut menjelaskan dan membenarkan penggunaannya. Namun tantangan yang lebih dalam terletak pada sifat algoritma yang buram. Untuk “mengendalikan” algoritma sepenuhnya berarti memahami dan mengantisipasi setiap keputusan yang dibuatnya, dan hal itu semakin mustahil. Yang masih berada dalam jangkauan kita adalah kemampuan untuk memutuskan di mana algoritma boleh diterapkan, bagaimana hasilnya ditafsirkan, dan apakah otoritasnya diterima.

Dengan demikian, pertanyaannya bukanlah apakah manusia dapat mengendalikan algoritma secara mekanis, melainkan apakah kita dapat mengendalikan kerangka sosial dan institusional yang memberi algoritma kekuasaan. Bahaya terbesarnya bukanlah algoritma itu sendiri, melainkan kecenderungan institusi manusia untuk melepaskan tanggungjawab, bersembunyi di balik klaim netralitas logika mesin. Dalam pelepasan tanggungjawab itulah, risiko terbesar muncul: bukan algoritma yang berkuasa, melainkan kesediaan kita membiarkannya memerintah tanpa tantangan.

Kerawanan seriusnya tidak terletak pada algoritma itu sendiri, melainkan pada institusi manusia yang memilih menyelimuti otoritas mereka di balik algoritma. Algoritma pada dasarnya hanyalah alat—rumit, buram, dan sering tak terduga, tetapi sekali alat, tetaplah alat. Keputusan mengangkatnya menjadi penentu yang tak terbantahkanlah yang menjadikannya instrumen dominasi. Ketika pemerintah, korporasi, atau pusat kekuasaan lainnya mengklaim netralitas logika mesin, mereka seakan membebaskan diri dari tanggungjawab, menyajikan hasil sebagai sesuatu yang tak terelakkan, bukan sebagai pilihan.

Pelepasan akuntabilitas inilah yang membuat keadaan begitu berbahaya. Algoritma menjadi topeng yang nyaman, cara untuk menegakkan keputusan tanpa perdebatan, membungkam perlawanan dengan dalih objektivitas kode. Padahal, setiap algoritma mencerminkan pilihan manusia: data yang dipilih, tujuan yang ditetapkan, konteks dimana ia dijalankan. Berpura-pura sebaliknya berarti menyerahkan agensi dan membiarkan kekuasaan beroperasi tanpa pengawasan.

Ancaman sejati bukanlah mesin itu sendiri, melainkan kesediaan institusi untuk bersembunyi di baliknya, menggunakan otoritas algoritma sambil menyangkal otoritas mereka sendiri. Dalam penyamaran itu, batas antara pemerintahan dan manipulasi menjadi kabur, dan kemungkinan untuk menentang atau menggugat keputusan semakin mengecil. Yang seharusnya paling menakutkan bukanlah dinginnya algoritma, melainkan tangan manusia yang menempatkannya di singgasana lalu mundur ke bayang-bayang.

Jika kembali pada pertanyaan tadi, jawabannya bukanlah bahwa satu kekuatan tunggal—entah itu kecerdasan buatan, kekuatan ekonomi, minyak, ataupun narasi—yang akan berkuasa sepenuhnya, melainkan bahwa kekuasaan di zaman ini ditentukan oleh interaksi di antara kekuatan-kekuatan itu. Kecerdasan buatan menyediakan infrastruktur, mesin yang membuat keputusan dan membentuk realitas. Kekuatan ekonomi tetap menentukan distribusi sumber daya dan stabilitas negara. Minyak dan energi, meski ditantang oleh tuntutan iklim, masih menjadi tuas pengaruh yang penting. Namun, narasi yang memberi legitimasi, yang meyakinkan masyarakat untuk menerima atau menolak, yang mengubah kekuatan mentah menjadi otoritas.

Bahaya terbesarnya bukan pada salah satu dari kekuatan ini secara terpisah, melainkan pada cara institusi manusia menggunakannya bersama-sama. Algoritma mungkin dingin, tetapi tangan manusialah yang menempatkannya di singgasana. Narasi mungkin manipulatif, tetapi suara manusialah yang memilih menyebarkannya. Minyak dan uang mungkin memerintah, tetapi sistem manusialah yang menentukan bagaimana keduanya digunakan. Maka, penguasa sejati dunia bukanlah alat itu sendiri, melainkan mereka yang bersembunyi di baliknya, menyelimuti otoritas mereka dengan klaim netralitas mesin, keniscayaan pasar, atau pesona cerita.

Dengan demikian, dunia kemungkinan besar akan dikuasai oleh mereka yang mampu menguasai perpaduan teknologi dan narasi, institusi yang dapat memanfaatkan algoritma untuk memperkuat cerita dan menggunakan cerita itu untuk membenarkan kekuatan ekonomi serta politik. Bukan AI semata, bukan pula narasi belaka, melainkan konvergensi keduanya, dijalankan oleh institusi manusia yang menolak akuntabilitas, yang paling berpotensi mengklaim dominasi global yang luas.

Rujukan Utama

Abhijeet Sarkar, AI and Global Power Shifts: The New Geopolitical Battleground, 2025, Synaptic AI Lab Press

Sarkar mengeksplorasi bagaimana kecerdasan buatan mendefinisikan ulang geopolitik, dengan berargumen bahwa AI menjadi faktor penentu dalam persaingan kekuatan global, melampaui dominasi militer dan ekonomi tradisional.

Nick Srnicek, Silicon Empires: The Fight for the Future of AI, 2026, Polity Press

Srnicek mengkaji upaya keras antara korporasi dan negara untuk mengendalikan AI, menekankan bagaimana narasi seputar teknologi digunakan untuk melegitimasi otoritas dan membentuk kembali masyarakat.

IEEE Collective, The Power of Artificial Intelligence for the Next-Generation Oil and Gas Industry, 2024, IEEE eBooks

Karya ini menunjukkan bagaimana AI mentransformasi sektor energi, memperlihatkan konvergensi teknologi digital dengan minyak dan gas, dan bagaimana kendali atas sumber daya energi tetap menjadi pusat pengaruh geopolitik.