Awal dari Surah Ar-Rum merupakan bagian yang sangat menarik, bukan hanya dari segi keindahan bahasanya, tetapi juga dari konteks sejarahnya serta makna kenabian yang mendalam. Allah berfirman,الۤمّۤ ۚAlif Lām Mīm.غُلِبَتِ الرُّوْمُۙBangsa Romawi [maksudnya adalah bangsa Romawi Timur, Bizantium, yang berpusat di Konstantinopel] telah dikalahkan,فِيْٓ اَدْنَى الْاَرْضِ وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَۙDi negeri yang terdekat [yakni dekat dari negeri Arab, yaitu Suriah dan Palestina] dan mereka setelah kekalahannya itu, akan menang [Bizantium (pada saat ayat ini diturunkan) adalah bangsa yang beragama Nasrani, yang memiliki Kitab Suci, sedangkan bangsa Persia yang beragama Majusi menyembah api dan berhala (musyrik). Ketika tersiar berita kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia, kaum musyrik Makkah menyambutnya dengan penuh gembira karena berpihak kepada kaum musyrik Persia. Sebaliknya, kaum Muslimin berduka cita karenanya. Ayat ini dan ayat berikutnya turun untuk menerangkan bahwa setelah kalah, bangsa Romawi akan menang dalam beberapa tahun saja. Hal itu benar-benar terjadi. Beberapa tahun setelahnya, bangsa Romawi berbalik mengalahkan bangsa Persia. Dengan peristiwa tersebut, nyatalah kebenaran Nabi Muhammad (ﷺ) sebagai nabi dan rasul serta kebenaran Al-Qur’an sebagai firman Allah Subhanahu wa Ta'ala].فِيْ بِضْعِ سِنِيْنَ ەۗ لِلّٰهِ الْاَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْۢ بَعْدُ ۗوَيَوْمَىِٕذٍ يَّفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَۙDalam tiga hingga sembilan tahun lagi. Milik Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang mukmin. [Waktu antara kekalahan bangsa Romawi (tahun 614‒615) dan kemenangannya (tahun 622 M) adalah sekitar tujuh tahun]Ayat-ayat pembuka dimulai dengan huruf-huruf terputus “Alif Lām Mīm,” diikuti dengan pernyataan “Ghulibatir-Rūm,” dan dilanjutkan dengan “Fī adnal-arḍi wa hum min ba‘di ghalabihim sayaghlibūn, fī biḍ‘i sinīn,” yang membentuk suatu pernyataan singkat namun sarat makna.Secara esensial, ayat-ayat ini menyatakan bahwa bangsa Romawi telah dikalahkan, sebagaimana ditunjukkan oleh frasa “Ghulibatir-Rūm.” Ungkapan “Fī adnal-arḍ” umumnya merujuk pada negeri yang terdekat, atau wilayah yang rendah, dengan sebagian ulama klasik mengaitkannya dengan kawasan sekitar Laut Mati. Frasa berikutnya, “Wa hum min ba‘di ghalabihim sayaghlibūn,” menyampaikan bahwa setelah kekalahan tersebut, mereka akan kembali memperoleh kemenangan. Hal ini kemudian dipertegas dengan “Fī biḍ‘i sinīn,” yang menunjukkan rentang waktu beberapa tahun, biasanya antara tiga hingga sembilan tahun.Secara historis, ayat-ayat ini merujuk pada konflik besar antara Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan Kekaisaran Persia Sassanid. Pada saat turunnya wahyu, bangsa Romawi, yang dianggap sebagai Ahlul Kitab, mengalami kekalahan yang berat dan memalukan di tangan Persia. Peristiwa ini disambut dengan kegembiraan oleh kaum musyrik Mekah, yang memandang Persia lebih dekat dengan mereka dalam hal keyakinan, karena sama-sama tak mengikuti tradisi wahyu monoteistik. Sebaliknya, kaum Muslimin merasa sedih, karena mereka punya kedekatan teologis dengan Romawi yang menganut, meskipun tak sempurna, tradisi tauhid.Yang menjadikan bagian ini sangat luar biasa adalah dimensi kenabiannya. Al-Qur’an meramalkan bahwa bangsa Romawi akan kembali meraih kemenangan dalam rentang waktu beberapa tahun, padahal secara ukuran rasional pada masa itu, pemulihan seperti itu tampak sangat tidak mungkin. Kekalahan Bizantium begitu besar sehingga harapan untuk bangkit dalam waktu singkat terasa tak realistis. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa di bawah kepemimpinan Heraclius, Kekaisaran Bizantium tak hanya pulih, tapi juga berhasil mengalahkan Persia secara tegas dalam rentang waktu yang sesuai dengan yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut.Dari kisah ini dapat diambil sejumlah pelajaran penting. Hal ini menegaskan pentingnya menjaga keyakinan terhadap takdir Ilahi, bahkan ketika keadaan tampak sangat tak menguntungkan. Ia juga menanamkan sikap optimisme dalam menghadapi kesulitan, dengan mengingatkan bahwa kekalahan tak selalu berarti akhir. Selain itu, ayat ini menegaskan kebenaran wahyu sebagai salah satu bukti kenabian Nabi Muhammad ﷺ. Pada akhirnya, ayat ini memberikan harapan bagi orang-orang beriman, bahwa sebagaimana bangsa Romawi mampu bangkit setelah kekalahan mereka, demikian pula kaum beriman dapat menantikan pertolongan dan kemenangan sesuai dengan hikmah Allah.Hubungan antara awal Surah Ar-Rum dan geopolitik modern tak seharusnya dipahami sebagai bentuk ramalan yang spesifik; melainkan sebagai cerminan pola, prinsip, dan cara membaca sejarah kekuasaan. Jika dipahami dengan hati-hati dan mendalam, ayat-ayat ini menawarkan kerangka berpikir yang tetap sangat relevan dalam dunia kontemporer.
Pernyataan bahwa bangsa Romawi akan kembali meraih kemenangan dalam beberapa tahun menunjukkan bahwa kekuasaan global tak pernah bersifat statis dan bahwa kekalahan tak selalu bersifat permanen. Sebaliknya, hal ini menegaskan bahwa negara atau blok peradaban yang tampak jatuh dapat, dalam kondisi tertentu, bangkit kembali. Dalam konteks modern, dapat diamati bagaimana Amerika Serikat telah melalui berbagai krisis, termasuk kekalahan militer dan guncangan finansial, namun tetap bertahan sebagai kekuatan global yang dominan. Demikian pula, China yang pernah melemah pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, kini bangkit sebagai rival utama Barat, sementara Rusia, usai runtuhnya Uni Soviet, kembali menegaskan posisinya sebagai aktor penting dalam geopolitik. Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa kekalahan masa kini tak menentukan masa depan.
Pada masa Rasulullah (ﷺ), kaum Muslim merasakan kedekatan dengan Romawi karena keduanya memiliki hubungan, dalam tingkat tertentu, dengan tradisi wahyu, sedangkan kaum musyrik Mekah cenderung berpihak kepada Persia. Dinamika ini menunjukkan bahwa aliansi seringkali tak hanya ditentukan oleh kepentingan material, tetapi juga oleh kedekatan dalam keyakinan, identitas, atau pandangan dunia. Dalam konteks modern, aliansi internasional kerap dipengaruhi oleh perbedaan ideologi, seperti antara sistem demokratis dan otoriter, serta oleh kepentingan ekonomi dan kesamaan budaya atau agama. Konfigurasi global saat ini, termasuk perbedaan antara blok Barat dan koalisi alternatif yang sedang berkembang, menunjukkan bahwa aliansi politik jarang didasarkan semata-mata pada moralitas, melainkan pada lapisan kepentingan dan identitas yang saling bertumpuk.
Pada saat ayat-ayat ini diturunkan, gagasan bahwa bangsa Romawi dapat bangkit dari kekalahan telaknya tampak sangat tidak masuk akal bagi sebagian besar orang. Namun, sejarah mencatat bahwa mereka benar-benar bangkit di bawah kepemimpinan Heraclius. Hal ini menyoroti ketidakpastian yang melekat dalam perkembangan geopolitik. Di era modern, perubahan tak terduga serupa juga terjadi, seperti runtuhnya Uni Soviet yang tidak diperkirakan oleh banyak analis, serta kebangkitan pesat China yang mengubah keseimbangan kekuatan global. Konflik besar pun sering berkembang ke arah yang tidak sesuai dengan prediksi awal. Implikasinya adalah bahwa analisis geopolitik kerap gagal ketika terlalu terfokus pada kondisi saat ini, sambil mengabaikan faktor waktu, kepemimpinan, dinamika tak terduga, serta, dalam perspektif teologis, kehendak Allah.
Ayat-ayat ini juga memperkenalkan dimensi spiritual dalam peristiwa sejarah, sebagaimana ditunjukkan oleh pernyataan bahwa pada hari kemenangan, orang-orang beriman akan bergembira. Hal ini mengisyaratkan bahwa peristiwa geopolitik tak sepenuhnya netral secara spiritual, melainkan dapat mengandung makna yang berkaitan dengan iman dan kesadaran moral. Dalam dunia modern, banyak konflik, khususnya di kawasan Timur Tengah, masih bernuansa keagamaan, dan umat Islam sering merasakan keterikatan emosional dan spiritual terhadap peristiwa-peristiwa tersebut. Oleh karenanya, seorang Muslim tak hanya memandang dinamika global sebagai fenomena politik semata, tapi juga sebagai bagian dari kerangka yang lebih luas berupa ujian, harapan, dan sunnatullah.Lebih jauh lagi, ayat ini mencerminkan adanya hukum Ilahi yang bekerja dalam sejarah, dimana siklus kekalahan, kebangkitan, kemenangan, dan kemungkinan kejatuhan kembali terus berulang. Pola ini sejalan dengan konsep yang dikenal luas sebagai naik-turunnya peradaban. Contoh sejarah, mulai dari Kekaisaran Romawi, Ottoman, hingga Imperium Britania, menunjukkan bahwa tiada kekuatan dunia yang bersifat abadi. Sistem internasional kontemporer pun tampak terus bergerak menuju konfigurasi keseimbangan yang baru. Pelajaran utamanya adalah bahwa tiada kekuatan global yang bersifat mutlak dan kekal.
Namun demikian, penting untuk mendekati ayat-ayat ini dengan kehati-hatian dan integritas intelektual. Ayat-ayat tersebut tak boleh diperlakukan sebagai peta langsung bagi realitas politik modern, dan tak sepatutnya digunakan untuk membenarkan konflik tertentu tanpa pertimbangan yang matang. Demikian pula, akan keliru jika seseorang mengklaim kemenangan yang pasti tanpa usaha, kearifan, dan pertimbangan etis.
Membaca konflik modern melalui perspektif awal Surah Ar-Rum bukanlah upaya untuk “meramal siapa yang pasti menang”, melainkan agar memahami pola kekuasaan, dinamika sejarah, dan sunnatullah yang berulang. Pendekatan ini menuntut kehati-hatian, lantaran ia bersifat reflektif, bukan deterministik.
Dalam konteks persaingan antara Amerika Serikat dan China, kita dapat melihat dengan jelas prinsip bahwa kekuasaan tak pernah statis. Amerika Serikat, yang sejak berakhirnya Perang Dingin tampil sebagai kekuatan dominan, kini menghadapi cabaran serius daripada China yang bangkit secara ekonomi, teknologi, dan ketenteraan. Jika ditinjau melalui lensa Ar-Rum, situasi ini mencerminkan fasa dalam kitaran sejarah di mana kekuatan lama diuji oleh kebangkitan kekuatan baharu. Namun, sebagaimana Romawi tidak serta-merta lenyap setelah kekalahan mereka, Amerika juga tak bisa dianggap sedang menuju kejatuhan mutlak, begitu pula China, tak dijamin akan mencapai dominasi tanpa hambatan. Yang lebih penting ialah memahami bahwa keseimbangan kuasa sentiasa bergerak, dan seringkali berubah dengan cara yang tidak dijangka.
Konflik antara Rusia dan Ukraina pula memperlihatkan dimensi lain dari pelajaran Ar-Rum, iaitu tentang ketidakpastian dan kemungkinan kebangkitan selepas kemunduran. Rusia, sebagai pewaris Uni Soviet, berusaha mengembalikan pengaruh geopolitiknya yang pernah merosot. Di sisi lain, Ukraina, yang pada awalnya dianggap lebih lemah, menunjukkan daya tahan yang signifikan dengan sokongan antarabangsa. Dalam kerangka Ar-Rum, ini mengingatkan bahwa pihak yang tampak lemah tak semestinya akan tetap lemah, dan pihak yang tampak kuat tak semestinya akan menang dengan mudah. Hasil konflik seperti ini sering bergantung pada faktor masa, strategi, kepemimpinan, dan variabel-variabel yang tak selalu dapat diprediksi oleh analisis konvensional.
Adapun dinamika di Timur Tengah menampilkan dimensi spiritual yang lebih jelas, sebagaimana juga tersirat dalam ayat-ayat Ar-Rum. Kawasan ini bukan sekadar medan perebutan kepentingan politik dan ekonomi, tetapi juga ruang di mana identitas agama, sejarah, dan emosi kolektif bertemu. Konflik yang melibatkan negara-negara dan aktor non-negara di wilayah ini acapkali tak dapat dipisahkan dari faktor keagamaan dan persepsi moral. Dalam perspektif Ar-Rum, hal ini mengingatkan bahwa geopolitik tak pernah sepenuhnya netral secara spiritual. Bagi banyak umat Islam, peristiwa-peristiwa di kawasan ini tak semata dibaca sebagai berita politik, tapi juga sebagai bagian dari ujian, harapan, dan hubungan dengan nilai-nilai keimanan.
Lebih luas lagi, ketiga contoh ini—persaingan Amerika Serikat dan China, konflik Rusia-Ukraina, serta dinamika Timur Tengah—menunjukkan berlakunya pola “kalah, bangkit, menang, lalu berpotensi jatuh kembali” yang merupakan bagian dari sunnatullah dalam sejarah. Tiada satu pun kekuatan yang kekal dominan, dan tiada pula keadaan yang sepenuhnya statis. Sejarah sentiasa bergerak dalam kitaran, walaupun bentuk dan aktornya berubah.
Namun demikian, penting untuk menegaskan bahwa perspektif Ar-Rum tak boleh disalahgunakan untuk membenarkan sikap simplistik atau fatalistik. Ia tak memberikan legitimasi untuk mendukung konflik tertentu secara membuta, dan juga tak menjamin kemenangan bagi pihak mana pun tanpa usaha, strategi, dan pertimbangan etika. Sebaliknya, ia mengajak kepada sikap yang lebih seimbang: memahami realitas dengan tajam, namun tetap menyadari keterbatasan manusia dalam meramalkan masa depan.
Dengan demikian, analisis geopolitik melalui lensa Surah Ar-Rum pada akhirnya mengarahkan kita kepada satu kesimpulan penting, bahwa di balik kompleksitas konflik global, terdapat pola-pola yang berulang dan suatu ketentuan Ilahi yang melampaui perhitungan manusia. Ia menanamkan sikap realistis tanpa kehilangan harapan, serta kesadaran bahwa sejarah bukan sekadar hasil dari kekuatan material, tetapi juga bagian dari tatanan yang lebih luas di bawah kehendak Allah.
Awal Surah Ar-Rum tak semata merupakan kisah historis tentang konflik masa lalu, melainkan pula, cermin dari dinamika kekuasaan global, sumber harapan di tengah kekalahan yang tampak nyata, serta pengingat bahwa perjalanan sejarah, pada akhirnya, berlangsung di bawah kehendak dan ketetapan Ilahi.
[Bagian 27]
[Bagian 25]

