Selasa, 13 Januari 2026

Etika Lingkungan: Saatnya Merenung di Tengah Dunia yang Lagi Gosong (9)

Dalam teks ilmiahnya, In Nature's Interest? Biological Interests, Adontology, and Environmental Ethics, yang diterbitkan pada tahun 1998, Gary E. Varner dengan mahir menavigasi jalan tengah antara antroposentrisme dan biosentrisme radikal dengan membela teori etika lingkungan "individualis biosentris." Ia berargumen bahwa semua makhluk hidup punya kepentingan—bukan karena mereka memiliki keinginan sadar, melainkan karena mereka berfungsi biologis yang dapat terpenuhi atau terhambat. Dengan mendasarkan filosofinya pada konsep "kepentingan biologis," Varner menyajikan kerangka rasional dalam memberikan status moral kepada entitas yang tak sadar semisal tumbuh-tumbuhan, sembari tetap mempertahankan hierarki yang memungkinkan pengambilan keputusan praktis bagi manusia.

Varner secara teliti membangun jembatan antara etika individualistik dan holisme lingkungan dengan mendefinisikan ulang konsep "kepentingan" melalui sudut pandang biologis. Ia berpendapat bahwa suatu entitas punya kepentingan jika ia memiliki "fungsi biologis" yang dapat didorong atau dihambat, sebuah argumen yang secara efektif memperluas status moral kepada seluruh organisme hidup, termasuk tumbuh-tumbuhan, tanpa mengharuskan mereka punya keinginan atau perasaan sadar. Meskipun banyak penganut holisme lingkungan berargumen demi nilai intrinsik dari seluruh ekosistem atau spesies sebagai kesatuan kolektif, Varner tetap mempertahankan posisi individualis, yang menunjukkan bahwa kewajiban moral kita pada akhirnya berhutang kepada individu-individu yang membentuk sistem tersebut. Namun, ia dengan cerdas mendamaikan individualisme ini dengan tujuan lingkungan hidup dengan berargumen bahwa pelestarian struktur holistik—semisal keanekaragaman hayati dan kesehatan ekosistem—merupakan syarat yang diperlukan bagi perkembangan organisme individual di dalamnya. Oleh sebab itu, Varner memberikan pembenaran filosofis yang kuat bagi perlindungan lingkungan yang memenuhi tuntutan holisme ekologis sambil tetap berakar kuat pada kerangka individualis yang rasional dan berbasis kepentingan.

Varner memperkenalkan kerangka kerja hierarkis untuk menyelesaikan konflik moral dengan membedakan antara "keinginan kategoris" (categorical desires) dan "kepentingan biologis semata" (merely biological interests). Ia berpendapat bahwa meskipun semua makhluk hidup punya kepentingan biologis, manusia kerapkali memiliki "proyek dasar" (ground projects)—tujuan jangka panjang yang dipegang teguh, yang memberikan rasa makna dan identitas pada kehidupan mereka. Keinginan kategoris ini dianggap lebih signifikan secara moral karena kegagalannya akan secara mendasar merusak alasan individu tersebut untuk hidup, sedangkan kepentingan biologis dari tumbuhan atau organisme yang tak berkesadaran, meskipun valid, tak memiliki bobot psikologis atau eksistensial yang sama. Dengan menerapkan "Aturan Prioritas"-nya, Varner menyarankan bahwa kita secara moral dibolehkan untuk memprioritaskan kepentingan kategoris manusia di atas kepentingan biologis dasar entitas non-manusia, asalkan kepentingan manusia tersebut benar-benar penting bagi suatu proyek dasar. Pendekatan bernuansa ini memungkinkan Varner agar tetap mempertahankan rasa hormat biosentris terhadap seluruh kehidupan sambil menawarkan solusi pragmatis bagi bentrokan yang tak terelakkan antara peradaban manusia dan dunia alam.

Dalam menerapkan "Aturan Prioritas" Varner pada dilema pembangunan rumah sakit di lokasi yang dihuni oleh spesies tanaman langka, kita hendaknya menimbang berbagai tingkat kepentingan yang terlibat. Varner akan berargumen bahwa rumah sakit tersebut mewakili "proyek dasar" (ground project) bagi komunitas manusia karena memfasilitasi pelestarian nyawa dan kesehatan manusia, yang merupakan syarat utama bagi individu guna mengejar keinginan kategoris mereka. Di bawah sistem hierarkisnya, "Aturan Prioritas Umum" menyarankan bahwa pemenuhan keinginan kategoris atau proyek dasar hendaklah didahulukan daripada "kepentingan biologis semata" dari organisme yang tak punya kesadaran, seperti tanaman langka tersebut. Karenanya, jika rumah sakit tak dapat dibangun di tempat lain dan keberadaannya sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat, kerangka kerja Varner secara moral membolehkan pemusnahan tanaman tersebut guna melayani kepentingan manusia di tingkat yang lebih tinggi. Namun, ia juga akan menegaskan bahwa kita punya kewajiban "prima facie" untuk meminimalkan dampak buruknya, mungkin dengan memindahkan tanaman tersebut atau memilih desain yang membatasi jejak ekologis, guna memastikan bahwa hierarki ini tak menjadi kebolehan bagi perusakan lingkungan yang sewenang-wenang.

Varner menyajikan kritik yang tajam namun terukur terhadap holisme lingkungan, sebuah pandangan (seperti yang dipopulerkan oleh Aldo Leopold dan J. Baird Callicott) yang menyatakan bahwa kewajiban moral utama kita adalah terhadap keseluruhan ekosistem atau spesies, bukan kepada individu-individu di dalamnya. Varner berargumen bahwa holisme yang ekstrem berisiko jatuh ke dalam apa yang disebut oleh para kritikus sebagai "fasisme lingkungan," dimana hak-hak individu dapat dikorbankan demi kebaikan kolektif sistem ekologi. Ia menegaskan bahwa unit dasar yang punya kepentingan moral hanyalah individu yang berfungsi biologis, bukan entitas abstrak seperti "ekosistem." Namun, Varner tak sepenuhnya menolak tujuan para holis; sebaliknya, ia berupaya menunjukkan bahwa tujuan pelestarian lingkungan holistik sebenarnya dapat dicapai melalui kerangka individualisme biosentris miliknya. Ia berpendapat bahwa kita seyogyanya melindungi ekosistem bukan karena ekosistem itu sendiri berhak, melainkan karena stabilitas ekosistem sangat penting bagi kelangsungan hidup dan terpenuhinya kepentingan organisme-organisme individual yang hidup di dalamnya.
Varner mengarahkan kecermatannya pada klaim filosofis bahwa kesatuan ekologis, seperti spesies atau ekosistem, bernilai intrinsik yang terpisah dari individu-individu yang membentuknya. Kritik utamanya berakar pada "teori kepentingan" (interest theory) mengenai status moral, dimana ia berargumen bahwa agar sesuatu memiliki signifikansi moral, ia hendaklah mampu punya kepentingan, yang pada gilirannya mengharuskannya memiliki "kebaikan bagi dirinya sendiri" secara biologis. Varner menyatakan bahwa meskipun organisme individual berfungsi dan bertujuan biologis yang jelas, suatu ekosistem tak punya kesatuan teleologis yang terintegrasi yang diperlukan untuk memiliki kepentingan atas namanya sendiri; ekosistem, sebaliknya, adalah jaringan kompleks dari kepentingan individu yang saling bersaing. Lebih jauh lagi, ia memperingatkan tentang implikasi "misanropis" dari holisme radikal, dengan menyarankan bahwa jika kita memprioritaskan "integritas dan stabilitas" komunitas biotik di atas segalanya, kita berisiko mendukung pengorbanan nyawa individu yang tidak dapat diterima secara etis—baik manusia maupun hewan—demi sebuah abstraksi kolektif.

Varner dengan cermat membedakan antara organisme hidup dan ekosistem, dengan memeriksa sifat koordinasi internalnya dan asal-usul "fungsi" mereka. Ia berargumen bahwa organisme individual adalah sistem yang terintegrasi erat dimana bagian-bagian penyusunnya (organ dan sel) telah berevolusi untuk bekerjasama demi kelangsungan hidup dan reproduksi keseluruhan, sebuah proses yang dikenal sebagai "seleksi alam" yang bekerja pada tingkat individu. Sebaliknya, ekosistem adalah kumpulan longgar dari berbagai spesies yang interaksinya sering kali bersifat kompetitif atau predator, yang berarti "sistem" tersebut tak memiliki tujuan biologis tunggal atau "kebaikan bagi dirinya sendiri" dengan cara yang sama seperti sebuah tanaman atau hewan. Bagi Varner, karena ekosistem tak memiliki kesatuan teleologis ini—ia hanyalah kumpulan individu yang mengejar tujuan terpisah mereka masing-masing—ekosistem tak dapat memiliki "kepentingan" dan oleh karenanya tak dapat menjadi objek langsung dari kepedulian moral, berbeda dengan organisme individual yang menghuninya.
Varner menggunakan teori seleksi alam guna menyajikan landasan ilmiah yang objektif bagi konsep kepentingan biologisnya, dengan menjauh dari keinginan subjektif. Ia berpendapat bahwa suatu entitas memiliki kepentingan biologis dalam X jika X adalah fungsi yang sifat-sifat entitasnya dipilih melalui proses evolusi. Berdasarkan logika ini, sebuah tanaman berkepentingan dalam fotosintesis bukan karena ia "menginginkan" cahaya matahari, melainkan karena leluhurnya bertahan hidup melalui mekanisme biologis spesifik tersebut, yang kemudian "memprogram" organisme saat ini agar berfungsi dengan cara itu. Hal ini memungkinkan Varner berargumen bahwa kepentingan tak eksklusif bagi makhluk yang memiliki kesadaran; sebaliknya, kepentingan adalah "tujuan-tanpa-subjek" yang ada karena seleksi alam telah merancang organisme agar beroperasi menuju tujuan-tujuan tertentu yang berorientasi pada kelangsungan hidup.

Varner membuat perbedaan tajam antara organisme biologis dan artefak buatan manusia dengan memeriksa asal-usul fungsi masing-masing melalui kacamata seleksi alam. Ia berargumen bahwa meskipun sebuah mesin, seperti monitor jantung, memiliki fungsi tertentu, fungsi ini bersifat "derivatif" (turunan) karena dirancang secara sengaja oleh pencipta manusia untuk melayani tujuan manusia. Sebaliknya, fungsi-fungsi dari organisme biologis bersifat "non-derivatif" karena dibentuk oleh seleksi alam demi kelangsungan hidup dan reproduksi organisme itu sendiri. Oleh karena itu, karena "kebaikan" sebuah mesin sepenuhnya bergantung pada niat manusia, mesin tersebut tidak memiliki "kebaikan bagi dirinya sendiri" yang independen atau kepentingan yang murni, yang membawa Varner pada kesimpulan bahwa mesin tak berstatus moral sementara entitas biologis yang paling sederhana sekalipun memilikinya.

Jadi, menurut Varner, "Bumi" atau "lingkungan" sebagai satu kesatuan kolektif tak punya status moral karena ia tak berkepentingan biologis yang terpadu; oleh sebab itu, kewajiban moral langsung kita berhutang secara khusus kepada individu-individu makhluk hidup—tumbuhan, hewan, dan manusia—yang mendiami planet ini. Ia menyarankan agar kita melindungi "Bumi" bukan sebagai tujuan akhir itu sendiri, melainkan sebagai sistem pendukung vital yang memungkinkan organisme individual tersebut memenuhi fungsi biologis dan "proyek dasar" (ground projects) mereka. Pada hakikatnya, filosofinya mempromosikan "holisme hasil" daripada "holisme prinsip," yang berarti bahwa meskipun perhatian utamanya adalah pada individu, hasil praktis dari teorinya tetap menuntut perlindungan ketat terhadap integritas ekologis seluruh planet demi memastikan kesejahteraan para penghuninya.

Dari perspektif filosofis Gary Varner, slogan "Save Our Earth" secara teknis kurang tepat karena menyiratkan bahwa planet sebagai entitas holistik yang tak hidup, yang punya kepentingan moralnya sendiri, padahal Varner menegaskan bahwa hanya makhluk hidup individual yang memiliki "kebaikan bagi dirinya sendiri." Ia akan berargumen bahwa "Save the Beings on Earth" (Selamatkan Makhluk di Bumi) adalah refleksi yang jauh lebih akurat dari kewajiban moral kita, karena slogan tersebut mengidentifikasi dengan tepat organisme individual—mulai dari manusia dan orangutan hingga pakis terkecil—sebagai pemilik sejati dari kepentingan biologis yang wajib kita lindungi. Namun, Varner akan mengakui bahwa "menyelamatkan Bumi" berfungsi sebagai strategi instrumental yang vital, karena melindungi integritas planet adalah satu-satunya cara untuk memastikan kelangsungan hidup berbagai sistem pendukung kehidupan yang menjadi sandaran bagi "proyek dasar" dan perkembangan biologis setiap individu. Karenanya, meskipun perhatian moral utamanya selalu tertuju pada penghuni individu daripada rumah planetnya, ia akan menyimpulkan bahwa menyelamatkan Bumi adalah metode praktis paling efektif untuk menyelamatkan jutaan makhluk individu yang tinggal di dalamnya.

Dalam menangani konflik antara suku nomaden dan perlindungan kawasan liar yang terancam punah, kerangka kerja Varner akan memprioritaskan "kepentingan kategoris" masyarakat suku tersebut karena cara hidup nomaden mereka merupakan "proyek dasar" yang mendalam, yang mendefinisikan identitas dan memberi makna pada keberadaan mereka. Ia akan berargumen bahwa meskipun tanaman dan hewan individual di kawasan liar tersebut punya kepentingan biologis yang signifikan, hal-hal tersebut biasanya tak dapat mengesampingkan kepentingan manusia yang esensial bagi kelangsungan hidup dan integritas budaya suatu komunitas. Namun, Varner akan bersikeras menerapkan "Prinsip Inklusivitas" guna mencari solusi "minimax", dimana suku-suku tersebut didorong mengelola lahan bersama dengan cara yang memenuhi kebutuhan esensial mereka seraya meminimalkan penghambatan terhadap kepentingan biologis dari spesies yang terancam punah. Pada akhirnya, aturan prioritasnya menyarankan bahwa kita hanya boleh membatasi proyek dasar manusia yang fundamental tersebut jika kerusakan lingkungan yang terjadi begitu mutlak sehingga mengancam sistem pendukung kehidupan yang menjadi sandaran bagi manusia maupun margasatwa demi kelangsungan hidup mereka.

Kerangka kerja Varner secara alami berbenturan langsung dengan para aktivis lingkungan radikal dan pendukung "Ekologi Mendalam" (Deep Ecology) yang berargumen bahwa entitas tak hidup, seperti gunung, sungai, atau seluruh bentang alam, harus memiliki hak inheren mereka sendiri. Dari sudut pandang Varner, karena sungai atau gunung tak punya sel biologis, sejarah reproduksi yang dibentuk oleh seleksi alam, dan "kebaikan bagi dirinya sendiri" yang bersifat teleologis, entitas tersebut tak mungkin memiliki kepentingan; dengan demikian, secara filosofis mustahil bagi entitas semacam itu menjadi korban ketidakadilan moral atas namanya sendiri. Sementara seorang penganut holisme radikal mungkin mengklaim bahwa sungai memiliki "hak untuk mengalir," Varner akan berargumen bahwa nilai sungai tersebut murni bersifat instrumental atau sistemik—sungai itu layak dilindungi hanya karena individu ikan, tumbuhan, dan komunitas manusia bergantung padanya guna kelangsungan hidup dan pemenuhan kepentingan biologis mereka sendiri. Akibatnya, meskipun kedua belah pihak mungkin setuju pada kebutuhan praktis untuk mencegah polusi, pembenaran mendasar mereka berbeda: yang satu melihat sungai sebagai entitas serupa pribadi yang memiliki hak, sementara Varner melihatnya sebagai mesin pendukung kehidupan yang krusial bagi organisme individual yang benar-benar ia hargai.

Varner secara mendalam menguraikan argumen inti yang membedakan teorinya dari para pemikir etika lingkungan lainnya dengan berfokus pada apa yang sebenarnya dimaksud dengan "punya kepentingan." Ia berargumen bahwa kepentingan tak boleh dibatasi hanya pada makhluk yang memiliki kesadaran atau keinginan mental, melainkan hendaklah mencakup fungsi biologis yang objektif. Varner menegaskan bahwa sebuah organisme punya kepentingan biologis dalam X jika X adalah fungsi yang telah ditentukan oleh seleksi alam bagi organisme tersebut, yang berarti bahwa terpenuhinya fungsi tersebut berkontribusi pada "kebaikan" organisme itu sendiri terlepas dari apakah ia "merasakannya" atau tidak. Dengan demikian, ia memberikan dasar filosofis yang kuat untuk mengakui bahwa tumbuh-tumbuhan dan organisme bersel satu berstatus moral yang setara dalam hal kepemilikan kepentingan biologis, karena mereka juga memiliki tujuan-tujuan yang berorientasi pada kelangsungan hidup yang telah diprogram secara evolusioner.

Varner memperkenalkan "Prinsip Inklusivitas" (Principle of Inclusiveness) sebagai aturan moral dasar, yang menyatakan bahwa kita hendaklah memenuhi kepentingan seluruh makhluk hidup sejauh hal itu memungkinkan. Prinsip ini memperkokoh posisi biosentrisnya, namun ia mengakui bahwa dalam dunia dengan sumber daya terbatas, kepentingan-kepentingan tersebut pasti akan berbenturan, sehingga memerlukan metode rasional guna "Menetapkan Prioritas di antara Kepentingan-kepentingan" (Establishing Priorities among Interests). Untuk menyelesaikan konflik ini, Varner membedakan antara "kepentingan kategoris," yang terkait dengan proyek-proyek dasar yang menentukan makna hidup seseorang, dan "kepentingan biologis semata," seperti kepentingan pada tumbuhan atau hewan yang tak memiliki kesadaran. Ia berargumen bahwa secara moral dapat dibenarkan memprioritaskan kepentingan kategoris di atas kepentingan biologis, asalkan hal tersebut diperlukan untuk menjaga integritas kehidupan manusia yang bermakna. Dengan melakukan itu, Varner menciptakan sistem etika berlapis yang menghargai seluruh kehidupan, namun memberikan "Aturan Prioritas" yang praktis guna memandu pengambilan keputusan manusia saat dihadapkan pada pilihan sulit antara kemajuan manusia dan kelangsungan hidup organisme lain.

"Hierarki Kepentingan" Varner disusun untuk memberikan perkembangan logis yang jelas dari kebutuhan yang paling mendasar hingga aspirasi manusia yang paling kompleks. Di dasarnya terdapat "Kepentingan Biologis Semata" (Merely Biological Interests), yang dimiliki oleh semua makhluk hidup, seperti kebutuhan tanaman akan sinar matahari atau kebutuhan hewan akan oksigen untuk mempertahankan fungsi biologisnya. Di atas kepentingan ini terdapat "Kepentingan Preferensi" (Preference Interests), yang dimiliki oleh makhluk berkesadaran yang mampu menginginkan hasil tertentu atau menghindari rasa sakit. Di puncaknya, Varner menempatkan "Kepentingan Kategoris" (Categorical Interests), yang unik bagi makhluk yang mampu memiliki "proyek dasar"—tujuan jangka panjang yang menentukan identitas diri dan memberi seseorang alasan untuk terus hidup. Hierarki ini berfungsi melalui "Aturan Prioritas"-nya: Aturan Prioritas Umum menyatakan bahwa kepentingan kategoris biasanya mengalahkan kepentingan biologis semata, sementara Aturan Spesifikasi menyarankan bahwa ketika kepentingan berada pada tingkat yang sama, kita harus berusaha memenuhi sebanyak mungkin kepentingan tanpa merusak proyek dasar yang mendasar dari individu-individu yang terlibat.

Varner mengajukan bahwa setiap organisme individual yang berkepentingan biologis mempunyai bobot moral yang bukan nol, yang menyiratkan bahwa kita memiliki kewajiban prima facie untuk menghindari penghambatan terhadap kepentingan makhluk hidup apa pun. Prinsip ini berfungsi sebagai landasan egalitarian dalam teorinya, yang menunjukkan bahwa tiada kehidupan yang secara inheren berada "di luar" komunitas moral; namun, Varner segera menyadari bahwa pandangan inklusif semacam itu akan membawa pada kelumpuhan praktis tanpa adanya metode untuk "Establishing Priorities among Interests" (Menetapkan Prioritas di antara Kepentingan-kepentingan). Ia menyelesaikan hal ini dengan memperkenalkan "Aturan Prioritas"-nya, terutama "Aturan Prioritas Umum," yang menyatakan bahwa diperbolehkan mengorbankan "kepentingan biologis semata" dari makhluk yang tak memiliki kesadaran demi memenuhi "kepentingan kategoris" manusia. Dengan membedakan antara kepentingan yang esensial bagi kehidupan yang bermakna (proyek dasar) dan kepentingan yang sekadar mengenai kelangsungan hidup biologis, Varner menciptakan hierarki etika terstruktur yang memungkinkan kemajuan manusia sambil tetap menuntut agar kita membenarkan setiap bahaya yang ditimbulkan terhadap dunia alam.

Varner menarik pembedaan vital antara "kepentingan kategoris" dan "hasrat periferal semata" untuk memastikan bahwa aturan prioritasnya tak memberikan "cek kosong" bagi manusia untuk menghancurkan alam demi alasan sepele. Ia mendefinisikan kepentingan kategoris sebagai keinginan yang sangat sentral bagi "proyek dasar" seseorang—tujuan menyeluruh yang memberikan makna pada hidup mereka—sehingga jika keinginan tersebut terhambat, individu tersebut tak lagi menganggap hidupnya layak dijalani. Sebaliknya, hasrat periferal adalah nafsu sesaat atau kemewahan, seperti keinginan memakai bulu binatang atau mengendarai mobil yang boros bahan bakar demi status, yang tak secara mendasar menentukan identitas seseorang. Menurut Varner, meskipun kita boleh memprioritaskan kepentingan kategoris manusia di atas nyawa tumbuhan atau hewan, kita tak diperbolehkan mengorbankan kepentingan biologis entitas non-manusia hanya demi memenuhi hasrat periferal manusia, sehingga memberikan batasan moral yang signifikan terhadap konsumsi dan kesombongan manusia.

Varner menerapkan pembedaan antara kepentingan kategoris dan periferal untuk memberikan kritik yang kuat terhadap praktik industri modern, khususnya factory farming. Ia berargumen bahwa bagi sebagian besar orang di masyarakat maju, mengonsumsi daging adalah "hasrat periferal" dan bukan "kepentingan kategoris," karena kehidupan yang sehat dan bermakna dapat dengan mudah dipertahankan melalui diet vegetarian. Karena kepentingan biologis hewan yang memiliki kesadaran (menghindari rasa sakit) dan kepentingan dasar mereka untuk terus hidup sangatlah signifikan, mengorbankan mereka hanya untuk memuaskan preferensi kuliner manusia—sebuah kesenangan sesaat—secara moral tak dapat dibenarkan menurut kerangka kerjanya. Sebaliknya, dalam kasus perburuan subsisten tradisional, dimana kelangsungan hidup komunitas dan seluruh identitas budaya mereka ("proyek dasar") bergantung pada perburuan tersebut, "Aturan Prioritas" Varner memungkinkan pengambilan nyawa hewan, karena kepentingan manusia yang terlibat telah bergeser dari sekadar keinginan sesaat menjadi kebutuhan kategoris bagi cara hidup mereka.
Dalam membahas "perburuan terapeutik," Varner memberikan sintesis yang menarik antara etika individualisnya dan kebutuhan lingkungan, khususnya dalam kasus kelebihan populasi. Ia berargumen bahwa ketika suatu spesies, semisal rusa, kekurangan predator alami dan berkembang melampaui "kapasitas tampung" lingkungannya, mereka mulai merusak habitat yang menjadi sandaran bagi semua individu dalam ekosistem tersebut. Dalam skenario ini, Varner menyarankan bahwa perburuan terkendali dapat dibenarkan secara moral karena membiarkan populasi terus bertumbuh akan menyebabkan kelaparan massal dan runtuhnya kepentingan biologis bagi ribuan organisme lainnya. Ia membingkai hal ini bukan sebagai kewajiban terhadap "ekosistem" sebagai entitas holistik, melainkan sebagai solusi "minimax"—sebuah cara meminimalkan jumlah total kepentingan biologis yang terhambat—sehingga memungkinkan penyeleksian beberapa individu demi memastikan kelangsungan hidup dan perkembangan mayoritas yang tersisa.

Varner merangkum argumennya dengan menantang apa yang ia sebut sebagai "Dua Dogma Etika Lingkungan" (Two Dogmas of Environmental Ethics). Dogma pertama yang ia kritik adalah pandangan bahwa etika lingkungan hendaklah bersifat holistik secara mendasar agar bisa efektif; Varner membantah hal ini dengan menunjukkan bahwa individualisme biosentris miliknya dapat mencapai tujuan pelestarian yang sama tanpa harus mengorbankan nilai moral individu. Dogma kedua yang ia lawan adalah gagasan bahwa nilai-nilai lingkungan tak dapat diselaraskan dengan kepentingan manusia; sebaliknya, Varner berargumen bahwa dengan memahami "kepentingan biologis" dan "proyek dasar" secara tepat, kita dapat membangun kerangka kerja yang rasional dimana perlindungan alam menjadi bagian integral dari kehidupan manusia yang bermakna. Ia menyimpulkan bahwa meskipun teorinya berakar pada individu, terdapat "hipotesis konvergensi" dimana kebijakan yang paling masuk akal bagi seorang individualis biosentris akan sangat mirip dengan apa yang dianjurkan oleh para aktivis lingkungan yang lebih radikal, sehingga menjalin persatuan praktis dalam upaya penyelamatan planet ini.

Dalam konteks perlindungan spesies langka, pandangan Varner memberikan landasan yang sangat praktis namun tetap beretika. Baginya, spesies itu sendiri tak memiliki hak moral karena spesies adalah kategori abstrak, bukan individu yang bernapas. Varner berargumen bahwa setiap anggota spesies langka punya kepentingan biologis untuk bertahan hidup. Ketika populasi suatu spesies menurun drastis, nilai setiap individu menjadi semakin kritis secara instrumental. Membiarkan satu individu spesies langka mati bukan hanya merugikan individu tersebut, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup "mesin pendukung kehidupan" (ekosistem) bagi individu-individu lain yang bergantung padanya.

Meskipun Varner tak setuju dengan aktivis radikal bahwa "spesies memiliki hak untuk ada," ia akan setuju pada hasilnya. Ia menggunakan "Hipotesis Konvergensi": Melindungi spesies X karena kepunahannya akan merusak stabilitas lingkungan, yang pada akhirnya akan merugikan kepentingan biologis ribuan individu makhluk hidup lainnya, termasuk manusia.

Jika ada konflik antara pembangunan ekonomi (hasrat periferal manusia) dan habitat spesies langka, Varner akan membela spesies tersebut. Namun, jika pembangunan tersebut berkaitan dengan "proyek dasar" manusia yang sangat esensial (semisal akses air bersih atau kesehatan dasar), ia menyediakan kerangka kerja untuk mengevaluasi mana yang perlu diprioritaskan tanpa harus merasa bersalah secara moral karena telah menjadi "fasis lingkungan."

Nah, mari kita bayangkan sebuah hutan hujan kuno yang luas. Sebuah korporasi besar ingin membuka 1.000 hektar lahan untuk menanam sawit. Proyek ini akan menciptakan lapangan kerja, namun juga akan menghancurkan rumah bagi ribuan individu orangutan, burung, dan tanaman tropis langka.

Pandangan Korporasi: "Ini demi kemajuan! Kita akan menghasilkan keuntungan dan menyediakan minyak goreng murah bagi jutaan orang (Hasrat Periferal)."

Para Holis Radikal: "Hutan memiliki jiwa! Kita harus melindungi 'Alam Liar' sebagai kesatuan yang suci, tanpa peduli pada kebutuhan manusia."

Intervensi Varner: Varner berjalan ke dalam hutan dan menatap seekor individu orangutan dan sebatang pakis. Ia berkata: "Baik orangutan ini maupun pakis ini memiliki Kepentingan Biologis. Orangutan memiliki 'kebaikan' biologis dalam mencari buah dan bersarang; pakis memiliki 'kebaikan' dalam berfotosintesis dan menyebarkan spora. Karena mereka punya kepentingan ini, mereka memiliki status moral. Kita tak bisa begitu saja menumbangkan mereka demi 'minyak goreng murah' atau 'keuntungan perusahaan,' karena itu hanyalah Keinginan Periferal—hal-hal yang tak esensial bagi kehidupan manusia yang bermakna."

Namun, jika komunitas masyarakat adat setempat membutuhkan sebagian kecil lahan tersebut untuk bercocok tanam agar tak mati kelaparan, Varner mengubah nadanya: "Nah, untuk tetap hidup dan mempertahankan identitas budaya kalian adalah Kepentingan Kategoris (sebuah Proyek Dasar). Dalam benturan spesifik ini, kebutuhan manusia guna bertahan hidup, boleh mengalahkan kepentingan pakis untuk eksis. Tapi," tambahnya dengan tegas, "kita tetap harus menggunakan Prinsip Inklusivitas. Ini berarti kita harus memenuhi kepentingan orangutan dan tanaman sebanyak mungkin—barangkali dengan membuat koridor margasatwa atau membatasi pembukaan lahan—karena nyawa mereka tetap masuk dalam hitungan moral."

Pesan utama yang dapat diambil dari karya Varner adalah argumen yang meyakinkan bahwa etika lingkungan yang kuat dapat dibangun tanpa mengabaikan pentingnya individu atau beralih ke holisme radikal. Dengan mendasarkan status moral pada "kepentingan biologis" dan bukan sekadar kesadaran, Varner mengajarkan kita bahwa setiap organisme hidup memiliki kebaikan objektif yang secara prima facie wajib kita hormati. Lebih jauh lagi, pembedaannya antara "kepentingan kategoris," yang mendefinisikan kehidupan manusia yang bermakna, dan "keinginan periferal" menyediakan kerangka kerja rasional untuk membuat pilihan etis yang sulit; hal ini membenarkan pelestarian alam melawan keinginan sepele manusia namun tetap memungkinkan kemajuan manusia ketika kebutuhan mendasar sedang dipertaruhkan. Pada akhirnya, "hipotesis konvergensi" miliknya menawarkan pesan harapan tentang persatuan praktis, yang menunjukkan bahwa baik kita menghargai individu maupun seluruh ekosistem, jalur tindakan yang paling rasional secara konsisten akan membawa kita menuju perlindungan dunia alam secara ketat.

[Bagian 10]
[Bagian 8]