Dalam The Alchemy of Happiness, Imam al-Ghazali tak membicarakan elegansi sebagai persoalan gaya lahiriah atau tampilan estetis, namun ia menyajikan uraian yang sangat mendalam tentang apa yang dapat dipahami sebagai elegansi sejati melalui penyempurnaan jiwa dan keteraturan kehidupan batin. Ia menjelaskan bahwa kebahagiaan yang sejati lahir ketika manusia mengenal dirinya, mendisiplinkan hasratnya, dan menyelaraskan potensi batinnya dengan tujuan ilahiah, sehingga menunjukkan bahwa elegansi pada dasarnya adalah harmoni batin, bukan kilap permukaan. Bagi al-Ghazali, hati atau qalbu yang disucikan dari kesombongan, keserakahan, dan sikap berlebihan akan secara alami melahirkan perilaku yang tenang, rendah hati, dan seimbang, yang keseluruhannya membentuk cara hidup yang bermartabat dan anggun.
Al-Ghazali juga mengaitkan penyempurnaan diri dengan sikap moderat dan pengendalian diri, dengan menegaskan bahwa sikap berlebihan dalam ucapan, perilaku, atau keinginan akan merusak keseimbangan moral jiwa. Keseimbangan moral ini, ketika tercapai, akan tampak secara lahiriah dalam tuturkata yang terukur, diam yang tepat, adab yang lembut, serta sikap hormat kepada sesama, yang semuanya menyerupai apa yang dalam istilah modern dapat disebut sebagai keanggunan perilaku. Ia menekankan bahwa keindahan dalam tindakan terletak pada kepantasan dan proporsi, di mana setiap unsur jiwa menjalankan perannya secara tepat tanpa dominasi atau pengabaian, sehingga melahirkan kehidupan yang tertata, terkendali, dan bercahaya dari dalam.
Yang terpenting, al-Ghazali meletakkan seluruh penyempurnaan diri itu pada dasar dzikir kepada Allah dan keikhlasan niat, seraya menegaskan bahwa keindahan lahiriah tanpa kebenaran batin hanyalah kosong dan menipu. Dalam pengertian ini, elegansi baginya bukanlah hiasan luar, melainkan jejak yang tampak dari transformasi batin, ketika ilmu, ibadah, dan akhlak menyatu dalam diri seseorang dan melahirkan kehidupan yang tenang serta bermartabat. Dengan demikian, The Alchemy of Happiness menghadirkan elegansi sebagai keselarasan spiritual, keseimbangan etis, dan kerendahan hati di hadapan Allah, sebuah visi keanggunan yang melampaui zaman, berakar pada batin, dan sarat makna moral.
Dalam kaitannya dengan elegansi, pesan utama al-Ghazali dalam The Alchemy of Happiness adalah bahwa penyempurnaan diri yang sejati tak mungkin dicapai hanya melalui penampilan lahiriah, melainkan hendaklah bersumber dari penyucian dan penataan batin. Ia mengajarkan bahwa seseorang yang belum mendisiplinkan hawa nafsunya, meluruskan niatnya, dan menumbuhkan kerendahan hati boleh jadi tampak rapi dan terpelajar, tetapi pada hakikatnya masih kacau secara batin dan kasar secara spiritual. Bagi al-Ghazali, keanggunan yang tampak di permukaan hanya menjadi elegansi yang sejati apabila ia mencerminkan hati yang seimbang, tulus, dan tertuju kepada Allah.
Al-Ghazali juga menegaskan bahwa pengendalian diri merupakan inti dari penyempurnaan, karena sikap berlebihan dalam ucapan, ambisi, atau pamer diri pada akhirnya melahirkan keburukan moral, meskipun secara sosial mungkin dipuji. Ia menekankan bahwa bentuk keindahan yang paling bermartabat terletak pada kepantasan, yakni ketika tindakan, kata-kata, dan perasaan diekspresikan secara terukur dan sesuai dengan konteksnya. Proporsi semacam ini melahirkan keluhuran akhlak yang tenang, di mana seseorang tidak perlu mengumumkan kebajikan atau kecanggihannya, karena kehadirannya sendiri telah memancarkan keteduhan, keteraturan, dan kejernihan moral.
Pada akhirnya, pesan al-Ghazali adalah bahwa elegansi merupakan hasil sampingan dari keikhlasan dan pengenalan diri, bukan tujuan yang dikejar demi citra atau pengakuan. Ketika seseorang mencari Allah, memahami keterbatasan dirinya, dan hidup dengan kesadaran serta pengendalian diri, maka elegansi akan hadir secara alami sebagai cahaya batin yang tampak dalam perilaku. Dengan demikian, The Alchemy of Happiness memandang elegansi bukan sebagai pertunjukan sosial, melainkan sebagai keadaan spiritual yang terwujud dalam kesahajaan, keseimbangan, dan keunggulan yang tenang.

Dalam Beauty and Islam: Aesthetics in Islamic Art and Architecture (pertama kali diterbitkan pada tahun 2001 dan diterbitkan oleh I.B. Tauris bekerja sama dengan The Institute of Ismaili Studies, sekarang bagian dari Bloomsbury Publishing), Valerie Gonzalez meneliti makna keindahan dalam tradisi Islam, menunjukkan bahwa keindahan tak dapat dipisahkan dari teologi, etika, metafisika, dan sejarah intelektual Islam secara luas. Ia menelusuri akar pemikiran estetika Islam kembali kepada filsuf Muslim abad pertengahan semisal Avicenna dan Averroes, serta berargumen bahwa estetika Islam hendaklah dipahami secara tak terpisah tetapi berkaitan dengan diskusi tentang eksistensi, tujuan, dan tatanan moral. Gonzalez mengaplikasikan kerangka teoretis kontemporer—termasuk fenomenologi dan semiotika—pada seni dan arsitektur Islam klasik, menjembatani sumber-sumber tradisional seperti narasi Qur’ani tentang Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis dengan pendekatan modern terhadap persepsi, makna, dan bentuk. Eksplorasinya atas konfigurasi geometris dan inskripsi di tempat seperti Alhambra, misalnya, mengungkap bagaimana harmoni, proporsi, dan konten simbolis bukan sekadar hiasan, tetapi mengekspresikan koherensi filosofis dan spiritual yang mendalam yang selaras dengan konsepsi Islam tentang keindahan. Dengan menempatkan miniatur tradisional, keramik, dan contoh arsitektur di samping seni modern, ia menyoroti bagaimana dorongan Islam menuju penyempurnaan—suatu elegansi proporsi dan makna spiritual—tetap berpengaruh lintas waktu dan media artistik.
Pesan utama Beauty and Islam: Aesthetics in Islamic Art and Architecture karya Valerie Gonzalez, sejauh berkaitan dengan elegansi, bahwa keindahan dalam Islam bukanlah kemewahan ornamental atau kenikmatan estetis yang berdiri sendiri, melainkan harmoni yang terdisiplinkan dan berakar pada makna metafisis serta tatanan spiritual. Buku ini menyampaikan bahwa elegansi dalam tradisi Islam lahir dari proporsi, ritme, dan pengendalian diri, dimana penyempurnaan visual berfungsi untuk membuka kesadaran akan kesatuan antara bentuk, makna, dan kehadiran Ilahi. Dengan demikian, elegansi tak dimaksudkan untuk menonjolkan seniman atau objeknya, melainkan untuk mengarahkan persepsi menuju perenungan, ketenangan batin, dan kesadaran akan tatanan yang lebih tinggi.
Gonzalez menekankan bahwa seni dan arsitektur Islam mengekspresikan elegansi melalui abstraksi, geometri, dan pengulangan, yang secara sengaja menghindari individualisme dramatis atau pertunjukan emosional. Pilihan estetis ini mencerminkan pandangan hidup Islam, dimana keindahan harus tetap koheren secara etis dan spiritual, sehingga bentuk tidak menguasai makna. Dalam pengertian ini, elegansi dicapai melalui keseimbangan dan keterpahaman, ketika kompleksitas dikendalikan dengan cermat dan sikap berlebihan dihindari, sehingga harmoni muncul tanpa pameran. Pengendalian semacam ini melahirkan kecanggihan yang tenang, yang tak berisik menuntut perhatian, tetapi menopang perenungan yang mendalam.
Pada akhirnya, buku ini menyampaikan bahwa elegansi dalam Islam merupakan ekspresi disiplin metafisis, bukan persoalan selera pribadi, yang berakar pada pemahaman Islam tentang keteraturan, kesatuan, dan transendensi. Keindahan menjadi elegan ketika ia menghormati batas, melayani tujuan, dan tetap selaras dengan kebenaran spiritual, sehingga seni dan arsitektur menjelma menjadi ruang-ruang bermartabat, teduh, dan jernih secara moral. Dalam perspektif ini, elegansi bukanlah ambisi dekoratif, melainkan bentuk keselarasan etis dan spiritual yang tampak dalam wujud.
Dalam Piety, Politics, and Everyday Ethics in Southeast Asian Islam: Beautiful Behavior (2018, Bloomsbury Academic), kumpulan esai yang disunting oleh Robert Rozehnal mengeksplorasi ekspresi adab—yang dalam buku ini disebut “perilaku yang indah”—dalam konteks Islam Indonesia dan Malaysia, dan dengan demikian secara implisit berkaitan dengan semacam elegansi nyata yang berakar pada pembentukan etika dan perilaku sosial. Kontributor buku membahas bagaimana adab berfungsi sebagai kerangka normatif yang membentuk etiket pribadi, perilaku moral, kesopanan, dan rasa kemanusiaan, menunjukkan bahwa elegansi dalam konteks Islam ini tak dapat dipisahkan dari praktik etika sehari-hari, bukan sekadar penyempurnaan lahiriah semata. Dengan merujuk pada teks sejarah, adat lokal, dan pengalaman kontemporer, buku ini menunjukkan bahwa perilaku elegan dalam Islam terwujud melalui tutur kata yang tepat, interaksi yang penuh hormat, dan kehadiran yang sadar dalam berbagai ranah sosial dan politik, sehingga menempatkan substansi moral di balik keanggunan lahiriah.
Buku ini juga mempertimbangkan bagaimana adab berinteraksi dengan politik, hukum, spiritualitas, dan imajinasi budaya, memperlihatkan bahwa apa yang dapat disebut sebagai perilaku elegan pada hakikatnya juga bersifat etis dan bermakna secara politis. Beberapa bab membahas bagaimana adab membentuk kehidupan religius di akar rumput, membentuk harapan gender dalam lembaga pendidikan, dan menavigasi skandal publik serta otoritas, yang semuanya menggambarkan bahwa elegansi dalam pengertian etika Islam tidak terlepas dari realitas kekuasaan dan kehidupan komunitas yang konkret. Dengan memperhatikan tradisi tekstual maupun pengalaman hidup, volume ini menunjukkan bahwa perilaku elegan dalam Islam Asia Tenggara muncul dari integrasi cita-cita moral dengan praktik sosial, di mana kesopanan, rasa hormat, dan koherensi moral mengekspresikan cara hidup yang halus dan bermakna secara Islami.
Pesan utama Piety, Politics, and Everyday Ethics in Southeast Asian Islam: Beautiful Behaviour dalam kaitannya dengan elegansi adalah bahwa kehalusan dalam Islam bersifat etis, sosial, dan dijalani secara nyata, bukan estetika dalam pengertian sempit atau elitis. Buku ini menegaskan bahwa apa yang dapat dipahami sebagai elegansi lahir melalui adab, yakni perilaku yang indah dalam tutur kata, sikap tubuh, pengendalian diri, dan kepekaan terhadap sesama, yang semuanya dibentuk melalui praktik keagamaan sehari-hari. Dengan demikian, elegansi tidak terpisah dari kehidupan biasa, melainkan tumbuh dari tindakan moral yang berulang dan membentuk watak serta keharmonisan sosial.
Buku ini juga menyampaikan bahwa elegansi Islam bersifat relasional dan kontekstual, muncul dalam cara individu menjalani kehidupan keluarga, pendidikan, otoritas publik, relasi gender, dan keterlibatan politik dengan martabat dan pengendalian diri. Alih-alih mengagungkan pamer diri atau ekspresi berlebihan, buku ini menyoroti bagaimana sikap menahan diri, kesopanan, dan konsistensi moral berfungsi sebagai penanda kehalusan dalam masyarakat Muslim Asia Tenggara. Dalam pengertian ini, elegansi dipahami sebagai kemampuan menjaga ketenangan etis di tengah ketegangan sosial, perbedaan pendapat, atau ketimpangan kekuasaan, yang mencerminkan disiplin batin, bukan sekadar kilap lahiriah.
Pada akhirnya, pesan buku ini adalah bahwa elegansi dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab terhadap sesama dan kesadaran akan konsekuensi moral. Perilaku yang indah tidak dipandang sebagai gaya pribadi, melainkan sebagai pencapaian etis yang berakar pada ketakwaan, kerendahan hati, dan akuntabilitas sosial. Dengan menempatkan elegansi dalam etika yang dijalani dan kehidupan komunal, buku ini menegaskan bahwa kehalusan sejati dalam Islam diukur bukan dari seberapa mengesankan penampilan seseorang, melainkan dari seberapa bertanggung jawab, lembut, dan adil ia hadir dalam dunia moral bersama.
Sebagai penutup, baik pemahaman umum maupun pemahaman Islam tentang elegansi sama-sama mengakui kelembutan, harmoni, dan rasa keteraturan sebagai kualitas yang penting, namun keduanya berbeda dalam dasar dan tujuan akhirnya. Dalam penggunaan umum, elegansi terutama dinilai melalui bentuk lahiriah, selera, dan kesan sosial, yang kerap dibentuk oleh mode budaya dan preferensi estetis, sementara dalam perspektif Islam, elegansi lahiriah hanya bermakna sejauh ia menjadi cerminan keselarasan moral dan spiritual batin. Meski demikian, kedua perspektif ini bertemu dalam penghargaan terhadap sikap menahan diri, keseimbangan, dan kepantasan, yang menunjukkan bahwa elegansi, baik sekuler maupun religius, sama-sama menolak sikap berlebihan dan kekacauan. Perbedaan yang menentukan terletak pada orientasinya: elegansi umum mencari pengakuan dalam kerangka sosial atau estetis, sedangkan elegansi Islam tertuju pada integritas etis dan kesadaran akan Allah. Di titik pertemuan kedua pandangan inilah, elegansi tak lagi sekadar soal penampilan, melainkan menjadi harmoni yang terlatih antara perilaku, niat, dan proporsi, yang mengingatkan kita bahwa kelembutan sejati bertahan ketika keindahan dipandu oleh tujuan moral.