Kamis, 01 Januari 2026

Elegansi sebagai Presensi Etis

Wacana publik di Indonesia sering memberi kesan bahwa elegansi bukanlah kualitas yang menonjol di kalangan banyak pejabat publik. Komunikasi politik kerap lebih mengutamakan tontonan, mobilisasi emosi, dan pencitraan pribadi daripada bahasa yang terukur, pengendalian diri, dan martabat institusi. Akibatnya, otoritas terlalu sering diekspresikan melalui kebisingan dan visibilitas, bukan lewat kejernihan, konsistensi, dan kompetensi yang tenang.

Ketiadaan elegansi juga tampak dalam cara kekuasaan dijalankan, ketika popularitas jangka pendek lebih diutamakan daripada pengambilan keputusan yang proporsional dan pertimbangan etis. Saat kebijakan diumumkan dengan dramatisasi berlebihan atau dipertahankan melalui retorika yang memecah belah, tatakelola berisiko kehilangan keseimbangan dan arah. Elegansi dalam jabatan publik menuntut kesadaran bahwa legitimasi kekuasaan tidak lahir dari pertunjukan yang terus-menerus, melainkan dari pengendalian diri, koherensi, dan penghormatan terhadap proses.

Kondisi ini tak selalu mencerminkan kurangnya kecerdasan atau kapasitas, melainkan budaya politik yang memberi ganjaran pada kecepatan daripada perenungan, serta pada tampilan luar daripada substansi. Dalam lingkungan semacam itu, elegansi menjadi tidak efisien secara politis, karena ia tak mudah dikonversi menjadi perhatian viral atau persetujuan instan. Namun justru karena itulah, elegansi tetap menjadi kebajikan yang penting namun terabaikan, karena ia menandakan kedewasaan, tanggungjawab, dan kepercayaan diri terhadap institusi demokrasi.

Ketiadaan elegansi dalam kepemimpinan publik bukan sekadar persoalan estetika, melainkan persoalan moral dan kewargaan. Ketika pejabat tak menampilkan pengendalian diri, proporsionalitas, dan kejernihan, kepercayaan publik pun terkikis, dan politik berubah menjadi ajang perebutan kesan, bukan upaya bersama untuk memerintah secara bijaksana. Karenanya, elegansi bukanlah kemewahan dalam kehidupan publik, melainkan semacam fondasi bagi legitimasi dan stabilitas jangka panjang.

Kurangnya elegansi di kalangan pejabat publik di Indonesia membawa dampak yang serius terhadap kualitas pemerintahan dan kepercayaan masyarakat. Ketika para pejabat berkomunikasi tanpa pengendalian diri, kejernihan, dan proporsionalitas, wacana politik menjadi semakin kasar dan sarat emosi, sehingga masyarakat sulit membedakan antara substansi kebijakan yang nyata dan sekadar pertunjukan. Situasi ini melemahkan musyawarah rasional dan mendorong politik yang digerakkan oleh impuls, bukan oleh perenungan.

Dalam jangka panjang, ketiadaan elegansi menggerus martabat dan kredibilitas institusi. Ketika otoritas dijalankan melalui tontonan, provokasi, atau promosi diri, lembaga publik berisiko dipandang sebagai perpanjangan ambisi pribadi, bukan sebagai penjaga kepentingan bersama yang imparsial. Akibatnya, penghormatan terhadap prosedur, aturan, dan batas-batas etika perlahan menurun, bukan karena masyarakat menolaknya secara prinsip, tetapi karena tidak lagi melihatnya tercermin dalam kepemimpinan.

Kurangnya elegansi juga berkontribusi pada polarisasi sosial. Bahasa yang ceroboh, meremehkan, atau memanaskan emosi dari mereka yang berkuasa melegitimasi perilaku serupa di tingkat masyarakat, menormalkan sikap bermusuhan dan menyempitkan ruang bagi perbedaan pendapat yang beradab. Dalam kondisi demikian, perbedaan pandangan lebih mudah diperlakukan sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari kehidupan demokratis yang sehat.

Secara ekonomis dan administratif, tatakelola yang tidak elegan sering melahirkan inefisiensi dan orientasi jangka pendek. Kebijakan yang diumumkan tanpa perumusan yang cermat dan penalaran yang koheren cenderung mengejar tepuk tangan sesaat, bukan keberlanjutan jangka panjang, sehingga menimbulkan kebingungan di kalangan institusi, pelaku ekonomi, dan warga. Ketika pengambilan keputusan kehilangan kesederhanaan dan kejelasan, pelaksanaan kebijakan menjadi terpecah-pecah dan kepercayaan publik pun menurun.

Dampak dari merosotnya elegansi bersifat moral sekaligus politis. Kepemimpinan yang tak mampu menampilkan pengendalian diri, keseimbangan, dan kesungguhan melemahkan teladan etis yang seharusnya melekat pada jabatan publik. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko melahirkan budaya publik yang sinis, dimana kekuasaan dipandang terutama sebagai pertunjukan, dan pemerintahan dinilai dari visibilitas, bukan dari kearifan, tanggungjawab, dan kemaslahatan yang berkelanjutan.

Elegansi adalah kualitas keindahan, kejernihan, atau keefektifan yang dicapai dengan kesan alami dan tanpa kelebihan yang tak perlu. Istilah ini bukan hanya merujuk pada penampilan luar, tapi juga pada keseimbangan yang selaras antara bentuk, tujuan, dan pengendalian diri, baik dalam perilaku, bahasa, desain, maupun cara berpikir. Sesuatu disebut elegan ketika ia menampilkan ketertiban dan kehalusan melalui kesederhanaan, seakan tak ada yang perlu ditambah atau dikurangi selain yang benar-benar esensial. Dalam pemahaman ini, elegansi mencerminkan kedisiplinan, kepekaan, dan kecerdasan, karena ia lahir dari pilihan yang matang, bukan dari pamer atau kemewahan.

Dari sudut pandang filosofis, elegansi berkaitan erat dengan kejernihan berpikir dan koherensi penalaran, ketika gagasan yang kompleks disampaikan secara sederhana namun mendalam. Para filsuf sering memandang elegansi sebagai tanda kebenaran atau wawasan, karena sebuah ide yang konsisten secara internal dan bebas dari kerumitan yang tidak perlu tampak lebih dekat pada kejujuran intelektual dan kebijaksanaan. Dalam pengertian ini, elegansi mencerminkan keselarasan antara nalar dan makna, dimana pemahaman dicapai tanpa paksaan atau kebingungan.

Dari sudut pandang ideologis, elegansi dapat dipahami sebagai kemampuan suatu sistem keyakinan guna menyampaikan nilai-nilainya tanpa jatuh pada dogmatisme atau kekakuan yang berlebihan. Ideologi yang elegan mengomunikasikan prinsip-prinsipnya secara meyakinkan namun tetap terkendali, memberi ruang bagi dialog dan penafsiran ulang, bukan pemaksaan. Di sini, elegansi menandakan kedewasaan, karena ia menunjukkan kepercayaan diri pada gagasan yang tidak perlu terus-menerus dilebih-lebihkan atau dipertahankan secara agresif.

Dari sudut pandang politis, elegansi tampak dalam kepemimpinan dan tatakelola yang mengutamakan bahasa yang terukur, tindakan yang proporsional, serta martabat institusi. Perilaku politik yang elegan menghindari tontonan berlebihan, populisme, atau provokasi yang tidak perlu, dan lebih memilih konsistensi, akuntabilitas, serta penghormatan terhadap proses. Dalam konteks ini, elegansi menjadi sikap etis, yang menandakan bahwa kekuasaan dapat dijalankan dengan pengendalian diri, bukan dengan kesombongan.

Dari sudut pandang ekonomis, elegansi tercermin dalam sistem dan kebijakan yang mencapai efisiensi dan keberlanjutan tanpa pemborosan atau eksploitasi. Pendekatan ekonomi yang elegan menyeimbangkan produktivitas dengan keadilan, dengan menyadari bahwa stabilitas jangka panjang sering lahir dari kesederhanaan, transparansi, dan pengaturan yang bijaksana, bukan dari kompleksitas berlebihan atau akumulasi tanpa kendali. Dengan demikian, elegansi dalam ekonomi terletak pada optimalisasi, bukan pada kelebihan.

Dari sudut pandang sosial, elegansi hadir dalam interaksi yang diwarnai empati, kesantunan, dan saling menghormati. Elegansi sosial tak bergantung pada status atau kekayaan, melainkan pada kemampuan berkomunikasi dengan orang lain tanpa merendahkan, menyerang, atau berpura-pura. Ia terwujud dalam tatakrama, bahasa, dan sikap yang menjaga martabat manusia sekaligus memberi ruang bagi perbedaan.

Dari sudut pandang budaya, elegansi ditemukan dalam tradisi dan ekspresi kreatif yang menyampaikan kedalaman makna tanpa berlebihan. Karya-karya budaya yang elegan sering bertahan lama karena berbicara secara lembut namun kuat tentang pengalaman manusia yang universal, dengan bertumpu pada simbolisme, pengendalian, dan keseimbangan. Dalam ranah ini, elegansi menjadi jembatan antara warisan dan keberlanjutan, memungkinkan budaya tetap relevan tanpa kehilangan jiwanya.

Dari sudut pandang filosofis, contoh praktis elegansi dapat dilihat pada sebuah teori atau argumen yang mampu menjelaskan berbagai fenomena dengan sejumlah prinsip yang sedikit namun jelas, seperti kerangka moral yang menyelesaikan dilema etika tanpa bergantung pada banyak pengecualian atau kontradiksi. Ketika penjelasan filosofis memungkinkan pemahaman muncul secara alami, alih-alih membebani pikiran dengan kerumitan teknis, di situlah elegansi berpikir terlihat.

Dari sudut pandang ideologis, elegansi tampak pada sebuah gerakan yang menyampaikan nilai-nilai intinya melalui narasi yang ringkas dan teladan nyata, bukan lewat slogan yang berulang-ulang atau pemaksaan yang kaku. Ideologi yang menginspirasi komitmen melalui contoh, dan membiarkan individu menghayati prinsip-prinsipnya secara bebas, menunjukkan elegansi karena ia mempercayai kekuatan gagasannya sendiri, bukan tekanan atau ketakutan.

Dari sudut pandang politis, contoh praktis elegansi terlihat ketika seorang pemimpin menghadapi krisis nasional dengan bahasa yang tenang, penalaran yang jernih, serta kebijakan yang proporsional, tanpa retorika yang memanaskan emosi atau drama yang tidak perlu. Elegansi politik hadir ketika institusi bekerja secara senyap namun efektif, menyelesaikan persoalan melalui prosedur dan hukum, bukan melalui tontonan atau pemujaan pribadi.

Dari sudut pandang ekonomis, elegansi dapat diamati dalam sebuah usaha atau kebijakan publik yang mampu mendorong pertumbuhan sambil mengurangi pemborosan dan beban administratif, semisal sistem pajak yang mudah dipahami, sulit disalahgunakan, dan adil dampaknya. Solusi ekonomi yang elegan menyelesaikan banyak persoalan sekaligus, bukan dengan menambah lapisan aturan, melainkan dengan menyempurnakan hal-hal yang esensial.

Dari sudut pandang sosial, contoh praktis elegansi ditemukan dalam interaksi sehari-hari ketika perbedaan pendapat disampaikan dengan sikap saling menghormati dan kesediaan mendengar, bukan dengan celaan atau dominasi. Elegansi sosial hadir ketika seseorang tetap menjaga kesantunan bahkan dalam konflik, memilih kata dan sikap yang memelihara hubungan tanpa mengorbankan kejujuran.

Dari sudut pandang budaya, elegansi terlihat dalam karya seni, sastra, atau ritual yang menyampaikan makna mendalam melalui kehalusan, bukan kemegahan yang berlebihan, seperti puisi pendek yang mampu menangkap kesedihan atau harapan dengan lebih kuat daripada uraian panjang. Elegansi budaya bertahan karena ia mengundang perenungan, bukan menuntut perhatian, sehingga maknanya dapat tumbuh seiring waktu.

Dalam Elegance in Science: The Beauty of Simplicity (2010, Oxford University Press), Ian Glynn menunjukkan bahwa gagasan elegance atau keanggunan beroperasi sebagai aspek penting dalam penemuan ilmiah, khususnya dalam matematika dan fisika, dengan menunjukkan bahwa para ilmuwan seringkali mengagumi solusi dan teori yang mencerminkan keindahan, kesederhanaan, koherensi, serta kekuatan penjelasan. Glynn berargumen bahwa terma elegance, kendati lebih umum dikaitkan dengan seni dan puisi, sangat penting dalam sains dan paling jelas terlihat dalam “bukti-bukti elegan” dalam matematika, dimana kesederhanaan dan wawasan menghasilkan kepuasan intelektual yang mendalam. Ia memperlihatkan peran elegansi melalui berbagai contoh sejarah—mulai dari teorema Pythagoras dan bukti Archimedes hingga Hukum Kepler dan eksperimen yang mengungkapkan sifat panas—dan menunjukkan bagaimana para ilmuwan bereaksi dengan keterpukauan dan semangat ketika mereka menemukan solusi, teori, atau eksperimen yang elegan, yang menggabungkan kejelasan, proporsi dan kesederhanaan yang tak terduga, menghasilkan semacam “kebenaran yang menakjubkan dan tak terubah”, yang menginspirasi rasa takjub. Glynn juga mengaitkan rasa estetis elegansi ini dengan pertanyaan filosofis yang lebih dalam tentang inferensi dan penjelasan terbaik, menunjukkan bahwa elegansi bukan sekadar kriteria permukaan tetapi sangat terkait dengan bagaimana ilmuwan memahami kesederhanaan dan koherensi dalam pekerjaan mereka. Pada saat yang sama, ia memperingatkan bahwa penjelasan yang elegan tak menjamin kebenaran, mengingatkan pembaca bahwa keindahan dan kesederhanaan—meskipun menjadi panduan yang kuat—hendaknya dipertimbangkan bersama dengan validasi empiris.

Menurut Glynn, gagasan elegansi dalam praktik ilmiah bukan sekadar hiasan estetik tetapi merupakan kriteria intelektual sejati yang digunakan para ilmuwan untuk menilai dan mengejar teori, penjelasan, dan solusi yang kuat sekaligus ekonomis dalam struktur konseptualnya. Glynn menjelaskan bahwa para ilmuwan di berbagai disiplin—terutama dalam matematika dan fisika—berbagi keterpesonaan yang mendalam terhadap bukti, teori, dan eksperimen yang “elegan” karena karya semacam itu menggabungkan kejelasan, proporsi, dan kesederhanaan dengan cara yang membuat fenomena kompleks dapat dipahami dan dipersatukan dalam suatu kerangka ringkas, dan upaya untuk mencapai pemahaman yang elegan ini melibatkan wawasan imajinatif sekaligus ketelitian logis. Ia menggunakan contoh sejarah semisal bukti matematis yang elegan dan hukum dasar fisika yang sederhana untuk menunjukkan bahwa para ilmuwan sering mengalami semacam kegembiraan intelektual ketika suatu solusi terungkap dengan kesederhanaan dan koherensi yang mencolok, dan kegembiraan ini mencerminkan komitmen yang lebih dalam terhadap kekuatan penjelasan dan ekonomi konseptual, bukan sekadar keindahan permukaan. Glynn juga menekankan bahwa elegansi terkait erat dengan isu filosofis tentang inferensi dan apa yang dianggap sebagai penjelasan terbaik, menggambarkan bagaimana nilai yang diberikan pada teori yang elegan memengaruhi cara ilmuwan merumuskan hipotesis dan bernalar tentang pekerjaan mereka, sambil tetap mengingatkan pembaca bahwa elegansi saja tak menjamin kebenaran empiris. 

Dalam The New Elegance: Stylish, Comfortable Rooms for Today (diterbitkan oleh Rizzoli International Publications pada tahun 2019), Timothy Corrigan menghadirkan konsep elegansi yang jauh melampaui sekadar formalitas atau kemewahan semata. Corrigan menekankan bahwa elegansi tak seharusnya kaku, dibuat-buat, atau disimpan hanya untuk acara istimewa; sebaliknya, ia berpendapat bahwa elegansi sejati sangat terkait dengan kenyamanan, kemudahan, dan keaslian personal, sehingga sebuah ruang atau gaya hidup yang benar-benar mencerminkan siapa dan bagaimana dirimu hidup dapat digambarkan sebagai elegan. Menurut falsafahnya, elegansi tak bertentangan dengan kenyamanan tetapi didukung olehnya, artinya lingkungan yang membuat orang merasa nyaman, percaya diri, dan selaras dengan sekitarnya mewujudkan bentuk elegansi kontemporer baru yang ia promosikan sepanjang buku ini. 

Corrigan menjelaskan bahwa rasa elegansi dalam ruang interior tercipta ketika sebuah ruangan dirancang dengan pertimbangan yang cermat terhadap proporsi, pengendalian dekorasi yang disiplin, dan hubungan yang harmonis antara keindahan dan fungsi. Ia menempatkan gagasan-gagasan ini dalam suatu tradisi panjang prinsip desain klasik yang telah menuntun interior Barat selama berabad-abad, memperlihatkan bagaimana skala dan proporsi—konsep fundamental yang berasal dari arsitektur klasik dan terus memengaruhi simetri serta keseimbangan dalam setiap ruangan yang berhasil—merupakan hal yang tak terpisahkan guna membuat ruang yang terasa tepat dan padu. Di sepanjang “interludes” dalam bukunya, Corrigan menekankan bagaimana proporsi mengatur hubungan antara furnitur, arsitektur, dan skala manusia, bagaimana pengendalian (restraint) mencegah kekacauan visual, dan bagaimana harmoni fungsional sebuah ruangan—di mana setiap elemen memiliki tujuan dan berkontribusi pada kenyamanan hidup—memastikan bahwa elegansi bukan sekadar dekoratif tetapi memang layak untuk dihuni. Alih-alih mengutamakan ornamen demi dirinya sendiri, pendekatannya menarik dari pengaruh historis interior Eropa tradisional dan bentuk klasik, mengadaptasinya ke dalam konteks kontemporer sehingga prinsip keseimbangan dan harmoni yang tak lekang oleh waktu dapat diterjemahkan ke dalam kehidupan domestik modern.

Corrigan menggambarkan desain interior yang elegan sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar pilihan estetika; ia memandangnya sebagai cerminan cita budaya yang lebih dalam tentang apa artinya hidup dengan baik dan menemukan keindahan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Corrigan, elegansi berakar pada bagaimana suatu ruang membuat orang merasa—ia menarik dari tradisi panjang kehalusan, khususnya dari sensibilitas Eropa, namun menerjemahkannya ke dalam ruangan yang nyaman, ramah, dan sesuai dengan gaya hidup kontemporer. Karyanya menunjukkan bahwa ketika desain merangkul kedua aspek, yakni kecantikan klasik dan pengalaman hidup sehari-hari—memadukan kehalusan dengan kenyamanan—itu menghormati cita budaya dimana keindahan bukan terpisah dari hidup melainkan terjalin di dalamnya, menunjukkan pemahaman bahwa elegansi sejati mendukung kesejahteraan, keramahan, dan cara hidup yang penuh pertimbangan.

Elegansi dan kelas kerap disalahpahami sebagai penanda eksternal kekayaan, kelembutan selera, atau status sosial. Namun, telaah filosofis menunjukkan bahwa keduanya merupakan konstruksi etis dan kultural yang mendalam. Dalam konteks budaya Indonesia, yang menjunjung tinggi harmoni sosial (rukun), tatakrama, dan kepekaan terhadap ruang bersama, elegansi tak dapat direduksi menjadi sekadar tampilan estetis. Ia justru hadir sebagai bentuk pembinaan moral yang menyatukan disiplin diri, kesadaran relasional, dan tanggungjawab budaya.

Dari perspektif Aristoteles, elegansi dapat dipahami sebagai perwujudan praktis dari ethos yang dibentuk melalui pembiasaan. Aristoteles menekankan bahwa kebajikan bukanlah sesuatu yang lahir secara alami, melainkan hasil dari praktik sadar yang berulang hingga membentuk karakter. Dalam kerangka ini, elegansi bukanlah performa sesaat, melainkan disposisi stabil yang tercermin dalam kebiasaan harian, seperti tutur kata yang terukur, pengendalian emosi, dan sikap hormat terhadap sesama. Hal ini selaras dengan konsep budi pekerti dalam budaya Indonesia, dimana kematangan moral tampak bukan pada sikap menonjolkan diri, melainkan pada kemampuan menahan diri dan bersikap pantas.

Etika Kant memperdalam pemahaman ini dengan menempatkan elegansi dalam kerangka penghormatan terhadap martabat manusia. Bagi Kant, martabat muncul ketika manusia diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya, bukan sebagai alat. Elegansi, dengan demikian, bukan persoalan gaya, melainkan orientasi moral yang tampak dalam cara berbicara, mendengarkan, dan merespons. Individu yang elegan tak merendahkan, mendominasi, atau memusatkan diri secara berlebihan. Dalam konteks Indonesia, hal ini sejalan dengan prinsip unggah-ungguh, yaitu penyesuaian bahasa dan perilaku demi menjaga rasa hormat dan keseimbangan sosial.

Konsep habitus dari Pierre Bourdieu menambahkan dimensi sosiologis yang menjelaskan mengapa elegansi sering tampak alami dan tanpa usaha, padahal sesungguhnya sarat makna sosial. Habitus merujuk pada disposisi batin yang terbentuk melalui budaya, pendidikan, dan lingkungan sosial. Apa yang dianggap sebagai elegansi yang “alami” sebenarnya merupakan perwujudan nilai-nilai yang terinternalisasi. Dalam masyarakat Indonesia, disposisi ini tampak dalam gestur yang lembut, sikap tenang, dan keengganan untuk mempromosikan diri secara terbuka. Elegansi berfungsi sebagai modal simbolik bukan melalui konsumsi mencolok, melainkan melalui pengendalian diri, kesederhanaan, dan kepekaan terhadap situasi.

Kerangka filosofis ini menjelaskan mengapa kesederhanaan dan pembatasan diri menjadi inti elegansi. Alih-alih berlebihan, elegansi berpihak pada keseimbangan, koherensi, dan proporsionalitas. Dalam budaya Indonesia, sikap flamboyan sering dipandang kurang bijak, sementara kelembutan diasosiasikan dengan kearifan dan kedewasaan. Ungkapan alon-alon asal kelakon mencerminkan penghargaan terhadap tindakan yang terukur dibandingkan ketergesaan impulsif. Elegansi, dalam pemahaman ini, tak terpisahkan dari kesabaran dan pertimbangan.

Pengelolaan emosi menjadi penanda kelas yang penting baik dalam filosofi maupun budaya lokal. Doktrin jalan tengah Aristoteles menekankan respons emosional yang sesuai konteks dan kadar, sementara norma sosial Indonesia menghindari ekspresi emosi berlebihan di ruang publik demi menjaga harmoni. Dengan demikian, individu yang elegan bukanlah sosok tanpa emosi, melainkan pribadi yang melek emosi dan mampu mengekspresikannya tanpa membebani orang lain.

Bahasa dan keheningan juga bermakna etis. Pembatasan tutur ala Kant yang dipadukan dengan kearifan praktis Aristoteles mendukung pandangan bahwa tak semua kebenaran perlu diucapkan dalam setiap situasi. Dalam budaya komunikasi Indonesia, kemampuan untuk diam pada saat yang tepat sering dipandang sebagai tanda kecerdasan dan kedalaman. Diam bukanlah penghindaran, melainkan bentuk penghormatan terhadap konteks, hierarki, dan ruang emosional.

Pada akhirnya, ekspresi elegansi yang paling tinggi terletak pada etika relasional. Cara seseorang memperlakukan pramusaji, pekerja kebersihan, orangtua, atau mereka yang tak memiliki kuasa sosial mengungkapkan karakter lebih jujur daripada penampilan atau kefasihan berbicara. Prinsip ini mencerminkan penghormatan Kantian sekaligus nilai komunal Indonesia, dimana martabat ditegakkan melalui kesopanan sehari-hari, bukan simbol status.

Sebagai penutup, elegansi dan kelas bukanlah pencapaian lahiriah atau gaya hidup impor, melainkan orientasi batin yang dibentuk oleh kebajikan filosofis dan kearifan budaya. Dalam konteks Indonesia, elegansi tumbuh dari perpaduan penguasaan diri, pengendalian etis, dan kepekaan sosial. Ia merupakan suatu keunggulan, menolak tontonan, mengutamakan martabat daripada pamer, serta menegaskan kemanusiaan melalui kehadiran yang tenang dan penuh hormat. Di tengah zaman yang bising dan serba performatif, elegansi semacam ini bukanlah nostalgia, melainkan bentuk ketahanan moral dan kultural.

[English]