Kamis, 24 September 2026

Catatan dari Secangkir Kopi yang Mendadak Jadi Analis Politik

"Saat Presidenku Berpidato, Bukan Hanya Kopiku yang Terasa Getir, Tetapi Juga Percakapan Banyak Orang."

Pagi itu aku menyeduh kopi seperti biasa. Tak ada yang beda. Air mendidih pada suhu yang sama seperti kemarin, bubuk kopi berasal dari kemasan yang sama, dan cangkir yang kupakai pun tentu saja tak sedang ikutan beroposisi. Namun entah mengapa, begitu Presidenku selesai berpidato di layar kaca, kopi yang kuseduh dengan tangan yang sama itu mendadak terasa jauh lebih pahit dari biasanya. Sejenak kucurigai petani kopi, jangan-jangan mereka sedang marah kepada sesuatu sehingga bijinya ikut menyimpan kekesalan. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir lebih jauh, yang berubah bukan kebun kopi di pegunungan sana rupanya, melainkan kebun pikiran rakyat di layar kaca dan linimasa.

Kemasan obat, seingatku, selalu mencantumkan daftar efek samping yang kudu diwaspadai penggunanya: mengantuk, mual, pusing, atau sedikit gatal di tenggorokan. Sayangnya, pidato kenegaraan belum pernah sekalipun mencantumkan peringatan semacam itu, padahal efeknya kerap tak kalah nyata. Ada pidato yang, tanpa disadari pembuatnya, dapat menyebabkan keresahan berkepanjangan, memicu perdebatan di ruang-ruang yang tadinya tenang, dan secara ajaib membuat grup WhatsApp keluarga besar mendadak lebih ramai dari biasanya, mengalahkan obrolan arisan maupun kabar duka. Kata-kata yang meluncur dari podium sesungguhnya dimaksudkan seperti gula, sesuatu yang seharusnya mempermanis keadaan dan menenangkan hati yang gelisah. Anehnya, begitu kalimat-kalimat itu sampai di telinga rakyat kebanyakan, yang tersisa justru ampasnya saja, endapan kekecewaan yang mengendap di dasar cangkir dan enggan larut betapapun keras diaduk.

Negeri ini sesungguhnya memiliki gedung parlemen yang megah, lengkap dengan kursi empuk dan podium berpengeras suara. Namun, siapa pun yang jujur akan mengakui bahwa demokrasi kerap bekerja lebih tulus di warung kopi pinggir jalan ketimbang di ruang sidang yang berpendingin udara. Di sanalah, di atas meja kayu yang telah berlapis noda kopi bertahun-tahun, tukang ojek dengan lancar berubah menjadi analis kebijakan publik, pedagang kaki lima menjelma menteri bayangan yang paham betul soal harga-harga, mahasiswa yang baru pulang kuliah menjadi komentator politik yang tajam, dan para pensiunan duduk sebagai penasihat negara yang tak pernah diminta pendapatnya namun selalu punya pendapat. Semua orang, dari berbagai meja dan berbagai gelas, ternyata sedang membicarakan hal yang sama: pidato semalam. Ketika begitu banyak orang, di begitu banyak warung, membicarakan hal yang sama dengan nada yang sama-sama getir, barangkali persoalannya bukan terletak pada lidah mereka yang tiba-tiba menjadi sensitif, melainkan pada sesuatu yang lain yang lebih layak diperiksa.

Di hutan yang sehat, kicau burung terdengar riuh sepanjang pagi, dan justru keriuhan itulah pertanda bahwa hutan masih hidup dan bernapas. Sebaliknya, ketika seluruh burung tiba-tiba diam serempak, yang semestinya muncul bukan rasa lega karena suasana jadi tenang, melainkan kekhawatiran tentang apa yang sesungguhnya sedang terjadi di balik keheningan itu. Kritik, dalam logika yang sama, adalah suara alami yang lahir dari sebuah demokrasi yang masih bernyawa. Ia bukan retakan pada bangunan negara, melainkan alarm yang berbunyi justru untuk memperingatkan bahwa ada retakan yang perlu segera diperiksa sebelum menjalar lebih jauh. Sayangnya, ada saja pemimpin yang memperlakukan kritik layaknya nyamuk pengganggu di malam hari: dianggap berisik, mengusik ketenangan tidur, dan ingin segera ditepuk hingga diam. Padahal, siapa pun yang pernah tinggal di dekat rawa tahu betul bahwa nyamuk tak muncul begitu saja dari udara kosong. Ia muncul karena ada genangan air yang dibiarkan berhari-hari tanpa dibereskan, dan menepuk nyamuknya satu per satu tak pernah benar-benar menyelesaikan soal genangan itu sendiri.

Kopi, kalau saja ia bisa bersaksi di depan meja hijau, telah menyaksikan hampir segalanya. Ia menemani rakyat kecil kala harga-harga kebutuhan pokok merangkak naik pelan namun pasti. Ia menemani mahasiswa yang begadang menyusun skripsi sambil sesekali mengumpat kebijakan kampus dan negara dalam satu tarikan napas. Ia menemani kepala keluarga yang duduk sendirian di meja dapur, menghitung ulang pengeluaran bulan ini yang entah mengapa selalu lebih besar dari catatan bulan lalu. Dan ia pulak yang setia menemani jutaan pasang telinga mendengarkan janji demi janji, harapan demi harapan, pidato demi pidato, dari tahun ke tahun. Karenanya, tatkala secangkir kopi yang sama tiba-tiba terasa lebih getir dari biasanya, barangkali ia bukan sedang berubah rasa, melainkan sedang memberikan kesaksian yang jujur tentang apa yang dirasakan orang-orang di sekelilingnya.

Aku menghabiskan cangkir terakhir pagi itu hingga tandas, dan rasanya masih saja getir sampai tegukan penutup. Namun kali ini aku merasa sedikit lebih mengerti duduk persoalannya. Bukan kopinya yang berubah, sebab bubuk dan air yang kupakai tetap sama seperti kemarin, kemarin lusa dan kemarin-kemarinnya lagi. Bukan pula lidahku yang tiba-tiba menjadi lebih sensitif terhadap rasa pahit. Yang berubah, kalau mau jujur, adalah percakapan di sekelilingku, di warung, di grup keluarga, di linimasa, bahkan mungkin juga, di dalam batinku sendiri. Bila secangkir kopi terasa getir, itu barangkali cuma soal selera pribadi yang bisa diperdebatkan sambil tertawa. Namun, jika satu negeri, dari ujung ke ujung, mulai membicarakan kegetiran yang sama dengan nada yang nyaris seragam, barangkali sudah tiba waktunya bukan rakyat yang sibuk memeriksa lidahnya sendiri, melainkan para penguasa yang perlu duduk sejenak untuk menilik kembali ucapan yang mereka ucapkan.