Semua orang tahu ijazah bapak-anak itu bodong,
mereka yakin bisa memperdaya semua orang—padahal hanya menipu diri sendiri.
Semua orang tahu stempel itu mengilap,
namun tak seorang pun bertanya siapa yang memolesnya.
Semua orang tahu bingkai itu tergantung lurus,
meski paku di belakangnya telah lama goyah.
Semua orang tahu lemari itu terkunci,
tetapi kuncinya beredar dari tangan ke tangan.
Semua orang tahu kertas itu dipajang tinggi,
agar mata melihatnya, bukan memeriksanya.
Semua orang tahu cap merah tampak meyakinkan,
seperti matahari yang dicat pada dinding bawah tanah.
Semua orang tahu cerita itu terus diulang,
hingga gema terdengar seperti kenyataan.
Semua orang tahu ada halaman yang hilang,
namun halaman yang tersisa dibacakan lebih keras.
Semua orang tahu para penjaga gerbang tersenyum,
sementara pertanyaan menunggu di luar pagar.
Semua orang tahu debu di atas rak itu tebal,
tetapi tidak setebal ketakutan untuk meniupnya.
Semua orang tahu burung-burung bernyanyi serempak,
karena langit lebih aman daripada kejujuran.
Semua orang tahu cermin itu retak,
namun mereka menyalahkan wajah yang terpantul.
Semua orang tahu malam semakin panjang,
tetapi lentera-lentera terus menjual pagi.
Semua orang tahu permainan ini tua,
lebih tua daripada pemain yang berganti-ganti.
Semua orang tahu kebenaran tidak selalu kalah,
ia hanya sering diminta menunggu di antrean paling belakang.
Dan semua orang tahu,
ketika pertanyaan lebih dicurigai daripada jawaban,
yang dipertahankan sering kali bukan kenyataan,
melainkan kenyamanan.
Dan semua orang tahu itu.