Konon, alam semesta ini memiliki dua jenis ruang sidang. Yang pertama adalah ruang sidang dunia, tempat manusia datang dengan jas terbaiknya, map tebal di tangan, argumentasi sepanjang rel kereta, dan ingatan yang dapat berputar mengikuti arah angin. Di sana, fakta masih dapat diperdebatkan. Dokumen masih dapat ditafsirkan. Kalimat masih dapat diputar sampai pembuatnya sendiri bingung pernah mengucapkannya. Dan kesalahan masih dapat diberi nama lain yang lebih sopan: kekeliruan komunikasi, dinamika di lapangan, atau, bagi yang sedang bernasib baik, kebijakan yang belum dipahami masyarakat.
Yang kedua adalah ruang sidang yang lebih hening. Tiada kamera. Tiada mikrofon. Tiada konferensi pers, tiada juru bicara, tiada tim hukum yang duduk berjajar di belakang dengan wajah serius. Tiada pula moderator yang mengetuk meja sambil berkata, “Waktu habis.” Tiada tombol “tanpa komentar” dan tiada lorong untuk mencegat wartawan sambil berjalan cepat. Yang ada hanyalah pertanyaan. Dan jawaban.
Di dunia ini, manusia sering bertengkar dengan sesamanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dan pertengkaran itu hampir selalu dibuka dengan rangkaian kalimat yang sudah sangat kita hafal, saking seringnya dipakai:
“Aku ga ingat.”
“Aku ga tahu.”
“Aku ga hadir.”
“Aku ga pernah membahas itu.”
“Aku ga pernah menyetujuinya.”
Kalimat-kalimat itu bertebaran laksana daun kering di musim gugur politik, menumpuk di halaman kantor, disapu petugas kebersihan, lalu berguguran lagi keesokan harinya. Anehnya, semakin penting sebuah peristiwa, semakin banyak orang yang mendadak kehilangan ingatan tentangnya. Seolah-olah ingatan manusia dilengkapi sensor otomatis: makin besar taruhannya, makin cepat ia padam.
Perhatikan betapa selektifnya penyakit lupa ini. Tak ada yang lupa saat menerima jabatan. Tak ada yang lupa saat menerima tepuk tangan. Tak ada yang lupa saat foto bersama dipasang di media, lengkap dengan senyum yang diatur dari sudut terbaik. Tak ada yang lupa nama ruang rapat tempat ia dilantik, warna dasi yang ia kenakan, atau siapa saja yang menyalaminya paling lama. Namun, tatkala tagihan sejarah datang, ingatan acapkali mengambil cuti panjang tanpa meninggalkan surat pemberitahuan. Barangkali itulah satu-satunya jenis amnesia yang tak pernah menyerang saat panen, dan selalu menyerang saat penagihan.
Barangkali karena manusia terlalu terbiasa hidup di antara sesama manusia. Kita terbiasa menghadapi hakim yang bisa diyakinkan. Wartawan yang bisa dihindari. Lawan yang bisa dibantah. Pendukung yang bisa dibakar semangatnya. Publik yang bisa dibelah pendapatnya, lalu dibelah lagi hingga tinggal serpihan yang sibuk saling menyalahkan. Dengan bekal sebanyak itu, siapa pun merasa cukup aman. Namun, ada satu lawan yang tak pernah berhasil dikalahkan siapa pun, sekuat apa pun tim yang dibawanya: jejak.
Jejak memiliki sifat yang sangat tidak demokratis. Ia tak peduli pada jabatan. Ia tak peduli partai. Ia tak peduli pada pangkat, gelar, atau seberapa panjang deretan singkatan di belakang nama. Ia tak peduli siapa yang sedang berkuasa, dan lebih tidak peduli lagi siapa yang sedang populer. Tanda tangan tetaplah tanda tangan. Dokumen tetaplah dokumen. Arsip tetaplah arsip. Dan rekam jejak memiliki kebiasaan buruk yang sangat menyebalkan, terutama bagi mereka yang berharap padanya: ia menolak ikut lupa. Ia tidak bisa dilobi, tidak bisa diajak makan siang, dan tidak pernah terbujuk oleh kalimat “mari kita lihat ke depan saja.”
Karena itulah yang bisa dibayangkan suatu hari nanti ada sebuah percakapan yang sangat sederhana. Tidak panjang. Tidak rumit. Tidak memerlukan ahli hukum tata negara. Tak memerlukan pakar komunikasi politik, apalagi konsultan yang dibayar mahal untuk merumuskan frasa “saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab.” Tak memerlukan lembaga survei untuk memastikan jawaban mana yang paling disukai publik. Hanya tiga pertanyaan:
“Hadirkah engkau?”
“Tahukah engkau?”
“Setujukah engkau?”
Tiga pertanyaan sederhana. Begitu sederhana hingga sulit menyembunyikan diri di balik pidato. Begitu sederhana hingga rumitnya politik mendadak kehilangan manfaat, dan segala jurus yang selama ini terasa sakti, dari jawaban berputar sampai istilah asing yang sengaja dipanjang-panjangkan, berubah menjadi hiasan yang tidak laku. Di ruang itu tidak ada gunanya menjawab “menurut hemat kami, perlu dilihat dulu konteksnya.” Konteksnya sudah ada. Konteksnya adalah apa yang sebenarnya terjadi.
Mungkin di situlah letak kejeniusan pertanyaan metafisik. Ia tidak bertanya, “Siapa yang menang?” Ia tidak bertanya, “Siapa yang paling kuat?” Ia tidak bertanya, “Siapa yang paling viral?” Ia tidak peduli jumlah pengikut, tidak peduli peringkat elektabilitas, tidak peduli siapa yang tagarnya sempat bertahan tiga hari di puncak daftar. Ia hanya bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi?” Dan celakanya, pertanyaan seperti itu sering kali sudah mengetahui jawabannya sebelum diajukan. Ia bertanya bukan karena tidak tahu, melainkan untuk melihat apakah yang ditanya mau jujur.
Di dunia, seseorang bisa berdebat dengan wartawan. Seseorang bisa berdebat dengan hakim. Seseorang bisa berdebat dengan akademisi, bahkan dengan seluruh panel diskusi sekaligus. Seseorang bahkan bisa berdebat dengan dokumen, lalu menang, setidaknya di mata pendukungnya. Tetapi sangat sulit berdebat dengan hati nurani. Sebab hati nurani menyimpan arsip yang tidak pernah dicetak. Ia tidak tersimpan di server. Ia tidak tersimpan di lemari besi. Ia tidak tersimpan di awan digital yang bisa dibersihkan dengan sekali klik oleh staf yang mendadak rajin. Ia tersimpan di tempat yang selalu ikut ke mana pun seseorang pergi, termasuk ke ruang rapat, ke mimbar, dan ke bawah selimut pada pukul tiga dini hari.
Maka kita mulai memahami mengapa ada ungkapan yang begitu ringkas namun begitu galak: “Lupa boleh, munafik jangan.” Sebab lupa adalah cacat memori, penyakit yang bisa menimpa siapa saja, dari tukang parkir sampai pejabat tinggi. Sedangkan munafik adalah konflik antara apa yang diketahui dan apa yang diakui. Lupa adalah kelemahan manusia. Munafik adalah keputusan. Lupa membuat seseorang kehilangan jalan. Munafik membuat seseorang berpura-pura tidak pernah melewati jalan itu, padahal sepatunya masih berlumpur dan sopir mobil dinasnya masih ingat belokannya.
Dan sesungguhnya dunia pun cukup pemaaf terhadap yang pertama. Orang yang berkata, “Maaf, saya benar-benar lupa,” dengan wajah yang sungguh-sungguh lupa, biasanya masih diberi segelas teh dan sebuah kesempatan. Yang tidak tahan diberi ampun adalah lupa yang datang tepat waktu, yang selalu muncul sebelum pertanyaan terakhir, dan yang anehnya hanya menyerang bagian-bagian yang merugikan. Lupa semacam itu bukan penyakit. Itu strategi.
Dan pada akhirnya, mungkin semua polemik politik akan berakhir dengan cara yang sama. Berita akan tenggelam, ditimpa berita yang lebih baru dan lebih gaduh. Tagar akan hilang, menyisakan beberapa akun yang masih setia mengulang-ulangnya sendirian. Perdebatan akan usang, dan para pakar yang kemarin begitu yakin akan pindah ke topik berikutnya dengan keyakinan yang sama besarnya. Pendukung dan penentang akan mencari isu baru, sebab kemarahan, seperti makanan, tidak bisa disimpan terlalu lama. Namun, arsip akan tetap diam di raknya. Menunggu. Sabar. Tidak marah. Tidak berteriak. Tidak berkampanye. Tidak membeli iklan, tidak menyewa pendengung, tidak menggelar klarifikasi. Hanya menunggu seseorang datang dan berkata, pelan, tanpa teks, tanpa juru bicara:
“Ya, itu memang tanda tangan saya.”
Karena sejarah, pada hakikatnya, bukanlah kumpulan peristiwa. Peristiwa sudah lewat dan tidak bisa dipanggil kembali. Sejarah adalah kumpulan pengakuan, yaitu apa yang pada akhirnya berani diakui orang tentang peristiwa-peristiwa itu, entah di hadapan sesamanya, entah di hadapan dirinya sendiri di ruang yang tidak ada kameranya. Dan itulah sebabnya, di antara sekian banyak pertanyaan yang mungkin diajukan kepada manusia, ada satu yang paling sulit dijawab dengan senyum. Bukan soal kebijakan. Bukan soal angka. Bahkan bukan soal siapa yang salah.
Pertanyaan yang paling menakutkan bukanlah:
“Apa yang engkau lakukan?”
Melainkan:
“Mengapa engkau pura-pura tidak melakukannya?”