Jumat, 09 Oktober 2026

Menang Tapi Kalah, lalu Sujud Syukur

Di sebuah negeri yang aneh, hiduplah sekelompok pelaut yang baru saja memenangkan perlombaan menemukan pulau. Sudah berbulan-bulan mereka mengarungi lautan kata-kata, membentangkan peta tebal berisi tuduhan, dan mengayuh perahu dalil melawan arus kecurigaan. Para pelaut itu sebenarnya bukan golongan yang tahu betul ke arah mana kapal harus dikemudikan. Tetapi mereka punya satu keahlian yang jarang dimiliki pelaut mana pun: kemampuan bersorak sebelum pengumuman selesai dibacakan.

Maka ketika para juri naik ke panggung dan mengumumkan, "Keberatan kalian ditolak. Kalian tetap memenangkan perlombaan," dermaga pun pecah. Mereka melonjak kegirangan, menabuh genderang, mengibarkan panji-panji, dan sebagian bahkan tersungkur dalam sujud syukur, dahi menempel di papan dermaga yang masih berbau garam dan belum kering dari air pasang. Ada yang menangis, ada yang berpelukan, ada pula yang buru-buru memotret dirinya sedang bersujud agar kelak bisa dipajang sebagai bukti bahwa kemenangan itu pernah benar-benar terjadi.

Namun, ada satu kalimat lain yang ikut dibacakan para juri, kalimat yang diselipkan di bagian paling belakang, seperti uang kembalian yang tak sempat dihitung pembelinya: "Meski demikian, pulau yang kalian klaim sebagai tujuan pelayaran itu tetap tidak ditemukan."

Anehnya, para pelaut tak terlalu memedulikannya. Kalimat itu mereka perlakukan seperti pengumuman keberangkatan kereta di stasiun yang ramai: terdengar jelas, tetapi tidak dianggap berurusan dengan siapa pun. Telinga mereka memang terlatih secara selektif. Kata "menang" ditangkap dari jarak sepuluh mil, sedangkan kata "tidak ditemukan" dibiarkan tenggelam bersama jangkar. Mereka pulang membawa piala sambil terus berteriak, "Kami menang! Kami menang!" Teriakan itu diulang begitu sering dan begitu keras, seolah-olah pengulangan adalah cara paling murah untuk mengubah pantai kosong menjadi pulau.

Di tepi pantai, seorang lelaki tua yang kebetulan sedang memperbaiki jalanya memperhatikan arak-arakan itu dengan kening berkerut. Ia lalu bertanya dengan nada yang sopan, sesopan orang yang sudah terlalu sering melihat hal seperti ini, "Bukankah tujuan perlombaan itu membuktikan adanya pulau?"
Para pelaut menjawab, "Benar."
"Dan pulau itu tidak ditemukan?"
"Benar."
"Lalu mengapa kalian merayakan?"

Mereka menatap lelaki itu dengan heran, seperti menatap orang yang bertanya mengapa air laut asin padahal hari ini cuaca cerah. Lalu salah satu dari mereka, dengan wajah paling bersungguh-sungguh yang pernah dimiliki manusia, menjawab, "Karena kami menang."

Lelaki tua itu mengangguk pelan. Ia tak membantah, sebab ia tahu ada jenis percakapan yang kalau dilanjutkan hanya akan membuat penanya merasa dirinya keliru. Ia kembali merajut jalannya, sambil merenung bahwa barangkali inilah satu-satunya negeri di dunia di mana orang memenangkan pertanyaan, tetapi kehilangan jawabannya. Mereka memperoleh putusan, tetapi gagal memperoleh pembuktian. Mereka memenangkan pertandingan, namun bola tetap tidak masuk ke gawang, dan yang lebih lucu, wasit sudah meniup peluit panjang sambil menunjuk gawang yang kosong itu dengan jelas.

Dan barangkali, itulah sebabnya sujud syukur mereka tampak begitu filosofis. Itu bukan syukur karena kebenaran telah terbukti. Melainkan syukur karena kekalahan berhasil didandani sedemikian rupa hingga tampak seperti kemenangan, lengkap dengan bedak, minyak wangi, dan tepuk tangan berirama. Para penata rias kekalahan di negeri itu memang sangat piawai. Mereka tahu bahwa kekalahan yang diberi pita emas akan lebih mudah dijual daripada kekalahan yang diakui dengan jujur, apalagi jika pembelinya sudah telanjur berutang kesetiaan.

Seperti seorang pedagang yang bersorak karena lolos audit, meskipun gudangnya tetap kosong. Ia mengangkat surat keterangan tinggi-tinggi di depan pembeli, sementara tikus-tikus di gudang belakang pun sudah mulai pindah karena tak ada lagi yang bisa dimakan. Atau seperti seseorang yang memenangkan perkara tentang keberadaan seekor gajah, sementara kandang yang katanya dihuni gajah itu tetap tak berisi apa-apa. Hakim sudah mengetuk palu, para pendukung sudah mengelu-elukan, tukang kebun sudah diminta merangkai bunga untuk pesta. Tetapi gajahnya tidak pernah datang, dan jerami di kandang itu tetap utuh, tak tersentuh belalai mana pun.

Ia menang di meja sidang. Namun kalah di kandang.

Dan di antara tepuk tangan para pendukung, ketika genderang masih ditabuh dan piala masih diarak berkeliling kampung, terdengar bisikan satire yang paling pelan sekaligus paling tajam, entah dari lelaki tua di tepi pantai atau dari angin laut yang sudah terlalu lama menyaksikan negeri itu:

"Kadang-kadang, manusia tak membutuhkan kemenangan. Mereka hanya membutuhkan sesuatu yang bisa disebut kemenangan."