Minggu, 11 Oktober 2026

Lupa Boleh, Munafik Jangan : Tentang Arsip dan Amnesia

Di negeri yang subur akan rapat, notulen, tanda tangan, stempel, dan dokumentasi, selalu ada satu spesies langka yang berhasil bertahan hidup melawan segala hukum arsip: manusia yang mendadak lupa. Habitat aslinya adalah ruang rapat berpendingin udara, lengkap dengan kopi, kue basah, dan kertas bermeterai. Mereka hadir dalam rapat. Mereka mendengar pembahasan dengan saksama. Mereka menganggukkan kepala pada detik yang tepat, dan pada saat yang genting, kadang bahkan ikut menandatangani kesimpulan dengan goresan yang mantap. Tak seorang pun curiga. Spesies ini tampak sehat, ingatannya tajam, sorot matanya meyakinkan, sampai suatu hari angin berubah arah.

Dahulu manusia menciptakan arsip untuk membantu ingatan. Kertas dijilid, berkas dilipat, map disusun berurutan, semata agar generasi berikutnya tak perlu menebak apa yang sebenarnya terjadi. Kini arsip diciptakan untuk membantah lupa. Di zaman digital, manusia masih bisa lupa, tetapi dokumen tidak. Arsip tidak. Tangkapan layar tidak. Dan yang paling berbahaya, tanda tangan tak pernah mengalami amnesia. Ia tidak menua, tidak sungkan, tidak punya pertimbangan karier, dan tidak pula bisa diajak berunding di warung kopi.

Foto adalah saksi yang tak bisa disuap. Dokumen adalah saksi yang tak bisa diintimidasi. Arsip adalah saksi yang tak bisa diajak lupa. Tiga saksi ini bekerja tanpa gaji, tanpa tunjangan, dan tanpa takut dimutasi. Maka tak mengherankan jika musuh terbesar sebagian orang bukanlah lawan politik, melainkan lemari arsip yang berdiri diam di pojok ruangan, menatap dengan sabar, menunggu giliran dibuka.

Namun, bertahun-tahun kemudian, ketika angin politik berubah arah, ingatan mereka mengalami fenomena alam yang unik. Semua yang dahulu jelas perlahan berubah menjadi kabut. Yang tadinya terang menjadi samar. Yang tadinya dibahas menjadi "seingat saya tidak dibahas". Yang tadinya disetujui menjadi "saya tidak tahu dari mana asalnya". Yang tadinya ditandatangani, entah bagaimana, menjadi "mungkin itu hanya paraf biasa". Kabut ini anehnya hanya turun di sekitar kursi tertentu, dan hanya pada musim tertentu, persis ketika kursi itu mulai terasa panas.

Barangkali para ahli kedokteran perlu meneliti penyakit ini lebih serius. Sebab gejalanya tidak pernah menyerang rakyat biasa. Aneh sekali. Tidak pernah terdengar tukang bakso lupa bahwa ia menjual bakso. Tidak pernah terdengar sopir lupa bahwa ia mengemudikan mobil. Tidak pernah terdengar kasir lupa bahwa ia menerima pembayaran, apalagi tukang parkir lupa bahwa ia baru saja meminta dua ribu rupiah. Orang-orang ini hidup dalam dunia yang kejam bagi para pelupa: sekali salah hitung, pelanggan menagih saat itu juga. Mungkin itulah sebabnya ingatan mereka terlatih begitu baik. Tetapi dalam politik, seseorang bisa lupa terhadap sesuatu yang jejaknya masih tersimpan dalam dokumen, rekaman, berita, bahkan tanda tangannya sendiri, dan ia tetap bisa tidur nyenyak dengan perut kenyang dan dasi yang rapi.

Lebih menarik lagi, lupa di dunia politik bukanlah penyakit tetap. Ia penyakit musiman. Ia datang sesuai kebutuhan. Saat sebuah keputusan menguntungkan, ingatan bekerja sempurna: tanggal, jam, nama ruangan, bahkan menu makan siangnya terekam dengan teliti, lengkap dengan klaim bahwa gagasan itu berasal dari dirinya. Saat keputusan itu menjadi beban, ingatan mendadak pensiun dini, tanpa upacara, tanpa pesangon, dan tanpa sempat meninggalkan pesan. Karena itu, masalah sesungguhnya bukanlah lupa.

Manusia memang makhluk yang pelupa. Ada dua macam lupa. Yang pertama membuat orang tersesat mencari kunci rumah. Yang kedua membuat orang tersesat mencari tanda tangannya sendiri. Kita lupa menaruh kunci. Kita lupa ulang tahun teman. Kita lupa membeli garam saat ke pasar, lalu pulang dengan semua belanjaan kecuali yang paling penting. Itu wajar. Itu manusiawi. Tak seorang pun menggelar konferensi pers untuk menjelaskan garam yang tertinggal.

Tetapi ada perbedaan besar antara lupa karena keterbatasan manusia dan lupa karena kebutuhan situasi. Yang satu lahir dari kelemahan ingatan. Yang lain lahir dari kelincahan kepentingan. Yang satu membuat pelakunya malu lalu minta maaf. Yang lain membuat pelakunya tenang lalu minta waktu. Maka satire ini menjadi menarik, sebab kalimat yang menjadi judulnya sejatinya bukan berbicara tentang memori. Ia berbicara tentang integritas. Tentang keberanian mengakui bahwa kita pernah berada di suatu ruangan, pernah mendengar suatu pembahasan, pernah menjadi bagian dari suatu keputusan, walaupun hari ini keputusan itu tidak lagi nyaman untuk diingat.

Di zaman ketika setiap orang berlomba membangun citra, mungkin kejujuran telah menjadi barang mewah, dijual terbatas, dan tidak semua orang sanggup membelinya. Lebih mudah mengubah cerita daripada mengakui keterlibatan. Lebih murah mempersoalkan masa lalu daripada bertanggung jawab terhadapnya. Dan lebih aman berkata, "Saya tidak ingat," daripada berkata, "Ya, saya ikut menyetujuinya." Kalimat pertama hanya butuh tiga kata dan sedikit akting. Kalimat kedua butuh seluruh nyali yang tersimpan sejak pelantikan.

Padahal sejarah mempunyai kebiasaan buruk: ia gemar menyimpan arsip. Dan arsip mempunyai kebiasaan yang lebih buruk lagi: ia tidak bisa ikut lupa. Ia tidak peduli siapa yang sedang berkuasa, tidak membaca arah angin, dan tidak pernah diundang ke acara pembentukan citra. Ia hanya diam di dalam map, di dalam folder, di dalam awan penyimpanan, menunggu seseorang membuka halaman yang tepat. Dan ketika halaman itu terbuka, tak ada kabut yang cukup tebal untuk menutupinya.

Pada akhirnya, barangkali persoalannya sederhana. Negara tidak kekurangan orang pintar. Negara tidak kekurangan pakar hukum. Negara tidak kekurangan politisi, apalagi yang pandai berpidato tentang kejujuran. Yang sering langka justru orang yang ketika berhadapan dengan dokumen lama masih berani berkata:

"Ya, itu memang tanda tangan saya." Sebab lupa masih bisa dimaafkan, tetapi menyangkal tanda tangan sendiri di hadapan arsip yang tak pernah lupa bukan lagi amnesia. Itu pengakuan, hanya saja diucapkan dalam bahasa yang terbalik. Dan tinta, tidak seperti ingatan, tak pernah punya kepentingan.