Sebelum kita bicara tentang jutaan korban jiwa, empat kekaisaran yang runtuh, dan peta dunia yang berubah total—mari kita mulai dengan seekor sapi.Di parit-parit berlumpur Front Barat, dua kelompok prajurit punya julukan masing-masing. Tentara Inggris dipanggil "Tommy"—lengkapnya Tommy Atkins, sebuah nama fiktif generik yang telah digunakan sejak zaman Napoleon untuk menyebut prajurit biasa Inggris, setara dengan "si Polan atau si Fulan" dalam bahasa kita. Sementara tentara Jerman dipanggil "Fritz"—nama Jerman yang begitu lazim pada era itu sehingga menjadi sebutan kolektif bagi seluruh prajurit dari seberang parit. Dua nama sederhana, untuk dua kelompok manusia yang akan saling berbunuhan.Suatu hari di antara kedua parit itu, seekor sapi tersesat di No Man's Land—tanah tak bertuan yang berbahaya. Kedua pihak sama-sama menginginkannya untuk diambil susu dan dagingnya, tetapi siapapun yang keluar untuk mengambilnya akan langsung ditembak mati. Maka Tommy melemparkan secarik kertas ke parit Jerman, berisi sebuah usulan taruhan: siapa yang berhasil menembak koin yang dilemparkan ke udara, dialah yang berhak atas sapi itu. Jerman menyetujui. Koin demi koin melayang—dan meleset. Lima ronde berlalu tanpa pemenang. Baru pada koin keenam, Tommy mengenai sasaran.Jerman pun meminta koin-koin mark mereka dikembalikan. Tommy dengan sportif keluar, memungut semua koin yang berserakan di tanah, lalu mengantarkan keping-keping mark ke parit Jerman. Yang tak disadari Fritz: Tommy membayar mark itu dengan keping shilling milik Jerman sendiri yang juga tergeletak di tanah—hasil tembakan-tembakan yang meleset tadi. Jerman bersorak, menghadiahkan enam botol bir, dan memuji tembakan Tommy. Tommy pun pulang—membawa sapi, membawa bir, dan tanpa mengeluarkan sekeping uang pun dari kantongnya sendiri.
[Kisah tentang sapi ini dikutip dari "Funny Story of the Great War as Told by the Soldier" dikumpulkan oleh Carleton B. Case (2017, Abela Publishing), ditambah sedikit penjelasan]Inilah miniatur Perang Dunia I: perang yang paling mematikan, yang pernah disaksikan umat manusia—namun di sela-sela seluruh kebrutalan itu, Tommy dan Fritz masih sempat bertaruh soal sapi dan tertawa bersama. Pertanyaannya ialah: bagaimana dua orang yang bisa berbagi tawa seperti ini, terjebak dalam perang yang merenggut 20 juta nyawa? Jawabannya panjang—dan dimulai jauh sebelum sapi itu nyasar.
PERANG DUNIA IKetika Eropa Mengoyak Dirinya Sendiri1914 – 1918
Bayangkan sebuah benua yang kaya, maju, dan penuh keyakinan bahwa peradabannyalah yang terbaik, yang pernah ada di muka bumi—lalu bayangkan benua itu, dalam waktu kurang dari dua bulan, terseret ke dalam perang paling mematikan, yang pernah disaksikan umat manusia hingga saat itu. Itulah Eropa pada musim panas 1914. Itulah awal dari apa yang kelak kita kenal sebagai Perang Dunia I.Perang ini berlangsung dari 28 Juli 1914 hingga 11 November 1918—lebih dari empat tahun pertumpahan darah yang merenggut sekitar 20 juta nyawa, merontokkan empat kekaisaran besar, dan mengubah peta dunia secara permanen. Namun yang paling mengejutkan bukan skalanya, melainkan bagaimana semuanya bisa terjadi begitu cepat, dari satu peluru di Sarajevo hingga perang total yang melibatkan hampir seluruh dunia.Eropa Sebelum BadaiUntuk memahami mengapa Perang Dunia I meletus, kita perlu mundur sejenak dan melihat kondisi Eropa pada awal abad ke-20. Ini bukan benua yang sederhana dan damai. Inilah benua yang sedang duduk di atas beduk bubuk yang siap meledak kapan saja.Selama beberapa dekade sebelumnya, negara-negara Eropa telah membangun dua blok aliansi militer besar yang saling berhadapan bagai dua kelompok arisan yang masing-masing berjanji akan membela anggotanya apapun yang terjadi. Di satu sisi berdiri Triple Entente, persekutuan antara Perancis, Rusia, dan Inggris. Di sisi lain tegak Triple Alliance, koalisi antara Jerman, Austria-Hungaria, dan Italia. Logika di balik aliansi ini sederhana, dalam bahasa ngepopnya begini: kalo ada yang nyenggol salah satu dari anggota kami, itu berarti nyenggol kami semua. Sayangnya, logika inilah yang kelak mengubah satu pembunuhan menjadi perang dunia.Perlombaan senjata juga sedang berlangsung dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya. Jerman di bawah Kaiser Wilhelm II membangun armada laut yang megah dan angkatan darat yang besar, secara langsung menantang supremasi militer Inggris yang sudah berlangsung ratusan tahun. Inggris merespons dengan membangun kapal perang yang lebih besar dan lebih canggih. Perancis memperbesar pasukannya. Rusia memodernisasi militernya. Semua orang bersiap—dan dikala semua orang bersiap untuk perang, perang biasanya datang.Di atas semua itu, gelombang nasionalisme yang menggebu-gebu sedang membakar seluruh Eropa. Setiap bangsa merasa dirinya paling agung, paling benar, paling berhak. Di kawasan Balkan—yang dijuluki 'beduk bubuk Eropa'—nasionalisme Slavia tumbuh subur, mengancam keutuhan Kekaisaran Austria-Hungaria yang sudah tua dan renta. Serbia, yang baru saja memperbesar wilayahnya setelah dua Perang Balkan (1912–1913), bermimpi menyatukan seluruh bangsa Slavia Selatan di bawah satu panji. Impian itu sangat menggelisahkan Vienna.Satu Peluru yang Mengubah DuniaPada 28 Juni 1914, Archduke Franz Ferdinand—pewaris takhta Kekaisaran Austria-Hungaria—tiba di Sarajevo, ibu kota Bosnia yang baru saja dicaplok Austria. Kunjungan ini adalah provokasi yang tak disadari: Bosnia yang mayoritas berpenduduk Serbia dianeksasi Austria hanya enam tahun sebelumnya, dan luka itu belum sembuh.Hari itu, sekelompok pemuda nasionalis Serbia yang tergabung dalam organisasi rahasia 'Tangan Hitam' (Ujedinjenje ili smrt—Persatuan atau Kematian) sudah bersiap di sepanjang rute iring-iringan kereta kuda sang Archduke. Upaya pembunuhan pertama gagal—bom yang dilempar memantul di bawah mobil dan melukai pasukan di belakangnya. Franz Ferdinand selamat, dan iring-iringan melaju.Namun takdir punya rencana lain. Dalam perjalanan mengunjungi korban luka di rumah sakit, pengemudi mobil Franz Ferdinand salah belok, mundur, dan berhenti tepat di depan seorang pemuda yang sedang berdiri di depan sebuah kedai makanan—Gavrilo Princip, salah seorang anggota komplotan yang sudah putus asa dan akan pulang. Dari jarak kurang dari dua meter, Princip menembak. Dua tembakan. Franz Ferdinand dan Sophie, istrinya, tewas seketika.Eropa pun memasuki hitungan mundur.Austria-Hungaria, yang memang sudah lama mencari alasan untuk menghancurkan Serbia, mengirimkan ultimatum yang sengaja dirancang untuk tidak bisa diterima. Serbia menerima hampir semua tuntutannya — namun Austria tetap menyatakan jawabannya tidak memuaskan. Pada 28 Juli 1914, tepat sebulan setelah pembunuhan di Sarajevo, Austria-Hungaria menyatakan perang terhadap Serbia.Mekanisme aliansi pun berjalan laksana jam. Rusia mulai memobilisasi pasukan untuk membela Serbia. Jerman, yang telah memberikan 'cek kosong' dukungan kepada Austria-Hungaria, menyatakan perang kepada Rusia pada 1 Agustus, lalu kepada Perancis pada 3 Agustus. Ketika Jerman menginvasi Belgia yang netral untuk menyerang Perancis lewat jalur yang lebih cepat—sesuai dengan Rencana Schlieffen yang sudah disiapkan bertahun-tahun sebelumnya—Inggris tidak bisa lagi diam. Pada 4 Agustus 1914, Inggris menyatakan perang kepada Jerman. Dalam waktu kurang dari enam minggu sejak dua tembakan di Sarajevo, hampir seluruh Eropa sudah berada dalam keadaan perang.Perang ini pada dasarnya merupakan pertarungan antara dua kubu besar. Di pihak Entente—yang kelak memenangkan peperangan—berdirilah Perancis, Inggris (beserta seluruh Imperium Britannianya yang luas, dari India hingga Australia dan Kanada), Rusia, Italia yang bergabung pada 1915 setelah berbalik dari aliansi sebelumnya, dan Amerika Serikat yang akhirnya turun tangan pada April 1917. Bergabung pula Serbia, Belgia, Rumania, Yunani, dan puluhan negara lainnya.Di pihak Central Powers berdiri Jerman sebagai kekuatan utama, Austria-Hungaria yang menjadi biang keladi perang ini, Kesultanan Ottoman yang bergabung pada Oktober 1914 dan membuka front baru di Timur Tengah, serta Bulgaria yang ikut pada 1915.Ada ironi yang menarik di sini: Kaiser Wilhelm II dari Jerman dan Raja George V dari Inggris adalah sepupu kandung—keduanya cucu Ratu Victoria yang sama. Perang Dunia I, dalam beberapa hal, adalah pertengkaran keluarga kerajaan Eropa yang dibayar dengan darah jutaan rakyat jelata yang tak pernah memilih berperang.Empat Tahun NerakaTiada yang menduga perang ini akan berlangsung lama. Para jenderal berjanji kepada pasukan mereka bahwa semuanya akan selesai sebelum langkasnya dedaunan di musim gugur 1914. Mereka salah besar.Di Front Barat—garis pertempuran yang membentang dari Laut Utara hingga perbatasan Swiss melintasi Perancis dan Belgia—kedua pihak dengan cepat terjebak dalam perang parit yang mematikan. Ribuan kilometer parit digali di lahan berlumpur. Tentara hidup berbulan-bulan di dalam liang sempit yang banjir, penuh tikus, dan berbau busuk, sembari sesekali diperintahkan agar 'menyerang'—berlari menyeberangi tanah tak bertuan (No Man's Land) di bawah hujan peluru senapan mesin dan tembakan artileri.Tahun 1916 adalah puncak kegilaan perang parit ini. Pertempuran Verdun yang berlangsung hampir sepanjang tahun merenggut sekitar 700.000 korban jiwa dari kedua pihak tanpa mengubah garis front secara berarti. Di waktu yang hampir bersamaan, Pertempuran Somme yang dimulai pada 1 Juli 1916 mencatat hari paling berdarah dalam sejarah militer Inggris—lebih dari 57.000 prajurit Inggris gugur atau luka-luka hanya dalam sehari pertama.Teknologi perang juga berevolusi dengan cara yang menyeramkan. Gas beracun—klorin dan mustard gas—pertama kali digunakan secara massal oleh Jerman di Ypres pada 1915, membawa dimensi baru ketakutan di medan perang. Tank pertama kali muncul di Somme pada 1916. Pesawat tempur berseliweran di udara. Kapal selam Jerman memblokade Inggris. Perang inilah laboratorium kematian berteknologi modern.Di Front Timur, Rusia yang besar namun kurang terorganisasi terus menderita kekalahan besar melawan Jerman. Jutaan tentara Rusia tewas atau ditawan. Krisis militer ini memperparah krisis politik dalam negeri, yang pada 1917 meledak menjadi Revolusi Bolshevik. Tsar Nicholas II digulingkan, dan pemerintah revolusioner di bawah Lenin menandatangani perdamaian terpisah dengan Jerman pada Maret 1918—membebaskan Jerman untuk mengkonsentrasikan seluruh kekuatannya ke Front Barat.Namun suntikan kekuatan segar Amerika Serikat—yang akhirnya terprovokasi masuk perang seusai Jerman menenggelamkan kapal-kapal Amerika dan mengirim telegram rahasia (Telegram Zimmermann) yang mengajak Meksiko menyerang AS—membalik keadaan. Serangan besar-besaran terakhir Jerman pada musim semi 1918 gagal. Pasukan Entente melakukan serangan balasan yang memporakporandakan. Pada musim gugur 1918, tentara Jerman mundur dimana-mana, perekonomiannya morat-marit, dan rakyatnya kelaparan akibat blokade laut Inggris.Akhir Perang dan PemenangnyaPada 11 November 1918 pukul 11 pagi—jam ke-11 dari hari ke-11 dari bulan ke-11—senjata-senjata di seluruh Front Barat berhenti berbunyi. Gencatan senjata ditandatangani di dalam sebuah gerbong kereta di Hutan Compiègne, Perancis. Setelah 1.568 hari perang, keheningan pun turun di atas jutaan kilometer persegi lahan yang telah porak-poranda.Pemenangnya adalah Blok Entente. Jerman menyerah tanpa syarat. Austria-Hungaria bubar dan terpecah menjadi beberapa negara baru. Kesultanan Ottoman runtuh, membuka jalan bagi lahirnya Turki modern di bawah Mustafa Kemal Atatürk. Kekaisaran Rusia juga sudah lebih dulu tumbang digantikan Uni Soviet.Pada 28 Juni 1919—tepat lima tahun setelah pembunuhan Franz Ferdinand—Perjanjian Versailles ditandatangani di Istana Versailles, Paris. Perjanjian ini membebani Jerman dengan syarat-syarat yang sangat keras: kewajiban membayar reparasi perang yang luar biasa besar, kehilangan sekitar 13 persen wilayahnya, pembatasan militer yang ketat, dan yang paling memedihkan hati orang Jerman, Pasal 231 yang mewajibkan Jerman secara resmi mengakui bahwa merekalah yang bersalah atas perang ini.Rasa malu dan amarah yang ditanam oleh Perjanjian Versailles kelak tumbuh menjadi pupuk bagi bangkitnya Adolf Hitler, dua dekade kemudian. Perang Dunia I tak benar-benar 'mengakhiri semua perang' seperti yang diharapkan banyak orang—ia justru menanam benih Perang Dunia II.Warisan yang Tak TerlupakanPerang Dunia I merenggut sekitar 20 juta jiwa—tentara maupun warga sipil—dan melukai lebih dari 21 juta orang lainnya. Jutaan lagi menjadi cacat seumur hidup, baik secara fisik maupun mental. Istilah 'shell shock' (kini dikenal sebagai Postraumatic Disoder-PTSD) pertama kali dikenal luas akibat trauma yang dialami jutaan veteran perang ini.Peta dunia berubah total. Di Eropa saja, lahir sekitar sepuluh negara baru dari puing-puing empat kekaisaran yang runtuh. Di Timur Tengah, peta yang digambar oleh diplomat Inggris dan Perancis dalam Perjanjian Sykes-Picot (1916)—yang membagi wilayah bekas Ottoman tanpa memperhatikan garis suku dan agama—masih menjadi akar dari banyak konflik yang kita saksikan hingga hari ini.Dan di sebuah parit berlumpur di suatu tempat di Front Barat, pada suatu hari yang tak pernah dicatat dalam buku sejarah manapun, seorang tentara Inggris bernama Tommy dan seorang tentara Jerman bernama Fritz berhenti sejenak dari semua absurditas itu—mempertaruhkan seekor sapi, berbagi bir, dan mengingatkan kita bahwa di balik seragam dan senapan, mereka hanyalah manusia biasa.Daftar RujukanUntuk mendalami topik ini lebih lanjut, berikut karya-karya yang direkomendasikan:
- Tuchman, Barbara W. The Guns of August. New York: Macmillan, 1962.—Narasi klasik pemenang Pulitzer tentang minggu-minggu pertama pecahnya perang.
- Keegan, John. The First World War. London: Hutchinson, 1998.—Analisis militer menyeluruh dari salah satu sejarawan perang paling otoritatif.
- Strachan, Hew. The First World War. Oxford: Oxford University Press, 2001.—Kajian akademis komprehensif yang mencakup seluruh aspek dan front perang.
- Clark, Christopher. The Sleepwalkers: How Europe Went to War in 1914. New York: HarperCollins, 2012.—Kajian mendalam tentang bagaimana para pemimpin Eropa 'tersesat' masuk ke dalam perang tanpa benar-benar menginginkannya.
- MacMillan, Margaret. The War That Ended Peace. New York: Random House, 2013.—Analisis tentang dekade-dekade sebelum 1914 yang membuat perang menjadi tak terhindarkan.
- Taylor, A.J.P. The First World War: An Illustrated History. London: Penguin, 1963.—Narasi populer dari sejarawan kontroversial namun sangat berpengaruh.
- Ferguson, Niall. The Pity of War. New York: Basic Books, 1998.—Perspektif revisionis yang mempertanyakan apakah perang ini seharusnya bisa dihindari.
- Stevenson, David. 1914–1918: The History of the First World War. London: Penguin, 2004.—Kajian seimbang dan sangat detail tentang seluruh perjalanan perang.

