Jumat, 16 Oktober 2026

Menepuk Air di Dulang: Sebuah Negeri yang Gemar Saling Mengingatkan

Polemik seputar Pasal 18 ayat (3) PKPU Nomor 19 Tahun 2023 belakangan tak lagi sekadar urusan dokumen dan prosedur. Ia telah menjelma menjadi pertukaran sindiran antara dua nama yang sama-sama pernah duduk di kursi tinggi: Hasyim Asy'ari, mantan Ketua KPU, dan Ahmad Doli Kurnia Tandjung, mantan Ketua Komisi II DPR.

Sebagaimana diberitakan, Hasyim membantah tudingan adanya "pasal selundupan". Ia menegaskan bahwa pembahasan dan persetujuan atas pasal yang dipersoalkan berlangsung dalam forum resmi yang dihadiri oleh berbagai pihak. Dari situlah meluncur sebuah kalimat yang segera menjadi sorotan:

“Lupa boleh, munafik jangan.”

Kalimat itu bahkan dibingkai dengan alegori Malaikat Munkar dan Nakir, yang kelak bertanya tentang siapa yang hadir, siapa yang tahu, dan siapa yang setuju atas pembahasan draf PKPU tersebut. Doli tak tinggal diam. Ia membalas bahwa kalimat itu justru lebih pantas dialamatkan kepada Hasyim sendiri, seraya menyinggung rekam jejaknya selama memimpin KPU, mempertanyakan posisinya sebagai komisaris BUMN, dan tetap bertahan pada pandangannya bahwa ada pasal yang tak ditemukan dalam dokumen yang diterima DPR kala itu.

Bagi pengamat politik, ini mungkin sekadar adu argumen yang lazim di musim gaduh. Namun bagi penulis satire, ia membangkitkan ingatan pada sebuah peribahasa lama:

Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.

Tulisan ini tentu tak hendak menjadi hakim. Siapa yang benar perihal pasal itu adalah urusan dokumen, saksi, dan forum yang berwenang. Yang hendak dibicarakan di sini hanyalah sebuah negeri dongeng, kebetulan bernama Negeri Dulang, yang penduduknya mungkin mirip dengan kita semua.

Konon, di sebuah negeri yang sangat menghormati arsip, hiduplah dua kelompok manusia.

Kelompok pertama gemar membawa map. Map mereka tebal, berpita, dan selalu dibawa dengan dagu sedikit terangkat, seakan isinya adalah kitab suci. Kelompok kedua gemar membawa cermin. Cermin mereka bening, berbingkai emas, dan selalu diarahkan ke wajah orang lain, seakan wajah sendiri sudah lama dinyatakan bebas dari pemeriksaan.

Setiap kali sengketa pecah, kelompok pembawa map akan berseru:

“Lihatlah dokumen ini!”

Dan kelompok pembawa cermin akan menyahut:

“Lihatlah dirimu sendiri!”

Maka terjadilah pemandangan yang menakjubkan. Yang satu sibuk membuka lembaran kertas. Yang lain sibuk membuka lembaran masa lalu. Daftar hadir diperiksa, notulen dibolak-balik, paraf diteliti dengan kaca pembesar, dan di sela-sela itu, riwayat hidup ikut ditarik keluar dari laci seperti kucing yang dipaksa tampil di panggung. Tak ada yang mau kalah. Tak ada yang mau lupa. Dan yang paling menarik, keduanya sama-sama mengaku sedang mengingatkan.

Di Negeri Dulang, mengingatkan adalah olahraga nasional. Hanya saja, aturannya agak ganjil: orang boleh mengingatkan siapa saja, asalkan bukan dirinya sendiri. Bahkan pertanyaan-pertanyaan yang konon baru diajukan di alam kubur sudah dicicil sejak di ruang rapat. Siapa yang hadir? Siapa yang tahu? Siapa yang setuju? Para malaikat, kata orang, tak perlu lagi bekerja keras. Cukup menunggu para manusia melakukan gladi resik.

Lama-kelamaan, rakyat yang menyaksikan menjadi bingung. Awalnya mereka diajak memeriksa sebuah pasal. Kemudian mereka diajak memeriksa sebuah tanda tangan. Lalu mereka diajak memeriksa sebuah riwayat hidup. Tak lama berselang, mereka diajak memeriksa sebuah jabatan. Rakyat yang datang untuk menonton pemeriksaan satu pasal pulang dengan membawa catatan tentang segala hal kecuali pasal itu.

Perdebatan itu tumbuh seperti pohon beringin. Akar persoalan berada jauh di bawah tanah, tetapi ranting-rantingnya menjulur ke mana-mana, menaungi siapa saja yang ingin berteduh sambil melempar batu ke arah yang berlawanan.

Di tengah keramaian itu, arsip duduk diam.

Ia tak berkampanye. Ia tak berdebat. Ia tak membela siapa pun. Ia tak punya juru bicara, tak punya akun media sosial, dan tak pernah meminta hak jawab. Ia hanya menunggu.

Sebab arsip memahami sesuatu yang tak kunjung dipahami manusia. Bahwa manusia sering berubah. Kepentingan berubah. Posisi berubah. Musuh berubah. Kawan berubah. Pendapat berubah, tergantung pada kursi sebelah mana ia duduk ketika ditanya. Tetapi tinta yang sudah mengering biasanya tidak ikut berubah.

Ada pula cermin yang duduk bersebelahan dengan arsip. Keduanya sebenarnya mirip. Sama-sama tidak banyak bicara. Sama-sama sulit diajak berkompromi. Sama-sama tak bisa disogok dengan basa-basi. Perbedaannya hanya satu. Arsip menunjukkan apa yang pernah dilakukan. Sedangkan cermin menunjukkan siapa yang melakukannya.

Karena itu, orang sering lebih takut kepada cermin daripada arsip. Kertas bisa disimpan di lemari, dikatakan hilang, atau dibilang belum ditemukan. Wajah sendiri sulit dititipkan ke mana-mana.

Suatu hari, seorang bijak di negeri itu berkata:

“Aneh sekali. Ketika seseorang membuka arsip orang lain, ia lupa bahwa orang lain juga memiliki arsip tentang dirinya.”

Seorang yang lain menjawab:

“Dan ketika seseorang mengangkat cermin kepada lawannya, ia lupa bahwa sisi belakang cermin masih menghadap kepadanya.”

Mereka pun tertawa. Bukan karena lucu. Melainkan karena benar. Tawa itu pendek saja, sebab keduanya sadar bahwa di sudut ruangan, ada yang sedang mencatat.

Begitulah kehidupan di Negeri Dulang. Di sana, semua orang gemar menepuk air. Mereka menepuknya dengan tuduhan. Mereka menepuknya dengan dokumen. Mereka menepuknya dengan rekam jejak. Mereka menepuknya dengan sindiran yang dibungkus alegori, supaya terdengar lebih saleh daripada sekadar sindiran.

Dan setiap kali telapak tangan menghantam permukaan air, percikannya melompat ke mana-mana. Sebagian mengenai lawan. Sebagian mengenai penonton, yang pulang dengan baju basah tanpa tahu salah apa. Namun anehnya, sebagian lagi selalu kembali ke wajah orang yang menepuknya.

Karena air mempunyai sifat yang tidak dapat dikalahkan oleh retorika: ia memantulkan. Ia tidak membaca pidato, tidak peduli siapa yang pernah jadi ketua apa, dan tidak bisa diajak berunding soal siapa yang boleh terkena cipratan. Dalam pantulannya, kadang-kadang manusia menemukan sesuatu yang tak pernah ia temukan di ruang sidang maupun di lembar notulen: lawan yang paling sulit dibantah.

Dirinya sendiri.