Rabu, 21 Oktober 2026

Mengapa Kopiku Jadi Dingin?

Catatan Warung Kopi tentang Dugaan Tangan dari Seberang dan Kasta yang Mendadak Hendak Diturunkan

Pagi itu warung kopi langgananku bergemuruh. Bukan oleh pertandingan bola, melainkan oleh kabar dari seberang lautan: Morgan Stanley Capital International, penyedia indeks yang menjadi rujukan para investor dunia, sedang menimbang menurunkan kasta pasar saham kita, dari kelas emerging market menjadi standalone market. Indeks harga saham gabungan merosot tajam, dan kopi yang kuseduh pagi itu terasa lebih dingin dan lebih getir dari biasanya. Lalu, seperti biasa, kabar buruk mendapat teman bernama tafsir. Kali ini tafsirnya datang dari seorang mantan menteri perdagangan, lewat video di media sosial pada Senin, 19 Oktober 2026: ia menduga ada tangan-tangan dari negeri tetangga di balik semua ini.

Aku sudah lama mengajari diriku untuk curiga pada kebetulan yang terlalu rapi. Maka mari kita simak dugaan itu dengan kepala dingin, sedingin kopi di depanku. Pertama, soal kastanya. Menurut sang mantan menteri, kasta standalone market lazimnya dipakai untuk negeri-negeri yang memasang pembatasan arus modal, sedangkan warung kita tak pernah mengunci pintu bagi uang yang mau keluar maupun masuk. Mengancam menurunkan kasta warung yang pintunya terbuka lebar dengan alasan bahwa pintunya terkunci, begitu kira-kira logikanya, terdengar seperti menuduh seseorang kurang tidur, padahal ia baru saja membuka mata. Kalau ukurannya tak sesuai, wajar jika orang bertanya siapa yang membuat penggarisnya.

Kedua, soal waktunya. Kabarnya dana-dana asing sudah banyak meninggalkan warung kita lebih dulu, sehingga mereka yang menunggu di luar belum sempat memborong dagangan dengan harga miring. Di saat yang sama, hubungan dua tetangga sedang diselimuti asap, secara harfiah. Negeri di seberang itu rajin sekali mengirim surat peringatan soal asap kebakaran hutan, dengan nada seorang kakak kelas yang sedang membagikan pelajaran moral. Sang mantan menteri menyindir bahwa di saat mereka sibuk menggurui soal asap, permainan mereka ternyata tak berhenti di situ. Diriku hanya bisa membayangkan betapa rapinya sebuah negeri yang begitu peduli pada kualitas udara tetangganya, sampai-sampai kualitas harga saham tetangganya pun ikut dipedulikan.

Ketiga, soal siapa yang diuntungkan, pertanyaan paling tua dalam dunia penyelidikan. Jika kasta warung kita diturunkan, harga dagangan jatuh, dan panik merebak, siapa yang paling siap berdiri di antrean paling depan dengan dompet tebal? Tentu bukan tukang ojek yang tabungannya baru cukup untuk membeli kopi sachetan. Sang mantan menteri menyebut dua institusi investasi raksasa milik negeri itu sebagai pihak yang punya pengaruh besar di MSCI. Pengaruh bukan dosa, tetapi pengaruh yang besar bertemu kepentingan yang besar adalah resep klasik bagi sebuah kecurigaan. Dan rekam jejak, seperti ampas kopi, tidak pernah benar-benar hilang. Satu dari institusi itu pernah dinyatakan melanggar aturan persaingan usaha oleh KPPU dalam perkara kepemilikan di Indosat dan Telkomsel, putusan yang mereka tolak dan lawan dengan keras. Kita tentu tidak boleh menghakimi hari ini dengan perkara kemarin, tetapi kita juga tidak wajib lupa bahwa warung kita pernah merasakan pengaruh itu dari dekat.

Keempat, soal pesan moralnya. Sang mantan menteri menutup videonya dengan seruan agar kita tak mau diadu-adu dan tak mau dibuat minder oleh negeri tetangga. Diriku setuju sepenuh gelas. Ada sesuatu yang sangat khas dari tetangga yang rapi: ia memberi nasihat kepada kita tentang asap, tentang tata kelola, tentang kualitas pasar, tentang segala hal, namun jarang sekali menjelaskan ke mana larinya uang-uang besar yang mampir sebentar di rekening-rekening seberang sana. Tetangga yang paling lancar memberi nasihat kerap kali bukan yang paling bersih tangannya, melainkan yang paling lama berdiri di depan pintu dapur orang lain.

Tentu saja ini baru dugaan. Sampai pemberitaan terakhir yang kubaca, sang mantan menteri belum menampilkan bukti, pihak yang disebut belum menanggapi, dan pengumuman resmi MSCI tak menyebut nama siapa pun sebagai penekan. Tetapi justru karena itulah dugaan ini perlu diuji, bukan dikubur. Jika benar ada tekanan, biarlah terbuka dan dituntaskan di meja yang terang. Jika tidak benar, biarlah itu juga terbukti dengan data, bukan dengan senyum dan kalimat bahwa kita sebaiknya bekerja saja. Warung yang sehat tidak takut pada pertanyaan, dan bangsa yang berharga diri tak boleh malu bertanya mengapa nasibnya selalu diputuskan di ruang-ruang yang tak pernah mengundangnya.

Dan sementara pertanyaan itu menunggu jawaban, dapur kita sendiri pun layak dibereskan. Delapan puluh potong gorengan yang kepemilikannya terlalu terkonsentrasi hendak dikeluarkan dari timbangan oleh pemilik warung, dan itu langkah yang baik. Dengan begitu, jika suatu hari ada penilai dari mana pun yang datang membawa termometernya, kita bisa menyodorkan dapur yang terang sambil berkata dengan dagu terangkat: silakan periksa, kami tak punya apa-apa untuk disembunyikan. Itulah cara terbaik mematahkan sebuah skenario, jika memang ada skenarionya.

Sore harinya, pulang dengan gelas kosong dan kepalaku penuh. Bapak di pojokan masih bercerita tentang tangan-tangan dari seberang, pemilik warung masih menghitung ulang gorengannya, dan di luar hujan turun tanpa peduli siapa yang benar. Daku tak tahu percis siapa yang berdiri di balik pintu itu. Yang kutahu, kopi kita takkan terasa manis selama pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan oleh kegetiran ini dijawab dengan kata "sudahlah". Dan bila suatu hari terbukti ada yang sengaja mendinginkan kopi kita demi membeli ampasnya dengan harga murah, semoga kita ingat satu hal: mereka yang paling sibuk mengurusi asap orang lain, biasanya sedang punya sesuatu yang ingin disembunyikan di balik kabut.