Rabu, 14 Oktober 2026

Penemu Hubungan Sebab-Akibat: Tentang Kebanggaan pada Hal yang Sudah Pasti

Seseorang berdiri dengan penuh keyakinan, berkata:

“Kalau tidak lulus SMA, saya tidak mungkin kuliah.”

Ruangan pun hening. Burung-burung berhenti berkicau. Para ilmuwan menjatuhkan buku catatan mereka. Dan di sebuah sudut alam semesta, Sir Isaac Newton mendadak berdiri dari kuburnya hanya untuk bertepuk tangan. Sebab akhirnya umat manusia menemukan bahwa untuk naik ke lantai dua, seseorang harus melewati lantai satu terlebih dahulu.

Betapa revolusionernya.

Tiada yang mau membantah kalimat itu. Dan memang di situlah letak keistimewaannya: sebuah pernyataan yang mustahil salah juga mustahil mengajarkan apa-apa. Ia tak membuka perdebatan, tidak menambah wawasan, tak menggugah siapa pun agar berpikir. Ia hanya menggantung di udara, benar sekaligus kosong, bagai gelas yang kita sodorkan dengan bangga padahal tak berisi apa pun.

Besok mungkin akan lahir penemuan berikutnya:

“Kalau tidak lahir, saya tidak mungkin berulang tahun.”

Atau:

“Kalau tidak makan, saya tidak mungkin kenyang.”

Atau bahkan:

“Kalau tidak ada laut, saya tidak mungkin tenggelam.”

Lusa, barangkali, seseorang akan menggelar konferensi pers untuk mengumumkan bahwa hujan membuat tanah menjadi basah. Dunia memang bergerak maju berkat pemikiran-pemikiran semacam ini.
 
Keledai dan Gerbang Istana

Alkisah, seekor keledai tua berdiri di depan gerbang istana pendidikan. Bulunya disisir rapi, langkahnya dibuat gagah, dan dengan bangga ia berkata kepada hewan-hewan lain yang lewat:

“Jika aku tidak melewati jembatan itu, aku tidak akan sampai ke istana ini.”

Semua mengangguk. Memang benar. Tiada satu pun yang sanggup menyangkalnya.

Namun seekor burung hantu yang bijak, yang sejak tadi mengamati dari dahan, bertanya pelan:

“Lantas, apa yang hendak engkau sampaikan?”

Keledai itu terdiam. Ia membuka mulut, menutupnya kembali, lalu menatap jembatan di kejauhan seakan-akan jembatan itu bisa menjawab untuknya. Sebab semua orang sudah tahu bahwa jembatan memang menghubungkan dua tepian sungai. Itu bukan kabar, melainkan pemandangan. Dan tak ada yang pernah memberi penghargaan kepada seseorang karena telah menyebutkan pemandangan.

Yang membuat seseorang layak dibanggakan bukanlah fakta bahwa ia pernah melintasi jembatan, melainkan apa yang ia pelajari sepanjang perjalanan: siapa yang ia tolong di tengah jalan, rintangan apa yang ia hadapi, dan bagaimana ia berubah kala tiba di seberang. Dua ekor keledai bisa menyeberangi jembatan yang sama. Yang membedakan keduanya adalah apa yang dibawa pulang.

Orang bijak tak sibuk mengumumkan bahwa tangga telah membantunya naik. Ia menunjukkan apa yang dilakukannya sesudah sampai di atas. Ia tahu bahwa tangga hanyalah alat, dan alat tak pernah menjadi prestasi bagi orang yang sekadar memakainya.

Maka, sekali lagi, kita kembali kepada kalimat yang bersejarah itu:

“Kalau tidak lulus SMA, saya tidak mungkin kuliah.”

Benar sekali.

Dan kalau tidak punya tiket, Engkau tak mungkin masuk bioskop. Kalau tak punya paspor, engkau tak mungkin terbang ke luar negeri. Kalau tak punya perahu, engkau tak mungkin menjadi nahkoda. Kalau tak punya sepatu, engkau tidak mungkin ikut lomba lari. Semuanya benar, semuanya runtut, dan semuanya tak membuktikan apa-apa tentang siapa dirimu.

Masalahnya, tidak ada orang yang menilai kehebatan seorang nahkoda dari fakta bahwa ia pernah punya perahu. Penumpang tak bertanya apakah kapalnya pernah dibeli; mereka ingin tahu apakah kapten itu tenang saat ombak setinggi rumah menghantam lambung kapal. Yang dinilai adalah bagaimana ia mengarungi badai, bagaimana ia membaca langit, dan bagaimana ia membawa seluruh awaknya pulang dengan selamat.

Tentu saja, bersyukur atas jenjang yang telah dilalui adalah sikap yang terpuji. Tidak ada yang salah dengan mengenang jembatan yang pernah membawa kita menyeberang. Yang keliru adalah ketika kenangan itu dijadikan satu-satunya bekal, seolah-olah perjalanan berakhir di tepi sungai dan sisa hidup cukup dihabiskan dengan menunjuk ke belakang.

Sebab ijazah hanyalah pintu. Sedangkan yang menentukan nilai seseorang adalah apa yang ia lakukan setelah berhasil masuk melalui pintu itu: apa yang ia kerjakan, apa yang ia pelajari, dan siapa yang terbantu karena kehadirannya.

Kalau hanya membanggakan bahwa pernah melewati pintu, maka engsel pintu pun mungkin lebih berjasa daripada dirinya. Sebab engsel setidaknya bekerja setiap hari, tanpa pernah sekali pun meminta tepuk tangan.