Senin, 23 Maret 2026

Opera Kodok (2)

Liburan Lebaran Paling Eksklusif dalam Sejarah Hukum Indonesia

Ada satu prinsip dalam sejarah Komisi Pemberantasan Korupsi yang begitu mendasar sehingga tak pernah sekalipun dilanggar selama dua dekade lembaga itu berdiri—prinsipnya kira-kira berbunyi: tersangka yang sudah masuk rutan KPK ya tinggal di rutan KPK, sampai pengadilan bilang boleh keluar, atau sampai dokter menyatakan ada darurat medis yang sesungguhnya. Itu bukan standar yang terlalu tinggi. Tak butuh keberanian luar biasa, tak butuh kebijaksanaan tingkat dewa, bahkan tak butuh kerja administrasi yang terlalu berat. Yang dibutuhkan hanya tekad kelembagaan yang cukup kuat untuk bilang tidak ketika seseorang bertanya apakah seorang tersangka korupsi boleh pulang dulu ke rumahnya. Bahwa tekad itu diam-diam menguap pada malam 19 Maret 2026—dan bahwa ia menguap khusus untuk seorang Yaqut Cholil Qoumas, mantan Menteri Agama, tersangka kasus korupsi senilai Rp622 miliar, dan adik kandung Ketua Umum organisasi Islam terbesar di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia—itulah yang menjadi pokok investigasi ini.
Mari kita mulai, sebagaimana semua investigasi yang baik harus dimulai, dari penjelasan resminya—yang berkualitas khas dari jawaban-jawaban yang memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada yang mereka jawab. Saat didesak wartawan, jubir KPK Budi Prasetyo menjawab dengan singkat yang mengagumkan: "Bukan karena sakit. Keluarga mengajukan permohonan, dan kami memprosesnya." Seseorang berhenti sejenak untuk mencerna ini. Keluarga mengajukan permohonan. KPK memprosesnya. Seorang tersangka korupsi yang dituduh merugikan para calon jemaah haji sebesar Rp622 miliar dibebaskan dari tahanan hanya karena sanak dan kanaknya lebih suka ia berada di tempat lain. Bayangin: keluarga dari setiap penghuni rutan KPK lainnya pasti punya preferensi yang sama kuatnya soal dimana orang yang mereka cintai sebaiknya menghabiskan malam. Kita tunggu saja mereka ramai-ramai mengajukan permohonan.
Dalih hukum yang ditampilkan untuk menutupi akrobat kelembagaan yang luar biasa ini adalah Pasal 108 ayat 1 dan 11 UU Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP baru—sebuah ketentuan yang, sebagaimana para pengamat hukum langsung mencatat, dirancang untuk keadaan yang jauh lebih mendesak daripada sekadar keinginan keluarga. Mantan penyidik KPK Yudi Purnomo Harahap tak membuang-buang kata: "Kalau tersangka mengaku sakit, prosedurnya dirawat di rumah sakit, lalu kembali ke rutan setelah pulih. Selama bertahun-tahun saya menjadi penyidik KPK, Komisi tidak pernah sekalipun memberikan status tahanan rumah kepada tersangka mana pun." Kebaruan dari pengaturan ini pun terkonfirmasi—bukan hanya dari para kritikus di luar, tapi dari orang-orang yang menghabiskan karier mereka di dalam lembaga itu sendiri. Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya telah terjadi, dan institusi yang bertanggung jawab menjelaskannya dengan ketenangan terukur seorang pria yang baru saja menjatuhkan vas antik dari rak dan bersikeras bahwa vas itu memang selalu ada di lantai.
Soal timing-nya, orang harus mengakui: ini presisi tingkat tinggi. Yaqut meninggalkan Rutan KPK Gedung Merah Putih pada malam Kamis 19 Maret 2026—alias malam sebelum Idul Fitri, momen paling sakral dalam kalender Islam, dimana optics seorang mantan Menteri Agama yang menghabiskan Lebaran di balik jeruji besi akan terasa, katakanlah, cukup menusuk. Tiada pengumuman. Tiada siaran pers. KPK—yang dalam undang-undang pendiriannya menjadikan transparansi sebagai asas utama—tak memberitahu siapa pun. Informasi ini sampai ke publik bukan melalui saluran resmi mana pun, melainkan melalui Silvia Rinita Harefa, istri sesama tahanan Immanuel Ebenezer, yang menyebutkan kepada wartawan yang menunggu—dengan style seseorang yang sedang berbagi gosip menarik, bukan meledakkan kontroversi politik—bahwa Gus Yaqut sudah tak terlihat di fasilitas itu, tidak hadir dalam salat Id pagi 21 Maret, dan seperti katanya dengan keluguannya sendiri: "Semua yang di dalam tahu. Ia sudah tidak ada di sana."
KPK mengonfirmasi cerita itu pada Sabtu malam yang sama, dengan gaya institusi yang ketahuan—bukan yang memilih berkomunikasi. Ternyata, Komisi sudah sangat nyaman membiarkan pengaturan ini tak terungkap selamanya. Orang jadi teringat pada observasi lama: hal paling mengungkap dari sebuah rahasia bukan isinya, tapi alasan seseorang ingin menyembunyikannya.
Yaqut sudah duduk manis di kediamannya di Mahkota Residence, Condet, Jakarta Timur—sebuah lingkungan yang dapat diasumsikan jauh lebih nyaman dibanding Gedung Merah Putih, meskipun KPK meyakinkan publik bahwa pengawasan tetap dilakukan. Pengawasan seperti apa yang diterapkan—apakah benar-benar melibatkan pemantauan fisik terhadap mantan pejabat tinggi yang punya jaringan luas dan kepentingan pribadi yang sangat besar dalam hasil persidangannya sendiri—diserahkan kepada imajinasi masing-masing.
Para pengkritik, harus diakui, tak butuh imajinasi terlalu jauh. Ketua IM57+ Institute Lakso Anindito menyatakan tegas bahwa tahanan rumah memberi tersangka yang punya koneksi luas dan sumber daya sebagai mantan pejabat senior kesempatan yang signifikan untuk mengintervensi saksi dan barang bukti, mengonsolidasikan dukungan dari luar, serta mengejar intervensi yang justru ditargetkan oleh penahanan yang dirancang untuk mencegahnya. Ray Rangkuti dari Lingkar Madani menggunakan analogi yang punya kejernihan yang agak brutal: KPK, ia sarankan, telah secara efektif mengomunikasikan bahwa lembaga itu menganggap kasus korupsi tidak lebih serius dari perkara pidana biasa — setara institusional dengan memperlakukan perampokan kas negara dengan tingkat keseriusan yang biasanya seseorang sisihkan untuk pelanggaran lalu lintas ringan. "Ini akan menghancurkan sistem pemberantasan korupsi yang dibangun di atas integritas tinggi sejak KPK didirikan," kata mantan penyidik Yudi Purnomo—tanpa basa-basi eufemisme sama sekali.
Yang membedakan affair ini dari sekadar mempermalukan institusi biasa adalah kualitas keheningan dari atas. Pimpinan KPK—para komisioner, para direktur, figur-figur yang otoritas dan reputasinya paling langsung terimplikasi—tak mengatakan apa pun secara terbuka. Penjelasan diserahkan kepada jubir. Pembelaannya birokratis, bukan berbasis prinsip: prosedur sudah diikuti; undang-undang sudah dikutip; masalahnya administratif. Ada fitur yang menarik dari institusi yang sedang tertekan: semakin signifikan sebuah keputusan, semakin gigih ia dinisbatkan kepada urusan administrasi semata.
Publik—untuk menggunakan istilah teknisnya—nggak bisa terima. Di TikTok—yang sudah muncul sebagai barometer kemarahan rakyat Indonesia paling dapat diandalkan—92 persen komentar menuntut hukuman berat. Para mantan penyidik KPK meminta Presiden Prabowo menginvestigasi apa yang mereka sebut sebagai intervensi internal. Boyamin Saiman dari MAKI, dengan nada sedikit lelah dari seorang pria yang sudah terbiasa menyaksikan institusi mengecewakan, mencatat bahwa pengaturan ini layak masuk Museum Rekor Indonesia—bukan untuk pencapaian konvensional apa pun, melainkan untuk keberanian murni dari kebaruannya.
Pada malam Minggu 22 Maret, dengan kemarahan publik yang tak menunjukkan tanda-tanda mereda, gerbang kediaman Yaqut di Condet sudah diam-diam ditutup dan suasana di dalamnya dilaporkan menjadi cukup tegang, seiring beredarnya rumor pemanggilan paksa oleh para penyidik. Pada hari Senin 23 Maret—hari ketiga Lebaran, saat sebagian besar negeri masih merayakan—KPK mengumumkan bahwa status tahanan rumah Yaqut dicabut, bahwa ia sedang menjalani pemeriksaan kesehatan di RS Bhayangkara Jakarta Timur sebelum dikembalikan ke tahanan, dan bahwa Komisi ingin menyampaikan apresiasi kepada publik yang terus memantau kasus ini. Ungkapan terakhir itu—setara kelembagaan dari ucapan terima kasih kepada seseorang karena sudah menyadari bahwa celananya sedang terbakar—melengkapi gambaran ini dengan puisi yang tidak disengaja namun sempurna.
Persyaratan pemeriksaan kesehatan itu, perlu dicatat, sendirinya merupakan detail yang cukup menarik. Yaqut, berdasarkan semua laporan, dalam kondisi sehat sempurna saat meninggalkan fasilitas. Ia dalam kondisi sehat sempurna selama masa tahanan rumahnya. Pemeriksaan kesehatan dalam perjalanan kembali ke tahanan tidak melayani tujuan medis yang jelas—hanya tujuan prosedural yang sangat jelas: ia memberikan alasan agar proses itu memakan waktu hampir seharian penuh, memungkinkan berkas-berkas menumpuk dengan kecepatan yang bermartabat, dan secara umum memastikan bahwa perjalanan pulang berlangsung dengan urgensi yang jauh lebih rendah daripada kepergian semula.
Yang tersisa, setelah semua penjelasan resmi dengan sopan dikesampingkan, adalah sebuah episode empat puluh jam yang menceritakan kisah yang cukup presisi tentang kondisi arsitektur antikorupsi Indonesia saat ini. Sebuah keluarga mengajukan permohonan. Sebuah institusi tanpa preseden untuk mengabulkan permohonan semacam itu mengabulkannya dalam empat puluh delapan jam. Tidak ada pengumuman. Penemuan terjadi secara tidak sengaja. Pembalikan langkah baru terjadi di bawah tekanan kemarahan publik yang masif. Dan sepanjang rangkaian peristiwa ini, pertanyaan yang paling menuntut jawaban—bukan "prosedur apa yang diikuti?" tapi "mengapa prosedur tertentu ini diterapkan kepada tersangka tertentu ini dengan cara tertentu ini pada momen tertentu ini?"—tak mendapat jawaban sama sekali.
Kolam, seperti kata peribahasa, hanya sedang menunggu musim berganti. Berdasarkan bukti dari empat hari terakhir, tampaknya musim itu tiba jauh lebih cepat dari yang siapa pun di Gedung Merah Putih perkirakan. 🐸

Dari Kolam ke Halaman

Liburan Lebaran empat puluh jam milik Yaqut Cholil Qoumas—momen luar biasa dimana seorang tersangka korupsi senilai Rp622 miliar sempat menukar sel rutannya dengan kursi sofa nyaman di Condet, bermodalkan tak lebih dari selembar surat keluarga dan tekad kelembagaan yang ternyata, begitu dicermati lebih dekat, jauh lebih rapuh dari yang selama ini dipromosikan—ini bukan sekadar cerita tentang satu orang, atau satu lembaga, atau satu akhir pekan memalukan dalam sejarah pemberantasan korupsi Indonesia. Inilah penampakan langsung dari sebuah fenomena politik yang begitu tua dan begitu konsisten lintas budaya sehingga para dalang wayang Jawa abad pertengahan sudah memberinya nama, kostum, dan kursi tetap dalam repertoar mereka—jauh sebelum bahasa ilmu politik modern ada untuk mendeskripsikannya. Kodok, dalam tradisi teater Jawa, bukan sekadar penjahat biasa. Ia jenis operator yang sangat spesifik: sosok yang menghuni dua dunia secara bersamaan, yang tersenyum dengan ketulusan sempurna di permukaan sambil menjalankan urusan terpentingnya di kedalaman, yang sudah mengatur segalanya begitu rapi sehingga bahkan ketika ketahuan pun tidak ada perhitungan final yang sungguh-sungguh—hanya mundur sejenak yang terkelola, pemeriksaan kesehatan yang memakan waktu hampir seharian, dan kembali ke panggung seolah-olah tirai tidak pernah terangkat sama sekali. Untuk memahami mengapa empat puluh jam Yaqut terasa begitu presisi, begitu familiar secara historis—mengapa rangkaian peristiwa itu memunculkan pada jutaan orang Indonesia bukan sekadar kemarahan, tapi pengakuan lelah yang spesifik atas sebuah pola yang sudah pernah mereka lihat sebelumnya—kita perlu memahami Kodok Bermuka Dua. Dan untuk memahami Kodok Bermuka Dua, kita harus memulai bukan di rutan Jakarta Selatan, tapi di panggung wayang kulit Jawa kuno, di dewan perang Kekaisaran Mongol, dan di tradisi filosofis terdalam dari sebuah peradaban yang sudah lama belajar membaca kekuasaan bukan dari apa yang dikatakannya—melainkan dari tepi kolam mana yang akhirnya ia pilih untuk diduduki. 🐸

Kodok Bermuka Dua
Trik Politik Tertua di Dunia: Senyum di Permukaan, Perang di Bawahnya
Makhluk yang Hidup di Dua Dunia

Ada sesuatu yang bikin nggak nyaman dari seekor kodok. Bukan cuma soal kulitnya yang benjol-benjol, atau kebiasaannya duduk diam seraya menatapmu dengan mata datar yang tak bisa dibaca. Yang sebenarnya bikin kita tak nyaman — kalau kita jujur — adalah kita tak pernah tahu di mana kodok ini sebenarnya tinggal. Makhluk air atau makhluk darat? Makhluk terang atau makhluk bayangan? Ia berenang di kolam dengan santai, terus naik ke tepi berlumpur dan duduk di sana seolah seluruh dunia itu miliknya. Secara biologis, ia adalah makhluk dua alam — dan itulah masalahnya.

Makanya, bukan kebetulan kalau selama ribuan tahun dalam pemikiran politik Asia — dan juga di seluruh dunia — kodok menjadi simbol dari satu jenis kekuasaan yang sangat spesifik: kekuasaan yang senyum-senyum di meja negosiasi sambil mengasah pisau di bawahnya. Yang menandatangani perjanjian damai pagi hari dan mengirim pasukan pengintai sore harinya. Yang ngomong soal persaudaraan dan persatuan sambil diam-diam mempersiapkan kekuatan untuk membuat kedua kata itu tidak berarti apa-apa.

Esai ini tentang Kodok Bermuka Dua. Bukan kodok sebagai bahan ledekan — itu cerita lain, sudah ditulis di tempat lain. Yang ini, kodok sebagai sesuatu yang jauh lebih berbahaya: pemain politik paling lihai, yang sama nyamannya di kehangatan air diplomasi dan di dinginnya lumpur persiapan perang, berpindah di antara keduanya dengan sangat mulus sehingga orang-orang yang menonton dari tepi kolam tidak pernah yakin benar sedang menyaksikan dunia yang mana.
Kodok tak memilih antara air dan darat. Ia memakai keduanya. Itu bukan adaptasi—itu strategi. 

Dua Dunia, Satu Tubuh: Pelajaran Biologi yang Menjadi Pelajaran Politik

Agar memahami kenapa kodok jadi metafora politik yang begitu kuat, kita perlu sebentar memperhatikan apa yang sebenarnya dilakukan kodok. Bandingkan dengan katak: katak itu committed. Ia hidup di air atau di dekat air, berkembang biak di air, dan kulitnya butuh kelembapan agar dapat bertahan hidup. Ambil airnya, katak mati. Hidup katak adalah sebuah pernyataan: ini unsurku, ini syarat-syaratku, di sinilah aku berdiri.

Kodok? Kodok tak pernah membuat pernyataan seperti itu. Kulitnya lebih tebal dan lebih tahan kering. Ia bisa jauh dari sumber air selama berminggu-minggu, berkeliaran di darat dengan santai. Tapi saat musimnya tiba, ia kembali ke air untuk berkembang biak—dan di air itu, ia sama cakap dan percaya dirinya seperti makhluk yang tidak pernah meninggalkan air sama sekali. Kodok, pada dasarnya, menolak untuk dikotak-kotakkan. Ia menjaga opsinya tetap terbuka dalam arti yang paling mendasar secara biologis.

Para pemikir politik di seluruh Asia—dari filsuf Legalisme di era Tiongkok Perang Antarnegara hingga penasihat keraton Majapahit di Jawa—melihat dalam keluwesan amfibi ini sebuah analogi yang hampir sempurna untuk gaya tertentu dalam berpolitik. Sun Tzu, ahli strategi militer Tiongkok terbesar, menulis dalam Seni Perang bahwa semua peperangan didasarkan pada penipuan, dan bahwa seni perang tertinggi adalah menaklukkan musuh tanpa bertarung. Kodok yang duduk tenang di tepi kolam sambil tetap sepenuhnya mampu terjun ke kedalaman kapan saja adalah perwujudan hidup dari prinsip ini.

"Jadilah sangat halus, bahkan sampai tak berbentuk. Jadilah sangat misterius, bahkan sampai tak bersuara. Dengan begitu, dirimu bisa menjadi sutradara nasib lawanmu."
— Sun Tzu, Seni Perang, sekitar 500 SM

Apa yang Sun Tzu gambarkan dalam bahasa filosofis militer, kodok demonstrasikan dalam bahasa alam. Dan perpaduan inilah — antara kenyataan biologis dan kebijaksanaan strategis — yang membuat Kodok Bermuka Dua bertahan sebagai simbol politik selama ribuan tahun.

Senyum di Meja, Siasat di Lumpur: Tiga Kasus Nyata dari Sejarah

Sejarah, kalau mau jujur, adalah katalog panjang dari para kodok politik — pemimpin dan negara yang menjaga permukaan tetap damai sambil menjalankan operasi besar-besaran di kedalaman. Contohnya begitu banyak sehingga kesulitannya bukan menemukan contoh, tapi memilih mana yang paling menggambarkan polanya.

Lihat saja Kerajaan Sriwijaya—kerajaan maritim luar biasa yang berpusat di Sumatra dan mendominasi perdagangan Asia Tenggara dari sekitar abad ke-7 hingga ke-13. Kehebatan Sriwijaya terletak pada kualitas ambibinya: kepada utusan Tiongkok, pedagang Arab, dan saudagar India yang berkunjung, Sriwijaya menampilkan wajah sebuah kerajaan Buddha yang ramah, canggih dalam urusan dagang, dan menguntungkan untuk berbisnis. Surga perdagangan yang tenang dan menggiurkan. Tapi di balik permukaan komersial yang adem-ayem itu, Sriwijaya menjalankan salah satu operasi penegakan maritim paling kejam dalam sejarah kawasan ini — mengirim armada perangnya untuk menghancurkan pesaing, memeras upeti dari kerajaan-kerajaan yang lebih lemah, dan memastikan tidak ada saingan yang bisa membangun jaringan perdagangan yang sudah dimonopoli Sriwijaya. Senyum dan pedang bukan kontradiksi dalam kebijakan luar negeri Sriwijaya. Keduanya adalah dua sisi dari satu strategi tunggal.

Bergerak ke utara: Kekaisaran Mongol di bawah para penerus Genghis Khan menyempurnakan pendekatan Kodok Bermuka Dua ini hingga mendekati sebuah seni. Sebelum setiap kampanye militer besar, utusan Mongol akan tiba di kerajaan yang menjadi target, membawa hadiah dan menawarkan syarat penyerahan sukarela — syarat yang, kalau diterima, sering dipenuhi dengan kesetiaan yang lumayan. Tawarannya tulus. Tapi begitu juga pasukan yang sedang berkumpul tiga hari perjalanan di balik cakrawala. Mongol tidak sedang munafik. Mereka sedang bersikap amfibi: tawaran damai itu nyata, dan persiapan perang juga nyata. Keduanya ada secara bersamaan, di dua dunia yang berbeda, dengan ketulusan yang sempurna.

Kodok politik paling berbahaya bukan yang pura-pura mau damai padahal diam-diam mau perang. Yang paling berbahaya adalah yang genuinely mau keduanya — dan sudah mengatur segalanya sehingga hasil apa pun menguntungkan dirinya.
Di Asia Tenggara era modern, menjelang Perang Dunia II, Jepang memproduksi salah satu contoh diplomasi amfibi yang paling banyak dipelajari. Negosiasi Jepang dengan kekuatan Barat sepanjang 1941 — termasuk pembicaraan panjang dengan Amerika Serikat yang berlanjut hampir sampai momen serangan Pearl Harbour — bukan, seperti yang awalnya diasumsikan analis Amerika, sekadar layar asap murni tanpa substansi. Catatan diplomatik Jepang menunjukkan bahwa beberapa faksi dalam pemerintahan sungguh-sungguh berharap ada penyelesaian damai. Di saat yang sama, Angkatan Laut dan Angkatan Darat Kekaisaran sedang menyelesaikan persiapan untuk serangan yang akan mengubah peta Pasifik. Ini bukan kasus sederhana diplomat pembohong yang menutupi tentara yang jujur. Ini adalah sistem yang sudah menjadi sepenuhnya amfibi: damai dan perang hidup berdampingan dalam satu tubuh politik, masing-masing memberi makan yang lain, sampai tiba momen ketika kodok itu akhirnya memilih tepi kolam mana yang mau ia duduki.

Kodok di Balik Layar Wayang: Seni Pertunjukan yang Paham Lebih Dulu

Yang luar biasa dari konsep Kodok Bermuka Dua ini adalah: rakyat biasa — petani, pedagang, pengrajin — sudah memahaminya secara intuitif jauh sebelum para ilmuwan politik memberinya nama. Dan kendaraan yang digunakan untuk menyampaikan, mengasah, dan menghidupkan pemahaman ini bukan risalah akademis atau memoar diplomatik. Melainkan teater.

Dalam tradisi wayang kulit Jawa — pertunjukan boneka bayangan yang sudah berabad-abad menjadi sekolah filosofi dan politik terbesar Jawa — karakter yang bermuka dua menempati peran dramatik yang sentral. Penjahat-penjahat paling canggih dalam repertoar wayang tidak pernah sekadar jahat. Mereka amfibi: mampu menampilkan wajah niat mulia, nasihat bijaksana, dan pesona yang tulus, sambil secara bersamaan menjalankan mesin pengkhianatan di bayang-bayang layar. Sang dalang harus cukup terampil untuk membuat kedua wajah itu meyakinkan, karena inti dari dramanya bukan bahwa penipuan mudah dikenali. Justru sebaliknya.

Di sinilah para punakawan — Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong — punya fungsi yang sangat krusial. Fisik mereka yang grotesk dan mirip kodok bukan sekadar dekorasi komedi. Itu adalah sinyal visual kepada penonton: makhluk-makhluk ini tidak bisa bermuka dua, karena satu wajah mereka sudah begitu total, begitu overwhelming kehadirannya, sehingga tidak ada ruang untuk wajah kedua. Si pelawak berbentuk kodok adalah, secara paradoks, karakter paling jujur di atas panggung — terlalu nyata, terlalu canggung, terlalu hadir untuk bisa mempertahankan penipuan yang berguna. Kodok Bermuka Dua yang sesungguhnya, sebaliknya, adalah karakter yang terlihat seperti katak yang anggun sambil beroperasi seperti kodok yang penuh siasat: cukup elegan untuk dipercaya, cukup kalkulatif untuk mengeksploitasi kepercayaan itu.

"Orang paling berbahaya di keraton bukan yang terlihat berbahaya. Melainkan yang membuatmu lupa, untuk sesaat yang cukup lama, bahwa bahaya itu ada."
— Dikaitkan dengan seorang penasihat keraton Majapahit, abad ke-14

Opera Beijing mengembangkan tata bahasa visualnya sendiri untuk dualitas ini. Karakter berwajah putih — si pengkhianat, si perancang siasat — dilukis bukan untuk terlihat menakutkan, tapi untuk terlihat lembut. Terlalu lembut, malah. Kepucatan itu menyiratkan wajah yang sudah dikelola dengan cermat, sebuah permukaan yang menyembunyikan daripada mengungkapkan. Penonton belajar untuk tidak mempercayai kelembutan yang berlebihan, karena kelembutan itulah kualitas permukaan kodok: kesan ketidakberbahayaan yang dipertahankan sementara sang makhluk menjalankan urusannya di kedalaman.

Kodok di Era Modern: Perang Dingin, Perang Dagang, dan Diplomasi Digital

Kalau dirimu tergoda untuk berpikir bahwa Kodok Bermuka Dua adalah keingintahuan sejarah — metafora yang sudah selesai tugasnya di zaman wayang dan utusan perang Mongol tapi kini sudah digantikan kerangka analitis yang lebih canggih — maka beberapa dekade terakhir politik global ingin bicara sebentar denganmu.

Perang Dingin adalah, dalam banyak hal, produksi Kodok Bermuka Dua terpanjang dan paling elaboratif dalam sejarah politik. Kedua negara adidaya mempertahankan hubungan diplomatik yang ekstensif, negosiasi kontrol senjata, program pertukaran budaya, dan — di puncak-puncak détente — hubungan personal yang genuinely hangat di antara para pemimpinnya, sambil secara bersamaan menjalankan operasi intelijen, perang proksi, dan penumpukan militer yang akan membuat khan Mongol mana pun merasa betah. Helsinki Accords ditandatangani; Gulag terus beroperasi. SALT II dinegosiasikan; rudal SS-20 tetap dipasang. Permukaan kolam dinegosiasikan dengan sangat serius. Kedalamannya tidak pernah dibahas sama sekali.

Di era sekarang, tata bahasanya sudah diperbarui, tapi makhluknya tak berubah. Belt and Road Initiative China merupakan salah satu contoh statecraft amfibi yang paling banyak diperdebatkan dalam analisis geopolitik saat ini: investasi infrastruktur, pinjaman pembangunan, dan kemitraan dagang di permukaan; pertanyaan soal jebakan utang, akses pelabuhan strategis, dan operasi pengaruh jangka panjang di kedalamannya. Apakah ini kebijakan pembangunan yang tulus atau manuver strategis — dan jawaban jujurnya mungkin keduanya secara bersamaan, sama seperti perdagangan Sriwijaya yang sekaligus komersial dan koersif — Kodok Bermuka Dua tetap menjadi model paling akurat untuk memahaminya.

Kodok tak menganggap dirinya penipu. Ia menganggap dirinya pragmatis. Perbedaan ini penting — dan itulah tepatnya yang membuatnya begitu sulit untuk dinegosiasikan.
Diplomasi digital menambahkan dimensi baru dalam repertoar politik amfibi. Sebuah pemerintah kini bisa secara bersamaan mengeluarkan protes diplomatik resmi terhadap serangan siber dan melakukan serangan yang sama itu — dari kementerian yang berbeda, melalui saluran yang berbeda, dengan pemisahan institusional yang genuinely nyata di antara keduanya. Tangan kiri diplomasi dan tangan kanan operasi intelijen tidak perlu pernah bertemu. Kodok sudah menumbuhkan sistem saraf kedua, dan dua dunianya kini makin terisolasi satu sama lain dari sebelumnya.

Cara Mengenali Kodok: Tips Praktis Saat Semua Orang Sedang Senyum-Senyum

Jadi, bagaimana cara mengenali kodok politik di alam liar? Inilah pertanyaan paling praktis yang bisa dijawab esai ini, dan jawabannya sekaligus lebih sederhana dan lebih bikin frustrasi dari yang mungkin diharapkan.

Pertama, cari ketidaksesuaian antara kata-kata dan persiapan. Mitra negosiasi yang genuinely berkomitmen pada penyelesaian diplomatik akan membiarkan proses penyelesaian itu memengaruhi persiapan mereka — mereka akan memperlambat penumpukan militer, menunda keputusan pengadaan, mengalihkan anggaran. Kodok politik akan bernegosiasi dengan ketulusan total sambil membiarkan persiapan di alam lain terus berjalan tanpa gangguan. Pembicaraan damai dan pergerakan pasukan ada di kompartemen terpisah dan tak saling mengganggu. Ketika kamu menyadari bahwa kata-kata hangat di meja tidak menghasilkan perubahan perilaku yang sebanding di bawah garis air — engkau kemungkinan besar sedang berhadapan dengan kodok.

Kedua, perhatikan siapa yang dikirim ke meja negosiasi. Kodok Bermuka Dua tak mengirim pembohong ke meja perundingan — ia mengirim diplomat paling tulus dan paling cakap, orang-orang yang genuinely percaya pada kemungkinan kesepakatan dan akan memperjuangkannya dengan keyakinan nyata. Ini bukan kebaikan hati. Ini strategi: negosiator yang tulus lebih meyakinkan daripada yang sinis, dan ketulusan mereka melindungi proses dari tuduhan itikad buruk cukup lama untuk membiarkan persiapan di bawah air matang. Ketika pembicaraan akhirnya gagal — seperti yang memang dirancang — sang diplomat bisa dengan jujur bilang bahwa ia sudah berusaha. Karena memang begitu adanya.

"Jangan pernah salah mengira duta besar sebagai kebijakan. Sang duta besar percaya pada apa yang ia katakan. Kebijakan itu memiliki agenda lain."
— Anonim, dikaitkan dengan berbagai memoar diplomatik abad ke-20

Ketiga, dan yang paling dapat diandalkan: kesabaran. Kodok Bermuka Dua hampir selalu tak setergesa-gesa lawannya. Ia bisa bernegosiasi bertahun-tahun, karena negosiasi itu sendiri bukan intinya — itu adalah permukaan kolam, yang dipertahankan untuk memberi cover bagi apa yang sedang terjadi di bawahnya. Ketika satu pihak terlihat secara konsisten lebih bersemangat untuk mencapai kesepakatan, lebih rela membuat konsesi, lebih cemas untuk menutup deal — ada baiknya bertanya kenapa pihak lain merasa begitu nyaman membiarkan waktu berlalu. Kodok adalah makhluk yang sabar. Mereka bisa duduk sangat diam untuk waktu yang sangat lama.

Kita Semua Kodok? Pertanyaan Etis yang Nggak Nyaman

Di sini kita hendaknya berhenti sebentar untuk sesuatu yang jauh lebih tak nyaman daripada sekadar analisis sejarah. Karena Kodok Bermuka Dua, kalau diperiksa dengan saksama, memunculkan pertanyaan etis yang sudah diperdebatkan oleh kaum realis dan idealis politik setidaknya sejak zaman Thucydides: apakah ada cara lain untuk menjalankan politik internasional?

Argumen pro-kodok — dan argumen ini sudah dibuat, dengan berbagai tingkat kejujuran, oleh semua orang dari Machiavelli hingga Henry Kissinger — kurang lebih begini: sebuah negara yang berkomitmen mutlak pada salah satu dari damai atau perang, tanpa kapasitas untuk yang lain, adalah negara yang sudah menyerahkan fleksibilitas strategisnya. Pasifisme tulus tanpa syarat mengundang eksploitasi. Agresi tulus tanpa syarat menutup kemungkinan pengaturan yang mungkin lebih menguntungkan daripada konflik. Tugas negarawan bukan untuk menjadi murni tapi untuk menjadi efektif, dan efektivitas dalam sistem internasional yang anarki membutuhkan kapasitas untuk menghuni dua dunia secara bersamaan.

Argumen kontra-kodok sama tuanya dan kurang lebih berbunyi: sebuah sistem di mana setiap negosiasi dibayangi kemungkinan bahwa pihak lain sedang melakukan persiapan perang membuat kepercayaan sejati mustahil, mendorong perlombaan senjata yang menghabiskan sumber daya yang lebih ingin dipakai semua pihak untuk hal lain, dan menciptakan kondisi untuk kesalahan perhitungan yang katastrofis — untuk perang yang tidak diinginkan siapa pun, diluncurkan oleh rantai logika-kodok yang tidak direncanakan siapa pun tapi diaktifkan semua orang.

Yang menarik dari tradisi filosofis Asia yang dikaji esai ini adalah bahwa mereka sebagian besar menolak pertanyaan biner ini. Konsep wahyu Jawa — mandat ilahi yang melegitimasi kekuasaan — mengandung di dalamnya sebuah jawaban implisit: penguasa-katak, sang raja yang sah, menggunakan air dan darat demi kepentingan rakyat. Penguasa kodok menggunakan air dan darat demi kepentingan dirinya sendiri. Perbedaannya bukan antara diplomasi dan kekuatan militer, atau antara persiapan damai dan persiapan perang. Perbedaannya adalah antara sebuah kenegaraan yang menjaga kedua kapasitas itu dalam pelayanan pemerintahan yang genuinely ada, dan satu yang mengerahkan keduanya dalam pelayanan perpanjangan diri semata.

Pertanyaannya bukan apakah sebuah negara hidup di dua dunia. Semua negara hidup di dua dunia. Pertanyaannya adalah apa yang sedang ia lakukan di masing-masing dunia itu — dan apakah kedua aktivitas itu bisa didamaikan dengan gagasan apa pun tentang pemerintahan yang sah.
Penutup: Kodok yang Selalu Ada di Ruangan

Kodok Bermuka Dua sudah duduk di ruangan itu di hampir setiap negosiasi penting dalam sejarah yang tercatat. Ia duduk di Kongres Wina, di mana kekuatan-kekuatan besar membagi Eropa sambil menjalankan operasi intelijen yang akan mendestabilisasi kesepakatan itu dalam satu generasi. Ia duduk di Konferensi Munich 1938, meski saat itu ia sudah begitu jelas sehingga bahkan para optimis paling keras kepala pun tidak bisa mengabaikan bau lumpurnya. Ia duduk sepanjang Perang Dingin, sama nyamannya di saluran belakang intelijen maupun di ruang depan pertemuan tingkat tinggi.

Ia duduk di ruangan itu hari ini. Ia duduk di negosiasi dagang di mana satu pihak secara bersamaan mengajukan gugatan WTO dan membangun struktur tarif yang dirancang untuk membuat hasil gugatan itu tidak relevan. Ia duduk di konferensi iklim di mana komitmen nasional dan rencana penambangan batu bara nasional hidup berdampingan tanpa rasa malu yang terlihat. Ia duduk di negosiasi gencatan senjata di mana kedua pihak menandatangani dokumen tengah hari dan melanjutkan permusuhan menjelang sore, masing-masing menghitung bahwa nilai gencatan senjata bukan pada apa yang dihentikannya melainkan pada apa yang diizinkannya — pengisian ulang, pemposisian ulang, persiapan.

Memahami Kodok Bermuka Dua tidak membuat politik terasa lebih menyenangkan. Tapi ia membuat politik lebih bisa dibaca. Begitu kamu tahu bahwa makhluk ini hidup di dua dunia dan selalu begitu, kamu berhenti terkejut oleh celah antara permukaan dan kedalaman. Kamu mulai lebih sedikit memperhatikan apa yang dikatakan di meja dan lebih banyak memperhatikan apa yang sedang dibangun di dalam air. Kamu belajar membaca ketenangan kodok seperti seorang naturalis terampil: bukan sebagai istirahat, tapi sebagai kesiapsiagaan.

Dan sesekali — dalam sejarah panjang keraton Asia, kerajaan-kerajaan perdagangan, dan negara-negara modern — dirimu akan menemukan makhluk yang lain: si katak, kodok sungguhan versi baik, penguasa atau negara yang permukaan dan kedalamannya adalah hal yang sama, yang diplomasi dan niatnya benar-benar sejalan, yang hidup di air bukan sebagai strategi tapi sebagai alam. Mereka lebih langka dari kodok-kodok itu. Mereka, kalau muncul, layak untuk diperhatikan.

Karena pelajaran tertua dari Opera Kodok — yang dipentaskan di atas panggung bambu untuk penonton yang tahu persis apa yang sedang mereka saksikan — bukan bahwa kodok selalu menang. Melainkan penonton selalu tahu. Pada akhirnya, dua dunia kodok itu runtuh menjadi satu. Negosiasi berakhir. Pasukan bergerak. Topeng dilepas. Dan dalam keheningan yang menyusul, orang-orang yang menonton dari tepi kolam saling menatap dengan ekspresi mereka yang tidak pernah, sungguh-sungguh, tertipu — hanya menunggu untuk melihat seberapa lama pertunjukan itu akan berlangsung.
"Kodok percaya ia sudah mengelabui kolam. Kolam hanya sedang menunggu musim berganti."
— Aforisme politik kontemporer, sumber tak diketahui

[Bagian 1]