Minggu, 29 Maret 2026

Perang: Para Penyintas, Ingatan, dan Tanggungjawab Moral (24)

Secara historis dan kultural, Iran sesungguhnya mewarisi banyak hal dari Persia. Posisi geografisnya sebagai "jantung" Timur Tengah—menghubungkan Arab, Asia Tengah, Kaukasus, dan Asia Selatan —merupakan warisan geopolitik yang tak berubah sejak zaman Akhemeniyah. Identitas nasional Iran juga sangat kuat: bahasa Persia, tradisi diplomatik yang halus, dan kesadaran bahwa merekalah peradaban tua di antara bangsa-bangsa yang lebih muda.

Strategi Iran pasca-1979 sesungguhnya mencerminkan kecerdikan Persia lawas: daripada berhadapan langsung secara militer dengan AS (yang jelas akan kalah), Iran membangun "Poros Perlawanan"—jaringan proksi di Lebanon (Hizbullah), Palestina (Hamas), Yaman (Houthi), Suriah, dan Irak. Iran muncul sebagai salah satu aktor paling ulet dan cerdik secara strategis di era modern, bertahan hampir lima dekade di bawah bayang-bayang sanksi, isolasi, operasi terselubung, dan ancaman perang terus-menerus. Kashmir Images Strategi proksi ini adalah versi modern dari sistem satrapy Persia—mengendalikan wilayah luas tanpa harus menduduki secara langsung.

Di sinilah gambaran "Iran yang cerdik" perlu diperbarui dengan realita 2025–2026 yang sangat berat bagi Iran.

Antara 2023 dan 2025, posisi militer regional Iran memburuk secara signifikan. Pada 2024, Iran kehilangan sekutu pentingnya di Suriah ketika Bashar al-Assad melarikan diri, yang menandai berakhirnya jalur darat pasokan senjata ke Hizbullah Lebanon. Serangan militer AS dan Israel juga melemahkan program nuklir Iran dan pertahanan negara itu. 

Pada Juni 2025, terjadi konflik militer langsung antara Israel, AS, dan Iran selama 12 hari, yang mengakibatkan korban jiwa signifikan di pihak Iran dan tekanan ekonomi domestik yang terus meningkat akibat sanksi Barat. 

Serangan militer AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026 mengguncang kawasan dan lebih jauh lagi. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan puluhan pejabat senior Iran tewas, melemparkan negara itu ke dalam ketidakpastian politik.

Israel secara efektif membongkar arsitektur "deterensi ke depan" Iran—jaringan aktor non-negara yang dibangun Teheran di seluruh Levant, Teluk Persia, dan Asia Selatan. Pada akhir 2024, Israel telah memenggal kepemimpinan Hizbullah dengan membunuh Sekjen Hassan Nasrallah. Hamas secara fungsional dilumpuhkan sebagai kekuatan militer di Gaza. 

Iran memasuki 2026 dengan protes besar yang dipicu oleh ekonomi yang lemah dan inflasi yang tinggi, berlangsung di seluruh 31 provinsi Iran.  
Apa yang Masih Dimiliki Iran

Meski sangat terpukul, Iran belum habis sama sekali:

Iran masih memiliki program rudal balistik yang paling luas di kawasan, dan kapasitas untuk memproyeksikan kekuatan atas Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui 84% aliran minyak mentah dunia menuju pasar Asia. 

Strategi "deterensi melalui volume"—memproduksi rudal dalam jumlah masif untuk membanjiri pertahanan Israel dan AS—masih menjadi andalan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). 

China dan Iran menandatangani kemitraan strategis komprehensif 25 tahun pada 2021, sementara Rusia dan Iran menandatangani perjanjian serupa berdurasi 20 tahun pada 2025. Pada Januari 2026, ketiga negara menandatangani pakta strategis trilateral.

Iran sesungguhnya mewarisi kecerdasan geopolitik Persia—sabar, berlapis, dan tak mudah dihancurkan secara total. Selama puluhan tahun, strategi proksi dan perlawanan asimetrisnya terbukti efektif menghadapi tekanan AS dan Israel.

Namun, situasi 2025–2026 menunjukkan bahwa Iran sedang menghadapi cobaan terberat dalam sejarah Republik Islam—kehilangan pemimpin tertinggi, jaringan proksi yang hancur, ekonomi yang terpuruk, dan konflik militer langsung dengan AS. Apakah ini "kejatuhan sementara" seperti Persia di masa lalu yang selalu bangkit kembali, atau titik balik yang lebih permanen—itulah pertanyaan yang sedang dijawab sejarah saat ini.

Prediksi Kekuatan Iran: Dapatkah Bertahan Melawan AS dan Israel?
 
Kondisi Titik Awal yang Harus Dipahami

Pertama, perlu diperjelas bahwa keadaan ini bukan lagi sekadar persaingan geopolitik jangka panjang—hal ini adalah perang yang sedang berlangsung. Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan udara dan rudal terkoordinasi terhadap berbagai sasaran di Iran—konfrontasi militer langsung paling besar antara negara-negara tersebut hingga saat ini. Operasi ini menarget infrastruktur militer Iran dan kepemimpinan seniornya, termasuk serangan di Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Para analis menilai bahwa kelelahan ekonomi yang berkepanjangan dan hilangnya kepercayaan terhadap negara Iran setelah kemunduran militer dan kebijakan luar negeri yang bersejarah pada 2025 menjadikan 2026 sebagai tahun terberat yang pernah dihadapi Republik Islam. 

Tiga Skenario yang Mungkin Terjadi

Skenario 1: Kapitulasi—Iran Menyerah tanpa Runtuh (Probabilitas: Sedang)

Dalam skenario kapitulasi, inti kekuasaan rezim kemungkinan akan tetap bertahan dan terus menjalankan negara. Hasil ini pada umumnya lebih disukai AS, karena Washington kemungkinan akan memandang perubahan perilaku sebagai sebuah keberhasilan—namun bagi Israel, pergantian rezim mungkin merupakan hasil yang lebih diinginkan.

Dalam skenario ini, Iran berhenti membangun kembali program nuklir dan misilnya, menerima kesepakatan seperti JCPOA versi baru yang lebih ketat, serta kehilangan pengaruh regional secara permanen, namun rezim tetap berdiri. Ini adalah hasil yang paling "stabil" bagi kawasan.
 
Skenario 2: Keruntuhan Rezim dan Chaos (Probabilitas: Sedang-Rendah)

Jika Republik Islam benar-benar runtuh—sebagai hasil kombinasi kampanye militer dan pemberontakan rakyat—hari setelahnya akan menghadirkan skenario yang lebih kacau. Dalam hal pergantian rezim, pasukan keamanan rezim saat ini mungkin tidak memiliki kapasitas atau legitimasi rakyat untuk terus memerintah. 

Berakhirnya rezim lebih mungkin melahirkan apa yang sebagian orang sebut "IRGCistan"—sebuah negara yang didominasi militer dimana pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, adalah mitra namun bukan otoritas tertinggi, dengan kekuasaan yang sepenuhnya berada di tangan IRGC.

Skenario 3: Bertahan dan Bangkit Kembali (Probabilitas: Sedang-Tinggi dalam jangka panjang)

Skenario ini paling menarik dari perspektif historis Persia. Iran keluar dari 2025 dalam keadaan babak belur namun masih berdiri, dengan para analis mengatakan bahwa Teheran menginterpretasikan keberhasilan bertahan setelah perang berat dengan Israel, kerugian regional, dan tekanan domestik sebagai alasan untuk mengambil risiko yang lebih besar di 2026. 

Shahram Kholdi berpendapat bahwa kepemimpinan Iran menginternalisasi 2025 melalui lensa survivalis—satu lensa yang mendorong perlawanan ketimbang pengendalian diri. "Jika sesuatu yang bisa membunuhmu tak menghancurkanmu, itu membuatmu lebih kuat," kata Kholdi, menggambarkan mentalitas inti rezim klerus setelah perang Juni 2025 dengan Israel.

Kartu Truf yang Masih Dipegang Iran

Meski amat terpukul, Iran tak sepenuhnya tanpa senjata:

1. Selat Hormuz sebagai sandera global

Rekonstituasi rudal balistik Iran menjadi fokus utama pada 2026. Bertentangan dengan laporan badan intelijen Barat pada 2025 mengenai penghancuran fasilitas produksi penting, Teheran berhasil membeli peralatan baru untuk propelan bahan bakar padat dari mitra eksternal. Penekanan IRGC pada produksi rudal menunjukkan strategi "deterensi melalui volume" yang bertujuan membanjiri pertahanan rudal Israel dan AS dalam konflik mendatang. 

2. Dukungan Rusia dan China

Iran juga merupakan satu-satunya negara di kawasan yang secara aktif dan terbuka memasok Rusia dengan peralatan militer untuk perang di Ukraina. Namun, dengan permintaan China atas minyak yang melemah, kesediaan Beijing untuk menyelamatkan Teheran mungkin mulai berkurang. 

3. Houthi yang masih bertahan

Houthi di Yaman adalah pengecualian dari pola pelucutan senjata. Meskipun menghadapi serangan AS, Inggris, dan Israel antara 2023 dan 2025, Houthi tetap mempertahankan kekuasaan dan pengaruh atas sebagian besar wilayah Yaman.

Faktor yang Menentukan Nasib Iran

Kemungkinan Israel menyerang Iran dalam waktu dekat ditentukan bukan oleh satu "keputusan" tunggal, melainkan oleh keseimbangan yang tidak stabil yang tidak terselesaikan oleh diplomasi, sinyal deterensi, dan de-eskalasi regional. Sejak 2024, Israel dan Iran telah melewati ambang batas penting: Iran melancarkan serangan langsung yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Israel, dan Israel menunjukkan kesediaan untuk menyerang aset strategis Iran.

Pertanyaan kuncinya adalah: apakah rakyat Iran akan memilih menjatuhkan rezim dari dalam, atau justru bersatu melawan "musuh asing" AS dan Israel—pola yang secara historis selalu menguntungkan rezim yang terancam.

Jika rezim runtuh, realignmen geopolitik akan sangat mendalam. Ini akan merepresentasikan kemenangan strategis bagi AS dan Israel, sekaligus menghancurkan pilar sentral pengaruh China dan Rusia di Timur Tengah.

Namun bila merujuk pada sejarah panjang Persia—bangsa ini telah bertahan dari Alexander Agung, Mongol, Timur Leng, kolonialisme, dan Perang Dunia—ada satu pola yang konsisten: Iran sebagai negara dan peradaban selalu lebih tahan lama daripada rezim yang menguasainya. Rezim Republik Islam boleh jadi runtuh, namun Iran sebagai kekuatan geopolitik di jantung Eurasia takkan hilang. Siapapun yang berkuasa di Teheran kelak—militer, reformis, atau koalisi baru—akan mewarisi geografi, populasi, dan ambisi yang sama persis, yang telah membuat Persia relevan selama 2.500 tahun terakhir.

Yang jelas, konflik AS–Israel–Iran pada 2026 tak sedang melahirkan superpower Timur Tengah baru—ia justru sedang mempercepat berakhirnya dominasi tunggal AS dan percepatan munculnya tatanan dunia multipolar, dimana Asia—khususnya China dan India—menjadi pemenang jangka panjangnya.
[Bagian 25]
[Bagian 23]