Sepanjang sejarah yang tercatat, dunia tak pernah kekurangan kekuatan dominan—kekaisaran dan negara yang memiliki kekuatan militer, jangkauan ekonomi, atau pengaruh budaya yang jauh melampaui negara-negara sezamannya. Namun, tiada superpower yang bertahan selamanya. Setiap kekuatan bangkit melalui kombinasi geografi, inovasi, dan kehendak politik, dan pada akhirnya masing-masing takluk pada kekuatan-kekuatan yang pernah mereka gunakan untuk menaklukkan yang lain.Kebangkitan dan Kejatuhan Negara-Negara Superpower: Sejarah dari Abad ke AbadKekaisaran Persia Akhemeniyah (sekitar 550–330 SM)Didirikan oleh Koresh Agung, Kekaisaran Akhemeniyah adalah yang pertama mengklaim kekuasaan atas sebagian besar dunia yang dikenal saat itu, membentang dari pantai Aegea hingga Lembah Indus. Kekuatan utamanya terletak pada kecanggihan administrasi: alih-alih memerintah dengan kekerasan semata, Persia membiarkan rakyat yang ditaklukkan mempertahankan bahasa, agama, dan adat istiadat mereka—sebuah sistem yang menjaga wilayah-wilayah luas tetap tenteram dengan biaya yang relatif rendah. Sistem satrapy-nya mendesentralisasi pemerintahan sekaligus menjaga aliran kekayaan menuju pusat.Rival terbesarnya adalah koalisi negara-kota Yunani, yang paling dikenang melalui pertempuran di Marathon, Thermopylae, dan Salamis. Persia tak pernah berhasil menaklukkan Yunani sepenuhnya, dan kegagalan ini terbukti merugikan prestisenya. Namun, pada akhirnya kekaisaran ini tak jatuh karena Yunani, melainkan karena Aleksander Agung dari Makedonia, yang kampanye kilat antara 334 dan 323 SM membongkar kekaisaran dalam waktu kurang dari satu dekade. Perselisihan dinasti internal dan sistem administrasi yang terlalu teregang telah lebih dulu melemahkan kohesi kekaisaran sebelum Aleksander tiba.Kekaisaran Romawi (27 SM – 476 M)Supremasi Roma bertumpu pada tiga pilar: angkatan militer profesional yang tak tertandingi, aparatur hukum dan administrasi yang canggih, serta kemampuan luar biasa untuk menyerap dan me-Romanisasi bangsa-bangsa yang ditaklukkan. Pada puncaknya di era Pax Romana, Roma menguasai seluruh kawasan Mediterania, sebagian besar Eropa Barat, dan sebagian Timur Dekat. Jaringan jalan Romawi saja—membentang lebih dari 400.000 kilometer—merupakan instrumen kekuatan militer sekaligus kemakmuran perdagangan.Rival paling gigih Roma adalah Kekaisaran Parthia dan kemudian Kekaisaran Sassanid di timur, yang dengannya Roma berperang selama berabad-abad memperebutkan Mesopotamia dan Armenia. Tak satu pun pihak yang pernah menaklukkan yang lain secara menentukan. Kejatuhan Roma bersifat bertahap dan lebih banyak bersumber dari dalam daripada dari luar: perluasan wilayah yang berlebihan, krisis fiskal, ketidakstabilan politik, ketergantungan yang semakin besar pada pasukan foederati Jermanik, serta tekanan terus-menerus dari bangsa-bangsa yang berpindah. Pada 476 M, kaisar terakhir di bagian barat, Romulus Augustulus, digulingkan oleh kepala suku Jermanik Odoacer—bukan dengan gemuruh, melainkan dengan keruntuhan administratif yang melelahkan.Kekhalifahan Islam (sekitar 632–1258 M)Dalam waktu satu abad setelah wafatnya Rasulullah (ï·º), pasukan Arab telah menaklukkan wilayah yang membentang dari Spanyol hingga Asia Tengah—salah satu ekspansi kekaisaran paling cepat dalam sejarah. Kekuatan kekhalifahan awal bersumber dari tiga hal: kohesi keagamaan yang menyatukan suku-suku Arab yang sebelumnya terpecah-belah; semangat militer yang lahir dari kohesi tersebut; serta kesediaan menyerap ilmu pengetahuan dari peradaban yang ditaklukkan, mulai dari filsafat Yunani, administrasi Persia, hingga matematika India. Baghdad di bawah Kekhalifahan Abbasiyah menjadi ibu kota intelektual dunia.Rival utama di barat adalah Kekaisaran Bizantium, yang berhasil menahan ekspansi Islam di Konstantinopel selama berabad-abad. Kekhalifahan tak jatuh karena satu pukulan eksternal; melainkan terpecah dari dalam—melalui perselisihan sektarian antara kubu Sunni dan Syiah, munculnya dinasti-dinasti saingan, serta pelimpahan kekuasaan secara bertahap kepada para panglima militer Turki. Pukulan terakhir yang menghancurkan datang dari luar: pada 1258, bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan menjarah Baghdad, membunuh khalifah Abbasiyah, dan mengakhiri institusi paling bergengsi di dunia Islam.Kekaisaran Mongol (1206–1368)Kekaisaran Mongol hingga kini tetap menjadi kekaisaran daratan terbesar dalam sejarah manusia, menaklukkan wilayah dari Korea hingga Polandia dalam satu abad saja. Kekuatannya bersumber dari perang kavaleri yang tak tertandingi, organisasi logistik yang luar biasa, serta keberanian tanpa ampun untuk menghancurkan mereka yang melawan sekaligus memberikan imbalan kepada mereka yang tunduk. Jalur Sutra, yang dipersatukan di bawah perlindungan Mongol, memfasilitasi perdagangan dan pertukaran budaya yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh Eurasia.Rival paling tangguh bangsa Mongol adalah kaum Mamluk dari Mesir, yang dengan gemilang menghentikan ekspansi Mongol dalam Pertempuran Ain Jalut pada 1260—kekalahan signifikan pertama bangsa Mongol. Kehancuran kekaisaran ini sebagian besar disebabkan oleh keluasannya sendiri. Kekaisaran terpecah menjadi empat khanat penerus yang kerap saling berperang. Wabah Maut Hitam, yang menyebar dengan efisiensi menghancurkan melalui jalur-jalur perdagangan Mongol, membinasakan populasi di seluruh kekaisaran. Pada pertengahan abad ke-14, pemberontakan petani di Cina mengusir dinasti Yuan, dan masa kejayaan Mongol pun berlalu.Setelah Perang Napoleon, Britania muncul sebagai hegemon dunia yang tak terbantahkan—superpower global pertama yang sesungguhnya. Dominasinya bertumpu pada supremasi angkatan laut (Angkatan Laut Kerajaan menguasai jalur laut dunia), keunggulan industri (Britania adalah bengkel dunia), serta kekuatan finansial yang berpusat di Kota London. Pada puncaknya, Kekaisaran Britania mencakup sekitar seperempat luas daratan bumi dan memerintah proporsi penduduk yang serupa.Rival utama Britania terus berganti sepanjang abad: Prancis di awal abad ke-19, Rusia dalam "Permainan Besar" perebutan Asia Tengah, dan Jerman menjelang akhir abad. Perang Dunia Pertama, meskipun Britania secara nominatif keluar sebagai pemenang, terbukti menghancurkan secara finansial. Utang besar yang menumpuk selama dua perang dunia memindahkan primasi ekonomi ke Amerika Serikat, dan gelombang nasionalisme antikolonial yang sebagian justru terinspirasi oleh ideologi liberal Britania sendiri akhirnya meruntuhkan kekaisaran dari dalam.Dua Superpower Perang Dingin: Amerika Serikat dan Uni Soviet (1945–1991)Perang Dunia Kedua meninggalkan dua kekuatan kolosal yang berdiri di atas dunia yang hancur. Amerika Serikat memadukan output industri, senjata nuklir, angkatan laut dan udara yang dominan, mata uang cadangan dunia, serta jaringan aliansi yang mencakup sebagian besar dunia industri. Uni Soviet menandingi dengan angkatan darat konvensional terbesar di muka bumi, arsenalnya sendiri, serta daya tarik ideologis yang menarik sekutu di seluruh Asia, Afrika, dan Amerika Latin.Rivalitas mereka—yang dijalankan melalui perang proksi, perlombaan senjata, dan persaingan ideologis—mendefinisikan paruh kedua abad ke-20. Kejatuhan Uni Soviet pada dasarnya bersifat ekonomi: sebuah ekonomi komando yang tidak mampu bersaing dengan kapitalisme konsumen Barat, diperparah oleh biaya perlombaan senjata yang mencekik dan perang bencana di Afghanistan. Reformasi Mikhail Gorbachev—yang dimaksudkan untuk menyelamatkan sistem—justru mempercepat keruntuhannya. Pada 1991, Uni Soviet bubar tanpa satu pun peluru yang dipertukarkan antara kedua superpower tersebut.Masa Kini dan Cakrawala ke DepanAmerika Serikat telah menjalankan dominasi unipolar sejak 1991, ditopang oleh pengeluaran militer yang melampaui gabungan sepuluh negara berikutnya, status dolar sebagai mata uang cadangan global, serta jaringan aliansi yang tak tertandingi. Namun abad ke-21 telah menyaksikan dominasi ini semakin terbuka untuk ditantang. Kebangkitan ekonomi China yang luar biasa telah menghadirkan saingan dengan PDB yang sebanding dan kekuatan militer yang terus dimodernisasi. Rusia, kendati secara ekonomi lebih lemah, tetap punya arsenal nuklir yang sangat besar dan kemauan yang terbukti nyata untuk menggunakan kekuatan militer demi membentuk ulang kawasan tetangganya.Apakah era saat ini akan melahirkan superpower penerus yang sejati, sebuah keseimbangan multipolar yang stabil, atau ketidakstabilan berkepanjangan di antara blok-blok yang saling bersaing—itulah pertanyaan geopolitik paling mendasar di zaman kita.Pola yang berulang sepanjang ribuan tahun ini sungguh mencolok: superpower cenderung jatuh bukan semata karena rival-rivalnya menjadi lebih kuat, melainkan karena kontradiksi internal—pemborosan fiskal, fragmentasi politik, kekakuan ideologis—menggerogoti fondasi yang di atasnya kekuatan eksternal pada akhirnya bertumpu.
[Bagian 24]

