Senin, 20 Oktober 2025

Noda Keabadian

Ruangan yang dipenuhi dengan ukiran kayu itu diselimuti oleh rona melankolis yang pekat dari sore yang memudar, aroma tanah basah dan kayu tua menggantung berat di udara. Cahaya, yang tersaring dan lesu, nyaris tak menerangi sosok pria sepuh, Ganesh, yang siluetnya diproyeksikan panjang dan menyendiri oleh satu-satunya lampu minyak yang ia nyalakan. Ia duduk di hadapan piano antik, kayu gelapnya memantulkan kilau samar rambut peraknya. Tangan rentanya, yang masih membawa bekas kapalan samar dari karir panjang seorang pematung, mulai menarik akor pilu dan seketika dikenali dari My Immortal milik Evanescence dari tuts yang menguning.

Suaranya, sehelai benang rapuh yang ditenun dengan duka dekade-dekade, naik dan turun dengan bobot lirik: "I'm so tired of being here ... Suppressed by all my childish fears [Aku sangat lelah berada di sini... Tertekan oleh semua ketakutan kekanak-kanakanku...]" Ia tak hanya menyanyikan lagu itu; ia menghirup kembali kehidupan ke dalam siksaan lama. Tatapannya jauh, tak terpaku pada tuts, melainkan pada ingatan yang abadi berada di titik persis tempat selendang batik tenunan tangan kesayangan Ratna dahulu tergantung. Selama tiga menit yang panjang, ia melanjutkan, piano menjadi orkestra kamar soliter yang merinci kehidupan yang terikat oleh kesedihan, mengakhiri bait utama dengan desahan pasrah yang hampir tak terdengar.

Saat musik memudar menjadi keheningan mendalam yang seolah menyerap semua suara lain, sebuah kehadiran kecil dan cerah memecah kebisuan. Itulah cucu perempuannya, Melati, yang masuk dengan tenang, namanya diambil dari bunga yang harumnya abadi dikaitkan dengan cinta yang hilang oleh jiwanya. Matanya, penuh rasa ingin tahu yang tak tersaring dari masa muda, tertuju pada sosok kakeknya yang menunduk.

"Kakek," bertanya Melati dengan lembut, suaranya nada yang jernih dan polos, "Tembang itu... membuat hatiku terasa berat, tapi tak hancur. Kisah apa yang diceritakannya? Mengapa Kakek selalu memainkannya saat mentari meninggalkan langit, dan mengapa Kakek memandang sudut itu seolah seseorang masih menunggu di sana?"

Ganesh berbalik dari piano, ekspresinya bergeser dari melankolis yang dalam menjadi kehangatan yang lembut dan lelah saat ia bertemu tatapan cerahnya. Ia menepuk bangku di sampingnya, mengundangnya mendekat.

"Melati-ku sayang," ia memulai, suaranya merendah menjadi bisikan percakapan, "Lagu itu tentang bayangan yang menghantui, sebuah nada tentang jenis kehilangan yang paling sulit—cinta yang melampaui kubur, namun tak menawarkan kedamaian. Puisi yang sempurna untuk rumah ini, dan untuk hatiku. Ia berbicara tentang cahaya, tentang seseorang, yang begitu bercahaya hingga bahkan setelah mereka tiada—setelah mereka dipaksa meninggalkan kita—kehadiran mereka tetap ada di sini, di dinding-dinding ini, di udara yang kita hirup, di hati yang terus berdetak. Ia menggambarkan penderitaan dari luka-luka ini," ia mengetuk dadanya perlahan, "yang menolak sembuh, karena hantu cinta itu tak mau pergi. Itulah, nak, rasa sakit sejati dari kehilangan seseorang: ketika ingatan mereka begitu hidup, engkau tak dapat menemukan pelipur lara dari perpisahan yang sesungguhnya. Itulah kisah tentang noda keabadian pada jiwa."

Ia berhenti sejenak, secercah rasa sakit melintas di wajahnya, lalu tatapannya beralih ke patung batu megah di seberang ruangan—sang penari, anggun dan tragis abadi, bermandikan sisa cahaya ambar.

"Itulah kisah kakekmu ini, Melati. Kisah tentang seorang pemuda bodoh bernama Ganesh, yang tinggal di rumah ini, dan cinta yang ia berikan pada nenekmu, Ratna." Dan saat Melati duduk di sampingnya, sang kakek mulai melukis permadani yang hidup dari masa mudanya.

Ganesh pun menuturkan tahun-tahun cinta mereka di Jogja. Ia menggambarkan Ratna sebagai seorang penari yang semangatnya sejelita warna burung Gelatik. Hubungan mereka dibangun di atas pemahaman sunyi dan mimpi bersama di tengah hiruk pikuk kota. Ia merinci kenangan-kenangan intim tertentu: Ratna mengajarinya tarian keraton Jawa yang pelan di bawah pohon Beringin, suara tawanya bergema di air mancur halaman, dan bagaimana "cahaya resonansinya" membuat dunianya sendiri tertahankan. Ia menjelaskan bahwa Ratna lah jangkar baginya melawan segala "ketakutan kekanak-kanaknya," yang akan menghapus air matanya.

Ganesh mengisahkan jam-jam terakhir yang penuh keputusasaan, ketidakberdayaan, dan kekosongan belaka yang menyusul. Ia menjelaskan kepada cucunya bagaimana, setelah Ratna tiada, rumah itu sendiri menjadi peti matinya. Ia bisa melihat Ratna dimana-mana: bayangan sekilas di jendela, cetakan lembut di kursi rotan, aroma Melati yang tersisa di bengkelnya. Ia mengakui kegilaannya: dorongan putus asa untuk berteriak,"And if you have to leave ... I wish that you would just leave [Dan jika engkau harus pergi, ku berharap dirimu akan pergi begitu saja]," agar ia akhirnya bisa bebas dari dentuman bayangan itu.

Didorong oleh duka yang berubah menjadi desakan yang kalap, Ganesh mundur ke dalam pematungannya. Ia merinci proyeknya yang paling ambisius: patung Ratna seukuran manusia yang megah. Ia menjelaskan bagaimana karya itu, penderitaan ganda: sebuah penghormatan yang membuatnya tetap hidup, namun juga representasi fisik dari "luka yang sepertinya takkan pernah sembuh." Ia pernah hampir menghancurkan patung itu. Ganesh menjelaskan kepada Melati bahwa pada saat itu, ia menyadari kebenarannya: rasa sakitnya bukanlah salah Ratna. Ia terikat, tak terbatalkan, bukan oleh kematian Ratna, melainkan oleh kehidupan yang ditinggalkannya—kehidupan yang masih memuat keseluruhan dirinya. Ia dengan sengaja memilih untuk menjadikannya "abadi." Ia tersandera oleh Ratna, dan patung yang indah itulah hukuman seumur hidupnya.

Ganesh menyelesaikan paparannya, suaranya kini tenang dan menerima. Ia menatap Melati, yang mata cerahnya kini diselimuti oleh bobot kesedihan abadinya.

"Dan begitulah," Ganesh menutup dengan lembut, meletakkan tangan di atas hati piano yang dingin namun masih berdetak, "Kakek belajar bahwa cintanya tidaklah fana, Melati. Kakek terikat oleh kehidupan yang ia tinggalkan, dan kakek takkan menukar beban yang luar biasa itu dengan kebebasan sejati, karena Ratna masih memiliki kakek seutuhnya."

Ia perlahan mengalihkan perhatiannya kembali ke tuts, posturnya sedikit tegak. Dengan kekuatan baru yang mendalam, ia mulai memainkan dan menyanyikan baris-baris klimaks lagu yang sarat emosi itu, suaranya meninggi, gelombang penerimaan menghantam pantai dukanya:

“When you cried I'd wipe away all of your tears, When you'd scream I'd fight away all of your fears, I held your hand through all of these years, But you still have all of me [Saat engkau menangis, kukan menghapus seluruh air matamu. Saat engkau berteriak, kukan melawan semua ketakutanmu. Dan daku memegang tanganmu selama bertahun-tahun... Namun engkau masih memilikiku seutuhnya.]

Melati memperhatikannya, tangannya bergerak dari bahunya ke lengan bawahnya, menemukan kekuatan dalam dagingnya yang menua. Saat Ganesh memainkan nada terakhir yang bergema, setetes air mata akhirnya mengalir di pipinya yang lapuk. Melati memahami kepastian mendalam dari cintanya. Ia mengangguk perlahan, gerakannya merupakan pengakuan diam atas kesedihan yang indah dan tak berkesudahan dari cinta abadi kakeknya—sebuah kesedihan yang kini, dengan lembut, telah ia jaga.

English