Sabtu, 06 September 2025

Bahaya Komunisme bagi Demokrasi Indonesia (7)

Neoliberalisme itu bikin ekonomi kayak HP jadul yang dipaksa install aplikasi zaman now: crash dimana-mana. Ekonomi yang seharusnya mikirin manusia, sejarah, sama lingkungan, malah disempitkan jadi jurus sakti “pasar bebas” dan “pemerintah jangan ikut campur.” Para ekonom yang kejebak dogma ini sibuk main model matematika sok rasional, seakan semua orang kayak robot yang selalu logis, padahal kenyataan di lapangan chaos abis. Begitu 2008 datang, boom! Krisis finansial global kayak drama Netflix, semua negara kena getahnya gara-gara sistem keuangan deregulasi yang dulu dipuja-puja. Akhirnya ekonomi bukannya jadi alat buat bikin hidup orang lebih baik, malah jadi alat ngejilat korporasi gede sambil nyuruh rakyat jelata ikat pinggang. Jadi kalau dibilang neoliberalisme merusak ekonomi, itu bukan lebay—emang bener-bener bikin ekonomi kehilangan jiwa dan berubah jadi budak kapital global.
Neoliberalisme itu ngerusak ekonomi bukan cuma gara-gara teori abal-abal, tapi emang proyek politik yang dirancang biar ekonominya jadi alat penguasa. Dari akhir 1970-an, ekonomi yang dulu rame-rame ngomongin peran negara dan kesejahteraan bareng, berubah haluan ke mantra sakti “biarkan pasar atur semuanya.” Akhirnya lahir deregulasi finansial, privatisasi aset negara, dan PHK massal buruh, semua dijustifikasi sama para ekonom yang ngaku “netral” padahal udah jadi tukang stempel ideologi. Philip Mirowski dalam bukunya Never Let a Serious Crisis Go to Waste (2013, Verso) ngegas banget, katanya neoliberalisme malah makin kuat setelah krisis 2008, karena berhasil nyalahin rakyat dan pemerintah, sementara bank global aman sentosa. 

Mirowski memulai bukunya dengan bilang kalau neoliberalisme itu bukan sekadar teori ekonomi doang, tapi sebuah proyek intelektual, strategi politik, sampai mesin budaya yang bisa ngacak-acak cara hidup manusia. Intinya, neolib bukan cuma soal pasar bebas, tapi juga gimana orang dipaksa mikir dan hidup seakan-akan mereka itu CEO dalam hidupnya sendiri. Jadi kalau ngomongin krisis finansial 2008, Mirowski enggak ngelihat itu sekadar bank-bank kolaps, tapi bagian dari sejarah panjang gimana neolib nyusup ke segala lini.
Kemudian doski masuk ke pertanyaan besar: kenapa neolib bisa lolos hidup-mati dari krisis yang jelas-jelas bikinannya sendiri? Mirowski nunjukin bahwa neolib bukan soal “biarin pasar jalan sendiri” doang, tapi justru soal bikin institusi kuat, nyetir think tank, dan pakai krisis sebagai peluang. Makanya, bukannya mati pasca-2008, neolib malah muncul dengan wujud baru.
Doi lalu nge-gas kritik ke ekonom arus utama. Katanya, para profesor ekonomi gagal total prediksi krisis, gagal juga jelasin, tapi kok tetep aja dianggep pinter? Alasannya: dunia akademik udah kena “neoliberalisasi,” jadi suara-suara kritis dimatiin, sementara yang gagal malah tetep dilindungin. Ini contoh ultimate gimana ideologi bisa menang lawan realitas.
Mirowski juga bahas gimana neolib pinter banget ngegondol bahasa sains dan cybernetics buat kelihatan canggih. Mereka suka nyebut “jaringan,” “informasi,” “sistem yang ngatur sendiri,” biar kedengarannya natural dan keren. Padahal, itu trik retorika supaya neolib tetep eksis walau klaim empirisnya jeblok.
Trik lain neolib menurut Mirowski adalah bikin bingung. Neolib bisa ngomong pasar itu alami, tapi butuh intervensi negara. Bisa bilang individu bebas, tapi harus selalu dipantau. Kompetisi katanya spontan, tapi jelas-jelas direkayasa. Kontradiksi kayak gini bukan kelemahan, tapi strategi. Jadi lawan bingung, akhirnya enggak bisa nyusun perlawanan yang solid.
Doski juga nyentil kaum kiri yang dianggep lemah dan setengah hati. Bukannya bikin alternatif keren, malah banyak yang ikut-ikutan pake kacamata neolib. Akibatnya, neolib makin kuat karena enggak ada narasi tandingan yang solid.
Menjelang akhir, Mirowski nunjukin gimana neolib justru make krisis buat makin kenceng dorong finansialisasi dan pengawasan. Negara nolongin bank lewat bailout, tapi rakyat dikasih resep pahit: austerity. Di sisi lain, neolib makin nyusup ke kehidupan sehari-hari lewat jargon “tanggungjawab pribadi,” “jadi entrepreneur diri sendiri,” sampai budaya tracking digital. Krisis jadi bensin, bukan rem.
Penutupnya, Mirowski bikin refleksi pedas: rahasia awetnya neolib adalah kemampuannya nge-redefine realitas. Buat neolib, krisis bukan kegagalan, tapi bahan bakar. Justru karena keliatan kontradiktif, jadi susah dilawan. So, kalau mau nyerang neolib, jangan cuma teriak “lebih banyak regulasi,” tapi harus bongkar mesin ideologinya sampai ke akar.

Pesan utama Mirowski lewat Never Let a Serious Crisis Go to Waste adalah bahwa neoliberalisme itu bukan ideologi rapuh yang gampang tumbang karena kontradiksinya sendiri, tapi justru sistem super fleksibel yang pinter banget make krisis jadi ajang upgrade. Menurutnya, kesalahan para pengkritik adalah nganggap neolib cuma soal pasar bebas, padahal aslinya ini proyek gede yang butuh negara kuat, think tank, media, sampai kampus buat ngatur cara orang mikir, hidup, bahkan ngerti realitas. Jadi, fakta kalau neolib malah makin kuat setelah krisis 2008 itu bukan kebetulan, tapi hasil logis dari kemampuannya nge-spin kegagalan jadi bukti “tanpa aku, dunia hancur.” Intinya, Mirowski ngasih warning: kalau ngelawan neolib cuma pake resep reformasi dangkal atau regulasi teknis, pasti kalah. Yang harus dibongkar itu mesin ideologinya, karena selama orang percaya “enggak ada alternatif lain,” neolib bakal terus jadi boss besar di balik layar.

David Harvey juga di A Brief History of Neoliberalism (2005, Oxford University Press) nunjukin kalau neoliberalisme bukan soal “membebaskan pasar,” tapi ya ujung-ujungnya ngasih karpet merah buat para elit sultan. Jadinya, ekonomi yang tadinya buat ngurus manusia malah downgrade jadi kayak agama pasar: bikin ketimpangan dianggap normal, nyuruh rakyat hidup prihatin, tapi elit bisnis makin tajir. Jadi kalau ada yang bilang neoliberalisme bikin ekonomi rusak, ya bener banget—ekonomi sekarang lebih mirip budak kapital global ketimbang ilmu buat bikin hidup orang lebih adil.

Harvey buka bukunya dengan menjelaskan kalau neoliberalisme itu bukan cuma soal teori ekonomi doang, tapi proyek politik buat balikin lagi kekuasaan kelas elit atas masyarakat. Katanya sih neolib itu demi “kebebasan individu” dan “pasar yang rasional”, tapi praktiknya malah bikin jurang kaya-miskin makin dalam, ngerusak perlindungan sosial, dan kasih panggung besar buat modal ketimbang pekerja. Dari sini, Harvey udah ngasih clue kalau kita bakal lihat neolib bukan sebagai hal netral, tapi senjata politik.
Lanjut, Harvey bedah akar intelektual neoliberalisme. Doski narik jejaknya dari Friedrich Hayek, Milton Friedman, sampai geng Chicago School. Intinya mereka jualan ide kalau pasar itu hakim tertinggi yang bisa bikin tatanan sosial otomatis rapi, sedangkan negara cuma jadi satpam pasar. Tapi teori keren ini ternyata bukan sekadar ngawang, melainkan dijadiin amunisi politik buat ngehajar Keynesianisme dan negara kesejahteraan pasca Perang Dunia II.
Abis itu, Harvey fokus ke era krisis 1970-an. Stagflasi global, krisis fiskal, dan ambruknya sistem Bretton Woods jadi celah emas buat neoliberalisme naik panggung. Thatcher di Inggris dan Reagan di AS muncul sebagai bintang utama, nendang serikat pekerja, ngejual BUMN, ngebuka deregulasi, dan nurunin pajak buat orang kaya. Jadi neolib bukan hasil alami, tapi serangan balik elit biar kemenangan kelas pekerja bisa diperetelin.
Buku ini juga ngasih spotlight ke dunia internasional. Neolib menyebar lewat lembaga global kayak IMF dan Bank Dunia. Lewat “program penyesuaian struktural”, negara-negara di Amerika Latin, Afrika, dan Asia dipaksa ngejalanin resep pahit: penghematan brutal, privatisasi, dan liberalisasi pasar. Harvey bilang ini bukan soal “pembangunan”, tapi trik buat ngamanin aliran modal global dan bikin ekonomi nasional tunduk pada disiplin neolib.
Harvey juga nunjukin kontradiksi neoliberalisme. Katanya sih anti negara, tapi faktanya mereka justru sering banget manggil negara buat jadi penolong. Kalau bank ambruk? Diselamatin. Kalau rakyat protes? Dipentung. Jadi negara itu kayak bodyguard-nya pasar: ngamanin kepentingan korporasi sambil jadi polisi buat nahan perlawanan. Lahirlah apa yang doski sebut sebagai neoliberalisme otoriter.
Trus ada juga studi kasus: reformasi pasar di China, drama NAFTA di Meksiko, sampai krisis Asia Timur dan Rusia. Harvey nunjukin kalau neoliberalisme berkembang secara nggak rata: ada yang ngebut kaya, ada yang hancur lebur. Ketimpangan ini bukan kebetulan, tapi bagian dari strategi “akumulasi lewat perampasan”—alias ngambil harta publik lewat privatisasi, komodifikasi, dan finansialisasi, terus dipindahin ke kantong elit.
Di bagian akhir, Harvey kasih refleksi. Meski sering kena krisis dan kontradiksi, neoliberalisme tetep aja awet karena bukan sekadar ide, tapi proyek kelas yang punya backing kuat. Tapi bukan berarti tak terkalahkan. Gerakan perlawanan mulai muncul, dari demo anti-globalisasi sampai eksperimen alternatif di Amerika Latin. Harvey nutup bukunya dengan ajakan buat mikirin alternatif lain yang lebih adil dan demokratis, biar kita nggak terus-terusan kejebak dalam logika sempit neolib.

Pesan utama dari A Brief History of Neoliberalism karya David Harvey adalah: neoliberalisme itu jangan dilihat sebagai teori ekonomi netral yang sekadar bicara “efisiensi” atau “kebebasan individu”. Itu cuma bungkus manisnya aja. Intinya, neolib adalah proyek politik buat balikin lagi kekuatan elit ekonomi, ngerebut hak-hak sosial, dan ngecilin peran demokrasi biar tunduk sama kepentingan modal. Praktiknya bikin jurang kaya-miskin makin jomplang, banyak orang tergusur dari akses hidup layak, dan negara berubah jadi satpam korporasi. Tapi Harvey juga nggak pesimis buta. Doski bilang, karena neolib itu proyek buatan manusia—bukan hukum alam—maka bisa dilawan, ditantang, dan diganti dengan sistem alternatif yang lebih adil dan demokratis.
Biar makin kebayang, Harvey ngasih contoh-contoh nyata gimana neolib ngegas di dunia nyata. Di Inggris, Margaret Thatcher pakai krisis 1970-an buat nendang serikat pekerja, ngejual BUMN, dan maksa budaya “ayo jadi entrepreneur sendiri-sendiri.” Buat Harvey, ini bukan sekadar modernisasi ekonomi, tapi operasi politik buat ngancurin solidaritas kelas pekerja. Di Amerika Serikat, Ronald Reagan main dengan pola sama: nurunin pajak buat orang kaya, longgarin aturan finansial, dan ngehajar serikat buruh—paling heboh pas mogok pengendali lalu lintas udara tahun 1981. Semua ini dikemas manis dengan jargon “kebebasan” dan “efisiensi.”
Di level global, Harvey nunjukin peran IMF dan Bank Dunia sebagai agen penyebar neoliberalisme. Pas krisis utang 1980-an, negara-negara Amerika Latin dan Afrika dipaksa ikut “program penyesuaian struktural” yang intinya: potong anggaran publik, privatisasi layanan dasar, dan buka ekonomi buat modal asing. Resep ini katanya sih buat “pembangunan”, tapi ujung-ujungnya bikin ketergantungan dan nguntungin kreditor internasional.
China juga nggak luput dari sorotan. Setelah 1978, Partai Komunis adopsi gaya neolib versi mereka buat ngebut industrialisasi. Memang sukses bikin ekonomi ngebut, tapi Harvey nunjukin efek sampingnya: ketimpangan baru makin parah dan ekonomi China makin nyambung ke arus modal global yang pro-elit. Di Meksiko, lewat NAFTA, petani dan pekerja jadi korban karena harus bersaing di pasar global yang gak adil, sementara perusahaan multinasional panen untung.
Lewat semua studi kasus ini, Harvey menekankan kalau neoliberalisme selalu jalan melalui mekanisme “akumulasi lewat perampasan”—alias ngambil aset publik, hak kolektif, dan perlindungan sosial, buat ditumpuk jadi kekayaan elit. Jadi jelas banget: neolib itu bukan jalan alami pembangunan, tapi proyek politik kelas elit yang jaringannya udah mendunia.

Balik lagi ke topik kita tentang Sosialisme.

Di Bab II Reform or Revolution, Rosa Luxemburg nembak langsung klaim Bernstein yang bilang sosialisme bisa diwujudkan lewat reformasi kecil-kecilan di dalam kapitalisme. Doi tegas banget: reformasi memang bisa bikin hidup buruh agak mendingan, tapi gak pernah bisa ngubah struktur dasar kapitalisme. Reformasi itu ibarat receh yang dipaksa keluar dari kantong kelas penguasa—berguna, iya, tapi gak bakal nyusun jalan tol menuju sosialisme. Karena pada akhirnya, reformasi tetep lahir dan hidup dalam aturan main kapitalisme.
Luxemburg ngakuin bahwa reformasi ada gunanya: bikin hidup buruh lebih layak, bikin serikat makin kuat, bikin kelas pekerja lebih pede buat berjuang. Tapi jangan salah kaprah—itu semua cuma booster, bukan tujuan akhir. Sosialisme butuh lompatan gede: ngegulingin relasi produksi kapitalis dan bikin kepemilikan bersama plus kekuasaan buruh. Kalau reformasi dianggap cukup, kata Luxemburg, itu sama aja kayak salah kaprah antara alat sama tujuan.

Makanya doi ngegas habis-habisan ke Bernstein, yang dianggap terlalu optimis sama reformasi. Buat Luxemburg, itu ilusi berbahaya—seolah kapitalisme bisa jinak dan pelan-pelan berubah jadi sosialisme. Padahal, dengan mikir gitu, buruh malah makin terikat ke sistem yang dasarnya tetap eksploitatif. Buat dia, reformasi itu cuma batu loncatan di jalan menuju revolusi. Kalau cuma berhenti di situ? Ya sama aja kayak kejebak di halte, padahal bus revolusinya nggak pernah datang.

Di Bab III Reform or Revolution, Rosa Luxemburg makin ngebut nabrak teori Bernstein yang bilang kapitalisme bisa awet kalau rajin direformasi dan adaptasi. Luxemburg nyeletuk: kapitalisme itu dari sononya udah penuh kontradiksi—jadi nggak ada cara buat ngerapiin dengan tambal sulam. Mesin profit yang didorong kepemilikan pribadi plus persaingan, ujung-ujungnya pasti bikin krisis, pengangguran, dan eksploitasi.
Doi jelasin, "krisis" itu bukan kecelakaan atau gangguan musiman, tapi emang “sifat asli” kapitalisme. Sistem ini bisa produksi kekayaan, tapi di saat yang sama nyiptain kemiskinan; bisa buka pasar, tapi juga ngerusaknya lewat overproduksi dan ketimpangan. Nah, kalau Bernstein yakin kartel, kredit, atau intervensi negara bisa bikin kapitalisme stabil, Luxemburg anggap itu polos banget—paling banter nunda krisis, malah sering bikin ledakannya lebih parah.
Buat Luxemburg, justru karena krisis kagak bisa dihindarin, maka sosialisme gak mungkin tercapai cuma lewat reformasi kecil-kecilan. Kapitalisme akan selalu balik lagi ke masalah dasarnya, kayak kaset rusak yang terus muter di lagu yang sama, sampai akhirnya sistem itu diganti total. Jadi, revolusi menurut doski bukan cuma soal semangat bakar-bakar, tapi kebutuhan sejarah yang lahir dari logika internal kapitalisme itu sendiri.

Di Bab IV, Luxemburg ngasih gas pol buat jelasin kenapa kapitalisme itu punya umur, bukan sistem abadi kayak superhero Marvel yang nggak pernah mati. Doi ngehajar langsung pandangan Bernstein yang sok yakin kapitalisme bisa selamanya survive, cukup dengan adaptasi dan reformasi. Buat Luxemburg, pemikiran kayak gitu bukan cuma salah kaprah, tapi juga bahaya, karena bikin kaum pekerja jadi santai dan kehilangan urgensi buat revolusi.
Doski bilang, beda sama feodalisme yang bisa stagnan, kapitalisme itu hidup dari ekspansi tanpa henti ke pasar-pasar baru. Masalahnya, pasar dunia ada batasnya—dan ketika semua ruang udah penuh, kapitalisme bakal keteteran. Alat yang katanya bikin kapitalisme stabil—kayak kredit, monopoli, atau intervensi negara—sebenernya cuma kayak doping: bikin sistem lari lebih kenceng sebentar, tapi akhirnya jatuh lebih keras.
Luxemburg menekankan, ngerti bahwa kapitalisme pasti ambruk itu kunci buat politik sosialis. Kalau keyakinan itu hilang, reformasi kecil-kecilan bakal keliatan cukup, padahal ujungnya bikin sosialisme cuma jadi cita-cita moral, bukan kebutuhan sejarah. Jadi, buat doi, teori keruntuhan kapitalisme itu bukan soal ramalan tanggal kiamat, tapi fondasi logis kenapa sosialisme itu lahir dari gerak sejarah, bukan sekadar pilihan gaya hidup.

Di Bab V, Luxemburg geser fokus ke ranah politik, terutama soal demokrasi dan peran partai dalam perjuangan menuju sosialisme. Doski ngakui kok, hak-hak demokratis kayak kebebasan bicara, kebebasan berkumpul, dan ikutan main di parlemen itu penting buat kelas pekerja. Tapi catet: itu semua cuma alat tempur, bukan tujuan akhir. Fungsinya ya buat ngasah kesadaran kelas dan bikin gerakan kolektif makin solid.
Luxemburg ngasih peringatan keras: jangan keburu baper sama ilusi kalau reformasi parlementer bisa nganterin ke sosialisme. Parlemen di bawah kapitalisme tuh ibarat panggung yang udah di-setting buat nguntungin kelas penguasa. Reformasi progresif bisa dicetak, iya, tapi selama fondasi ekonomi kapitalisme masih utuh, negara dan institusinya nggak bakal netral—tetep jadi senjata kelas yang berkuasa.
Makanya, Luxemburg bilang gerakan buruh wajib bangun organisasi politik independen, bukan sekadar numpang eksis di reformasi, tapi buat siap-siap ganti sistem. Di sinilah doski tabrakan ama Bernstein: buat Bernstein, reformasi = jalan ke sosialisme; buat Luxemburg, reformasi itu cuma “arena latihan” buat kelas pekerja, sedangkan target finalnya tetep revolusi. Jadi demokrasi dan reform itu penting, tapi posisinya tetep harus nurut pada proyek revolusi besar.

Di Bab VI yang jadi penutup, Rosa Luxemburg pasang titik akhir dengan tegas. Doski bilang, reformasi sosial memang ada gunanya buat bikin hidup kelas pekerja agak mendingan, tapi itu cuma solusi sementara. Reformasi nggak bakal nyentuh akar persoalan: struktur eksploitasi kapitalisme. Jadi kalau reformasi dipukul rata sama dengan sosialisme, kayak yang dibilang Bernstein, itu artinya sosialisme diturunin levelnya jadi proyek liberal “niat baik” doang.
Luxemburg ngingetin: kelas pekerja jangan sampai lupa misi sejarahnya, yaitu ngegulingin kapitalisme dan bikin tatanan sosial baru. Semua hasil reformasi di bawah kapitalisme tuh sifatnya rapuh—bisa dicabut lagi waktu krisis atau dihajar balik sama politik reaksioner. Hanya revolusi yang bisa kasih solusi permanen dengan motong akar eksploitasi dan ketimpangan.
Tapi, catet juga: kesimpulan Luxemburg bukan ajakan romantis buat langsung bakar-bakaran. Doi cuma ngasih garis tegas, bahwa sosialisme bukan sekadar meluncur pelan ke arah “lebih adil”, tapi butuh break total dari sistem lama. Jadi, pilihan antara reformasi atau revolusi itu menurutnya salah kaprah: reformasi memang penting, tapi baru punya makna sejati kalau dipayungi revolusi. Tanpa itu, gerakan sosialis kehilangan arah sekaligus jiwanya.

Buat Rosa Luxemburg, “reformasi” itu artinya segala bentuk perbaikan bertahap yang berhasil direbut kelas pekerja di dalam sistem kapitalisme. Contohnya: undang-undang sosial, naiknya upah, jam kerja dipotong, atau aturan baru yang bikin hidup buruh sedikit lebih manusiawi. Luxemburg nggak anti reformasi—doski malah nganggap itu pencapaian nyata yang bisa bikin organisasi pekerja makin pede. Tapi perlu dicatet: reformasi cuma ngelap permukaan, nggak pernah bisa ngubah mesin utama kapitalisme. Nah, kalau reformasi dianggep sama dengan jalan menuju sosialisme, kayak kata Bernstein, menurut doi, itu salah kaprah—kayak nyamain “jalan” sama “tujuan”.
Sedangkan “revolusi” buat Luxemburg bukan berarti huru-hara asal-asalan atau romantisasi bakar ban. Revolusi itu transformasi total: ekonomi dan politik diganti dari akarnya, kapitalisme dihapus, sosialisme dibangun. Revolusi adalah hasil akhir dari perjuangan kelas, lahir dari kontradiksi kapitalisme yang pasti meledak dalam bentuk krisis. Jadi ini bukan opsi instan atau shortcut, tapi kebutuhan sejarah.
Makanya, Luxemburg bikin garis tegas: reformasi itu metode perjuangan—arena latihan buruh biar makin kuat. Revolusi itu tujuan final yang ngasih arti ke semua perjuangan tadi. Tanpa revolusi, reformasi bakal rapuh, gampang dicabut, dan nggak ngilangin akar masalah. Tanpa reformasi, revolusi bakal ompong karena nggak ada massa yang terorganisir. Dua-duanya nyambung, tapi revolusi lah yang bikin sosialisme punya ruh.

Kalau ide Bernstein yang menang di awal abad ke-20, mungkin peta Eropa bakal penuh dengan sosialisme versi kalem: fokus ke reformasi parlemen, penguatan serikat buruh, dan pembangunan negara kesejahteraan. Intinya, buruh nggak perlu demo gede-gedean atau revolusi berdarah, cukup rebut kursi di parlemen, terus pelan-pelan ubah aturan main. Model kayak gini mirip banget sama sosial-demokrasi Eropa yang kita kenal setelah Perang Dunia II: ada tunjangan sosial, kesehatan murah, dan proteksi buruh. Tapi, sisi gelapnya, semangat revolusi jadi kendor, dan buruh bisa-bisa terlalu nyaman hidup dalam kapitalisme yang udah “dilunakkan.”
Kalau ide Luxemburg yang menang, ceritanya beda jauh. Sosialisme bakal tetep jadi gerakan massa radikal yang tujuannya ngobrak-abrik kapitalisme total. Revolusi dianggap harga mati, jalan satu-satunya. Pasti lebih inspiratif buat kaum tertindas, tapi juga super berisiko. Bisa bikin gerakan terisolasi dari peluang politik resmi, bisa kena represi brutal dari negara, bahkan bisa berujung pada kekacauan atau rezim otoriter. Di konteks awal abad ke-20, yang isinya perang dunia, runtuhnya kerajaan-kerajaan, dan demokrasi yang rapuh, jalur Luxemburg mungkin bisa memicu revolusi besar, tapi juga bencana besar.

Bayangin Eropa tahun 1910 lagi di simpang jalan. Kalau jalur Bernstein yang dipilih, ceritanya mirip drama politik yang tenang tapi konsisten. Partai sosialis pelan-pelan menang kursi di parlemen, serikat buruh makin kuat negosiasi gaji dan jam kerja, pemerintah mulai bikin jaminan sosial, tunjangan pengangguran, sampai layanan kesehatan. Bendera merah tetap berkibar, tapi bukan di barikade revolusi, melainkan di gedung parlemen. Mungkin tahun 1920-an Jerman, Inggris, dan Prancis udah kayak welfare state pascaperang dunia yang aslinya baru muncul puluhan tahun kemudian. Kapitalisme memang nggak hancur, tapi jadi lebih jinak, lebih ramah ke rakyat kecil.
Sekarang coba bayangin kalau jalur Luxemburg yang menang. Eropa bakal penuh gejolak: demo besar-besaran, mogok umum, bahkan kota-kota kayak Berlin, Paris, dan Wina bisa mirip Petrograd 1917—penuh dewan buruh dan milisi rakyat. Kerajaan-kerajaan bisa ambruk lebih cepat, republik sosialis bisa nyebar ke seluruh benua. Tapi risikonya gede banget: perang saudara, kontra-revolusi, sampai invasi asing bisa bikin Eropa jungkir balik. Semangat revolusi bakal nyala terang, tapi mungkin terlalu terang sampai membakar diri sendiri.
Nyatanya, Eropa nggak 100% pilih salah satu. Jalur Bernstein baru terasa setelah 1945 lewat welfare state, sementara mimpi Luxemburg muncul sesaat di momen-momen krisis, tapi sering dihancurkan kekerasan. Simpang jalan tahun 1910 itu ngingetin kita kalau masa depan sosialisme nggak pernah punya skrip pasti, tapi pilihan-pilihan besar dengan janji sekaligus bahaya.

Debat Bernstein vs Luxemburg gampang banget kita lihat di gerakan sosial masa kini, misalnya soal krisis iklim. Versi Bernstein ya kayak dorong pajak karbon, subsidi energi hijau, atau perjanjian internasional. Mainnya lewat parlemen, lewat aturan resmi. Targetnya: kapitalisme nggak perlu dihancurin, cukup dioprek pelan-pelan sampai jadi ramah lingkungan. Santai, tapi hasilnya nyata.
Versi Luxemburg beda banget: kapitalisme dianggap biang kerok utama kehancuran ekologi. Jadi nggak ada ceritanya bisa jinak lewat reformasi. Jalan satu-satunya ya harus radikal—demo gede, mogok massal, bahkan obrak-abrik sistemnya biar diganti total. Buat kubu Luxemburg modern, reformasi kecil itu cuma nunda kiamat, bukan nyelametin dunia.
Hal yang sama kelihatan di dunia kerja digital. Pendekatan Bernstein ya bikin aturan baru buat pekerja gig: hak serikat, jaminan sosial, kontrak yang adil. Tapi pendekatan Luxemburg bilang: “Lah, ini platform dari sononya udah eksploitatif, gimana mau diperbaiki? Harus dilawan bareng-bareng, kalau perlu ubah struktur ekonomi digital dari dasar.”
Karenanya, pilihan ini masih sama kayak seratus tahun lalu: mau main realistis dengan reformasi step by step ala Bernstein, atau ngegas dengan revolusi total ala Luxemburg. Bernstein bisik-bisik: “Sabar, sistem bisa dibelokin kok.” Luxemburg teriak: “Hancurin aja, baru bebas!”

Jadi clash Bernstein vs Luxemburg itu lebih dari sekadar debat teori—ini tentang pilih jalan mana: main aman dengan reformasi bertahap atau all-in dengan revolusi total. Nyatanya, setelah 1945, banyak negara Eropa lebih condong ke jalur Bernstein dengan welfare state dan demokrasi parlementer. Sementara mimpi revolusi ala Luxemburg tetep jadi semacam legenda tragis, apalagi setelah Luxemburg dibunuh tahun 1919. Sampai sekarang pun, perdebatan ini masih kerasa: mau main realistis kayak Bernstein, atau tetep ngegas revolusioner kayak Luxemburg.

[Bagian 8]
[Bagian 6]